Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Minggu, 28 Mei 2017

Gencatan Senjata Di Suriah Cara Amerika Dan Rusia Pertahankan Bashar



Dengan disponsori Amerika dan Rusia, gencatan senjata sementara berlaku di Suriah. Genjata senjata yang didukung Dewan Keamanan PBB ini, mulai berlaku Sabtu dini hari (27/2/2016) waktu setempat. Rezim Bashar menyetujui gencatan senjata ini dengan syarat pengecualian terhadap ISIS dan Jabhah an-Nusrah.

Sementara itu, sebagian pihak oposisi menyetujui gencatan senjata ini. Komisi Tinggi untuk Negoisasi -oposisi Suriah yang bergerak dalam politik- mengumumkan setuju dan berkomitmen dengan gencatan senjata tersebut. Termasuk menyetujui pengecualian terhadap ISIS, Jabhah an-Nusrah dan cabang Al-Qaidah.

”Komisi melihat gencatan senjata sementara selama dua pekan menjadi kesempatan untuk membuktikan keseriusan pihak lain berkomitmen dengan kesepakatan," kata pernyataan Komisi Tinggi untuk Negoisasi Suriah yang dipimpin mantan PM Suriah Riyad Hijab, seperti dilansir AI-Jazeera, Rabu (24/02/2016). Sikap ini diambil setelah menggelar pertemuan di Saudi menyikapi gencatan senjata tersebut.

Namun baru dua hari berjalan, gencatan senjata ini terancam menghadapi kegagalan. Pasalnya, rezim Suriah dan Rusia tetap saja membombardir bukan hanya kelompok yang mereka tuding teroris, tapi juga basis pemberontak yang sering disebut moderat.

Menurut kepala delegasi oposisi Suriah untuk negosiasi damai, Asaad al-Zoubi, hal ini dikarenakan masih terus dilakukannya serangan terhadap basis pemberontak moderat oleh pemerintah Suriah dan juga Rusia. Ia menyebut, pihaknya sudah menduga bahwa gencatan senjata ini tidak akan berlangsung lama. “Gencatan senjata yang mulai berlaku awal pada hari Sabtu telah runtuh sebelum dimulai," ucapnya, seperti dilansir Al Arabiya pada Senin (29/2/2016).

Sejak awal banyak pihak yang memperkirakan, gencatan senjata ini upaya Amerika dan Rusia untuk mempertahankan rezim Bashar Assad. Sampai negara-negara itu mendapatkan penggantinya yang tetap bisa dikontrol. Perjanjian ini cukup menjadi penekan bagi kelompok-kelompok oposisi untuk bergabung dengan koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat. Dengan syarat menerima sepenuhnya cara-cara Amerika untuk menyelesaikan persoalan Suriah.

Hal ini tampak dari persyaratannya yang mengecualikan ISIS dan Jabhah an-Nushrah. Tidak hanya itu, siapa saja yang tidak setuju terhadap rekonsiliasi dengan rezim diktator dicap sebagai teroris, yang artinya sah untuk diperangi dan dibombardir. Hal ini juga berlaku bagi mayoritas rakyat Suriah yang tidak setuju akan dicap sebagai pendukung teroris. Tidaklah mengherankan kalau selama ini Amerika, Rusia dan rezim buas Bashar menjatuhkan bom-bom mereka membunuhi rakyat sipil.

Terorisme Sebagai Sandaran

Memerangi teroris, inilah alasan yang kerap dipakai Amerika dan sekutunya untuk mempertahankan penjajahan, sekaligus melegalkan pembantaian terhadap umat Islam. Sederhananya, tuding saja satu kelompok teroris, pendukungnya teroris, maka mereka berhak diperlakukan apapun. Membunuh, membantai, bahkan dengan cara-cara yang sangat keji sekalipun seolah menjadi sah.

Hal yang sama digunakan Amerika terhadap umat Islam Suriah. Dengan cap memerangi teroris Amerika dan Suriah membombardir penduduk Suriah. Meskipun tampak saling berseberangan, sesungguhnya semua tindakan Rusia di bawah koordinasi Amerika. Serangan Rusia terhadap Suriah, tidak bisa dilepaskan dari pertemuan penting Obama dan Putin di New York (29/9/2015). Meskipun secara permukaan kedua belah pihak membahas soal Ukraina, namun keputusan yang penting justru terkait dengan Suriah.

Dalam konferensi persnya saat itu, Putin menyatakan pertemuan itu konstruktif dan serius. Saat itu ia mengumumkan adanya kemungkinan serangan udara Rusia di Suriah untuk melawan dan memerangi terorisme. Menteri luar negeri Amerika John Kerry mengumumkan, negaranya dan Rusia sepakat atas “beberapa doktrin asasi" tentang Suriah. Termasuk melakukan koordinasi dengan Rusia untuk menghindari terjadinya kemungkinan konflik apapun selama operasi di Suriah. (Russia today, AFR Reurers,AP, 30/9/2015)

Tidak lama setelah pertemuan itu, pada siang (30/9/2015), Rusia memasuki Suriah dengan rudal-rudal dan pesawatnya. Rusia secara terbuka menggunakan kekuatan militernya. Sejalan dengan Amerika, negara yang menjadi musuh umat Islam inipun menggunakan alasan memerangi teroris. Rusia memperluas makna teroris, terhadap siapapun yang melakukan perlawanan senjata terhadap rezim Bashar, Sekarang ini Amerika lebih memperluas lagi tuduhan teroris bagi siapapun, yang tidak mendukung rekonsiliasi dicap teroris.

Terkait masalah ini, Hizbut Tahrir dengan tegas mengecam kejahatan Amerika dan Rusia di balik gencatan senjata ini. Dalam selebarannya (15 Jumadul Ula 1437 H/24 Februari 2016) Hizbut Tahrir mengingatkan kaum MusIimin bahwa Amerika dan Rusialah yang merajut benang-benang kejahatan terhadap warga Syam (Suriah), bahkan seluruh kaum Muslimin.

”Mereka adalah musuh Islam dan kaum Muslim. Namun yang lebih aneh dan mengherankan, ikut bergabung pula orang-orang atas nama oposisi rezim dan atas nama warga Syam, bahkan dengan nama-nama Islami, lalu mereka bersegera menyetujui gencatan senjata yang menyedihkan dan menghinakan itu melalui persetujuan dari Hijab dan selain Hijab!" tegas Hizbut Tahrir dalam pernyataan persnya.

Hizbut Tahrir juga mengingatkan, gencatan senjata tidak lain untuk melindungi rezim Bashar sampai batas waktunya. Amerika tidak ingin Bashar tumbang sebelum Amerika menemukan pengganti khianat semisal Bashar. Pengganti yang bisa melayani kepentingan-kepentingan Amerika dan menjaga pengaruh Amerika seperti yang dilakukan Bashar. Karena itu Amerika memperpanjang rezim Bashar dengan sarana-sarana busuk dan dengan dukungan antek-anteknya, dengan tipu daya dan penyesatan. []

Timeline Penyelesaian Suriah ala Amerika

Skenario terbaik pemerintahan Obama untuk transisi politik di Suriah bukanlah meramalkan Bashar Al Assad akan mengundurkan diri sebagai pemimpin negara itu sebelum Maret 2017 -lebih lama dari masa jabatan Presiden Barack Obama setidaknya dua bulan- menurut sebuah dokumen yang diperoleh The Associated Press Suriah, sesuai dengan strategi itu, akan mengadakan pemilihan presiden dan parlemen baru pada bulan Agustus 2017 sekitar 19 bulan dari sekarang. Untuk sementara, Suriah akan diperintah oleh badan transisi. Namun, prioritas utama sekarang adalah membasmi Daesh (ISIS) dari markasnya di Suriah utara.

Utusan khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, telah menetapkan tanggal 25 Januari untuk memulai pembicaraan bagi perdamaian antara pemerintah dan oposisi di Jenewa. Ini termasuk reformasi politik besar, pencalonan legislatif sementara dan konferensi donor internasional untuk membiayai masa transisi dan rekonstruksi Suriah.

Pada bulan Maret 2017, timeline itu berbunyi: “Asad melepaskan jabatan presiden dan orang dalam lingkarannya harus hengkang.” Dokumen itu menggunakan ejaan nama yang disukai oleh pemerintah AS, Al Assad. Pemerintah baru Suriah akan mengambil kekuasaan penuh dari badan transisi setelah pemilihan parlemen dan presiden pada bulan Agustus 2017. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 169, Maret 2016
---

Syariah Dan Khilafah Tidak Mengancam Tapi Menjadi Rahmat



Syariah Dan Khilafah Bukan Ancaman

Sejak keruntuhan Khilafah Utsmaniyyah 28 Rajab 1432 H/3 Maret 1924, kaum Muslim di seluruh dunia tak lagi memiliki pemimpin. Tak ada lagi perisai yang melindungi mereka. Kondisi mereka laksana ayam kehilangan induk.

Pantas jika berbagai masalah menimpa mereka. Negeri Islam yang dulunya bersatu di bawah satu kepemimpinan dikerat-kerat menjadi negara bangsa. Ada lebih dari 50 negara. Sudah begitu, mereka dikangkangi oleh penjajah yang rakus. Kemerdekaan yang semula dijanjikan oleh para penjajah itu hanya janji belaka karena faktanya kekayaan alam mereka justru dirampok oleh negara penjajah itu.

Tak cukup itu, penjajah menelusup ke semua aspek kehidupan umat. Mereka membelokkan sejarah peradaban Islam yang pernah gemilang. Mereka menyusun kurikulum yang tidak memungkinkan kaum Muslim bangkit dengan agamanya. Mereka pun membuat stigma negatif terhadap Islam dan menawarkan konsep baru Islam ala Barat.

Umat Islam yang tak lagi punya pelindung sedikit demi sedikit teracuni pola pikir dan pola sikap dengan paradigma Barat itu. Bagaimana tidak, pemikiran sosial politik yang dikembangkan di dunia Islam tak lepas dari campur tangan Barat ini. Wajar jika kemudian generasi yang dihasilkan adalah generasi bersosok Muslim tapi berpikiran dan berperilaku ala Barat.

Ironisnya lagi, sampai-sampai mereka tak menyadari berbagai kerusakan yang terjadi di negerinya itu akibat ulah Barat. Mereka tetap saja mengangung-agungkan Barat dan menganggap Barat adalah panutan bagi kehidupan mereka. Padahal fakta kemaksiatan, kerusakan, dan kehancuran generasi di depan mata mereka.

Dalam kondisi seperti itu, ketika ada segolongan umat yang ingin memperbaiki keadaan dengan syariah Islam dan khilafah, ehhh... malah dituduh sebagai ancaman. Ini aneh bin ajaib.

Diibaratkan sebuah rumah, ada perampok masuk. Dia mengambil barang, menggergaji tiang-tiang rumah, melubangi atap serta dinding, bahkan menyiksa anggota keluarganya. Nah, ketika ada anggota keluarga yang ingin menolong dan membebaskan rumah itu, ternyata ada anggota keluarga lain yang malah melarang dan menudingnya sebagai ancaman. Siapa yang melarang ini? Dia adalah temannya rampok dan matanya buta. Dia telah lama berkawan dengan perampok itu dan dari perampok itulah berbagai informasi didapatkannya tentang saudara mereka yang sebenarnya baik itu.

Begitulah fakta kekinian yang terjadi. Banyak kaum Muslim yang tak bisa mengindera dengan benar fakta kerusakan yang ada di depan mata mereka. Mendudukkan masalah tidak mampu, apatah lagi memberikan solusi.

Justru yang sangat paham soal ini malah orang kafir. Mereka tahu bahwa kekuatan utama kaum Muslim itu ada pada agamanya. Islam dulu maju dan menjadi mercusuar dunia karena mereka berpegang-teguh pada agama mereka. Mereka sangat kuat dan ditakuti kawan serta lawan karena memiliki khilafah, sebagai pemersatu umat, dan menerapkan Islam secara kaffah.

Itulah mengapa usai menghancurkan kekhilafahan Turki Utsmani, Menteri Luar Negeri Inggris saat itu Lord Curzon ketika berbicara di House of Common mengatakan: "Situasinya sekarang adalah Turki telah mati dan tidak akan pernah bangkit lagi, karena kita telah menghancurkan kekuatan moralnya, khilafah dan Islam.”

Ya, negara-negara kafir Inggris dan Prancis -dua negara yang berperan besar dalam penghancuran khilafah- tahu betul kekuatan Islam dan umat Islam. Mereka telah merencanakan makar ini dalam waktu lama. Alasannya bukan karena Khilafah waktu itu berpihak kepada Jerman pada Perang Dunia I tapi rencana ini telah dibuat ratusan tahun sebelumnya.

Usaha yang pertama untuk menghancurkan persatuan Islam terjadi pada abad ke-11 ketika Paus Urbanus II melancarkan Perang Salib II untuk menduduki Al-Quds. Setelah 200 tahun pendudukan, akhirnya pasukan Salib dikalahkan di tangan Shalahudin Ayyubi. Di abad ke 15, Konstantinopel ditaklukkan dan benteng terakhir Kekaisaran Byzantium itupun dikalahkan. Lalu pada abad ke-16 Daulah Islam menyapu seluruh bagian selatan dan timur Eropa dengan membawa Islam kepada bangsa-bangsa itu. Akibatnya jutaan orang Albania, Yugoslavia, Bulgaria dan negara-negara lain memeluk Islam.

Setelah pengepungan Wina tahun 1529 Eropa membentuk aliansi untuk menghentikan ekspansi Khilafah di Eropa. Pada titik itulah terlihat bangkitnya permusuhan pasukan Salib terhadap Islam dan khilafah, dan dibuatlah rencana-rencana untuk menghancurkan Islam dan khilafahnya.

Tak cukup sampai di situ, bahkan ketika khilafah telah runtuh sekalipun, mereka terus saja berusaha agar kekuatan Islam ini tidak bangkit kembali dengan cara membuat rintangan dan hambatan. Di antaranya penanaman sikap patriotisme/nasionalisme, pembentukan organisasi kamuflase untuk mewadahi ghirah umat Islam, jeratan ekonomi, merusak generasi muda, hingga menanam penguasa boneka.

Yang pasti, mereka sangat takut kepada Islam. Mereka sadar bahwa kebangkitan Islam mengancam Imperialisme mereka di dunia Islam.

Rahmat, Bukan Ancaman

Walhasil, bagi kaum Muslim, mewujudnya Islam dalam seluruh aspek kehidupan adalah rahmat. Allah SWT menegaskan: “Kami tidak mengutus Kamu [Muhammad]. kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (TQS al-Anbiya' [21]: 107)

Konsekuensi menjadi rahmat bagi manusia dan alam Semesta, maka risalah ini diturunkan untuk mewujudkan kemaslahatan [jalb al-mashalih] manusia, dan mencegah kemafsadatan [dar'u al-mafasid].

Berbagai kemaslahatan akan lahir jika Islam diterapkan secara kaffah melalui institusi khilafah. Di antaranya adalah terjaganya agama [hifdz ad-din], jiwa [hifdz an-nafs], akal [hifdz al-‘aql], harta [hifdz al-mal], keturunan [hifdz an-nasl], kehormatan [hifdz al-karamah], keamanan [hifdz al-amn] dan negara [hifdz ad-daulah] yang notabene merupakan kemaslahatan bagi individu dan publik, misalnya, bisa disebut sebagai hasil penerapan syariah.

Lebih dari itu, penerapan syariah dan khilafah adalah perintah agama. Kaum Muslim yang mengkaji dengan benar nash-nash Al-Qur’an dan sunnah serta ijmak sahabat tak akan bisa menolak adanya kewajiban tersebut. Bahkan para ulama termasyhur dari berbagai mazhab pun sepakat akan hal itu.

Akhirnya, inilah Islam kaffah. Sistem ini akan memberikan kebaikan dan keadilan di muka bumi, karena Islam berasal dari Dzat Yang Maha Baik dan Adil. Sedikitpun tak memberi ancaman, malah menjanjikan kebahagiaan dunia dan akhirat. Sambutlah syariah dan khilafah. []

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 173, Mei 2016
---

Apa Kejahatan yang Ingin Dipertahankan?


kejahatan di indonesia di semua level

Inikah yang Ingin Dipertahankan?

Kerusuhan demi kerusuhan melanda beberapa penjara di Indonesia. Lembaga Pemasyarakatan itu bukannya menghasilkan orang baik, justru melahirkan orang-orang ganas dan beringas. Bukannya insyaf, tapi makin kalap.

Ditjen Pemasyarakatan melansir bahwa hampir semua Lembaga Pemasyarakatan (LP) dan Rumah Tahanan (Rutan) penghuninya melebihi daya tampung penjara tersebut. Ada rutan yang kapasitasnya hanya untuk 100 orang tapi dihuni 800 orang. Kondisinya hampir sama seperti itu.

Penuhnya penjara ini menjadi indikasi perkembangan jumlah penjahat di Indonesia. Ini membuktikan, penjara tak mampu menjerakan orang. Artinya, hukum yang ada tidak kuasa mencegah kejahatan baru muncul. Di layar kaca, para pejabat dan pengamat sendiri bingung memberikan solusi.

Di tahun 2013, BPS menghitung, setiap 1 menit 32 detik terjadi satu tindak kriminal di Indonesia. Sementara itu dari 100 ribu orang di Indonesia, 140 orang di antaranya berisiko terkena tindak kejahatan. Angka ini didasarkan pada laporan yang masuk ke kepolisian. Besaran angka kriminalitas ini akan bertambah bila ditambah angka kejahatan yanq tidak dilaporkan ke kepolisian.

Polda Metro Jaya misalnya, mencatat 3.000 kejahatan setiap bulan atau ratusan setiap hari terjadi di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya pada tahun 2015. Bentuknya antara lain kejahatan konvensional, kejahatan jalanan, pencurian dengan kekerasan, pencurian dengan pemberatan, dan pencurian kendaraan bermotor.

Itu baru yang kecil-kecil. Maling-maling berdasi pun terus bertambah. Meski sudah banyak koruptor ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ternyata korupsi terus terjadi. Ada 439 kasus yang ditangangi KPK sejak tahun 2004 hingga Juli 2015. Pelakunya birokrat di daerah hingga pejabat di pusat, sampai level menteri.

Miskin

Peningkatan angka kriminalitas di Indonesia sebagian tak lepas dari faktor kesejahteraan kecuali para koruptor. Meski Indonesia telah merdeka lebih dari setengah abad, kemiskinan tak pernah terselesaikan. Catatan Biro Pusat Statistik di tahun 2015 lalu, kemiskinan masih mencapai angka sekitar 29 juta jiwa. Tapi kalau menggunakan data Penerima Bantuan Iuran (PBI) -yang berarti mereka ini juga orang yang tidak mampu- angkanya bisa lebih besar lagi. Data menunjukkan mereka berjumlah lebih dari 90 juta orang.

Ini berarti hampir setengah penduduk Indonesia dalam kondisi miskin. Artinya, pembangunan selama ini bukannya mengentaskan kemiskinan rakyat tapi malah menambah jumlah orang yang menderita. Hanya sebagian kecil orang -yaitu orang-orang kaya saja- yang menikmati pembangunan. Indeks Gini -parameter yang digunakan untuk menunjukkan kesenjangan antara si kaya dan si miskin- menunjukkan peningkatan. Sebelum tahun 2010, rasio Gini Indonesia berada di kisaran 0,33-0,38. Setelah itu terus naik sampai pada angka 0,41 (2016). Ini menunjukkan ketimpangan yang kian lebar.

Sudah begitu lapangan kerja tidak tumbuh. Sebaliknya pengangguran meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pada akhir Januari 2016 lalu, angka pengangguran di Indonesia meningkat 320 ribu jiwa pada Agustus 2015. Hal itu disebabkan maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat perlambatan ekonomi. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada bulan kedelapan tahun 2015 sebanyak 7,56 juta orang atau 6,18 persen. Angka tersebut naik dari periode yang sama 2014 sebesar 5,94 persen atau 7,24 juta orang.
Bisa dibayangkan, apa yang akan terjadi dengan kian banyaknya orang miskin dan pengangguran? Korelasi bisa ke mana-mana. Selain masalah kriminalitas, juga masalah sosial termasuk masalah agama.

Kebebasan

Paham kebebasan yang dianut oleh negara bernama Indonesia ini melahirkan pola hidup bebas di mana-mana. Sudah menjadi rahasia umum, seks bebas telah membudaya di kalangan remaja di indonesia. Mau cari kondom tinggal mendatangi mesin ATM Kondom, juga gerai-gerai swalayan secara bebas. Berbagai survei membuktikan kebejatan remaja dalam hal seks bebas ini. Gaya hidup hedonis telah menjadi tren dan digandrungi para remaja.

Sumber-sumber kerusakan masyarakat pun bebas diperoleh. Minuman keras (miras), narkoba hingga gambar-gambar porno seperti makanan yang disuguhkan. Negara tak pernah melarang kaum Muslim menenggak miras. Malah negara membiarkan pabrik-pabrik miras berproduksi.

Demikian pula narkoba, peredarannya merajalela. Sampai ke kampung-kampung dan pelosok gunung. Hingga akhirnya saat ini negeri ini darurat narkoba. Betapa tidak, jumlah pengguna narkoba mencapai 4 juta orang lebih. Angka meninggal dunia tercatat 30-50 orang setiap hari.

Tak hanya itu, paham kebebasan itu telah melahirkan pemurtadan di mana-mana. Juga munculnya aliran sesat yang merusak agama mayoritas penduduk negeri ini.

Dan yang paling tragis dari paham kebebasan yang ditanamkan kepada masyarakat adalah kebebasan untuk tidak berhukum kepada hukum Allah SWT. Rakyat dicekoki sistem demokrasi. Dengan sistem itu, rakyat diajari untuk menyaIurkan hawa nafsunya melalui lembaga perwakilan. Di sana mereka diberi kewenangan membuat hukum. Dalam kondisi buta hukum ini, mereka kemudian disuguhi berbagai draft peraturan oleh asing sebagai 'tuan' mereka ditambah uang pelicin. Maka jadilah berbagai produk perundang-undangan yang lahir adalah undang-undang yang pro kepada asing. Ini fakta yang tak bisa ditolak, bahkan sudah diakui sendiri oleh wakil rakyat.

Ideologi kapitalisme telah menjadikan negeri ini kembali masuk dalam jerat penjajahan gaya baru. Utang terus bertambah. Sektor-sektor yang menguasai hajat hidup orang banyak jatuh kepada asing. Walhasil, mayoritas Muslim ini dikuasai oleh asing melalui kaki tangan mereka. Tidak hanya dalam hal kekuasaan tapi juga sistem hukum dan tata nilai yang diterapkan di tengah masyarakat. []

Ketakutan Stephen Hawking

Fisikawan terkenal Stephen Hawking-melontarkan ketakutan terbarunya. Ia mengatakan lebih takut terhadap kapitalisme dibanding ancaman robot atas manusia. Dalam pernyataannya dalam forum Reddit Ask Me Anything, Hawking mengungkapkan, mesin robot tidak akan membuat kiamat ekonomi, tapi justru manusia serakahlah yang akhirnya membawa pada kiamat ekonomi.

Ini pula yang dikemukakan oleh pakar ekonomi Richard Wolff. Ia menyebut, kapitalisme sebagai akar persoalan ketidakadilan ekonomi yang sekarang dirasakan ralwat AS. Bertambahnya pengangguran, tuna wisma, ketidakamanan dan gejolak sosial adalah dampak dari sistem perekonomian kapitalis yang membuka peluang pada perusahaan korporasi untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dan memicu munculnya sebuah sistem politik yang korup.

"Orang yang mengkritik atau mempertanyakan sistem kapitalisme akan dicap pengkhianat, tidak loyal bahkan dicap lebih buruk dari itu. Dan karena dianggap tabu, banyak yang tak sadar ketika kapitalisme sudah tidak efektif lagi, tidak adil dan merosot menjadi sebuah krisis dan bencana sosial yang sekarang hampir tidak bisa kita tanggung lagi akibatnya," sambung Profesor Wolff yang juga ikut berunjuk rasa bersama para demonstran anti-Wall Street di Zuccotti Park, New York.

Dalam bab Capitalist Crisis and Threat to US Hegemony, Hurry Shutt mengungkap berbagai krisis yang kini menimpa dunia pasca Perang Dingin berakhir. Krisis ekonomi, runtuhnya kekuasaan sipil di berbagai negara, meningkatnya angka pengangguran, dan kemiskinan, telah menjungkirkan optimisme yang sempat merebak beberapa tahun pada awal dekade 1990-an.

Kapitalisme global ini mempromosikan nilai-nilai individualisme, materialisme, konsumerisme, dan hedonisme. Sistem yang dikembangkan ideologi kapitalisme mengakibatkan ketidakadilan (kezaliman), kemiskinan, ketimpangan, kesenjangan menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 173, Mei 2016
---

Related Posts with Thumbnails

Spirit 212, Spirit Persatuan Umat Islam Memperjuangkan Qur'an Dan Sunnah

Unduh BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam