Download Buku KEWAJIBAN SYARIAH ISLAM

Sabtu, 23 Juli 2016

Hukum tunduk kepada nash-nash


 


Adanya eksistensi nash dan terpeliharanya nash, mengandung arti terpeliharanya hujjah Allah atas manusia. Sedangkan manusia itu sendiri, maka mungkin saja menyimpang atau tersesat, atau men-takwilkan nash-nash dengan sesuatu yang tidak dikandungnya, menambahi atau mengurangi. Namun, hal ini masih dalam batas-batas pemahaman, bukan nash-nash al-Qur’an itu sendiri. Oleh karena itu wajib bagi seorang muslim beriman dengan benar, konsisten dan istiqâmah melaksanakan perintah-perintah Allah yang Maha Mengetahui, juga berusaha agar tidak menyimpang darinya.

Inilah Islam yang telah baku. Seorang muslim yang beriman dengan apa yang telah ditetapkan. Sementara, manusia itu, siapapun, tidak akan mampu membuat hukum yang haq, meskipun diberikan kepadanya kecerdasan berpikir, kedalaman pengalaman dan kekuatan iman. Dalam proses penyimpulan hukum, manusia harus tunduk kepada nash-nash yang ada, meskipun dia adalah Abu Bakar ash-Shiddiq ra. Itulah yang beliau maksudkan dengan perkataannya pada khutbahnya yang pertama setelah beliau menerima jabatan Khalifah: “Taatlah kalian kepadaku selama aku mentaati Allah dalam urusan kalian. Seandainya aku berbuat maksiat, maka tidak ada ketaatan kepadaku…aku ini tidak lain adalah pengikut, bukan orang yang membuat-buat (bid’ah).”
Hal itu merupakan pencerminan dari sabda Rasulullah saw:
“Ikutilah, dan janganlah membuat bid’ah. Sungguh telah dicukupkan untuk kalian.”
Dengan demikian, kaum Muslim harus konsisten, tidak mudah menyerah, harus mengikuti, dan tidak berbuat bid’ah.

Disebutkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Anas ra. Ada sekelompok orang yang memberitakan tentang ibadah Rasulullah Saw., maka seolah-olah mereka sangat sedikit dibandingkan dengan apa yang dilakukan Rasulullah Saw., lalu mereka berkata: ‘Di mana posisi kita dibandingkan Nabi Saw. Allah telah mengampuni dosa beliau baik yang dahulu maupun yang sesudahnya’. Lalu mereka berjanji untuk bangun pada malam hari (shalat malam) dan puasa pada siang harinya serta menjauhi wanita. Maka Rasululah Saw. bersabda kepada mereka:
‘Apakah kalian kaum yang mengatakan begini dan begini? Sesungguhnya aku lebih takut kepada Allah daripada (rasa takut yang) kalian (miliki), dan lebih bertakwa kepada-Nya. Namun demikian aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan aku tidur, dan akupun menikahi wanita.’
Dan Rasul mengakhiri sabdanya dengan:
“Barangsiapa yang tidak senang kepada sunnahku maka dia tidak termasuk golonganku.”

Terdapat dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah tidak menerima amal perbuatan kecuali sesuai dengan syariah. Tidak termasuk taqarrub kepada-Nya apapun yang dibuat-buat oleh manusia.

Terdapat juga kecaman untuk orang-orang yang tasâhul (meremehkan) Islam. Pada dasarnya orang seperti ini beriman kepada Islam, akan tetapi dia melalaikan berbagai kewajiban dan bersandar pada angan-angan. Dia mengerjakan dosa besar, lalu berjanji pada dirinya akan bertaubat sebelum mati, seolah-olah dia mengetahui kapan waktu kematiannya. Sikap seperti ini diharamkan. Seorang muslim wajib mengambil Islam secara total, dan tidak besikap ridha kecuali dengan ketaatan. Inilah manhaj Allah yang lurus.

Tidak dibolehkan menyimpang dan keluar dari garis lurus yang Rasulullah telah gariskan. Mereka meremehkan berbagai hukum. Mereka melontarkan pendapat-pendapat yang tidak ada kaitannya dengan nash-nash Islam. Semua itu dilakukan untuk memberikan kepada Barat deskripsi tentang Islam, bahwa Islam itu sesuai dengan waktu dan realitas. Mereka berpendapat perlunya meninggalkan nash-nash syara’ yang telah disepakati oleh umat untuk diamalkan. Contoh tentang takwil mereka adalah bahwa orang murtad tidak perlu dibunuh meskipun Rasulullah telah bersabda:
“Barangsiapa yang mengganti agamanya (murtad dari Islam), maka bunuhlah dia.” (HR. Bukhari dan Ahmad)

Alasan mereka itu bahwa situasi dan realitas ketika Rasullullah mengatakan hal itu amat berbeda dengan situasi dan realitas kita sekarang ini. Itu dilakukan agar pemikiran ini sesuai dengan pemikiran Barat yang terkait dengan kebebasan berakidah. ….


Jumat, 22 Juli 2016

Muslim bersikap konsisten kepada hukum Syariah


 


Banyak hukum-hukum syara’ yang wajib dilaksanakan oleh seorang muslim, dan berdosa jika ditinggalkan. Sementara Barat memandangnya sebagai sesuatu yang ekstrim, radikal dan perbuatan teror. Contohnya adalah pemikiran tentang jihad fi sabilillah, pemikiran tentang upaya mendirikan negara Khilafah, pemikiran tentang amar ma’ruf nahi munkar terhadap penguasa, menentang kekufuran dan menyebarkan dakwah, membuang demokrasi, haramnya transaksi riba, pakaian wanita, dan banyak lagi yang lain.
Semua itu mengharuskan seorang muslim bersikap konsisten kepadanya. Apakah boleh bagi kita berhukum kepada demokrasi yang berlandaskan pada pemikiran Barat yang rusak dan busuk, yang tidak menebarkan kebaikan bagi para pengikutnya? Kita wajib menolak campur tangan Barat terhadap agama kita.

Al-Mughâlât atau al-ghuluw berarti az-ziyâdah dan mubâlaghah. Mubâlaghah dalam beragama berarti tasyaddud dan tashallub, yakni melampaui batas yang dituntut dan yang telah ditetapkan. Itu disebut juga dengan ifrâth. Lawan katanya adalah tafrîth, yang berasal dari fi’il farratha fi al-amr farathan atau qashsharahu bihi wadhi’ahu wa qaddama al-‘ajza fîhi. Tafrîth dalam agama berarti melalaikan hukum-hukumnya dan menyia-nyiakan haknya, menampakkan kelemahan dalam menjalankan kewajiban-kewajibannya. Dari sini lahir perkataan: lâ ifrâtha walâ tafrîtha fi al-Islâm.

Adapun iqtishâd sama dengan tawassuth, i’tidâl, rusyd dan istiqâmah. Orang yang mu’tadil (pertengahan, normal, proporsional) dalam agama adalah orang yang istiqâmah di dalam mengerjakan perintah Allah, dan tidak menyimpang, baik ke arah yang berlebihan atau lalai. Allah Swt. berfirman:
“Di antara mereka ada golongan yang proporsional (orang berlaku jujur dan lurus dan tidak menyimpang dari kebenaran), dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.” (TQS. al-Maidah [5]: 66)

Umat ini adalah umat yang mu’tadilah terhadap perintah Rabbnya, artinya konsisten dengan batas-batas yang diperintahkan Allah kepadanya.
Orang yang memperhatikan definisi-definisi ini memahami bahwa yang dituntut dari seorang muslim adalah konsisten dengan batas-batas Allah, dan tidak boleh melampauinya. Seorang muslim harus mu’tadil, yaitu lurus terhadap perintah-Nya. Rasulullah Saw. bersabda:
“Katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamalah.” (HR. Muslim)

Konsistenlah dengan apa yang Allah perintahkan kepadamu dan berhentilah dari apa yang dilarang-Nya. Jadi, kata istiqamah-lah di sini berarti bertakwalah. Dari sini datanglah firman Allah untuk menjelaskan makna tersebut:
“Dan tetaplah segaimana diperintahkan kepadamu.” (TQS. asy-Syura [42]: 15)

Allah-lah yang memerintah, dan seorang muslim harus mentaati perintah-Nya. Seorang muslim tidak akan mengetahui jalan takwa dan jalan yang lurus, sendirian. Seandainya dia mengikuti dirinya sendiri, berarti dia telah mengikuti hawa nafsu. Dan barangsiapa mengikuti hawa nafsunya, berarti dia telah menyimpang.
Oleh karena itu, istiqâmah itu tidak lain mengikuti apa yang diperintahkan Allah semata, dan tidak melampauinya, baik dengan melebih-lebihkan ataupun melalaikannya. Untuk memahami hal itu harus kembali kepada asasnya.

Seorang muslim yang beriman kepada Allah, akan beriman pula bahwa penyelesaian yang dibawa Islam adalah sesuai dengan fithrahnya, yang telah Allah fithrahkan kepadanya. Sebab, penyelesaian-penyelesaian itu berasal dari al-Khaliq, yang telah menciptakan fithrah itu sendiri dan menetapkan khasiat-khasiat-nya, serta menciptakan apa yang baik baginya.
Pada waktu yang sama, seorang muslim juga beriman bahwa solusi yang disodorkan agama-agama dan ideologi-ideologi lain adalah dangkal, salah, menyimpang, menyengsarakan dan tidak membuat manusia bahagia. Karena solusi-solusi tersebut adalah buatan manusia yang bersifat lemah, yang membutuhkan kepada yang lain, dan penuh dengan keterbatasan. Akal manusia tidak mampu mencakup seluruh fakta tentang dirinya sebagai manusia. Implikasinya, tidak mampu melahirkan solusi.

Islam memiliki kelebihan dibandingkan dengan ideologi-ideologi dan agama-agama lain. Islam adalah jalan hidup dari Allah, mencakup seluruh perbuatan manusia dan memberikan kepada manusia solusi yang menjamin kebahagiaannya di dunia dan di akhirat. Allah Swt. berfirman:
“Lalu, barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat pada keadaan buta. Berkatalah ia: ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat? Allah berfirman: ‘Demikianlah telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu pula pada hari ini kamupun dilupakan’. Adapun orang yang berjalan di muka bumi ini bukan dengan petunjuk Allah maka dia adalah buta, menyimpang dari kebenaran, menyimpang dari yang haq.” (TQS. Thahaa [20]: 123-126)

Allah telah memelihara untuk kita agama ini dari kemusnahan. Allah mencegah tangan-tangan yang akan mengotori untuk merubah dan memalingkan nash-nash-Nya hingga musnah. Allah Swt berfirman:
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (TQS. al-Hijir [15]: 9)
….

Selasa, 19 Juli 2016

Berdenyutnya kebangkitan dalam diri umat


 


apa yang kita saksikan sekarang ini adalah mulai berdenyutnya kebangkitan di dalam diri umat. Umat melihat kepada Barat, penguasa dan “ulama” buruk (as-sû) dengan pandangan yang sama. Umat memandang Barat bagaikan melihat setan, sedangkan para penguasa itu menjadi murid-muridnya. Para ulama buruk (as-sû) tidak akan menduduki posisi kecuali jika mereka melanggar kehormatan agama. Itulah kebanyakan ulama pada masa kemunduran, dan fungsi mereka akan berakhir dengan berakhirnya masa kemunduran itu. Di era kebangkitan Islam yang sebenarnya, akan muncul para ulama yag bersih, taqwa dan jujur.


Sesungguhnya kita sekarang ini berada pada tahap di mana Barat dan para penguasa, hidup dalam ketakutan yang amat sangat terhadap kembalinya Islam. Mereka menganggap setiap pemikiran Islami yang dilontarkan merupakan bahaya yang mengancam kedudukan mereka, sehingga mereka berusaha untuk mengepungnya dan menuduhnya dengan berbagai dakwaan. 

Mereka menggunakan corong media masa maupun propaganda, bahkan acapkali menggunakan lidah-lidah para “ulama” untuk menyerangnya. Mereka menggambarkan gerakan-gerakan Islam yang menuntut (penerapan sistem) Islam semata sebagai ekstrimis dan teroris. 

Di lain pihak para “ulama”, para penulis, baik lokal maupun nasional, dengan rajin mengarang buku-buku dan memberikan ceramah-ceramah agar kaum Muslim menjauhi sikap “ekstrim” dan menyerukan sikap moderat. Mereka semuanya bertolak dari satu perspektif yaitu perspektif Barat. Para ulama itu dipandang sebelah mata oleh umat dan citra mereka seperti penguasa. 

Para “ulama” itu sendiri dijauhi oleh umat dengan memunggunginya. Hal itu disebabkan banyaknya justifikasi yang mereka lontarkan dan tidak mengandung kebenaran. Fatwa-fatwa mereka menyimpang dari pokok-pokok syariat yang telah baku. Pada akhirnya bukan hanya bertentangan dengan pemahaman yang Islami, malah bertentangan dengan nash-nash syara’ yang telah disepakati umat validitas sumbernya. Sebagian fatwa itu bahkan memerintahkan untuk mengerjakan yang munkar dan melarang yang ma’ruf. Semoga Allah Swt. melindungi kita dari semua itu. 


Sikap fanatik yang ditunjukkan oleh para “ulama” dengan melontarkan pemikiran-pemikiran yang pro Barat, yang notabenenya merupakan pemikiran asing yang disusupkan ke dalam Islam, itu dilakukan bukan untuk mencari keridhaan Allah, melainkan untuk menyenangkan para penguasa dan kroni-kroninya. Meskipun mereka berusaha menunjukkan semangat untuk membela kaum Muslim dan kepentingan dakwah Islam akan tetapi umat amat memahami kosongnya pemikiran mereka dan penyimpangan yang dilontarkan para penggagasnya.


Islam datang untuk menjawab seluruh problematika manusia sebagai satu kesatuan. Islam menjawab tentang hubungan manusia dengan dirinya sendiri melalui aturan-aturan akhlak, (hukum tentang) math’umât (tentang makanan dan minuman) dan malbûsât (tentang pakaian); dan menjawab tentang hubungan manusia dengan sesamanya melalui aturan-aturan mu’amalât dan uqûbât; juga menjawab tentang hubungan manusia dengan Rabbnya melalui aturan-aturan ibadah dan akidah. 

Islam merupakan aturan yang integral (menyeluruh) dan menyelesaikan setiap perbuatan manusia. Islam adalah pemikiran menyeluruh yang menjadikannya mampu untuk menjawab setiap hal yang berkaitan dengan urusan hidup.


Di samping itu, bangunan Islam adalah bangunan yang paripurna, yang tegak di atas asas yang memancarkan setiap penyelesaian. Di atasnyalah dibangun seluruh pemikiran. Oleh karena itu, pemahaman-pemahaman Islam, keyakinan-keyakinannya dan tolok ukurnya, semuanya berasal dari unsur pemikirannya yang asasi.


Islam tegak di atas asas iman seorang muslim, bahwa Allah adalah Pencipta dan Pengatur; bahwa manusia itu lemah, membutuhkan kepada yang lain, serba kurang dan terbatas; bahwa manusia tidak mampu memberikan penyelesaian. Allah Swt. telah mengutus Rasul-Nya untuk mengajarkan kepada manusia siapakah Allah yang harus disembah, bagaimana beribadah kepada-Nya, apa yang menjadi konsekuensinya apabila manusia beribadah, atau konsekuensinya jika tidak melakukannya, yakni berupa pahala dan siksa di dalam kehidupan Akhirat. 

Semua ini menumbuhkan pada diri seorang muslim tolok ukur bagi setiap perbuatannya, yaitu halal dan haram. Fungsi akal manusia bukan untuk membuat hukum, tetapi akal manusia digunakan untuk memahami apa yang ditunjukkan oleh nash-nash. Nash-nash itulah yang mampu memberikan solusi, yaitu nash-nash yang berasal dari Allah Swt. Tugas manusia adalah untuk memahami nash-nash supaya mereka konsisten. Dalam memahami nash-nash tersebut manusia bisa salah, bisa juga benar. Meskipun demikian, dalam dua kondisi itu tetap diberikan pahala, asalkan tunduk kepada metode ijtihad yang syar’i. 

Berdasarkan hal ini kaum Muslim sangat memperhatikan itsbat (penetapan) nash-nash. Dari sinilah lahir ilmu hadits. Mereka juga sangat memperhatikan pemahaman nash-nash sehingga melahirkan ilmu ushul fiqih. Di antara kaidah-kaidah ushul fiqih, antara lain:
- Sesungguhnya Allah itu adalah Hakim.
- Hukum asal dari setiap perbuatan dan segala sesuatu terikat dengan dalil syara’.
- Sesungguhnya, khair (kebaikan) itu adalah apa yang membuat Allah ridha, dan syar (buruk) adalah apa yang membuat Allah murka.
- Sesungguhnya, hasan (terpuji) itu adalah apa yang dianggap hasan (terpuji) oleh syara’, dan qabîh (tercela) itu adalah apa yang dianggap qabîh (tercela) oleh syara.
….


Related Posts with Thumbnails

Unduh Buku KEWAJIBAN SYARIAH ISLAM