Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Kamis, 20 Agustus 2015

Houthi armies Confine 5 Shabab of Hizb ut Tahrir

 
Houthi armies Confine 5 Shabab of Hizb ut Tahrir by Blocking Street to Khawlaan
Houthi armies confined five Shabab of Hizb ut Tahrir after their auto was obstructed on Friday on their arrival to Sana'a from Khawlaan territory. The armies then drove them to a security office (Juhanah area) situated on the same street. These Shabab were going to this region on the grounds that some of them were from that point and had gone to a dialog session with the individuals examining the right answer for get out from these emergencies and experiences which Yemen specifically is going through and the Muslim lands in general. These Shabab are Brother Engineer Shafeeq Khamees, Brother Abdullah Al-Qaadi, Individual from the Hizb Media Office in Wilayah Yemen who was kept close by his son Ali Abdullah Al-Qaadi, notwithstanding Brother Muhsin Al-Ja'dabiy and Brother Abdul Kareem Assda'ii.

What the Houthi Local armies are embraced against the Shabab of Hizb ut Tahrir and the populace of Yemen all in all are from the sorts of terrible unlawful acts that none with the exception of the Mafia and criminal posses attempt. This is for the situation where they take part in touching off wars, strife, in-battling, detainments and barricading streets whilst endeavoring to bug and dispose of any individual who restricts their sentiment, dreading the expression of truth that they are unequipped for going up against by way of proof and confirmation, whilst just having the happiness brought by weapons and the haughtiness and affectedness that goes with despots. This all focuses to the sort of liquidation and vanity that takes the one having it into a descending void and the indignation of Allah All-powerful, as long as he proceeds upon that way.

Hizb ut Tahrir Sudan have made clear in more than one announcement, course and meeting that Hizb ut Tahrir don't receive material activities and that we don't take up arms in the method to establish the rightly guided Khilafah upon the methodology of the Prophethood. This is not out of apprehension or pessimism but instead it is just in copying of our Respectable Messenger ﷺ when he established the first State in Al-Madinah Al-Munawwarah. Regardless of this, our Shabab are captured, hassled in our exercises and our pennants are expelled from the lanes of Sana'a under feeble and beguiling justifications. This is whilst the armies legitimize these criminal activities of theirs asserting that they have questions and that they are suspicious that the Hizb is functioning as a feature of ISIS or Al-Qaeda!! The greater part of that is on the grounds that we raise high the Rayah (flag) of the Messenger of Allah ﷺ, give out our publications and explanations, and require the Khilafah upon the methodology of the Prophethood!! To be sure we even gone by the Houthi Political Office and examined with them, gave them our methodology and disclosed it to them. So when then will they comprehend the call of Hizb ut Tahrir and the methodology of its work or would they say they are not able to comprehend?!

The Houthi armies have been burdened by the inebriation of the standard and the delight of grandiosity. In the meantime as they claim to be in vehement opposition to the oppressors we see them making alliances and growing warm relations with them. This is whilst they capture and energetically restrict the true workers from the Shabab of Hizb ut Tahrir who yearning to change the abuse, remove the hoodlums and fuse the principle of Allah upon the earth by way of the method of establishing the rightly guided Khilafah upon the methodology of the Prophethood. The movement of these armies is similar to a butchered creature; solid in its velocity toward the starting, yet it happens without mindfulness and this is the thing that makes it, for this situation, malleable to the political targets of the West and the sectarianism that it fares to the Muslims. Hizb ut Tahrir has made clear its position which rejects inward and outside wars and sectarian strife by which the West needs the entire of Yemen to be surpassed by.


The Hizb calls the Houthis to stir from their inebriation and to apologize to Allah for the unlawful acts that they have conferred against the populace of Yemen and the Shabab of Hizb ut Tahrir. We call them to free the individuals who have been kept and we caution them to stop their antagonistic position to the verifiable movement that the Hizb is shaping with the Ummah keeping in mind the end goal to realize the guarantee of Allah and the happy tidings of His Honorable Messenger which is based upon a methodology that has been extracted from the Wahi (Divine Disclosure) and its Ahkam. This is so that the Islamic Ummah comes back to being one Ummah in one State, which incorporates all Muslims, with all their different schools of thought (mathahib of Ijtihad) to battle together against their foes as Mujaahideen and victors.

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّـهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“And say, “Do [as you will], for Allah will see your deeds, and [so, will] His Messenger and the believers. And you will be returned to the Knower of the unseen and the witnessed, and He will inform you of what you used to do.”
(QS. At-Tawba: 105)

Senin, 10 Agustus 2015

Dalil Dakwah Mendakwahi Penguasa Mengkritik Menasihati Kepada Penguasa


"Hendaklah kamu melakukan amar makruf nahi munkar. Jika tidak maka Allah akan menguasakan atasmu orang-orang yang paling jahat di antara kalian, kemudian orang-orang yang baik di antara kalian berdo’a dan tidak dikabulkan." (HR. al-Bazzar)

أَفْضَلُ الْجِهَادِ، كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

”Seutama-utama jihad adalah menyampaikan kalimat yang adil (haq) kepada penguasa (sulthan) yang zalim.” (HR Abu Dawud 4346, Tirmidzi no 2265, dan Ibnu Majah no 4011).

sesuai kaidah ushuliyah : al ithlaq yajri ‘ala ithlaqihi maa lam yarid dalil yadullu ‘ala al taqyiid (dalil mutlak tetap dalam kemutlakannya, selama tidak ada dalil yang menunjukkan batasan/syarat). (M. Abdullah Al Mas’ari, Muhasabah Al Hukkam, hlm. 60).

Diriwayatkan dari ‘Ikrimah RA, Khalifah Ali bin Abi Thalib RA telah membakar kaum zindiq. Berita ini sampai kepada Ibnu Abbas RA, maka berkatalah Ibnu Abbas RA :

لو كنت أنا لم أحرقهم، لنهي رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا تعذِّبوا بعذاب الله. ولقتلتهم، لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم: من بدَّل دينه فاقتلوه

”Kalau aku, niscaya tidak akan membakar mereka karena Nabi SAW telah bersabda, ”Janganlah kamu menyiksa dengan siksaan Allah (api),” dan niscaya aku akan membunuh mereka karena sabda Nabi SAW, ’Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia.” (HR Bukhari no 6524). Hadits ini jelas menunjukkan Ibnu Abbas telah mengkritik Khalifah Ali bin Abi Thalib secara terbuka di muka umum. (Ziyad Ghazzal, Masyru’ Qanun Wasa’il Al I’lam fi Al Daulah Al Islamiyah, hlm.25).

Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Shalihin telah menjelaskan banyak hadits Nabi SAW yang membolehkan ghibah-ghibah tertentu sebagai perkecualian dari hukum asal ghibah (haram).

Misalnya, hadits dari ‘A`isyah RA bahwa :

عن عائشة رضي الله عنها أن رجلاً استأذن على النبي صلى الله عليه وسلم، فلما رآه قال: (بئس أخو العشيرة، وبئس ابن العشيرة)

“Seorang laki-laki minta izin (untuk bertemu) Nabi SAW, kemudian Nabi SAW bersabda, ”Dia adalah saudara yang paling jahat bagi keluarganya atau anak yang paling jahat di tengah-tengah keluarganya.” (HR Bukhari no 5685 & Muslim no 2591). Hadits ini menunjukkan Nabi SAW telah melakukan ghibah, yaitu menyebut seseorang di hadapan umum lantaran kejahatan orang itu.

Para ulama telah menjelaskan bahwa ghibah di hadapan umum kepada orang yang jahat hukumnya boleh. Imam Ibnu Abi Dunya meriwayatkan pendapat Ibrahim An Nakha`i (seorang tabi’in) yang berkata :

ثلاث لا يعدونه من الغيبة : الامام الجائر والمبتدع والفاسق المجاهر بفسقه

“Ada tiga perkara yang tidak dianggap ghibah oleh mereka (para shahabat), yaitu; imam yang zalim, orang yang berbuat bid’ah, dan orang fasik yang terang-terangan dengan perbuatan fasiknya.”

Al Hasan Al Bashri (seorang tabi’in) juga berkata :

ثلاث ليس لهم غيبة : صاحبهوىوالفاسق المعلن بالفسق والامام الجائر

”Ada tiga orang yang boleh ghibah padanya, yaitu; orang yang mengikuti hawa nafsu, orang fasik yang terang-terangan dengan kefasikannya, dan imam yang zalim.” (Ibnu Abi Dunya, Al Shumtu wa Adabul Lisan, hlm. 337 & 343).

Memang ada ulama yang mengharamkan mengkritik pemimpin secara terbuka berdasar hadits dari Iyadh bin Ghanam, bahwa Nabi SAW berkata

من أراد أن ينصح لسلطان بأمر فلا يبد له علانية ولكن ليأخذ بيده فيخلو به فإن قبل منه فذاك وإلا كان قد أدى الذي عليه له

Barangsiapa hendak menasehati penguasa akan suatu perkara, janganlah dia menampakkan perkara itu secara terang-terangan, tapi peganglah tangan penguasa itu dan pergilah berduaan dengannya. Jika dia menerima nasehatnya, itu baik, kalau tidak, orang itu telah menunaikan kewajibannya pada penguasa itu.” (HR Ahmad, Al Musnad, Juz III no. 15369). HADITS INI DHA'IF sehingga tidak boleh dijadikan hujjah, karena dua alasan : (1) sanadnya terputus (inqitha’), dan (2) ada periwayat hadits yang lemah, yaitu Muhammad bin Ismail bin ‘Iyasy. (M. Abdullah Al Mas’ari, Muhasabah Al Hukkam, hlm. 41-43).

•سيد الشهداءِ حمزةَ بنُ عبدِ المطلبِ ورجل قام إلى امامٍ جاءر فأمره ونهاه فقتله•“

Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin ‘Abdul Muthalib dan seseorang yang berdiri menghadap pemimpin yang zalim untuk melakukan amar makruf nahi munkar kepadanya lalu penguasa itupun membunuhnya” (HR. Al-Hakim)

"Jika masyarakat kaum Muslimin melihat penguasa yang zhalim lalu tidak mencegahnya dari kezhaliman itu, maka hampir-hampir ditimpakan azab atas diri mereka". [Lihat Sunan Abu Dawud, hadits no. 4338; Sunan Tirmidzi, hadits no. 3059; Sunan Ibnu Majah, hadits no. 4005; Sunan Ibnu Hibban hadits no. 1837]

Wallahu a’lam.

Senin, 06 April 2015

Bagaimana Cara Mendidik Anak Memelihara Sholat



Q.S. Al-Mukminun: 9-11
وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ
أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ
الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi Surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.”

Q.S. Al-Ma`aarij [70]: 34-35
وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ يُحَافِظُونَ
أُولَئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُكْرَمُونَ
“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itu (kekal) di Syurga lagi dimuliakan.”

Keutamaan sholat wajib 5 waktu
      Barangsiapa menjaga shalatnya, niscaya dimuliakan oleh Allah dengan 5 kemuliaan:
     Allah menghilangkan kesempitan hidupnya
     Allah menghilangkan siksa kubur darinya
     Allah akan memberikan buku catatan amalnya dengan tangan kanannya
     Dia akan melewati sirath secepat kilat
     Akan masuk Surga tanpa hisab

      Dan barangsiapa yang menyepelekan sholat, niscaya Allah akan mengazabnya dengan 15 kali siksaan:
     6 siksa di dunia
     3 siksaan ketika mati
     3 siksaan ketika masuk liang kubur
     3 siksa ketika bertemu dengan Tuhannya (Akhirat)

6 siksa di dunia karena melalaikan sholat
• Dicabut keberkahan umurnya
• Dihapus tanda orang soleh dari wajahnya
• Setiap amalan yang dikerjakan, tidak diberi pahala oleh Allah
• Tidak diterima do`anya
• Tidak termasuk bagian dari do`anya orang-orang soleh
• Keluar ruhnya (mati) tanpa membawa iman

3 siksaan ketika mati disebabkan mengabaikan shalat
• Mati dalam keadaan hina
• Mati dalam keadaan lapar
• Mati dalam keadaan haus, yang seandainya diberikan semua air laut, tidak akan menghilangkan rasa hausnya.

3 siksaan ketika masuk liang kubur dikarenakan menyepelekan sholat
      Allah menyempitkan liang kuburnya, sehingga bersilang tulang rusuknya
      Tubuhnya dipanggang di atas bara api siang dan malam
      Di dalam kuburnya terdapat ular yang bernama suja`ul aqro` yang akan menerkamnya karena menyia-nyiakan sholatnya. Ular itu akan menyiksanya yang lamanya sesuai dengan waktu shalat

3 siksa ketika bertemu dengan Tuhannya (Akhirat) karena tidak menjaga shalat
• Ketika langit terbuka, malaikat datang kepadanya dengan membawa rantai. Rantai itu digantungkan di lehernya, kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya dan keluar dari duburnya. Lalu malaikat mengumumkan: “ini adalah balasan bagi orang yang menyepelekan perintah Allah”
• Allah tidak memandang kepadanya dengan pandangan kasih sayangNya
• Allah tidak mensucikannya dan baginya siksa yang pedih

Siksa yang pedih sebab tidak memelihara sholat
• Menjadi hitam pada hari kiamat wajah orang yang meninggalkan shalat, dan sesungguhnya dalam Neraka jahannam, terdapat jurang yang disebut ‘lam-lam’.
• Di dalamnya terdapat banyak ular, setiap ular itu sebesar leher unta, panjangnya sepanjang perjalanan sebulan
• Ular itu menyengat sampai mendidih bisanya dalam tubuh orang itu selama 70 tahun kemudian membusuk dagingnya

MENGAJAK ANAK MENJAGA SHALAT, SULIT TAPI BISA
      Menteri Agama Suryadharma Ali prihatin hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI). kaum muda Islam Indonesia yang salat lima waktu hanya sedikit (Pos Kota, 15/6/2011). Yang selalu menunaikan shalat lima waktu hanya 28,7 persen, sedang yang sering shalat lima waktu hanya sebesar 30,2 persen.

      Keprihatinan yang sangat beralasan. Negeri Indonesia: jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, muslim ‘abangan’. Jika shalat saja tak dilakukan, apalagi kewajiban-kewajiban agama lainnya. Tawuran, kenakalan, kekerasan, pergaulan bebas, miras dan obat terlarang. hubungan antara potret buram generasi negeri ini dengan jauhnya mereka dari tuntunan agama. Seandainya mereka shalat secara rutin dan benar:
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah-ibadah lainnya). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (TQS al Ankabut [29]: 45)

      Bertanggung jawab: Imam/Khalifah beserta jajarannya sebagai penguasa yang sah yang dibai’at untuk menerapkan sistem Syariah Islam (kewajiban adanya Khilafah belum tertunaikan hingga saat ini), masyarakat/umat, Orangtua. Adapun sebagai orang tua, apa yang bisa dilakukan?

Peran Orang Tua dalam Menanamkan Kewajiban Shalat
      Orangtua harus tanamkan pemahaman tentang kewajiban shalat sejak dini. Ini bekal sampai dewasa. Jauh dari nista dunia dan azab Akhirat. Mungkinkah semua orang tua bisa melakukannya? Jika sulit maka harus sungguh-sungguh.
     merencanakan semua upaya dengan matang
     berusaha merealisasikannya dengan sekuat tenaga
     tak kenal putus asa
     bertawakal sepenuhnya kepada Allah terhadap seluruh hasilnya

      Adalah masalah klasik yang hampir semua orangtua terutama para ibu mengeluhkannya. Tak jarang ada yang malah menyerah dan membiarkan putra putrinya tidak menjalankan kewajiban shalatnya. Tidak boleh dan tidak pantas menyerah. Sebagai orang yang sangat menyayangi mereka, tentu kita tak ingin mereka mendapatkan murka Allah dan adzabNya yang sangat pedih sebagai akibat dari keengganan mereka melaksanakan kewajiban shalat. Kita juga tidak ingin dapat dosa karena berhenti menasihati dan berdakwah pada mereka. Karenanya, kita wajib menyelamatkan mereka. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka” (TQS At Tahrim [66]: 6)

      Karena dorongan cinta dan dilakukan dengan penuh cinta. Perasaan cinta serta sesuai dengan syariah mendorong kita menjauhkan putra putri kita dari siksa api Neraka. Kecintaan yang mendorong kita mengajak putra putri kita dengan lemah lembut, sabar dan dengan kasih sayang, bukan dengan tindakan kasar, celaan dan makian penuh kebencian yang melanggar syariah.

Berikut ini adalah langkah-langkah yang seharusnya dilakukan orangtua agar anak menjaga shalatnya :
      Menanamkan Akidah Yang Kokoh dan Keterikatan Terhadap Hukum Syara
      Membiasakan Anak Menunaikan Shalat
      Menganalisa Penyebab Anak Tak Mau Shalat dan Mencari Solusinya
      Komunikasi yang santun, efektif dan tepat sasaran
      Melakukan kerjasama dengan seluruh pihak yang memiliki kaitan dengan anak

Menanamkan Akidah Yang Kokoh dan Keterikatan Terhadap Hukum Syara
      Menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas utama orangtua. “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau majusi” (H.R. al Bukhari)

      Tujuan penanaman akidah adalah agar anak mengenal betul siapa Penciptanya, juga Pencipta alam semesta dan seluruh isinya agar kelak ia senantiasa menjadi orang yang bertakwa dan hanya mengabdi kepada Sang Pencipta yaitu Allah SWT. Kita harus mengarahkan mereka agar memiliki visi dan misi hidup untuk beribadah (lihat Q.S. adz Dzaariat [51]: 56).

      Anak diajak untuk memahami bahwa hidup di dunia tidak akan selamanya, suatu saat kita akan kembali kepada Allah Sang Maha Pencipta untuk mempertanggungjawabkan semua yang sudah kita lakukan di dunia. Karenanya, kita harus beriman kepada Allah dan mentaati seluruh aturannya supaya kelak di Akhirat mendapatkan kebahagiaan yang abadi (lihat Q.S. Al-Baqarah[2]:21,22,25,28,29). Alhasil, anak selalu didorong untuk selalu mengutamakan dan mengejar kehidupan Akhirat (lihat QS Al Qashash [28] : 77).

      Penanaman akidah yang kokoh sejak anak usia dini, adalah kunci keberhasilan mengajak anak menjaga shalatnya. Upaya ini harus dibangun dengan melalui proses pemahaman sehingga anak tidak merasa dipaksa melakukan shalat, dan menjadikan shalat sebagai prioritas dalam kehidupannya .

Membiasakan Anak Menunaikan Shalat
      Sangat penting bagi setiap orangtua membiasakan dan melatih anak agar menunaikan ibadah terutama shalat fardhu, seiring dengan pembinaan akidah dalam diri anak sejak usia dini. Sebab, pembinaan dan pembiasaan ibadah itu dapat menyempurnakan bangunan akidah dalam diri anak. Masa anak-anak (sebelum baligh) adalah tahap persiapan, pembelajaran dan pembiasaan untuk sampai pada tahapan taklif pada saat ia baligh. Dengan itu, ia akan mudah menunaikan berbagai kewajiban syariah, termasuk shalat. Allah Swt. berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا
Perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengajarkannya” (TQS Thaha [20]:132)

      Untuk keberhasilan proses pembiasaan shalat ini, kita bisa melakukan tiga tahapan berikut:
     Tahapan Mengajak dan Melatih
     Tahapan Menyuruh dan Mengajari
     Tahap Menyuruh dan Memberi Sanksi

Tahapan Mengajak dan Melatih
      Tahap ini dimulai ketika anak bisa membedakan kanan dan kiri (kira-kira usia 3 tahun) sampai anak berusia 7 tahun. Abdullah bin Habib menuturkan, Nabi Saw. pernah bersabda : “Jika seorang anak telah mengetahui (membedakan) tangan kanannya dari tangan kirinya, maka latihlah ia menunaikan shalat” (H.R. Thabrani)

      Tahapan ini adalah untuk mengajak dan melatih anak melakukan shalat. Proses pembelajarannya bisa dimulai dengan memotivasi anak untuk senang melakukan shalat karena ingin dicintai Allah. Dalam hal ini, kita harus memberikan keteladanan yang baik, karena anak akan meniru apapun yang dilakukan ayah dan ibunya. Ajak anak untuk berwudhu dan shalat bersama kita. Biarkan ia melihat bagaimana kita mempersiapkan diri dan bagaimana kita shalat. Dengan begitu ia akan mengenal tata cara wudhu, persiapan shalat, dan gerakan-gerakan shalat. Ia, dengan keingintahuannya akan mulai meniru kita sekalipun belum sempurna. Dorong ia agar mau meniru gerakan shalat kita, misal dengan menjanjikan sesuatu jika ia bisa menirukannya.

      Dalam melakukan ini, kesabaran harus terus menyertai kita. Biarkan saja ia naik ke punggung kita ketika kita sujud, bergelayutan saat kita berdiri atau malah duduk di depan kita, sembari kita tetap pindahkan dia sesuai keperluan sholat kita. Sikapilah dengan sabar, dan jangan menghardiknya. Begitulah yang dilakukan Rasulullah Saw. terhadap cucunya Hasan. Setelah selesai shalat, kita jelaskan pada anak bahwa hal itu adalah tidak boleh. Jangan sampai kita tak mau shalat bersama anak dengan alasan mengganggu kekhusyukan shalat. Shalat bersama mereka tak akan mengurangi nilai kekhusyukan kita, bahkan akan sangat bermanfaat bagi anak yakni membiasakan dan melatihnya menunaikan shalat.

Tahapan Menyuruh dan Mengajari
• Tahapan ini dilakukan saat anak usia 7-10 tahun. Rasulullah Saw. bersabda “Ajarilah anak-anak shalat (sejak) usia 7 tahun dan pukullah ia (untuk mendidiknya bukan menyakiti) pada usia 10 tahun” (HR. Abu Dawud, at Tirmidzi, al Baihaqi dan al Hakim). Pada tahapan ini, selain terus diajak anak juga mulai disuruh/diperintah untuk menunaikan shalat. Anak sudah harus diajari hukum thaharah, baik wudhu, membersihkan najis, mandi, tayamum dll. Anak juga harus diajari tentang rukun shalat, syarat sah shalat, hal-hal yang membatalkan shalat, shalat fardhu dan sunah dll

• Untuk memudahkan anak memahami, kita bisa menyiapkan beberapa alat peraga untuk mempermudah mengajarkan shalat. Misalnya gambar tuntunan berwudhu dan shalat atau memutarkan VCD tuntunan berwudhu dan shalat. Kita bisa membantu dengan menjelaskannya sedikit demi sedikit.

• Kita juga bisa mendorong mereka untuk mempraktekkan semua yang dipelajari dan memberi penghargaan ketika mereka bisa melakukannya dengan benar. Kita juga bisa menunjukkan ketidakridhoan saat anak lalai shalat sekalipun tidak dengan celaan yang menyakitkan. Kita harus menjagi guru yang baik, menjelaskan dengan sejelas-jelasnya, mendengarkan semua pertanyaan dan menjawabnya dengan bahasa yang sederhana.

• Banyak momen kita bersama anak yang bisa menjadi peluang mengajarkan shalat kepada mereka. Misalnya ketika pergi ke rumah nenek yang memungkinkan shalat di perjalanan, maka anak akan belajar bagaimana shalat bagi orang yang shafar. Ketika pergi ke mal atau pasar, maka kita bisa ajak anak untuk menunaikan shalat ketika adzan tiba. Tunjukkan bahwa kita mengutamakan shalat dan menomorduakan yang lainnya. Ajak anak agar ketika bangun shubuh, langsung ke kamar mandi, membersihkan badan, berwudhu dan shalat. Ketika mau pergi ke suatu acara, kita ajak anak untuk shalat terlebih dahulu ketika sudah masuk waktu shalat baru kemudian berpakaian, dll. Ketika sedang sakit, kita juga bisa ajarkan anak untuk tidak melalaikan shalat. Berusaha tetap shalat sekalipun hanya bisa dengan duduk atau berbaring.

• Harus diingat bahwa mengajak, menyuruh dan mengajari anak untuk shalat pada tahap ini harus dilakukan secara persuasif, perlahan dan dengan pengulangan disertai kesabaran.

Tahap Menyuruh dan Memberi Sanksi
      Tahapan ini dimulai sejak anak berusia 10 tahun. Pada tahapan ini, upaya memahamkan anak secara persuasif harus dilakukan lebih intensif. Harus dijelaskan kepada anak konsep pahala-dosa dan Surga-Neraka, serta bagaimana cara mendapatkan pahala dan menghindari dosa tersebut. Perlu ditanamkan juga kepada anak bahwa kedua orangtuanya sangat mencintainya dan menginginkan anaknya selamat baik di dunia maupun Akhirat, dan itu hanya didapatkan dengan cara beribadah kepada Allah dan taat dengan seluruh syariahNya.

      Ketika seluruh tahapan sudah usai, dan segala upaya sudah dilakukan ternyata anak masih lalai atau meremehkan kewajiban shalat, maka orang tua bisa memberikan sanksi. Di antaranya dengan memukul, sesuai hadist Rasulullah Saw. di atas, yaitu dengan pukulan yang mendidik bukan pukulan menyakitkan. Pukulan ini sebaiknya disertai dengan memahamkan kepada anak sebab ia dipukul, juga disertai penjelasan bahwa orang tua melakukannya karena sayang kepadanya. Hanya saja perlu diingat bahwa pemberian sanksi haruslah disertai dengan penelaahan. Kita seharusnya memantau perkembangan psikologis anak dan melihat dengan dugaan kuat apakah sanksi ini berpengaruh positif terhadap perilaku anak ataukah justru membuat anak membenci orangtuanya yang akhirnya malah menjauh dan semakin lalai terhadap shalat. Sangat mungkin ancaman sanksi sesuai hadits tersebut sudah cukup membuat anak khawatir jika meninggalkan sholat jika telah diingatkan.

Menganalisis Penyebab Anak Tak Mau Shalat dan Mencari Solusinya
      Sebagai orang tua yang mendidik dengan cinta, seharusnya kita mengedepankan nasihat daripada teguran, omelan, teriakan ataupun sanksi. Oleh karena itu, kita harus senantiasa menganalisis penyebab anak tak mau shalat: Belum menjadi prioritas, belajar demi kejar nilai VS waktu shalat. Jelaskan: shalat adalah penolong bukan beban sebagaimana firman Allah SWT : “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (TQS Al baqarah [2] : 153 ). Ajak anak berpikir, bahwa Allah dengan kekuasaanNya justru akan mempermudah semua urusan (termasuk ujian, dll.) ketika kita mendekat kepadaNya, salah satunya dengan cara shalat. Allah akan mengabulkan do’a hamba-hambaNya jika mereka mau memenuhi seruanNya dan beriman padaNya (lihat QS Al Baqarah[2]: 186).

      Bisa jadi anak tak shalat karena sedang mengalami krisis identitas. Pergaulan yang liberal, rajin sholat malah dijauhi teman, dianggap sok alim, sok dewasa, sok tahu dan sok-sok yang lainnya. Tak mau shalat karena takut ditinggal teman2. Jangan menghakimi anak, tetapi mengajak anak berpikir seperti apa profil ideal seorang anak muslim. Kita bisa menjelaskan juga apa harapan kita terhadap mereka. Misalnya kita jelaskan, betapa banyak orangtua yang bingung ketika anak tak diterima di sekolah favorit, tetapi cuek saja melihat anaknya tak shalat, padahal jika meninggalkan shalat maka Tuhan Sang Pencipta akan memberi hukuman keras. Sedangkan kita justru memberi perhatian lebih. Kita bisa ungkapkan ke anak, bahwa kita sangat senang melihatnya menjaga shalat. Lebih, daripada melihatnya berprestasi akademik hingga diterima di sebuah sekolah favorit.

      Masih banyak masalah yang menyebabkan anak tak mau shalat. Kita harus senantiasa menganalisa penyebab anak tak mau shalat dan kemudian mencari solusinya. Kita harus senantiasa mencari uslub/ cara-cara baru untuk mengajak anak shalat. Misalnya kita mengungkapkan beberapa ayat al Qur’an atau hadist-hadist yang bisa memotivasinya. Kita juga bisa menceritakan bagaimana Rasulullah Saw. yang merupakan kekasih Allah dan sudah dijamin masuk Surga, rela menunaikan shalat hingga sampai bengkak-bengkak kakinya. Ajak anak berpikir, bagaimana para shahabat Rasulullah Saw. bisa melakukan shalat dengan khusyu dan bahkan ada seorang shahabat yang tetap tidak mau mengakhiri shalatnya padahal dalam keadaan tertusuk panah oleh musuh dan cerita-cerita keteladanan lainnya. Untuk itu kita alangkah baiknya membaca berbagai buku, membaca hadist, bertukar pikiran dengan para orang tua yang lain dalam rangka mencari cara-cara baru mengajak anak menjaga shalat. Untuk lebih memudahkan upaya ini, kita harus sering mendo’akan putra-putri kita supaya Allah melunakkan hati dan membukakan pintu hidayah pada mereka. Insya Allah, dengan bergantung hanya padaNya, Dia yang akan memudahkan semuanya.

Komunikasi yang santun, efektif dan tepat sasaran
      Komunikasi dengan anak pada dasarnya adalah upaya bagaimana kita bisa meraih perhatian, mendapatkan cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan juga respon positif dari anak. Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang dilandasi rasa cinta kasih dan merupakan wujud tanggung jawab orangtua terhadap amanah yang telah diberikan Allah. Bukan komunikasi yang didasari perasaan berat, kesal, apalagi dipenuhi kebencian. Komunikasi yang santun, efektif dan tepat sasaran akan menjadikan anak menerima semua proses pendidikan tadi dengan senang dan tanpa paksaan. Kata-kata yang kita ucapkan akan laksana pisau pahat, pelan tapi pasti mempengaruhi pembentukan karakter anak. Anak akan menjadikan semua nasihat, bimbingan dan rambu-rambu yang diberikan orang tua sebagai bekal dalam perjalanannya di masa yang akan datang. Anak akan senantiasa menjaga shalatnya di manapun, kapanpun dan dalam keadaan apapun.

Melakukan kerja sama dengan seluruh pihak yang memiliki kaitan dengan anak
      Keberhasilan mendidik anak agar konsisten menunaikan shalat, selain ditentukan oleh peran orang tua dalam membangun ketaqwaan anak, juga ditentukan oleh peran lingkungan masyarakat dan sekolah. Karena itu, kita harus mengajak orang-orang di lingkungan di sekitar kita dan juga pihak sekolah untuk bersama-sama menciptakan suasana yang mendukung ketaqwaan anak dan mengarahkan anak agar senantiasa menunaikan shalat. Upaya ini akan efektif ketika Negara Khilafah Islamiyah juga menjalankan perannya, dengan menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam dan menetapkan berbagai aturan yang akan menjaga ketaqwaan anak. Itu sebabnya mengapa kita harus berusaha mengubah sistem masyarakat yang ada saat ini sehingga terwujud sebuah masyarakat Islami, yang menerapkan aturan Islam secara keseluruhan. Sistem yang akan semakin mengokohkan keimanan semua anak Muslim dan mendorongnya untuk taat dengan seluruh aturan Islam/syariah, termasuk kewajiban shalat. Sistem yang akan melahirkan generasi bertaqwa yang taat kepada syariah dan unggul di berbagai bidang kehidupan. Itulah sistem Islam yaitu Daulah Khilafah Islamiyah yang mengikuti manhaj kenabian.

Related Posts with Thumbnails

Spirit 212, Spirit Persatuan Umat Islam Memperjuangkan Qur'an Dan Sunnah

Unduh BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam