Download Buku KEWAJIBAN SYARIAH ISLAM

Rabu, 27 April 2016

Islam menjadikan manusia maju


 

(4) Islam agama yang dinamis dan maju. Kehadirannya menjadikan pemeluknya berjalan seiring di jalan kesempurnaannya. Islam memberi kewajiban pemeluknya dengan pekerjaan-pekerjaan tertentu dan keharusan menjalankannya. Dengan tugas-tugas ini dan dengan tangan (kekuatan) manusia, Islam menjadikan manusia maju dan berjalan menuju kesempurnaan.

Dalam Islam, manusia dapat menikmati kehidupan dengan keluhuran ruhani dan ketentraman jiwa serta kebahagiaan yang hakiki. Islam menjadikan manusia tetap di atas ketinggian yang tidak merosot. Meski berada di ketinggian di jalan kesempurnaan menuju ketinggian yang lebih tinggi adalah sulit, maka sudah barang tentu tetap dalam posisi ketinggian akan jauh lebih sulit. Karena itu, tugas-tugas ini dijadikan abadi dan bukan temporer. Sehingga dengan demikian diharapkan manusia terus-menerus dalam posisi ketinggian dan kedinamisannya.

Tugas-tugas atau pekerjaan-pekerjaan ini adalah ibadah. Di antaranya ada yang wajib dan ada pula yang sunnah. Adalah sebuah keharusan melaksanakan kewajiban-kewajiban bagi semua manusia sebagai upaya mewujudkan batas yang sama dalam pencapaian ketinggian. Melaksanakan amalan-amalan sunnah dapat mendorong manusia untuk tetap bertahan di jalan kesempurnaan.

Melaksanakan ibadah-ibadah ini tidak dengan perintah yang memberatkan dan sulit, juga tidak dengan sesuatu yang merusak dan menyesakkan. Dalam perintah-perintahnya juga tidak ada larangan menikmati kenikmatan dan kelezatan dunia, tidak ada keharusan untuk berpaling dari hal-hal yang mubah dan menyenangkan, tidak ada tugas-tugas yang membalik kecenderungan naluri, dan tidak ada penentangan tabiat. Sekali-kali tidak ada yang demikian.

Menjalankan ibadah-ibadah wajib bagi manusia telah ditentukan oleh Allah sebagai perintah yang dimudahkan, meski kekuatannya ada dan kehendaknya selalu muncul. Perintah-perintah wajib tidak sampai meniadakan (mengharamkan) perhiasan dunia. Demikian juga ibadah-ibadah sunah. Kaum muslimin menjalankannya dengan kerinduan dan kegemaran. Mereka menjalankannya lebih banyak dari amalan wajib. Mereka merasakannya dengan perasaan yang dalam dan menikmatinya dengan keridhaan Allah.

(5) Kaum muslimin menaklukan banyak wilayah negara untuk mengemban misi dakwah Islam dan menyebarkannya di wilayah itu. Karena itu, mereka merasa sebagai para delegasi Allah yang membawa rahmat dan hidayah. Mereka masuk suatu negara dan memerintahnya dengan pemerintahan Khilafah Islam. Dengan hanya menerima pemerintahan Khilafah Islam dan masuk golongan ahlu dzimmah (kafir dzimmi), penduduk kafir negeri itu sudah menjadi memiliki hak dan kewajiban sebagaimana warga muslim. Sementara wilayah taklukan itu menjadi wilayah yang memiliki hak dan kewajiban terhadap Negara Islam sebagaimana negeri-negeri taklukan lainnya. Wilayah itu secara otomatis menjadi bagian dari Negara Khilafah Islam sebagai konsekuensi dari sistem pemerintahan Negara Islam yang satu. Karena itu, penduduk negeri taklukan tidak merasa bahwa mereka dijajah. Dirasa dari sisi manapun mereka tidak membaui bau busuk penjajahan. Maka tidak heran jika banyak manusia yang menerima Islam tanpa paksaan setelah melihat praktek Islam yang nyata dan tatacara kaum muslimin menjalankan pemerintahannya.

(6) Sesungguhnya mabda' (ideologi) dan hukum-hukum Islam besifat umum dan berlaku untuk seluruh manusia. Hukum-hukumnya boleh dipelajari dan diajarkan kepada siapapun, bahkan wajib mengajarkannya kepada semua manusia hingga mereka merasakan manisnya Islam dan mengetahui hakikat-hakikatnya. Rasulullah Saw. pernah mengutus para gubernur (wali), penguasa, hakim, dan pengajar untuk mengatur manusia dengan hukum Islam dan mengajarkan mereka hukum-hukumnya. Demikian juga kaum muslimin periode sesudahnya yang telah mengusai negeri-negeri. Mereka tinggal di negeri-negeri baru untuk menjalankan hukum Islam, mengajari dan memberi pemahaman manusia dengan Islam serta mengajari mereka tentang hukum-hukum Al-Qur'an. Penduduk negeri-negeri taklukan menerima pengetahuan-pengetahuan Islam hingga tsaqafah (khazanah pengetahuan jalan hidup) mereka menjadi tsaqafah Islam, bahkan yang tidak memeluk Islam pun ber-tsaqafah Islam (menguasai khazanah ilmu keislaman).

(7) Syari'at Islam adalah syari'at yang sempurna untuk kehidupan dunia. Karena itu, ketika kaum muslimin berhasil menaklukkan negeri-negeri, mereka tidak butuh pengetahuan syari'at dan undang-undang penduduk negeri-negeri itu, juga tidak mengkompromikan antara hukum-hukum yang mereka bawa dengan undang-undang yang diberlakukan di negeri-negeri itu sebagai bentuk pemecahan problem-problem kehidupan.

Bahkan, mereka menaklukkan berbagai negeri sambil membawa syari'at Islam yang sempurna. Mereka langsung menerapkan Islam sejak berhasil menguasai suatu negeri. Cara mereka dalam menerapkan Islam bersifat revolusioner. Tidak ada penerapan yang dilakukan secara bertahap atau periodik. Sistem kufur yang dijumpai kaum Muslimin tidak mereka simpan untuk dipelihara karena penaklukan negeri-negeri bagi mereka adalah untuk tempat penyampaian Islam dan objek pengubahan fakta yang rusak dan kehidupan yang membahayakan.

Tata laksananya dengan menghapus sistem lama dan membuat sistem baru secara menyeluruh. Karena dengan cara ini akan memudahkan mereka menjalankan pemerintahan negeri itu semenjak awal penaklukan. Pemerintahan mereka dipusatkan secara penuh dan sempurna. Oleh sebab itu, dalam operasinya mereka tidak menyelamatkan krisis undang-undang jahiliyah yang ada, juga tidak membantu keadaan yang transformatif. Mereka hanya membawa misi dakwah mereka sendiri, yaitu akidah yang darinya memancar sistem-sistem, undang-undang, dan hukum-hukum, yaitu syari'at Islam yang diterapkan pada seluruh manusia di semua zaman dan tempat.

Selasa, 26 April 2016

Negara Khilafah Islam menaklukkan negara-negara


 

Ketika umat Islam dibebani keharusan mengemban dakwah ke seluruh manusia, maka mereka wajib menyampaikannya ke seluruh alam. Maka sudah barang tentu Negara Khilafah Islam wajib menjalankan tugas mulia ini. Negara Islam menyampaikan dakwah dan mengambil cara yang ditetapkan Islam. Karena itu, merupakan hal yang pasti jika Negara Khilafah Islam menaklukkan negara-negara dan penaklukan-penaklukan besar-besaran menjadi bagian dari misinya.

Operasi berbagai penaklukan ini tidak lain merupakan bentuk pelaksanaan dari kewajiban yang menjadi beban kaum muslimin, yaitu menyampaikan Islam ke seluruh manusia dengan menegakkan pemerintahan Islam dan menyebarkan pemikiran-pemikirannya di tengah mereka. Penaklukan-penaklukannya tidak dimaksudkan untuk menguasai, menjajah atau mengeruk kekayaan negara-negara bangsa. Tujuannya hanya satu, yaitu mengemban dakwah Islam kepada manusia agar mereka terselamatkan dari kehidupan yang sengsara dan kekangan sistem yang merusak. Kenyataan ini tampak dalam fakta sejarah pertumbuhan Negara Khilafah Islam, perjalanan penaklukan-penaklukannya, dan dalam kewajiban jihad futuhat.

Negara Khilafah Islam tumbuh dengan kuat, terkonsentrasikan, meluas, berkembang, menyebar, dan bersifat terbuka. Benihnya memiliki potensi pertumbuhan menjadi negara dunia, bukan negara lokal atau regional. Karena akidahnya adalah akidah untuk seluruh dunia, yaitu akidah untuk manusia dan sistemnya adalah sistem dunia, yaitu sistem untuk seluruh manusia. Oleh sebab itu, merupakan hal yang wajar jika Negara Khilafah Islam selalu menyebar dan mengembang wilayahnya.

Negara Khilafah Islam memiliki karakter penakluk. Negara-negara bangsa yang belum masuk wilayahnya (berada dalam kekuasaan pemerintahan Islam) akan menjadi sasaran penaklukannya karena memang tabiat pertumbuhannya mengharuskan demikian. Inilah Rasul Saw. yang pernah dibaiat kaum muslimin di baiat aqabah ke-2. Mereka berbaiat dan bersumpah setia pada Rasul Saw. untuk memerangi manusia, baik yang berkulit merah ataupun hitam, meski untuk melaksanakannya dapat mengantarkannya pada kemusnahan harta dan kehilangan nyawa.

Mereka berbaiat pada Rasul Saw. untuk selalu mendengar dan taat, baik dalam kesulitan atau kemudahan, menyenangkan atau tidak menyenangkan. Mereka harus berkata benar di manapun berada. Karena Allah, mereka tidak takut kecaman orang yang mengecam. Mereka juga berbai’at pada beliau untuk siap mati di jalan menjaga dakwah Islam. Mereka tidak memperoleh tebusan apa-apa selain surga. Mereka inilah inti pasukan Negara Khilafah Islam yang mengemban dakwah. Bagaimana mungkin pasukan ini berbai’at dengan baiat semacam ini? Mengapa pasukan ini dibentuk? Apa urgensi peperangan yang tampak dalam baiat ini? Bukankah urgensinya adalah mengemban dakwah Islam? Itulah kepentingan satu-satunya yang mereka datangkan dari tujuan baiat. Mereka berbaiat untuk dakwah dan siap mati di jalannya.

Rasulullah Saw. sebelum kewafatannya telah meletakkan garis-garis besar haluan tentang prinsip-prinsip penaklukan. Setelah mendirikan Negara Khilafah Islam di Jazirah, beliau meletakkan garis-garis besar tentang penyebaran dakwah Islam keluar Jazirah dengan cara mengirim berbagai surat di tahun ke-7 H. Surat-surat misi politik keislaman itu dikirimkan ke Kisra, Kaisar, dan beberapa raja dan gubernur non-muslim. Mereka semua diajak memeluk Islam. Beliau juga menempuh dua cara lain, yaitu (i) melancarkan perang Mu'tah dan Tabuk (ii) menyiapkan pasukan Usamah.

Para khalifah sesudahnya juga menjalankan garis-garis besar haluan ini ketika berhasil menaklukkan negara-negara bangsa yang telah ditawari Rasul Saw. untuk menerima Islam. Kemudian penaklukan terus berlanjut dengan asas ini. Karena itu, Negara Khilafah Islam dalam penaklukan dunia tidak membedakan antara menaklukkan Mesir karena kekayaan dan kemudahannya dengan menaklukkan Afrika Utara yang tandus, gersang, miskin, dan banyak kesulitan. Semuanya ditaklukkan atas prinsip yang sama, yaitu untuk penyebaran Islam dan pengembanan dakwahnya.

Demikian itu tetap menegaskan sikap politik negara untuk tetap memasuki dan menguasai negara-negara bangsa, meski negara itu fakir atau kaya, juga tetap menghadapi bangsa apa saja, meski mereka menyerah atau melawan. Karena, penyebaran Islam dan pengembanan dakwah ke seluruh manusia tidak mengenal kaya-miskin suatu negara, juga tidak mempedulikan apakah penduduknya menerima atau menolak. Negara hanya mengenal satu prinsip, yaitu mengemban dakwah Islam dan menjadikannya qiyadah fikriah (kepemimpinan berpikir) yang darinya akan memancar sistem-sistem kehidupan Islam, serta menjadikan misinya untuk semua manusia di semua negara bangsa.

Al-Qur'an yang mulia telah menerangkan pada kaum muslimin tentang sebab-sebab peperangan dan keharusan jihad futuhat. Keharusannya tidak lain kecuali di jalan Islam dan pengembanan risalahnya ke seluruh alam. Di dalamnya juga terdapat ayat-ayat yang melimpah ruah yang memerintahkan mereka berperang demi Islam.
Allah berfirman dalam surat al-Anfaal:
"Dan perangilah mereka supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata bagi Allah" (TQS. Al-Anfaal: 39).
Dalam surat al-Baqarah juga disebutkan:
"Dan perangilah mereka sehingga tidak ada finah lagi dan [hingga] agama itu hanya untuk Allah semata. Jika mereka berhenti [dari memusuhi kamu], maka tidak ada permusuhan [lagi] kecuali terhadap orang-orang zalim" (TQS. Al-Baqarah: 193).
Dalam surat al-Taubah juga ditegaskan:
"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak [pula] kepada Hari Kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar, [yatu orang-orang] yang diberikan Al-Kitab kepada mereka sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk" (TQS. Al-Taubah: 29).
Ayat-ayat ini dan lainnya adalah ayat-ayat yang memerintahkan jihad futuhat, yang tujuannya bagi kaum muslimin telah ditentukan dengan penaklukan-penaklukan. Ayat-ayat itulah yang mendorong mereka untuk mengadakan penaklukan-penaklukan.

Atas dasar ini, maka mengemban dakwah Islam adalah misi yang ditegakkan Negara Khilafah Islam. Pembentukan pasukan Islam juga dimaksudkan untuk dakwah. Keharusan jihad futuhat ditetapkan di jalan dakwah. Penaklukan-penaklukan berjalan dengan perhitungan dakwah. Dan, pengembanan dakwah Islam itulah yang menyiapkan kaum muslimin untuk mendirikan Negara Khilafah Islam.

Minggu, 24 April 2016

Rincian Khilafah menerapkan hukum terhadap non-muslim



Memang benar, seorang khalifah adalah subjek yang menjalankan hukum-hukum ibadah. Dia menjatuhkan sanksi pada warganya yang muslim yang meninggalkan shalat dan tidak berpuasa Ramadan.

Khalifah juga yang menjalankan semua hukum ibadah sebagaimana juga menjalankan seluruh hukum Islam lainnya. Pelaksanaan ini wajib bagi Negara Khilafah karena kewajiban shalat bukanlah lahan ijtihad. Khalifah hanyalah pelaksana hukum syara' yang diputuskan di tengah masyarakat dan membangun hukum Islam untuk melaksanakan sanksi-sanksi atas penerapan hukum Islam yang manapun. Ini kaitannya dengan kaum muslimin.

Adapun kaitannya dengan non-muslim yang menganut selain akidah Islam, maka mereka adalah:
(i) orang-orang yang mengaku bahwa mereka muslim tapi meyakini akidah yang bertentangan dengan akidah Islam
(ii) orang-orang dari Ahli Kitab
(iii) orang-orang musyrik dan mereka adalah para penyembah berhala, penyembah bintang, kaum Majusi, pemeluk Hindu, dan semua penganut agama selain Ahlu Kitab.

Mereka semua ini, berikut apa yang menjadi perilaku akidah dan ibadah mereka dan dalam semua urusan perkawinan dan perceraian, dibiarkan berjalan mengikuti agama-agama mereka. Negara (Negara Khilafah Islam) hanya menentukan seorang qadhi (hakim) dari dan bagi mereka yang akan mengawasi pertikaian-pertikaian mereka dalam hal akidah, ibadah, kawin, cerai dan diselesaikan dalam mahkamah negara.

Adapun masalah makanan dan minuman, mereka diperlakukan menurut kedudukan hukum-hukum agama mereka sendiri (tidak harus mengikuti syariah dalam halal-haram) yang operasionalnya dijamin dalam sistem umum hukum publik Islam.

Selain Ahlu Kitab diperlakukan seperti perlakuan terhadap Ahlu Kitab. Nabi Saw. bersabda tentang hak orang Majusi: "Perlakukan mereka dengan perlakukan hukum Ahlu Kitab."

Sedangkan dalam muamalah dan sanksi-sanksi (hukum publik), penerapannya terhadap non-muslim disamakan dengan kaum muslimin. Mereka semua kedudukannya sama. Sanksi yang dikenakan pada non-muslim juga sama dengan sanksi yang dikenakan pada kaum muslimin. Pelaksanaan dan pembatalan muamalah yang diberlakukan pada non-muslim kedudukannya juga sama dengan yang diberlakukan pada kaum muslimin.

Semuanya di mata hukum Islam sama, tanpa ada perbedaan atau perlakukan khusus terhadap orang-orang tertentu. Karena, semua yang mengemban fungsi mengikut (tabi'iyah) sebagai warga negara Khilafah, meski agama, jenis bangsa, dan mazhab mereka berbeda, dikenai khithab (seruan) dengan hukum-hukum syari'at Islam. Khithab (seruan)nya menyangkut semua persoalan muamalah dan sanksi hukum publik.

Mereka juga diharuskan mengikuti dan menjalankan hukum-hukum tersebut. Hanya saja kewajiban mereka terhadap hal itu terbatas pada sisi pelaksanaan undang-undang negara Khilafah, tidak dari sisi keyakinan keagamaan. Karena itulah, mereka tidak boleh dipaksa berakidah dengan akidah tertentu karena memang mereka tidak boleh dipaksa memeluk Islam. Allah berfirman: "Tidak ada paksaan untuk [memasuki] agama [Islam]" (QS. Al-Baqarah: 256).
Rasulullah Saw. juga dilarang mengancam Ahlu Kitab agar melepaskan agama mereka, akan tetapi mereka dipaksa untuk tunduk pada hukum-hukum publik Islam. Keharusan ketundukan ini dikarenakan posisi hukum Islam sebagai undang-undang negara Khilafah yang harus dilaksanakan.

Kesimpulannya, Negara Islam dalam politik dalam negerinya melaksanakan hukum Islam yang dibebankan kepada semua warga negara Khilafah yang mengemban fungsi mengikut (tab'iyah) sebagai warga negara Khilafah, baik mereka sebagai seorang muslim atau non-muslim. Bentuk pelaksanaannya sebagai berikut.

(1) Pelaksanaan semua hukum Islam dibebankan kepada kaum muslimin.
(2) Membiarkan masyarakat non-muslim mengikuti apa yang mereka yakini dan sembah.
(3) Memperlakukan masyarakat non-muslim dalam persoalan-persoalan makanan dan pakaian dengan mengikuti agama-agama mereka yang masih dalam lingkup sistem umum.
(4) Memutuskan persoalan-persoalan perkawinan dan perceraian di antara masyarakat non-muslim dengan mengikuti agama-agama mereka. Penanganannya dilakukan oleh qadhi (hakim) yang dipilih di antara mereka dan diputuskan di Mahkamah Negara, tidak di mahkamah khusus. Persoalan-persoalan ini jika berhubungan dengan antara kaum muslimin dan non-muslim, maka pemutusannya mengikuti hukum-hukum Islam dan dijalankan oleh qadhi (hakim) muslim.
(5) Negara melaksanakan semua syari'at Islam selain hukum-hukum di atas, seperti muamalah, sanksi-sanksi, sistem-sistem pemerintahan, hukum, ekonomi, dan lain-lainnya. Pelaksanaannya dibebankan pada semua warga negara Khilafah. Dalam hal ini, baik yang muslim maupun non-muslim kedudukannya sama.
(6) Semua orang yang mengemban fungsi mengikut aturan Islam adalah rakyat negara Khilafah. Negara Khilafah wajib mengatur semua urusan mereka dengan adil, tanpa membedakan atau memberi pengecualian antara yang muslim dan yang non-muslim.
…..
18. Marhalah Ketiga, yaitu marhalah pengambilalihan pemer­intahan.
Partai ideologi Islam mengambil alih pemerintahan adalah melalui umat dan menerapkan ideologi Islam sekaligus. Inilah yang disebut metode revolusi tanpa kekerasan. Metode ini tak membolehkan partai dakwah ideologi Islam berga­bung ke dalam pemerintahan yang menerapkan hukum Islam secara parsial, tetapi mengambil alih pemerintahan secara total dan menjadikannya satu-satunya metode penerapan ideol­ogi Islam. Metode ini mengharuskan penerapan ideologi Islam secara revolusioner, tidak membo­lehkan penerapan ideologi secara bertahap, bagaimanapun keadannya.

Apabila Negara Khilafah telah menerapkan ideologi Islam secara sempur­na dan menyeluruh maka wajib bagi Negara Khilafah Islam itu untuk mengemban dakwah Islam dan menetapkan dalam Anggaran Belanja Negara bagian khusus untuk dakwah dan propaganda, mengatur dakwah Islam dari sisi kenegaraan atau dari aspek kepartaian sesuai dengan situasi yang ada. Sekalipun partai Islam ideologis telah berhasil mendirikan pemerintahan Islam, dia tetap bertindak sebagai partai dakwah ideologi Islam, strukturnya tetap ada, baik para anggotanya mendudu­ki kursi pemerintahan atau tidak. Partai Islam ideologis menganggap pemer­intahan adalah awal langkah praktis untuk melaksanakan ideologi Islam dalam negara, dan berusaha menerapkannya di setiap penjuru dunia.

Inilah langkah-langkah yang ditempuh oleh partai dakwah ideologi Islam di dalam medan kehidupan, untuk membawa fikrah (pemikiran) ke periode kerja praktis atau dengan kata lain untuk membawa ideologi Islam ke medan kehidupan dengan melanjutkan kehidupan Islam, untuk membangkitkan masyarakat dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.

Pada saat inilah partai dakwah ideologi Islam memulai kerja praktis yaitu suatu periode yang ia dirikan untuk mewujudkan periode itu. Atas dasar ini maka partai Islam ideologis adalah jaminan hakiki untuk berdirinya Negara Khilafah Islamiyah dan kelestariannya, dan untuk menerapkan Islam, memperbaiki penerapannya, dan kelestarian penerapannya dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Sebab setelah Negara Khilafah Islam itu berdiri, partai Islam ideologis menjadi pengawas wilayah Negara Khilafah itu, mengoreksinya, dan memim­pin umat untuk membicarakan masalah dengannya, dan pada saat yang sama partai Islam ideologis menjadi pengemban dakwah Islam di negeri-negeri Islam dan penjuru dunia lainnya.

Related Posts with Thumbnails

Unduh Buku KEWAJIBAN SYARIAH ISLAM