Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri liberalisme. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri liberalisme. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Senin, 15 Desember 2014
Kekeliruan Paham Liberalisme Paham Kebebasan
Pengurus MUI Kota Bogor Drs. Amirudin Abu Fikri MA, menjelaskan bahwa MUI telah mengeluarkan peringatan tentang bahaya SIPILIS (Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme).
“Liberalisme adalah paham yang bertentangan dengan Islam. Liberalisme adalah paham yang wajib dijauhi oleh Kaum Muslimin. Liberalisme tidak layak untuk manusia, lebih layak untuk binatang. Menerapkan liberalisme sejatinya lebih menjadikan manusia sebagai binatang.
MUI memandang bahwa liberalisme adalah virus yang meracuni jantung umat ini. Dampak yang ditimbulkan dari liberaliisme ini sudah menyentuh pada aspek aqidah, pendidikan, politik dan seterusnya,” papar ustadz yang berkecimpung sangat lama dalam dunia pendidikan Islam tersebut secara panjang lebar.
لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ
Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (HR al-Hakim, al-Khathib, Ibn Abi ‘Ashim dan al-Hasan bin Sufyan). Imam an-Nawawi dalam Al-Arba’un mengatakan, “Hadis ini hasan shahih. Kami telah meriwayatkan hadis ini dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad sahih.”
makna “lâ yu`minu ahadukum” adalah iman yang paripurna, bukan menafikan iman. Sebab, orang yang hawa nafsunya tidak mengikuti syariah sehingga ia bermaksiat, secara umum kemaksiatan itu tidak menjadikan dirinya kafir.
Dengan demikian hadis ini bermakna: seseorang tidak akan mencapai derajat Mukmin yang paripurna imannya sampai seluruh keinginan, kecenderungan dan kecintaannya mengikuti apa yang dibawa oleh Rasul saw.; baik perintah, larangan ataupun yang lainnya. Dengan itu ia menyukai apa yang diperintahkan dan tidak menyukai apa yang dilarang.
syariah yang dibawa Nabi saw. lebih dia kedepankan daripada hawâ-nya; daripada kecenderungan atau kecintaannya. Jika keinginannya bertabrakan dengan apa yang Nabi saw. bawa maka ia mengalahkan keinginannya dan memenangkan apa yang Nabi saw. bawa. Sebab, al-hawâ menjadi tâbi’ (yang mengikuti), sementara apa yang Rasul saw. bawa, yaitu Islam dan syariahnya, adalah yang diikuti (al-matbû’). Semua kemaksiatan itu muncul karena hawa nafsu lebih didahulukan daripada kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul saw.
Allah SWT menyifati orang-orang musyrik dalam banyak ayat, bahwa mereka mengikuti hawa nafsu (Lihat, misalnya: QS al-Qashshash [28]: 50. Karena itu Allah SWT melarang kita untuk mengikuti hawa nafsu (QS an-Nisa’ [4]: 135).
Untuk itu, Islam dan syariahnya harus kita jadikan standar dan pedoman. Semua keinginan, kecenderungan dan kesukaan dan tidaknya harus kita tundukkan pada ketentuan Islam dan syariahnya. Untuk mewujudkan itu kita harus bersungguh-sungguh mengerahkan segala daya upaya menundukkan hawa nafsu. Allah SWT menyediakan pahala yang besar dan surga bagi siapa saja yang bisa merealisasikan ini (QS an-Nazi’at [79]: 40-41).
Mari kita urai satu per satu kemudhorotan liberalisme yg muncul:
Di bidang Politik, sudah tercipta sistem perpolitikan yg carut marut penuh dgn intrik, kolusi dan korupsi
Di bidang pendidikan, terjadi kegagalan sistemik dalam penciptaan generasi yang berprestasi dan bertaqwa kepada Allah SWT
Di bidang Ekonomi, terbukti sampai sekarang tidak tercapai kesejahteraan yang diidamkan rakyat semakin sulit memenuhi kebutuhan hidupnya.
Di bidang sosial, masyarakat dipaksa hidup di tengah individualistik dan kebebasan berperilaku, bersikap dan berpendapat.
Di bidang keagamaan/aqidah, muncul paham-paham rusak dan merusak serta menyesatkan.
Pertanyaannya….
Sampai kapan hal ini atau kondisi ini akan terus berlangsung?
Menjadi tugas kita semua untuk berperan serta mengatasi permasalahan ini.
Puisi Liberalisme
Rabu, 03 Mei 2017
Siapa Ancaman Bagi Indonesia
Siapa
pihak yang mengancam Indonesia
Mereka
Bicara Ancaman Indonesia
Mahladi,
Ketua Biro Humas PP Hidayatullah
Yang
Membahayakan adalah Liberalisme
Yang membahayakan
Indonesia secara agama, politik dan ekonomi adalah liberalisme dan semacamnya
itu. Kita kan tahu MUI sudah memfatwakan bahwa paham-paham sekulerisme,
pluralisme dan liberalisme adalah paham yang sesat. Sesat itu artinya kan
membahayakan. Paham-paham inilah yang bisa melencengkan penduduk Muslim di
Indonesia dari pemahaman yang benar. Dan segala sesuatu pemahaman yang salah
itu pasti berdampak negatif.
Kita harus tahu, peran
ulama dan tokoh-tokoh Islam dalam memerdekakan dan membentuk negara ini sangat
kental Islam. Sehingga hal-hal yang bisa mengganggu atau melemahkan ideologi
Islam itu sebenarnya tidak sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa ini.
Nah, sedangkan paham
liberalisme dan semacamnya itu sudah tidak diperbolehkan lagi oleh ulama-ulama.
Tapi nampaknya sekarang malah semakin eksis, itu karena banyak komponen bangsa
belum paham betul bahayanya liberalisme dan semacamnya. []
Prof
Dr Maman Abdurrahman, Ketua Umum Persatuan Islam (Persis)
Imperialisme gaya baru
di Indonesia itu bukan sedang muncul tetapi sudah berjalan lama. Salah satunya
masuk ke dalam UU tentang air. Mereka yang menguasai air itu. Berikutnya juga
dengan masalah penguasaan kehutanan. Yang menguasai hutan itu banyak swasta
banyak pula asing. Ke depannya ini juga harus ditinjau secara UU.
Yang berikutnya
mengenai energi. Energi itu ternyata banyak dimiliki oleh orang asing juga. Dan
yang jelas sekali misalnya listrik itu dikuasai swasta. Dan kemudian, itu
menggunakan infrastruktur negara dengan keuntungan yang sangat besar sekali.
Tengku
Zulkarnain, Wasekjen MUI Pusat
Neoliberalisme
Jelas Membahayakan
Selain Syiah, yang
jelas membahayakan Indonesia adalah neoliberalisme. Neoliberalisme jelas
membahayakan ekonomi. Bung Karno dulu itu sudah jelas, anti kapitalis! Jelas
sekali itu, tapi sekarang ekonomi kita kan terjajah. Pemerintah harus
merekonstruksi ulang berbagai UU yang melegalkan asing menguasai sumber daya
alam kita. Masak, sampai PDAM di Jakarta dikuasai asing? ini kan sangat
berbahaya. Bahaya lainnya juga melegalkan perkawinan lain agama.
Jadi kapitalis
berbahaya, liberalis berbahaya. Komunis juga berbahaya, sekarang mulai unjuk
gigi. lni yang harus diwaspadai yang berbahaya seperti ini, seperti liberal
yang berupaya melegalkan kawin beda agama. Kapitalis yang merampok
kekayaan-kekayaan alam Indonesia. Komunis yang sudah jelas-jelas membunuhi
tokoh-tokoh dan ulama-ulama kita.
Dwi
Condro Triono, Pakar Ekonomi Islam
Jadi
“Budak” Perusahaan Asing
Melimpahnya sumber
daya alam di Indonesia, seharusnya menjadi berkah bagi seluruh rakyat
Indonesia. Namun, akibat diterapkannya neoliberalisme dan neoimperialisme dalam
pengelolaan negeri lndonesia ini, ternyata telah berperan besar dalam membuka
kran kebebasan bagi pihak asing yang memiliki modal besar, untuk mengeruk
segenap kekayaan alam di Indonesia. Sedangkan rakyat Indonesia, nasibnya hanya
sekadar menjadi buruh, kuli, bahkan “budak” bagi perusahaan-perusahaan asing
yang telah menancapkan cengkeramannya di bumi Indonesia ini. Maka, nasib rakyat
Indonesia sudah dapat diibaratkan seperti ayam mati di atas tumpukan beras.
Berjuta rakyat Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Sementara itu,
di hadapan matanya mereka harus menyaksikan berjuta-juta ton kekayaan alam
Indonesia terus-menerus diangkut ke luar negeri, seakan tanpa menyisakan
“tetesan” sedikitpun bagi rakyat Indonesia, sebagai pemilik sah dari kekayaan
alam tersebut.
Hal itu tentu sangat
berbeda jika syariah dan Khilafah Islamiyah yang diterapkan di Indonesia. Di
dalam ketentuan syariat Islam (sebagaimana yang telah dituangkan dalam sistem
ekonomi Islam), dengan jelas telah menentukan jenis-jenis kepemilikan yang boleh
dikuasai oleh manusia. Syariat Islam telah menentukan bahwa kepemilikan itu
terbagi menjadi tiga, yaitu: kepemilikan individu, umum dan negara. Syariat
Islam telah menentukan bahwa sumber daya alam, seperti: air, padang rumput,
minyak bumi, gas, berbagai macam tambang yang besar, hutan dsb masuk dalam
kategori kepemilikan umum. Sumber daya alam tersebut tidak boleh dikuasai oleh
individu atau swasta, terlebih lagi oleh swasta asing. Kekayaan alam tersebut
harus dikelola oleh negara, kemudian hasilnya wajib didistribusikan kepada
seluruh rakyatnya secara adil. Itulah salah satu bentuk jaminan dari Allah SWT,
jika Syariah
dan Khilafah Islamiyah
diterapkan oleh negara, maka insyaAllah seluruh rakyatnya akan merasakan
kemakmuran dan kesejahteraan secara bersama, baik bagi warga negara yang
beragama Islam, maupun yang tidak beragama Islam. Semuanya akan merasakan
keberkahan, kemakmuran dan kesejahteraan, karena diterapkannya syariah dan
Khilafah Islamiyah.[]
Hatta
Taliwang, Mantan Anggota DPR Rl
UU
Disiapkan Asing
Lebih kurang ada 115
UU menyangkut sumber daya alam misalnya minyak, mineral, batubara, menyangkut
sumber daya air, menyangkut hampir semua aspek lah termasuk penanaman modal dan
sebagainya itu mereka atur. Ada anggaran dana dan lain sebagainya untuk melakukan
itu semua dari Bank Dunia dan sebagainya.
Tapi sejujurnya, dulu
12 tahun yang lalu hingga beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih di DPR,
saya tidak tahu. Itu mungkin permainan tingkat tinggi ya, karena saya hanya
anggota DPR biasa. Jadi kita tidak tahu permainan apa di DPR, mungkin mereka dengan
sadar atau tidak mengakomodir. Yang jelas, banyak sumber menyebut banyak dana
mengalir di era-era itu. Karena UU-UU tersebut dibuat sejak era Habibie sejak
kejatuhan Soeharto. Setelah itu juga Amandemen UUD 1945 yang paling substansi
diubah.
Rupanya, pihak asing
telah menyiapkan konsep perubahan Indonesia itu pasca kejatuhan Soeharto.
Kapitalis asing tampak jauh lebih siap, lewat Bank Dunia, lewat IMF, lewat ADB,
sudah mempersiapkan banyak sekali dana dan program. Dan itu saya yakin sekali kawan-kawan
anggota DPR lainnya tidak sadar kalau kita sedang dikendalikan. Itulah
kecanggihan mereka itu.
Pada era Habibie 1998
hingga era Gus Dur 1999-2000 itu DPR produktif sekali membuat UU hingga 80-an
UU-lah yang dihasilkan. Itu semua adalah dari dikte IMF dan Bank Dunia dan ADB.
Dilanjutkan pada era Megawati masih berlanjut bahkan mengamandemen UUD 1945
hingga yang keempat itu. []
Suswanta,
Pengamat Pemerintahan UMY
Bahaya
Demokrasi
Ada banyak bahaya
demokrasi, berikut tiga di antaranya. Pertama, demokrasi mencampakkan aturan
Allah SWT karena demokrasi tegak di atas landasan sekularisme, paham yang
memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya masalah pribadi. Prinsip demokrasi
adalah kedaulatan rakyat. Rakyat berhak membuat aturan Undang-Undang dan
memilih pemimpin untuk menjalankan UU tersebut. Standar yang digunakan bukan
halal-haram tetapi hawa nafsu mayoritas. Kedua, demokrasi hanya jadi alat
penjajah. Normatifnya rakyat diberi kekuasaan tetapi faktanya hanya segelintir
rakyat yang punya modal, jaringan dan kuasa yang menjalankan kekuasaan. Yang
terjadi penjajahan minoritas terhadap mayoritas. Ketiga, demokrasi menyuburkan
korupsi berjamaah. Pemilihan anggota legislatif dan eksekutif membutuhkan biaya
sangat besar. Mereka menggunakan semua cara untuk berkuasa. Hanya mereka yang
punya modal atau dukungan pemodal dan lihai yang jadi. Setelah jadi penguasa
mereka hanya berpikir bagaimana mengembalikan modal dan mencari keuntungan
dengan segala cara. []
Bacaan: Tabloid Media
Umat edisi 157, September 2015
---
Jumat, 26 Mei 2017
Syariah Dan Khilafah Adalah Solusi
Di tengah upaya Hizbut
Tahrir Indonesia (HTI) menyadarkan masyarakat agar menjadikan syariah dan
khilafah sebagai solusi atas krisis multidimensi, muncul segelintir orang yang
menyatakan bahwa syariah dan khilafah adalah ancaman. Lantas siapa sebenarnya yang
mengancam bahkan merusak negeri ini? Dan mengapa syariah dan khilafah sebagai
solusi? Temukan jawabannya dalam wawancara wartawan tabloid Media Umat Joko
Prasetyo dengan Ketua Lajnah Fa'aliyah DPP HTI Muhammad Rahmat Kurnia. Berikut
petikannya.
Benarkah
syariah dan khilafah merupakan ancaman bagi negeri ini?
Syariah dan khilafah
bukan ancaman, melainkan solusi. Kita semua sudah tahu bahwa Indonesia dan
negeri-negeri kaum Muslim sedang mengalami krisis multidimensi. Kita ini sudah
merdeka dari segi militer, namun dalam segi ekonomi, politik, budaya tetap dicengkeram
oleh kekuatan asing. Barang tambang, air, dan minyak bumi kita dikuasai oleh
perusahaan asing dan di-back up oleh
negara asing.
Nah, untuk
menyelesaikan berbagai problem ini butuh solusi. Sosialisme/komunisme telah
terbukti gagal. Kapitalisme kini tengah sempoyongan dan makin menjauhkan
manusia dari derajat kemanusiaannya. Satu-satunya alternatif adalah Islam. Dan
bila berbicara Islam sebagai solusi yaitu dia, peraturannya syariah dan
pelaksananya adalah khilafah. Saya lihat, kalaupun ada yang layak merasa
terancam oleh syariah dan khilafah adalah negara asing penjajah yang selama ini
mencengkeram negeri-negeri Muslim, atau mereka yang membela kepentingan asing
tersebut.
Tapi
mengapa sering dikaitkan dengan kasus tindak terorisme?
Ada beberapa hal yang
penting kita pahami. Pertama, sejak runtuhnya menara kembar WTC, muncullah apa
yang kita kenal dengan war on terrorism
(perang melawan terorisme). Hakikatnya war on
terrorism ini merupakan cara Amerika untuk membungkam kebangkitan Islam.
Dulu pernah
ramai-ramai disebut bahwa pesantren adalah biang terorisme. Kitab kuning
mengajarkan terorisme. Sementara, Israel yang membunuhi kaum Muslim di
Palestina tidak disebut pelaku terorisme. Amerika yang terus membunuhi umat
Islam di Pakistan dengan pesawat tanpa awak tidak disebut sebagai teroris.
Jadi, tudingan tentang terorisme ini sudah sarat kepentingan politik.
Kedua,
diproklamirkannya 'khilafah' oleh ISIS membuat tudingan itu makin masif.
Padahal, sejak awal Hizbut Tahrir menyatakan bahwa proklamasi tersebut tidak
sah secara syar'i. Tindakan-tindakan kekerasan yang diekspose itupun tidak
sesuai dengan syariah. Namun, tetap saja pihak Barat menggunakan hal ini untuk
menghalangi laju perjuangan lslam.
Jadi, bila boleh saya
berpendapat, yang sedang dihalang-halangi oleh pihak Barat dan para
pendukungnya itu bukan syariah dan khilafah melainkan Islam. Sebab dengan
penerapan syariah dalam naungan khilafah, Islam akan benar-benar mewujud
menjadi sebuah kekuatan adidaya yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Semua
penjajahan dalam setiap aspeknya yang dilakukan oleh negara besar penjajah akan
dilibas.
Ada
juga yang mengatakan khilafah mengancam Indonesia, tanggapan Anda?
Mungkinkah khilafah
yang menerapkan hukum Allah SWT itu merupakan ancaman? Mungkinkan khilafah yang
menjaga akidah dan akhlak merupakan ancaman? Mungkinkan khilafah yang akan
menyatukan umat itu merupakan ancaman? Mungkinkah khilafah yang menjamin kebutuhan
pokok masyarakat itu merupakan ancaman? Mungkinkah khilafah yang melindungi
nyawa, darah, harta, akal, dan kehormatan umat manusia merupakan ancaman?
Mungkinkah khilafah yang memberikan perlakuan yang sama kepada Muslim maupun
non-Muslim merupakan ancaman? Mungkinkah khilafah yang akan mengembalikan
barang tambang, minyak, dan harta kekayaan milik rakyat kepada rakyat sebagai
pemiliknya merupakan ancaman? Mungkinkah khilafah yang akan melenyapkan semua
bentuk penjajahan itu merupakan ancaman? Andaikan semua itu dianggap ancaman
oleh sebagian kalangan, tapi menurut Allah Sang Pencipta Manusia, justru Islam
yang diterapkan oleh khilafah merupakan rahmatan
lil 'alamin.
Bagaimana
dengan tuduhan pengusung ide khilafah itu mengancam Pancasila?
Dulu pada zaman Orde
Baru, setiap aktivitas untuk menyelamatkan umat dengan penerapan Islam selalu
dituduh mengancam Pancasila. Tuduhan ini tampaknya sekarang diputar ulang.
Mari kita jujur
melihat. Apakah dalam pembuatan UU didasarkan pada: apakah pasal ini sesuai
dengan sila sekian, sementara pasal itu sesuai dengan sila sekian? Sejauh
pengetahuan saya tidak demikian. Yang terjadi justru, banyak UU yang didasarkan
pada kapitalisme dan liberalisme yang penuh dengan kepentingan asing.
Kita masih ingat,
anggota DPR Eva Kusuma Sundara mengakui, ada 76 UU yang draftnya dilakukan oleh
pihak asing. Begitu juga, Rizal Ramli pernah mengatakan, “Tak ada gunanya MPR
bicara empat pilar bolak-balik kalau tidak ada kemauan dari DPR untuk mengubah
20 UU yang dibiayai dan memihak asing.” Saya percaya beliau tidak sembarang
bicara. Nah, yang ditentang oleh Hizbut
Tahrir adalah kapitalisme dan liberalisme yang muaranya pada imperialisme gaya
baru. Inilah yang kini sedang membawa negeri kita ini ke jurang kehancuran.
Lantas, mengapa pihak
yang membiarkan negeri Muslim terbesar ini dikuasai liberalisme imperialisme
tidak disebut membahayakan Pancasila? Mengapa mereka yang mengundang asing
menguasai harta kekayaan rakyat tidak disebut membahayakan negara? Mengapa
justru pihak yang hendak menyelamatkan Indonesia dan umat umumnya dengan
syariah dituding seperti itu? Mengapa pihak yang getol melawan penjajahan asing
dalam sosial, politik, dan ekonomi justru yang dituding sebagai ancaman? Dari
sini, umat Islam perlu mewaspadai adanya skenario adu-domba antar komponen umat
Islam. Siapa yang untung? Asing dan para pembelanya.
Kalau
tudingan khilafah mengancam Bhineka Tunggal Ika bagaimana?
Itu tudingan yang
tidak sesuai fakta, juga ahistoris. Secara syar'i, syariat Islam memandang
bahwa berbagal agama boleh ada di dalam khilafah. Tidak ada paksaan dalam
menganut agama. Pada masa Nabi di Madinah, hidup orang Kristen dari Najran,
Yahudi, kepercayaan lama Aus dan Khajraj, dsb. Bahkan, berbagai etnis disatukan
oleh khilafah. Salah satu pengakuan jujur ditulis oleh Bloom dan Balair, “in the Islamic lands, not only Muslims but also
Christians and Jews enjoyed a good life” (Bloom and Blair, 2002, Islam a
thousand years of faith and power, London).
Bagaimana
pula tanggapan Anda dengan pendapat yang menyebutkan syariah yes, khilafah no?
Sebagai konsekuensi
dari akidah Islam, setiap Muslim wajib terikat dengan syariah Islam. Dalam
semua aspek kehidupan alias kaffah. Nah,
khilafah itu merupakan salah satu bagian dari syariah. Imam an-Nawawi dalam
Syarah Muslim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari mengatakan
bahwa para ulama sepakat bahwa kaum Muslim wajib mengangkat seorang khalifah.
Aneh, bila menerima syariah tetapi menolak khilafah.
Lantas,
sebenarnya yang menjadi ancaman negeri ini apa?
Itu yang saya katakan
tadi: kapitalisme, liberalisme dan imperialisme gaya baru. Bahkan, bukan
sekedar mengancam melainkan sedang melakukan pengrusakan.
Bila
khilafah diterapkan, bagaimana mengatasi itu semua?
Insyaa Allah, syariah telah memiliki perangkat
untuk itu. Mulai dari pemahaman hingga metode penerapannya akan mengungguli
krisis multidimensi yang sekarang ada. Sejarah akan terulang.
Lantas,
mengapa khilafah tidak diterapkan saja untuk mengganti kapitalisme/ liberalisme
yang nyata-nyata telah merusak negeri ini?
Ya, itulah yang
diwajibkan oleh Rasulullah dan Allah SWT kepada kita. []
Sumber: Tabloid Media
Umat edisi 173, Mei 2016
---
Minggu, 04 Juni 2017
Demokrasi Pintu Masuk Utama Neoliberalisme
Right Issue Aneka Tambang, Adhi Karya dan
Waskita Karya yang lalu menambah panjang daftar BUMN yang diserahkan kepada
asing; penentuan harga BBM mengikuti harga pasar internasional juga semakin
menunjukkan keberpihakan negara kepada asing. Maraknya pelacuran online dan
peredaran minuman keras merupakan fenomena gunung es lainnya dari diterapkannya
sistem (jebakan dari) asing. Mengapa itu semua bisa terjadi dan bagaimana
mengatasinya? Temukan jawabannya dalam wawancara wartawan Tabloid Media Umat
Joko Prasetyo dengan anggota Lajnah Maslahiyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia
(HTI) Muhammad Ishak. Berikut petikannya.
Benarkah
neoliberalisme mengancam Indonesia?
Untuk menjawab apakah
neoliberalisme mengancam Indonesia atau tidak, kita dapat merujuk pada definisi
dari neoliberalisme itu sendiri. Neoliberalisme berakar dari pemikiran
liberalisme yang menyerukan kebebasan pada manusia dalam segala hal seperti
kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi dan kebebasan
dalam melakukan kegiatan ekonomi.
Nah, neoliberalisme merupakan pembaruan dari
pemikiran liberalisme ekonomi yang dulu dianggap bertanggungjawab atas krisis
ekonomi di tahun 1930-an. Neoliberalisme sendiri merupakan pemikiran yang
mendorong pengurangan kontrol negara terhadap perekonomian dan memberikan peran
yang lebih besar kepada swasta. Pasalnya, intervensi negara dianggap membatasi
kebebasan individu masyarakat.
Dengan demikian,
setiap kebijakan yang bertujuan untuk mengurangi peran negara di bidang ekonomi
merupakan kebijakan yang bersifat neoliberal seperti privatisasi BUMN,
pengetatan anggaran melalui pengurangan subsidi, menghilangkan kontrol terhadap
harga barang dan jasa, mengurangi hambatan dalam perdagangan barang, jasa dan
tenaga kerja serta lalu-lintas modal.
Berdasarkan hal
tersebut, maka jika kita mengamati kegiatan ekonomi yang berlangsung selama ini
baik yang dijalankan oleh pemerintah maupun swasta maka kecenderungan itu
semakin kuat. Jika terus dibiarkan tentu akan semakin merusak tatanan kehidupan
masyarakat negara ini.
Apa
buktinya?
Buktinya banyak
sekali. Dari sisi regulasi misalnya, undang-undang yang mengerdilkan peran
negara dan memberikan peran yang dominan kepada swasta sangat banyak seperti UU
BPJS dan SJSN yang melepaskan peran negara dalam pembiayaan kesehatan, UU Migas
yang menyerahkan pengolaan migas kepada swasta, UU Lalu Lintas Devisa dan Nilai
Tukar yang memberikan kelonggaran modal keluar masuk sehingga nilai tukar
rupiah naik turun, keanggotaan Indonesia pada WTO dan sejumlah perjanjian
perdagangan dengan sejumlah negara yang bertujuan untuk memangkas hambatan
tarif dan non-tarif barang-barang impor.
Contoh lainnya,
pencabutan subsidi premium serta wacana penghapusan produk tersebut, pencabutan
subsidi listrik, rencana pembatasan pengguna gas elpiji tiga kilogram dan
sebagainya.
Contoh lain, kebebasan
memproduksi minuman alkohol. Meski pemerintah telah melarang penjualan minuman
beralkohol di minimarket, tapi setelah diprotes, toko khusus bir justru
diwacanakan untuk diberi izin. Celakanya, Pemda DKI justru menjadi salah
pemegang saham salah satu pabrik bir ternama di negeri ini.
Orang dewasa di negeri
ini juga bebas untuk melakukan bisnis prostitusi, terutama di media sosial yang
saat ini sedang menjamur. Media massa juga bebas untuk menayangkan berita dan
acara-acara apa saja yang dapat menggaet banyak iklan meski mengandung konten
kekerasan, pornografi dan penodaan agama dan perilaku yang merusak kepribadian
masyarakat.
Apa
akibat dari penerapan neoliberalisme?
Akibatnya, minimnya
peran negara dan dominannya peran swasta membuat jutaan masyarakat di negeri
ini menderita seperti sulitnya mendapatkan hak-hak dasar mereka seperti makan,
tempat tinggal yang layak, pendidikan, kesehatan dan keamanan serta pekerjaan yang
layak. Di sisi lain, kekayaan alam dikuasai oleh segelintir pemodal swasta
terutama asing.
Neoliberalisme juga
mendorong masyarakat untuk berperilaku materialistik. Kebahagiaan akhirnya
diukur dengan kepuasan materi. Hilangnya peran pemerintah dan 'rasa haus' yang
berlebihan terhadap materi mendorong sebagian orang untuk mendapatkan harta
dengan segala cara seperti korupsi (bagi) yang punya peluang, menjajakan diri,
mengedarkan narkotika, atau mempertaruhkan nyawa mereka dengan membegal dan
membunuh.
Yang tak kuat bahkan
bisa bunuh diri. Naudzu billah min dzalik.
Mengapa
neoliberalisme bisa tumbuh subur di Indonesia?
Neoliberalisme berasal
dari Barat dan kemudian disebarluaskan ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke
Indonesia. Ia dijajakan secara perlahan dan sistematis. Masuknya melalui agen
pemerintah yang tunduk pada kepentingan Barat, organisasi masyarakat, lembaga
pendidikan dan cendekiawan yang pro terhadap ide ini. Ide kemudian dilembagakan
dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan. Nah, sistem politik demokrasi
menjadi pintu utama masuknya ide ini.
Mengapa
Anda katakan demokrasi sebagai pintu masuk neoliberalisme?
Pasalnya, sistem
demokrasi telah memberikan ruang yang terbuka terhadap gagasan yang
mengatasnamakan kebebasan untuk hidup dan berkembang termasuk dalam bentuk
kebebasan dalam melakukan kegiatan ekonomi. Apalagi jika ide tersebut ditopang
oleh kekuatan politik dan dukungan finansial yang besar, maka ia mudah
diselipkan dalam berbagai regulasi, tak peduli itu sesuai dengan aspirasi
rakyat atau tidak.
Bukan rahasia lagi,
undang-undang yang selama ini berbau neoliberal terbukti banyak yang disponsori
oleh lembaga-lembaga asing seperti lMF, Bank Dunia, dan USAID. Mereka bahkan
secara terang-terangan mengakui hal tersebut.
Lantas
apa solusinya agar bangsa ini selamat dari ancaman neoliberalisme?
Kita harus kembali
kepada aturan pencipta manusia, Allah SWT dengan menerapkan syariah secara
total dalam naungan Khilafah Islamiyyah berdasarkan manhaj kenabian.
Kenapa
harus syariah dan khilafah? Tidak bisakah kita tetap menerapkan demokrasi
dengan menutup pintu masuk neoliberalisme?
Alasannya karena ia
merupakan perintah Allah SWT yang lahir dari dorongan akidah Islam. Manusia itu
lemah dan terbatas, termasuk dalam memformulasikan aturan yang tepat untuk
dirinya. Nah, aturan apa yang cocok
untuk manusia, kalau bukan dari Pencipta Manusia itu sendiri? Itulah syariah
Islam. Lalu mengapa khilafah? Pasalnya sistem pemerintahan tersebut hanya
menjadikan Islam sebagai sumber aturan (dari) Allah bukan akal dan hawa nafsu manusia.
Sedangkan demokrasi,
justru jalan masuk neoliberalisme. Dan ingat, demokrasi merupakan sistem kufur
yang bertentangan dengan islam.
Bagaimana
cara sistem khilafah menangkal ancaman neoliberalisme?
Sistem khilafah
memiliki sistem yang unik yang dapat menangkal ancaman neoliberalisme di
antaranya: sumber aturannya jelas yakni Islam yang digali dari nash-nash syara' bukan berdasarkan hawa nafsu manusia.
Baik pemerintah dan rakyat wajib terikat pada hukum syara' dalam menjalankan kegiatan mereka.
Di dalam sistem
tersebut, peran pemerintah dan individu masyarakat dijelaskan dengan sangat
jelas. Sebagai contoh, negara berkewajiban untuk menjamin kebutuhan dasar
tiap-tiap warga negara (sehingga) terpenuhi baik pangan, sandang, perumahan.
Layanan pendidikan, kesehatan dan keamanan juga disediakan secara gratis oleh
negara.
Di dalam sistem
khilafah, selain mengelola harta milik negara, pemerintah bertanggung jawab
untuk mengelola barang-barang yang masuk dalam kategori milik umum seperti
barang-barang tambang dan sarana-sarana publik yang hasilnya sepenuhnya
dikembalikan kepada rakyat. Barang yang masuk dalam kategori milik privat
diserahkan kepada masyarakat untuk dikelola sesuai dengan ketentuan syariah
yang diawasi pelaksanaannya oleh pemerintah. []
Bacaan: Tabloid Media
Umat edisi 150, Mei 2015
---
Sabtu, 20 Mei 2017
Serangan Masif Sudutkan Islam Dan Umat Islam
Upaya menyudutkan
Islam sangat terasa dalam pemberitaan media-media seperti Kompas, Tempo, BBC
atau VOA. Media-media yang dikenal sebagai corong sekulerisme, menerkam apa
saja, yang bisa digunakan untuk menyerang Islam. Seperti perjuangan menerapkan
syariah Islam, larangan miras, kecaman terhadap LGBT, penerapan sebagian
syariah Islam di Aceh, termasuk perda-perda yang dicap oleh mereka sebagai
perda syariah.
Serangan terkadang
dilakukan secara vulgar, sering kali secara halus. Tapi, siapapun yang membaca,
bisa paham bahwa itu adalah serangan terhadap Islam, langsung atau tidak
langsung. Kasus-kasus yang ada hanya sekadar perantara. Sebagai contoh,
siapapun paham, larangan membuka rumah makan secara terbuka, tidak bisa
dipisahkan dari aspirasi umat Islam untuk menghormati bulan Ramadhan. Tidak
membiarkan tempat-tempat maksiat, termasuk membiarkan orang-orang Islam makan
secara bebas di siang hari di bulan Ramadhan tanpa alasan syar'i yang
membolehkannya. Aspirasi ini kemudian tertuang dalam perda-perda yang dicap
kelompok liberal sebagai perda syariah.
Meskipun seolah hanya
menyoal perda yang melarang membuka rumah makan secara terbuka di bulan
Ramadhan, jelas media-media liberal membawa misi penting dalam opini yang
mereka bangun.
Pertama, stigma
negatif terhadap syariah Islam. Ingin dibangun opini, begitulah kalau aspirasi
Islam diikuti, rakyat kecil akan menjadi korban. Untuk menimbulkan simpati
massa, media seperti Kompas, mem-blow up
sisi kemanusiaan dari pemilik warung yang menangis saat dipaksa untuk menutup
warungnya.
Kedua, ide
sekulerisme. Dibangun opini, aturan agama seharusnya tidak menjadi aturan
negara. Termasuk aspirasi yang berdasarkan agama, berbahaya kalau menjadi hukum
positif, bertentangan dengan kemajemukan yang ada di masyarakat.
Ketiga, pemberitaan
media massa juga sarat dengan sosialisasi ide liberalisme yang intinya tidak
mau diatur oleh agama. Masalah ketaatan kepada agama diserahkan kepada pribadi
masing-masing. Mau taat atau tidak adalah pilihan masing-masing. Karenanya negara
tidak boleh campur tangan.
Untuk itu kita perlu
menegaskan, berbagai serangan terhadap ajaran Islam belakang ini, semakin
menunjukkan bahwa ide-ide sekulerisme, liberalisme, HAM, adalah ide yang
berseberangan dengan Islam dan berbahaya. Ide-ide ini menyebabkan umat Islam
akan semakin jauh dari syariah lslam. Terbukti, ide-ide inilah yang menjadi
dasar penolakan terhadap syariah Islam. Karena itu umat Islam harus tegas
menolak ide-ide ini.
Dalam Islam tidak
dikenal sekulerisme. Umat Islam justru harus menerapkan syariah Islam dalam
seluruh aspek kehidupannya. Bukan hanya individu, tapi juga politik, sosial,
pendidikan, hukum, dan kenegaraan. Karena itu, peran negara yang berdasarkan
syariah Islam sangatlah penting, agar syariah Islam bisa diterapkan secara
totalitas. Negara dan Islam adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Islam juga
bertentangan dengan paham liberalisme. Dalam Islam, setiap Muslim, wajib
terikat pada syariah Islam kapanpun, di manapun, dalam aspek apapun. Karenanya,
apapun yang wajib harus dilakukan, apapun yang haram harus ditinggalkan. Setiap
Muslim akan dituntut pertanggungjawaban oleh Allah SWT tentang keterikatan
mereka terhadap syariah Islam.
Kewajiban shalat,
shaum di bulan Ramadhan, menutup aurat, dan kewajiban-kewajiban lain dalam
Islam, pelaksanaannya bukanlah berdasarkan suka atau tidak suka, ikhlas atau
tidak ikhlas. Yang namanya wajib tetap wajib dilakukan, mau suka atau tidak
ikhlas. Meskipun pengguna kerudung dan jilbab tidak ikhlas, tetap saja hukumnya
wajib. Negara dalam hal ini berperan menjamin dan menjaga agar seluruh syariah
Islam bisa diterapkan. Hukum rajam bagi pezina misalnya, tetap harus dilakukan
oleh negara, meskipun pezina itu tidak ikhlas diberikan sanksi. Tugas negara
Islam dalam hal ini adalah menegakkan hukum Islam.
Kita perlu juga
tegaskan, problem mendasar dari perda-perda yang dicap syariah Islam itu adalah
karena diterapkan sebagian-sebagian. Aturan Islam tidak diterapkan dalam
seluruh aspek kehidupan atau tidak diberlakukan sama kepada setiap pihak.
Negara yang berdasarkan syariah Islam, tentu bukan hanya melarang warung-warung
buka di siang hari di bulan Ramadhan, bukan pula berlaku hanya untuk warung
kecil, tapi rumah makan besar.
Syariah Islam juga
mewajibkan negara menyejahterakan rakyatnya secara ekonomi. Karena itu negara
khilafah wajib menjamin kebutuhan sandang, pangan, dan papan dari setiap
individu rakyat. Pelayanan pendidikan, kesehatan, dan keamanan, wajib gratis
karena merupakan tanggung jawab negara Islam. Karena itu, tidak ada alasan
seseorang melakukan kemaksiatan dengan alasan ekonomi.
Hal ini juga terkait
dengan pengelolaan kekayaan alam sebagai sumber pendapatan negara. Berdasarkan
syariah Islam, barang-barang tambang yang jumlahnya melimpah adalah milik
rakyat, yang dikelola untuk kepentingan rakyat. Tidak boleh diberikan kepada
swasta. Hal ini jelas akan menjadi sumber pendapatan negara khilafah yang besar
untuk melayani kebutuhan rakyat.
Semua ini ditopang
dengan pendidikan yang berdasarkan Islam. Setiap rakyat diberikan edukasi agar
taat kepada hukum Allah SWT, memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Sehingga
akan muncul ketakwaan dari rakyat secara total. Lagi-lagi peran negara khilafah
sangat penting untuk menerapkan kebijakan pendidikan Islam.
Walhasil, seluruh
syariah Islam itu hanya bisa terwujud kalau di tengah-tengah umat terdapat
negara khilafah. Dengan penerapan syariah Islam secara totalitas inilah, Islam
akan bisa dirasakan sebagai rahmatan lil alamin,
menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia. Inilah wujud takwa sesungguhnya. Taat
dan takut kepada Allah dalam segala aspek kehidupan. Inilah yang diharapkan
dari Ramadhan kita. Allahu Akbar. []
Bacaan: Tabloid Media
Umat edisi 176, Juni-Juli 2016
---
Kamis, 04 Mei 2017
Siapakah Yang Mengancam Indonesia
Sesungguhnya umat
Islam memiliki peran sangat besar mengusir penjajah dari negeri ini. Mereka
berkorban harta dan jiwa. Lihat saja bagaimana Rais Akbar Nahdlatul Ulama (NU),
Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy'ari mengobarkan Resolusi Jihad pada 10 November
1945.
Anehnya, begitu
merdeka, para penguasa justru mengambil konsep-konsep dari orang kafir untuk
mengatur negeri ini. Bahkan, aturan hukum diambil sepenuhnya dari Belanda,
penjajah yang telah menjarah kekayaan negeri ini lebih dari tiga abad lamanya.
Maka, memang penjajah
telah hengkang secara fisik, tapi kaki dan tangan mereka masih mencengkeram
erat negeri khatulistiwa yang kaya raya ini. Ini bisa berlangsung karena sistem
negeri ini sama dan sebangun dengan sistem penjajah.
Melalui liberalisme
gaya baru atau neoliberalisme, penjajah menjadikan negeri ini membuka seluruh
pintu-pintunya untuk dimasuki dengan leluasa. Pintu-pintu itu adalah peraturan
perundang-undangan yang pro terhadap asing.
Terjadilah
liberalisasi di seluruh sektor melalui legalisasi peraturan yang disusun oleh
wakil rakyat. Melalui proses demokratisasi yang dianggap sebagai sistem
pemerintahan terbaik, wakil rakyat atas nama rakyat justru melindungi
keberadaan asing. Para penjajah ini bisa kembali leluasa menjarah atas nama
pasar bebas.
Neoliberalisasi ini
semakin nyata di era reformasi. Lebih nyata lagi di era Jokowi-JK. Di saat
pengangguran sekarang mencapai lebih dari 11 juta orang, pekerja-pekerja Cina
justru masuk. Ketika industri dalam negeri mulai tumbuh, barang impor dari Cina
merajai pasar. Sudah dapat diduga anak negeri terpinggirkan. Bukan karena
kemauan mereka tapi karena kebijakan pemerintah.
Badan Usaha Milik
Negara (BUMN) mulai dijual lewat bursa. Siapa yang beli? Ya para pengusaha,
termasuk pengusaha asing. Perusahaan-perusahaan swasta pun telah berpindah
tangan kepada orang asing. Penjarah negeri ini seperti Freeport, Chevron, Exxon
Mobil dll makin mantap menjarah tambang migas lndonesia.
Liberalisasi itu
menjadi wujud penjajahan gaya baru atau neoimperialisme. Lihatlah bagaimana
para penguasa lebih tunduk kepada asing dibanding kepada aspirasi rakyatnya
sendiri.
Rakyat? Ya, mereka
menjadi pelengkap penderita. Benarlah anekdot bahwa mereka telah diwakili
kesejahteraannya oleh wakil rakyat.
lronisnya, ketika ada
gerakan lslam yang menawarkan solusi atas negeri ini secara konseptual, malah
dituding mengancam negara. Padahal, diterapkan saja belum, tapi sudah
ditakut-takuti. Tudingan fundamentalis-lah, teroris, ekstrimis, dan sebagainya
disematkan agar rakyat tidak mendukung dan bergabung dengannya.
Sementara
neoimperialisme dan neoliberalisme yang sudah nyata-nyata merusak dan mengancam
kelangsungan negeri ini malah dipertahankan dan dipuja-puja. Mereka lupa bahwa
konsep tersebutlah yang menjadikan negeri ini karut marut seperti sekarang.
Ada dua perspektif
terhadap kondisi tersebut. Pertama, liberalisme dan imperialisme ini sengaja
dipertahankan karena hanya dengan itulah asing bisa mengamankan keberadaannya.
Hanya dengan itu pula, antek-antek asing bisa berkuasa dan ikut-ikutan menikmati
kekayaan negara.
Kedua, mereka sangat
takut terhadap Islam. Sejarah masa lalu menjadi cermin bagaimana Islam bisa
mengalahkan mereka. Inilah dendam masa lalu Barat yang kafir atas Islam. Maka
sebaik apapun konsep Islam, pasti mereka tolak karena dendam dan kebencian.
Islam
Menyelamatkan
Maka bisa diduga orang
yang mengatakan Islam sebagai ancaman adalah mereka yang pertama, buta terhadap
Islam; kedua, memang dendam dan benci terhadap Islam. Tak ada ceritanya, dalam
kurun sejarah masa lalu lebih dari 13 abad kaum Muslim menguasai dunia, ada
kerusakan yang begitu parah dalam segala sektor.
Malah Islam menjadi
mercusuar bagi peradaban manusia. Raja dan Kaisar Eropa sampai-sampai
menginginkan agar keluarga mereka bisa dididik oleh pendidikan Islam (di
Khilafah). Dunia yang saat itu hidup dalam kebodohan berubah karena imbas
perkembangan peradaban Islam.
Dalam situasi
kehancuran peradaban Barat sekarang, tak ada lagi solusi kecuali hanya kembali
kepada Islam. Hanya orang yang bodoh, mempertahankan sistem
kapitalisme-liberalisme-sekulerisme yang sedang sekarat. Kembali kepada
komunisme, lebih bodoh lagi karena sistem itu telah hancur.
Sistem Islam atau
khilafah, sesungguhnya adalah sistem yang pas dengan manusia. Sistem ini pernah
diterapkan oleh Rasulullah SAW dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Tata
aturan di dalamnya dibuat oleh Allah SWT, Dzat Yang Maha Benar dan MahaAdil.
Keberadaannya pun
tidak hanya bagi kaum Muslim, tapi bagi manusia. Termasuk non-Muslim. Tak ada
diskriminasi. Sistem ini memuliakan manusia dan tetap menghormati keberagaman
di tengah masyarakat.
Lebih dari itu,
khilafah akan menjadi jalan bagi sebuah kemajuan dan kesejahteraan bagi umat
manusia di dalamnya. Khilafah akan menjadi negara adidaya yang siap menghadapi
upaya intervensi baik secara politik dan ekonomi.
Dan yang terpenting,
dengan khilafah, syariah lslam bisa diterapkan secara kaffah. Dampaknya, hidup
akan menjadi berkah. Pintu keberkahan langit dan bumi akan dibuka oleh Allah
karena Allah ridha terhadap kehidupan di muka bumi yang sesuai aturan-Nya.
Siapa yang tidak ingin
hidupnya mendapat ridha Allah? Hanya setan yang tidak menginginkan itu semua
terwujud di muka bumi. Mengapa? Karena dengan sistem Islam, umat dijaga agar
mereka selamat masuk surga. Jadi lslam adalah ancaman bagi setan. []
Sumber: Tabloid Media
Umat edisi 157, September 2015
---
Rabu, 28 Oktober 2015
Muslimah Taat Kepada Islam
Muslimah Cerdas Muslimah Dambaan Umat. menyatukan pemikiran
untuk hidup di bawah bingkai Khilafah Islamiyah. seorang Muslimah adalah
seorang perempuan yang memiliki sikap dan berpikir dalam memutuskan perkara
sesuai dengan Islam. Pada fakta dunia
saat ini, sangat sulit untuk menjadi seorang Muslimah yang taat kepada Islam
secara kaffah. Perempuan saat ini dipaksa untuk keluar dari tugasnya,
perempuan dituntut untuk bekerja sehingga melalaikan tugas utamanya yaitu
menjadi pendidik generasi. Akibatnya, mereka melahirkan generasi-generasi yang
terpuruk. Perempuan diajak keluar dari tugasnya dengan dalih pemenuhan
kebutuhan hidup, hingga akhirnya sudah terjerumus kepada sikap hedonis, konsumtif
hingga sekularis.
Muslim turut ambil
bagian untuk menyebarluaskan ide penerapan Islam secara kaffah.
Remaja adalah aset umat
yang akan memimpin peradaban kedepannya. Remaja adalah agen perubahan yang
mampu meningkatkan martabat Negara, Ia memiliki tugas dan peran yang besar
dalam mengembalikan kejayaan Islam. Namun, kini remaja digerogoti oleh gaul
bebas dan pemikiran yang kotor sehingga tampaklah berbagai kehancuran
negeri ini. Dengan fakta yang sedemikian rusak, maka mengambil peran penting
dalam merubah kondisi yang rusak ini. Remaja Smart Pemimpin Peradaban Dalam
Naungan Khilafah.
menyadarkan dan menyeru para remaja untuk membangun kembali
peradaban Islam yang mulia dan meninggalkan ideologi kufur. Remaja adalah tiangnya
peradaban umat sebagaimana pemuda pemudi yang tangguh dan smart, Mush’ab bin
Umair, Aisyah, Fatimah, dan lain-lain yang membangun peradaban Islam yang
gemilang. Oleh karena itu, wahai remaja terimalah seruan kami yakni ikut serta
dalam memperjuangkan kembali kehormatan Islam yang dicabik-cabik oleh sistem
yang rusak yaitu Kapitalisme Demokrasi. Marilah kita bangun sekali lagi
kejayaan Islam dengan penegakan Syariah dan Khilafah.
Save Generation from
HIV/AIDS, Gaul Bebas dan V-Day with Khilafah. untuk tidak terjebak pada
pergaulan bebas saat ini yang semakin marak ditengah-tengah masyarakat. Pola
hidup remaja yang ikut-ikutan dalam merayakan Valentine Day saat ini harus
segera dihentikan. Dukungan keluarga juga sangat penting dalam membentuk pola
sikap remaja. untuk dapat menyadarkan generasi remaja saat ini yang sudah
terpengaruhi oleh budaya asing (barat kafir).
fakta-fakta bahwa
pacaran menjadi hal yang biasa, malahan jika remaja tidak pacaran maka dianggap
tidak biasa dan ketinggalan zaman. Pacaran yang akhirnya mengarah ke pergaulan
bebas dan berujung pada aborsi. fakta sejarah valentine yang menyuburkan
pergaulan bebas yang berakhir pada pengidap HIV/AIDS. Jadi ini semua adalah
jebakan liberalisme untuk remaja Muslim.
bagaimana Islam
menyelasaikan masalah penyebaran HIV/AIDS, gaul bebas. Pertama, Islam menuntut
negara Khilafah untuk memproteksi penduduknya dari tontonan atau hal-hal yang
merusak akidah umat. Negara Khilafah juga akan memberikan sanksi hukum kepada
pelaku kejahatan (zina), jika pezina tersebut telah menikah maka akan dijatuhi
hukum Rajam, dan diJilid 100x untuk pelaku yang belum menikah. Hukuman ini
berfungsi sebagai penebus dosa pelaku zina di akhirat, juga sebagai pencegah
terjadi kembali perzinahan.
fenomena pergaulan bebas
remaja saat ini yang sangat mengkhawatirkan. tanggal 14 februari tanggal
tersebut menjadi ajang gaul bebas yang terus dijajakan oleh kebudayaan asing
kafir. menyadarkan para remaja untuk tidak terjebak dalam pergaulan bebas, juga
memahami bahwa solusi penyelasaian masalah HIV/AIDS dan gaul bebas hanya dengan
menerapkan Islam secara kaffah dalam bingkai Daulah Khilafah.
Save Generation from
HIV/AIDS, FREE SEX dan V-DAY with KHILAFAH. penyadaran terhadap generasi muda
tentang bahayanya virus mematikan HIV/AIDS tersebut serta Khilafah sebagai
satu-satunya solusi setiap permasalahan yang dihadapi umat saat ini khususnya
para remaja. para remaja untuk tidak ikut terjebak dalam pergaulan bebas yang
semakin marak di tengah-tengah masyarakat dan juga pola remaja yang ikut-ikutan
dalam merayakan valentine day saat ini harus segera dihentikan. Dan dalam hal
ini, dukung keluarga juga sangat penting dalam membentuk pola sikap remaja.
menyadarkan generasi remaja saat ini yang sudah terpengaruhi oleh budaya asing
kafir (barat).
Valentine Days Free Sex,
HIV/AIDS: Jebakan Liberalisme Pada Remaja Muslim. sikap para remaja dewasa ini
yang beranggapan bahwa pacaran merupakan aktivitas yang biasa sehingga bagi
yang tidak pacaran dianggap ketinggalan jaman adalah pola pikir yang keliru dan
hal itu sama halnya dengan perayaan hari Valentine yang semakin menyuburkan
pergaulan bebas hingga berujung pada HIV/AIDS. Jadi semua itu tidak lain adalah
jebakan liberalisme
untuk remaja Muslim.
mengapa umat Islam tidak
dibenarkan ikuta merayakan dalam acara Valentine’s Day tentu mempunya dasar
yang kuat yaitu karena Islam mengharamkan seorang Muslim bertingkah laku
menyerupai orang-orang kafir. mengutip sebuah hadits Rasul bahwa “barangsiapa mengikuti suatu kaum
maka dia termasuk dalam golongan kaum tersebut.”
bagaimana Islam dalam
menyelesaikan masalah penyebaran HIV/AIDS, free sex dan lain sebagainya.
Pertama Islam menuntut negara Khilafah untuk memproteksi penduduknya dari
tontonan yang merusak aqidah umat dan negara sebagai pemegang kendali
pelaksanaan Syariat Islam akan memberikan sanksi hukum kepada pelaku zina
sebagaimana yang telah ditentukan dalam Islam.
Dalam hal ini, untuk
mewujudkan negara yang berkompeten dalam menjaga generasi haruslah dengan
menerapkan Syariat Islam secara Kaffah yang tentunya dalam bingkai negara
Khilafah. berpegang teguh pada Islam dan
menolak ajaran-ajaran bebas kaum kafir.
Sabtu, 20 Mei 2017
Ekonomi Di Bawah Jokowi, Ngeri!
Menteri-menteri yang
terkait dengan barang kebutuhan pokok rakyat terus mondar-mandir ke Istana
Negara. Wajah Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Perdagangan Thomas
Lembong, Menteri Perindustrian Saleh Husin, dan Menteri Koperasi dan UKM
Puspayoga terkadang terlihat serius sehingga tak mau melayani wawancara
wartawan.
Yah, pemerintah lagi bingung menghadapi
lonjakan harga kebutuhan pokok yang melejit cukup tinggi. Kenaikan itu sendiri
tidak biasa. Mengapa? Karena biasanya baru ada kenaikan harga kebutuhan pokok
bila dekat-dekat Lebaran. Tapi kali ini, Ramadhan belum tiba tapi harga sudah
merangkak naik.
Padahal permintaan
terhadap sembilan bahan pokok (sembako) dan kebutuhan lainnya tergolong tetap
alias stagnan, belum ada lonjakan yang tinggi. Namun kenapa, kenaikan harganya
begitu tinggi.
Yang paling terlihat
adalah harga daging sapi. Harga daging ini tiba-tiba menembus Rp130.000 per kg.
Para pedagang di pasar pun mengeluh, terlebih lagi konsumen. Demikian juga
daging serta telur ayam. Kenaikan juga pada bawang merah, cabai, wortel, minyak
goreng, dan gula pasir.
Dalam kondisi seperti
ini, Jokowi menginstruksikan agar para menterinya segera mengambil kebijakan
untuk menurunkan harga-harga itu. Khusus untuk daging, Jokowi bahkan mematok
harga daging harus sampai Rp80.000 per kg. Inilah mengapa mereka bolak-balik ke
istana.
Pemerintah mengakui
ada mafia yang memainkan harga pangan di pasar. Selain itu, menurut pemerintah,
rantai distribusi dinilai terlalu panjang. Para menteri dititahkan Jokowi
mencari solusi soal ini. "Harapannya adalah bagaimana harga di tingkat
petani bisa menguntungkan. Kemudian di tingkat pengusaha juga menguntungkan,
tetapi konsumennya tersenyum. Memang butuh waktu tidak bisa selesai hanya
sehari dua hari. Ini butuh waktu karena persoalan puluhan tahun yang harus kita
selesaikan," kata Mentan.
Maka langkah yang
terlihat di lapangan adalah operasi pasar. Pemerintah katanya menggelar operasi
pasar di 4.000 titik di seluruh Indonesia pada Ahad (12/6/2016). Harapannya,
dengan operasi pasar itu akan membanjiri pasar dengan produk/komoditas sejenis agar
harga produk/komoditas bisa turun. Berhasilkah? Belum.
Di samping itu,
pemerintah membuka kran impor baik daging sapi, beras, dan bawang merah. Ini
jadi masalah sendiri karena justru menghancurkan harga di tingkat produsen.
Yang diuntungkan malah para importir yang notabene pengusaha besar. Siapa
mereka? Mereka yang dekat kekuasaan.
Pengamat ekonomi dari
INDEF Enny Sri Hartati menilai pemerintah tak memiliki konsep yang jelas dalam
mengelola negara. Kenaikan harga pangan, menurutnya, bukanlah sesuatu yang
tiba-tiba tapi sudah berlangsung tiap tahun. Tidak ada antisipasi.
Tak mengherankan,
pemerintah terlihat seperti menggunakan jurus mabuk ketika menghadapi
permasalahan baru. Apatah lagi, sebelum kampanye, Jokowi sudah kadung janji macam-macam. Janji tidak akan
impor daging. Tidak akan menambah utang luar negeri. Akan meningkatkan daya
saing produk dalam negeri. Akan menurunkan harga sembako. Dan sebagainya.
Pengamat ekonomi
politik Salamuddin Daeng menilai, satu pilar ekonomi pemerintahan Jokowi sudah
roboh, yakni sumber pembiayaan negara dan pemerintahan. Penyebabnya adalah
penerimaan negara dari pajak dan non pajak yang jatuh semakin dalam
dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. APBN gagal mencapai target. Pajak seret,
sementara sumber daya alam sudah ada di tangan asing.
Sektor keuangan secara
keseluruhan pada era pemerintahan Jokowi menghadapi masalah yang sangat serius.
Mengapa? Ini dikarenakan utang pemerintah dan swasta yang semakin besar baik
dari dalam negeri maupun luar negeri.
Walhasil, saat ini
rakyat dibebani kenaikan harga yang tinggi, termasuk kenaikan tarif listrik 140
persen bagi pelanggan rumah tangga 900 VA pada 1 Juli 2016, dan dibebani beban
utang yang berkepanjangan. Ketika utang negara naik, bukankah nanti rakyat yang
akan membayarnya?
Dan kenaikan
harga-harga ini biasanya akan berdampak panjang. Sangat sulit untuk turun lagi.
Inilah yang akan mengakibatkan beban rakyat bertambah. Tidak hanya pada masa
sekarang tapi juga berikutnya dengan beban utang yang harus dibayar penduduk
negeri.
Berpangkal
pada Liberalisme
Situasi ekonomi
Indonesia tidak lepas dari penerapan sistem ekonomi liberal. Neoliberalisme
yang diambil sebagai prinsip kebijakan negara dalam mengatur urusan masyarakat
ini hanya menguntungkan pihak tertentu yakni para pemilik modal alias kapitalis
saja. Dan itu jumlahnya sangat sedikit.
Sementara rakyat hanya
menjadi pelengkap penderita. Rakyat menjadi obyek eksploitasi mereka. Mereka
ibarat tikus yang sengsara di lumbung padi. Tak bisa hidup enak di tengah
jumlah makanan yang berlimpah.
Ini terjadi karena
sang pengatur rumah justru memberikannya kepada tamu asing dan sekelompok orang
tertentu yang sudah membiayai dirinya untuk sampai kepada kekuasaan. Siapa
mereka? Mereka adalah Asing dan Aseng, sementara para penguasa itu adalah
Asong, yang menjual kekuasaannya kepada asing dan aseng tersebut.
Padahal, sistem
neoliberalisme ini sendiri adalah sistem yang batil. Di Barat sistem ini
terbukti kerusakannya. Sekarang mulai digugat oleh rakyat mereka sendiri.
Beberapa negara Barat sudah menyatakan bangkrut akibat kapitalisme-liberalisme
ini. Bahkan Dana Moneter Internasional (IMF) telah mengeluarkan pernyataan
bahwa liberalisme telah gagal.
Tapi anehnya,
Indonesia justru memegang erat sistem bukan-Islam ini dan membelanya
mati-matian. Maka, mempertahankan sistem ini sudah pasti dapat dibaca arahnya.
Kehancuran ekonomi! Ngeri! Kalau sudah
begitu, Barat -sebagai pengarahnya- pasti akan lepas tangan.
Oleh karena itu, sikap
yang cerdas adalah meninggalkan sistem ini dan membuangnya jauh-jauh. Bukankah
ada sistem yang lebih baik? Ya, itulah sistem Islam. Dengan itu, negeri ini
akan mendapat keberkahan dari Allah SWT. Bukankah itu yang kita harapkan? []
Bacaan: Tabloid Media
Umat edisi 176, Juni-Juli 2016
---
Rabu, 24 Mei 2017
Islam Kaffah, Solusi Tuntas Atasi Liberalisme
Islam
Kaffah, Solusi Tuntas
Islam memiliki sistem
yang bila diterapkan secara sempurna akan bisa melindungi siapapun yang hidup
di dalamnya, baik Muslim maupun non Muslim. Penerapan Islam secara kaffah akan
mewujudkan Islam rahmatan lil 'alamin.
Sejak 14 abad yang
lalu, Islam telah melarang orang untuk minum minuman keras, meski hanya
setetes. Larangan ini sangat tegas, demi untuk menjaga akal manusia agar tidak
rusak. Termasuk di dalamnya adalah narkoba. Maka segala hal yang terkait dengan
benda haram itu dilarang, mulai dari memproduksi, mengedarkan, hingga
mengonsumsinya. Sehingga tidak ada dalih sedikitpun untuk bermuamalah dengan
benda haram ini.
Sudah lazim diketahui,
akal yang rusak akan mengantarkan yang bersangkutan melakukan tindakan yang
tidak terkontrol dan cenderung mengikuti hawa nafsunya. Mereka tak lagi bisa
melihat benar dan salah, baik dan buruk. Akibatnya, mereka pun bisa mendzalimi
bahkan membunuh orang lain hanya karena perkara sepele.
Melalui larangan minum
miras dan mengonsumsi narkoba ini, maka akal manusia akan terjaga. Akal yang
terjaga akan menjadikan manusia berjalan sesuai dengan perintah dan larangan
Allah SWT. Sanksi tegas berupa cambuk bagi peminumnya dengan 80 kali cambuk.
Begitu juga tontonan
yang bisa merusak akal juga diharamkan, seperti film, gambar dan aksi porno.
Orang yang memproduksi, mengkonsumsi dan mendistribusikannya pun diharamkan,
dan akan dikenai sanksi. Dengan begitu, akal manusia pun terjaga.
Selain itu, penerapan
Islam secara kaffah akan mewujudkan terpeliharanya jiwa. Islam tidak memberikan
toleransi sedikitpun terjadi pembunuhan atas manusia tanpa hak. Nyawa manusia
sangat dilindungi dalam lslam sehingga lenyapnya dunia dan seisinya lebih ringan
di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim.
Makanya, sanksi yang
sangat keras bagi para pelaku pembunuhan yakni berupa qishash akan menjerakan orang lain untuk berbuat yang sama.
Orang yang membunuh akan dihukum mati, kecuali jika keluarganya memaafkan,
itupun harus membayar diyat 100 ekor
unta (40 di antaranya unta bunting). Bukankah ini sangat adil?
Sistem hukum yang adil
ini akan mampu menjaga jiwa manusia. Lebih dari itu, sanksi yang keras akan
mencegah manusia lainnya untuk melakukan perbuatan yang sama. Bila semua orang
tak berani berbuat jahat kepada orang lain, bisa dibayangkan apa yang terjadi?
Ketenangan dan ketentraman masyarakat.
Dalam sistem Islam,
negara membentuk secara sistematis ketakwaan individu dan masyarakat. Caranya
dengan menanamkan akidah Islam secara benar kepada seluruh anak didik sejak
mereka berada di sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Selain itu, interaksi
antar anggota masyarakat diatur dengan syariah Islam. Demikian pula, negara
menerapkan hukum Islam secara adil kepada seluruh warga negara. Perpaduan
ketakwaan Individu, masyarakat, dan negara menjadi jaminan terwujudnya
masyarakat yang Islami secara hakiki.
Ancaman:
Liberalisme
Tanpa penerapan
syariah Islam secara kaffah terbukti Indonesia terjerumus dalam jurang
keterpurukan. Negeri yang kaya raya ini ternyata rakyatnya hampir setengahnya
dalam kondisi miskin. Sumber daya alam yang melimpah telah dikuasai asing.
Secara sosial, dengan
paham kebebasan, masyarakat lambat laun menjadi rusak. Maraknya pornografi dan
pornoaksi adalah buah dari sistem kebebasan itu. Gaul bebas dan seks bebas
telah menjadi budaya baru.
Akibat liberalisme
pula Indonesia dipecah belah. Timor Timur akhirnya lepas dari kesatuan wilayah
Indonesia akibat sistem demokrasi. Bahkan beberapa daerah saat ini sedang
berusaha melepaskan diri dari Indonesia dengan prinsip kebebasan menentukan
nasib sendiri.
Dengan paham liberal
pula, kaum Muslim dikuasai oleh orang-orang kafir. Mereka tidak hanya menguasai
secara informal tapi sudah masuk dalam kekuasaan negara. Dengan dalih
demokrasi, mereka dengan seenaknya memaksakan berbagai aturan yang tak sesuai
dengan aspirasi mayoritas Muslim di Indonesia.
Aturan
perundang-undangan pun tak luput dari intervensi asing karena prinsip
demokrasi. Para pengusaha pun bisa berbuat apa saja karena pengaruhnya terhadap
kekuasaan politik di negeri ini gara-gara kemampuan mereka memengaruhi secara
finansial.
Walhasil, secara
fakta, ideologi kapitalisme-liberal bukan saja mengancam tapi telah
menghancurkan dan merusak negeri ini. Sistem yang dibangun oleh ideologi ini
terbukti tak mampu menjadikan Indonesia digdaya dan disegani dunia. Sebaliknya
kian terpuruk menjadi negara yang dihinakan negara lain.
Ganti
Sistem
Dalam situasi seperti
ini, menurut juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia M Ismail Yusanto,
mempertahankan ideologi kapitalisme-liberal berarti melanggengkan Indonesia
dalam cengkeraman asing, tidak bisa mandiri, dan menuju jurang kehancuran
budaya. Sementara pindah ke sistem sosialis-komunis berarti bunuh diri karena
sistem itu terbukti gagal dan telah hancur.
Maka, ia menegaskan,
pilihan satu-satunya sistem yang bisa mewujudkan perubahan hakiki hanya sistem
Islam. ”inilah satu-satunya sistem yang akan membawa rahmatan lil 'alamin atau kebaikan bagi negeri ini, sekarang dan
yang akan datang,” tandasnya.
Dengan syariat Islam,
paparnya, seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara akan diatur
dengan cara yang benar. Dampaknya, ekonomi akan tumbuh, stabil dan akan
memberikan keadilan dan kesejahteraan kepada seluruh rakyat.
Dengan syariah pula
akan terwujud sistem pendidikan dan budaya yang akan membentuk SDM yang beriman
dan bertakwa serta mampu menjawab tantangan kemajuan zaman. Dan dengan kekuatan
khilafah, penjajahan baru dalam segala bentuknya bisa dihentikan dengan segera.
[]
Apalagi
Alasan Menolak Syariah?
Satu-satunya sistem
kehidupan yang belum pernah diterapkan secara kaffah di Indonesia adalah sistem
Islam. Sistem sosialisme komunisme pernah berjaya di masa awal kemerdekaan
Indonesia yakni di masa Orde Lama. Setelah itu, Indonesia berubah haluan ke ideologi
kapitalisme liberal dengan berbagai wujudnya.
Hasilnya? Sistem itu
gagal. Bukannya Indonesia bertambah baik, justru sebaliknya bertambah buruk.
Secara logika
sederhana, masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim akan sangat mudah
menerima syariah Islam. Apatah lagi sangat jelas bahwa sistem Islam akan
membawa kebaikan. Bukankah aturan-aturan Islam berasal dari Yang Maha Benar dan
Maha Adil. Lalu apa yang diberatkan dari sistem ini?
Walhasil, tidak ada
alasan lagi sebenarnya menolak syariah islam, orang kafir sekali pun. Maka,
hanya orang yang memusuhi Islam dan antek musuh Islam-lah yang menentang
penerapan syariah Islam secara kaffah dalam sistem khilafah. Termasuk di
dalamnya adalah orang-orang yang selama ini melanggar aturan islam, apakah para
koruptor, bandit, pezina, maling, perampok, penipu, pembunuh, pemerkosa dan
konco-konconya.
Orang-orang baik, para
ulama, tokoh masyarakat, dan siapapun yang menginginkan kebaikan dunia dan
akhirat pasti menerima penerapan syariah Islam tanpa keberatan sedikitpun.
Bahkan merekalah yang berada di garda terdepan demi terwujudnya Islam rahmatan lil 'alamin melalui penerapan syariah
Islam secara kaffah dalam naungan khilafah. []
Bacaan: Tabloid Media
Umat edisi 174, Mei-Juni 2016
---
Minggu, 11 Juni 2017
Makar Musuh Menjegal Islam
Mereka
Bicara
Abu
Deedat, Kristolog:
Wajar
Sebagai Penganut Evangelis
Itu wajar bagi dia
(pendeta Gerald Rowlands) sebagai penganut Evangelis. Evangelis adalah salah
satu sekte Kristen yang sangat mendukung kehadiran zionis Israel. Jadi, sesuai
dengan keyakinan mereka dalam Alkitab bahwa sudah dinubuwatkan, bahwa umat Islam
dengan tegaknya khilafah itu tentu membuat mereka tidak bisa bergerak
menyebarkan misi mereka.
Dia ini keturunan
Yahudi dan penganut Kristen Evangelis yang meyakini nubuwat (prophetic) dalam Alkitab yang menyebutkan akan
berdirinya Israel Raya, di antara nubuwatnya itu tentang akan kembali tegaknya
syariah itu. Maka itu harus dihancurkan.
Evangelis adalah sekte
Kristen yang mendukung Zionis Yahudi lantaran merasa sama kitab sucinya,
sama-sama meyakini Perjanjian Lama. Kedua, di dalam Alkitabnya sendiri kan
dinubuwatkan wilayah-wilayah keturunan Abraham harus diserahkan kepada Yahudi
(Israel). Yakni mulai dari sungai Nil di Mesir hingga sungai Eufrat di Irak.
Ini yang harus
dikuasai terlebih dahulu. Sebagaimana kata Israel itu: I=Irak, S=Suriah, R=Rum
(Turki), A=Arab Saudi, E=Egypt (Mesir), L=Libanon. Negara-negara tersebut,
memang sudah dinubuwatkan di dalam Alkitab bahwa itu akan diberikan kepada
keturunan Abraham alias Bani Israel itu.
Nah, kaum Kristen
Evangelis meyakini bahwa itu memang benar berdasarkan Alkitab. Dan kembalinya
orang-orang Yahudi dari berbagai negara Eropa dan sebagian dari Amerika yang
kembali ke Palestina, meyakini benar bahwa itu merupakan nubuwat akan turunnya
Yesus sebagai juru selamat mereka.
Karena Perjanjian
Lama, diimani oleh Yahudi dan Kristen. Di sini lah korelasinya antara Kristen
dengan Zionis. Maka muncul-muncul kelompok Kristen Zionis. Oleh karena itu
mereka harus melakukan perlawanan terhadap kelompok-kelompok Islam yang ingin
kembali tegaknya khilafah. []
Adhyaksa
Dault, Mantan Menpora RI:
Khilafah
Pasti akan Tetap Tegak
Tidakbisa dijegal,
tegaknya kembali khilafah adalah sunatullah
dan tanda-tanda kenabian. (alamatun nubuwwah).
Kita kan orang Islam, ya percaya betul Rasulullah SAW mengatakan akan tegak
kembali kekhilafahan berdasarkan metode kenabian. Selesai. Mereka mau bermakar,
tetapi Allah Maha Pembuat Makar yang Baik. Itulah pernyataan saya, khilafah itu
pasti tegak!
Khilafah itu pasti
akan tetap tegak dengan atau tanpa peran kita. Cuma masalahnya, bagaimana kita
berproses dalam peran itu. Saya sangat sedih bila ada orang Islam yang
mengatakan kalau khilafah itu utopis. Itu pernyataan bego. Menurut saya, pendapat bodoh. Karena khilafah itu pasti
merupakan solusi persoalan umat Islam sedunia. Dan itu jaminan dari Rasulullah
SAW pasti tegak. Hanya, mau tidak kita ikut dalam proses penegakannya itu.
Kalau kita punya kekuasaan, kita harus menggunakan kekuasaan menuju
terbentuknya itu. Hanya sayangnya dunia Islam pada hari ini terutama di Timur
Tengah terpecah-pecah untuk kepentingan dunianya sendiri. Tapi pasti menurut
saya, sebentar lagi khilafah akan berdiri. []
Maman
Abdurrahman, Ketua Umum Persatuan Islam:
Itu
Memang Karakter Mereka
Jadi memang, mereka
itu Yahudi dan Nashrani, sampai kapanpun, dalam bentuk negara apapun, apalagi
dalam bentuk khilafah Islam, mereka akan selalu melakukan kebencian-kebencian.
Dalam Al-Qur’an, sudah sangat jelas memang mereka tidak akan pernah ridha kepada
Nabi Muhammad SAW dan kita para pengikutnya hingga mengikuti kemauan mereka.
Jadi, kalau dia
berseru seperti itu, Defeating the New
Caliphate, ya memang itu karakter mereka. Negara kita saat ini seperti
ini kan sebenarnya implikasi dari model yang disebut dengan liberalisme,
pluralisme dan sekulerisme. Maka sebenarnya omongan Gerald Rowlands itu bukan
hal baru, tetapi dirinya memang komprador baru, yang berupaya menghabisi umat
Islam apalagi yang menyuarakan kesatuan umat Islam dalam bentuk khilafah Islam.
Tidak
dalam bentuk khilafah Islam pun, mereka sudah menghancurkan umat Islam secara
perlahan melalui pluralisme, liberalisme dan sekulerisme menghantam umat ini
termasuk di Indonesia. []joko
prasetyo
Daud
Rasyid, Pengamat Politik Timur Tengah:
Jangan
Mau Dipecah
Politik Timur Tengah
tidak bisa dilepaskan dari politik Amerika Serikat, khususnya Mesir. Amerika
tidak ingin kehilangan kaki tangannya. Lalu ketika mereka menyerahkan pada
rakyat melalui pemilu mereka tidak rela dan memanfaatkan militer untuk
melakukan kudeta. Karena militerlah yang bisa digunakan Amerika. Kalau
kekuasaan diberikan kepada Ikhwanul Muslimin maka semakin menutup kepentingan
Amerika kepada bangsa Mesir.
Di Suriah ada
pertarungan Sunni dan Syiah, tapi yang diuntungkan pihak Amerika juga, kalau
perang Sunni-Syiah. Amerika tidak perlu menghabiskan uang untuk memusnahkan dan
merontokkan kekuatan Islam.
Rezim Bashar ini
memang tiran dan memaksakan kehendaknya. Rezim Bashar ini memaksakan
ideologinya kepada masyarakat. Ayahnya adalah sosialis tulen. Ini juga
bersamaan dengan agenda Iran untuk mengekspor revolusi Syiah di seluruh dunia.
Iran ingin melebarkan sayapnya untuk kembali pada imperium Persia dahulu.
Moskow memang sudah
bersahabat dengan rezim Assad, sedangkan Amerika memang tidak mau Islam apapun
bentuknya. Amerika tidak ingin mujahidin menang, dan membiarkan Bashar tetap
eksis, kekuatan umat Islam sudah tertekan walau Amerika hanya di luar. []
Syuhada
Bahri, Ketua Umum Dewan Dakwah Islam Indonesia:
Tidak
Aneh
Bagi saya tidak asing
dan tidak aneh kalau Yahudi dan Kristen seperti itu. Karena Al-Qur’an sendiri
dengan tegas mengatakan Yahudi dan Nashrani selamanya tidak akan pernah ridha,
sebelum kita mengikuti mereka. Maka yang perlu kita perhatikan langkah apa yang
mereka lakukan agar kita mengikuti kemauan mereka.
Saya melihat ada tiga.
Pertama, mengajak kita pindah agama. Kedua, tidak mengajak kita pindah agama,
tetapi menjauhkan kita dari Islam. Dilakukan dengan menumbuhkan cinta dunia dan
takut mati. Serta menumbuhkan jalan-jalan untuk mempermudah berbuat maksiat. Ketiga, membangun pemahaman Islam secara
salah. Itu kan yang melahirkan jaringan lslam liberal.
Kadang juga untuk
memberikan pemahaman yang salah, mereka tampil dengan menumbuhkan melaksanakan
Islam secara berlebihan. Misalnya, dalam bentuk zikir-zikir, tetapi tidak mau
tahu dalam urusan politik. Pokoknya ibadah saja. Itu kan berlebihan. Karena kalau
dia tidak mau tahu soal politik berarti menganggap kalau politik bukan bagian
dari agama Islam. []
Cholil
Ridwan, Ketua MUI:
Lawan Kekufuran
Umat Islam saat ini
dalam keadaan tertindas, di Indonesia umat Islam tertindas dalam segi politik
dan ekonomi, Umat Islam harus bersatu sesuai Al-Qur’an dan sunnah. Kita mudah
diadu-domba hingga sulit bersatu.
Umat Islam saat ini
seperti sakit leukemia, sisa menunggu waktu dengan kondisi stadium 4. Umat
Islam harus sadar politik secara keseluruhan, baik pimpinan Islam yang ada di
partai, eksekutif, sekadar agamanya doang
Islam tapi politiknya tidak Islam? Makanya harus sadar politik, untuk itu ulama
harus bergerak.
Kita harus memberikan
pemahaman yang benar kepada umat. Islam memiliki petunjuk sejati yakni
Al-Qur’an dan hadist. Selama iman kita ini tidak utuh dan ragu dengan Islam,
maka kita tidak mendapatkan hasanah fi dunnya.
Indonesia jika ingin hasanah fi dunnya
maka harus bebas dari kemaksiatan. Selama kita membiarkan kemaksiatan maka kita
tidak bisa menjadikan Indonesia ini sebagai surga.
Tantangan
umat Islam ini kita harus melawan kekufuran sekulerisme, liberalisme dan
sebagainya. Ke dalam, kita harus memberikan pemahaman jelas bahwa Islam rahmatan lil alamin. Sunnah Rasul yang paling besar yang ditinggalkan
umat adalah Rasul sebagai kepala negara. []fatih-joy
Sumber: Tabloid Media
Umat edisi 125 April 2014
---
Langganan:
Postingan (Atom)











