Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Sabtu, 14 Juli 2018

Mengutamakan Ridha Allah Di Atas Ridha Manusia



“Siapa saja yang mencari ridha Allah dengan risiko dimurkai oleh manusia maka Allah akan mencukupi dirinya sehingga tidak memerlukan bantuan manusia. Siapa saja yang mencari ridha manusia dengan sesuatu yang bisa mengundang kemurkaan Allah maka Allah akan membiarkan dirinya dikuasai manusia.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu al-Mubarak).

Ibnu Hibban meriwayatkan hadis di atas di dalam Shahih Ibni Hibban dengan dua redaksi yang sedikit berbeda.
Pertama, riwayat dari jalur Urwah, dari Aisyah, dari Rasul yang bersabda:
“Siapa saja yang mencari ridha Allah dengan risiko dimurkai manusia maka Allah meridhai dia dan akan membuat manusia pun ridha kepada dirinya. Siapa saja yang mencari ridha manusia dengan sesuatu yang bisa mengundang murka Allah maka Allah murka kepada dia dan membuat manusia bisa marah kepada dirinya.” (HR. Ibnu Hibban).

Riwayat kedua, dari jalur al-Qasim, dari Aisyah ra. dari Rasul yang bersabda: 
“Siapa saja yang membuat ridha Allah meski bakal mengundang kemarahan manusia maka Allah akan menyelamatkan dirinya. Siapa saja yang membuat Allah murka semata-mata demi meraih keridhaan manusia maka Allah akan membiarkan dirinya dikuasi oleh manusia.” (HR. Ibnu Hibban).

Al-Mubarakfuri di dalam Tuhfah al-Ahwadzi bi Syarhi Jami' at-Tirmidzi menjelaskan: Sabda Rasul , “Man iltamasa" bermakna thalaba (mencari). Maknanya, siapa saja yang mencari ridha Allah "bi sakhathi an-nasi (dengan sesuatu yang bisa memancing kemarahan manusia).”
As-Sakhathu, as-sukhuthu, as-sukhthu dan al-maskhathu bermakna al-karahah li asy-syay‘i wa 'adamu ar-ridha bihi (ketidaksukaan dan ketidakridhaan terhadap sesuatu).
"Kafahullah mu’ nata an-nas” (Allah mencukupi dirinya sehingga tidak membutuhkan bantuan manusia) karena ia telah menjadikan dirinya sebagai bagian dari hizbulLah (partai Allah). Siapa saja yang berlindung kepada Allah tidak gagal. Ingatlah bahwa mereka yang masuk ke dalam partai Allah adalah orang-orang yang beruntung. Sebaliknya, siapa saja yang mencari ridha manusia dengan sesuatu yang mendatangkan kemurkaan Allah maka “wakalahu ila an-nasi", yakni Allah akan menjadikan manusia berkuasa atas dia hingga manusia itu menyakiti dan menzhalimi dirinya.

Mula Ali al-Qari di dalam Mirqatu al-Mafatih Syarhu Misykati al-Mashabih menjelaskan hadits di atas. Siapa saja yang mencari ridha Allah meski bisa mendatangkan kemarahan manusia, yakni mencari ridha Allah dalam sesuatu yang menyebabkan manusia tidak suka kepada dia, maka Allah menyelamatkan dia dari kejahatan mereka berupa kezhaliman dan perlakuan buruk kepada dirinya. Siapa saja yang mencari ridha manusia dengan sesuatu yang mendatangkan kemurkaan Allah maka Allah akan membiarkan dia dan tidak menolong dia. Allah membiarkan dia dikuasi oleh manusia. Ini merupakan pesan yang komprehensif untuk semua manusia.

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah di dalam al-Fawa’id menyatakan “Man ardhallah wa askhatha an-nas" merupakan prinsip agung yang harus diketahui oleh orang berakal. Ini berlaku untuk setiap orang. Pasalnya, manusia adalah makhluk sosial yang harus hidup bersama dengan manusia lainnya. Manusia mempunyai keinginan dan imajinasi yang tentu ingin disetujui oleh manusia lainnya. Jika orang-orang tidak setuju, mereka bisa menyakiti dan menyiksa dirinya. Sebaliknya, jika dia membuat manusia setuju maka serangan dan siksaan itu juga terjadi, kadang dari mereka dan kadang dari selain mereka.

Ibnu al-Qayyim juga menyatakan jadi yang wajib dijadikan pegangan adalah sabda Rasull dalam hadits Aisyah yang dikirim kepada Muawiyah, yang diriwayatkan secara marfu' dan mawquf. Ini berlaku pada orang yang menolong raja dan pemimpin atas keinginan rusak mereka, juga pada orang yang menolong pelaku bid'ah yang bernisbat pada ilmu dan agama atas klaim bid'ah mereka. Siapa saja yang ditunjuki oleh Allah, dia terhalang dari perbuatan haram dan dia bersabar atas serangan dan permusuhan mereka, kemudian kesudahan yang baik adalah untuk dia di dunia dan akhirat.

Di antara manusia yang biasanya banyak dicari ridhanya adalah penguasa. Pasalnya, di tangannya ada kekuasaan dan alat kekuasaan yang siap dia gunakan, bisa saja untuk menggebuk siapa saja yang tidak dia sukai atau yang membuat dia marah. Namun, perilaku sekadar menyenangkan penguasa, tanpa peduli membuat murka Allah SWT, tentu menyimpan bahaya besar. Apalagi jika itu dilakukan oleh orang yang memiliki agama, khususnya ulama.

Dalam hal itu Imam al-Ghazali di dalam Ihya' 'Ulum ad-Din mengutip ucapan Ibnu Mas'ud ra.: "Seseorang yang sungguh-sungguh masuk ke istana (penguasa) dengan membawa agamanya, tetapi dia kemudian keluar tanpa membawa agamanya." Ditanya, “Mengapa begitu?” Ibnu Mas'ud menjawab, “Sebab dia telah berusaha menyenangkan penguasa itu dengan sesuatu yang mendatangkan kemurkaan Allah."

Imam al-Ghazali juga menyatakan, bahwa siapa yang menyibukkan diri mencari ridha manusia dan memperbagus keyakinan mereka tentangnya, mereka tertipu. Sebabnya, seandainya dia makrifat kepada Allah dengan sebenarnya niscaya dia tahu bahwa makhluk tidak berguna sedikitpun dalam menghindarkan sesuatu dari Allah, juga bahwa madharat dan manfaat makhluk itu ada di tangan Allah. Tidak ada yang memberi manfaat dan tidak pula memadaratkan selain Dia. Dia pun sadar bahwa siapa saja yang mencari ridha dan kecintaan manusia dengan sesuatu yang bisa mengundang murka Allah, niscaya Allah murka terhadap dirinya dan Allah akan membuat manusia marah terhadap dirinya. Bahkan ridha manusia itu merupakan tujuan yang tidak bisa diraih. Jadi ridha Allah lebih utama dicari.

Alhasil, seseorang wajib menjadikan rasa takutnya kepada Allah berada di atas semua rasa takut. Hendaknya dia tidak mempedulikan siapapun dalam menjalankan syariah Allah. Hendaknya dia tahu bahwa siapa saja yang mencari ridha Allah, meski manusia tidak suka padanya, maka kesudahan (kebaikan) adalah untuk dirinya. Sebaliknya, jika dia mencari ridha manusia dan bergantung pada manusia dengan sesuatu yang bisa membuat Allah murka, maka kondisinya akan berbalik, dan dia tidak meraih maksudnya. Bahkan yang terjadi justru berlawanan dengan maksudnya, yaitu Allah murka kepada dirinya dan Allah akan menjadikan manusia juga marah atau tidak suka kepada dirinya.

Wallah a'lam bi ash-shawab.[]

(artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Sumber: Media Politik Dan Dakwah al-Wa’ie edisi Maret 2018

لاَ هَوْلَ وَلاَ قُوَّتَ اِلاَّبِاللّهِ

Jumat, 13 Juli 2018

Ana Muslim! Saya Muslim!



Ana Muslim…!

Menarik untuk menjadi evaluasi kita bersama. Ketika kita sudah akil balig kemudian mengenal Allah SWT dan Islam, apa yang selanjutnya kita lakukan? Bagaimana pemahaman dan sikap diri yang langsung kita lakukan? Apakah kita langsung bergiat diri mempelajari Islam, sekuat tenaga mengamalkan syari'ah Islam atau bahkan menjadi pembela agama Allah yang terpercaya? Ya. Apakah kita mengikrarkan dalam tutur kata dan sikap di depan khalayak ramai, “Ana Muslim qabla kulla syay'[in] (Saya Muslim sebelum yang lain)." Sudahkah kita konsisten terhadap keimanan kita?

Apa yang dialami oleh Sahabat Umar bin al-Khaththab ra. sewaktu baru masuk Islam menjadi pelajaran sangat berharga. Sebagaimana yang dijelaskan dalam buku The Great Leader of Umar bin Al Khathab (Kisah Kehidupan dan Kepemimpinan Khalifah Kedua), sikapnya langsung menunjukkan keislaman dan pembelaan pada Islam. Beliau memahami betul konsekuensi dari makna syahadat: satu kata dan perbuatan; satu iman dan amal; satu pemahaman dan perilaku. Beliau pun sekaligus menjadi pembela Islam terpercaya. Beliau dengan lugas dan tegas mengimplementasikan “Ana Muslim..." setelah bersyahadat di depan Nabi Saw.
Umar ra. masuk Islam dengan hati yang tulus. Ia berusaha mengokohkan agama Islam dengan segenap kekuatan yang ia miliki. Ia pernah mengatakan kepada Rasulullah Saw., “Ya Rasulullah, bukankah kita berada di pihak yang benar bila kita mati dan bila kita hidup?” Beliau menjawab, "Benar. Demi Zat Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh kalian berada di pihak yang benar bila kalian mati dan bila kalian hidup.” Umar lalu berkata, “Lantas mengapa dakwah Islam kita lakukan secara sembunyi-sembunyi? Demi Zat Yang mengutus Anda dengan kebenaran, kami semua akan keluar dari rumah ini."

Inilah sikap Umar yang luar biasa. Setelah bersyahadat dan meyakini kebenaran Islam, ia berkeinginan agar kebenaran Islam itu diketahui oleh orang banyak. Kebenaran harus disampaikan dan ditampakkan secara terbuka kepada khalayak ramai walau dengan risiko sangat besar.

Apa yang disampaikan oleh Umar ra., ditambah oleh bimbingan wahyu, Rasulullah Saw. melihat bahwa telah tiba saatnya untuk berdakwah secara terang-terangan. Dakwah Islam telah kuat dan dapat membela dirinya sendiri. Karena itu beliau pun mulai berdakwah secara terang-terangan.
Beliau keluar dari Darul Arqam bersama kaum Muslim dengan membentuk dua barisan. Satu barisan dipimpin oleh Umar ra. Barisan lainnya dipimpin oleh Hamzah bin Abdul Muthalib. Tatkala orang-orang Quraisy melihat Umar dan Hamzah memimpin barisan kaum Muslim, mereka tertimpa kesedihan yang belum pernah mereka alami selama ini. Rasulullah saat itu memberi Umar gelar Al-Faruq (pemisah antara yang hak dan yang batil). (HR. Ahmad).

Allah SWT telah mengokohkan agama Islam dan kaum Muslim dengan masuk Islamnya Umar. Umar adalah orang yang sadar akan harga diri. Ia tidak peduli apa risiko yang akan terjadi di belakang dirinya. Allah SWT telah melindungi para Sahabat Nabi Saw. melalui Umar dan Hamzah (Al-Khalifah Al Faruq Umar bin Fil Khattab, hal.26-27).

Lihatlah apa yang dilakukan oleh Umar. Ia menantang orang-orang musyrik Quraisy. Ia melawan atau memerangi mereka hingga akhirnya ia dan kaum Muslim dapat menunaikan shalat di Ka'bah (Ar-Riyadh an-Nadhrah, I/257). Umar tetap berusaha dengan sungguh-sungguh dengan segenap kemampuannya untuk melawan dan memerangi musuh-musuh Islam.

Tentang dirinya, ia bercerita:
“Aku bertekad ingin dilihat mereka sebagai orang Islam. Aku pergi menemui pamanku, Abu Jahal. Ia termasuk orang terpandang di mata mereka. Kuketuk pintu rumahnya.
“Siapa yang mengetuk pintu?" tanya Abu Jahal.
Kujawab, "Umar bin al-Khaththab."
Ia pun keluar menemuiku.
Kutanyakan kepada Abu Jahal, “Apakah Anda sudah tahu kalau aku telah murtad (telah masuk Islam)?"
Abu Jahal balik bertanya, “Apakah Anda serius telah murtad?"
Kujawab, "Ya. aku serius."
"Jangan lakukan itu,” pinta Abu Jahal.
Lalu ia masuk ke dalam rumahnya. Ia menutup pintu dan tidak menghiraukanku.
Setelah itu, aku pergi menemui salah seorang tokoh terpandang Quraisy. Sesampai di sana, kuketuk pintu rumahnya.
“Siapa di luar?" Tanya dia.
Kujawab, "Umar bin al-Khaththab."
Ia keluar menemuiku. Kutanyakan kepada dia, “Apakah Anda sudah tahu kalau aku telah murtad?”
Ia balik bertanya, "Apakah Anda serius setelah murtad?"
“Ya, saya serius,” jawabku.

"Jangan lakukan itu!” pinta dia. Lalu ia masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.”

Diriwayatkan pula dari Abdullah bin Umar:
“Tatkala Umar masuk Islam orang-orang Quraisy belum mengetahui keislamannya. Umar bertanya, "Siapa di antara penduduk Makkah yang dapat menyebarluaskan informasi tentang keislamanku?"
Dikatakan pada Umar, “Jamil bin Ma'mar Al-Jamhi."
Umar keluar dan aku mengikuti di belakangnya. Aku perhatikan apa saja yang dilakukan Umar. Saat itu aku masih anak-anak, tetapi aku sudah dapat memahami apa yang kulihat dan kudengar. Umar menemui Jamil dan menyampaikan padanya, "Jamil, aku telah masuk Islam."
Demi Allah tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya hingga ia menarik sorbannya.
Umar mengikuti Jamil dan aku pun mengikuti Ayahku, Umar.
Setiba di Masjid, Jamil berdiri tepat di pintu masjid dan berteriak dengan suara lantang, “Wahai orang-orang Quraisy, –saat itu orang-orang Quraisy sedang berada di sekitar Ka'bah- ketahuilah bahwa Umar bin al-Khaththab telah murtad."
Umar berujar, “Jamil telah berdusta. Yang benar, aku telah masuk Islam. Aku telah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya."
Setelah itu orang-orang Quraisy menyerang Umar bin aI-Khaththab. Umar lalu menangkap ‘Utbah bin Rubaiah. Umar memasukkan kedua jari tangannya tepat di mata 'Uthbah. 'Uthbah berteriak. Orang-orang Quraisy pun menjauhi Umar. Umar lalu berdiri dan tidak ada seorangpun yang berani mendekati dirinya hingga akhirnya orang-orang Quraisy bubar. Umar mengikuti majelis-majelis mereka dan menampakkan keislamannya di dalam majelis-majelis tersebut. (Ar-Riyadh an-Nadhrah, hlm.319)

Umar terus menyerang mereka hingga mentari berada tepat di atas kepala mereka. Umar merasa lelah, lalu duduk dan beristirahat. Tidak lama kemudian orang-orang Quraisy menghampiri dia. Kepada mereka, Umar mengatakan, "Lakukanlah apa yang hendak kalian lakukan. Demi Allah, sekiranya kami berjumlah 300 orang laki-laki niscaya kalian akan membiarkannya untuk kalian."

Tidak lama kemudian, datanglah seorang laki-Iaki yang mengenakan sutra dan gamis berbordir. “Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya laki-laki itu kepada mereka.

Mereka menjawab, "Umar bin al-Khaththab telah murtad.”

Laki-laki itu mengatakan, “Biarkanlah dia! Ia telah memilih agama untuk dirinya sendiri. Apakah kalian mengira bahwa Bani Adi akan menyerahkan begitu saja anggota suku mereka pada kalian?"

Setelah di Madinah, aku bertanya kepada Umar, "Ayahku, siapa nama orang yang dulu pernah mencegah ayah dari amukan orang-orang Quraisy?"

Umar menjawab, "Wahai anakku, ia adalah Al-'Ash bin Wail As-Sahmi.” (HR. Imam Ahmad).

Demikianlah sikap luar biasa Umar. Tidak takut sama sekali mengenalkan identitasnya sebagai seorang Muslim walau taruhannya nyawa sekalipun.

Sikap ini sangat tepat dalam kondisi sekarang. Kita sebagai seorang Muslim, apalagi pengemban dakwah, harus berani menampilkan identitas kita bahwa kita adalah para pemeluk Islam yang taat dan pembela agamanya yang terpercaya walau ancaman kriminalisasi dan penjara menanti.

Fragmen di atas juga menjelaskan bahwa suatu saat nanti akan ada ahlul quwwah yang secara terang-tearangan membela agama Allah dengan semua potensi dan jabatan yang dia miliki. Dia tidak peduli lagi dengan kekayaan, jabatan bahkan nilai sosial yang diterimanya saat itu. Bagi dia, Islam jauh lebih mulia dan berharga jika dibandingkan dengan itu semua. Bisa jadi, Andalah ahlul quwwah itu. Karena itu buktikanlah pembelaan Anda: “Ana Muslim...!

WalLahu a'lam bi ash-shawab. [Abu Umam]

Sumber: Media Politik Dan Dakwah al-Wa’ie edisi Maret 2018

Rabu, 11 Juli 2018

Klasifikasi as-Sunnah



Dalam Konteks ushul fikih, as-Sunnah baik sunnah qawliyah, fi'liyah ataupun taqririyah, dari sisi sanad bisa diklasifikasikan menjadi tiga: mutawatir, masyhur dan ahad.

Pengklasifikasian tersebut secara umum mu'tabar menurut para ulama ushul, meski ada perbedaan mereka dalam ungkapan.
Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam Ushul al-Fiqh al-Islami menjelaskan bahwa as-Sunnah menurut sanad terbagi menurut jumhur menjadi dua klasifikasi: mutawatir dan ahad, baik khabar ahad itu mustafidh, yaitu yang perawinya lebih dari tiga, seperti yang ditetapkan oleh al-Amidi dan Ibnu Hajib, atau ghayru mustafidh yaitu masyhur, yakni yang perawinya tiga orang atau lebih kemudian menjadi terkenal (masyhur); meski pada abad kedua atau ketiga sampai batas dinukilkan oleh para perawi tsiqah yang tidak dibayangkan mereka sepakat atas kebohongan (Lihat: Al-Amidi, Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam; al-Ghazali, Al-Mustashfa, I/93; Asy-Syaukani, Irsyad al-Fuhul, hlm.41 dst; Ali asy-Syasyi, Ushul asy-Syasyi, hlm.81; As-Subki, Al-Ibhaj, ii/186).

Menurut Hanafiyah, as-Sunnah berdasarkan sanadnya terbagi ke dalam tiga klasifikasi: mutawatir, masyhur dan ahad (Lihat: Ibnu Amir al-Haj, At-Taqrir wa at-Tahbir, II/225; At-Talwih 'ala at-Tawdih, II/2).

Dua macam pengklasifikasian itu tidak berbeda banyak. Khabar wahid mustafidh itulah yang disebut masyhur.

Jadi hadis itu, jika dinukilkan oleh jamaah (sekelompok) orang dari tabi' at-tabi'in, dari jamaah at-tabi'in, dari jamaah (sekelompok) Sahabat, dari Nabi saw. maka itulah mutawatir.
Jika dinukilkan oleh jamaah tabi' at-tabi'in, dari jamaah at-tabi'in, dari satu atau lebih Sahabat yang jumlah mereka tidak sampai pada batas tawatur, maka itu adalah hadits masyhur karena diterima oleh umat dan terkenal di tengah mereka.
Jika diriwayatkan oleh satu perawi atau lebih dan jumlah mereka tidak mencapai batas tawatur sejak masa Sahabat, at-tabi'in dan tabi' at-tabi'in maka itu disebut khabar ahad.

Adapun dari sisi berfaedah yakin atau zhann, maka as-Sunnah hanya ada dua kasifikasi: (1) berfaedah yaqin/ qath'i/ al-ilmu; (2) berfaedah zhann.

Hadits masyhur, dari sisi ini, termasuk hadits ahad.
Hadits itu, jika diriwayatkan oleh sejumlah tabi' at-tabi'in yang aman dari bersepakat atas kebohongan, dari sejumlah at-tabi'in yang aman dari bersepakat atas kebohongan, dari sejumlah sahabat yang tegak hujjah qath'i dengan ucapan mereka, maka hadits demikian adalah hadits mutawatir.
Jadi hadits mutawatir itu, jika pada tiga tingkatan (Sahabat, at-tabi'in dan tabi' at-tabi'in) jumlah perawinya mencapai batas tawatur pada setiap tingkatannya.
Jika salah satu dari tiga tingkatan itu tidak mencapai batas tawatur maka termasuk khabar ahad, baik yang tidak terpenuhi itu pada tingkat Sahabat, at-tabi’in atau tabi’ at-tabi’in atau di semua tingkatan itu, maka termasuk khabar ahad; tidak berfaedah yakin, melainkan berfaedah zhann.
Hanya saja, jika yang tidak mencapai batas tawatur itu hanya pada tingkat Sahabat, sementara pada tingkat at-tabi'in dan tabi' at-tabi'in mencapai batas tawatur, maka disebut hadis masyhur karena kemasyhurannya di tengah umat. Namun, dari sisi faedahnya tidak berbeda dengan khabar ahad, yaitu tidak berfaedah yakin, melainkan hanya berfaedah zhann.

Hadis Mutawatir

At-Tawatur secara bahasa artinya mengikutnya sesuatu setelah yang lain dengan masa jeda di antara keduanya. Makna itu dinyatakan di dalam al-Quran: "tsumma arsalna rusulana tatra” (Kemudian Kami mengutus (kepada umat-umat itu) para rasul Kami berturut-turut (TQS. al-Mu'minun [23]: 44).

Adapun dalam istilah ulama ushul, hadits mutawatir adalah khabar jamaah (sekelompok perawi) yang banyak jumlahnya sampai batas tercapai keyakinan (al-'ilmu) dengan ucapan mereka. Hal itu tidak akan tercapai, artinya tidak mutawatir, kecuali jika mereka yakin dengan apa yang mereka beritakan dan bukan dugaan (zhann). Keyakinan mereka itu disandarkan pada penginderaan langsung (mendengar atau melihat). Kelompok perawi yang terpenuhi syarat tersebut ada pada tingkat Sahabat, at-tabi'in dan tabi' at-tabi'in.

Dengan demikian khabar mutawatir itu harus memenuhi syarat:
Pertama, perawinya harus berjumlah banyak. Banyaknya jumlah perawi harus disertai kondisi dan keadaan yang memustahilkan mereka bersepakat atas kebohongan. Ini berbeda-beda dari sisi sosok pribadi perawi, tempat dan keadaan.
Kedua, jumlah dan keadaan yang memustahilkan untuk bersepakat atas kebohongan itu terpenuhi pada semua tingkatan: tingkat Sahabat, at-tabi'in dan tabi' at-tabi’in.
Ketiga, pada tingkat Sahabat, apa yang mereka beritakan harus bersandar pada penginderaan, baik mendengar atau melihat langsung atau lainnya; bukan bersandar pada penetapan akal, sebab penetapan akal bisa salah (Lihat: Al-'Allamah Taqiyuddin an-Nabhan, asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, I/332: Al-Ghazali, Al-Mustashfa, II/86; Ibnu Amir al-Haj, at-Taqrir wa at-Tahbir, II/233; Al-Laknawi al-Anshari, Fawatih ar-Rahamut, II/115; as-Subki, al-Ibhaj Syarh al-Minhaj, ii/187; Asy-Syaukani, Irsydu al-Fuhul, hlm.41).

Mengenai jumlah yang mengantarkan pada keyakinan atau tawatur, para ulama ushul berbeda pendapat berapa minimalnya. Ada yang mengatakan lima, dua belas, dua puluh, empat puluh, tujuh puluh, 313 orang dan lainnya. Sebagiannya mengemukakan dalil yang mendukung pendapatnya. Hanya saja, Syaikh Wahbah az-Zuhaili mengatakan, semua dalilnya itu lemah, tidak merujuk pada akal maupun naql; tidak ada di antara dalil-dalil itu dan objek perselisihan sesuatu yang menghimpun atau pengikat. Yang rajih, patokan at-tawatur adalah tercapainya al-'ilmu (kepastian) dan keyakinan terhadap ucapan orang yang memberitakan, tanpa batasan jumlah tertentu (Lihat: Syarh al-Jalal al-Mahali 'ala Jam'i al-Jawami', 2/106; Ibnu Amir al-Haj, At-Taqrir wa at-Tahbir; as-Subki, Zil; al-Ibhaj, II/189; Sayid al-Katani, an-Nazhmu al-Mutanatsir min al-Hadits al-Mutawatir, hlm.10).

Semua pendapat yang menentukan jumlah minimal tercapainya tawatur itu tidak memiliki sandaran dari akal maupun naql. Pasalnya, tidak ada nas yang menyatakan jumlah tertentu. Akal juga tidak me-rajih-kan jumlah tertentu. Patokan khabar mutawatir adalah tercapainya al-'ilmu al-yaqin, bukan riwayat jumlah tertentu. Sebab, bersama jumlah itu ada indikasi yang menunjukkan kuat atau lemahnya khabar.
Kadangkala khabar itu diriwayatkan oleh jumlah tertentu yang dengan riwayat mereka tidak tercapai kepastian dan keyakinan.
Kadang khabar diriwayatkan oleh kelompok lain dengan jumlah yang sama dan tercapai kepastian dan keyakinan. Pasalnya, penilaian khabar itu berbeda menurut indikasi-indikasi yang menyertai, meski jumlahnya sama.
Atas dasar itu, hadis mutawatir yang menghasilkan kepastian dan keyakinan harus diriwayatkan oleh sejumlah orang, bukan jumlah tertentu. Jumlah orang itu, juga tempat mereka yang saling berjauhan, memustahilkan mereka bersepakat atas kebohongan.
Patokan jumlah hanya didasarkan pada kemustahilan mereka bersepakat atas kebohongan.
Jadi hadis mutawatir itu haruslah diriwayatkan oleh jama’ah (sekelompok perawi) dan jumlah mereka harus menghalangi mereka bersepakat atas kebohongan. Hal itu berbeda-beda, bergantung pada orang yang memberitakan, fakta-fakta dan indikasi-indikasi yang menyertai (Al-‘Allamah Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, III/82-83).

Menurut kesepakatan para ulama, hukum hadits mutawatir adalah qath'i tsubut berasal dari Rasul Saw. Hadits mutawatir berfaedah al-'ilmu (kepastian) dan al-yaqin (keyakinan), orang yang mengingkari hadis mutawatir dikafirkan (Syaikh Wahbah az-Zuhaili, Ushul al-Fiqhi al-Islami, I/453).

Al-'Allamah Syaikh Tqaiyuddin an-Nabhani dalam asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah (I/332) menyatakan bahwa hukum hadits mutawatir berfaedah al-‘ilmu adh-dharuri (kepastian yang bersifat mutlak). Artinya, manusia dipaksa yakin dan tidak mungkin bisa menolak. Bersifat dharuri tidak lain karena tidak memerlukan nazhar (penelaahan). Artinya, khabar mutawatir berfaedah pada kepastian.

Khabar mutawatir ada dua jenis: mutawatir lafzh[an] (mutawatir redaksi [ungkapanl-nya) dan mutawatir ma'n[an] (mutawatir maknanya). Kedua jenis tersebut ada.
Diriwayatkan banyak hadis mutawatir, meski ada perbedaan tentang penilaian hadits sebagai mutawatir menurut para ulama sesuai perbedaan pandangan mereka tentang mutawatir. Contoh hadits mutawatir lafzh[an]: sabda Rasul Saw.:

“Siapa saja yang berdusta atas namaku secara sengaja, hendaklah ia siapkan tempat duduknya di Neraka.”

Hadits ini diriwayatkan oleh 70-an Sahabat.

Contoh lain hadis mutawatir adalah hadis al-Hawdh, hadis mengusap kaus kaki, hadis mengangkat tangan di dalam shalat (Dr. Mahmud Thahhan. Taysir Mushthalah al-Hadits, hlm.21).

Contoh hadits mutawatir lafzh[an], menurut sebagian pen-tahqiq, adalah sabda Rasul Saw.:

“Tidak ada wasiat untuk ahli waris” (HR. Ahmad dan Ashhab as-Sittah dari Anas).

Hadits ini diriwayatkan oleh dua belas Sahabat. Di antara mereka apa yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah, ad-Daraquthni dan Ibnu Adi dari Ali ra. (Syaikh Wahbah az-Zuhaili, Ushul al-Fiqhi al-Islami, I/452).

Adapun contoh hadis mutawatir maknawi adalah shalat sunnah shubuh dua rakaat (Al-'Allamah an-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyah, I/333).

Contoh lainnya adalah hadits tentang mengangkat kedua tangan saat berdoa. Ada sekitar 100 hadits tentang ini. Masing-masing menyatakan Rasul Saw. mengangkat kedua tangan saat berdo’a dalam berbagai masalah meski masing-masing hadits itu tidak mutawatir (Dr. Mahmud Thahhan, Taysir Mushthalah al-Hadits, hlm.21, mengutip dari As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi, II/180).

Masih banyak lagi hadits mutawatir yang lain.

WalLah a'lam bi ash-shawab. [Yahya Abdurrahman]

(artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Sumber: Media Politik Dan Dakwah al-Wa’ie edisi Maret 2018

Related Posts with Thumbnails

Unduh BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam