Senin, 29 April 2013

Pengertian Aqidah Arti Definisi

Pengertian Aqidah Arti Definisi
 



3. Pengertian Aqidah

      Karena makalah ini meninjau ideologi dari segi asas, maka akan diperdalam mengenai apa yang dimaksud dengan aqidah yang menjadi asas sebuah ideologi.

     Dalam kamus Al Muhith karya Al Fairuz Abadi, seperti dikutip Muhammad Husain Abdullah (1990) dalam Dirasat fi Al Fikr Al Islami, aqidah secara bahasa berasal dari  fi’il madhi ‘aqada, yang bermakna syadda (menguatkan atau mengikatkan). Maka dari itu, kata ‘aqada dapat digunakan untuk menunjukkan berbagai makna yang intinya mengandung makna ikatan atau penguatan, misalnya ‘aqdu al habl (mengikatkan tali), ‘aqdu al bai’ (mengadakan aqad (“ikatan”) jual-beli), ‘aqd al ‘ahdi (mengadakan aqad (“ikatan”) perjanjian) dan sebagainya (Muhammad Husain Abdullah, 1990).

     Masih secara bahasa, aqidah dapat pula bermakna ma in’aqada ‘alaihi al qalbu, yaitu sesuatu yang hati itu terikat padanya (Muhammad Husain Abdullah, 1990). Adapun pengertian in’aqada adalah jazama bihi (hati itu memastikannya) atau shaddaqahu yaqiniyan (hati itu membenarkannya secara yakin/pasti) (Taqiyuddin An Nabhani, 1994, Syakhshiyyah Al Islamiyah, Juz I, hlm. 191).

     Dengan demikian, menurut bahasa, apa yang disebut aqidah itu adalah segala sesuatu pemikiran yang dibenarkan secara pasti oleh hati sedemikian rupa, sehingga hati itu kemudian terikat kepadanya dan memberi pengaruh nyata pada manusia. (Taqiyuddin An Nabhani, 1994).
Pemikiran yang demikian haruslah berupa pemikiran yang mendasar, atau pemikiran yang tercabang dari pemikiran mendasar. Pemikiran seperti inilah yang mempunyai pengaruh nyata pada seorang manusia. Misalnya pemikiran tentang adanya Hari Kiamat, surga, neraka, dan sebagainya. Pemikiran seperti ini mempunyai pengaruh nyata dalam kehidupan manusia. Orang yang beriman pada Hari Kiamat, misalnya, akan berhati-hati dalam hidupnya, tidak hidup liar dan seenaknya, karena dia yakin bahwa suatu saat kelak semua perbuatannya harus dipertanggungjawabkan pada Hari Kiamat.
Sedangkan pemikiran-pemikiran yang tidak mendasar, dengan demikian, tidak disebut dengan aqidah, karena terikatnya hati dengan pemikiran-pemikiran seperti itu tidak memberikan dampak nyata terhadap manusia. Misalnya pemikiran bahwa bumi itu bulat, atau bahwa matahari pusat tatasurnya, dan sebagainya, bukanlah aqidah. Karena terikatnya hati dengan hal-hal tersebut tidak membawa dampak yang nyata terhadap keyakinan atau perilaku manusia.

     Pengertian aqidah secara bahasa ini menjadi dasar perumusan pengertian aqidah secara istilah. Jika aqidah merupakan pemikiran-pemikiran mendasar yang hati itu terikat kepadanya (membenarkannya secara pasti), maka pertanyaan yang muncul adalah, pemikiran apakah yang merupakan  pemikiran mendasar itu?

Dari sinilah muncul definisi aqidah secara istilah, yang dalam perumusannya terkandung pemikiran-pemikiran paling mendasar yang tidak ada pemikiran lain yang lebih mendasar lagi. Di atas pemikiran mendasar itulah dibangun pemikiran-pemikiran cabang yang berkenaan dengan kehidupan secara praktis, seperti sistem ekonomi, politik, dan sebagainya. Pemikiran-pemikiran ini adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan serta pemikiran-pemikiran lain yang berhubungan dengannya.

     Karena itu, secara istilah, aqidah adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan, serta tentang apa yang ada sebelum kehidupan dunia dan sesudah kehidupan dunia, serta hubungan kehidupan dunia dengan apa yang ada sebelum kehidupan dunia dan sesudah kehidupan dunia. (Muhammad Husain Abdullah, 1990). Definisi ini adalah definisi umum yang dapat berlaku untuk semua pemikiran mendasar atau aqidah. Ia dapat berlaku untuk aqidah ideologi kapitalisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan, atau aqidah ideologi sosialisme, yaitu materialisme, dan berlaku pula untuk Aqidah Islamiyah.

     Definisi aqidah ini bila diurai secara rinci, mengandung  4 (empat) poin pemikiran:
Pertama, aqidah membahas tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan. Dasar pembahasan tiga unsur ini berasal dari kenyataan bahwa manusia itu hidup di alam semesta (al insan yahya fi al kaun).
Karena itu, aqidah harus menjelaskan hakikat manusia sebagai subjek (pelaku) kehidupan.
Aqidah harus pula menjelaskan hakikat kehidupan, yang dengan adanya kehidupan itu dalam diri manusia, dia dapat beraktivitas dalam segala macam bentuknya. Yang dimaksud kehidupan di sini adalah sesuatu yang terdapat pada makhluk hidup dengan berbagai tanda-tanda kehidupan yang ada padanya, misalnya pertumbuhan, gerak, kebutuhan akan makanan, peka terhadap rangsang, dan sebagainya.
Aqidah harus pula menjelaskan alam semesta, karena alam semesta merupakan tempat manusia hidup.

Dalam poin pertama ini, aqidah menjelaskan hakikat tiga unsur ini berkaitan keberadaan ketiganya dalam kehidupan dunia. Apakah tiga unsur itu makhluk (diciptakan) ataukah azali (abadi)? Khusus untuk manusia, poin pertama ini menjawab pertanyaan untuk apa manusia itu menjalani kehidupan dunia?

Kedua, aqidah membahas tentang apa yang ada sebelum kehidupan dunia. Maksudnya, aqidah harus menjelaskan sesuatu yang ada sebelum manusia hadir dalam kehidupan dunia. Dengan ungkapan lain, poin kedua ini menjawab pertanyaan, dari mana manusia berasal? Apakah dia ada dengan sendirinya atau ada yang menciptakannya?

Ketiga, aqidah membahas tentang apa yang ada sesudah kehidupan dunia. Maksudnya, aqidah harus menjelaskan sesuatu yang ada setelah manusia mati atau meninggalkan kehidupan dunia. Dengan ungkapan lain, poin ketiga ini menjawab pertanyaan, ke mana manusia menuju setelah kematian? Apakah akan berakhir begitu saja ataukah akan ada pertanggung jawaban?

Keempat, aqidah membahas hubungan yang ada antara kehidupan dunia (yang di dalamnya ada unsur manusia, alam semesta, dan kehidupan), dengan apa yang ada sebelum kehidupan dunia dan sesudah kehidupan dunia.
Hubungan apakah yang ada antara apa yang ada sebelum kehidupan dunia dengan kehidupan dunia?
Hubungan apakah yang ada antara kehidupan dunia sekarang dengan apa yang sesudah kehidupan dunia?
Pertanyaan–pertanyaan inilah yang dijawab dalam poin keempat ini. Berikut bagan tentang empat pertanyaan tersebut.

 

SEBELUM KEHIDUPAN DUNIA
KEHIDUPAN DUNIA
SESUDAH KEHIDUPAN DUNIA




ASAL
MANUSIA?
HUBUNGAN?
 




·         MANUSIA?
·         KEHIDUPAN?
·        
HUBUNGAN?
ALAM SMESTA?
AKHIR

MANUSIA?

MISI HIDUP

MANUSIA?

MANUSIA
MATI
MANUSIA
LAHIR







Gb. 4. Pertanyaan Besar Manusia (Al ‘Uqdatul Kubro)

     Dengan demikian, dalam definisi aqidah, terdapat penjelasan-penjelasan yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mendasar. Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini disebut juga dengan istilah al ‘uqdah al kubro (simpul-simpul besar), yakni pertanyaan-pertanyaan besar dan mendasar tentang dari mana manusia (juga kehidupan dan alam semesta) berasal, untuk apa manusia hidup, dan ke mana nanti manusia setelah mati. (Muhammad Husain Abdullah, 1990).

     Jawaban-jawaban terhadap al-Uqdatu al-Kubro ini menurut Muhammad Husain Abdullah disebut dengan fikrah kulliyah (pemikiran menyeluruh) karena jawabannya mencakup segala sesuatu yang maujud (alam semesta, manusia, dan kehidupan) di samping mencakup ketiga fase kehidupan yang dilalui manusia, beserta hubungan-hubungan di antara ketiga fase kehidupan itu.  Jawaban itu disebutnya juga sebagai aqidah (pemikiran yang mendasar) dan qa’idah fikriyah (landasan pemikiran). Disebut aqidah, karena memang jawaban terhadap al-Uqdatu al-Kubro merupakan  pemikiran yang mendasar. Dan disebut qa’idah fikriyah, karena jawaban itu merupakan basis pemikiran yang di atasnya dapat dibangun pemikiran-pemikiran cabang tentang kehidupan.     

     Berikut adalah bagan yang menjelaskan hubungan aqidah sebagai jawaban dari Al Uqdatul Kubro.

DARI MANA MANUSIA ADA ?
UNTUK APA MANUSIA HIDUP ?
KEMANA MANUSIA SETELAH MATI ?
SEKUMPULAN JAWABAN TERHADAP AL-UQDATUL KUBRO
PERTANYAAN BESAR
 (AL-UQDATUL KUBRO)
 












AQIDAH à



Gb.5. Aqidah Merupakan Jawaban Al Uqdatul Kubro

Pengertian Akidah Arti Definisi

Tidak ada komentar:

Related Posts with Thumbnails