Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri liberalisme. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri liberalisme. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Desember 2014

Kekeliruan Paham Liberalisme Paham Kebebasan


Pengurus MUI Kota Bogor Drs. Amirudin Abu Fikri MA, menjelaskan bahwa MUI telah mengeluarkan peringatan tentang bahaya SIPILIS (Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme).

 “Liberalisme adalah paham yang bertentangan dengan Islam. Liberalisme adalah paham yang wajib dijauhi oleh Kaum Muslimin. Liberalisme tidak layak untuk manusia, lebih layak untuk binatang. Menerapkan liberalisme sejatinya lebih menjadikan manusia sebagai binatang.

 MUI memandang bahwa liberalisme adalah virus yang meracuni jantung umat ini. Dampak yang ditimbulkan dari liberaliisme ini sudah menyentuh pada aspek aqidah, pendidikan, politik dan seterusnya,” papar ustadz yang berkecimpung sangat lama dalam dunia pendidikan Islam tersebut secara panjang lebar.

 لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

 Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (HR al-Hakim, al-Khathib, Ibn Abi ‘Ashim dan al-Hasan bin Sufyan). Imam an-Nawawi dalam Al-Arba’un mengatakan, “Hadis ini hasan shahih. Kami telah meriwayatkan hadis ini dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad sahih.”

 makna “lâ yu`minu ahadukum” adalah iman yang paripurna, bukan menafikan iman. Sebab, orang yang hawa nafsunya tidak mengikuti syariah sehingga ia bermaksiat, secara umum kemaksiatan itu tidak menjadikan dirinya kafir.

 Dengan demikian hadis ini bermakna: seseorang tidak akan mencapai derajat Mukmin yang paripurna imannya sampai seluruh keinginan, kecenderungan dan kecintaannya mengikuti apa yang dibawa oleh Rasul saw.; baik perintah, larangan ataupun yang lainnya. Dengan itu ia menyukai apa yang diperintahkan dan tidak menyukai apa yang dilarang.

 syariah yang dibawa Nabi saw. lebih dia kedepankan daripada hawâ-nya; daripada kecenderungan atau kecintaannya. Jika keinginannya bertabrakan dengan apa yang Nabi saw. bawa maka ia mengalahkan keinginannya dan memenangkan apa yang Nabi saw. bawa. Sebab, al-hawâ menjadi tâbi’ (yang mengikuti), sementara apa yang Rasul saw. bawa, yaitu Islam dan syariahnya, adalah yang diikuti (al-matbû’). Semua kemaksiatan itu muncul karena hawa nafsu lebih didahulukan daripada kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul saw.

 Allah SWT menyifati orang-orang musyrik dalam banyak ayat, bahwa mereka mengikuti hawa nafsu (Lihat, misalnya: QS al-Qashshash [28]: 50. Karena itu Allah SWT melarang kita untuk mengikuti hawa nafsu (QS an-Nisa’ [4]: 135).

 Untuk itu, Islam dan syariahnya harus kita jadikan standar dan pedoman. Semua keinginan, kecenderungan dan kesukaan dan tidaknya harus kita tundukkan pada ketentuan Islam dan syariahnya. Untuk mewujudkan itu kita harus bersungguh-sungguh mengerahkan segala daya upaya menundukkan hawa nafsu. Allah SWT menyediakan pahala yang besar dan surga bagi siapa saja yang bisa merealisasikan ini (QS an-Nazi’at [79]: 40-41).


Mari kita urai satu per satu kemudhorotan liberalisme yg muncul:
Di bidang Politik, sudah tercipta sistem perpolitikan yg carut marut penuh dgn intrik, kolusi dan korupsi

Di bidang pendidikan, terjadi kegagalan sistemik dalam penciptaan generasi yang berprestasi dan bertaqwa kepada Allah SWT
Di bidang Ekonomi, terbukti sampai sekarang tidak tercapai kesejahteraan yang diidamkan rakyat semakin sulit memenuhi kebutuhan hidupnya.
Di bidang sosial, masyarakat dipaksa hidup di tengah individualistik dan kebebasan berperilaku, bersikap dan berpendapat.
Di bidang keagamaan/aqidah, muncul paham-paham rusak dan merusak serta menyesatkan.

Pertanyaannya….
Sampai kapan hal ini atau kondisi ini akan terus berlangsung?
Menjadi tugas kita semua untuk berperan serta mengatasi permasalahan ini.


Puisi Liberalisme

Rabu, 03 Mei 2017

Siapa Ancaman Bagi Indonesia



Siapa pihak yang mengancam Indonesia

Mereka Bicara Ancaman Indonesia

Mahladi, Ketua Biro Humas PP Hidayatullah
Yang Membahayakan adalah Liberalisme

Yang membahayakan Indonesia secara agama, politik dan ekonomi adalah liberalisme dan semacamnya itu. Kita kan tahu MUI sudah memfatwakan bahwa paham-paham sekulerisme, pluralisme dan liberalisme adalah paham yang sesat. Sesat itu artinya kan membahayakan. Paham-paham inilah yang bisa melencengkan penduduk Muslim di Indonesia dari pemahaman yang benar. Dan segala sesuatu pemahaman yang salah itu pasti berdampak negatif.

Kita harus tahu, peran ulama dan tokoh-tokoh Islam dalam memerdekakan dan membentuk negara ini sangat kental Islam. Sehingga hal-hal yang bisa mengganggu atau melemahkan ideologi Islam itu sebenarnya tidak sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa ini.

Nah, sedangkan paham liberalisme dan semacamnya itu sudah tidak diperbolehkan lagi oleh ulama-ulama. Tapi nampaknya sekarang malah semakin eksis, itu karena banyak komponen bangsa belum paham betul bahayanya liberalisme dan semacamnya. []


Prof Dr Maman Abdurrahman, Ketua Umum Persatuan Islam (Persis)

Imperialisme gaya baru di Indonesia itu bukan sedang muncul tetapi sudah berjalan lama. Salah satunya masuk ke dalam UU tentang air. Mereka yang menguasai air itu. Berikutnya juga dengan masalah penguasaan kehutanan. Yang menguasai hutan itu banyak swasta banyak pula asing. Ke depannya ini juga harus ditinjau secara UU.

Yang berikutnya mengenai energi. Energi itu ternyata banyak dimiliki oleh orang asing juga. Dan yang jelas sekali misalnya listrik itu dikuasai swasta. Dan kemudian, itu menggunakan infrastruktur negara dengan keuntungan yang sangat besar sekali.


Tengku Zulkarnain, Wasekjen MUI Pusat
Neoliberalisme Jelas Membahayakan

Selain Syiah, yang jelas membahayakan Indonesia adalah neoliberalisme. Neoliberalisme jelas membahayakan ekonomi. Bung Karno dulu itu sudah jelas, anti kapitalis! Jelas sekali itu, tapi sekarang ekonomi kita kan terjajah. Pemerintah harus merekonstruksi ulang berbagai UU yang melegalkan asing menguasai sumber daya alam kita. Masak, sampai PDAM di Jakarta dikuasai asing? ini kan sangat berbahaya. Bahaya lainnya juga melegalkan perkawinan lain agama.

Jadi kapitalis berbahaya, liberalis berbahaya. Komunis juga berbahaya, sekarang mulai unjuk gigi. lni yang harus diwaspadai yang berbahaya seperti ini, seperti liberal yang berupaya melegalkan kawin beda agama. Kapitalis yang merampok kekayaan-kekayaan alam Indonesia. Komunis yang sudah jelas-jelas membunuhi tokoh-tokoh dan ulama-ulama kita.


Dwi Condro Triono, Pakar Ekonomi Islam

Jadi “Budak” Perusahaan Asing

Melimpahnya sumber daya alam di Indonesia, seharusnya menjadi berkah bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun, akibat diterapkannya neoliberalisme dan neoimperialisme dalam pengelolaan negeri lndonesia ini, ternyata telah berperan besar dalam membuka kran kebebasan bagi pihak asing yang memiliki modal besar, untuk mengeruk segenap kekayaan alam di Indonesia. Sedangkan rakyat Indonesia, nasibnya hanya sekadar menjadi buruh, kuli, bahkan “budak” bagi perusahaan-perusahaan asing yang telah menancapkan cengkeramannya di bumi Indonesia ini. Maka, nasib rakyat Indonesia sudah dapat diibaratkan seperti ayam mati di atas tumpukan beras. Berjuta rakyat Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Sementara itu, di hadapan matanya mereka harus menyaksikan berjuta-juta ton kekayaan alam Indonesia terus-menerus diangkut ke luar negeri, seakan tanpa menyisakan “tetesan” sedikitpun bagi rakyat Indonesia, sebagai pemilik sah dari kekayaan alam tersebut.

Hal itu tentu sangat berbeda jika syariah dan Khilafah Islamiyah yang diterapkan di Indonesia. Di dalam ketentuan syariat Islam (sebagaimana yang telah dituangkan dalam sistem ekonomi Islam), dengan jelas telah menentukan jenis-jenis kepemilikan yang boleh dikuasai oleh manusia. Syariat Islam telah menentukan bahwa kepemilikan itu terbagi menjadi tiga, yaitu: kepemilikan individu, umum dan negara. Syariat Islam telah menentukan bahwa sumber daya alam, seperti: air, padang rumput, minyak bumi, gas, berbagai macam tambang yang besar, hutan dsb masuk dalam kategori kepemilikan umum. Sumber daya alam tersebut tidak boleh dikuasai oleh individu atau swasta, terlebih lagi oleh swasta asing. Kekayaan alam tersebut harus dikelola oleh negara, kemudian hasilnya wajib didistribusikan kepada seluruh rakyatnya secara adil. Itulah salah satu bentuk jaminan dari Allah SWT, jika Syariah

dan Khilafah Islamiyah diterapkan oleh negara, maka insyaAllah seluruh rakyatnya akan merasakan kemakmuran dan kesejahteraan secara bersama, baik bagi warga negara yang beragama Islam, maupun yang tidak beragama Islam. Semuanya akan merasakan keberkahan, kemakmuran dan kesejahteraan, karena diterapkannya syariah dan Khilafah Islamiyah.[]


Hatta Taliwang, Mantan Anggota DPR Rl

UU Disiapkan Asing

Lebih kurang ada 115 UU menyangkut sumber daya alam misalnya minyak, mineral, batubara, menyangkut sumber daya air, menyangkut hampir semua aspek lah termasuk penanaman modal dan sebagainya itu mereka atur. Ada anggaran dana dan lain sebagainya untuk melakukan itu semua dari Bank Dunia dan sebagainya.

Tapi sejujurnya, dulu 12 tahun yang lalu hingga beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih di DPR, saya tidak tahu. Itu mungkin permainan tingkat tinggi ya, karena saya hanya anggota DPR biasa. Jadi kita tidak tahu permainan apa di DPR, mungkin mereka dengan sadar atau tidak mengakomodir. Yang jelas, banyak sumber menyebut banyak dana mengalir di era-era itu. Karena UU-UU tersebut dibuat sejak era Habibie sejak kejatuhan Soeharto. Setelah itu juga Amandemen UUD 1945 yang paling substansi diubah.

Rupanya, pihak asing telah menyiapkan konsep perubahan Indonesia itu pasca kejatuhan Soeharto. Kapitalis asing tampak jauh lebih siap, lewat Bank Dunia, lewat IMF, lewat ADB, sudah mempersiapkan banyak sekali dana dan program. Dan itu saya yakin sekali kawan-kawan anggota DPR lainnya tidak sadar kalau kita sedang dikendalikan. Itulah kecanggihan mereka itu.

Pada era Habibie 1998 hingga era Gus Dur 1999-2000 itu DPR produktif sekali membuat UU hingga 80-an UU-lah yang dihasilkan. Itu semua adalah dari dikte IMF dan Bank Dunia dan ADB. Dilanjutkan pada era Megawati masih berlanjut bahkan mengamandemen UUD 1945 hingga yang keempat itu. []


Suswanta, Pengamat Pemerintahan UMY

Bahaya Demokrasi

Ada banyak bahaya demokrasi, berikut tiga di antaranya. Pertama, demokrasi mencampakkan aturan Allah SWT karena demokrasi tegak di atas landasan sekularisme, paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya masalah pribadi. Prinsip demokrasi adalah kedaulatan rakyat. Rakyat berhak membuat aturan Undang-Undang dan memilih pemimpin untuk menjalankan UU tersebut. Standar yang digunakan bukan halal-haram tetapi hawa nafsu mayoritas. Kedua, demokrasi hanya jadi alat penjajah. Normatifnya rakyat diberi kekuasaan tetapi faktanya hanya segelintir rakyat yang punya modal, jaringan dan kuasa yang menjalankan kekuasaan. Yang terjadi penjajahan minoritas terhadap mayoritas. Ketiga, demokrasi menyuburkan korupsi berjamaah. Pemilihan anggota legislatif dan eksekutif membutuhkan biaya sangat besar. Mereka menggunakan semua cara untuk berkuasa. Hanya mereka yang punya modal atau dukungan pemodal dan lihai yang jadi. Setelah jadi penguasa mereka hanya berpikir bagaimana mengembalikan modal dan mencari keuntungan dengan segala cara. []

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 157, September 2015
---

Jumat, 26 Mei 2017

Syariah Dan Khilafah Adalah Solusi



Di tengah upaya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menyadarkan masyarakat agar menjadikan syariah dan khilafah sebagai solusi atas krisis multidimensi, muncul segelintir orang yang menyatakan bahwa syariah dan khilafah adalah ancaman. Lantas siapa sebenarnya yang mengancam bahkan merusak negeri ini? Dan mengapa syariah dan khilafah sebagai solusi? Temukan jawabannya dalam wawancara wartawan tabloid Media Umat Joko Prasetyo dengan Ketua Lajnah Fa'aliyah DPP HTI Muhammad Rahmat Kurnia. Berikut petikannya.

Benarkah syariah dan khilafah merupakan ancaman bagi negeri ini?

Syariah dan khilafah bukan ancaman, melainkan solusi. Kita semua sudah tahu bahwa Indonesia dan negeri-negeri kaum Muslim sedang mengalami krisis multidimensi. Kita ini sudah merdeka dari segi militer, namun dalam segi ekonomi, politik, budaya tetap dicengkeram oleh kekuatan asing. Barang tambang, air, dan minyak bumi kita dikuasai oleh perusahaan asing dan di-back up oleh negara asing.

Nah, untuk menyelesaikan berbagai problem ini butuh solusi. Sosialisme/komunisme telah terbukti gagal. Kapitalisme kini tengah sempoyongan dan makin menjauhkan manusia dari derajat kemanusiaannya. Satu-satunya alternatif adalah Islam. Dan bila berbicara Islam sebagai solusi yaitu dia, peraturannya syariah dan pelaksananya adalah khilafah. Saya lihat, kalaupun ada yang layak merasa terancam oleh syariah dan khilafah adalah negara asing penjajah yang selama ini mencengkeram negeri-negeri Muslim, atau mereka yang membela kepentingan asing tersebut.

Tapi mengapa sering dikaitkan dengan kasus tindak terorisme?

Ada beberapa hal yang penting kita pahami. Pertama, sejak runtuhnya menara kembar WTC, muncullah apa yang kita kenal dengan war on terrorism (perang melawan terorisme). Hakikatnya war on terrorism ini merupakan cara Amerika untuk membungkam kebangkitan Islam.

Dulu pernah ramai-ramai disebut bahwa pesantren adalah biang terorisme. Kitab kuning mengajarkan terorisme. Sementara, Israel yang membunuhi kaum Muslim di Palestina tidak disebut pelaku terorisme. Amerika yang terus membunuhi umat Islam di Pakistan dengan pesawat tanpa awak tidak disebut sebagai teroris. Jadi, tudingan tentang terorisme ini sudah sarat kepentingan politik.

Kedua, diproklamirkannya 'khilafah' oleh ISIS membuat tudingan itu makin masif. Padahal, sejak awal Hizbut Tahrir menyatakan bahwa proklamasi tersebut tidak sah secara syar'i. Tindakan-tindakan kekerasan yang diekspose itupun tidak sesuai dengan syariah. Namun, tetap saja pihak Barat menggunakan hal ini untuk menghalangi laju perjuangan lslam.

Jadi, bila boleh saya berpendapat, yang sedang dihalang-halangi oleh pihak Barat dan para pendukungnya itu bukan syariah dan khilafah melainkan Islam. Sebab dengan penerapan syariah dalam naungan khilafah, Islam akan benar-benar mewujud menjadi sebuah kekuatan adidaya yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Semua penjajahan dalam setiap aspeknya yang dilakukan oleh negara besar penjajah akan dilibas.

Ada juga yang mengatakan khilafah mengancam Indonesia, tanggapan Anda?

Mungkinkah khilafah yang menerapkan hukum Allah SWT itu merupakan ancaman? Mungkinkan khilafah yang menjaga akidah dan akhlak merupakan ancaman? Mungkinkan khilafah yang akan menyatukan umat itu merupakan ancaman? Mungkinkah khilafah yang menjamin kebutuhan pokok masyarakat itu merupakan ancaman? Mungkinkah khilafah yang melindungi nyawa, darah, harta, akal, dan kehormatan umat manusia merupakan ancaman? Mungkinkah khilafah yang memberikan perlakuan yang sama kepada Muslim maupun non-Muslim merupakan ancaman? Mungkinkah khilafah yang akan mengembalikan barang tambang, minyak, dan harta kekayaan milik rakyat kepada rakyat sebagai pemiliknya merupakan ancaman? Mungkinkah khilafah yang akan melenyapkan semua bentuk penjajahan itu merupakan ancaman? Andaikan semua itu dianggap ancaman oleh sebagian kalangan, tapi menurut Allah Sang Pencipta Manusia, justru Islam yang diterapkan oleh khilafah merupakan rahmatan lil 'alamin.

Bagaimana dengan tuduhan pengusung ide khilafah itu mengancam Pancasila?

Dulu pada zaman Orde Baru, setiap aktivitas untuk menyelamatkan umat dengan penerapan Islam selalu dituduh mengancam Pancasila. Tuduhan ini tampaknya sekarang diputar ulang.

Mari kita jujur melihat. Apakah dalam pembuatan UU didasarkan pada: apakah pasal ini sesuai dengan sila sekian, sementara pasal itu sesuai dengan sila sekian? Sejauh pengetahuan saya tidak demikian. Yang terjadi justru, banyak UU yang didasarkan pada kapitalisme dan liberalisme yang penuh dengan kepentingan asing.

Kita masih ingat, anggota DPR Eva Kusuma Sundara mengakui, ada 76 UU yang draftnya dilakukan oleh pihak asing. Begitu juga, Rizal Ramli pernah mengatakan, “Tak ada gunanya MPR bicara empat pilar bolak-balik kalau tidak ada kemauan dari DPR untuk mengubah 20 UU yang dibiayai dan memihak asing.” Saya percaya beliau tidak sembarang bicara. Nah, yang ditentang oleh Hizbut Tahrir adalah kapitalisme dan liberalisme yang muaranya pada imperialisme gaya baru. Inilah yang kini sedang membawa negeri kita ini ke jurang kehancuran.

Lantas, mengapa pihak yang membiarkan negeri Muslim terbesar ini dikuasai liberalisme imperialisme tidak disebut membahayakan Pancasila? Mengapa mereka yang mengundang asing menguasai harta kekayaan rakyat tidak disebut membahayakan negara? Mengapa justru pihak yang hendak menyelamatkan Indonesia dan umat umumnya dengan syariah dituding seperti itu? Mengapa pihak yang getol melawan penjajahan asing dalam sosial, politik, dan ekonomi justru yang dituding sebagai ancaman? Dari sini, umat Islam perlu mewaspadai adanya skenario adu-domba antar komponen umat Islam. Siapa yang untung? Asing dan para pembelanya.

Kalau tudingan khilafah mengancam Bhineka Tunggal Ika bagaimana?

Itu tudingan yang tidak sesuai fakta, juga ahistoris. Secara syar'i, syariat Islam memandang bahwa berbagal agama boleh ada di dalam khilafah. Tidak ada paksaan dalam menganut agama. Pada masa Nabi di Madinah, hidup orang Kristen dari Najran, Yahudi, kepercayaan lama Aus dan Khajraj, dsb. Bahkan, berbagai etnis disatukan oleh khilafah. Salah satu pengakuan jujur ditulis oleh Bloom dan Balair, “in the Islamic lands, not only Muslims but also Christians and Jews enjoyed a good life” (Bloom and Blair, 2002, Islam a thousand years of faith and power, London).

Bagaimana pula tanggapan Anda dengan pendapat yang menyebutkan syariah yes, khilafah no?

Sebagai konsekuensi dari akidah Islam, setiap Muslim wajib terikat dengan syariah Islam. Dalam semua aspek kehidupan alias kaffah. Nah, khilafah itu merupakan salah satu bagian dari syariah. Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari mengatakan bahwa para ulama sepakat bahwa kaum Muslim wajib mengangkat seorang khalifah. Aneh, bila menerima syariah tetapi menolak khilafah.

Lantas, sebenarnya yang menjadi ancaman negeri ini apa?

Itu yang saya katakan tadi: kapitalisme, liberalisme dan imperialisme gaya baru. Bahkan, bukan sekedar mengancam melainkan sedang melakukan pengrusakan.

Bila khilafah diterapkan, bagaimana mengatasi itu semua?

Insyaa Allah, syariah telah memiliki perangkat untuk itu. Mulai dari pemahaman hingga metode penerapannya akan mengungguli krisis multidimensi yang sekarang ada. Sejarah akan terulang.

Lantas, mengapa khilafah tidak diterapkan saja untuk mengganti kapitalisme/ liberalisme yang nyata-nyata telah merusak negeri ini?

Ya, itulah yang diwajibkan oleh Rasulullah dan Allah SWT kepada kita. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 173, Mei 2016
---

Minggu, 04 Juni 2017

Demokrasi Pintu Masuk Utama Neoliberalisme


HTI anti liberalisme

Right Issue Aneka Tambang, Adhi Karya dan Waskita Karya yang lalu menambah panjang daftar BUMN yang diserahkan kepada asing; penentuan harga BBM mengikuti harga pasar internasional juga semakin menunjukkan keberpihakan negara kepada asing. Maraknya pelacuran online dan peredaran minuman keras merupakan fenomena gunung es lainnya dari diterapkannya sistem (jebakan dari) asing. Mengapa itu semua bisa terjadi dan bagaimana mengatasinya? Temukan jawabannya dalam wawancara wartawan Tabloid Media Umat Joko Prasetyo dengan anggota Lajnah Maslahiyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ishak. Berikut petikannya.

Benarkah neoliberalisme mengancam Indonesia?

Untuk menjawab apakah neoliberalisme mengancam Indonesia atau tidak, kita dapat merujuk pada definisi dari neoliberalisme itu sendiri. Neoliberalisme berakar dari pemikiran liberalisme yang menyerukan kebebasan pada manusia dalam segala hal seperti kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi dan kebebasan dalam melakukan kegiatan ekonomi.

Nah, neoliberalisme merupakan pembaruan dari pemikiran liberalisme ekonomi yang dulu dianggap bertanggungjawab atas krisis ekonomi di tahun 1930-an. Neoliberalisme sendiri merupakan pemikiran yang mendorong pengurangan kontrol negara terhadap perekonomian dan memberikan peran yang lebih besar kepada swasta. Pasalnya, intervensi negara dianggap membatasi kebebasan individu masyarakat.

Dengan demikian, setiap kebijakan yang bertujuan untuk mengurangi peran negara di bidang ekonomi merupakan kebijakan yang bersifat neoliberal seperti privatisasi BUMN, pengetatan anggaran melalui pengurangan subsidi, menghilangkan kontrol terhadap harga barang dan jasa, mengurangi hambatan dalam perdagangan barang, jasa dan tenaga kerja serta lalu-lintas modal.

Berdasarkan hal tersebut, maka jika kita mengamati kegiatan ekonomi yang berlangsung selama ini baik yang dijalankan oleh pemerintah maupun swasta maka kecenderungan itu semakin kuat. Jika terus dibiarkan tentu akan semakin merusak tatanan kehidupan masyarakat negara ini.

Apa buktinya?

Buktinya banyak sekali. Dari sisi regulasi misalnya, undang-undang yang mengerdilkan peran negara dan memberikan peran yang dominan kepada swasta sangat banyak seperti UU BPJS dan SJSN yang melepaskan peran negara dalam pembiayaan kesehatan, UU Migas yang menyerahkan pengolaan migas kepada swasta, UU Lalu Lintas Devisa dan Nilai Tukar yang memberikan kelonggaran modal keluar masuk sehingga nilai tukar rupiah naik turun, keanggotaan Indonesia pada WTO dan sejumlah perjanjian perdagangan dengan sejumlah negara yang bertujuan untuk memangkas hambatan tarif dan non-tarif barang-barang impor.

Contoh lainnya, pencabutan subsidi premium serta wacana penghapusan produk tersebut, pencabutan subsidi listrik, rencana pembatasan pengguna gas elpiji tiga kilogram dan sebagainya.

Contoh lain, kebebasan memproduksi minuman alkohol. Meski pemerintah telah melarang penjualan minuman beralkohol di minimarket, tapi setelah diprotes, toko khusus bir justru diwacanakan untuk diberi izin. Celakanya, Pemda DKI justru menjadi salah pemegang saham salah satu pabrik bir ternama di negeri ini.

Orang dewasa di negeri ini juga bebas untuk melakukan bisnis prostitusi, terutama di media sosial yang saat ini sedang menjamur. Media massa juga bebas untuk menayangkan berita dan acara-acara apa saja yang dapat menggaet banyak iklan meski mengandung konten kekerasan, pornografi dan penodaan agama dan perilaku yang merusak kepribadian masyarakat.

Apa akibat dari penerapan neoliberalisme?

Akibatnya, minimnya peran negara dan dominannya peran swasta membuat jutaan masyarakat di negeri ini menderita seperti sulitnya mendapatkan hak-hak dasar mereka seperti makan, tempat tinggal yang layak, pendidikan, kesehatan dan keamanan serta pekerjaan yang layak. Di sisi lain, kekayaan alam dikuasai oleh segelintir pemodal swasta terutama asing.

Neoliberalisme juga mendorong masyarakat untuk berperilaku materialistik. Kebahagiaan akhirnya diukur dengan kepuasan materi. Hilangnya peran pemerintah dan 'rasa haus' yang berlebihan terhadap materi mendorong sebagian orang untuk mendapatkan harta dengan segala cara seperti korupsi (bagi) yang punya peluang, menjajakan diri, mengedarkan narkotika, atau mempertaruhkan nyawa mereka dengan membegal dan membunuh.

Yang tak kuat bahkan bisa bunuh diri. Naudzu billah min dzalik.

Mengapa neoliberalisme bisa tumbuh subur di Indonesia?

Neoliberalisme berasal dari Barat dan kemudian disebarluaskan ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke Indonesia. Ia dijajakan secara perlahan dan sistematis. Masuknya melalui agen pemerintah yang tunduk pada kepentingan Barat, organisasi masyarakat, lembaga pendidikan dan cendekiawan yang pro terhadap ide ini. Ide kemudian dilembagakan dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan. Nah, sistem politik demokrasi menjadi pintu utama masuknya ide ini.

Mengapa Anda katakan demokrasi sebagai pintu masuk neoliberalisme?

Pasalnya, sistem demokrasi telah memberikan ruang yang terbuka terhadap gagasan yang mengatasnamakan kebebasan untuk hidup dan berkembang termasuk dalam bentuk kebebasan dalam melakukan kegiatan ekonomi. Apalagi jika ide tersebut ditopang oleh kekuatan politik dan dukungan finansial yang besar, maka ia mudah diselipkan dalam berbagai regulasi, tak peduli itu sesuai dengan aspirasi rakyat atau tidak.

Bukan rahasia lagi, undang-undang yang selama ini berbau neoliberal terbukti banyak yang disponsori oleh lembaga-lembaga asing seperti lMF, Bank Dunia, dan USAID. Mereka bahkan secara terang-terangan mengakui hal tersebut.

Lantas apa solusinya agar bangsa ini selamat dari ancaman neoliberalisme?

Kita harus kembali kepada aturan pencipta manusia, Allah SWT dengan menerapkan syariah secara total dalam naungan Khilafah Islamiyyah berdasarkan manhaj kenabian.

Kenapa harus syariah dan khilafah? Tidak bisakah kita tetap menerapkan demokrasi dengan menutup pintu masuk neoliberalisme?

Alasannya karena ia merupakan perintah Allah SWT yang lahir dari dorongan akidah Islam. Manusia itu lemah dan terbatas, termasuk dalam memformulasikan aturan yang tepat untuk dirinya. Nah, aturan apa yang cocok untuk manusia, kalau bukan dari Pencipta Manusia itu sendiri? Itulah syariah Islam. Lalu mengapa khilafah? Pasalnya sistem pemerintahan tersebut hanya menjadikan Islam sebagai sumber aturan (dari) Allah bukan akal dan hawa nafsu manusia.

Sedangkan demokrasi, justru jalan masuk neoliberalisme. Dan ingat, demokrasi merupakan sistem kufur yang bertentangan dengan islam.

Bagaimana cara sistem khilafah menangkal ancaman neoliberalisme?

Sistem khilafah memiliki sistem yang unik yang dapat menangkal ancaman neoliberalisme di antaranya: sumber aturannya jelas yakni Islam yang digali dari nash-nash syara' bukan berdasarkan hawa nafsu manusia. Baik pemerintah dan rakyat wajib terikat pada hukum syara' dalam menjalankan kegiatan mereka.

Di dalam sistem tersebut, peran pemerintah dan individu masyarakat dijelaskan dengan sangat jelas. Sebagai contoh, negara berkewajiban untuk menjamin kebutuhan dasar tiap-tiap warga negara (sehingga) terpenuhi baik pangan, sandang, perumahan. Layanan pendidikan, kesehatan dan keamanan juga disediakan secara gratis oleh negara.

Di dalam sistem khilafah, selain mengelola harta milik negara, pemerintah bertanggung jawab untuk mengelola barang-barang yang masuk dalam kategori milik umum seperti barang-barang tambang dan sarana-sarana publik yang hasilnya sepenuhnya dikembalikan kepada rakyat. Barang yang masuk dalam kategori milik privat diserahkan kepada masyarakat untuk dikelola sesuai dengan ketentuan syariah yang diawasi pelaksanaannya oleh pemerintah. []

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 150, Mei 2015
---

Sabtu, 20 Mei 2017

Serangan Masif Sudutkan Islam Dan Umat Islam



Upaya menyudutkan Islam sangat terasa dalam pemberitaan media-media seperti Kompas, Tempo, BBC atau VOA. Media-media yang dikenal sebagai corong sekulerisme, menerkam apa saja, yang bisa digunakan untuk menyerang Islam. Seperti perjuangan menerapkan syariah Islam, larangan miras, kecaman terhadap LGBT, penerapan sebagian syariah Islam di Aceh, termasuk perda-perda yang dicap oleh mereka sebagai perda syariah.

Serangan terkadang dilakukan secara vulgar, sering kali secara halus. Tapi, siapapun yang membaca, bisa paham bahwa itu adalah serangan terhadap Islam, langsung atau tidak langsung. Kasus-kasus yang ada hanya sekadar perantara. Sebagai contoh, siapapun paham, larangan membuka rumah makan secara terbuka, tidak bisa dipisahkan dari aspirasi umat Islam untuk menghormati bulan Ramadhan. Tidak membiarkan tempat-tempat maksiat, termasuk membiarkan orang-orang Islam makan secara bebas di siang hari di bulan Ramadhan tanpa alasan syar'i yang membolehkannya. Aspirasi ini kemudian tertuang dalam perda-perda yang dicap kelompok liberal sebagai perda syariah.

Meskipun seolah hanya menyoal perda yang melarang membuka rumah makan secara terbuka di bulan Ramadhan, jelas media-media liberal membawa misi penting dalam opini yang mereka bangun.
Pertama, stigma negatif terhadap syariah Islam. Ingin dibangun opini, begitulah kalau aspirasi Islam diikuti, rakyat kecil akan menjadi korban. Untuk menimbulkan simpati massa, media seperti Kompas, mem-blow up sisi kemanusiaan dari pemilik warung yang menangis saat dipaksa untuk menutup warungnya.

Kedua, ide sekulerisme. Dibangun opini, aturan agama seharusnya tidak menjadi aturan negara. Termasuk aspirasi yang berdasarkan agama, berbahaya kalau menjadi hukum positif, bertentangan dengan kemajemukan yang ada di masyarakat.
Ketiga, pemberitaan media massa juga sarat dengan sosialisasi ide liberalisme yang intinya tidak mau diatur oleh agama. Masalah ketaatan kepada agama diserahkan kepada pribadi masing-masing. Mau taat atau tidak adalah pilihan masing-masing. Karenanya negara tidak boleh campur tangan.

Untuk itu kita perlu menegaskan, berbagai serangan terhadap ajaran Islam belakang ini, semakin menunjukkan bahwa ide-ide sekulerisme, liberalisme, HAM, adalah ide yang berseberangan dengan Islam dan berbahaya. Ide-ide ini menyebabkan umat Islam akan semakin jauh dari syariah lslam. Terbukti, ide-ide inilah yang menjadi dasar penolakan terhadap syariah Islam. Karena itu umat Islam harus tegas menolak ide-ide ini.

Dalam Islam tidak dikenal sekulerisme. Umat Islam justru harus menerapkan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupannya. Bukan hanya individu, tapi juga politik, sosial, pendidikan, hukum, dan kenegaraan. Karena itu, peran negara yang berdasarkan syariah Islam sangatlah penting, agar syariah Islam bisa diterapkan secara totalitas. Negara dan Islam adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Islam juga bertentangan dengan paham liberalisme. Dalam Islam, setiap Muslim, wajib terikat pada syariah Islam kapanpun, di manapun, dalam aspek apapun. Karenanya, apapun yang wajib harus dilakukan, apapun yang haram harus ditinggalkan. Setiap Muslim akan dituntut pertanggungjawaban oleh Allah SWT tentang keterikatan mereka terhadap syariah Islam.

Kewajiban shalat, shaum di bulan Ramadhan, menutup aurat, dan kewajiban-kewajiban lain dalam Islam, pelaksanaannya bukanlah berdasarkan suka atau tidak suka, ikhlas atau tidak ikhlas. Yang namanya wajib tetap wajib dilakukan, mau suka atau tidak ikhlas. Meskipun pengguna kerudung dan jilbab tidak ikhlas, tetap saja hukumnya wajib. Negara dalam hal ini berperan menjamin dan menjaga agar seluruh syariah Islam bisa diterapkan. Hukum rajam bagi pezina misalnya, tetap harus dilakukan oleh negara, meskipun pezina itu tidak ikhlas diberikan sanksi. Tugas negara Islam dalam hal ini adalah menegakkan hukum Islam.

Kita perlu juga tegaskan, problem mendasar dari perda-perda yang dicap syariah Islam itu adalah karena diterapkan sebagian-sebagian. Aturan Islam tidak diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan atau tidak diberlakukan sama kepada setiap pihak. Negara yang berdasarkan syariah Islam, tentu bukan hanya melarang warung-warung buka di siang hari di bulan Ramadhan, bukan pula berlaku hanya untuk warung kecil, tapi rumah makan besar.

Syariah Islam juga mewajibkan negara menyejahterakan rakyatnya secara ekonomi. Karena itu negara khilafah wajib menjamin kebutuhan sandang, pangan, dan papan dari setiap individu rakyat. Pelayanan pendidikan, kesehatan, dan keamanan, wajib gratis karena merupakan tanggung jawab negara Islam. Karena itu, tidak ada alasan seseorang melakukan kemaksiatan dengan alasan ekonomi.

Hal ini juga terkait dengan pengelolaan kekayaan alam sebagai sumber pendapatan negara. Berdasarkan syariah Islam, barang-barang tambang yang jumlahnya melimpah adalah milik rakyat, yang dikelola untuk kepentingan rakyat. Tidak boleh diberikan kepada swasta. Hal ini jelas akan menjadi sumber pendapatan negara khilafah yang besar untuk melayani kebutuhan rakyat.

Semua ini ditopang dengan pendidikan yang berdasarkan Islam. Setiap rakyat diberikan edukasi agar taat kepada hukum Allah SWT, memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Sehingga akan muncul ketakwaan dari rakyat secara total. Lagi-lagi peran negara khilafah sangat penting untuk menerapkan kebijakan pendidikan Islam.

Walhasil, seluruh syariah Islam itu hanya bisa terwujud kalau di tengah-tengah umat terdapat negara khilafah. Dengan penerapan syariah Islam secara totalitas inilah, Islam akan bisa dirasakan sebagai rahmatan lil alamin, menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia. Inilah wujud takwa sesungguhnya. Taat dan takut kepada Allah dalam segala aspek kehidupan. Inilah yang diharapkan dari Ramadhan kita. Allahu Akbar. []

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 176, Juni-Juli 2016
---

Kamis, 04 Mei 2017

Siapakah Yang Mengancam Indonesia



Sesungguhnya umat Islam memiliki peran sangat besar mengusir penjajah dari negeri ini. Mereka berkorban harta dan jiwa. Lihat saja bagaimana Rais Akbar Nahdlatul Ulama (NU), Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy'ari mengobarkan Resolusi Jihad pada 10 November 1945.

Anehnya, begitu merdeka, para penguasa justru mengambil konsep-konsep dari orang kafir untuk mengatur negeri ini. Bahkan, aturan hukum diambil sepenuhnya dari Belanda, penjajah yang telah menjarah kekayaan negeri ini lebih dari tiga abad lamanya.

Maka, memang penjajah telah hengkang secara fisik, tapi kaki dan tangan mereka masih mencengkeram erat negeri khatulistiwa yang kaya raya ini. Ini bisa berlangsung karena sistem negeri ini sama dan sebangun dengan sistem penjajah.

Melalui liberalisme gaya baru atau neoliberalisme, penjajah menjadikan negeri ini membuka seluruh pintu-pintunya untuk dimasuki dengan leluasa. Pintu-pintu itu adalah peraturan perundang-undangan yang pro terhadap asing.

Terjadilah liberalisasi di seluruh sektor melalui legalisasi peraturan yang disusun oleh wakil rakyat. Melalui proses demokratisasi yang dianggap sebagai sistem pemerintahan terbaik, wakil rakyat atas nama rakyat justru melindungi keberadaan asing. Para penjajah ini bisa kembali leluasa menjarah atas nama pasar bebas.

Neoliberalisasi ini semakin nyata di era reformasi. Lebih nyata lagi di era Jokowi-JK. Di saat pengangguran sekarang mencapai lebih dari 11 juta orang, pekerja-pekerja Cina justru masuk. Ketika industri dalam negeri mulai tumbuh, barang impor dari Cina merajai pasar. Sudah dapat diduga anak negeri terpinggirkan. Bukan karena kemauan mereka tapi karena kebijakan pemerintah.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mulai dijual lewat bursa. Siapa yang beli? Ya para pengusaha, termasuk pengusaha asing. Perusahaan-perusahaan swasta pun telah berpindah tangan kepada orang asing. Penjarah negeri ini seperti Freeport, Chevron, Exxon Mobil dll makin mantap menjarah tambang migas lndonesia.

Liberalisasi itu menjadi wujud penjajahan gaya baru atau neoimperialisme. Lihatlah bagaimana para penguasa lebih tunduk kepada asing dibanding kepada aspirasi rakyatnya sendiri.

Rakyat? Ya, mereka menjadi pelengkap penderita. Benarlah anekdot bahwa mereka telah diwakili kesejahteraannya oleh wakil rakyat.

lronisnya, ketika ada gerakan lslam yang menawarkan solusi atas negeri ini secara konseptual, malah dituding mengancam negara. Padahal, diterapkan saja belum, tapi sudah ditakut-takuti. Tudingan fundamentalis-lah, teroris, ekstrimis, dan sebagainya disematkan agar rakyat tidak mendukung dan bergabung dengannya.

Sementara neoimperialisme dan neoliberalisme yang sudah nyata-nyata merusak dan mengancam kelangsungan negeri ini malah dipertahankan dan dipuja-puja. Mereka lupa bahwa konsep tersebutlah yang menjadikan negeri ini karut marut seperti sekarang.

Ada dua perspektif terhadap kondisi tersebut. Pertama, liberalisme dan imperialisme ini sengaja dipertahankan karena hanya dengan itulah asing bisa mengamankan keberadaannya. Hanya dengan itu pula, antek-antek asing bisa berkuasa dan ikut-ikutan menikmati kekayaan negara.

Kedua, mereka sangat takut terhadap Islam. Sejarah masa lalu menjadi cermin bagaimana Islam bisa mengalahkan mereka. Inilah dendam masa lalu Barat yang kafir atas Islam. Maka sebaik apapun konsep Islam, pasti mereka tolak karena dendam dan kebencian.

Islam Menyelamatkan

Maka bisa diduga orang yang mengatakan Islam sebagai ancaman adalah mereka yang pertama, buta terhadap Islam; kedua, memang dendam dan benci terhadap Islam. Tak ada ceritanya, dalam kurun sejarah masa lalu lebih dari 13 abad kaum Muslim menguasai dunia, ada kerusakan yang begitu parah dalam segala sektor.

Malah Islam menjadi mercusuar bagi peradaban manusia. Raja dan Kaisar Eropa sampai-sampai menginginkan agar keluarga mereka bisa dididik oleh pendidikan Islam (di Khilafah). Dunia yang saat itu hidup dalam kebodohan berubah karena imbas perkembangan peradaban Islam.

Dalam situasi kehancuran peradaban Barat sekarang, tak ada lagi solusi kecuali hanya kembali kepada Islam. Hanya orang yang bodoh, mempertahankan sistem kapitalisme-liberalisme-sekulerisme yang sedang sekarat. Kembali kepada komunisme, lebih bodoh lagi karena sistem itu telah hancur.

Sistem Islam atau khilafah, sesungguhnya adalah sistem yang pas dengan manusia. Sistem ini pernah diterapkan oleh Rasulullah SAW dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Tata aturan di dalamnya dibuat oleh Allah SWT, Dzat Yang Maha Benar dan MahaAdil.

Keberadaannya pun tidak hanya bagi kaum Muslim, tapi bagi manusia. Termasuk non-Muslim. Tak ada diskriminasi. Sistem ini memuliakan manusia dan tetap menghormati keberagaman di tengah masyarakat.

Lebih dari itu, khilafah akan menjadi jalan bagi sebuah kemajuan dan kesejahteraan bagi umat manusia di dalamnya. Khilafah akan menjadi negara adidaya yang siap menghadapi upaya intervensi baik secara politik dan ekonomi.

Dan yang terpenting, dengan khilafah, syariah lslam bisa diterapkan secara kaffah. Dampaknya, hidup akan menjadi berkah. Pintu keberkahan langit dan bumi akan dibuka oleh Allah karena Allah ridha terhadap kehidupan di muka bumi yang sesuai aturan-Nya.

Siapa yang tidak ingin hidupnya mendapat ridha Allah? Hanya setan yang tidak menginginkan itu semua terwujud di muka bumi. Mengapa? Karena dengan sistem Islam, umat dijaga agar mereka selamat masuk surga. Jadi lslam adalah ancaman bagi setan. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 157, September 2015
---

Rabu, 28 Oktober 2015

Muslimah Taat Kepada Islam


Muslimah Cerdas Muslimah Dambaan Umat. menyatukan pemikiran untuk hidup di bawah bingkai Khilafah Islamiyah. seorang Muslimah adalah seorang perempuan yang memiliki sikap dan berpikir dalam memutuskan perkara sesuai dengan Islam. Pada fakta dunia saat ini, sangat sulit untuk menjadi seorang Muslimah yang taat kepada Islam secara kaffah. Perempuan saat ini dipaksa untuk keluar dari tugasnya, perempuan dituntut untuk bekerja sehingga melalaikan tugas utamanya yaitu menjadi pendidik generasi. Akibatnya, mereka melahirkan generasi-generasi yang terpuruk. Perempuan diajak keluar dari tugasnya dengan dalih pemenuhan kebutuhan hidup, hingga akhirnya sudah terjerumus kepada sikap hedonis, konsumtif hingga sekularis.
Muslim turut ambil bagian untuk menyebarluaskan ide penerapan Islam secara kaffah.


Remaja adalah aset umat yang akan memimpin peradaban kedepannya. Remaja adalah agen perubahan yang mampu meningkatkan martabat Negara, Ia memiliki tugas dan peran yang besar dalam mengembalikan kejayaan Islam. Namun, kini remaja digerogoti oleh gaul bebas dan pemikiran yang kotor sehingga tampaklah berbagai kehancuran negeri ini. Dengan fakta yang sedemikian rusak, maka mengambil peran penting dalam merubah kondisi yang rusak ini. Remaja Smart Pemimpin Peradaban Dalam Naungan Khilafah.

menyadarkan dan menyeru para remaja untuk membangun kembali peradaban Islam yang mulia dan meninggalkan ideologi kufur. Remaja adalah tiangnya peradaban umat sebagaimana pemuda pemudi yang tangguh dan smart, Mush’ab bin Umair, Aisyah, Fatimah, dan lain-lain yang membangun peradaban Islam yang gemilang. Oleh karena itu, wahai remaja terimalah seruan kami yakni ikut serta dalam memperjuangkan kembali kehormatan Islam yang dicabik-cabik oleh sistem yang rusak yaitu Kapitalisme Demokrasi. Marilah kita bangun sekali lagi kejayaan Islam dengan penegakan Syariah dan Khilafah.


Save Generation from HIV/AIDS, Gaul Bebas dan V-Day with Khilafah. untuk tidak terjebak pada pergaulan bebas saat ini yang semakin marak ditengah-tengah masyarakat. Pola hidup remaja yang ikut-ikutan dalam merayakan Valentine Day saat ini harus segera dihentikan. Dukungan keluarga juga sangat penting dalam membentuk pola sikap remaja. untuk dapat menyadarkan generasi remaja saat ini yang sudah terpengaruhi oleh budaya asing (barat kafir).

fakta-fakta bahwa pacaran menjadi hal yang biasa, malahan jika remaja tidak pacaran maka dianggap tidak biasa dan ketinggalan zaman. Pacaran yang akhirnya mengarah ke pergaulan bebas dan berujung pada aborsi. fakta sejarah valentine yang menyuburkan pergaulan bebas yang berakhir pada pengidap HIV/AIDS. Jadi ini semua adalah jebakan liberalisme untuk remaja Muslim.

bagaimana Islam menyelasaikan masalah penyebaran HIV/AIDS, gaul bebas. Pertama, Islam menuntut negara Khilafah untuk memproteksi penduduknya dari tontonan atau hal-hal yang merusak akidah umat. Negara Khilafah juga akan memberikan sanksi hukum kepada pelaku kejahatan (zina), jika pezina tersebut telah menikah maka akan dijatuhi hukum Rajam, dan diJilid 100x untuk pelaku yang belum menikah. Hukuman ini berfungsi sebagai penebus dosa pelaku zina di akhirat, juga sebagai pencegah terjadi kembali perzinahan.

fenomena pergaulan bebas remaja saat ini yang sangat mengkhawatirkan. tanggal 14 februari tanggal tersebut menjadi ajang gaul bebas yang terus dijajakan oleh kebudayaan asing kafir. menyadarkan para remaja untuk tidak terjebak dalam pergaulan bebas, juga memahami bahwa solusi penyelasaian masalah HIV/AIDS dan gaul bebas hanya dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam bingkai Daulah Khilafah.


Save Generation from HIV/AIDS, FREE SEX dan V-DAY with KHILAFAH. penyadaran terhadap generasi muda tentang bahayanya virus mematikan HIV/AIDS tersebut serta Khilafah sebagai satu-satunya solusi setiap permasalahan yang dihadapi umat saat ini khususnya para remaja. para remaja untuk tidak ikut terjebak dalam pergaulan bebas yang semakin marak di tengah-tengah masyarakat dan juga pola remaja yang ikut-ikutan dalam merayakan valentine day saat ini harus segera dihentikan. Dan dalam hal ini, dukung keluarga juga sangat penting dalam membentuk pola sikap remaja. menyadarkan generasi remaja saat ini yang sudah terpengaruhi oleh budaya asing kafir (barat).

Valentine Days Free Sex, HIV/AIDS: Jebakan Liberalisme Pada Remaja Muslim. sikap para remaja dewasa ini yang beranggapan bahwa pacaran merupakan aktivitas yang biasa sehingga bagi yang tidak pacaran dianggap ketinggalan jaman adalah pola pikir yang keliru dan hal itu sama halnya dengan perayaan hari Valentine yang semakin menyuburkan pergaulan bebas hingga berujung pada HIV/AIDS. Jadi semua itu tidak lain adalah jebakan liberalisme untuk remaja Muslim.

mengapa umat Islam tidak dibenarkan ikuta merayakan dalam acara Valentine’s Day tentu mempunya dasar yang kuat yaitu karena Islam mengharamkan seorang Muslim bertingkah laku menyerupai orang-orang kafir. mengutip sebuah hadits Rasul bahwa “barangsiapa mengikuti suatu kaum maka dia termasuk dalam golongan kaum tersebut.”

bagaimana Islam dalam menyelesaikan masalah penyebaran HIV/AIDS, free sex dan lain sebagainya. Pertama Islam menuntut negara Khilafah untuk memproteksi penduduknya dari tontonan yang merusak aqidah umat dan negara sebagai pemegang kendali pelaksanaan Syariat Islam akan memberikan sanksi hukum kepada pelaku zina sebagaimana yang telah ditentukan dalam Islam.

Dalam hal ini, untuk mewujudkan negara yang berkompeten dalam menjaga generasi haruslah dengan menerapkan Syariat Islam secara Kaffah yang tentunya dalam bingkai negara Khilafah. berpegang teguh pada Islam dan menolak ajaran-ajaran bebas kaum kafir.

fenomena pergaulan bebas remaja saat ini sangat mengkhawatirkan. menyadarkan para remaja untuk tidak terjebak dalam pergaulan bebas, juga memahami bahwa solusi penyelesaian masalah HIV/AIDS dan free sex hanya dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam bingkai daulah Khilafah.

Sabtu, 20 Mei 2017

Ekonomi Di Bawah Jokowi, Ngeri!


muslimin tertindas
Menteri-menteri yang terkait dengan barang kebutuhan pokok rakyat terus mondar-mandir ke Istana Negara. Wajah Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Perdagangan Thomas Lembong, Menteri Perindustrian Saleh Husin, dan Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga terkadang terlihat serius sehingga tak mau melayani wawancara wartawan.

Yah, pemerintah lagi bingung menghadapi lonjakan harga kebutuhan pokok yang melejit cukup tinggi. Kenaikan itu sendiri tidak biasa. Mengapa? Karena biasanya baru ada kenaikan harga kebutuhan pokok bila dekat-dekat Lebaran. Tapi kali ini, Ramadhan belum tiba tapi harga sudah merangkak naik.

Padahal permintaan terhadap sembilan bahan pokok (sembako) dan kebutuhan lainnya tergolong tetap alias stagnan, belum ada lonjakan yang tinggi. Namun kenapa, kenaikan harganya begitu tinggi.

Yang paling terlihat adalah harga daging sapi. Harga daging ini tiba-tiba menembus Rp130.000 per kg. Para pedagang di pasar pun mengeluh, terlebih lagi konsumen. Demikian juga daging serta telur ayam. Kenaikan juga pada bawang merah, cabai, wortel, minyak goreng, dan gula pasir.

Dalam kondisi seperti ini, Jokowi menginstruksikan agar para menterinya segera mengambil kebijakan untuk menurunkan harga-harga itu. Khusus untuk daging, Jokowi bahkan mematok harga daging harus sampai Rp80.000 per kg. Inilah mengapa mereka bolak-balik ke istana.

Pemerintah mengakui ada mafia yang memainkan harga pangan di pasar. Selain itu, menurut pemerintah, rantai distribusi dinilai terlalu panjang. Para menteri dititahkan Jokowi mencari solusi soal ini. "Harapannya adalah bagaimana harga di tingkat petani bisa menguntungkan. Kemudian di tingkat pengusaha juga menguntungkan, tetapi konsumennya tersenyum. Memang butuh waktu tidak bisa selesai hanya sehari dua hari. Ini butuh waktu karena persoalan puluhan tahun yang harus kita selesaikan," kata Mentan.

Maka langkah yang terlihat di lapangan adalah operasi pasar. Pemerintah katanya menggelar operasi pasar di 4.000 titik di seluruh Indonesia pada Ahad (12/6/2016). Harapannya, dengan operasi pasar itu akan membanjiri pasar dengan produk/komoditas sejenis agar harga produk/komoditas bisa turun. Berhasilkah? Belum.

Di samping itu, pemerintah membuka kran impor baik daging sapi, beras, dan bawang merah. Ini jadi masalah sendiri karena justru menghancurkan harga di tingkat produsen. Yang diuntungkan malah para importir yang notabene pengusaha besar. Siapa mereka? Mereka yang dekat kekuasaan.

Pengamat ekonomi dari INDEF Enny Sri Hartati menilai pemerintah tak memiliki konsep yang jelas dalam mengelola negara. Kenaikan harga pangan, menurutnya, bukanlah sesuatu yang tiba-tiba tapi sudah berlangsung tiap tahun. Tidak ada antisipasi.

Tak mengherankan, pemerintah terlihat seperti menggunakan jurus mabuk ketika menghadapi permasalahan baru. Apatah lagi, sebelum kampanye, Jokowi sudah kadung janji macam-macam. Janji tidak akan impor daging. Tidak akan menambah utang luar negeri. Akan meningkatkan daya saing produk dalam negeri. Akan menurunkan harga sembako. Dan sebagainya.

Pengamat ekonomi politik Salamuddin Daeng menilai, satu pilar ekonomi pemerintahan Jokowi sudah roboh, yakni sumber pembiayaan negara dan pemerintahan. Penyebabnya adalah penerimaan negara dari pajak dan non pajak yang jatuh semakin dalam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. APBN gagal mencapai target. Pajak seret, sementara sumber daya alam sudah ada di tangan asing.

Sektor keuangan secara keseluruhan pada era pemerintahan Jokowi menghadapi masalah yang sangat serius. Mengapa? Ini dikarenakan utang pemerintah dan swasta yang semakin besar baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Walhasil, saat ini rakyat dibebani kenaikan harga yang tinggi, termasuk kenaikan tarif listrik 140 persen bagi pelanggan rumah tangga 900 VA pada 1 Juli 2016, dan dibebani beban utang yang berkepanjangan. Ketika utang negara naik, bukankah nanti rakyat yang akan membayarnya?

Dan kenaikan harga-harga ini biasanya akan berdampak panjang. Sangat sulit untuk turun lagi. Inilah yang akan mengakibatkan beban rakyat bertambah. Tidak hanya pada masa sekarang tapi juga berikutnya dengan beban utang yang harus dibayar penduduk negeri.

Berpangkal pada Liberalisme

Situasi ekonomi Indonesia tidak lepas dari penerapan sistem ekonomi liberal. Neoliberalisme yang diambil sebagai prinsip kebijakan negara dalam mengatur urusan masyarakat ini hanya menguntungkan pihak tertentu yakni para pemilik modal alias kapitalis saja. Dan itu jumlahnya sangat sedikit.

Sementara rakyat hanya menjadi pelengkap penderita. Rakyat menjadi obyek eksploitasi mereka. Mereka ibarat tikus yang sengsara di lumbung padi. Tak bisa hidup enak di tengah jumlah makanan yang berlimpah.

Ini terjadi karena sang pengatur rumah justru memberikannya kepada tamu asing dan sekelompok orang tertentu yang sudah membiayai dirinya untuk sampai kepada kekuasaan. Siapa mereka? Mereka adalah Asing dan Aseng, sementara para penguasa itu adalah Asong, yang menjual kekuasaannya kepada asing dan aseng tersebut.

Padahal, sistem neoliberalisme ini sendiri adalah sistem yang batil. Di Barat sistem ini terbukti kerusakannya. Sekarang mulai digugat oleh rakyat mereka sendiri. Beberapa negara Barat sudah menyatakan bangkrut akibat kapitalisme-liberalisme ini. Bahkan Dana Moneter Internasional (IMF) telah mengeluarkan pernyataan bahwa liberalisme telah gagal.

Tapi anehnya, Indonesia justru memegang erat sistem bukan-Islam ini dan membelanya mati-matian. Maka, mempertahankan sistem ini sudah pasti dapat dibaca arahnya. Kehancuran ekonomi! Ngeri! Kalau sudah begitu, Barat -sebagai pengarahnya- pasti akan lepas tangan.
Oleh karena itu, sikap yang cerdas adalah meninggalkan sistem ini dan membuangnya jauh-jauh. Bukankah ada sistem yang lebih baik? Ya, itulah sistem Islam. Dengan itu, negeri ini akan mendapat keberkahan dari Allah SWT. Bukankah itu yang kita harapkan? []

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 176, Juni-Juli 2016
---

Rabu, 24 Mei 2017

Islam Kaffah, Solusi Tuntas Atasi Liberalisme


dakwah penegakan sistem Islam


Islam Kaffah, Solusi Tuntas

Islam memiliki sistem yang bila diterapkan secara sempurna akan bisa melindungi siapapun yang hidup di dalamnya, baik Muslim maupun non Muslim. Penerapan Islam secara kaffah akan mewujudkan Islam rahmatan lil 'alamin.

Sejak 14 abad yang lalu, Islam telah melarang orang untuk minum minuman keras, meski hanya setetes. Larangan ini sangat tegas, demi untuk menjaga akal manusia agar tidak rusak. Termasuk di dalamnya adalah narkoba. Maka segala hal yang terkait dengan benda haram itu dilarang, mulai dari memproduksi, mengedarkan, hingga mengonsumsinya. Sehingga tidak ada dalih sedikitpun untuk bermuamalah dengan benda haram ini.

Sudah lazim diketahui, akal yang rusak akan mengantarkan yang bersangkutan melakukan tindakan yang tidak terkontrol dan cenderung mengikuti hawa nafsunya. Mereka tak lagi bisa melihat benar dan salah, baik dan buruk. Akibatnya, mereka pun bisa mendzalimi bahkan membunuh orang lain hanya karena perkara sepele.

Melalui larangan minum miras dan mengonsumsi narkoba ini, maka akal manusia akan terjaga. Akal yang terjaga akan menjadikan manusia berjalan sesuai dengan perintah dan larangan Allah SWT. Sanksi tegas berupa cambuk bagi peminumnya dengan 80 kali cambuk.

Begitu juga tontonan yang bisa merusak akal juga diharamkan, seperti film, gambar dan aksi porno. Orang yang memproduksi, mengkonsumsi dan mendistribusikannya pun diharamkan, dan akan dikenai sanksi. Dengan begitu, akal manusia pun terjaga.

Selain itu, penerapan Islam secara kaffah akan mewujudkan terpeliharanya jiwa. Islam tidak memberikan toleransi sedikitpun terjadi pembunuhan atas manusia tanpa hak. Nyawa manusia sangat dilindungi dalam lslam sehingga lenyapnya dunia dan seisinya lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim.

Makanya, sanksi yang sangat keras bagi para pelaku pembunuhan yakni berupa qishash akan menjerakan orang lain untuk berbuat yang sama. Orang yang membunuh akan dihukum mati, kecuali jika keluarganya memaafkan, itupun harus membayar diyat 100 ekor unta (40 di antaranya unta bunting). Bukankah ini sangat adil?

Sistem hukum yang adil ini akan mampu menjaga jiwa manusia. Lebih dari itu, sanksi yang keras akan mencegah manusia lainnya untuk melakukan perbuatan yang sama. Bila semua orang tak berani berbuat jahat kepada orang lain, bisa dibayangkan apa yang terjadi? Ketenangan dan ketentraman masyarakat.

Dalam sistem Islam, negara membentuk secara sistematis ketakwaan individu dan masyarakat. Caranya dengan menanamkan akidah Islam secara benar kepada seluruh anak didik sejak mereka berada di sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Selain itu, interaksi antar anggota masyarakat diatur dengan syariah Islam. Demikian pula, negara menerapkan hukum Islam secara adil kepada seluruh warga negara. Perpaduan ketakwaan Individu, masyarakat, dan negara menjadi jaminan terwujudnya masyarakat yang Islami secara hakiki.

Ancaman: Liberalisme

Tanpa penerapan syariah Islam secara kaffah terbukti Indonesia terjerumus dalam jurang keterpurukan. Negeri yang kaya raya ini ternyata rakyatnya hampir setengahnya dalam kondisi miskin. Sumber daya alam yang melimpah telah dikuasai asing.

Secara sosial, dengan paham kebebasan, masyarakat lambat laun menjadi rusak. Maraknya pornografi dan pornoaksi adalah buah dari sistem kebebasan itu. Gaul bebas dan seks bebas telah menjadi budaya baru.

Akibat liberalisme pula Indonesia dipecah belah. Timor Timur akhirnya lepas dari kesatuan wilayah Indonesia akibat sistem demokrasi. Bahkan beberapa daerah saat ini sedang berusaha melepaskan diri dari Indonesia dengan prinsip kebebasan menentukan nasib sendiri.

Dengan paham liberal pula, kaum Muslim dikuasai oleh orang-orang kafir. Mereka tidak hanya menguasai secara informal tapi sudah masuk dalam kekuasaan negara. Dengan dalih demokrasi, mereka dengan seenaknya memaksakan berbagai aturan yang tak sesuai dengan aspirasi mayoritas Muslim di Indonesia.

Aturan perundang-undangan pun tak luput dari intervensi asing karena prinsip demokrasi. Para pengusaha pun bisa berbuat apa saja karena pengaruhnya terhadap kekuasaan politik di negeri ini gara-gara kemampuan mereka memengaruhi secara finansial.

Walhasil, secara fakta, ideologi kapitalisme-liberal bukan saja mengancam tapi telah menghancurkan dan merusak negeri ini. Sistem yang dibangun oleh ideologi ini terbukti tak mampu menjadikan Indonesia digdaya dan disegani dunia. Sebaliknya kian terpuruk menjadi negara yang dihinakan negara lain.

Ganti Sistem

Dalam situasi seperti ini, menurut juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia M Ismail Yusanto, mempertahankan ideologi kapitalisme-liberal berarti melanggengkan Indonesia dalam cengkeraman asing, tidak bisa mandiri, dan menuju jurang kehancuran budaya. Sementara pindah ke sistem sosialis-komunis berarti bunuh diri karena sistem itu terbukti gagal dan telah hancur.

Maka, ia menegaskan, pilihan satu-satunya sistem yang bisa mewujudkan perubahan hakiki hanya sistem Islam. ”inilah satu-satunya sistem yang akan membawa rahmatan lil 'alamin atau kebaikan bagi negeri ini, sekarang dan yang akan datang,” tandasnya.

Dengan syariat Islam, paparnya, seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara akan diatur dengan cara yang benar. Dampaknya, ekonomi akan tumbuh, stabil dan akan memberikan keadilan dan kesejahteraan kepada seluruh rakyat.

Dengan syariah pula akan terwujud sistem pendidikan dan budaya yang akan membentuk SDM yang beriman dan bertakwa serta mampu menjawab tantangan kemajuan zaman. Dan dengan kekuatan khilafah, penjajahan baru dalam segala bentuknya bisa dihentikan dengan segera. []

Apalagi Alasan Menolak Syariah?

Satu-satunya sistem kehidupan yang belum pernah diterapkan secara kaffah di Indonesia adalah sistem Islam. Sistem sosialisme komunisme pernah berjaya di masa awal kemerdekaan Indonesia yakni di masa Orde Lama. Setelah itu, Indonesia berubah haluan ke ideologi kapitalisme liberal dengan berbagai wujudnya.

Hasilnya? Sistem itu gagal. Bukannya Indonesia bertambah baik, justru sebaliknya bertambah buruk.

Secara logika sederhana, masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim akan sangat mudah menerima syariah Islam. Apatah lagi sangat jelas bahwa sistem Islam akan membawa kebaikan. Bukankah aturan-aturan Islam berasal dari Yang Maha Benar dan Maha Adil. Lalu apa yang diberatkan dari sistem ini?

Walhasil, tidak ada alasan lagi sebenarnya menolak syariah islam, orang kafir sekali pun. Maka, hanya orang yang memusuhi Islam dan antek musuh Islam-lah yang menentang penerapan syariah Islam secara kaffah dalam sistem khilafah. Termasuk di dalamnya adalah orang-orang yang selama ini melanggar aturan islam, apakah para koruptor, bandit, pezina, maling, perampok, penipu, pembunuh, pemerkosa dan konco-konconya.

Orang-orang baik, para ulama, tokoh masyarakat, dan siapapun yang menginginkan kebaikan dunia dan akhirat pasti menerima penerapan syariah Islam tanpa keberatan sedikitpun. Bahkan merekalah yang berada di garda terdepan demi terwujudnya Islam rahmatan lil 'alamin melalui penerapan syariah Islam secara kaffah dalam naungan khilafah. []

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 174, Mei-Juni 2016
---

Minggu, 11 Juni 2017

Makar Musuh Menjegal Islam


 
Mereka Bicara

Abu Deedat, Kristolog:
Wajar Sebagai Penganut Evangelis

Itu wajar bagi dia (pendeta Gerald Rowlands) sebagai penganut Evangelis. Evangelis adalah salah satu sekte Kristen yang sangat mendukung kehadiran zionis Israel. Jadi, sesuai dengan keyakinan mereka dalam Alkitab bahwa sudah dinubuwatkan, bahwa umat Islam dengan tegaknya khilafah itu tentu membuat mereka tidak bisa bergerak menyebarkan misi mereka.

Dia ini keturunan Yahudi dan penganut Kristen Evangelis yang meyakini nubuwat (prophetic) dalam Alkitab yang menyebutkan akan berdirinya Israel Raya, di antara nubuwatnya itu tentang akan kembali tegaknya syariah itu. Maka itu harus dihancurkan.

Evangelis adalah sekte Kristen yang mendukung Zionis Yahudi lantaran merasa sama kitab sucinya, sama-sama meyakini Perjanjian Lama. Kedua, di dalam Alkitabnya sendiri kan dinubuwatkan wilayah-wilayah keturunan Abraham harus diserahkan kepada Yahudi (Israel). Yakni mulai dari sungai Nil di Mesir hingga sungai Eufrat di Irak.

Ini yang harus dikuasai terlebih dahulu. Sebagaimana kata Israel itu: I=Irak, S=Suriah, R=Rum (Turki), A=Arab Saudi, E=Egypt (Mesir), L=Libanon. Negara-negara tersebut, memang sudah dinubuwatkan di dalam Alkitab bahwa itu akan diberikan kepada keturunan Abraham alias Bani Israel itu.

Nah, kaum Kristen Evangelis meyakini bahwa itu memang benar berdasarkan Alkitab. Dan kembalinya orang-orang Yahudi dari berbagai negara Eropa dan sebagian dari Amerika yang kembali ke Palestina, meyakini benar bahwa itu merupakan nubuwat akan turunnya Yesus sebagai juru selamat mereka.

Karena Perjanjian Lama, diimani oleh Yahudi dan Kristen. Di sini lah korelasinya antara Kristen dengan Zionis. Maka muncul-muncul kelompok Kristen Zionis. Oleh karena itu mereka harus melakukan perlawanan terhadap kelompok-kelompok Islam yang ingin kembali tegaknya khilafah. []

Adhyaksa Dault, Mantan Menpora RI:
Khilafah Pasti akan Tetap Tegak

Tidakbisa dijegal, tegaknya kembali khilafah adalah sunatullah dan tanda-tanda kenabian. (alamatun nubuwwah). Kita kan orang Islam, ya percaya betul Rasulullah SAW mengatakan akan tegak kembali kekhilafahan berdasarkan metode kenabian. Selesai. Mereka mau bermakar, tetapi Allah Maha Pembuat Makar yang Baik. Itulah pernyataan saya, khilafah itu pasti tegak!

Khilafah itu pasti akan tetap tegak dengan atau tanpa peran kita. Cuma masalahnya, bagaimana kita berproses dalam peran itu. Saya sangat sedih bila ada orang Islam yang mengatakan kalau khilafah itu utopis. Itu pernyataan bego. Menurut saya, pendapat bodoh. Karena khilafah itu pasti merupakan solusi persoalan umat Islam sedunia. Dan itu jaminan dari Rasulullah SAW pasti tegak. Hanya, mau tidak kita ikut dalam proses penegakannya itu. Kalau kita punya kekuasaan, kita harus menggunakan kekuasaan menuju terbentuknya itu. Hanya sayangnya dunia Islam pada hari ini terutama di Timur Tengah terpecah-pecah untuk kepentingan dunianya sendiri. Tapi pasti menurut saya, sebentar lagi khilafah akan berdiri. []

Maman Abdurrahman, Ketua Umum Persatuan Islam:
Itu Memang Karakter Mereka

Jadi memang, mereka itu Yahudi dan Nashrani, sampai kapanpun, dalam bentuk negara apapun, apalagi dalam bentuk khilafah Islam, mereka akan selalu melakukan kebencian-kebencian. Dalam Al-Qur’an, sudah sangat jelas memang mereka tidak akan pernah ridha kepada Nabi Muhammad SAW dan kita para pengikutnya hingga mengikuti kemauan mereka.

Jadi, kalau dia berseru seperti itu, Defeating the New Caliphate, ya memang itu karakter mereka. Negara kita saat ini seperti ini kan sebenarnya implikasi dari model yang disebut dengan liberalisme, pluralisme dan sekulerisme. Maka sebenarnya omongan Gerald Rowlands itu bukan hal baru, tetapi dirinya memang komprador baru, yang berupaya menghabisi umat Islam apalagi yang menyuarakan kesatuan umat Islam dalam bentuk khilafah Islam.

Tidak dalam bentuk khilafah Islam pun, mereka sudah menghancurkan umat Islam secara perlahan melalui pluralisme, liberalisme dan sekulerisme menghantam umat ini termasuk di Indonesia. []joko prasetyo

Daud Rasyid, Pengamat Politik Timur Tengah:
Jangan Mau Dipecah

Politik Timur Tengah tidak bisa dilepaskan dari politik Amerika Serikat, khususnya Mesir. Amerika tidak ingin kehilangan kaki tangannya. Lalu ketika mereka menyerahkan pada rakyat melalui pemilu mereka tidak rela dan memanfaatkan militer untuk melakukan kudeta. Karena militerlah yang bisa digunakan Amerika. Kalau kekuasaan diberikan kepada Ikhwanul Muslimin maka semakin menutup kepentingan Amerika kepada bangsa Mesir.

Di Suriah ada pertarungan Sunni dan Syiah, tapi yang diuntungkan pihak Amerika juga, kalau perang Sunni-Syiah. Amerika tidak perlu menghabiskan uang untuk memusnahkan dan merontokkan kekuatan Islam.

Rezim Bashar ini memang tiran dan memaksakan kehendaknya. Rezim Bashar ini memaksakan ideologinya kepada masyarakat. Ayahnya adalah sosialis tulen. Ini juga bersamaan dengan agenda Iran untuk mengekspor revolusi Syiah di seluruh dunia. Iran ingin melebarkan sayapnya untuk kembali pada imperium Persia dahulu.

Moskow memang sudah bersahabat dengan rezim Assad, sedangkan Amerika memang tidak mau Islam apapun bentuknya. Amerika tidak ingin mujahidin menang, dan membiarkan Bashar tetap eksis, kekuatan umat Islam sudah tertekan walau Amerika hanya di luar. []

Syuhada Bahri, Ketua Umum Dewan Dakwah Islam Indonesia:
Tidak Aneh

Bagi saya tidak asing dan tidak aneh kalau Yahudi dan Kristen seperti itu. Karena Al-Qur’an sendiri dengan tegas mengatakan Yahudi dan Nashrani selamanya tidak akan pernah ridha, sebelum kita mengikuti mereka. Maka yang perlu kita perhatikan langkah apa yang mereka lakukan agar kita mengikuti kemauan mereka.

Saya melihat ada tiga. Pertama, mengajak kita pindah agama. Kedua, tidak mengajak kita pindah agama, tetapi menjauhkan kita dari Islam. Dilakukan dengan menumbuhkan cinta dunia dan takut mati. Serta menumbuhkan jalan-jalan untuk mempermudah berbuat maksiat. Ketiga, membangun pemahaman Islam secara salah. Itu kan yang melahirkan jaringan lslam liberal.

Kadang juga untuk memberikan pemahaman yang salah, mereka tampil dengan menumbuhkan melaksanakan Islam secara berlebihan. Misalnya, dalam bentuk zikir-zikir, tetapi tidak mau tahu dalam urusan politik. Pokoknya ibadah saja. Itu kan berlebihan. Karena kalau dia tidak mau tahu soal politik berarti menganggap kalau politik bukan bagian dari agama Islam. []

Cholil Ridwan, Ketua MUI:
Lawan Kekufuran

Umat Islam saat ini dalam keadaan tertindas, di Indonesia umat Islam tertindas dalam segi politik dan ekonomi, Umat Islam harus bersatu sesuai Al-Qur’an dan sunnah. Kita mudah diadu-domba hingga sulit bersatu.

Umat Islam saat ini seperti sakit leukemia, sisa menunggu waktu dengan kondisi stadium 4. Umat Islam harus sadar politik secara keseluruhan, baik pimpinan Islam yang ada di partai, eksekutif, sekadar agamanya doang Islam tapi politiknya tidak Islam? Makanya harus sadar politik, untuk itu ulama harus bergerak.

Kita harus memberikan pemahaman yang benar kepada umat. Islam memiliki petunjuk sejati yakni Al-Qur’an dan hadist. Selama iman kita ini tidak utuh dan ragu dengan Islam, maka kita tidak mendapatkan hasanah fi dunnya. Indonesia jika ingin hasanah fi dunnya maka harus bebas dari kemaksiatan. Selama kita membiarkan kemaksiatan maka kita tidak bisa menjadikan Indonesia ini sebagai surga.

Tantangan umat Islam ini kita harus melawan kekufuran sekulerisme, liberalisme dan sebagainya. Ke dalam, kita harus memberikan pemahaman jelas bahwa Islam rahmatan lil alamin. Sunnah Rasul yang paling besar yang ditinggalkan umat adalah Rasul sebagai kepala negara. []fatih-joy

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 125 April 2014
---

Related Posts with Thumbnails

Spirit 212, Spirit Persatuan Umat Islam Memperjuangkan Qur'an Dan Sunnah

Unduh BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam