Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Jumat, 15 Desember 2017

Berita Bohong Fitnah Atas Aisyah Istri Nabi SAW oleh Orang Munafik



3. Berita bohong

Di antara peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dalam perjalanan menuju Madinah al-Munawwarah adalah peristiwa berita bohong. Untuk itu kami serahkan kepada Aisyah r.a. sebagai pemilik riwayat agar menceritakan sendiri kepada kita tentang berita bohong ini.

Aisyah r.a. berkata: “Apabila Rasulullah Saw. hendak melakukan perjalanan, beliau mengadakan undian di antara para istrinya. Sehingga nama siapa yang keluar dalam undian tersebut, maka dialah yang berhak menemani beliau. Pada perang Bani Mushthaliq, Rasulullah Saw. mengadakan undian di antara para istrinya sebagaimana biasanya. Dalam undian tersebut namaku yang keluar. Sehingga aku yang berhak pergi menemani Rasulullah Saw. Para wanita ketika itu makannya tidak banyak, sehingga wajar kalau badan mereka tidak berat. Jika untaku telah disiapkan, maka aku pun segera duduk di sekedup, setelah itu orang-orang datang untuk mengambil dan membawaku. Mereka memegang bagian bawah sekedup, lalu mengangkatnya, dan meletakkannya di atas punggung unta, selanjutnya mengikatnya dengan tali. Kemudian mereka memegang kepala unta, dan selanjutnya dengan unta itu mereka berangkat.”

“Setelah merampungkan permasalahan Bani Mushthaliq. Rasulullah Saw. kembali ke Madinah. Sehingga ketika sampai di suatu tempat dekat Madinah, beliau berhenti, dan menghabiskan sebagian malam di tempat itu. Kemudian Rasulullah Saw. memerintahkan kaum Muslimin agar meneruskan perjalanan. Mendengar perintah itu, kaum Muslimin pun berangkat. Sedang aku keluar untuk memenuhi hajatku, aku mengenakan kalung yang padanya terdapat batu akik dari Dzafar (Dzafar adalah nama kota di Yaman dekat Shan’a). Setelah aku selesai memenuhi hajatku, maka tanpa sepengetahuanku ternyata kalungku terlepas dari leherku. Aku kembali ke tempat di mana sebelumnya rombongan berhenti, untuk mencari kalungku yang hilang, namun di tenpat itu aku tidak menemukaniyia. Sementara itu, kaum Muslimin mulai meninggalkan tempat untuk meneruskan perjalanan. Aku kembali lagi ke tempat di mana aku memenuhi hajatku untuk mencari kalungku yang hilang, akhirnya aku menemukannya kembali. Orang-orang yang sebelumnya menyiapkan unta untukku datang. Mereka langsung mengangkat sekedup karena mereka mengira bahwa aku ada di dalamnya seperti sebelumnya. Mereka memikulnya dan mengikatnya pada unta, sebab mereka yakin bahwa aku telah berada di dalamnya (Sebab Aisyah umurnya masih muda belia, sehingga badannya tidak terlalu berat).”

“Kemudian mereka memegang kepala unta, dan selanjutnya dengan unta itu mereka berangkat. Aku kembali ke tempat perkemahan di mana sebelumnya rombongan itu berhenti, namun di sana sudah tidak ada siapa-siapa, sebab semuanya telah pergi. Aku menutupi diriku dengan jilbab, lalu aku berbaring di tempat di mana sebelumnya aku berada. Sebab, aku yakin, jika mereka tahu bahwa aku tidak ada dalam sekedup, maka pasti mereka kembali ke tempat aku berada. Demi Allah, ketika aku sedang berbaring, tiba-tiba Shafwan bin Muaththal as-Sulami berjalan melewatiku. Dia tertinggal dari rombongan karena memenuhi beberapa keperluannya, sehingga ia tidak bermalam bersama yang lain, ia melihat bayangan hitam diriku, lalu ia mendatangiku dan berdiri di dekatku. Ia pernah melihatku ketika hijab belum diwajibkan kepada kami. Pada saat ia melihatku, ia berkata: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Istri Rasulullah Saw.!” Waktu itu aku menutupi diriku dengan pakaianku. Shafwan bin Muaththal as-Sulami bertanya, “Mengapa engkau tertinggal, semoga Allah merahmatimu?” Aku tidak menjawab pertanyaanya. Ia dekatkan untanya kepadaku sambil berkata, “Naiklah ke atasnya!” Ia pun menjauh dariku, lalu aku menaikinya. Setelah aku berada di atas unta, ia memegang kepala unta, lalu berjalan dengan cepat agar dapat menyusul kaum Muslimin. Demi Allah, kami tidak berhasil menemukan mereka, dan mereka juga tidak merasa kehilanganku hingga esok hari, bahkan hingga mereka sampai di Madinah.”

“Ketika mereka sedang istirahat di Madinah, tiba-tiba mereka melihat Shafwan bin Muaththal as-Sulami datang dengan menuntun unta, sedang aku berada di atasnya. Saat itulah, para penyebar berita bohong mengucapkan perkataan mereka. Akhirnya orang-orang pun gempar. Namun, demi Allah, aku tidak tahu apa-apa tentang hal tersebut.”

“Kamipun tiba di Madinah, dan setelah itu aku sakit. Selama aku sakit, aku tidak pernah lagi mendapatkan informasi yang beredar di luar. Berita tentang diriku ini sebenarnya telah didengar oleh Rasulullah Saw. dan kedua orang tuaku. Namun, mereka tidak menceritakan sedikitpun kepadaku. Anehnya lagi, aku tidak merasakan keramahan dan kelemah-lembutan beliau, sebab jika aku sakit, beliau biasanya menyayangiku dan bersikap lemah-lembut. Namun, dalam sakitku kali ini, beliau tidak memperlihatkan keramahan dan kelemah-lembutannya. Apabila beliau masuk ke tempatku, sedang di sampingku ada ibuku yang sedang merawatku, beliau hanya berkata: “Bagaimana keadaanmu?” tidak lebih dari itu.”

“Ketika aku melihat adanya perubahan sikap pada diri Rasulullah Saw. kepadaku, maka aku menjadi sedih tidak karuan.”

“Aku berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau engkau mengizinkanku pindah ke rumah ibuku agar aku dirawat ibuku?” Rasulullah Saw. bersabda: “Ya, tidak apa-apa.” Kemudian aku pun pindah ke rumah ibuku, dan selanjutnya aku tidak tahu lagi apa yang terjadi di luar hingga aku sembuh setelah sakit selama dua puluh tiga hari lebih. Kami para wanita Arab tidak membuat WC di dalam rumah seperti yang dilakukan orang-orang non-Arab, sebab kami tidak begitu menyukainya, dan kami lebih suka pergi ke tanah lapang di Madinah. Jika para wanita ingin buang hajat, maka mereka pergi keluar rumah tiap malam hari.”

“Pada suatu malam, aku keluar rumah untuk memenuhi hajat ditemani Ummu Misthah bintu Abu Rahm bin Abdul Muththalib bin Abdul Manaf. Demi Allah, Ummu Misthah berjalan bersamaku, tiba-tiba ia jatuh karena tersangkut pakaiannya, yaitu kain yang biasa dipakai para wanita untuk menutupi tubuhnya. Ia berkata: “Celaka Misthah!” Aku berkata: “Demi Allah, sungguh jelek perkataanmu terbadap salah seorang di antara kaum Muhajirin yang turut hadir pada perang Badar.” Ummu Misthah berkata: “Apakah berita itu belum sampai kepadamu, wahai putri Abu Bakar?”Aku bertanya: “Berita yang mana?” Ummu Misthah bercerita kepadaku tentang isu yang diciptakan oleh para penyebar berita bobong. Aku bertanya kepada Ummu Misthah: “Apakah isu ini telah menyebar? ” Ummu Misthah menjawab: “Ya, demi Allah, isu ini telah menyebar.” Mendengar itu, maka demi Allah, aku pun tidak jadi buang bajat, dan aku segera pulang ke rumah. Demi Allah, aku terus-menerus menangis hingga aku mengira tangisan itu akan membelah jantungku karena marah. Aku berkata kepada ibuku: “Semoga Allah mengampunimu, orang-orang di luar membicarakan diriku, namun engkau tidak bercerita sedikitpun kepadaku?” Ibuku berkata: “Wahai putriku, kamu tidak usah menganggap berat masalah yang menimpamu ini. Demi Allah, jika ada istri cantik yang dicintai suaminya, dan suaminya mempunyai istri-istri yang lain, maka mereka dan orang-orang yang lain pasti membicarakan istri yang cantik tersebut.”

“Tanpa sepengetahuanku, Rasulullah Saw. berdiri untuk berkhuthbah di hadapan banyak orang. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya. Selanjutnya beliau bersabda: “Wahai manusia, mengapa orang-orang menyakitiku dengan menyakiti keluargaku, dan mengatakan sesuatu yang tidak benar tentang mereka. Demi Allah, padahal setahuku keluargaku adalah orang baik. Mengapa pula mereka mengatakan yang tidak benar tentang orang laki-laki yang demi Allah, aku tidak mengetahui padanya kecuali kebaikan, dan ia tidak pernah memasuki salah satu rumahku kecuali bersamaku.”

“Orang yang amat gencar menyebarkan berita bohong ini adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Ia menyebarkan di kalangan orang-orang Khazraj bersama Misthah dan Hamnah bintu Jahsy. Hamnah bintu Jahsy turut menyebarkan berita bohong mengingat saudara perempuannya, yaitu Zainab bintu Jahsy adalah istri Rasulullah Saw., dan di antara istri-istri beliau tidak ada yang menyaingi kedudukanku di sisi beliau selain dia. Sedangkan Zainab bintu Jahsy sendiri, Allah Swt. masih melindunginya, sehingga ia tidak mengatakan kecuali yang baik-baik. Adapun Hamnah bintu Jahsy, maka ia turut menyebarluaskan berita bohong ini dan melawanku karena hendak membela saudara perempuannya. Akibatnya, ia rugi sendiri. Isu yang tersebar itu semuanya bohong belaka, buah dari konspirasi jahat yang dirancang oleh pikiran setan, yang dibutakan oleh kebencian.”

“Setelah Rasulullah Saw. bersabda sebagaimana di atas, Usaid bin Hudhair berkata: “Wahai Rasulullah, jika mereka yang menyakitimu itu adalah orang-orang Aus, maka kami akan melindungimu dari mereka. Dan jika mereka yang menyakitimu itu adalah saudara-saudara kami orang-orang Khazraj, maka perintahkan kami sesuai perintahmu, sebab demi Allah, mereka pantas dipenggal lehernya!” Sa'ad bin Ubadah berdiri -sebelumnya, ia terlihat baik- kemudian berkata kepada Usaid bin Hudhair, “Demi Allah, engkau bohong, jangan penggal leher mereka. Engkau berkata seperti itu, karena engkau mengetahui bahwa mereka yang menyebarkan berita bohong itu adalah orang-orang Khazraj. Seandainya mereka berasal dari kaummu, niscaya engkau tidak akan berkata seperti itu.” Usaid bin Hudhair berkata kepada Sa'ad bin Ubadah, “Demi Allah, engkau bohong, hanya orang-orang munafiklah yang akan membela orang-orang munafik.” Setelah itu, orang-orang pun saling berhadapan, sehingga nyaris terjadi kekacauan di antara kedua kabilah Aus dan Khazraj.”

“Rasulullah Saw. turun dari atas mimbar, lalu beliau menemuiku. Beliau memanggil Ali bin Abi Thalib ra. dan Usamah bin Zaid ra. Kemudian beliau meminta pendapat keduanya.”

“Adapun Usamah bin Zaid, maka ia menyanjungku dan berkata baik tentang diriku. Usamah bin Zaid berkata, “Wahai Rasulullah, ia istrimu, dan kami tidak mengetahui padanya kecuali yang baik-baik saja. Tentang isu yang beredar ini hanya kebohongan dan kebatilan.” Sedang Ali bin Abi Thalib berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya wanita masih banyak, engkau mampu mencari wanita pengganti. Kalau tidak percaya, tanyakan kepada budak wanita, niscaya ia akan membenarkanmu.” Rasulullah Saw. memanggil Barirah untuk bertanya kepadanya (Barirah adalah budak wanita Aisyah). Ali bin Abi Thalib pergi kepada Barirah dan memukulnya dengan pukulan keras sambil berkata, “Berkatalah jujur kepada Rasulullah.” Barirah berkata, “Demi Allah, aku tidak mengetahui pada Aisyah kecuali yang baik-baik saja. Aku tidak pernah mencela sesuatu pada Aisyah melainkan karena aku pernah membuat adonan roti kemudian aku menyuruh Aisyah menjaganya, namun ia tidur hingga akhirnya kambing datang dan memakan adonan roti tersebut.”

“Rasulullah Saw. menemuiku. Ketika itu, aku sedang ditemani oleh kedua orangtuaku dan salah seorang wanita dari kaum Anshar. Aku menangis dan seorang wanita dari kaum Anshar itu ikut menangis. Rasulullah Saw. duduk, lalu beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian bersabda: “Wahai Aisyah, kamu pasti telah mendengar omongan orang-orang tentang dirimu, karenanya, bertakwalah kepada Allah. Dan jika kamu telah mengerjakan kesalahan sebagaimana omongan orang-orang, maka bertaubatlah kepada Allah. Sebab Allah pasti menerima taubat hamba-Nya.” Sabda Rasulullah Saw. ini membuat air mataku jatuh berderai tanpa aku sadari. Aku menunggu kedua orang tuaku menjawab pertanyaan beliau mewakiliku. Namun, keduanya tidak berkata sepatab kata pun. Demi Allah, diriku terlalu hina, dan persoalanku terlalu kecil kalau misalnya tentang masalahku ini Allah menurunkan al-Qur’an yang akan dibaca di masjid-masjid dan dijadikan bacaan ketika shalat. Namun, aku tetap berharap Rasulullah Saw. bermimpi di mana Allah tidak membenarkan omongan orang-orang tentang diriku. Sebab Allah tahu tentang kesucianku, atau Allah memberitahukan sesuatu kepada beliau. Adapun berharap turunnya al-Qur'an tentang masalahku, maka demi Allah, harapan itu terlalu jauh mengingat diriku yang sangat hina ini! Ketika kulihat kedua orang tuaku tidak berbicara, maka aku berkata kepada keduanya, “Mengapa kalian tidak menjawab pertanyaan Rasulullah Saw.?” Kedua orang tuaku berkata, “Demi Allah kami tidak tahu harus menjawab apa?” Demi Allah, aku tidak tahu ada keluarga yang mendapat ujian seperti yang sedang dihadapi keluarga Abu Bakar saat ini.”

“Ketika kedua orang tuaku tidak berkata sepatah kata pun tentang diriku, aku sangat sedih, lalu menangis. Aku berkata kepada Rasulullah Saw. “Demi Allah, selamanya aku tidak akan bertaubat kepada Allah dari apa yang telah kamu katakan. Demi Allah, jika aku mengakui apa yang dikatakan mereka, padahal Allah mengetahui bahwa aku bersih dari tuduhan itu, maka hal itu sama artinya bahwa aku mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku lakukan. Dan kalau aku mengingkari omongan mereka, niscaya merekapun tidak akan mempercayaiku.” Aku mencari nama Ya'qub, namun tidak menemukannya. Akan tetapi aku akan mengatakan seperti yang pernah diucapkan oleb ayah Yusuf,

“Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku), dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.” (TQS. Yusuf [12]: 13)

Demi Allah, Rasulullah Saw. tetap tidak beranjak dari dudukiya. Tiba-tiba beliau pingsan (sepertinya beliau hendak memperoleh wahyu). Lalu, beliau diselimuti dengan pakaiannya, dan bantal dari kulit diletakkan di bawah kepalanya. Ketika aku melihat hal tersebut, demi Allah, aku tidak kaget dan memperdulikannya, sebab aku yakin bahwa aku bersih dari tuduhan itu, dan percaya bahwa Allah tidak akan menzhalimiku. Sedang kedua orang tuaku, maka demi jiwa Aisyah yang berada dalam kekuasaan-Nya, keduanya tidak senang dengan apa yang terjadi pada Rasulullah Saw. sampai aku menduga bahwa keduanya akan pingsan, sebab keduanya takut datang sesuatu dari Allah yang membenarkan omongan orang-orang. Kedua orang tuaku kelihatan senang dengan keadaan Rasulullah Saw. Beliau duduk sedang keringatnya menetes dari badan beliau seperti biji intan berlian di musim hujan. Kemudian, mulailah beliau mengusap keringat dari keningnya, lalu bersabda: “Wahai Aisyah, bergembiralah, sebab Allah telah menurunkan ayat tentang kesucianmu.” Aku pun berkata, “Alhamdulillah!”

Kemudian beliau pergi menemui orang banyak, lalu beliau berkhuthbah di hadapan mereka, dan beliau membacakan kepada mereka ayat al-Qur’an yang diturunkan kepada beliau terkait dengan isu yang sedang beredar. Setelah itu beliau memanggil Misthah bin Atsatsah, Hassan bin Tsabit, dan Hamnah bintu Jahsy, mereka di antara orang-orang yang turut menyebarkan berita bohong tersebut. Kemudian mereka pun dikenakan hukuman had. Ibnu Ishak berkata dari beberapa orang Bani Najjar: “Bahwa Abu Ayyub bin Khalid bin Zaid ditanya oleh istrinya, Ummu Ayyub, “Wahai Abu Ayyub, apakah kamu tidak mendengar omongan orang-orang tentang Aisyah?”Abu Ayyub bin Khalid bin Zaid berkata, “Ya, aku telah mendengarnya, namun itu tidak benar. Apakah kamu juga ikut menyebarkannya, wahai Ummu Ayyub?” Ummu Ayub berkata, “Tidak, demi Allah, aku tidak akan pernah melakukan hal itu. ” Abu Ayyub bin Khalid bin Zaid berkata, “Demi Allah, Aisyah jauh lebih baik daripadamu.”

Turunlah ayat al-Qur'an yang menyebutkan tentang orang-orang berdosa yang turut menyebarkan berita bohong. Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kalian juga. Janganlah kalian kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kalian, bahkan ia baik bagi kalian. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang andilnya paling besar dalam menyebarkan berita bohong itu maka baginya adzab yang besar. Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong itu orang-orang Mukmin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri dan (mengapa tidak) berkata, “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.“ (TQS. an-Nur [24]: 11-12)
Kemudian Allah Swt. berfirman:

“(Ingatlah) di waktu kalian menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kalian katakan dengan mulut kalian apa yang tidak kalian ketahui sedikit juga, dan kalian menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal ia di sisi Allah adalah besar.” (TQS. an-Nur [24]: 15)

Ketika ayat tentang Aisyah dan orang-orang yang menyebarkan berita bohong turun, maka Abu Bakar -yang sebelumnya menanggung nafkah Misthah karena ia masih kerabat dan miskin- berkata, “Demi Allah, selamanya aku tidak akan memberikan sesuatu apapun kepada Misthah, dan tidak akan membantunya, setelah ia berandil besar menyebarkan berita bohong tentang Aisyah dan membuat cobaan dalam keluarga kami.”

Kemudian Allah Swt. menurunkan ayat tentang ucapan Abu Bakar ini.

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat, orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS. an-Nur [24]: 22)

Setelah itu, Abu Bakar berkata: “Ya, tentu saja bahwa aku ingin Allah Swt. mengampuniku.” Akhirnya Abu Bakar kembali lagi memberi nafkah kepada Misthah seperti sebelumnya. Dan berkata: “Demi Allah, aku tidak akan menghentikan pemberian nafkah ini selamanya.”

Kasus berita bohong itu merupakan episode perang urat saraf yang secara politik telah dirancang oleh orang-orang Yahudi dan konco-konconya, yaitu orang-orang munafik untuk melawan Negara Islam. Ketika kita perhatikan seperti apa pengaruh penyebaran berita bohong ini terhadap kehidupan bangsa Arab, ternyata pengaruh yang ditimbulkannya sangatlah besar. Orang-orang munafik mampu menyesatkan individu-individu kaum Muslimin, akibatnya mereka tanpa disadari telah turut membantu orang-orang munafik dalam menyebarkan berita bohong tersebut.

Orang-orang munafik sangat serius dalam menyebarkan berita bohong ini, sehingga gemanya menyebar dengan cepat di seluruh penjuru Negara Islam. Sedang mereka sendiri mengetahui bahwa omongan itu tidak memiliki sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun, mereka terus saja menyebarkannya, meski mereka yakin bahwa Rasulullah Saw. sekali-kali tidak akan menjalankan had zina terhadap istrinya, Aisyah, dan Shafwan bin Muaththal as-Sulami yang juga sebagai tertuduh, sebab tidak terpenuhinya bukti-bukti materiil atas tuduhan itu. Akan tetapi mereka -Abdullah bin Ubay bin Salul dan konco-konconya dari kalangan orang-orang munafik dan Yahudi- tetap menyebarkannya, dan bahkan memperbesar isu tersebut, yaitu bahwa Muhammad menyembunyikan pelaku tindak kriminal terbesar -kriminal zina- sebab yang menjadi terdakwanya adalah istrinya sendiri.
Tindakan ini mereka lakukan untuk mencemarkan Rasulullah Saw. sebagai seorang Nabi, dan sebagai kepala negara. Adapun pencemaran terhadap beliau sebagai seorang Nabi adalah jikalau Muhammad itu benar-benar seorang Nabi, niscaya tidak mungkin ia membiarkan pelaku zina tinggal di dalam rumahnya, apalagi menjadikannya sebagai istri. Sedang pencemaran terhadap beliau sebagai kepala negara adalah bahwa keadilan dan persamaan manusia di hadapan syara’ (hukum) yang diserukan Muhammad segera berubah kesannya jika menyangkut kepentingannya sendiri. Dengan begitu, beliau yang seharusnya sebagai pelindung hukum, justru beliau sendiri orang pertama yang melanggarnya. Hal seperti ini tidak pantas dilakukan oleh orang yang memiliki tanggung jawab luas (kekuasaan penuh) dalam negara. Sehingga, pantaskah beliau sebagai seorang kepala negara melakukan hal seperti itu?

(artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Sumber: Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, SIRAH NABAWIYAH Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Al-Azhar Press

Kamis, 14 Desember 2017

Munafik Abdullah bin Ubay bin Salul menghina Umat Islam



2. Pembersihan Institusi Politik Bani Mushtaliq

a. Peperangan (perang ini disebut juga dengan perang Muraisi’)

Rasulullah Saw. menerima informasi bahwa Bani Mushtaliq bersatu untuk melawan beliau. Mereka dikomandoi oleh Harits bin Dhirar. Setelah Rasulullah Saw. mengetahui rencana mereka, pada bulan Sya’ban tahun keenam Hijriyah, beliau pergi pada mereka, sampai akhirnya beliau bertemu mereka di mata air yang bernama al-Muraisi’ dari arah Qadid ke as-Sahil.
Di tempat ini kedua belah pihak saling serang dan bertempur hingga akhirnya Allah mengalahkan Bani Mushtaliq. Banyak dari pihak Bani Mushtaliq yang tewas.
Selanjutnya Rasulullah Saw. menguasai anak-anak mereka, para istri mereka dan harta benda mereka. Allah memberikan semua itu kepada Rasulullah Saw. sebagai harta rampasan perang (fay’i).

b. Kejadian-kejadian penting

Sungguh, dalam peperangan ini telah terjadi peristiwa-peristiwa penting, yang tidak terpisahkan dari perjalanan peperangan ini, di antaranya:

1. Api fitnah

Ketika Rasulullah Saw. sedang berada di mata air, setelah berhasil mengatasi musuhnya, orang-orang pun berdatangan. Umar bin Khaththab datang bersama Jahjah bin Mas’ud dari Bani Ghifar yang dipekerjakan sebagai penuntun kuda Umar. Di mata air ini Jahjah berdesak-desakan dengan Sir bin Wabar al-Juhni, lalu keduanya bertengkar. Al-Juhni teriak, “Wahai orang-orang Anshar!” Sedang Jahjah berteriak, “Wahai orang-orang Muhajirin!”
Melihat kejadian itu, Abdullah bin Ubay bin Salul -yang ketika itu bersama sekelompok orang di antara kaumnya, termasuk di antara mereka Zaid bin Arqam yang masih muda belia- marah, lalu berkata, “Lihat apa yang mereka lakukan! Mereka sok kuasa dan meremehkan kita di negeri kita sendiri. Demi Allah, kita tidak rela menjadi bawahan gembel-gembel Quraisy ini (Julukan bagi orang-orang Islam dari kalangan Muhajirin. Kaum Musyrikin menjuluki mereka dengan julukan gembel-gembel Quraisy.), namun seperti perkataan orang-orang tua dulu, “Gemukkan anjingmu, niscaya ia memakanmu.” Demi Allah, jika kita telah kembali ke Madinah, maka orang-orang mulia pasti akan mengusir orang-orang hina ini dari Madinah.”
Abdullah bin Ubay bin Salul menghadap kepada orang-orang di antara kaumnya yang berada di tempat itu, lalu berkata, “Inilah hasil dari perbuatan kalian sendiri. Kalian tempatkan mereka di negeri kalian, dan membagi harta benda kalian dengan mereka. Demi Allah, seandainya kalian tidak memberikan apapun yang kalian miliki kepada mereka, niscaya mereka pasti telah pergi meninggalkan negeri kalian.”

Ucapan Abudullah bin Ubay bin Salul didengar oleh Zaid bin Arqam. Kemudian, Zaid pun pergi kepada Rasulullah Saw. guna memberitahukan apa yang ia dengar. Ketika itu Rasulullah Saw. ditemani Umar bin Khaththab. Umar berkata, “Kirimlah Abbad bin Bisyir untuk membunuhnya!” Lalu, Rasulullah Saw. bersabda, “Jika itu dilakukan, apa kata orang nanti wahai Umar, orang akan mengatakan, “Lihat itu Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya sendiri.” Tidak! Wahai Umar, namun umumkan pada mereka agar kembali ke Madinah.” Peristiwa itu terjadi pada saat Rasulullah Saw. belum kembali ke Madinah, sedang orang-orang telah kembali ke Madinah.

Abdullah bin Ubay bin Salul pergi menghadap Rasulullah Saw., setelah mengetahui bahwa Zaid bin Arqam melaporkan apa yang telah didengarnya kepada Rasulullah Saw. Di depan Rasulullah Saw. Abdullah bin Ubay bin Salul bersumpah atas nama Allah, “Aku tidak mengatakan sebagaimana yang dikatakan Zaid, sungguh aku tidak pernah mengatakannya.”
Di tengah-tengah kaumnya, Abdullah bin Ubay bin Salul adalah tokoh yang diagungkan. Sehingga salah seorang di antara sahabat dari kaum Anshar yang ketika itu bersama Rasulullah Saw. berkata, “Wahai Rasulullah, bisa jadi pemuda itu (Zaid) salah dalam ucapannya, sebab ia tidak hafal apa yang dikatakan Abdullah bin Ubay bin Salul.” Dia berkata yang demikian itu karena rasa simpatik kepada Abdullah bin Ubay bin Salul, dan untuk membelanya.

Ketika Rasulullah Saw. dalam perjalanan pulang menuju Madinah, beliau bertemu dengan Usaid bin Hudhair, lalu Usaid mengucapkan salam kenabian kepada beliau, dan ia berkata: “Wahai Nabi Allah, demi Allah, tampaknya engkau pergi dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Sebab aku tahu bahwa engkau belum pernah pergi dalam kondisi seperti ini sebelumnya.” Rasulullah Saw. bersabda: “Apakah kamu belum mendengar apa yang dikatakan sahabat kalian?“ “Sahabat yang mana, wahai Rasulullah?” tanya Usaid. Rasulullah Saw. bersabda: “Abdullah bin Ubay bin Salul.” Usaid bertanya, “Apa yang ia katakan?” Rasulullah Saw. bersabda: “Katanya, jika telah kembali ke Madinah, maka orang-orang mulia pasti akan mengusir orang-orang hina dari Madinah.” Usaid berkata, “Engkaulah yang akan mengusirnya jika engkau mau, wahai Rasulullab. Sebab, dialah sebenarnya yang hina, sedang engkau yang mulia.”
Kemudian Usaid berkata lagi, “Wahai Rasulullah, perlakukan ia dengan lemah-lembut. Sebab, demi Allah, pada saat engkau datang kepada kami, kaumnya berkumpul meminta ketegaran sikapnya, karena ia memandang bahwa engkau telah merampas kekuasaannya.”
Kemudian Rasulullah Saw. meneruskan perjalanannya bersama kaum Muslimin. Mereka terus berjalan sejak siang hingga malam, dari malam sampai pagi, dan mereka terus berjalan ketika memasuki hari berikutnya hingga panasnya sinar matahari terasa menyengat mereka. Kemudian, beliau meminta mereka berhenti untuk istirahat.
Tidak lama mereka istirahat, mereka pun mengantuk dan tertidur. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. ini tidak lain kecuali agar mereka melupakan ucapan Abdullah bin Ubay bin Salul yang diucapkannya kemarin. Dengan sikap dan tindakan yang amat sangat bijak ini Rasulullah Saw. hendak mengubur fitnah sedalam-dalamnya.

Dan turunlah “Surat al-Munafiqun” terkait dengan Abdullah bin Ubay bin Salul dan yang sejenisnya. Ketika surat ini turun, Rasulullah Saw. memegang telinga Zaid bin Arqam, lalu beliau bersabda: “Orang inilah yang menepati janjinya kepada Allah melalui telinganya.” Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul mendengar perkara yang terjadi tentang ayahnya. Lalu, ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku mendengar bahwa engkau hendak membunuh Abdullah bin Salul, sebab ucapannya yang telah engkau dengar itu. Jika engkau benar-benar akan melakukannya, maka perintahlah aku untuk menjalankan tugas itu, sebab pasti aku akan membawa kepalanya kepadamu. Demi Allah, orang-orang Khazraj tahu betul bahwa di kalangan mereka tidak ada anak yang lebih berbakti kepada orangtuanya daripada aku. Aku khawatir engkau menyuruh orang lain untuk membunuhnya. Jika itu yang terjadi, maka jangan biarkan aku melihat orang yang telah membunuh Abdullah bin Salul berjalan di tengah-tengah manusia, sebab pasti aku membunuhnya. Sehingga, akhirnya ada seorang (mukmin) yang membunuh orang Mukmin (juga) karena membela orang kafir, yang menjadikannya masuk Neraka.” Lalu, Rasulullah Saw. bersabda: “Namun yang kita lakukan justru sebaliknya, kita akan bersikap lembut dan bersahabat baik dengannya selama ia masih bersama kita.”

Tidak lama setelah kejadian itu, Abdullah bin Ubay bin Salul tiba-tiba melakukan kesalahan, sehingga kaumnya sendiri yang mengecam, menghukum, dan memarahinya. Ketika masalah Abdullah bin Ubay bin Salul dan kaumnya ini sampai pada Rasulullah Saw., beliau bersabda kepada Umar bin Khaththab: “Bagaimana pendapatmu, hai Umar? Demi Allah, kalau saja aku membunuhnya pada hari engkau menyuruhku membunuhnya, niscaya dengan membunuhnya ketika itu akan terjadi goncangan yang dahsyat. Kalau saja sekarang aku disuruh membunuhnya, niscaya aku pasti membunuhnya.” Umar bin Khaththab berkata: “Demi Allah, aku benar-benar tahu bahwa perintah Rasulullah Saw. lebih besar keberkahannya daripada perintahku.”

Sumber: Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, SIRAH NABAWIYAH Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Al-Azhar Press

Persiapan Nabi SAW Membersihkan Institusi Politik Yahudi Bani Musthaliq



E. Pembersihan Institusi Politik Yahudi Bani Musthaliq

1. Persiapan untuk melakukan pembersihan institusi politik Bani Mushthaliq

Setelah dilakukannya pembersihan institusi politik Yahudi Bani Quraidhah, Rasulullah Saw. berencana melakukan pembersihan terhadap komunitas institusi politik orang-orang Yahudi yang lain. Sedang komunitas institusi politik orang-orang Yahudi yang masih berpengaruh di Madinah al-Munawwarah hanya tinggal dua, yaitu Yahudi Bani Mushthaliq dan Yahudi Khaibar. Untuk itu, Rasulullah Saw. harus melakukan beberapa manuver militer dan politik sebelum melakukan pembersihan terhadap mereka.
Berikut ini manuver-manuver terpenting yang dilakukan oleh Rasulullah Saw.: (Lihat Lampiran II, Mobilisasi Pasukan Islam antara Perang Bani Quraidhah dan Perang Bani Musthaliq)

a. Pasukan pimpinan Muhammad bin Maslamah pergi ke ar-Raqtha’

Setelah memasuki bulan Muharram, tahun keenam Hijriyah, Rasulullah Saw. menyiapkan pasukan yang dipimpin Muhammad bin Maslamah al-Anshari untuk pergi ke ar-Raqtha’ daerah pedalaman Bani Bakar. Rasulullah Saw. memerintahkannya agar bergerak pada malam hari dan bersembunyi di siang hari. Perintah Rasulullah Saw. itu pun dilakukan.
Setelah Muhammad bin Maslamah sampai pada mereka, maka ia pun langsung menyerangnya, sehingga di antara mereka terbunuh kurang lebih 10 orang, dan yang lain melarikan diri. Muhammad bin Maslamah menggiring 150 ekor unta dan 3.000 ekor kambing. Dan dengan membawa semua itu, Muhammad bin Maslamah kembali ke Madinah al-Munawwarah.

b. Perang Bani Lihyan

Setelah memasuki bulan Rabi’ul Awal, tahun keenam Hijriyah, Rasulullah Saw. pergi sendiri ke Bani Lihyan.

Adapun sebab yang tidak secara langsung terkait dengan perang ini adalah membangun hegemoni Negara Islam, memperlihatkan kekuatannya, dan menakut-nakuti musuh-musuh Negara Islam.
Sedangkan sebabnya yang secara langsung adalah peristiwa ar-Raji’, tahun keempat Hijriyah. Yaitu, ketika datang delegasi dua suku ‘Adhal dan Qarah. Mereka menyatakan masuk Islam, lalu mereka meminta Rasulullah Saw. agar mengirim bersama mereka orang-orang yang akan mengajari mereka. Rasulullah Saw. mengirim bersama mereka beberapa sahabat terbaik.
Akan tetapi, tidak lama kemudian mereka berkhianat, mereka membunuh para sahabat terbaik itu di tengah jalan. Rasulullah Saw. mengabaikan mereka itu, namun setelah mendapatkan kekuatan untuk memerangi mereka, maka Rasulullah Saw. pergi memerangi mereka, sebagai balasan terhadap perbuatan mereka di ar-Raji', dan pengajaran bagi mereka. Sebab, sebelumnya Rasulullah Saw. tidak mungkin memberi pelajaran pada mereka, mengingat ketika terjadinya peristiwa itu Rasulullah Saw. sedang menghadapi situasi dan kondisi yang sangat sulit.

Sebagaimana biasanya, ketika bergerak, Rasulullah Saw. menyembunyikannya dari musuhnya. Bahkan tidak jarang beliau membuat bingung para musuh beliau. Sebab, beliau sering pergi menuju peperangan, namun tidak seorangpun yang mengetahui ke mana tujuan beliau pergi.
Dan kali ini, beliau hendak membuat bingung pihak musuh. Beliau memperlihatkan bahwa beliau hendak pergi ke Syam, supaya mereka yang menjadi sasarannya lalai dan lengah. Rasulullah Saw. pergi dari Madinah melewati Ghurab -yaitu gunung di daerah Madinah yang di atasnya terdapat jalan menuju Syam-, melintasi Mahis, Batra’, kemudian beliau belok kiri, lalu beliau melewati Bin, kemudian melintasi Shukhairotil Yamam, lalu berjalan lurus menuju al-Mahjah melalui jalan menuju Makkah. Selanjutnya, beliau mempercepat langkahnya hingga sampai di Ghuran yaitu tempat tinggal Bani Lihyan, menuju daerah yang bernama Sayah. Namun, beliau mendapati bahwa mereka telah siaga dan bertahan di puncak-puncak gunung.
(Bin adalah lembah yang ada di dekat Madinah. Ghuran adalah lembah yang terletak di antara Umj dan ‘Usfan.)
Ketika Rasulullah Saw. tiba di Sayah, sedang rencana penyerangan secara tiba-tiba yang telah direncanakan mengalami kegagalan, maka beliau bersabda: “Kalau kita turun ke ‘Usfan, niscaya penduduk Madinah melihat bahwa kita pergi ke Makkah.”
Beliau pergi bersama 200 pejalan kaki dari kalangan sahabat hingga beliau sampai di 'Usfan. Kemudian beliau mengirim dua orang penunggang kuda hingga keduanya tiba di Karra’ al-Ghamim. Selanjutnya, Rasulullah Saw. memutuskan kembali ke Madinah.
Jabir bin Abdullah berkata, “Ketika hendak kembali ke Madinah, aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Mereka kembali, insya Allah mereka bertaubat, dan mereka benar-benar memuji Tuhan kami. Aku berlindung kepada Allah dari kesulitan dalam perjalanan, kesedihan karena kembali dengan kegagalan, dan melihat pemandangan buruk dalam keluarga dan harta.”

c. Pasukan pimpinan Karaz bin Zaid pergi ke ‘Irniyyin

Ketika Rasulullah Saw. kembali dari perang Bani Lihyan, beliau bertemu dengan rombongan di antara orang-orang Qais Kubbah dari Bajilah, mereka terinfeksi di Madinah dan mereka menderita sakit pada limpanya, sehingga hampir-hampir mereka celaka. Rasulullah Saw. membawa mereka pada unta yang bersusu subur milik beliau di Faifa’ al-Khabar. Unta yang bersusu subur ini dikuasakan pada Yasar.
Ketika mereka merasa sehat, mereka malah berbuat zalim pada Yasar, mereka menyembelihnya, menusukkan duri pada kedua matanya, dan bahkan membawa pergi unta yang bersusu subur itu.
Rasulullah Saw. mengutus Karaz bin Jabir untuk mengejar mereka. Setelah berhasil dikejarnya, lalu mereka dibawa kepada Rasulullah Saw., kemudian tangan dan kaki mereka dipotong, dan mata mereka dicungkil. Tindakan Rasulullah Saw. pada mereka itu tidak kecuali sebagai qishash atas perbuatan mereka pada Yasar, sebagai realisasi firman Allah Swt.:

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.” (TQS. an-Nahl [16]: 126)




e. Pasukan pimpinan Ukkasyah pergi ke Ghamr

Di bulan Rabi’ul Awal itu juga, setelah perang Dzu Qarad, Rasulullah Saw. menyiapkan pasukan dengan kekuatan 40 orang yang akan diberangkatkan ke Ghamr Marzuq -mata air milik Bani Asad- dengan dipimpin ‘Ukkasyah bin Mihshan. Ukkasyah pergi dengan cepat. Setelah mereka mengetahui kedatangan pasukan pimpinan Ukkasyah, maka merekapun melarikan diri.
Ukkasyah dan pasukannya hanya mendapatkan binatang-binatang ternak mereka, lalu Ukkasyah membawa binatang-binatang ternak mereka itu, yang berjumlah 200 ekor unta. Ukkasyah dan pasukannya sambil membawa binatang-binatang ternak itu menghadap kepada Rasulullah Saw.

f. Pasukan pimpinan Muhammad bin Maslamah pergi ke Dzul Qishah

Memasuki bulan Rabi’uts Tsani, Rasulullah Saw. menyiapkan pasukan yang terdiri dari 10 orang dengan dipimpin Muhammad bin Maslamah. Rasulullah Saw. menugaskan pasukan itu mendatangi Bani Tsa’labah dan Bani ‘Awwal, mereka berada di Dzul Qishah, mereka berjumlah 100 orang.
Pasukan itu mendatangi mereka pada malam hari. Kaum Muslimin mengelilingi mereka dan menyerangnya. Muhammad bin Maslamah menderita luka di tumitnya, lalu kaum Muslimin membawanya ke Madinah.
Kemudian, Rasulullah Saw. mengirim Abu Ubaidah bin Jarrah dengan kekuatan 40 orang pergi ke tempat mereka berperang, namun mereka tidak mendapati seorangpun, sedang yang mereka dapati hanya binatang ternak. Abu Ubaidah membawanya, dan kembali ke Madinah.

g. Pasukan pimpinan Abu Ubaidah bin Jarrah pergi ke Dzul Qishah

Dalam bulan Rabi'uts Tsani juga, Rasulullah Saw. menyiapkan pasukan yang dipimpin Abu Ubaidah bin Jarrah dengan kekuatan 40 orang untuk menyerang pertemuan yang diadakan di Maradh -kira-kira 36 mil dari Madinah- tempat kediaman suku Bani Muharib, Tsa'labah, dan Anmar.
Abu Ubaidah bergerak mendatangi mereka pada malam hari. Abu Ubaidah sampai di Dzul Qishoh saat cahaya fajar pertama, kemudian menyerang mereka, akhirnya mereka pun melarikan diri dan kocar-kacir menyelamatkan diri ke gunung. Lalu, Abu Ubaidah mengambil harta benda mereka dan selanjutnya kembali ke Madinah al-Munawwarah.

h. Pasukan pimpinan Zaid bin Haritsah pergi ke Bani Sulaim

Di akhir bulan Rabi’ul Akhir, Rasulullah Saw. menyiapkan pasukan yang dipimpin Zaid bin Haritsah untuk diberangkatkan ke Bani Sulaim di al-Humum daerah pedalaman Nakhlah.
Mereka mendapatkan seorang perempuan dari Mazinah, namanya Halimah, lalu mereka menahan perempuan itu. Kemudian perempuan itu yang memberitahu mereka tentang kediaman Bani Sulaim.
Akhirnya mereka mendapatkan binatang ternak, kambing-kambing dan tawanan. Dengan membawa semua itu, mereka kembali pada Rasulullah Saw. Sesampainya di Madinah, Rasulullah Saw. membebaskan Halimah dan suaminya sebagai balasan atas apa yang telah ia lakukan.

i. Pasukan pimpinan Zaid bin Haritsah pergi ke al-'Ish

Memasuki bulan Jumadzil ‘Ula tahun keenam Hijriyah, Rasulullah Saw. menyiapkan pasukan yang dipimpin Zaid bin Haritsah dengan kekuatan 40 pasukan berkuda untuk mencegat para pedagang kafir Quraisy yang akan melintasi al-‘Ish.
Zaid berhasil menemukannya dan mengambil semua yang ada, dan selanjutnya membawanya kepada Rasulullah Saw. Dalam tawanan perang ini terdapat Abu al-Ash bin Rabi’, suami putri Rasulullah Saw., Zainab. Kemudian istrinya, Zainab, menolongnya dengan memberi jaminan, dan Rasulullah Saw. menerima jaminan yang diberikan putrinya.

j. Pasukan pimpinan Zaid bin Haritsah pergi ke ath-Tharif

Setelah itu, di bulan yang sama, Rasulullah Saw. menyiapkan pasukan yang dipimpin Zaid bin Haritsah untuk diberangkatkan ke ath-Tharif -yaitu mata air, kurang lebih 36 mil dari Madinah melalui jalan Iraq-. Zaid pergi ke Bani Tsa’labah dengan kekuatan 15 orang. Ia mendapatkan banyak unta dan kambing. Selanjutnya, dengan membawa semua itu, ia kembali ke Madinah al-Munawwarah.




L. Pasukan pimpinan Zaid bin Haritsah pergi ke Wadzil Qura

Pada bulan Rajab tahun itu (tahun keenam Hijriyah), Rasulullah Saw. menyiapkan pasukan yang dipimpin Zaid bin Haritsah untuk diberangkatkan ke Wadzil Qura. Di Wadzil Qura ini pasukan Zaid bertemu dengan Bani Fazarah. Banyak dari pasukan Zaid yang terbunuh, sehingga Zaid tampak lemas di antara mereka yang terbunuh. Ketika Zaid telah kembali ke Madinah, ia bersumpah untuk tidak menyentuh kepalanya ketika mandi janabat (hadats besar) sampai ia memerangi Bani Fazarah.
Ketika ia telah sembuh dari luka-lukanya, pada bulan Ramadhan, Rasulullah Saw. mengirimnya dengan sebuah pasukan ke Bani Fazarah. Kemudian ia memerangi mereka di Wadzil Qura. Ia berhasil menahan Ummu Qurafah Fatimah bintu Rabiah bin Badar dan kedua putrinya. Ummu Qurafah adalah wanita tua yang disegani dan dihormati. Kemudian, Zaid membunuhnya sebab wanita tua itu telah lancang mencaci dan menghina Rasuiullah Saw.

(artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Sumber: Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, SIRAH NABAWIYAH Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Al-Azhar Press

Related Posts with Thumbnails

Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam