Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

Minggu, 09 Oktober 2016

Pilar Tegaknya Sistem Islam


 


Memenuhi Kewajiban Penerapan Sistem Islam

Telah ada teladan dari Rasulullah Saw. mengenai Penerimaan Kekuasaan (Istilamil Hukmi) dan Penerapan Sistem Islam secara utuh serta menyeluruh (Tathbiq Ahkamul Islam), lalu pengembanannya sebagai risalah ke seluruh penjuru dunia, hingga terus dilanjutkan oleh para khalifah pengganti Beliau sebagai kepala negara.

Setelah proses thalabun-nushrah berhasil, tahapan selanjutnya adalah penerapan syariah Islam sebagai hukum dan perundang-undangan bagi masyarakat dan negara secara kaffah. Sebagaimana yang pernah dilaksanakan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabat, setelah Beliau mendapatkan Bai’atul Aqabah II, Beliau melanjutkan dengan hijrah ke Madinah. Di Madinah inilah Rasulullah Saw. dapat memulai peradaban baru, menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam institusi negara, yakni Daulah Islamiyah. Penerapan syariah Islam ini ditandai dengan pemberlakuan Piagam Madinah yang wajib ditaati oleh seluruh warga negara, baik Muslim maupun non-Muslim.

Sistem Negara Khilafah Islam tegak di atas empat pilar: (1) As-Siyaadah (kedaulatan) berada di tangan syara’; (2) As-Sulthon (kekuasaan) berada di tangan rakyat; (3) Mengangkat satu orang Khalifah fardhu atas seluruh kaum Muslim; (4) Hanya Khalifah yang berhak mengadopsi hukum syariah (An-Nabhani, Muqoddimah ad-Dustur, hlm 109). Jika salah satu saja dari empat pilar tersebut tiada, maka suatu pemerintahan tidak bisa disebut sebagai pemerintahan Islam (An-Nabhani, Ad-Daulah Al-Islamiyyah, hlm 201).

1) As-Siyaadah (kedaulatan) berada di tangan syara’

Kedaulatan adalah otoritas absolut tertinggi, sebagai satu-satunya pemilik hak untuk menetapkan hukum segala sesuatu dan perbuatan (Al-Kholidi, Qowaid Nizhom al-Hukm fi al-Islam, hal. 24). Berdasarkan firman Allah Swt.:


“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.” (QS. al-An’am [6]: 57)

Karena penetapan hukum hanya milik Allah Swt. semata, maka peran penguasa (khalifah) dalam sistem pemerintahan Islam hanya sebagai pelaksana, tanpa memiliki wewenang sedikitpun untuk membuat-buat hukum. Dan haram hukumnya bagi penguasa untuk memberhentikan pelaksanaan hukum-hukum Islam, untuk kemudian berhukum dengan selainnya.

Imam Ibnu Katsir berkata: 
ينكر تعالى على من خرج عن حكم الله المحكم المشتمل على كل خير ، الناهي عن كل شر وعدل إلى ما سواه من الآراء والأهواء والاصطلاحات ، التي وضعها الرجال بلا مستند من شريعة الله ، … فلا يحكم بسواه في قليل ولا كثير ، قال الله تعالى : ﴿ أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ﴾ أي : يبتغون ويريدون ، وعن حكم الله يعدلون . ﴿ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ ﴾ أي : ومن أعدل من الله في حكمه لمن عَقل عن الله شرعه ، وآمن به وأيقن وعلم أنه تعالى أحكم الحاكمين .
“Allah mengingkari siapa-siapa (penguasa) yang tidak menerapkan hukum Allah Swt. yang jelas, komprehensif meliputi setiap kebaikan dan mencegah dari setiap keburukan, serta berpaling kepada selainnya yang berupa pendapat, hawa nafsu, dan istilah-istilah yang dibuat oleh manusia tanpa bersandar kepada syari’at Allah Swt., … maka tidak boleh berhukum dengan selain hukum Allah Swt., baik sedikit maupun banyak. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki,” atau: yang mereka kehendaki dan mereka mau, sedangkan dari hukum Allah Swt. mereka berpaling. “dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” atau: siapakah yang lebih adil syari’atnya daripada hukum Allah Swt. bagi siapa-siapa yang berfikir tentang Allah Swt., mengimani-Nya, dan yakin serta tahu bahwa Allah Swt. adalah seadil-adilnya hakim.” (Al-Marja’ As-Sabiq, juz 3 hal. 131)

2) As-Sulthon (kekuasaan) berada di tangan rakyat

Bahwa pengangkatan seorang kepala negara (khalifah) dalam pemerintahan Islam tidak lain adalah berdasarkan pilihan umat dengan metode bai’at. Baik dari mayoritas umat, atau yang mewakili mereka yaitu ahlu al-halli wa al-‘aqdi; dan khalifah hanya mengambil kekuasaan melalui bai’at umat ini (An-Nabhani, Muqoddimah ad-Dustur, hal.111; dan Hizbut Tahrir, Ajhizah Daulah al-Khilafah, hal. 20).

Di antara yang menggambarkan bahwa khalifah dipilih oleh umat adalah hadits shahih dari Abu Hurairah ra. berikut:
«كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ»
“Dahulu Bani Israel, (urusan) mereka dipelihara dan diurusi oleh para nabi, setiap kali seorang nabi meninggal digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi lagi sesudahku. Sementara yang akan ada adalah para khalifah, yang jumlah mereka banyak. Mereka (para sahabat) berkata: ‘Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?’ Rasulullah Saw. bersabda: “Penuhilah baiat yang pertama lalu yang pertama.” (HR. Bukhari)

3) Mengangkat satu orang Khalifah fardhu atas seluruh kaum Muslim

Jumlah khalifah di setiap masa tidak boleh lebih dari satu. Berdasarkan hadits shahih riwayat Muslim berikut:
إِذَا بُوْيِعَ لِخَلِيْفَتَيْنِ فَاقْتُلُواْ الآخِرَ مِنْهُمَا
Jika dibai’at dua orang Khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (HR. Muslim no.1853, Ahmad dan Abu ‘Awanah)

Imam An-Nawawi (w. 676 H) berkata:
واتفق العلماء على أنه لا يجوز أن يعقد لخليفتين في عصر واحد ، سواء اتسعت دار الإسلام أم لا
“Para ulama sepakat bahwa tidak boleh diakadkan untuk dua Khalifah pada satu masa baik Dâr al-Islam itu luas atau tidak.” (An-Nawawi, Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, juz 12 hlm. 232)

Imam As-Sinqithi (w. 1393 H) menyatakan:
قول جماهير العلماء من المسلمين : أنه لا يجوز تعدد الإمام الأعظم ، بل يجب كونه واحدا ، وأن لا يتولى على قطر من الأقطار إلا أمراؤه المولون من قِبَلِهِ ، محتجين بما أخرجه مسلم في صحيحه من حديث أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا بويع لخليفتين فاقتلوا الآخر منهما .
“Pendapat jumhur ‘ulama muslimin: Bahwa berbilangnya Al-Imam al-A’zham (Khalifah) adalah tidak boleh, bahkan wajib berjumlah satu, dan hendaknya tidak berkuasa atas wilayah-wilayah (kekuasaan kaum muslimin) kecuali umara’ yang diangkat oleh khalifah, mereka (jumhur ‘ulama) berhujjah dengan hadits sahih dikeluarkan oleh Imam Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri ra., bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Jika dibai’at dua Khalifah maka bunuhlah yang terakhir (diba’at) di antara keduanya.” (As-Sinqithi, Adhwa’ Al-Bayan fii Idhoh Al-Quran bi Al-Quran, juz 3 hlm. 39)

4) Hanya Khalifah yang berhak mengadopsi hukum syariah

Satu-satunya yang berhak mengadopsi hukum syari’ah untuk kemudian diterapkan atas kaum muslim adalah khalifah, berdasarkan ijma’ shahabat. Misalnya, saat pemerintahan Abu Bakar, Beliau menetapkan ucapan talak sebanyak tiga kali dihukumi talak satu. Namun, saat pemerintahan Umar bin Al-Khaththab, Beliau menetapkan ucapan talak sebanyak tiga kali dihukumi talak tiga. Tidak ada satupun sahabat Nabi Saw. yang mengingkari tindakan keduanya. Dengan demikian, telah terjadi Ijma’ Shahabat dalam dua perkara. Pertama: Khalifah berhak mengadopsi dan menetapkan hukum syariah yang diberlakukan secara umum kepada seluruh rakyat. Kedua: wajib atas rakyat menaati Khalifah dalam hukum-hukum publik yang telah diberlakukan. (lihat: An-Nabhani, Muqoddimah ad-Dustur, hal. 17)

Selain penerapan syariah Islam untuk pengaturan kehidupan masyarakat di dalam negeri, Rasulullah Saw. juga menerapkan syariah Islam untuk politik luar negerinya.
Allah Swt. mengizinkan dan memerintahkan kaum Muslim untuk melakukan berbagai aktivitas fisik (militer) untuk melawan kekuatan militer kufur maupun untuk membuka daerah-daerah sistem kufur agar tunduk di bawah kekuasaan Daulah Islamiyah (Darul Islam). Dalilnya adalah ayat-ayat yang mewajibkan jihad (misalnya QS. At Taubah [9]: 29) yang pengamalannya telah dicontohkan Rasulullah Saw. dengan melakukan berbagai futuhat (penaklukan) baik ke Jazirah Arab maupun ke luar Jazirah Arab semata-mata untuk menyebarluaskan Islam. (lihat: Taqiyuddin An Nabhani, Ad Daulah Al Islamiyyah, hlm. 155)

Firman Allah Swt:


“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (TQS. Al-Hajj [22]: 39)

Ayat ini diturunkan selepas Beliau berhijrah ke Madinah dan menjadi kepala negara di sana, lalu Beliau segera setelah itu mempersiapkan dan membangun kekuatan militer.
Diriwayatkan Imam Muslim bahwa Rasul Saw. pernah bersabda:
“Serulah mereka masuk Islam; jika mereka setuju, terimalah dan lindungilah mereka,
فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَسَلْهُمْ الْجِزْيَةَ فَإِنْ هُمْ أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَقَاتِلْهُمْ

Jika mereka menolak (yaitu tetap kafir), bebankan jizyah pada mereka. Jika mereka setuju, terimalah dan lindungilah mereka. Namun, jika mereka menolak, memohonlah kepada Allah dan perangilah mereka.” (HR. Muslim)

Rasulullah Saw. bersabda:
الْجِهَادُ مَاضٍ مُنْذُ بَعَثَنِي اللَّهُ تَعَالَىٰ إِلَى أَنْ يُقَاتِلَ آخِرُ أُمَّتِي الدَّجَّالَ لاَ يُبْطِلُهُ جَوْرُ جَائِرٍ وَلاَ عَدْلُ عَادِلٍ
“Jihad itu tetap berlangsung sejak Allah Swt. mengutusku hingga umatku yang terakhir memerangi Dajjal. Kewajiban jihad ini tidak akan gugur oleh kezaliman pemimpin yang zalim, dan tidak pula oleh keadilan pemimpin yang adil.” (HR. Abu Dawud)

Beliau mengorganisasi banyak peperangan, baik yang dipimpin langsung oleh Beliau maupun para Sahabatnya. Menurut catatan Khaththab, perang (ghazwah) yang dipimpin sendiri oleh Rasulullah sebanyak 28 kali (Mahmud Syith Khaththab, Ar-Rasûl al-Qâid, Dar al-Fikr (2002), hlm.420), sementara detasemen (saraya) dan perang yang dipimpin oleh sahabat sebanyak 15 kali (Mahmud Syith Khaththab, Ar-Rasûl al-Qâid, Dar al-Fikr (2002), hlm.322). Dengan demikian selama kepemimpinan Beliau di Madinah, rata-rata dalam setahun ada 4 kali pengerahan pasukan.


Metode penegakan Islam tuntunan Rasulullah Saw. tersebut secara rasional akan mengantarkan perjuangan penegakan Khilafah pada titik keberhasilannya. Pasalnya, proses pembinaan dan penyadaran umat akan mewujudkan kesadaran bahwa menegakkan syariah dan Khilafah merupakan kewajiban asasi bagi tiap Muslim, dan bahwa berdiam diri terhadap akidah dan sistem kufur adalah kemaksiatan. Kesadaran inilah yang akan mendorong umat untuk berjuang menegakkan syariah dan Khilafah secara sungguh-sungguh dan konsisten. Kesadaran tersebut juga akan melahirkan dukungan dari elemen umat Muslim yang saat ini secara riil memiliki kekuasaan dan kekuatan. Tanpa adanya kesadaran dan dukungan seperti ini, maka Khilafah tidak akan pernah bisa diwujudkan.

Namun, tentu tidak sekadar alasan rasional tersebut. Yang lebih penting, ketiga tahapan dalam metode tersebut merupakan metode syar’i dalam penegakan Khilafah yang mengharuskan setiap Muslim terikat padanya.

Setelah Nabi Saw. wafat, Islam sebagai tuntunan hidup telah diwariskan oleh Nabi kepada para sahabat dan umat Islam dengan gamblang (muhajjat al-baidha’). Nabi pun telah menjelaskan, baik secara lisan maupun praktis, mekanisme pengangkatan Khalifah, melalui bai’at. Para sahabat pun memahami dengan tepat mekanisme ini. Karena itu, setelah Nabi Saw. mereka segera memilih dan membai’at Abu Bakar sebagai Khalifah. Hal yang sama juga dilakukan oleh kaum Muslim setelah wafatnya Abu Bakar. Mereka segera membai’at ‘Umar bin al-Khatthab, dan begitu seterusnya.

Dengan demikian bisa disimpulkan, bahwa Islam mempunyai metode baku dalam meraih kekuasaan (istilam al-hukm). Islam juga mempunyai metode baku dalam mengangkat pemimpin (nashb al-imam). Islam telah menetapkan thalab an-nushrah sebagai metode baku dalam meraih kekuasaan, bukan yang lain.
Dengan penerapan Islam secara kaffah, insyaAllah keagungan Islam akan tampak dalam penerapannya di dalam negeri dan juga akan tampak dari meluasnya Islam ke seluruh penjuru dunia, untuk menebar rahmat-Nya.


“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)


Daftar Bacaan
  • Ahmad Mahmud, ad-Da’wah ila al-Islam terjemahan
  • Hizbut-Tahrir.or.id
  • Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah terjemahan
  • Mediaumat.com


BUKU Kewajiban Syariah Islam

BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

BUKLET Ulama Dan Hizbut Tahrir KUMPULAN TESTIMONI


Beberapa buku yang telah diterbitkan oleh Hizbut Tahrir
(sebagian bisa diunduh di hizbut-tahrir.or.id)

  1. Kitab Nizhâm al-Islâm (Peraturan Hidup Dalam Islam)
  2. Kitab Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm (Sistem Pemerintahan Islam)
  3. Kitab An-Nizhâm al-Iqtishâdî fî al-Islâm (Sistem Ekonomi Islam)
  4. Kitab An-Nizhâm al-Ijtimâ‘î fî al-Islâm (Sistem Pergaulan Pria-Wanita Dalam Islam)
  5. Kitab At-Takattul al-Hizbî (Pembentukan Partai Politik)
  6. Kitab Mafâhm Hizbut Tahrîr (Pokok-Pokok Pikiran Hizbut Tahrir)
  7. Kitab Ad-Dawlah al-Islamiyyah (Daulah Islam)
  8. Kitab Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah (Kepribadian Islam, tiga jilid)
  9. Kitab Mafâhîm Siyâsah li Hizbut Tahrir (Pokok-Pokok Pikiran Politik Hizbut Tahrir)
  10. Kitab Nadharât Siyâsiyah li Hizbut Tahrir (Beberapa Pandangan Politik Menurut Hizbut Tahrir)
  11. Kitab Muqaddimah ad-Dustûr (Pengantar Undang-Undang Dasar Negara Islam)
  12. Kitab Al-Khilâfah (Khilafah)
  13. Kitab Kayfa Hudimat al-Khilâfah (Dekonstruksi Khilafah: Skenario di Balik Runtuhnya Khilafah Islam)
  14. Kitab Nizhâm al-‘Uqûbât (Sistem Peradilan Islam)
  15. Kitab Ahkâm al-Bayyinât (Hukum-Hukum Pembuktian Dalam Pengadilan)
  16. Kitab Naqd al-Isytirâkiyyah al-Marksiyah (Kritik Atas Sosialisme-Marxis)
  17. Kitab At-Tafkîr (Nalar Islam: Membangun Daya Pikir)
  18. Kitab Al-Fikr al-Islâmî (Bunga Rampai Pemikiran Islam)
  19. Kitab Naqd an-Nadhariyah al-Iltizâmi fî Qawânîn al-Gharbiyyah (Kritik Atas Teori Stipulasi Dalam Undang-Undang Barat)
  20. Kitab Nidâ’ Hâr (Seruan Hangat Dari Hizbut Tahrir Untuk Umat Islam)
  21. Kitab As-Siyâsah al-Iqtishâdhiyyah al-Mutsla (Politik Ekonomi Islam)
  22. Kitab Al-Amwâl fî Dawlah al-Khilâfah (Sistem Keuangan Dalam Negara Khilafah)


Jumat, 30 September 2016

Kemenangan perjuangan Islam


 
 

Menggalang Kekuatan Riil

Kemenangan perjuangan Rasulullah tidak bisa dilepaskan dari usaha untuk meminta pertolongan (thalabun-nushrah) yang Beliau lakukan pada tahun ke-8 kenabian, khususnya setelah wafatnya paman Nabi Saw., Abu Thalib, dan istri tercintanya, Khadijah ra., serta semakin meningkatnya gangguan dari kaum Quraisy. Itu terjadi di penghujung fase kedua dalam thariqah (metode) dakwah Rasulullah Saw., yaitu fase interaksi dengan masyarakat (at-tafa’ul ma’a al-ummah). Thalabun-nushrah kepada ahl al-quwwah (para pemilik kekuatan riil) ditempuh guna mendapatkan perlindungan bagi dakwah dan jalan meraih kekuasaan (istilam al-hukmi) bagi penerapan sistem Islam.

Konsolidasi dua kekuatan, yaitu kekuatan politik partai ideologi Islam beserta umat di satu sisi, dan kekuatan militer (ahl an-nushrah) di sisi lain, mutlak diperlukan untuk menjamin suksesnya peralihan kekuasaan (istilam al-hukm) untuk Islam.

Ibnu Saad dalam kitabnya At-Thabaqat, sebagaimana ditulis Ahmad al-Mahmud dalam kitab Ad-Da’wah ila al-Islam, menyebutkan Rasulullah Saw. mendatangi tak kurang dari 15 kabilah para pemilik kekuatan riil dan pengaruh; di antaranya Kabilah Kindah, Hanifah, Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah, Kalb, Bakar bin Wail, Hamdan, dan lain-lain. Kepada setiap kabilah, Rasulullah Saw. mengajak mereka masuk Islam sekaligus konsekuensinya yaitu memberikan nushrah kepada perjuangan dakwah, memberikan kekuasaan dengan bai’at mereka dan kaumnya kepada Beliau dengan kerelaan dan kesadaran.

Kabilah-kabilah di luar Makkah biasa datang ke Pasar ‘Ukadz, maka Beliau Saw. berdakwah juga di sana. Banyak kabilah dari luar Makkah datang tiap tahun ke Makkah baik yang datang untuk berdagang maupun yang hendak melakukan ibadah di sekitar Ka’bah, maka Beliau Saw. juga berdakwah di jalan-jalan dan Mina. 

جاء في فتح الباري (ج7/ ص220): أخرج الحاكم وأبو نعيم والبيهقي عن عليِّ بن أبي طالب – رضي الله عنه قال: «لما أمر الله نبيه أن يعرض نفسه على القبائل خرج وأنا معه وأبو بكر إلى منى» وروى ابن كثير عن علي رضي الله عنه قال: «لما أمر الله نبيه أن يعرض نفسه على قبائل العرب خرج وأنا معه وأبو بكر حتى دفعنا إلى مجلس من مجالس العرب» والعرض على القبائل يعني أن يعرض النبي صلى الله عليه وآله وسلم نفسه ودعوته على رؤساء القبائل ليقدموا الحماية والسند له ولدعوته. فطلب النصرة هذا ليس مجرد رأي أو أسلوب، وإنما هو حكم شرعي أمر الله به نبيه فهو العلاج الشرعي أو الطريقة الشرعية لتحقيق هدف شرعي.

“Disebutkan di dalam Kitab Fath al-Baariy, Juz 7/220: “Imam al-Hakim, Abu Nu’aim, dan al-Baihaqiy mengeluarkan sebuah riwayat dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., bahwasanya ia berkata, “Ketika Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menawarkan dirinya kepada kabilah-kabilah, maka Beliau dan saya, dan Abu Bakar keluar menuju Mina.”
“Imam Ibnu Katsir menuturkan riwayat dari Ali bin Abi Thalib ra., bahwasanya ia berkata, “Ketika Allah Swt. memerintahkan Nabi-Nya untuk menawarkan dirinya kepada kabilah-kabilah Arab, maka Beliau dan saya, dan Abu Bakar keluar, hingga kami berkunjung dari satu majelis ke majelis lain dari majelis-majelisnya orang Arab.”
“Yang dimaksud dengan [“menawarkan diri kepada para kabilah”] adalah Nabi Saw. menawarkan dirinya dan dakwahnya kepada pemimpin-pemimpin kabilah, agar mereka memberikan perlindungan dan dukungan kepada Beliau dan dakwahnya. Thalabun Nushrah ini, bukanlah sekedar pendapat atau cara (uslub), akan tetapi ia adalah hukum syariat yang diperintahkan Allah Swt. kepada Nabi-Nya. Thalabun Nushrah adalah solusi syar’iy, atau metode syar’iy untuk merealisasikan tujuan-tujuan syar’iy.” (Syaikh Mahmud ’Abd al-Karim Hasan, Al-Taghyiir, hal.56)

Dari Jabir bin Abdullah berkata bahwa Nabi Shallallahu'alaihiwasallam menawarkan dirinya kepada orang-orang pada musim Haji, dengan bersabda: "Adakah orang yang mau membawaku kepada kaumnya, karena orang-orang Quraisy telah melarangku untuk menyampaikan firman Rabb-ku AzzaWaJalla?" (HR. Ahmad no.14659)

“(Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam) mengikuti mereka di tempat mereka singgah, di pasar, di Majannah, Ukazh dan di tempat mereka singgah di Mina dengan menyerukan: “Siapa yang memberi perlindungan dan menolongku sehingga saya dapat menyampaikan risalah-risalah Rabb-ku AzzaWaJalla, dia akan mendapatkan Surga” (HR. Ahmad no.14126 dari Jabir bin Abdullah)

Diriwayatkan: “Beliaupun meminta mereka untuk membenarkan Beliau, dan memberikan perlindungan kepadanya.” (Ibn Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, II/36)

Riwayat dari Az-Zuhri yang dikutip oleh Ibnu Qoyyim:
وكان ممن يسمى لنا من القبائل الذين أتاهم رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعاهم وعرض نفسه عليهم بنو عامر بن صعصعة ومحارب بن حصفة وفزارة وغسان ومرة وحنيفة وسليم وعبس وبنو النضر وبنو البكاء وكندة وكلب والحارث بن كعب وعذرة والحضارمة فلم يستجب منهم أحد

“Dan di antara yang disebutkan kepada kami dari nama kabilah-kabilah yang didatangi Rasulullah Saw., Beliau seru mereka, dan Beliau tawarkan diri Beliau kepada mereka, adalah: Bani Amir bin Sha’sha’ah, Muharib bin Hashafah, Fazarah, Ghassan, Murrah, Hanifah, Sulaim, ‘Abas, Bani An-Nadhr, Bani Al-Baka’, Kindah, Kalb, Al-Harits bin Ka’ab, ‘Adzrah, dan Al-Hadharamah. Dan tidak satupun dari mereka yang menerima (tawaran Nabi Saw. tersebut).” (Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, Zad Al-Ma’ad, juz 3 hal.38)

Disebutkan di beberapa riwayat ada kabilah-kabilah tertentu yang melakukan negosiasi dari tawaran Rasulullah Saw. tersebut. Di antaranya adalah Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah berikut ini:
عن الزهري أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أتى بني عامر بن صعصعة فدعاهم إلى الله عز وجل وعرض عليهم نفسه فقال له رجل منهم – يقال له بيحرة بن فراس – : والله لو أني أخذت هذا الفتى من قريش ، لأكلت به العرب ، ثم قال أرأيت إن نحن بايعناك على أمرك ، ثم أظهرك الله على من خالفك ، أيكون لنا الأمر من بعدك ؟ قال الأمر إلى الله يضعه حيث يشاء فقال له أفتهدف نحورنا للعرب دونك ، فإذا أظهرك الله كان الأمر لغيرنا لا حاجة لنا بأمرك ، فأبوا عليه

“Dari Az-Zuhri, bahwa Rasulullah Saw. suatu ketika mendatangi Bani Amir bin Sha’sha’ah, kemudian menyeru mereka kepada Allah Swt. dan menawarkan diri Beliau kepada mereka, lalu berkata seorang laki-laki dari mereka –dikenal dengan nama Biharah bin Firas-: “Demi Allah jika aku mengambil pemuda ini dari tangan suku Quraisy niscaya aku akan memakan (memerangi) bangsa Arab,” kemudian dia melanjutkan: “Bagaimana pendapatmu, jika kami membai’atmu atas urusanmu (yang kamu tawarkan) itu kemudian Allah Swt. memenangkanmu dari siapa-siapa yang menentangmu, apakah sepeninggalmu urusan itu (kekuasaan) menjadi milik kami?” Nabi Saw. menjawab: “Urusan itu kembali kepada Allah Swt., Dia akan memberikannya kepada siapa-siapa yang dikehendaki-Nya.” Kemudian dia berkata: “Apakah engkau hendak mengorbankan leher-leher kami bagi suku-suku Arab demi melindungimu, tapi jika Allah memenangkanmu nanti urusan itu diberikan kepada selain kami, kami tidak butuh pada urusanmu itu,” maka mereka enggan menerima tawaran tersebut.” (Ibnu Hisyam, As-Siroh An-Nabawiyyah, juz 1 hal.424-425)

Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah berada di tempat-tempat istirahat para kabilah Arab (pada musim haji) kemudian Beliau bersabda, “Hai Bani Fulan Aku ini adalah RasulAllah (yang diutus) kepada kalian, yang memerintahkan kalian agar kalian menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan meninggalkan apa yang kalian sembah selain Dia. Yaitu, beragam sembahan ini. Hendaklah kalian beriman kepadaku, membenarkan aku, dan melindungi aku sehingga aku (mampu) menyampaikan dari Allah apa-apa yang aku diutus dengannya.” (Sirah Ibnu Hisyam bi Syarhi al-Wazir al-Maghribi, jilid I/285)

Dan Ibnu Hisyam berkata lagi: Itulah yang dilakukan Rasulullah Saw. setiap kali menemui orang-orang (para kabilah arab). Ketika orang-orang berkumpul di saat musim haji, Beliau mendatangi dan menyeru mereka untuk beriman kepada Allah dan kepada Islam, serta menawarkan diri Beliau (untuk dilindungi) pada mereka dan menjelaskan (pada mereka) hal-hal yang Beliau bawa dari Allah, berupa petunjuk dan rahmat. Dan apabila Beliau mendengar seorang ternama dan terhormat datang ke Mekah, pasti Beliau mendatanginya dan menyerunya kepada Allah, dan menawarkan Islam kepada mereka.

Ibnu Hisyam berkata, bahwa Beliau mendatangi kabilah Kilab di tempat-tempat istirahat mereka, yang dikenal sebagai Bani Abdillah. Kemudian Rasulullah menyeru mereka agar beriman kepada Allah Swt. dan menawarkan diri Beliau pada mereka. Bahkan sampai berkata pada mereka, “Ya Bani Abdillah, sesungguhnya Allah azza wa jalla telah memberi kebaikan kepada nama bapak kalian.” (Sirah Ibnu Hisyam bi Syarhi al-Wazir al-Maghribi, jilid I/286)

Meski berulang ditolak, menghadapi berbagai kesulitan, dan kesusahan, Rasulullah Saw. tetap saja mengusahakan pertolongan kekuatan riil hingga berhasil setelah sekitar 3 tahun. Rasulullah Saw. tidak berusaha menggantinya dengan metode lain. Kabilah Tsaqif di Thaif membuat kaki Beliau berdarah-darah. Satu kabilah lainnya menolak Beliau. Kabilah lainnya memberikan syarat kepada Beliau. Meski demikian, Beliau terus teguh di atas thariqah yang telah diwahyukan oleh Allah kepada Beliau. Pengulangan perkara yang di dalamnya ada kesulitan merupakan qarinah (indikasi) yang jazim (tegas) yang menunjukkan secara syar’i, bahwa perkara itu adalah fardhu sebagaimana yang ada dalam ketentuan ushul. (lihat: al-‘Alim ‘Atho bin Kholil, Taisir Al-Wushul ila Al-Ushul, hlm.21) Thalabun-nushrah merupakan perintah Allah Swt., bukan inisiatif Rasulullah Saw. sendiri atau sekadar tuntutan keadaan.


Jumat, 23 September 2016

Kesederhanaan Umar bin Khaththab





Kesederhanaan Umar ibn al-Khaththab ra.

Tatkala ‘Umar ibn al-Khaththab ra., diangkat menjadi Khalifah, ditetapkanlah baginya tunjangan sebagaimana yang pernah diberikan kepada Khalifah sebelumnya, yaitu Abu Bakar ra. Pada suatu saat, harga-harga barang di pasar mulai merangkak naik, Tokoh-tokoh Muhajirin seperti ‘Utsman, ‘Ali, Thalhah, dan Zubair berkumpul serta menyepakati sesuatu. Di antara mereka ada yang berkata “Alangkah baiknya jika kita mengusulkan kepada ‘Umar agar tunjangan hidup untuk beliau dinaikkan. Jika ‘Umar menerima usulan ini, kami akan menaikkan tunjangan hidup beliau.”
'Ali kemudian berkata, “Alangkah bagusnya jika usulan seperti ini diberikan pada waktu-waktu yang telah lalu.” Setelah itu, mereka berangkat menuju rumah 'Umar. Namun, Utsman menyela seraya berkata, “Sebaiknya usulan kita ini jangan langsung disampaikan kepada 'Umar. Lebih baik kita memberi isyarat lebih dulu melalui puteri beliau, Hafshah. Sebab, saya khawatir, 'Umar akan murka kepada kita.”
Mereka lantas menyampaikan usulan tersebut kepada Hafshah seraya memintanya untuk bertanya kepada ‘Umar, yakni tentang bagaimana pendapatnya jika ada seseorang yang mengajukan usulan mengenai penambahan tunjangan bagi Khalifah 'Umar.
Apabila beliau menyetujuinya, barulah kami akan menemuinya untuk menyampaikan usulan tersebut. Kami meminta kepadamu untuk tidak menyebutkan nama seorangpun di antara kami,” demikian kata mereka.
Ketika Hafshah menanyakan hal itu kepada 'Umar, beliau murka seraya berkata, “Siapa yang mengajari engkau untuk menanyakan usulan ini?” Hafshah menjawab, “Saya tidak akan memberitahukan nama mereka sebelum Ayah memberitahukan pendapat Ayah tentang usulan itu.”
'Umar kemudian berkata lagi, “Demi Allah, andaikata aku tahu siapa orang yang mengajukan usulan tersebut, aku pasti akan memukul wajah orang itu.”
Setelah itu., 'Umar balik, bertanya kepada Hafshah, istri Nabi Saw., “Demi Allah, ketika Rasulullah Saw. masih hidup, bagaimanakah pakaian yang dimiliki oleh beliau di rumahnya?” Hafshah menjawab, “Di rumahnya, beliau hanya mempunyai dua pakaian. Satu dipakai untuk menghadapi para tamu dan satu lagi untuk dipakai sehari-hari.”
'Umar bertanya lagi, “Bagaimana makanan yang dimiliki oleh Rasulullah?" Hafshah menjawab, “Beliau selalu makan dengan roti yang kasar dan minyak samin.” 'Umar kembali bertanya, “Adakah Rasulullah mempunyai kasur di rumahnya?" Hafshah menjawab lagi, "Tidak, beliau hanya mempunyai selimut tebal yang dipakai untuk alas tidur di musim panas, jika musim dingin tiba, separuhnya kami selimutkan di tubuh, separuhnya lagi digunakan sebagai alas tidur.”
`Umar kemudian melanjutkan perkataannya, “Hafshah, katakanlah kepada mereka, bahwa Rasulullah Saw. selalu hidup sederhana. Kelebihan hartanya selalu beliau bagikan kepada mereka yang berhak. Oleh karena itu, akupun akan mengikuti jejak beliau. Perumpamaanku dengan sahabatku-yaitu Rasulullah dan Abu Bakar adalah ibarat tiga orang yang sedang berjalan. Salah seorang di antara ketiganya telah sampai di tempat tujuan, sedangkan yang kedua menyusul di belakangnya. Setelah keduanya sampai, yang ketigapun mengikuti perjalanan keduanya. Ia menggunakan bekal kedua kawannya yang terdahulu. Jika ia puas dengan bekal yang ditinggalkan kedua kawannya itu, ia akan sampai di tempat tujuannya, bergabung dengan kedua kawannya yang telah tiba lebih dahulu. Namun, jika ia menempuh jalan yang lain, ia tidak akan bertemu dengan kedua kawannya itu di akhirat.” (Sumber: Tarikh ath-Thabari, jilid I, hlm. 164)
Dari: Majalah al-Wa’ie edisi 3

Related Posts with Thumbnails

Unduh BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam