Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Tampilkan postingan dengan label nature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nature. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Juni 2017

Ancaman Kesehatan Wanita



Wanita dalam ancaman kesehata, fisik maupun jiwa. Hasil penelitian dari US Advisory Board Company menunjukkan bahwa 62 persen dari wanita dinilai kurang memperhatikan kesehatannya karena rutinitas kesibukannya. Dilaporkan pula 77 persen tidak tahu apa yang harus dilakukan agar tetap sehat. Hal itu tentu mengurangi kualitas hidupnya.

Nah, salah satu yang menjadi sorotan pada peringatan Hari Kesehatan Sedunia (HKS) awal April lalu adalah kesehatan jiwa. Tema global tahun ini "Depression: Let's Talk," dengan tema nasional: ”Depresi: Yuk Curhat!” Kesehatan jiwa menjadi perhatian karena termasuk silent killer. Kerap diabaikan sebagai pengganggu kualitas hidup, padahal bisa menyebabkan kematian. Bunuh diri misalnya.

Stres Fisik

Gaya hidup sekuler kapitalis menebar penyakit mematikan yang mengancam kesehatan wanita. Pergaulan bebas, menjadi pemicu penyakit kanker serviks yang menjadi pembunuh nomor satu bagi wanita. Selanjutnya, penyakit HIV/Aids yang juga kerap ditularkan pada wanita oleh pasangannya.

Sementara itu, dunia kecantikan dengan segala kehebohannya juga mengancam kesehatan wanita. Seperti penggunaan kosmetik berbahaya yang menjanjikan kecantikan instan: produk pemutih, pembesar (maaf) payudara, pemutih gigi, pelentik bulu mata, dsb. Juga aneka jenis perawatan tubuh yang tidak aman seperti program pelangsingan ekstrim, sedot lemak, operasi plastik, pemancung hidung, dsb.

Makanan-makanan yang konon mempercantik wanita dari dalam, juga mengancam kesehatan wanita. Seperti vitamin peluntur lemak, bubuk saset pemulus kulit, pencerah wajah, dll. Ditambah lagi kuliner ekstrim, makanan instan dan junk food yang juga menjadi bagian gaya hidup masa kini, kian mengancam kesehatan.

Stres Jiwa

Sementara itu, tak kalah bahaya adalah ancaman gangguan kesehatan jiwa pada wanita. Seperti kita ketahui, wanita memiliki perasaan lebih peka sehingga mudah stres. Masalah apapun menjadi beban pikiran. Walau sekadar candaan tidak nyambungnya warna baju dan kerudung, bisa bikin tekanan jiwa.

Nah, gaya hidup sekuler-kapitalis, lagi-lagi memicu depresi jiwa. Kegagalan wanita dalam menampilkan stereotype cantik ala Barat, seperti tubuh tinggi, langsing, hidung mancung, kulit mulus, dll, memicu stres. Betapa banyak wanita rendah diri karena merasa tidak cantik. Stres memikirkan pendapat orang lain tentang penampilan dirinya. Lalu stres memikirkan biaya perawatan demi cantik.

Budaya media sosial yang selalu menampakkan gaya hidup glamour dan serba indah, juga memperparah kondisi psikis wanita. Ada rasa iri, merasa tidak seberuntung teman-temannya yang begitu eksis di media sosial. Ada rasa frustasi, mengapa tidak bisa sekaya mereka.

Wanita yang sudah menikah menjadi istri atau ibu bagi anak-anaknya, tak juga lepas dari stres. Bahkan bertambah-tambah merasakan beratnya beban kehidupan. Lagi-lagi, disebabkan sistem hidup sekuler-kapitalis yang menghimpit beban. Sistem ekonomi yang tidak menyejahterakan, sistem pendidikan yang tidak mencerdaskan, sistem sosial yang merusak moral, sistem kesehatan yang menyakitkan, menambah beban rumah tangga.

Stres Sosial

Sejatinya, memang tak hanya wanita yang mengalami stres berat. Depresi bukan hanya menyerang secara individualistik, melainkan sudah menjadi fenomena massal. Artinya, gangguan kejiwaan telah mengancam masyarakat komunal. Mulai anak-anak hingga dewasa dilanda stres. Anak-anak hingga dewasa, pria maupun wanita mengalaminya. Maraknya bunuh diri, tawuran, kekerasan dalam rumah tangga, kesurupan, itulah stres sosial.

Makin banyak orang yang mudah tersinggung, mengamuk, dan agresif. Juga mudah menyerah dan putus asa. Termasuk meluasnya penggunaan narkoba untuk pelarian dari tekanan jiwa, menunjukkan depresi individual maupun massal serta yang terselubung makin serius di masyarakat.

WHO memperkirakan, 4 persen dari populasi mengalami depresi. Depresi yang berlarut-larut, mengantarkan pada bunuh diri. Menurut WHO, tiap tahun terjadi bunuh diri hampir 800.000 kematian. Artinya, setiap 40 detik, seseorang bunuh diri (kemenkes.go.id).

Solusi Personal

Depresi dapat terjadi pada siapapun, usia berapapun. Dan tidak banyak yang menyadarinya. Sebab, depresi seringkali dianggap sekadar perubahan suasana hati (mood). Padahal, depresi merupakan real disease atau masalah kesehatan yang nyata. Gejalanya antara lain, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, perasaan bersalah atau tidak berguna, lelah berkepanjangan, bahkan pemikiran menyakiti diri sendiri.

Termasuk Muslimah, mustahil menghindari masalah. Sebagai manusia biasa, depresi mungkin saja terjadi. Secara personal, kenali pemicunya. Jika penyebabnya karena beban pekerjaan yang terlalu berat, berhentilah. Kurangilah atau berbagilah. Jika penyebabnya hubungan dengan sesama, komunikasilah. Curhatlah dengan orang yang tepat.

Termasuk, jika media sosial malah membuat stres karena memunculkan perasaan tidak menyenangkan, seperti iri, kesalahpahaman, lebih baik tidak usah punya akun. Sudahlah rugi waktu, rugi kuota, eh, bikin sengsara.

Masalah harus dihadapi dengan benteng iman dan takwa. Sabar, ikhlas dan tawakal. Allah SWT berfirman yang artinya: ”Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dalam semua masalah yang , dihadapinya), dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sdngkanya” (TQS. Ath-Thalaaq:2-3).

Tancapkan keyakinan bahwa setiap permasalahan tidak lain sebagai ujian keimanan. Apabila kita sabar dan menjalaninya dengan baik, insya Allah lolos dalam ujian tersebut sehingga keimanannya meningkat. Karena setiap orang beriman akan diuji Allah. Allah SWT berfirman: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (TQS. Surat Al-Baqarah: 155).

Jangan Stres Berjuang

Selain personal, stres hanya bisa diatasi secara sistem jika sekulerisme-kapitalis yang menjadi pemicunya dilengserkan. Ganti dengan sistem Islam yang mengatur kehidupan dengan tatanan terbaiknya. Tegakkan sistem politik, ekonomi, hukum, sosial-budaya, pendidikan dan kesehatan yang adil dan menyejahterakan. Bangkitkan peradaban Islam yang gemilang.

Maka, jangan stres memperjuangkan khilafah. Karena hanya Khilafah Islamlah yang mampu mewujudkan kehidupan sosial yang sehat, sehingga menyehatkan pula jiwa dan raga manusia-manusia di dalamnya. Dengan begitu, ancaman kesehatan wanita juga bisa diminimalkan, bahkan dihilangkan. []kholda

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 195
---

Sabtu, 22 April 2017

Kejahatan Bersenjata Api Meningkat Di London



Kejahatan bersenjata api dan pisau melonjak di London selama tahun lalu, sebagaimana ditunjukkan dalam angka resmi.

Kejahatan bersenjata api meningkat 42% di London. Kejahatan keseluruhan meningkat 4,5% menjadi hampir 774.737 kasus, dengan 16,72% kasus terselesaikan, turun dari 18,8% di tahun sebelumnya.

Angka The Met Police menunjukkan ada 2.544 kasus kejahatan bersenjata api dari April 2016 hingga April 2017 dibandingkan dengan 1.793 kasus dari 2015 hingga 2016.

Kejahatan bersenjata pisau juga meningkat 24% dengan 12.074 kasus tercatat dari 2016 hingga 2017.

Kejahatan bersenjata pisau yang menghasilkan luka juga meningkat 21% menjadi 4.415 dari 2016 hingga 2017, dibandingkan dengan 3.663 kasus di tahun sebelumnya.

Kasus narkoba ada 37.374. Kasus pencurian ada 69.501.

Angka-angka itu menunjukkan sebuah sistem yang gagal melindungi orang dan gagal menciptakan masyarakat yang aman. Para pemudalah yang membawa pisau dan senjata api. Riset mengindikasikan bahwa bagi banyak anak muda, senjata adalah untuk melindungi diri dari situasi di komunitas mereka sehingga bisa aman.

Tampak bagi para pemuda risiko dipenjara masih lebih baik daripada tidak bawa senjata di dalam hutan beton di mana mereka hidup.

Inggris tidak mampu mengatasi masalah-masalah itu secara efektif. Solusi-solusi yang dipakai mengabaikan bahwa sebab utama epidemi kejahatan adalah nilai-nilai dasar yang ada di semua lini kehidupan masyarakat Barat: kapitalisme, individualisme, materialisme, kebebasan pribadi.

Akar masalahanya bukanlah narkoba, buta-baca, kurangnya bersosialisasi, kemiskinan ataupun kejahatan - masalah sesungguhnya adalah nilai-nilai bukan-Islam itu. Nilai-nilai yang telah menciptakan masyarakat di mana anak muda merasa lebih aman dengan membawa senjata dan mereka ternyata juga siap menggunakannya juga. Nilai-nilai tidak-Islam di mana mereka tidak punya proses menilai amal diri sendiri, mereka malah hanya menilai diri berdasar keumuman lingkungan mereka dan berdasar apa yang mereka butuhkan untuk bisa hidup di komunitasnya.

Jika Inggris ingin mengurangi budaya pisau dan senpi, dia harus lihat cermin dan bertanya pada diri sendiri - apa yang telah mendorong banyak orang di masyarakat untuk mengabaikan hukum dan merisikokan hidup mereka?

Apa yang tidak ada di Inggris adalah prinsip-prinsip yang diyakini yang mengarahkan masyarakat untuk meninggalkan kemungkaran dan menjalankan kemakrufan.

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula." [TQS. az-Zalzalah:7-8]

Bacaan: hizb.org.uk/news-watch/gun-crime-in-london-increases-by-42
---


 sebarkan Buku-Buku Supremasi Ideologi Islam

Di bidang sosial sekularisme menyebabkan kerusakan moral. Wanita, misalnya, hanya dianggap komoditas dagang dan pemuas nafsu laki-laki semata. Perselingkuhan dianggap “pertemanan”, sementara poligami justru dianggap perbuatan kriminal. Sistem sosial yang bobrok seperti ini telah terbukti menghancurkan institusi keluarga, menyebarkan penyakit kelamin, menimbulkan kebejatan moral dan melahirkan anak-anak hasil zina.

Keburukan sekularisme semestinya melahirkan kesadaran pada umat Islam akan keindahan ajaran Islam. Islam rahmatan lil alamin. Islam melahirkan sistem politik yang benar, yaitu sistem politik yang berdasarkan syariah. Sistem politik Islam dibangun di atas dasar akidah islamiyah sehingga berbagai aturannya akan bersifat spiritual (ruhiah), yaitu terkait dengan Allah SWT; terkait dengan pahala dan dosa. Sistem yang demikian akan menentukan makna kebahagiaan hakiki bagi individu. Orang akan bahagia saat merasa telah menaati Allah SWT dan merasa mendapat pahala. Sebaliknya, orang akan merasa khawatir saat berbuat maksiat kepada Allah SWT dan merasa berdosa.

 Sungguh tak mungkin Islam dapat berdampingan dengan sekularisme. Sekularisme menciptakan kerusakan serta menyuburkan kemaksiatan dan pelanggaran terhadap aturan Allah SWT. Sebaliknya, Islam menebarkan rahmat bagi semesta alam. Karena itu pantas jika Allah SWT berfirman (artinya):
 "Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?" (TQS al-Maidah [5]: 50).

Karena itu pula, saatnya kita mencampakkan sekularisme, lalu kita ganti dengan akidah dan syariah Islam. Hanya saja, penegakan syariah Islam membutuhkan institusi pemerintahan Islam. Itulah Khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah. Khilafah inilah yang harus segera kita tegakkan.
 
 sebarkan Buku-Buku Supremasi Ideologi Islam

Rabu, 20 April 2016

Keberhasilan dakwah di tengah umat


 
13.    Marhalah (tahapan) kedua adalah marhalah (tahapan) interaksi dengan umat, dan disertai dengan pergolakan politik. Marhalah (tahapan) ini dianggap sebagai marhalah (tahapan) yang genting. Keberhasilan da'wah pada marhalah (tahapan) ini merupakan pertanda sehatnya pembentukan partai [Islam ideologis]. Kegagalan pada marhalah (tahapan) ini menunjukkan bahwa ada suatu yang kurang beres dan wajib diperbaiki. Ia dibangun atas marhalah (tahapan) sebelumnya. Keberhasilan pada marhalah (tahapan) pertama merupakan syarat utama untuk berhasil pada marhalah (tahapan) kedua. Hanya saja keberhasilan perkaderan pada marhalah (tahapan) pertama tidak menjamin keberhasilan pada marhalah (tahapan) kedua ini. Keberha­silan perkaderan/pembinaan harus diketahui oleh masyara­kat, yaitu masyarakat tahu bahwa ada da'wah Islam di tengah-tengah mereka, dan mereka juga tahu bahwa anggo­ta-anggota partai adalah mengemban da'wah, dan juga ruh kejamaahan sudah harus terbentuk pada waktu pembinaan di halaqoh-halaqoh (pembinaan intensif), dan anggota partai telah melakukan kontak dengan masyarakat tempat tinggal mereka, serta berusaha untuk mempengaruhi masyarakat , sehingga ketika pindah ke marhalah (tahapan) kedua masyarakat telah mempunyai persiapan kejamaahan. Dengan demikian akan memudahkan anggota-anggota partai berinteraksi dengan umat.

14.    Bahwa anggota-anggota partai tidak akan beralih dari marhalah (tahapan) perkaderan (pembinaan) ke marhalah (tahapan) interaksi, kecuali setelah mereka menguasai tsaqafah (khazanah keilmuan) partai [Islam ideologis] secara mendalam, suatu penguasaan yang membentuk nafsyiah (pola sikap) Isla­miyah pada diri mereka, di mana nafsiyah (pola sikap)nya sudah berjalan seiring dengan aqalnya, sesuai dengan sabda Rasulullah SAW.

Artinya : Tidak beriman seseorang dari kamu, sampai hawa nafsunya tunduk kepada apa yang aku bawa (aqidah dan hukum Islam).

Anggota-anggota partai juga tidak akan pindah ke tahap kedua kecuali setelah masyarakat tahu bahwa ia mengemban dakwah Islam, dan muyul jamaiyah (perasaan kejamaahan) telah kuat pada dirinya serta berbekas pada perbua­tannya, yaitu dengan keberadannya dalam halaqoh dan interaksinya dengan masyarakat. Itu karena ia telah mencabut dari dirinya sifat uzlah (mengasingkan diri dari masyarakat). Karena uzlah itu merupakan campuran kepengecutan dan keputusasaan, maka ia harus dikikis habis dari individu-individu dan masyarakat.

15.    partai pindah dari marhalah (tahapan) pengkaderan/pembinaan ke marhalah (tahapan) interaksi secara alami. Ia tak akan mampu untuk pindah ke marhalah (tahapan) kedua sejak awal karena pada marhalah (tahapan) awal (pembinaan)lah terjadi penyempurnaan nuqthotul ibtida (titik awal da'wah). Sebab, pada pengka­deranlah ideologi bisa menyatu dengan kader-kader partai dan masyarakat mengetahui adanya da'wah dan ideologi secara jelas. Ketika ideologi [Islam] telah menyatu secara sempurna dalam diri kader-kader partai, yaitu peleburan ideologi ke dalam jiwa mereka dan masyarakat juga sudah merasakan kehadiran ideologi secara sempurna, maka da'wah telah melewati titik awal dan da'wah harus pindah ke nuqthotul intilaq (titik tolak). 

Sehingga ketika partai mulai menjalani nuqthatul intilaq, dia harus mulai menyeru umat. Untuk memulai seruannya dia wajib memulai dengan seruan secara tak langsung, kemudian jika ia berhasil dengan seruan semacam ini, dia berusaha untuk menyerunya secara langsung. Seruan-seruan tak langsung dilakukan dengan: 1. tsaqafah murakkazah (pengkaderan terpadu dalam halaqoh-halaqoh), 2. dengan tsaqafah jama'iyah (materi-materi umum) di mana saja ia mampu, 3. dan dengan membeberkan rencana-rencana penjajah, dan 4. menjelaskan kemaslahatan-kemaslahatan umat yang seharusnya mereka dapatkan.

Jika partai berhasil dalam 4 hal tersebut di atas, dia harus berusaha menyeru umat (secara langsung), dan pindah ke nuqthatul intilaq (titik tolak) secara alami. Perpindahannya ke titik tolak inilah yang memindahkannya secara alami dari marhalah (tahapan) pertama yaitu marhalah (tahapan) peng­kaderan ke marhalah (tahapan) kedua yaitu marhalah (tahapan) interaksi, dan menjadikannya berinteraksi dengan umat pada saatnya (yang tepat) secara alami.

16.    Bahwa interaksi dengan umat adalah penting untuk keber­hasilan partai dalam mencapai tujuannya. Karena sekali­pun anggota partai banyak dalam masyarakat, tetapi jika tak berinteraksi dengan umat, mereka tak akan mampu berbuat sesuatu sekalipun mereka kuat, kecuali jika umat bersama mereka. Dan mereka tak akan mampu mengajak umat berbuat sesuatu, dan mendukung mereka kecuali jika mereka berinteraksi dengan umat. Interaksi bukanlah berhasil mengumpulkan umat di sekitar mereka, tetapi yang dimaksud dengan interaksi adalah memahamkan umat akan ideologi partai, supaya menjadi ideologi umat, karena asal ideologinya adalah Islam yang terdapat di kalangan umat, dalam warisan tsaqafah (khazanah ilmu [Islam]) dan sejarahnya, dalam perasaan keseharian mereka. Hanya saja kepekaan umat telah berubah ke dalam pemikiran, hanya dikuasai mengkristal pada kelompok pilihan ini, di mana dari kelompok inilah partai terbentuk.

Kaidah "kepekaan indrawi" ini (yaitu berpikir dan beker­ja untuk satu tujuan tertentu) merupakan ungkapan hakiki dari ideologi. Oleh sebab itu ideologi (Islam) merupa­kan perasaan umat yang paling dalam, dan partai adalah pengungkap perasaan tersebut. Jika diungkapkan dengan tepat, dengan bahasa yang jelas, logat yang benar, umat akan memahami ideologi dengan cepat, berinteraksi dengan partai, dan umat secara keseluruhannya menganggap dirin­ya partai, dan kelompok pilihan ini mengemban kepemimpi­nan gerakan dengan sebuah kelompok yang bersifat partai (takatul hizby). Gerakan inilah yang menggerakan umat di bawah pimpinan partai pada marhalah (tahapan) ketiga, yaitu marhalah (tahapan) penerapan ideologi secara revolusioner, melalui sebuah pemerintahan yang dikuasai oleh kelompok politik tersebut, karena itulah satu-satunya jalan untuk melak­sanakan fikroh (pemikiran)nya, yaitu dengan menganggapnya sebagai bagian dari ideologi [Islam].
 Bacaan: Terjemahan AT TAKATTUL AL HIZBI

Sabtu, 19 Maret 2016

pasukan Muslim berperang melawan pasukan Kerajaan Persia



Pada tahun ke-14 setelah Hijrah, Khalifah Umar bin Khaththab mengumpulkan pasukan Muslim untuk berperang melawan pasukan Kerajaan Persia yang telah mempersiapkan diri melawan pasukan Muslim. Jumlah pasukan Muslim terhitung kecil bila dibandingkan luasnya wilayah Kerajaan Persia dan jumlah penduduknya yang sangat besar.

”Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. (QS. Al-Maidah:3)

Pernyataan jihad telah disebarluaskan ke seluruh wilayah, dan Sa’ad bin Abi Waqash ra ditunjuk sebagai panglima pasukan negara Islam. Beliau memberikan rancangan strategi perang kepada komandan pasukan yang bersiap siaga di garis depan. Khalifah memberikan instruksi agar pasukan Muslim berkemah di Qadisiyah. Sa'ad mematuhi perintah itu; setelah meneliti situasinya, panglima mengirimkan laporan yang rinci kepada Khalifah.

”Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berJihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al-Hujuraat: 15)

Dengan situasi pegunungan di belakang, Khalifah memerintahkan pasukan untuk membentuk formasi tempur sebagaimana biasanya. Khalifah juga menekankan agar sebelum pertempuran dimulai, pasukan Muslim harus mengirimkan duta (utusan) kepada penguasa Persia untuk menyampaikan dakwah Islam. Tak lama kemudian, sekelompok utusan diberangkatkan dan menemui penguasa Persia untuk menyampaikan dakwah Islam. Namun utusan tersebut hanya ditertawakan, dihina, dan dicemooh.

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina.” (QS. Al Mujaadilah: 20)

Duta terakhir yang dikirimkan kaum Muslim atas instruksi Khalifah adalah Mughirah. Setelah turun dari kudanya, Mughirah langsung maju ke depan menuju ke tengah-tengah ruang singgasana dan duduk di samping panglima Persia, Rustam. Tindakan provokatif ini mengundang kemarahan para pembesar Persia, sehingga pengawal kerajaan menarik beliau turun dari tempat duduknya. Maka Mughirah berkata kepada pengawal kerajaan, 'Aku datang bukan karena kehendakku sendiri, tetapi karena undangan dari kalian. Oleh karena itu aku adalah tamu kalian, dan sebagai tamu aku tidak pantas mendapat perlakuan seperti ini. Bukanlah kebiasaan kami ada seorang yang duduk seperti dewa, sementara yang lain duduk menunduk di depannya seperti budak'. Mughirah meletakkan tangannya di hulu pedangnya, kemudian berkata, Zlika kalian tidak menerima Islam atau membayar jizyah, maka biarlah pedang yang menyelesaikan urusan ini'. Rustum marah besar dan berteriak, 'Demi matahari' Aku akan menghancurkan seluruh Jazirah Arab besok! Demikianlah, Rustam menyatakan perang. Siangnya, seluruh pasukan Persia telah bersiaga; sedangkan Rustum sendiri telah bersiap dengan dua lapis baju perang yang menutupi kepala hingga jemari kakinya. 'Aku akan melumatkan seluruh Arab hingga hancur berkeping-keping', katanya.

“Mereka (kaum kafir) hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina.” (QS. Ash Shaaffaat: 98)

Rustum memang dikenal sebagai panglima perang yang piawai mengatur pasukannya di medan perang. Rustam menempatkan pasukannya dalam tiga belas lapisan, sedangkan di bagian tengah terdapat segerombolan gajah yang dinaiki oleh pasukan yang bersenjata lengkap. Pasukan sayap kanan dan sayap kiri juga diperkuat dengan pasukan gajah di bagian belakangnya. Pasukan Persia sengaja menggunakan pasukan gajah untuk menahan kesatuan Bahilah, yakni pasukan berkuda kaum Muslim yang paling disegani.

“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. Al Baqarah: 212)

Taktik pasukan Persia ini ternyata cukup berhasil. Pasukan “batu hitam' (maksudnya gajah-pen) tentara Persia ini tidak dikenal oleh kuda-kuda pasukan Muslim; bila bertemu dengan gajah-gajah tersebut mereka menjadi panik dan mendadak berlarian kesana kemari. Pasukan infanteri kaum Muslim tetap teguh dan bertahan di garis depan, tetapi serangan pasukan gajah itu juga membuat mereka goyah. Melihat keadaan ini, segera Sa’ad mengeluarkan perintah kepada kabilah Asad untuk menggerakkan kesatuan Bahilah. Begitu mendapat perintah tersebut, panglima kesatuan Bahilah, Tulaiha -seorang pejuang yang termasyhur- berkata kepada pasukannya, 'Anak-anakku, ingatlah bahwa Sa'ad telah mengharapkan bantuan dari kalian'. Terdorong oleh ucapan tersebut, kesatuan ini memacu kuda mereka untuk menyerang pasukan gajah.

“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." (QS. Ali 'Imran: 173)

Keberanian dan kelihaian kesatuan Bahilah dalam berperang membuat pasukan gajah tertahan sementara waktu; namun pasukan Persia kemudian meninggalkan kesatuan Bahilah, dan menggunakan seluruh kekuatannya untuk menyerang pasukan Muslim yang datang membantu. Perubahan strategi pasukan Persia membuat Sa'ad mengeluarkan perintah berikutnya. Sa'ad memerintahkan kesatuan Tamim, yang terdiri dari para pemanah dan pelempar tombak yang piawai, untuk menggunakan kemampuan mereka mematahkan serangan pasukan gajah. Mendengar perintah tersebut, para pemanah dan pelempar tombak menempatkan diri dalam formasi pertempuran, dan segera menghujani pasukan gajah dengan panah dan tombak yang berhasil menjatuhkan para penunggangnya.

“Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. Al Anfaal: 16)

Pertempuran itu terus berlanjut hingga matahari tenggelam. Demikianlah pertempuran hari pertama. Hari berikutnya, pasukan bantuan dari Syria dibagi-bagi oleh Qa’qa’ menjadi beberapa kelompok kecil. Begitu kelompok 'pertama telah terlibat dalam pertempuran, kelompok lainnya muncul dari kejauhan dan kemudian terjun ke medan perang; demikian seterusnya sepanjang hari. Taktik ini ternyata bisa menggentarkan pasukan Persia, karena setiap kali sebuah kelompok terjun ke medan perang, mereka maju sambil meneriakkan takbir keras-keras, Allahu Akbar! Sementara itu, untuk memperlemah serangan pasukan gajah terhadap pasukan Muslim, Qa’qa’ menggunakan gagasan yang sangat cemerlang, Beliau 'mendandani' unta-unta pasukan Muslim dengan beberapa perlengkapan, termasuk dengan menutupi kepala unta dengan jubah, sehingga membuat penampilan unta-unta tersebut tampak aneh dan menakutkan. Siasat tersebut terbukti cukup efektif, terbukti bahwa setiap kali 'gajah palsu' itu lewat, kuda-kuda pasukan Persia mendadak panik sehingga tidak bisa dikendalikan. Itulah pertempuran hari kedua.

“(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” (QS. Al Anfaal: 42)

Hari ketiga, Qa’qa’ menggunakan strategi pertempuran yang berbeda. Ketika malam datang, Qa’qa’ memerintahkan sejumlah kesatuan pasukan berkuda ditemani beberapa orang pasukan infanteri pergi ke beberapa lokasi yang cukup jauh. Dia kemudian memerintahkan agar pada saat fajar menjelang, pasukan pertama memacu kudanya menuju pasukan Persia, kemudian diikuti oleh kelompok-kelompok lain dari berbagai lokasi yang berbeda secara berkesinambungan. Begitu hari terang, pasukan pertama memacu kudanya dengan penuh semangat. Seluruh pasukan Muslim berteriak bersama-sama, Allahu Akbar. Seruan serupa juga datang dari berbagai penjuru tempat pasukan bantuan itu berada. Sementara itu, Hisyam (yang dikirim Abu Ubaidah dari Syria) bersama 700 pasukan berkuda datang pada saat itu pula.

“Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS. Al Anfaal: 45)

Sa'ad yang masih melihat adanya celah akibat serangan pasukan gajah kepada pasukan Muslim, berusaha mencari informasi intelejen mengenai masalah tersebut. Informasi tentang 'monster hitam' dari beberapa orang Persia yang telah memeluk Islam menyebutkan bahwa titik lemah binatang tersebut adalah pada mata dan belalainya. Sa' ad memberikan informasi ini kepada Qa’qa’, Hammal, dan Rabil yang kemudian menyebarluaskannya ke tengah-tengah pasukan Muslim. Pertama-tama Qa'qa' memerintahkan sekelompok pasukan berkuda dan infanteri untuk membentuk barikade di sekeliling gajah-gajah tersebut. Dia dan Asim kemudian melemparkan tombak kepada gajah berwarna putih yang sangat besar. Lemparan tombak kedua orang itu, dengan akurasi yang sangat tinggi, berhasil mengenai kedua mata gajah tersebut. Maka dalam keadaan tersiksa rasa sakit yang teramat sangat, gajah tersebut terhuyung-huyung ke belakang. Tanpa membuang waktu, Qa’qa dengan sekuat tenaga mengayunkan pedangnya menebas belalai gajah tersebut hingga lepas dari kepalanya. ‘Monster’ yang terluka itu kemudian berbalik ke belakang dan berlari tanpa kendali. Gajah-gajah yang lain juga menjadi sasaran serangan yang serupa. Begitu melihat gajah-gajah yang kesakitan itu pergi meninggalkan medan pertempuran, maka gajah-gajah lain segera mengikutinya, sehingga dalam waktu singkat “awan hitam" itu hilang sama sekali. Inilah pertempuran Qadisiyah.

“Dan mereka memohon kemenangan (atas musuh-musuh mereka) dan binasalah semua orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala,” (QS. Ibrahim: 15)

dari "Jihad Dan Kebijakan Luar Negeri Daulah Khilafah"

Sabtu, 12 Maret 2016

GAYA BAHASA BERCIRI PEMIKIRAN DAN SASTRA



GAYA BAHASA YANG BERCIRIKAN PEMIKIRAN DAN SASTRA

•       Gaya penulisan : ungkapan makna-makna yang disusun dengan kata-kata yang teratur yaitu cara mengungkapakan sesuatu untuk menggambarkan apa yang ada pada diri penulis yang berupa makna-makna dengan menggunakan bahasa. memerlukan susunan makna-makna yang teratur dan terbentuk dalam diri seorang penulis/pembicara. dituntut untuk memahami apa yang ingin ia sampaikan secara mendalam dan jelas, kemudian berusaha menyampaikannya sesuai dengan pemahamannya dengan gaya bahasa yang mampu memberikan kesan mendalam. dituangkan dalam bentuk bahasa. ia harus menggerakkan akal, pemikiran, perasaan, hati, serta imajinasinya, untuk memahami setiap makna dengan semaksimal mungkin. muncul “kekuatan bahasa” dengan memilih kata-kata yang tepat dan dapat menyampaikan ungkapan dengan makna yang cocok dan sesuai.
•       Gaya bahasa menuntut penulis/pembicara untuk memahami apa yang ada di setiap ungkapan yang berupa makna yang mendalam, dan mempertajam  pemahamannya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan keindahan kandungan bahasa (balaghah). memilih ungkapan yang mempesona dan tempat sesuai dengan imajinasinya yang indah.
•       Pada dasarnya yang menonjol dalam ungkapan adalah makna-makna. diperhatikan susunan kata yang mampu mengekspresikan makna-makna tersebut. masalahnya hanya berkisar pada 2 hal: pertama, ungkapan makna ; kedua, kata-kata yang dipergunakan untuk menyampaikan makna-makna tersebut.
•       Kekuatan gaya, kejelasan dan keindahan dapat ditemukan pada kedua jenis gaya bahasa tersebut.
•       Al Qur’anul karim adalah sebaik-baik gaya pengungkapan yang bercirikan pemikiran. Mengandung seindah-indahnya pengungkapan yang bercirikan sastra, selalu dirangkaikan dengan gaya pengungkapan yang bercirikan pemikiran, baik dari segi kedalaman maupun kejelasan.

GAYA PENGUNGKAPAN YANG BERCIRIKAN PEMIKIRAN
•       Seorang penulis/ pembicara biasanya memilih ide-ide yang dikehendakinya. Memperhatikan pentingnya/kualitas mutunya/sesuai dengan kebutuhan. disusun dengan cara yang diterima oleh akal agar menjadi lebih mudah dipahami. dituangkan dalam bentuk kata-kata yang sesuai untuk ditangkap oleh pembaca.
•       Peranan emosi: hal yang harus ada yang muncul dari jiwa yang bersih, tidak dibuat-buat.
•       Fokus perhatiannya: mengumpulkan dan mendalami ide-ide sehingga pantas disebut sebagai bahasa akal.
•       Tujuan: menyampaikan fakta-fakta dengan maksud untuk mengajarkan, membantu / menuntun pengetahuan dan memperluas wawasan akal.
•       Keistimewaan: ketelitian, kejelasan dan kedalaman. berisi pemikiran selalu didasarkan akal dan dengan tujuan untuk menyebarluaskan pemikiran dan pengetahuan yang benar (sesuai fakta)
•       Secara global, gaya ini tersusun dari dua unsur pokok; ide-ide dan ungkapan.
•       Selalu digunakan dalam mengajarkan masyarakat tentang ide-ide, menjelaskan dan menumbuhkan kepercayaan terhadap ide tersebut kepada mereka.
•       Dapat memberikan pengaruh dalam membangkitkan perasaan dan mendorong untuk melaksanakan ide yang telah dipahaminya. meskipun lambat dan membutuhkan penghayatan berpikir sehingga dapat membangkitkan jiwa dan perasaan. menumbuhkan perasaan yang abadi, yang tidak akan lenyap kecuali apabila kepercayaan terhadap ide tersebut hilang.
•       Selalu digunakan oleh umat pada proses kebangkitannya dan dalam menuju puncak kemuliaan.

GAYA PENGUNGKAPAN YANG BERCIRIKAN SASTRA
•       Tidak hanya berhenti sebatas fakta (pemikiran yang benar) dan pengetahuan.
•       Tujuannya tidak terbatas hanya untuk mengisi akal dengan pemikiran, akan tetapi gaya ini berusaha mengenalkan fakta-fakta, dan memilih mana yang terpenting dan paling menonjol, yang di dalamnya dapat ditemukan keindahan kalimatnya, baik yang tampak atau yang tersembunyi.
•       Dapat meliputi nasihat, pelajaran, ajakan untuk berfikir atau hal-hal yang menarik dan mempengaruhi jiwa seseorang. diekspresikan dengan gaya bahasa tertentu. memberi kesan, yang tersentuh hatinya dengan nasihat, rela atau marah. membentuk emosi atau perasaan pembaca.
•       Biasanya berusaha untuk membangkitkan emosi. berusaha mengekspresikan emosi itu dalam bentuk kata-kata dan ungkapan yang digunakan untuk menyampaikan pemikirannya.
•       Difokuskan pada gejolak emosi. bahasa jiwa atau perasaan.
•       Tujuan: untuk mempengaruhi pembaca dan pendengar. menggambarkan fakta-fakta dalam bentuk yang indah dan mempesona sesuai dengan gambaran yang dimiliki penulis, atau sesuai dengan gambaran yang harus dimiliki pendengar dan pembaca.
•       Sasaran: meletakan kata-kata yang luhur / penting, mempunyai keluasan arti, menjelaskan secara panjang lebar untuk menerangkan satu makna dengan memperbaiki aspek keindahan yang mempesona dan dapat membangkitkan emosi.
•       Keistimewaan: terletak pada kekuatan jiwa / perasaan yang mempengaruhi ungkapan secara jelas.
•       Secara umum, tersusun atas tiga unsur: pemikiran-pemikiran, balaghahnya dan ungkapan yang dibentuk oleh pemikiran dan unsur sastranya.
•       Digunakan untuk mempengaruhi dan mendorong masyarakat melakukan suatu perbuatan.
•       Mengajarkan fakta dan pengetahuan yang sepele dan tidak mampu menyampaikan ide-ide yang mendalam.
•       Selalu digunakan oleh umat yang taraf berfikirnya rendah (dangkal) atau dalam keadaan hidup bermewah-mewahan.

Selasa, 09 Februari 2016

PROSES BERFIKIR



•       Pemikiran muncul karena terkaitnya realita dengan informasi, tidak bisa kalau hanya fakta saja atau hanya informasi saja.
•       Sodorkan buku berbahasa arab kepada orang yang tidak bisa berbahasa Arab tentu ia tidak bisa memikirkan apa yang ada dalam buku karena ia tidak mempnyai informasi sehingga ia hanya akan melakukan penginderaan berulang (tapi tetap tak bisa memahami makna tulisannya) = tidak berfikir, hanya mengindra.
•       Tapi coba sodorkan buku tersebut kepada orang yang telah mendapat informasi tetang bahasa arab, maka ia akan bisa menjelaskan isi dan maksud dari buku tersebut. Maka terjadi berfikir  
•       Jika orang hanya diberi informasi yang berulang-ulang misal lagu india, maka orang itu hanya bisa menghafal lagunya tanpa tahu maknanya. Atau anak yang dberi informasi 3 kalimat. “apel manis”, “mangga masam”, “lombok pedas” tanpa pernah ditunjukkan kepadanya benda tersebut. Jika suatu saat diberi ketiga benda dan ditanya “mana yang pedas?”  maka anak akan bingung menjawab dengan pasti benar karena hanya memiliki informasi namun tidak berfikir.
•       Namun jika benda-benda itu anda perlihatkan padanya sambil menyebutkan sifatnya atau dia merasakannya sambil menjelaskan bahwa yang ia rasakan itu masam, manis, atau pedas, maka ia akan memperoleh suatu pemikiran.  Maka ketika ditanya ia akan menujuknya dengan yakin meski anda berusaha menyalahkannya, karena sesungguhnya dia telah mengetahui dan memahami faktanya.  Dia dengan mudah akan mengenalinya begitu melihat atau dengan sekedar disebut namanya, karena dia telah memiliki pemikiran tentang buah tersebut, yaitu dengan mengkaitkan realita dengan informasi.

•       Maka proses berfikir muncul berdasarkan penginderaan realita dan adanya informasi. Maka apabila ingin mendapatkan pemikiran, maka ia akan mengindera realita lalu menghubungkannya dengan informasi, ketika itulah akan lahir suatu pemikiran.  Tetapi orang yang belum mempunyai informasi, harus diberi informasi lebih dulu. Begitulah proses berfikir, selain dari proses tersebut tidak akan terjadi pemikiran sama sekali.
•       Maka harus ada fakta dan informasi. jika ingin menyampaikan pemikiran kepada masyarakat maka harus ditransfer informasi-informasi disertai menunjukkan fakta. Maka akan menghasilkan pemikiran yang sama atau mirip sehingga masyarakat sendiri akan melakukan pemikiran.
•       Namun jika hanya memberikan informasi tanpa mengaitkan dengan fakta, Mereka hanya akan menjadi terpelajar tapi tidak menjadi pemikir. Di sinilah letak keharusan untuk mendekatkan realita sebuah ide yang ditransfer ke benak mad`u dengan berusaha menyertakan realita yang dapat diindera oleh mereka agar dapat diperoleh sebagai bentuk pemikiran.  Jika para pemikir tidak melakukan cara seperti itu, berarti mereka belum mentransfer pemikirannya kepada orang lain, akan tetapi hanya mentransfer informasi-informasi yang mereka ajarkan kepada orang lain (masyarakat).
•       Atas dasar inilah memulai proses pemikiran dan kemauan untuk terus menjalaninya adalah sesuatu yang harus ada dan dijunjung tinggi oleh manusia.

PERAN INSTING DALAM IDENTIFIKASI

•       Pemikiran VS identifikasi naluri. Jika tidak bisa membedakan maka keliru, bisa menyesatkan. Contohnya menganggap anak bayi dan hewan bisa berpikir. Karena tidak tahu defnisi pemikiran dan tidak bisa membedakan keduanya.
•       Identifikasi naluri: terjadi pada hewan karena berulangnya penginderaan terhadap realita.  Karena punya otak dan indera.  Hanya saja otaknya tidak bisa menghubungkan informasi dengan kenyataan. Yang ada pada hewan hanyalah perasaan terhadap kenyataan.  Namun tidak terjadi pengaitan informasi-realita, tetapi hanya reaksi pusat indera akibat terjadinya penginderaan terhadap realita pertama  dan realita berikutnya maka terjadi identifikasi naluri sehingga menentukan sikap terhadap pemuasan naluri atau kebutuhan jasmani.  Tingkah laku ini hanya untuk sekedar memilih antara memenuhi atau tidak memenuhi kebutuhannya, tidak lebih dari itu.
•       Contohnya apabila seekor kuda disodori gandum dan seonggok tanah, maka kuda itu akan mencoba-coba mengetahui mana di antara keduanya yang dapat memenuhi pemuasan.  Apabila kuda itu merasakan bahwa gandum itu dapat memuaskan kebutuhannya dan bukan pada tanah, maka akan terbentuk pada perasaan kuda itu bahwa gandum dapat memuaskan kebutuhannya; sedangkan tanah tidak.  Maka sejak saat itu, kuda ini tidak lagi menggubris onggokan tanah dan akan memakan gandum ketika lapar, dan tidak mengusahakan lebih dari itu.
•       Identifikasi naluri hewan terjadi melalui percobaan menggunakan indera. Percobaan berulang yang rumit bisa saja terjadi sehingga mirip berfikir. tapi bukan mengkaitkan informasi.
•       Contohnya, adalah usaha (percobaan) pencurian telur oleh 2 ekor tikus. Usaha ini memang rumit; tetapi  dihasilkan dari percobaan dan pengulangan penginderaan bukan dengan mengkaitkan informasi-informasi. Hanya terjadi pada pemuas kebutuhan. Hal sama bisa juga terjadi pada monyet, unta, dan sebagainya. Dan apa yang dilakukan itu bukan suatu pemikiran, melainkan identifikasi yang berasal dari naluri yang khusus berkenaan dengan sesuatu yang dapat memuaskan kebutuhannya saja dan tidak akan melampauinya.  Hal ini berarti hewan tidak mungkin sampai mengetahui hahekat sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhannya dan yang tidak.  Oleh karena itu hal ini merupakan identifikasi yang berasal dari naluri semata, dan tidak menunjukkan hal-hal yang berkaitan dengan pemikiran, atau kesadaran. 

•       Begitu juga anak bayi baru lahir yang belum punya informasi dan belum bisa mengaitkan informasi maka tidak terjadi pemikiran. Melainkan hanya identifikasi yang berasal dari naluri belaka terhadap sesuatu yang memberi kepuasan atau tidak. Hal ini tidak memberinya pengetahuan tentang hakekat sesuatu yang telah dapat ia identifikasi sebagai hal-hal yang dapat memberinya kepuasan.  Si anak tersebut tidak tahu hakekat sesuatu yang dapat memuaskannya atau tidak.  Yang terjadi hanyalah identifikasi yang berasal dari naluri sebatas apakah benda tersebut memuaskannya atau tidak.
•       Coba beri anak apel dan batu, sebelum punya informasi dia akan mengidentifikasi kedua benda mana yang bisa dimakan yang merupakan identifikasi naluriah. Jika telah punya informasi ia langsung memilih apel. Sebab kemampuan mempertautkannya merupakan bagian dari bentukan otak.  Penginderaannya terhadap sesuatu secara pasti terikat dengan dijalinnya informasi sebagai suatu keharusan.
•       Oleh karena itu adanya persepsi terhadap sesuatu terikat secara pasti dengan penginderaan terhadapnya.  Pada saat itulah terdapat pada diri anak kecil tersebut pemikiran, akal, atau kesadaran segera setelah memperoleh informasi yang dapat dipertautkan.
•       Pemikiran itu adalah pengambilan keputusan terhadap sesuatu (mengetahui hakekatnya).  Sedangkan identifikasi yang berasal dari naluri tidak lain adalah penjelasan apakah suatu benda mengenyangkan atau tidak.

Senin, 25 Januari 2016

PEMIKIRAN DAN KESADARAN



•       Pemikiran = akal = kesadaran = proses berpikir = suatu proses yang melibatkan empat unsur: fakta yang terindera, panca indera manusia, otak manusia, dan informasi sebelumnya yang berkaitan dengan fakta tersebut dan dimiliki oleh manusia.  Jika keempat unsur tersebut tidak terkumpul dalam suatu proses berpikir maka pemikiran, akal dan kesadaran tidak pernah terwujud.
•       Akal bukan organ tertentu di dalam tubuh. Kekeliruan jika mengatakan otak sebagai tempat bersemayamnya akal, sekaligus sebagai pusat kesadaran, atau pemikiran.  Keliru pula jika mengatakan bahwa pemikiran  adalah refleksi otak terhadap kenyataan atau pemikiran adalah refleksi kenyataan ke otak.
•       Sebab, otak adalah salah satu organ sebagaimana organ tubuh yang lain.  Tidak memiliki kemampuan refleksi (seperti cermin).
•       Dalam proses berpikir, tidak terjadi suatu refleksi apapun. Yang terjadi adalah suatu pencerapan melalui panca indra (bisa mata, telinga, hidung, lidah, kulit), kemudian disampaikan ke otak. Sampai di sini belum terjadi suatu pemikiran.  Yang terjadi hanyalah suatu identifikasi yang berasal dari naluri; apakah hal itu mengenyangkan, menyakitkan, menggembirakan, memberi kenikmatan atau sebaliknya, dan lain sebagainya, tidak lebih dari itu.
•       Namun demikian, jika informasi sebelumnya berkaitan dengan fakta tersebut, di sini akan terjadi jalinan.  Maka daya ingat yang ada dalam otak manusia terhadap kenyataan yang diindera dan telah tergambar dalam otak, maka terjadilah suatu proses berpikir, dan selanjutnya menghasilkan kesadaran terhadap hakekat benda tersebut.  Jika tidak ada informasi sebelumnya, maka tidak mungkin mengetahui hakekat benda tersebut, yang ada hanyalah semata-mata penginderaan atau sekedar hanya identifikasi yang berasal dari naluri --seperti apakah hal itu mengenyangkan atau tidak, tak lebih dari itu-- dan tidak akan menghasilkan suatu pemikiran.
•       Maka proses berpikir tidak akan berlangsung, kecuali dengan terwujudnya empat unsur, yaitu: fakta yang diindera, alat indera, otak, dan informasi sebelumnya yang berkaitan dengan benda yang diindera.  Jika memaksa berfikir tanpa adanya informasi sebelumnya bisa menyebabkan kesesatan, kegilaan, khayalan, ilusi.

•       Jadi pemikiran = akal = kesadaran: penangkapan fakta (bukan penangkapan gambar seperti potret) dengan perantaraan indera ke otak disertai informasi sebelumnya tentang fakta tersebut yang berfungsi menafsirkannya.
•       Suatu pemikiran yang disampaikan kepada seseorang perlu dilakukan langkah peninjauan sebagai berikut:  Jika pemikiran tersebut memiliki fakta yang dapat diindera dan sebelumnya telah diindera oleh orang tersebut, atau ia menginderanya pada saat menerima pemikiran itu; atau ia belum pernah menginderanya baik sebelumnya atau saat ia menerima pemikiran itu, tetapi dapat membayangkan dalam benaknya sebagaimana yang disampaikan kepadanya, lalu ia membenarkan dan menjadikannya fakta dalam benaknya, seolah-olah telah mengindera dan menerimanya seperti fakta yang benar-benar terindera, maka dalam dua keadaan seperti ini ia telah menyadarinya.  Dengan adanya fakta tersebut, terbentuklah dalam benaknya suatu persepsi (mafhum) dan menjadi suatu pemikiran yang nyata seolah-olah dia sendiri yang menghasilkan pemikiran itu.
                Akan tetapi jika belum terdapat suatu kenyataan pada diri orang yang menerimanya, kendati telah memahami rangkaian kalimat, pemikiran dan apa yang dimaksud dengan pemikiran itu, namun pemikiran itu belum pernah mempunyai fakta dalam benaknya, baik dengan menginderanya, meyakininya, atau menerimanya maka ia hanya merupakan informasi (maklumat) belaka. Dengan kata lain hanya sekedar pengetahuan tentang berbagai benda saja, sekalipun itu merupakan pemikiran, ditinjau dari keberadaan unsur-unsurnya, tetapi bagi orang yang belum memahami realitanya tidak lebih dari sekedar pengetahuan saja. 
•       Oleh karena itu yang dapat berpengaruh pada diri manusia bukanlah informasi melainkan persepsi.  Sebab persepsi merupakan pemikiran-pemikiran dalam benak orang-orang yang memahaminya. Karena itu, adalah suatu keharusan untuk mengetahui hakekat pemikiran agar dapat diketahui bagaimana pemikiran itu dapat mempengaruhi manusia.

Selasa, 15 Desember 2015

KEMATIAN SEMATA KARENA AJAL



KEMATIAN TERJADI SEMATA KARENA AJAL
(TIADA KEMATIAN TANPA DATANGNYA AJAL)

•       Banyak orang yang menyangka bahwa penyebab kematian itu bermacam-macam misal terkena penyakit mematikan seperti AIDS, leuchemia, stroke; atau tertusuk pisau, terbakar, kecelakaan, dll. sehingga mereka mengataka bahwa si A meninggal karena sakit, kecelakaan, dll.
•       Pada hakekatnya kematian dan sebab kematian adalah satu, yaitu sampainya ajal, tidak ada sebab yang lainnya.  Bebagai contoh di atas yang seringkali terjadi dan dapat menghantarkan kepada kematian hanya merupakan suatu kondisi yang menghantarkan kepada kematian, dan bukan sebab-sebab kematian itu sendiri.
•       Kadang-kadang ditemukan adanya keadaan (yang mematikan) tetapi kematian tidak terjadi, dan terkadang ditemukan kematian tanpa didahului oleh suatu keadaan bahaya pun.
•       Sesuatu peristiwa yang dapat mendahului kematian bukan merupakan sebab kematian.  Andaikan hal itu dianggap sebagai sebab, tentu akan menghasilkan kematian secara pasti.  Dan kematian tidak dapat terjadi dengan kasus yang lain, oleh karena tidak dapat menghasilkan kematian secara pasti, meskipun dalam satu kasus saja dan kematian bisa datang dengan berbagai macam cara, maka hal ini menunjukkan secara pasti bahwa hal itu bukan sebab melainkan "kondisi" saja. 
•       Sedangkan sebab kematian yang sebenarnya yang menghasilkan musabab adalah sesuatu hal yang lain bukan seperti yang dijelaskan dalam "kasus/kondisi".
•       Adapun sebab kematian yang sebenarnya, hal itu berada di luar kemampuan akal untuk mengetahuinya karena berada di luar jangkauan indera manusia.  Maka manusia harus mencari petunjuk dari Allah SWT (di dalam Al-Qur`an)
•       Allah SWT telah memberitakan kepada kita bahwa sebab dari kematian adalah sampainya ajal, dan bahwasanya (Dzat) yang mematikan adalah Allah SWT.  Kematian hanya datang karena ajal dan hanya Allahlah yang mematikan. 

•       "Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin  Allah sebagai ketetapan yang tertentu waktunya" (QS Al Imron: 145).
•        "Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa   (orang) yang belum mati ketika tidurnya maka Dia tahanlah jiwa  (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan  jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan.  Sesungguhnya pada  yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum  yang berfikir“ (QS. Az Zumar: 42)
•        "... Tuhanku ialah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan"(QS Al Baqarah: 258).
•        "Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu,  kendatipun kamu berada di dalam benteng yang kokoh"(QS An Nisaa': 78)  
•        "Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari daripada­nya,  maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu"(QS Al Jumuah: 8).
•        "Maka jika telah datang batas waktunya (ajal), mereka tak dapat  mengundurkannya barang sedetikpun dan tidak dapat memajukannya"(QS Al A'raf: 34)
•        Semua ayat-ayat tersebut di atas dan banyak lagi ayat lainnya menunjukkan dengan pasti bahwa Allahlah yang mematikan makhluq.  Dan sesungguh­nya sebab datangnya kematian adalah sampainya ajal bukan berupa "keadaan/kondisi" yang dapat menghantarkan pada kematian.
•       Jadi  "keadaan“ dan “sebab”, 2 hal yang berbeda.  syara' telah menetapkan bahwa kematian itu berada di tangan Allah.  Dan Allah SWT adalah Dzat yang berhak mematikan dan sebab kematian adalah datangnya ajal.  Apabila ajal datang, maka kematian tidak dapat diundurkan ataupun dimajukan walaupun sedetik, dan manusia tidak akan mampu menghindarinya atau lari dari kematian secara mutlak.  Dan mati pasti akan menjemputnya.
•       Adapun yang diperintahkan kepada manusia adalah agar bersikap waspada dan menjauhkan dirinya dari "keadaan/kondisi" yang biasanya dapat menghantarkan pada kematian, yaitu dengan cara menjauhkan/ menghindari dari suatu keadaan/kondisi yang biasanya mengakibatkan kematian.  Adapun mati maka manusia tidak perlu takut atau lari dari kematian.  Sebab tidak mungkin ia mampu menghindarinya secara mutlak.
•       Manusia tidak akan mati kecuali jika telah sampai padanya ajal.  Tak ada bedanya apakah ia mati biasa, terbunuh, terbakar, atau yang lainnya.  Yang jelas, kematian dan ajal berada di tangan Allah SWT.

Related Posts with Thumbnails

Spirit 212, Spirit Persatuan Umat Islam Memperjuangkan Qur'an Dan Sunnah

Unduh BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam