Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Senin, 11 Desember 2017

Nabi SAW Melakukan Pembersihan Atas Orang-Orang Musuh Negara Islam



d. Pembersihan terhadap para pengacau Negara Islam

1. Pembersihan terhadap Abu Rafi’

Abu Rafi’ Sallam bin Abi al-Hakik adalah orang Yahudi Khaibar. Dia sering mengacau Negara Islam. Bahkan ia rela memberikan bantuan yang besar kepada orang-orang Ghathfan dan suku-suku kaum musyrikin Arab di sekitarnya ketika mereka melakukan penyerangan terhadap Rasulullah Saw. Persoalan Abu Rafi, ini telah tersebar luas. Provokasinya terhadap Negara Islam termasuk bahaya yang harus segera diselesaikan dan diatasi. Sehingga pada suatu hari sekelompok orang Khazraj meminta izin kepada Rasulullah Saw. untuk membunuhnya sebagai bukti pembelaan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah Saw. pun mengizinkannya.
Selanjutnya lima orang di antara kaum Anshar pergi mendatanginya, mereka itu adalah Abdullah bin Atik, Mas’ud bin Sanan, Abdullah bin Unais, Abu Qatadah bin Rib’iy, dan Khuza’iy bin Aswad. Rasulullah Saw. mengangkat Abdullah bin Atik sebagai pemimpin mereka. Rasulullah Saw. memerintahkan mereka agar tidak membunuh anak-anak dan kaum perempuan. Mereka pergi pada bulan Ramadhan.
Setibanya di Khaibar, mereka tidak langsung mendatangi rumah Abu Rafi’, mereka mendatangi rumahnya pada malam hari. Setelah mengetok pintunya, istri Abu Rafi’ keluar menemui mereka. Istri Abu Rafi’ bertanya: “Siapa kalian?” Mereka menjawab: “Kami orang-orang di antara orang-orang Arab yang membutuhkan bantuan.” Istri Abu Rafi’ mempersilakan mereka masuk. Setelah mereka masuk, mereka langsung membunuh Abu Rafi’. Mereka segera kembali menyampaikan kabar gembira kepada Rasulullah Saw. tentang terbunuhnya Abu Rafi’. Peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadhan, tahun keenam Hijriyah.

2. Pembersihan terhadap al-Yasir bin Razzam

Setelah terbunuhnya Abu Rafi’ Sallam bin Abi al-Hakik, kepemimpinan Yahudi Khaibar diserahkan kepada al-Yasir bin Razzam. Ia mulai mengontak orang-orang Ghathfan dan mengumpulkannya untuk menyerang Negara Islam. Berita itu sampai kepada Rasulullah Saw. Maka pada bulan Ramadhan secara rahasia Rasulullah Saw. mengirim Abdullah bin Rawwahah dengan ditemani tiga orang di antara sahabatnya untuk menyelidiki dan mempelajari kasus al-Yasir tersebut, dan bagaimana strategi yang memungkinkan untuk memulai menyerang mereka dengan tidak diketahui oleh mereka terlebih dahulu.
Mereka segera berangkat, dan mereka kembali kepada Rasulullah Saw. dengan membawa informasi yang cukup seputar kasus tersebut. Rasulullah Saw. mengutus Abdullah bin Rawwahah bersama tiga puluh orang di antara sahabatnya untuk mendatangi al-Yasir. Setelah mereka sampai pada al-Yasir, mereka berkata: “Kami sangat percaya sehingga kami menawarkan sesuatu kepadamu, bahkan hanya karena sesuatu itu kami datang kepadamu?” Al-Yasir berkata: “Ya, aku juga akan berbuat seperti itu kepada kalian.” Mereka berkata: “Baiklah.” Selanjutnya mereka berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Saw. mengutus kami kepadamu untuk membawa kamu menghadapnya, selanjutnya beliau akan mempekerjakan kamu mengurus Khaibar, dan beliau akan berbuat baik kepadamu.”
Al-Yasir sangat menginginkan sekali itu, barangkali di belakang itu ia dapat meraih apa yang diinginkan. Al-Yasir bin Razzam dengan dikawal tiga puluh orang Yahudi pergi bersama mereka. Tiap-tiap orang di antara kaum muslimin didampingi oleh satu orang di antara orang-orang Yahudi. Sehingga, ketika mereka sampai di Qarqarahtabar, al-Yasir merasa menyesal dengan kepergiannya, dan ia menjulurkan tangannya berusaha mengambil pedang Abdullah bin Unais al-Juhni -salah seorang tentara yang dipimpin Rawwahah-, namun dengan sigap Abdullah mendorongnya, dan menyerangnya dengan pedangnya, sehingga keduanya saling menyabetkan pedangnya. Al-Yasir, terbunuh sedang Abdullah banyak menderita luka goresan.
Tiap-tiap orang dari kaum muslimin membunuh orang-orang Yahudi yang mendampinginya, kecuali satu orang dari mereka yang berhasil melarikan diri. Pasukan pimpinan Abdullah bin Rawwahah kembali pada Rasulullah Saw. Rasulullah saw, melihat luka goresan yang diderita Abdullah bin Unais, lalu Rasulullah Saw. meludahi luka goresan yang dideritanya, sehingga luka goresannya menjadi kering dan tidak terasa sakit lagi.

3. Pembersihan terhadap Abu Sufyan

Abu Sufyan bin Harb -sebelum ia masuk Islam- berkata: “Adakah seseorang yang akan membunuh Muhammad demi kebaikan kita semua, sebab perkara (agama) yang diserukannya itu rendah dan hina, ia suka berjalan-jalan di pasar-pasar.” Lalu seorang Badui mendatanginya dan berkata: “Kamu benar-benar telah menemukan orang yang paling bulat tekadnya, paling keras pukulannya, dan paling cepat larinya. Jika kamu memenuhi semua kebutuhanku, maka aku akan mendatangi Muhammad dan membunuhnya.” Abu Sufyan berkata: “Kamu sahabat kami.” Abu Sufyan memberinya unta dan nafkah (biaya dalam perjalanan). Abu Sufyan berkata kepadanya: “Kamu harus merahasiakan perkara kamu ini.”
Orang Arab Badui itu pergi, setibanya di Madinah, ia bertanya tentang Rasulullah. Setelah mendapatkan penjelasan, ia pun mendatangi Rasulullah Saw. yang sedang berada di masjid Bani Abdul Asyhal. Ketika ia telah melihat Rasulullah, ia berkata: “Sungguh ini benar-benar memerlukan pengkhianatan.” Orang Arab Badui pergi mendekati Rasulullah, lalu Usaid bin Hudhair menarik kain pengikat pinggangnya, ternyata di baliknya ada belati, kemudian Usaid menjatuhkan belati itu dengan tangannya.
Orang Arab Badui itu berkata: “Celaka aku… celaka aku…” Rasulullah bersabda kepadanya: “Jujurlah kamu kepadaku, siapa sebenarnya kamu?” Ia berkata: “Aku orang yang dapat dipercaya.” Beliau bersabda: “Ya, benarkah itu.” Ia pun menceritakan kepada Rasulullah persoalannya, serta apa yang telah diberikan Abu Sufyan kepadanya, lalu Rasulullah Saw. melepaskannya.

Kemudian Rasulullah Saw. mengirim Amru bin Umayyah adh-Dhamriy, dan bersamanya pula dikirim Jabbar bin Shakhr al-Anshariy kepada Abu Sufyan. Beliau bersabda kepada keduanya: “Jika kalian berdua menemukan Abu Sufyan sedang lengah, maka bunuhlah dia.”
Keduanya memasuki Makkah. Pada malam hari Amru bin Umayyah melakukan thawaf di Baitullah. Abu Sufyan melihatnya, dan parahnya lagi, Abu Sufyan mengenalnya. Lalu memberitahukan kepada kaum kafir Quraisy tentang keberadaannya, kaum kafir Quraisy pun merasa khawatir kepadanya -sebab ia terkenal pemberani di masa jahiliyah-, mereka mulai mencarinya.
Amru bin Umayyah melarikan diri, lalu ia bertemu dengan seseorang di antara kaum kafir Quraisy, Amru membunuhnya agar tidak memberitahukan kepada kaum kafir Quraisy tentang keberadaan dirinya. Amru bin Umayyah adh-Dhamriy dan Jabbar bin Shakhr al-Anshariy berada di jalan menuju gua. Ketika keduanya sedang beristirahat di dalam gua, seseorang di antara Bani ad-Dil masuk ke dalam gua juga, namun ia tidak mengetahui tentang keberadaan mereka berdua.
Setelah duduk orang itu mulai bersenandung:
“Selama hidupku, aku tidak akan menjadi muslim
Tidak akan menganut agama mereka, orang-orang muslim

Amru bin Umayyah tidak menghiraukan ocehannya, setelah orang itu tidur Amru membunuhnya.
Ketika keduanya sampai di an-Naqi’, tiba-tiba bertemu dengan dua orang di antara kaum kafir Quraisy. Kaum kafir Quraisy mengirim kedua orang tersebut untuk menjadi mata-mata mereka. Amru berteriak kepada kedua orang tersebut: “Serahkan diri kalian berdua untuk dijadikan tawanan.” Kedua orang itu menolak, lalu Amru memanah salah seorang dari keduanya hingga terbunuh, sedang yang satunya lagi ditawan. Setelah diikat orang itu dibawa ke Madinah. Sesampainya di Madinah, Amru duduk dan menceritakan kepada Rasulullah tentang kejadian-kejadian yang dialaminya. Mendengar apa yang diceritakan Amru, Rasulullah Saw. pun tertawa.

Sumber: Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, SIRAH NABAWIYAH Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Al-Azhar Press

Persiapan Nabi SAW Membersihkan Kekuatan Politik Bukan-Islam



G. Pembersihan Institusi Politik Kaum Musyrikin

1. Persiapan untuk Melakukan Pembersihan Institusi Politik Kaum Musyrikin

Setelah semua institusi politik kaum Yahudi di Jazirah Arab dibersihkan, maka tidak ada lagi penghalang di hadapan Rasulullah Saw., kecuali melenyapkan institusi politik kaum musyrikin bangsa Arab.

Untuk itu, beliau harus melakukan itu semua dengan penuh kecermatan dan kecerdasan. Sebab, hasil dari beliau menghadapi musuh ini akan menentukan perjalanan dan masa depan Negara Islam. Orang yang merenungi periode permanen terhadap as-sirah an-nabawiyah (perjalanan hidup Nabi Saw.), akan mendapatkan bahwa Rasulullah Saw. berusaha memperkuat kaum muslimin dengan menambah kuantitas mereka, meningkatkan kemampuan mereka dalam hal teknik pembuatan senjata. Sebagaimana beliau berusaha memperlemah musuhnya dengan melakukan gencatan senjata, atau menyerang kabilah-kabilah yang tersebar di sana-sini.
Yang jelas aktivitas beliau semuanya mengandung materi peperangan. Semua itu dilakukan sebagai persiapan untuk melakukan pembersihan terhadap institusi politik kaum musyrikin. Seperti yang akan kami kemukakan semua rinciannya pada poin-poin berikut ini:

a. Berusaha menambah kuantitas kaum muslimin

Untuk merealisasikan itu semua, Rasulullah Saw. menempuh langkah-langkah berikut ini:

1. Menarik kaum muslimin yang hijrah ke Habasyi

Kita melupakan (tidak membicarakan) kaum muslimin yang berhijrah dari Makkah ke Habasyi yang dipimpin oleh Ja’far bin Abu Thalib yang telah menikmati kebebasan beragama di Habasyi. Mereka bergerak di Habasyi dalam bidang dakwah dengan penuh kelemah-lembutan dan kehati-hatian. Sedang dalam hati mereka bergelora rasa rindu kepada Rasulullah Saw., rasa keinginan untuk bisa dekat beliau.
Telah sampai kepada mereka berita tentang sukses besar yang telah diraih oleh Negara Islam dalam bidang politik, militer, dan sosial. Sebab, Rasulullah Saw. harus memberitahu semua itu kepada mereka, dan meminta mereka agar segera kembali ke negeri mereka, lalu mereka bersegera untuk turut berpartisipasi dalam membangun Negara Islam. Karena setiap orang Islam memiliki peranan dalam membangun negara yang masih baru ini. Negara Islam memerlukan mereka yang ikhlas. Lebih-lebih setelah banyaknya kaum munafik yang menyusup ke dalam Negara Islam melalui rencana buruk kaum Yahudi. Mereka kaum muhajirin sampai ketika kaum muslimin sibuk mengepung beberapa benteng kaum Yahudi Khaibar.

Setelah mereka menginjakkan kakinya di Madinah al-Munawwarah, mereka langsung bertanya tentang Rasulullah Saw. lalu mereka diberitahu, bahwa Rasulullah Saw. berada di Khaibar. Beliau sekarang sedang mengepung benteng-benteng Khaibar. Kemudian mereka menyusul Rasulullah Saw. ke Khaibar agar mereka menjadi kekuatan tambahan bagi Rasulullah Saw. dalam menghadapi musuh Allah. Akan tetapi setelah mereka sampai, ternyata Rasulullah Saw. telah selesai menaklukkan Khaibar.
Rasulullah Saw. sangat gembira atas kedatangan mereka. Beliau Saw. mencium pemimpin mereka, yaitu Ja’far bin Abu Thalib. Beliau Saw. bersabda dengan sebuah ungkapan yang terkenal: “Aku tidak tahu mana di antara keduanya yang membuat aku sangat bahagia, ditaklukkannya Khaibar atau kedatangan Ja’far.” Begitulah bergabungnya kekuatan baru untuk Negara Islam, untuk menambah kekuatan dan kemapanan Negara Islam, dan untuk membantu perjalanan Negara Islam dalam mewujudkan tujuan-tujuannya.

2. Memperluas aktivitas diplomasi untuk mendapatkan dukungan bagi Negara Islam

Setelah stabilitas kondisi internal Negara Islam terkendali dengan dilenyapkannya institusi politik kaum Yahudi, dan setelah adanya pengakuan terhadap Negara Islam dari semua kelompok-kelompok politik yang mampu memainkan situasi dan kondisi kekuatan wilayah bangsa Arab, yang terdiri dari kaum Yahudi dan orang-orang Arab, beliau mulai mengirim utusan-utusan kepada para pemimpin dunia.
Mereka membawa surat untuk disampaikan kepada mereka, yang isinya menyeru mereka agar beriman pada ideologi yang diturunkan kepada beliau dari langit, serta menyeru mereka agar mengakui dan mendukung Negara Islam yang tegak untuk memenangkan ideologi ini dan menerapkannya.
Beliau mengutus Dihyah bin Khalifah al-Kalbi kepada Kaisar Raja Romawi, mengutus Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi kepada Kisra Raja Persia, mengutus Amr bin Umayyah adh-Dhamri kepada an-Najasyi Raja Habasyi, mengutus Hathib bin Abu Batla’ah kepada al-Muqaiqis Raja Iskandariyah, mengutus Amr bin al-Ash as-Sahmi kepada Jaifar dan Abdin, keduanya adalah anak al-Julunda al-Azdi Raja Amman, mengutus Salith bin Amr salah seorang dari Bani Amir bin Luai kepada Tsumamah bin Utsal dan Haudzah, keduanya Raja Yamamah dari Bani Hanifah, mengutus al-‘Ala’ bin al-Hadhrami kepada Mundzir bin Sawa al-Abdi Raja Bahrain, dan mengutus Syuja’ bin Wahb al-Azdi kepada Harits bin Abu Syamr al-Ghassani Raja di daerah perbatasan Syam.

b. Meningkatkan kemampuan teknik membuat senjata

Rasulullah Saw. harus berpikir untuk memiliki persenjataan yang efektif dan efisien, sebagaimana beliau berpikir meningkatkan kualitas dan kuantitas manusia, khususnya setelah apa yang beliau lihat ketika memerangi Khaibar yang memiliki benteng-benteng kuat dan kokoh, maka beliau memandang perlunya mengembangkan persenjataannya, sebab pedang yang digunakan tidak berarti banyak di hadapan benteng-benteng yang kuat dan kokoh. Sebagaimana Khaibar yang memiliki benteng-benteng kuat dan kokoh, maka Thaif pun demikian juga, mereka memiliki benteng-benteng yang kuat dan kokoh. Padahal suatu hari beliau pasti pergi untuk menaklukkan Thaif. Untuk tujuan itu, beliau mengutus Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi dan Ghailan bin Salamah ke Jarsy di Yordania guna mempelajari cara pembuatan al-‘arradah (alat pelontar batu yang bentuknya lebih kecil dari al-manjiniqah), ad-dababah (alat perang penghancur benteng), dan al-manjiniqah (alat pelontar batu).
Alat-alat perang tersebut merupakan alat-alat perang terbesar pada saat itu, meski pembuatannya masih bersifat lokal. Para pakar sejarah menceritakan kepada kami bahwa keduanya pergi dan mempelajari cara pembuatan alat-alat ini, kemudian keduanya kembali kepada Rasulullah Saw., dan membuatkan alat-alat tersebut untuk beliau. Selanjutnya beliau Saw. menggunakan alat-alat ini ketika mengepung Thaif.

c. Melakukan banyak manuver militer

Rasulullah Saw. harus melakukan banyak manuver militer sebelum pergi untuk menaklukkan Makkah, membersihkan institusi politik kaum musyrikin dengan memutus kabilah-kabilah yang memungkinkan akan membantu kekuatan kaum kafir Quraisy ketika meletus peperangan antara Negara Islam dengan kaum kafir Quraisy. Kabilah-kabilah ini, meski masing-masing dari mereka tidak memiliki kekuatan yang perlu ditakuti, akan tetapi ketika mereka mengalir dalam satu aliran air, dan berkumpul dengan satu kepemimpinan, maka efektivitas kekuatan memungkinkan untuk mereka miliki.

1. Mengirim pasukan ke Turbah

Pada bulan Sya’ban, tahun ketujuh Hijriyah, Rasulullah Saw. mengirim Umar bin Khaththab bersama sekelompok para mujahid ke Turbah. Setelah sampai di Turbah, orang-orang di sana pun melarikan diri. Umar kembali tanpa melakukan peperangan.

2. Mengirim pasukan ke Bani Kalb di Najd

Pada bulan Sya’ban itu juga, Rasulullah Saw. menyiapkan pasukan untuk dikirim ke Bani Kalb di Najd. Pasukan ini akan dipimpin oleh Abu Bakar. Abu Bakar pergi bersama para mujahid hingga ia tiba di Bani Kalb. Abu Bakar memerangi mereka secara tiba-tiba. Sehingga banyak dari mereka yang terbunuh, dan sebagian yang lain ditawan. Selanjutnya Abu Bakar kembali ke Madinah al-Munawwarah.

3. Mengirim pasukan ke Bani Murrah di Fadak

Pada bulan Sya’ban juga, beliau menyiapkan pasukan yang dipimpin oleh Bisyir bin Sa’ad. Beliau memerintahkan Bisyir agar membawa pasukannya pergi ke Bani Murrah di Fadak. Kemudian terjadilah peperangan dengan mereka. Bisyir bin Sa'ad berhasil mengalahkan mereka, dan mengambil binatang-binatang ternak mereka. Namun Bisyir terluka dalam peperangan itu. Bisyir meminta perlindungan kepada orang-orang Yahudi di Fadak (yang sebelumnya telah takluk pada Negara Islam) agar ia dapat beristirahat. Bisyir tinggal bersama mereka beberapa hari, lalu ia kembali ke Madinah al-Munawwarah.

4. Mengirim pasukan ke Maifa'ah

Kemudian, pada bulan Ramadhan, beliau menyiapkan pasukan yang dipimpin Ghalib bin Abdullah al-Laitsi untuk dikirim ke penduduk Maifa’ah di Najd. Ghalib bin Abdullah al-Laitsi menyerang mereka, membunuh sebagian dari mereka, dan membawa binatang-binatang ternak mereka ke Madinah al-Munawwarah.
Di tengah perjalanan pasukan ini, Usamah bin Zaid bertemu dengan salah seorang di antara musuh. Usamah mengangkat pedang untuk membunuhnya. Orang itu berkata, “La Ilaha illallah Muhammad Rasulullah,” Usamah menganggap ucapannya ini hanyalah tipuan agar ia tidak dibunuh. Usamah menilai ucapannya itu tidak didukung oleh keimanan sedikitpun. Sehingga, Usamah tetap membunuhnya.
Peristiwa itu disampaikan kepada Rasulullah Saw. Ketika Usamah kembali dan bertemu Rasulullah Saw., maka Rasulullah Saw. bersabda kepada Usamah, “Wahai Usamah, siapa yang memberi kamu kekuasaan kepada orang yang berkata “La Ilaha Illallah?“ Usamah berkata, “Wahai Rasulullah, ia mengatakan itu hanya untuk berlindung saja.” Rasulullah Saw. bersabda, “Mengapa kamu tidak membelah hatinya saja, sehingga kamu akan mengetahui, apa ia jujur atau dusta.” Dan turunlah firman Allah Swt.:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mu’min” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia.” (TQS. an-Nisa’ [4]: 94)

Ada yang mengatakan bahwa ayat ini turun pada pasukan yang lain, tahun kedelapan, sedang Usamah sebagai pemimpin pasukan.

5. Mengirim pasukan ke Yuman dan Jubar

Pada bulan Syawal, Rasulullah Saw. menyiapkan pasukan yang dipimpin Bisyir bin Sa’ad al-Anshari dengan kekuatan tiga ratus orang. Beliau memerintahkannya agar pergi ke Yuman dan Jubar bagian dari wilayah Ghathfan. Tindakan ini dilakukan sebab diketahui bahwa orang-orang berkumpul di sana untuk melawan Negara Islam. Bisyir pergi mendatangi mereka. Melihat kedatangan Bisyir dan pasukannya, mereka melarikan diri. Bisyir membawa binatang-binatang ternak mereka, dan lalu kembali ke Madinah al-Munawwarah.






(artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Sumber: Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, SIRAH NABAWIYAH Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Al-Azhar Press

Perang Mu’tah Nabi SAW Melawan Romawi



7. Perang Mu’tah

(Mu’tah adalah nama desa (kampung) bagian dari wilayah al-Balqa' di negeri Syam. Sekarang Mu’tah dikenal dengan nama al-Kark.)

a. Sebab perang Mu’tah

Rasulullah Saw. mengirim Harits bin Umair al-Azdi kepada penguasa Bashra yang dikuasai Romawi, Syarhabil bin Amru al-Ghasani untuk menyampaikan risalah Islam dan menyerunya untuk memeluk Islam. Syarhabil menahan Harits bin Umair al-Azdi, mengikatnya, dan membunuhnya. Apa yang dilakukan Syarhabil ini merupakan pelecehan yang besar terhadap Negara Islam yang tidak boleh didiamkan. Untuk itu, Rasulullah Saw. menyiapkan tentara untuk memberi pelajaran kepada pemimpin bangsa Arab Syarhabil yang menjual dirinya kepada bangsa Romawi.

b. Tentara Islam

Rasulullah Saw. telah memperhitungkan bahwa orang-orang Romawi -para pemimpin di balik Syarhabil- akan bergerak untuk memberikan perlindungan terhadap antek mereka Syarhabil. Untuk itu, Rasulullah menyusun tentaranya ini dengan setiap potensi yang dimiliki Negara Islam, sehingga kekuatannya mencapai 3.000 mujahid. Dan ini merupakan tentara terbesar yang pernah dikirim oleh Rasulullah Saw. hingga sekarang.
Rasulullah Saw. menilai bahwa kerugian-kerugian yang akan menimpa tentara ini sangatlah besar. Tentara ini akan mendapatkan komando dari para pimpinannya. Rasulullah Saw. mengangkat untuk tentara ini tiga orang pemimpin yang akan menangani kepemimpinan secara bergantian. Setiap pemimpin terbunuh, maka kepemimpinan diserahkan kepada pemimpin yang lain sesudahnya. Mereka itu adalah Zaid bin Haritsah, jika Zaid bin Haritsah gugur maka diganti oleh Ja’far bin Abu Thalib, dan jika Ja’far bin Abu Thalib gugur maka digantikan oleh Abdullah bin Rawahah.

Dalam dunia politik, reputasi Negara Islam telah mampu mempengaruhi berbagai negeri. Meski terkadang reputasi dan wibawa Negara Islam tersebut merupakan sesuatu yang tidak dapat diwujudkan oleh tentara Negara Islam. Karena itu, Rasulullah Saw. tidak menunda-nunda lagi pengiriman tentara ini, meskipun menurut penilaiannya tidak berimbangnya kekuatan dan besarnya kerugian yang akan dideritanya, namun beliau harus mengirimnya demi menjaga reputasi Negara Islam.

Tentara Negara Islam itu telah mengadakan persiapan, dan mereka bersiap-siap untuk berangkat menunaikan tugas. Ketika saat keberangkatan tiba, kaum muslimin melepas dan mengucapkan salam. Ketika mereka melepas Abdullah bin Rawahah bersama para komandan pasukan yang diangkat Rasulullah Saw., Abdullah bin Rawwahah menangis. Mereka bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis, wahai putra Rawwahah?” Abdullah bin Rawwahah menjawab, “Demi Allah, aku menangis bukan karena cintaku kepada dunia, atau rinduku kepada kalian, namun aku pernah mendengar Rasulullah Saw. sedang membaca ayat di antara ayat-ayat al-Qur'an yang mengingatkan tentang Neraka.

Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi Neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.“ (TQS. Maryam [19]: 71)

Sungguh, aku tidak tahu bagaimana nasibku setelah kematian.” Kaum muslimin berkata, “Semoga Allah menyertai kalian, melindungi kalian, dan mengembalikan kalian kepada kami dalam keadaan selamat.” Kemudian Abdullah bin Rawwahah berkata:
“Namun, aku memohon kepada ar-Rahman ampunan
Pukulan keras hingga darah bermuncratan
Atau tikaman dari kedua tangan bajingan
Dengan tombak yang menembus usus dan hati pembawa kematian
Sehingga, saat mereka melewati kuburanku, mereka mengatakan
Allah membimbing para pejuang, dan ia telah mendapatkan”

Tentara kaum muslimin berjalan hingga sampai di Mu’an bagian dari wilayah Syam. Di Mu’an ini tentara kaum muslimin mendapatkan informasi bahwa Herakleus telah tiba di Ma’ab bagian dari wilayah al-Balqa' dengan membawa pasukan berkekuatan 100.000 Romawi ditambah 100.000 tentara gabungan dari Judzam, al-Qain, Bahra', dan Bali yang bergabung dengan mereka. Setelah kaum muslimin mendengar informasi tersebut, mereka tinggal di Mu’an selama dua malam sambil memikirkan rencana mereka selanjutnya.
Sebagian dari mereka berkata, “Kita kirim surat kepada Rasulullah Saw. dan kita jelaskan tentang kekuatan musuh, agar beliau mengirim bantuan personel atau menyuruh kita kembali.” Abdullah bin Rawwahah memotivasi mereka dengan berkata, “Wahai kaum muslimin, demi Allah, sesuatu yang kalian takuti pada hakikatnya adalah sesuatu yang kalian minta selama ini, yaitu mati syahid. Kita tidak memerangi musuh karena besarnya jumlah kita, kuatnya kita, tidak pula karena banyaknya kita, namun kita memerangi mereka karena agama Islam yang dengan agama ini Allah memuliakan kita. Berangkatlah kalian, niscaya kalian mendapatkan salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau mati syahid.” Kaum muslimin berkata, “Sungguh demi Allah, Abdullah bin Rawwahah berkata benar.”

Demikian inilah perkataan Abdullah bin Rawwahah ra. yang dibakar oleh semangat keimanan, kejujuran, dan rindunya yang amat sangat terhadap Surga. Namun, perkataannya ini dianggap membahayakan tentara kaum muslimin. Sekiranya Rasulullah Saw. tahu, tentu beliau tidak menyetujuinya. Alasannya, apa yang terjadi setelah itu, Rasulullah Saw. menganggap baik penarikan mundur Khalid bin Walid dan pasukannya dari medan pertempuran yang membinasakan ini. Dengan penarikan mundur itu, Rasulullah Saw. memberi mereka pendapat lain, dengan resiko kerugian lebih sedikit, namun reputasi Negara Islam tetap terjaga.

c. Konflik bersenjata

Setelah kaum muslimin bertekad untuk menghadapi pasukan yang bergemuruh dari musuh-musuh Negara Islam, kaum muslimin terus berjalan. Ketika mereka sampai di perbatasan al-Balqa’, tepatnya di desa Masyarif, mereka bertemu pasukan Romawi dan pasukan gabungan bangsa Arab. Lalu kedua belah pihak saling mendekat, namun kaum muslimin pindah ke desa Mu’tah. Di sanalah kedua belah pihak bertemu.
Kaum muslimin telah bersiap-siap untuk menghadapi mereka dengan menunjuk salah seorang dari Bani Udzrah bernama Quthbah bin Qatadah sebagai komando pasukan sayap kanan, dan salah seorang dari kaum Anshar bernama Abayah bin Malik sebagai komando pasukan sayap kiri. Kemudian kedua belah pihak bertemu, dan lalu saling serang.
Zaid bin Haritsah bertempur dengan membawa bendera Rasulullah Saw. hingga ia menderita banyak luka-luka, dan mengalami pendarahan yang sangat, akhirnya ia pun bertemu Allah sebagai syahid. Kemudian, Ja’far bin Abu Thalib mengambil bendera Rasulullah Saw. tersebut, lalu Ja’far bertempur dengan membawa bendera Rasulullah sambil menunggang kudanya yang berwarna pirang. Akan tetapi, tidak lama kemudian, Ja’far turun dari kudanya dan menyembelihnya. Lalu Ja’far menyerang musuh hingga gugur. Ja’far bin Abu Thalib berkata:
“Betapa indah dan telah dekatnya Surga
Keadaannya nyaman dan segar minumannya
Orang-orang Romawi itu sinting dekat sekali siksanya
Mereka itu kafir jauh dari sanak keluarganya
Aku harus menyerangnya jika aku menjumpainya”

Ibnu Hisyam menceritakan bahwa Ja’ar bin Abu Thalib memegang bendera dengan tangan kanannya, setelah tangan kanannya terputus, ia memegangnya dengan tangan kirinya, dan setelah tangan kirinya terputus, ia mendekapnya dengan kedua lengannya, hingga akhirnya Ja’far ra. gugur dalam usia 30 tahun. Allah Swt. memberinya pahala dalam bentuk dua sayap, sehingga dengan dua sayap itu ia dapat terbang ke manapun ia mau.
Ketika Ja’far bin Abu Thalib gugur, Abdullah bin Rawwahah mengambil alih bendera perang. Dengan memegang bendera perang, ia terjun ke medan perang dengan menunggang kudanya. Karena ia agak ragu-ragu, maka ia mendorong dirinya dengan untaian-untaian kata berikut ini:
“Wahai diriku, aku bersumpah, terjunlah ke medan perang
Atau aku memaksamu terjun, meski kamu tidak senang
Mereka berteriak dan berkumpul mengeluarkan gema
Namun aku melihatmu sedang membenci Surga
Sudah sekian lama engkau merasakan keadaan tenang
Tidakkah engkau ini hanya setetes air mani dalam kantong air usang”

Abdullah bin Rawwahah berkata juga:
“Wahai diriku, jika engkau tidak terbunuh, engkau tetap akan mati
Inilah keranda kematian telah menanti
Apa yang engkau harapkan telah diberikan
Jika engkau melakukan aktivitas keduanya, maka akan engkau dapati bimbingan”

Setelah itu, Abdullah bin Rawwahah terjun ke medan perang. Di medan perang ini ia melakukan kebaikan. Dalam kitab sirah (sejarah hidup Nabi Saw.) disebutkan bahwa Abdullah bin Rawwahah menyendiri di suatu tempat untuk beristirahat, lalu ia didatangi oleh sepupunya yang membawa daging. Sepupunya berkata: “Kuatkan badanmu dengan daging ini, karena aku lihat kamu lapar sejak beberapa hari ini.” Abdullah bin Rawwahah mengambil daging tersebut dari tangan sepupunya, dan mengangkatnya ke mulut, namun sebelum daging itu sampai ke mulutnya, ia mendengar suara orang-orang yang sedang bertempur. Ia pun membuang daging itu dari tangannya, dan berkata: “Hai daging, kamu hanya untuk dunia.” Kemudian, ia mengambil pedangnya, lalu terjun ke medan perang dan bertempur hingga gugur.
Setelah Abdullah bin Rawwahah gugur, bendera perang diambil-alih oleh Tsabit bin Aqram saudara Bani al-Ajlan. Ia berkata: “Wahai kaum muslimin, angkatlah salah seorang dari kalian yang kalian sepakati untuk menjadi komandan pasukan.” Kaum muslimin berkata: “Engkaulah orangnya.” Tsabit bin Aqram berkata: “Aku tidak siap.”
Akhirnya, kaum muslimin sepakat mengangkat Khalid bin Walid sebagai komandan pasukan mereka. Setelah Khalid bin Walid memegang bendera perang, ia menyerang musuh dan bertempur dengan mereka sore hari. Setelah senja hari, Khalid memerintahkan pasukannya bertahan di tempatnya.

Khalid mengutus orang-orang yang akan menebarkan debu dari jauh, sehingga musuh mengira bahwa Khalid mendapat bantuan personel yang banyak. Setelah pagi tiba, Khalid mulai menyerang musuh, kemudian mundur. Sehingga musuh menduga yang tidak-tidak. Dengan demikian, kekalahan di pihak pasukan musuh, sedang kemenangan di pihak pasukan kaum muslimin.

d. Rasulullah diberitahu tentang syahidnya para komandan perang

Sampai wahyu kepada Rasulullah tentang musibah yang menimpa pasukan kaum muslimin di Mu’tah. Sedang yang syahid di antara pasukan kaum muslimin adalah para komandan perangnya. Musibah itu diceritakan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya.
Rasulullah Saw. bersabda, “Bendera perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, kemudian ia bertempur hingga gugur sebagai syahid, lalu bendera perang diambil alih oleh Ja’far bin Abu Thalib, kemudian ia bertempur hingga gugur sebagai syahid.” Lalu Rasulullah Saw. diam sehingga wajah orang-orang Anshar tampak berubah. Mereka menyangka bahwa sesuatu yang tidak mereka senangi telah terjadi pada Abdullah bin Rawwahah. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda lagi, “Kemudian bendera perang diambil alih oleh Abdullah bin Rawwahah, kemudian ia bertempur hingga gugur sebagai syahid.” Rasulullah Saw. bersabda lagi, “Dalam mimpiku, aku melihat mereka di Surga berada di atas singgasana dari emas. Aku lihat singgasana Abdullah bin Rawwahah agak berbeda dari singgasana dua sahabatnya. Melihat itu aku bertanya, “Mengapa singgasana Abdullah bin Rawwahah agak berbeda?” Lalu aku diberitahu bahwa Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abu Thalib keduanya bertempur tanpa ragu, sedang Abdullah bin Rawwahah agak ragu-ragu, kemudian ia bertempur.”

e. Kembali ke Madinah al-Munawwarah

Khalid bin Walid ra. mengumpulkan pasukannya dan membawa mereka kembali ke Madinah al-Munawwarah. Ketika pasukan Islam mendekati Madinah, Rasulullah Saw. bersama kaum muslimin menyambut mereka, sedang anak-anak berlarian ikut menyambut mereka. Rasulullah Saw. datang menyambut mereka bersama kaum muslimin dengan mengendarai kuda. Beliau bersabda, “Ambillah anak-anak, lalu bawa mereka, dan berikan kepadaku anak Ja’far.”
Abdullah bin Ja'far dibawa kepada Rasulullah Saw., kemudian beliau mengambilnya dan membawanya dengan menaruhnya di depan beliau. Kaum muslimin mulai menaburkan debu di depan pasukan Islam sambil berkata, “Wahai orang-orang yang melarikan diri, kalian melarikan diri dari jalan Allah.” Rasulullah Saw. bersabda “Mereka tidak melarikan diri, namun mereka itu mundur kemudian menyerang kembali insya Allah.”

(artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Sumber: Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, SIRAH NABAWIYAH Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Al-Azhar Press

Related Posts with Thumbnails

Spirit 212, Spirit Persatuan Umat Islam Memperjuangkan Qur'an Dan Sunnah

Unduh BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam