Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Tampilkan postingan dengan label happiness. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label happiness. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Juni 2017

Islam Membuat Kebhinekaan Jadi Berkah


ilustrasi dakwah ideologi Islam

Keberagaman atau kebhinekaan di masyarakat merupakan sebuah keniscayaan. Keberagamaan merupakan sunatullah. Karena itu keberagaman akan terus ada di masyarakat, tidak akan pernah hilang.

Umat manusia memang beragam dari berbagai sisi; agama, suku, warna kulit, bahasa, status ekonomi, posisi di masyarakat dan sebagainya. Allah SWT menciptakan manusia dalam ragam suku dan bangsa, misalnya, agar manusia saling mengenal. Allah SWT berfirman: "Hai manuisia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal.” (TQS. Al-Hujurat [49]: 13).

Syihabuddin Mahmud al-Alusi dalam tafsirnya Ruh al-Ma’ani menjelaskan kata ”lita'arafu” yakni ”Kami menjadikan kalian demikian agar sebagian mengenal sebagian yang lain sehingga kalian menyambung kekerabatan serta menjadi jelas nasab, dan saling mewarisi, bukan agar kalian saling berbangga dengan nenek moyang dan suku”.

Imam asy-Syaukani dalam tafsirnya Fathu al-Qadir menjelaskan, ”Allah saling melebihkan di antara mereka sehingga Allah SWT menjadikan sebagian mereka lebih dari sebagian lainnya dalam hal dunia berupa rezeki, kepemimpinan, kekuatan, kemerdekaan, akal dan ilmu... Liyattakhidza ba'dhuhum ba'dh[an] suhriy[an], yakni agar sebagian mereka menggunakan sebagian yang lain sehingga orang kaya menggunakan yang miskin, pemimpin atas yang dipimpin, yang kuat terhadap yang lemah, yang merdeka terhadap hamba sahaya, orang berakal terhadap yang di bawahnya dalam hal akal, orang berilmu terhadap orang yang tidak berilmu. Ini adalah galibnya kondisi penduduk dunia. Dengan itu kemaslahatan mereka sempurna, kehidupan mereka teratur dan masing-masing sampai pada apa yang dicari... Jadi Allah SWT menjadikan sebagian memerlukan sebagian lainnya agar terjadi saling tolong-menolong di antara mereka dalam perhiasan dunia."

Dengan demikian adanya keberagaman itu bukan suatu masalah. Masalahnya juga bukan mempertahankan atau merawat keberagaman itu, melainkan bagaimana keberagaman itu disikapi dan diatur. Ini agar keberagaman tidak menjadi bencana bagi manusia. Terwujud atau tidaknya hikmah itu bergantung pada pengaturan atas kerjasama dan interaksi berkaitan dengan keberagaman itu.

Baik-tidaknya keberagaman itu berkaitan dengan: Pertama, bagaimana setiap orang bisa mendapat akses atas pelayanan oleh negara, mendapat jaminan pemenuhan kebutuhan pokok serta merasakan jaminan pemenuhan kebutuhan dasar berupa pendidikan, kesehatan dan perlindungan keamanan dan rasa aman.

Kedua, bagaimana setiap orang bisa merasakan akses yang sama atas peluang untuk mendapat kehidupan yang layak, bisa mendapat perlakuan yang adil di depan hukum, bisa merasakan pemerataan distribusi kekayaan.

Ketiga, bagaimana seluruh masyarakat bisa terhindar dari apa saja yang bisa membahayakan masyarakat baik kriminal, narkoba, perilaku menyimpang, dll.

Kunci

Kunci mewujudkan semua itu ada dua: Pertama, aturan yang benar, adil dan berkeadilan yang digunakan untuk mengatur semua urusan dan interaksi di masyarakat. Sistem dan aturan yang seperti itu adalah sistem dan aturan Islam.

Kedua, penyelenggara negara (penguasa dan aparatur) yang menjalankan dan menerapkan sistem dan aturan di tengah masyarakat memiliki sifat amanah dan peduli terhadap rakyat. Kuncinya adalah karena faktor iman dan ketakwaan yang ada pada diri penguasa dan aparatur serta kontrol dari masyarakat. Itu juga hanya bisa diwujudkan seutuhnya oleh sistem dan aturan Islam.

Penerapan syariah Islam dalam format kekuasaan dan sistem Islam telah terbukti membuat keberagaman menjadi berkah di masyarakat. Keberagaman tetap ada tanpa timbul problem. Dan itu telah berlangsung berabad-abad.


Hafidz Abdurrahman, Ketua Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI

Tak Akan Hapus Kebhinnekaan

Mengapa ada yang menganggap Islam bertentangan dengan kebhinekaan?

Bhinneka tunggal ika itu apa maknanya? Jika maknanya berbeda tapi tetap satu, yaitu satu sebagai bangsa Indonesia, ya faktanya memang begitu. Inilah yang disebut pluralitas, bukan pluralisme. Pluralitas itu artinya, kita memang bangsa yang majemuk. Ada banyak suku dan agama.

Apakah fakta seperti ini bertentangan dengan Islam? Jawabannya, tidak. Pertama, terkait dengan perbedaan etnik dan suku, jelas merupakan fitrah penciptaan manusia, yang tidak bisa dipilih. Al-Qur’an sendiri menyatakan begitu, “Ya Ayyuha an-nas, inna khalaqnakum min dzakarin wa untsa, wa ja’alnakum syu’uban wa qabaila lita’arafu” [Wahai manusia, Kami jadikan kalian, ada yang laki dan wanita, dan Kami jadikan kalian berbangsa dan bersuku agar kalian saling mengenal], [TQS. al-Hujurat: 13].

Kedua, terkait dengan perbedaan agama itu pilihan. Di dalam Islam pun, orang yang berbeda agama tidak boleh dipaksa memeluk Islam. Mereka bahkan bisa hidup berdampingan dengan Muslim, dalam Negara Islam, sebagai ahli dzimmah.

Apakah Islam akan menghapus kebhinnekaan? Jelas tidak. Bahkan, sejarah membuktikan kaum Muslim, Kristen dan Yahudi hidup berdampingan selama ratusan tahun. Will Durant, dalam bukunya, the Story of Civilization, memberikan pengakuan dan apresiasi yang jujur terhadap bagaimana keadilan Islam terhadap non-Muslim.

Bagaimana pandangan Islam terhadap keberadaan agama lain?

Islam memandang, selain Islam adalah kafir, jelas. Tetapi, tidak berarti semua orang kafir lalu diperangi. Karena mereka ada yang mau tunduk dan hidup di dalam sistem Islam, dan diakui sebagai warga negara Islam. Mereka mendapatkan hak-hak dasar yang sama dengan kaum Muslim, seperti sandang, papan, pangan, kesehatan, pendidikan dan keamanan. Pada saat yang sama, mereka tetap dibolehkan memeluk agama mereka. Inilah mengapa penganut agama lain tidak punah meski ratusan tahun diperintah oleh Islam.

Haruskah non-Muslim khawatir dengan Islam?

Tidak perlu. Mengapa? Karena, ketika Islam diterapkan, agama mereka pun tidak akan dimusnahkan. Mereka tidak akan dipaksa memeluk Islam. Justru, Islam akan menjamin kebebasan mereka beragama, termasuk peribadatan mereka, makan, minum, pakaian, nikah dan cerai. Islam tidak mengenal pengadilan inkuisisi sebagaimana yang diterapkan kaum Kisten saat mereka merebut Spanyol dari tangan kaum Muslim.

Jadi, apa yang mereka harus mereka khawatirkan?

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 186
---

Rabu, 14 Juni 2017

Pesantren Putri al-Khoirot Ikhlaskan Hati Menimba Ilmu



Nyai Hj Luthfiyah binti M Suhud Zayyadi, Pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Khoirot

Perempuan Harus Punya Keinginan Kuat Dakwahkan Islam

Pengasuh Pondok Pesantren Putri Ai Khoirot ini dilahirkan di pesantren Al-Khoirot pada 27 Maret 1963, putri ke-4 dari 10 bersaudara ini dibesarkan di pesantren Al-Khoirot dengan pola pendidikan ayahandanya KH M Syuhud Zayyadi.

Nyai Luthfiyah memiliki kepedulian yang kuat terhadap kemajuan umat terutama para perempuan sebagai pencetak generasi umat yang tangguh. Menurut penuturannya, para perempuan harus memiliki akhlak yang mulia dan keinginan kuat untuk memperjuangkan agama Islam.

Selain sebagai pengasuh ponpes putri, ia juga banyak membantu masyarakat sekitar dalam hal pendidikan putra-putrinya dan juga membantu perekonomian masyarakat sekitarnya agar para wanita tidak bekerja di luar rumah akan tetapi tetap bisa mendidik putra putrinya sambil berkarya di rumahnya.

Ia sangat mengimbau para santriwati agar dalam hidup ini tidak hanya memikirkan dirinya sendiri tapi juga harus berjuang mendakwahkan Islam karena manusia dilahirkan hakikatnya untuk beribadah kepada Allah, karena puncaknya ibadah adalah taqwaLlah.

“Manusia yang mulia adalah yang memiliki rasa takut (taqwa) yang kuat kepada Allah,” ujarnya.

Menurutnya, ibadah itu bukan berarti duduk-duduk saja tapi justru mendakwahkan Islam dan senantiasa menambah ilmu plus ikhlas karena Allah. Ia sangat antusias dan mendukung terhadap perjuangan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang senantiasa memiliki semangat yang luar biasa dan optimis dalam memperjuangkan syariat Islam dan khilafah tanpa kenal lelah.

Pesan Nyai Luthtiyah kepada kaum Muslimin adalah bahwa kaum Muslimin ini merupakan umat yang satu sehingga harus bersatu tidak boleh bercerai-berai hanya karena perbedaan latar belakang, yang terpenting adalah menyatukan landasan yang satu yaitu bertujuan memperjuangkan Syariat Islam dan harus berjuang bersama-sama, tetap bekerjasama dan pantang menyerah dalam memperjuangkan syariat Allah agar taqwaLlah bisa terwujud sebagaimana firman Allah bahwa tidak diciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Allah bukan untuk tujuan lain tapi semata-mata memperjuangkan syariat Islam karena Allah. []nikma fitriana/joy

Pondok Pesantren Putri al-Khoirot, Karangsuko, Pagelaran, Malang, Jawa Timur

Ikhlaskan Hati Dalam Menimba Ilmu

“Ke Al-Khoirot Apa yang Kau Cari??" slogan dalam bentuk pertanyaan terpampang di dinding Pondok Pesantren Putri Al-Khoirot. Slogan tersebut begitu mencolok sehingga siapa saja yang melewatinya seakan ditegur dan diingatkan untuk selalu meluruskan niat dalam mencari ilmu di Al-Khoirot semata-mata karena Allah bukan karena yang lain.

Pesantren yang memiliki lahan seluas dua hektar ini memiliki 700 orang santri yang terdiri atas 400 santri putri dan 300 santri putra dibangun dengan format sederhana dan menggambarkan suasana mencintai ilmu.

Salah satu upaya untuk memastikan niat mencari ilmu itu tetap ikhlas, Al-Khoirot benar-benar menjaga pergaulan pria dan wanita. Campur baur (ikhtilat) apalagi bersunyi-sunyian (khalwat) sangat tidak diperkenankan di segala lini aktivitas pendidikan, baik itu pendidikan formal MTs dan MA, pendidikan madrasah diniyah, pendidikan kajian kitab kuning, maupun dalam aktivitas harian yang lain.

Pemisahan pria-wanita tidak hanya terbatas pada siswa peserta didik, tapi juga meliputi tenaga pengajar dan tenaga administrasi. Artinya, tenaga pengajar putra adalah laki-laki; sedang tenaga pengajar putri adalah perempuan. Begitu juga tenaga administrasi kantor putra dan putri diisi oleh karyawan sesuai dengan gender.

"Ini untuk memastikan bahwa santri, tenaga pengajar dan tenaga administrasi hanya fokus pada kegiatan dan pekerjaan masing-masing tanpa terganggu oleh hal-hal lain yang bisa terjadi dalam situasi dua lawan jenis bukan mahram berkumpul dalam tempat dan lokasi yang sama dalam waktu yang lama," ujar Nyai Hj Luthfiyah binti M Suhud Zayyadi, Pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Khoirot kepada Media Umat beberapa waktu lalu.

Salah satu tujuan utama Al Khoirot adalah mencetak antri berakhlak mulia. Standar minimal dari akhlak mulia adalah melaksanakan syariah Islam yang wajib dan halal dan menjauhi larangannya yang haram. Sebagai implementasi dari tujuan ini, hal pertama dan mendasar yang dilakukan adalah pemisahan santri putra dan putri secara ketat di segala lini aktifitas pendidikan.

Sejarah Berdirinya

Berawal dari kepedulian terhadap masyarakat dan tekad dakwah yang kuatlah pondok pesantren ini didirikan oleh almarhum KH Syuhud Zayyadi, ayahanda dari Nyai Luthfiyah. Kyai Syuhud adalah seorang ulama yang terkenal dengan kehati-hatiannya (wara’) dalam menjalani kehidupan. Kyai Syuhud merupakan bagian dari keluarga besar Bani Itsbat dengan silsilah nasab sampai ke Sunan Drajat, salah satu Walisongo.

Dari pernikahan Kyai Syuhud dengan almarhumah Nyai Hj Masluhah Muzakki nantinya lahir sepuluh orang putra dan putri yang kelak akan tersebar di berbagai kota kabupaten di Jawa Timur dan mendakwahkan Islam lalu mendirikan pesantren, di antaranya adalah Nurul Jadid Paiton dan tentu saja termasuk Pondok Pesantren Putri Al-Khoirot yang diasuh Nyai Luthfiyah.

Pesantren Al-Khoirot didirikan pada bulan Ramadhan tahun 1963 Masehi di atas tanah wakaf Hj Ruqoyah Bulupitu seluas satu hektar. Maka Kyai Syuhud sekeluarga pun pindah dari Jalan Murcoyo Gondanglegi ke Desa Karangsuko dan mendirikan Pondok Pesantren Al-Khoirot untuk putra. Kepindahan dari Gondanglegi ke Karangsuko pada tahun 1963 ini bersamaan dengan lahirnya anak yang keempat dengan nama Luthtiyah.

Saat itu, tidak ada niat Kyai Syuhud atau Nyai Hj Masluhah Muzakki untuk mendirikan pesantren putri. Namun karena animo masyarakat untuk menitipkan anak putrinya menuntut ilmu di Al-Khoirot begitu tinggi, maka setahun kemudian dibukalah Ponpes Putri Al-Khoirot yang dipimpin oleh Nyai Masluhah.

Pondok Pesantren Al-Khoirot awalnya merupakan lembaga pengajaran Islam dengan format salaf (tradisional) murni dengan sistem pengajian sorogan dan wethonan/bandongan. Pada 1966, madrasah diniyah (madin) Annasyiatul Jadidah didirikan. Madin ini menitikberatkan pada pendidikan ilmu agama dengan sistem klasikal dari kelas 1 sampai kelas 6 ibtidaiyah. Pada 1977, madrasah tsanawiyah mulai dirintis. Namun sekolah ini hanya bertahan kurang dari setahun karena terkendala oleh banyak hal.

Pada 2009, sekolah formal kembali didirikan tidak hanya Madrasah Tsanawiyah (MTs) tapi juga Madrasah Aliyah (MA) dengan nama MTs dan MA Al-Khoirot. Keunikan dua sekolah ini adalah siswanya diwajibkan belajar di dalam pondok pesantren. Tidak boleh sekolah dari luar. Begitu juga sebaliknya, santri harus menjadi siswa MTs dan MA kecuali bagi yang sudah lulus SLTA. Intinya, santri harus menjadi siswa dan siswa harus menjadi santri.

Pada tahun 2012, Al-Khoirot membuka program baru menghafal Al-Qur’an (Tahfidzul Qur’an) dengan tujuan untuk menciptakan generasi muda yang Qur’ani tidak hanya dalam keilmuan tapi juga dalam perilaku. Menjalankan dua sistem yang berbeda antara sistem salaf dan modern sekaligus tidaklah mudah. Namun, dengan kerja keras dan kedisiplinan yang tinggi dari semua pihak, sistem ini berjalan dengan efektif dan efisien. Santri Al-Khoirot tidak hanya mengikuti pendidikan formal, tapi juga dibekali dengan berbagai ilmu agama yang dipelajari di madrasah diniyah. Santri tidak hanya bisa membaca kitab kuning, tapi juga bisa secara aktif berbicara Bahasa Arab (bagi peserta Dauroh Arabi) dan hafal Al-Qur’an (bagi peserta program tahfidz. []nikma fitriana/joy

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 170
---

Rabu, 31 Mei 2017

Pesantren 3 in 1 Pertama Di Bandar Lampung



KH Muhammad Sulthan, Pimpinan Ponpes Jabal An Nur Al Islami:

Demokrasi Bukan Bagian Dari Islam

Hizbut Tahrir itu bagus. Alhamdulillah, saya memandang Hizbut tahrir itu rajin bersilaturahim. Memang salah satu cara iika mau membumikan khilafah ya harus seperti itu, menyosialisasikannya ke tengah-tengah masyarakat, turun ke bawah dan tidak ada rasa gengsi dan saya lihat itu di Hizbut Tahrir.

Dulu harapan kami memang dengan partai-partai politik Islam yang ada, tetapi ketika mereka masuk sistem bukannya mewarnai malah diwarnai. Sedangkan saya melihat Hizbut Tahrir berada di luar sistem pemerintahan, itu lebih asyik sebenarnya. Jadi ketika dia nanti menang tidak ada tekanan dari siapa-siapa. Jebakan-jebakan demokrasi yang sangat luar biasa itu kan berbahaya, bahkan tidak sedikit ulama-ulama yang mengambil demokrasi, padahal demokrasi itu bukan bagian dari Islam. Kita tidak mengenal demokrasi. Kalau Islam mencari yang terbaik, demokrasi mencari yang terbanyak. []

Ponpes Modern Jabal An-Nur Al-Islami, Parendoan, Batu Putuk, Betung Barat, Bandar Lampung

Semua bangunannya tampak baru! Bahkan sebagiannya masih dalam tahap pembangunan sehingga tukang yang sedang mengaduk, pasir, bata dan material lainnya menghiasi beberapa ruas jalan kompleks Pondok Pesantren Jabal An Nur Al Islami (JNI). Pembangun secara total dan besar-besaran tersebut dimulai 2,5 tahun lalu saat JNI pindah ke Jalan Wan Abdurrahman Kampung Parendoan, Kelurahan Batu Putuk Kecamatan Betung Barat, Bandar Lampung.

Tadinya, pesantren yang berdiri sejak 25 Mei 2007 beralamat di Campang Raya, Bayur Atas, Tanjung Karang Timur, Bandar Lampung tepatnya berada di atas gunung-yang sekarang sudah rata dan menjadi gudang semua.

Karena pesantren ini berdiri di atas gunung, maka diberi nama Jabal An Nur alias gunung yang bercahaya. Nama tersebut diambil dari gunung Jabal An Nur di Mekkah. ”Sesuai dengan namanya, kita bersama para pendirinya terinspirasi dari Jabal An Nur di Mekkah, supaya mendapat cahaya dari Allah,” ujar KH Muhammad Sulthon, pimpinan JNI.

Sebelum pindah ke Parendoan, fasilitas yang ada sangat terbatas. Dindingnya belum ada yang tembok. Batangnya dari tangkil, dindingnya triplek. Selama lima tahun tidak ada air. "Jadi kami membeli dua tangki air setiap hari. Jika hujan turun kami buat penadah hujan," kenang ulama yang akrab disapa Kyai Sulthon tersebut.

Bahkan enam bulan pertama, pesantren yang didirikan oleh KH Muhammad Fathoni Syafe'i, Lc -ayahanda Kyai Sulthon- tersebut hanya satu orang. Seiring berjalannya waktu dan semakin meningkatnya kepercayaan warga untuk menitipkan anak-anaknya di JNI maka santri terus bertambah hingga akhirnya harus dipindah. Sekarang jumlah santri putra putri sekitar 280 orang, semuanya mondok (boarding).

"Alhamdulillah, 2012 tepatnya 25 Februari kami pindah ke tempat ini dan itupun atas pertolongan Allah. Dahulu tempat ini hutan lebat, banyak binatang seperti beruang dan rusa. Alhamdulillah, dengan ketulusan dan keikhlasan para pengurus pondok, pengembangannya signifikan,” ujar Kyai Sulthon.

JNI didirikan lantaran KH Muhammad Fathoni Syafe'i saat itu melihat semakin banyaknya generasi yang lahir tidak berakhlakul karimah dan merebaknya narkoba. ”Kita dengan para pendiri menginginkan pondok-pondok yang didirikan memiliki pendidikan dengan warna Islam yang harapan kami dari pondok ini akan lahir generasi-generasi yang dapat menerapkan syariat Islam dalam kehidupannya," ujar Kyai Sulthon.

Three in One

JNI merupakan pesantren pertama di Bandar Lampung yang menerapkan sistem pendidikan dengan menggunakan tiga bahasa pengantar yaitu bahasa Arab, Inggris dan Indonesia; serta mengintegrasikan sistem pondok modern, salafiyah, dan Kementerian Agama. Sehingga JNI dikenal sebagai pesantren dengan kurikulum Three in One. "Kurikulum 3 in 1 inilah yang dibutuhkan oleh anak-anak kita untuk menghadapi perkembangan zaman yang serba teknologi,” ujar Kyai Sulthon.

Selain dari Lampung, JNI membina para santri yang berdatangan dari Kalimantan, NTT, Jakarta, Probolinggo, Palembang dan Jambi. Semua santri menginap di pesantren yang memiliki luas lahan 1,5 hektar dengan 15 unit bangunan permanen, 10 lokal dan 5 asrama yang semuanya dalam kondisi penuh.

”Jadi kalau tidur malam semua penuh baik masjid, kamar di dalam dan di luar," ujarnya sehingga JNI memutuskan untuk terus menambah bangunan di lahan yang masih luas tersebut.

Adapun ekstrakulikulernya antara lain, seni membaca Al-Qur’an, keorganisasian dan kepemimpinan, pidato tiga bahasa (Arab, Inggris, Indonesia), kursus-kursus keterampilan, hafalan Al-Qur’an, seni beladiri dan santri pecinta alam.

Kaligrafi, beladiri, pencak silat, shalat tahajud, dhuha, menjadi program wajib untuk di laksanakan di sini. ”Kami memang tidak mengejar santri untuk mengikuti lomba-lomba di luar, namun kami mengirimkan langsung ke tengah-tengah masyarakat agar berkiprah di sana seperti mengirimkan santri untuk menjadi da'i di tengah-tengah masyarakat seperti menjadi guru maupun khatib,” ujar pimpinan pesantren yang membuka kelas MTs dan MA tersebut.

Alumni JNI saat ini tersebar ke berbagai tempat. Ada yang di perguruan tinggi di Lampung seperti IAIN Raden Intan Bandar Lampung, Jogya, Kudus bahkan sampai ke Yaman untuk menimba ilmu di sana.

”Alumni kami sudah ada yang ke Yaman mengambil sarjana syariah Islam, dan tahun depan kami akan mengirim lagi dua orang ke sana. Semua itu mandiri tidak ada bantuan dari luar,” pungkasnya. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 156, Agustus-September 2015
---

Senin, 29 Mei 2017

Menerangi Kawasan Hitam Surabaya Utara



KH Hasyim Yahya, Ketua Yayasan Masjid Mujahidin Surabaya

Nashrullah Datang saat Kegelisahan Umat Memuncak

KH Hasyim Yahya merupakan sosok yang suka berlama-lama dengan para pemuda aktivis Islam manapun. Ambok Hasyim adalah panggilan akrabnya, sebuah panggilan suku Bugis (Sulawesi) yang bermakna buya, ayahanda atau semacamnya. Salah seorang perintis Radio Suara Mujahidin dan generasi kedua Pengurus Masjid Mujahidin, pernah berkenan hadir dan menyampaikan orasinya saat Tabligh Akbar di Taman Bungkul yang diselenggarakan HTI DPD Surabaya pada awal tahun 2000-an.

“Dalam memenangkan perjuangan Islam, faktor utamanya bukan faktor kemampuan kita para pejuang Islam, tapi lebih pada pertolongan Allah SWT. Kita tidak bisa menyelesaikan sendiri segala problematika umat yang membelit umat saat ini. Ketika umat berada di puncak kegelisahannya terhadap serangan musuh-musuh Islam, justru saat itu pertolongan Allah SWT akan datang. Seperti saat menjelang pecahnya G 30 S /PKI, umat Islam saat itu sangat gelisah dan bahkan tidak tahu makar yang dilakukan PKI begitu sistematis dan nyaris sempurna. Tapi dengan nashrullah umat Islam di Indonesia selamat dari komunisme.“ penjelasan Ambok Hasyim penuh semangat terkait dengan harapan kepada generasi muda dan semua aktivis dakwah di manapun berada.

Ambok Hasyim menerima Media Umat beberapa waktu lalu di ruang utama masjid Mujahidin seusai shalat dzuhur. ditemani kursi rodanya yang setia menemani. Selain tinggal di sebrang masjid Mujahidin di jalan Perak Timur, sebagian waktunya digunakan bermukim di rumahnya di Mekkah Al Mukarramah, Saudi Arabia. []

Menerangi Kawasan Hitam Surabaya Utara

Masjid Mujahidin Surabaya

Pelabuhan Tanjung Perak menjadi kawasan hitam karena subur dengan berbagai kemaksiatan seperti perjudian prostitusi dan premanisme. Untuk menerangi atau paling tidak mengurangi kepekatannya, para aktivis Islam pun mencoba mendakwahi mereka dengan membangun masjid, Masjid Muhajahidin sebagai pusatnya.

”Meski di awal pendirian masjid mendapatkan penolakan yang cukup kuat namun semakin lama semakin mendapatkan tempat,” ujar Ketua Takmir Masjid Mujahidin Ustadz Soegiharjo kepada Media Umat saat beranjangsana beberapa waktu lalu.

Dan untuk semakin lebih mengembangkan dakwahnya, secara legal formal dibentuk Yayasan Masjid Mujahidin Surabaya (05/03/1961) bertepatan dengan 17 Ramadhan 1380 H di depan notaris Gusti Djohan dengan nomor 92/1961.

Lokasi Masjid Mujahidin di kawasan pelabuhan Tanjung Perak Surabaya utara, tepatnya di Jl. Raya Perak Timur 275. Sisi lain masjid juga menghadap ke Jl. Teluk Nibung dan Jl. Teluk Aru. Suasana pelabuhan yang sibuk dengan bongkar muat penumpang kapal laut, bongkar muat kargo peti kemas di pergudangan dan pelabuhan yang panas, membuat Masjid Mujahidin seperti sebuah oase di padang gurun. Masjid ini menaungi dan menyatukan berbagai suku yang hidup di daerah pelabuhan seperti Banjar, Padang, Bugis selain Madura dan Jawa.

Nama 'mujahidin' merupakan pemberian dari KH Abdul Ghaffar Ismail (ulama asal Pekalongan, Jawa Tengah, ayahanda penyair Taufik Ismail) ketika pengajian pendirian masjid (13/08/1954) di Gedung Al Irsyad jl. Danakarya kawasan Ampel Surabaya. Dari pengajian tersebut terkumpullah infak jamaah dalam bentangan surban ulama Jatim KH Bey Arifin sebesar Rp72.000 sebagai dana awal pembangunan masjid.

Peletakan batu pertama (17/08/1954) pendirian masjid dilakukan oleh Kolonel M Nazir dan Kolonel Soedirman, dengan disaksikan Gubernur Jatim saat itu, Samadikun, dan Walikota Surabaya saat itu, R Mustadjab. Arah kiblat masjid dilakukan secara hati-hati dan diklaim paling presisi saat itu. Dua tahun kemudian tahun 1956, masjid mulai dapat digunakan untuk shalat berjamaah.

Hingga kini Masjid Mujahidin menjadi salah satu masjid besar di Surabaya, selain Masjid Ampel di Surabaya utara, Masjid Kemayoran di Surabaya pusat, Masjid Al Falah dan Masjid Nasional Al Akbar di Surabaya selatan.

Kegiatan Mujahidin

Program Yayasan Masjid Mujahidin dibagi dalam beberapa bidang kegiatan, antara lain bidang pendidikan; bidang dakwah dan pembinaan umat; bidang sarana dan usaha serta bidang sosial dan layanan umat.

Bidang pendidikan menaungi playgroup, Taman Kanak-Kanak, SD, SMP dan SMA Mujahidin. Semua sekolah tersebut di kompleks Masjid Mujahidin. Bidang dakwah dan pembinaan umat menyelenggarakan pengajian rutin bakda maghrib maupun kuliah shubuh, pengajian ibu-ibu, remaja dan lain-lain. Da’i kondang mantan rocker Kang Hari Moekti dan inspirator Islam Felix Siauw pernah menyampaikan pengajiannya di Masjid Mujahidin.

Bidang sarana dan usaha berkaitan dengan pemeliharaan dan pengadaan sarana fisik masjid, sekolah, poliklinik, koperasi dan lain-lain. Selain di Perak Barat, Masjid Mujahidin dan TK-SD Mujahidin juga dibangun di Klakah Rejo V/1, Griya Citra Asri, Benowo, Surabaya Barat. Bidang Sosial dan layanan umat menangani pelayanan jenazah dan mobil jenazah, poliklinik, LAZ (Lembaga Amil Zakat) yang bernama Lembaga Amal Mujahidin, Selain itu, Masjid Mujahidin pun menjadikan radio sebagai sarana dakwahnya. Maka Radio Suara Perak Jaya pun menjadi satu bagian yang integral dengan keberadaan Masjid Mujahidin. Radio dakwah terkemuka pada dekade 1970-1990-an berada pada frekuensi AM 1188 Khz dengan slogan 'Bersiar untuk Bersyi'ar'. Radio yang bernama awal Radio Suara Mujahidin dan pernah menjadi kebanggaan keluarga Muslim Surabaya mengudara pertama kali (23/03/1968) pukul 14.00, hanya bermodalkan pemancar radio mini, sebuah travo, menara radio dan beberapa kabel semrawut. Sinyal pertama mengudara di frekuensi short wave (SW).

Dengan kreativitas teknisi radio Ustadz Baabdullah, jangkauan siaran Radio Suara Mujahidin sampai Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan, bahkan pernah sampai Malaysia dan Irian Jaya. Untuk menunjang keabsahannya, dibuatlah badan hukum dengan nama Perkumpulan Radio Suara Mujahidin pada Mei 1971. Tahun 1973 terbit peraturan pemerintah yang melarang yayasan atau masjid memiliki radio. Untuk menyesuaikannya, diubahlah badan hukumnya menjadi Radio Perkumpulan Mahasiswa PTDI (Pendidikan Tinggi Dakwah Islam) yang menginduk ke PTDI Jakarta. Perubahan nama menjadi radio SPJ (Suara Perak Jaya) dilakukan (25/04/1998) karena adanya regulasi pelarangan penggunaan istilah asing 'mujahidin'.

Beberapa penyiar pionir militan pada awal radio Suara Mujahidin di antaranya Hasyim Yahya dan Saleh Yahya bersaudara, Muhammadong, Yoenoes Mustafa, Slamet Agus Sahisnu dan Zainal Abidin Tamin. Semua penyiar tersebut saat ini sudah sepuh dan menjadi tokoh-tokoh yang disegani di kancah dakwah di Surabaya. Beberapa narasumber yang pernah menyampaikan materi-materi dakwah melalui radio Suara Mujahidin/PTDI/SPJ antara lain KH Abdul Ghaffar Ismail, KH Bey Arifin, KH Khalid Abri, KH Khasun, KH Hanif Adzhar dan lain-lain.

Meskipun saat ini media massa sudah diramaikan dengan radio FM, televisi, internet dengan penggunaan berbagai aplikasi media sosial, Radio Mujahidin tetap mengendap dalam kenangan pendengarnya pada era kelayaannya. []

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 169, Maret 2016
---

Minggu, 21 Mei 2017

Masjid Memfasilitasi Perjuangan Syariah Islam



Ustadz Suratman, Penanggung Jawab Seksi Kepemudaan Masjid Ainun Jariyah

Nggak Mungkin Terwujud dengan Demokrasi

Kesederhanaan, itulah kesan pertama yang akan dijumpai oleh siapapun yang bertemu dengannya. Padahal di pundaknya terdapat tanggung jawab yang besar, membina para pemuda untuk terjun berjuang melalui masjid. “Saat berdiri masjid ini semuanya dikelola oleh pemuda, tapi saat ini telah berubah. Hanya ada beberapa pemuda yang turut mengelola masjid ini,” tuturnya.

Keprihatinan itulah yang mendorongnya untuk semakin giat mengadakan pembinaan di Ainun Jariyah, karena masjid yang dinamis dan maju hanya mampu terwujud dengan kiprah banyak pemuda di dalamnya.

Masjid bukanlah semata tempat shalat berjamaah tapi masjid merupakan tempat semua aspek kehidupan menjadi bermanfaat bermula. Masjid merupakan tempat awal mewujudkan Islam rahmatan lil 'alamin. Keyakinan bahwa masjid menjadi awal perubahan masyarakat tercermin dari sikap terbukanya dalam memfasilitasi berbagai kegiatan keislaman, terutama untuk perjuangan penerapan syariah Islam.

Dukungannya terhadap perjuangan ini tercermin dari sikap sabarnya saat memfasilitasi berbagai kegiatan. Saat ditanya tentang alasannya tanpa ragu ia menyatakan, “Islam rahmatan lil ‘alamin akan terwujud jika syariah diterapkan, nggak mungkin terwujud dengan demokrasi maupun yang lain.” []

Masjid Ainun Jariyah, Kasihan, Bantul, DIY
Kesejukan Mata Air Di Panasnya Perjalanan

Pohon sawo bludru yang tegak di pelataran seakan menyambut jamaah yang datang dengan segala kerindangan dan kesejukannya. Apalagi letaknya yang dekat jalan penghubung Yogyakarta dengan Jawa Tengah selatan yang padat lalu lintas, tak pelak Masjid Ainun Jariyah banyak disinggahi. Sesuai namanya masjid yang berlokasi di Jalan Wates Km 3,5 Rejodadi DK XI Onggobayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, menawarkan kesejukan mata air yang mengalir bagi siapa saja yang datang. Dan secara harfiah pun ketika wudhu atau mandi, airnya benar-benar terasa segar, hilang sudah hawa panas selama perjalanan.

Awalnya, Ainun Jariyah berwujud sebuah langgar kecil yang hanya dapat digunakan untuk shalat puluhan orang saja, padahal lokasinya sangat strategis. Melihat kondisi ini, H Kusiran (almarhum) merasa tergerak untuk membangun sebuah masjid. Berkat dukungan dana dari putranya, Kesi Nasrun (almarhum), seorang dokter bedah di Jakarta kala itu, maka pada 1 Muharram 1400 Hijriah bertepatan dengan 21 Nopember 1979, langgar pun dipugar menjadi masjid yang berkapasitas seribu orang. Dilengkapi dengan ruang kesehatan, ruang TPA, dapur, tempat wudhu terpisah dan tertutup bagi jamaah putri. Dan tentu saja sangat sesuai untuk dijadikan tempat pertemuan.

Menyadari bahwa masjid ini juga menjadi tempat singgah, maka masjid didesain dengan halaman dan serambi yang cukup luas. Desain interior yang didominasi warna hijau menambah rasa sejuk saat jamaah masuk untuk melaksanakan shalat. Selain fasilitas yang cukup bagi para jamaah, berbagai kegiatan dakwah diselenggarakan oleh pengelola masjid. Taman Pendidikan Al-Qur’an, Pengajian Ahad Pagi, Pengajian Infak Keluarga dan juga pengajian remaja.

Penyelenggaraan usaha kesehatan dan pemberdayaan ekonomi juga menjadi perhatian pengelola masjid. Menurut penuturan Purwanto, salah satu petugas masjid, berawal dari infak senilai lima belas ribu rupiah saat ini telah terkumpul aset senilai 90 juta rupiah yang bergulir di antara jamaah. Setiap bulannya masjid dapat meminjamkan dana kepada empat orang jamaah masing-masing senilai enam juta rupiah. "Dana tersebut dipinjamkan kepada jamaah tanpa bunga!” tegasnya dengan bangga.

Pengelola masjid sadar bila jamaahnya akan menjadi berkualitas jika mereka memiliki pendidikan yang memadai. Maka melalui pengajian infak keluarga pengelola masjid ingin memberikan bantuan bagi jamaah yang terkendala biaya pendidikan. Saat petugas mengantar undangan pengajian, maka sekaligus menarik infak kepada jamaah, saat pengajian dilaksanakan dana yang terkumpul diumumkan. Pengajian infak keluarga diselenggarakan setiap malam Ahad Kliwon.

”Masjid yang pernah menjadi masjid teladan di Kabupaten Bantul ini diharapkan bermanfaat bagi umat dalam semua aspek kehidupannya,” ujar Suratman, penanggung jawab bagian kepemudaan.

Masjid memiliki posisi penting dalam mewujudkan Islam rahmatan lil 'alamin. Namun upaya yang harus didukung oleh segenap jamaah, terkendala oleh sistem pendidikan yang ada. Para remaja dan pemuda yang seharusnya aktif turut dalam pembinaan mengalami kesulitan dengan alasan padatnya kegiatan sekolah dan kuliah. Tantangan inilah yang saat ini dihadapi oleh segenap takmir masjid. Menyiapkan berbagai kegiatan yang dengannya segenap jamaah dapat mendapatkan pembinaan Islam yang utuh. Meski di tengah padatnya kesibukan.

Sumbangan masjid ini bagi perjuangan penerapan syariah dan penegakkan khilafah cukup besar. Pertemuan dan kajian yang membahas tentang syariah dan khilafah sering diadakan di dalamnya. Kesuksesan Muktamar Khilafah 2013 di Yogyakarta berawal dari sini, karena di masjid ini pula sosialisasi perdana diadakan. Di samping itu, kewajiban menegakkan syariah secara kaffah dalam naungan khilafah pun dikemas apik dalam kemasan angkringan dakwah di pelataran masjid. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 174, Mei-Juni 2016
---

Senin, 15 Mei 2017

Masjid Raya Di Papua Barat Siap Memfasilitasi Aktivitas Dakwah

Abdul Rahman Andreas, Ketua Badan Kepengurusan Masjid Raya Al Akbar Kota Sorong
Siap Memfasilitasi Aktivitas Dakwah

Dengan hangat, Ketua Badan Kepengurusan Masjid Raya Al Akbar Abdul Rahman Andreas menyambut kedatangan Media Umat. Sabtu (14/11/2015) di ruangan kerja BKM Al Akbar.

”Saya mendukung ormas-ormas dakwah yang turut menyemarakkan syiar Islam di bumi Papua ini, apapun latar belakangnya.” ungkap lelaki kelahiran Tidore, 7 Januari 1948.

Keberagaman organisasi dakwah yang ada sekarang bukan menjadi pemecah-belah tubuh umat. Melainkan menjadi penguat dan pengokoh tubuh umat Islam “Asalkan mau bersinergi dalam dakwah." ungkap tokoh Jamaah Tabligh yang aktif berdakwah sejak muda.

Sesekali, ia menyampaikan kondisi kaum Muslimin di Papua Barat khususnya umat Islam yang pribumi. Ia memaparkan bahwa kebanyakan suku di Papua Barat dulu awalnya sudah beragama Islam karena kekuasaan kesultanan, namun kini Papua dikenal orang luar sebagai pulaunya orang Kristen akibat gencarnya kristenisasi yang dilakukan kaum misionaris.

Sebagai seorang yang peduli dengan kondisi umat, ia pun berupaya sinergi memfasilitasi ormas-ormas Islam yang mau melaksanakan kegiatan dakwah di Sorong termasuk kepada Hizbut Tahrir lndonesia (HTI) Papua Barat.

"Hizbut Tahrir sering mengadakan aktivitas dakwah di Masjid Raya Al Akbar ini. kami siap untuk memfasilitasi, demi tegaknya dakwah Islam di kota ini,“ katanya. []

Masjid Terbesar Di Papua Barat

Masjid Raya Al-Akbar, Sorong, Papua Barat

Hujan baru saja selesai mengguyur Kota Minyak, julukan Kota Sorong, ketika Media Umat menyusuri Jalan Ahmad Yani, jalan utama menuju Masjid Raya Al Akbar Kota Sorong, masjid yang menjadi kebanggaan kaum Muslimin Papua Barat, Sabtu (14/11/2015) siang.

Sebenarnya masih ada dua masjid lainnya yang juga merupakan kebanggaan, yaitu Masjid Jami' Dum dan Masjid Al Falah Rufei. Kedua masjid ini adalah masjid tertua dan pertama di Kota Sorong ini. Namun masjid utama sekaligus masjid terbesar yang ada di Kota Sorong adalah Masjid Al Akbar ini. Sesuai namanya, masjid ini memang besar. Masjid dengan ukuran 40 meter x 40 meter dengan luas tanah mencapai 8.738 meter persegi ini memang tampak mencolok di tengah-tengah jantung Kota Sorong.

Kota Sorong yang sedang berbenah menjadi Kota Metropolitan saat ini, memang terkenal dengan kerukunan antar umat beragamanya yang begitu baik. Jumlah Muslim dan non-Muslim yang berimbang, mampu disikapi dengan bijaksana oleh semua pihak. Walhasil, kehidupan beragama umat Islam pun mampu berkembang dengan baik. Berbagai peringatan hari raya Islam kerap kali dirayakan dengan begitu megah dan gegap gempita. Dan Masjid Raya Al Akbar selalu menjadi pusat segala kegiatan tersebut. Hal ini tidak lain karena letak masjid ini yang strategis di tengah kota, terlebih masjid ini memiliki ruang pertemuan yang bernama Al Akbar Convention Center.

Kota Sorong merupakan salah satu kota di Papua Barat yang kaya akan sumber daya alam dan mineral. Salah satu yang menonjol adalah cadangan minyak yang cukup berlimpah. Tak heran, perusahaan asing asal Cina, PetroChina yang notabene adalah ”Pertamina"-nya Cina, menempatkan salah satu aset kilang minyak dan gasnya di kota ini. Belum lagi rencana pembangunan Pelabuhan Kapal Internasional dan Airport internasional, telah menyulap Kota Sorong menjadi daerah yang memiliki daya tarik besar bagi para investor, baik nasional maupun asing. Tidak heran jika saat ini pinggiran jalan Kota Sorong telah dihiasi ruko-ruko bertingkat tiga dan hotel-hotel berbintang lima.

Di tengah hingar bingar kota inilah Masjid Raya yang sudah berusia 44 tahun ini tegak berdiri dengan megah. Masjid yang sudah beberapa kali mengalami pemugaran didirikan memang untuk memenuhi kebutuhan umat Islam akan tempat ibadah yang representatif dengan jumlah umat Islam yang terus bertambah banyak.

Bangunan besar dilengkapi dengan kubah berwarna kuning pudar. Dua menaranya berdiri tegak dengan sudut lancip di bagian atas. Dinding masjidnya sejak dulu sudah identik dengan warna putih bergaris-garis hijau. Masuk ke dalam bangunan masjid, Anda akan mendapati banyak pilar-pilar pengokoh bangunan masjid. Di lantai duanya khusus digunakan sebagai kelas tempat belajar siswa-siswi Madrasah Tsanawiyah Al Akbar Kota Sorong.

Masjid Al Akbar Kota Sorong didirikan pada 1971. Meskipun Masjid Al Akbar bukan masjid tertua di Kota Sorong, namun masjid ini adalah masjid terbesar di Kota Sorong bahkan terbesar se-Papua Barat. Dibangun atas prakarsa para tokoh masyarakat Muslim setempat. Masjid ini dibangun karena desakan kebutuhan akan tempat peribadatan yang memadai untuk umat Muslim di Sorong, mengingat Kota Sorong adalah salah satu kota yang terbanyak umat Muslimnya di Pulau Papua.

Suasana halaman yang asri dan luas juga menjadi salah satu faktor pendukung jama’ah mau berbetah-betah di masjid ini. Suasana bagian dalam masjid yang menampung sekitar 2.000 jamaah inipun terasa lapang dan bersih. []

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 162, Nopember-Desember 2015
---

Rabu, 03 Mei 2017

Muslim Di India Meningkat



Hasil suvei terbaru di India menunjukkan adanya peningkatan Muslim di sana. Sebaliknya, jumlah penganut Hindu menurun. Seperti dilansir Channel News Asia pada 26 Agustus 2015, penganut Hindu di india turun di bawah 80 persen untuk pertama kali sejak kemerdekaan. Sementara itu, populasi umat Islam semakin meningkat.

Sensus terakhir menunjukkan penganut Hindu turun menjadi 79,8 persen dari populasi negara itu sebesar 1,2 milyar penduduk pada 2011 dan 80,5 persen pada dekade sebelumnya. Jumlah warga negara beragama Islam di india meningkat menjadi 14,2 persen dari sebelumnya 13,4 persen pada 2001 . Umat Kristen tetap pada 2,3 persen, dan umat Sikh jatuh ke 1,7 persen dari 1,9 persen.

India adalah negara yang terletak di Asia Selatan. Negara yang bertetangga dengan Pakistan ini merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak kedua di dunia dengan jumlah penduduk lebih dari 1 milyar jiwa. Penduduk yang menganut Islam sekitar 10.9 persen dari populasi Muslim dunia. Pada tahun 2010, 14.6 persen atau sekitar 177 juta jiwa penduduknya memeluk agama Islam.

Pertambahan Muslim di india ini akan memberikan sumbangan besar bagi pertumbuhan pemeluk agama Islam di dunia. Hasil penelitian dari Pew Research Center menyebutkan pertumbuhan pemeluk agama Islam di dunia diprediksi akan lebih banyak dibandingkan dengan jemaat Kristen. Bahkan, pada 2070, jumlah umat Muslim diperkirakan paling besar di dunia.

Salah satu penyebabnya Jumlah umat Muslim di india menjadi terbesar di dunia. "Melebihi jumlah umat Muslim di Indonesia," ujar laporan Pew awal April 2015. "Walau mayoritas di India pemeluk agama Hindu, tetapi jumiah penganut agama Islam di India pada 2050 hingga 2070 akan menjadi paling besar di dunia."

Yang menarik, masih dari penelitian itu, tingkat kesuburan yang tinggi di dunia Islam memberikan sumbangan yang signifikan. Secara global, umat Islam di dunia memiliki tingkat kesuburan tinggi. Rata-rata, 3,1 anak per perempuan. Sedangkan, Kristen memiliki rata-rata 2,7 anak per perempuan dan Yahudi rata-rata 2,3 anak per perempuan.

Peningkatan Muslim India ini membuat gerah Partai Hindu Shiv Sena. Dia menyalahkan sekulerisme sebagai penyebab, menurunnya jumlah pemeluk agama Hindu. Kembali partai Hindu militan ini mengingatkan bahaya Islamisasi India dengan menyerukan persatuan untuk melawan apa yang dia sebut sebagai kembalinya pemerintah Mughal (pemerintahan Islam).

Tidak hanya itu Partai Sena menyerukan kegiatan-kegiatan yang dilakukan di masjid dan madrasah di India harus dihentikan. Lebih lanjut dikatakan bahwa jumlah suara diperlukan untuk menghentikan pemuda Muslim mendapatkan pendidikan layak dan pekerjaan yang baik.

Partai ini juga menyerukan agar diterapkan program keluarga berencana yang ketat. "Populasi Muslim meningkat karena tidak ada aturan ketat mengenai keluarga berencana. Satu orang dapat memiliki empat Istri dan membesarkan hingga dua puluh lima anak. Jika umat Hindu merasa bahwa hal ini harus dihentikan, mereka harus menggunakan kekuatan dengan jumlah mereka untuk memaksa pemerintah agar melakukannya," kata partai itu.

Peningkatan jumlah Muslim di beberapa negara termasuk India, tentu hal yang menggembirakan. Namun jumlah yang banyak itu, belum disertai dengan kekuatan politik umat Islam secara global. Tidak mengherankan meskipun jumlah umat Islam banyak dan terus meningkat, umat Islam masih mengalami penderitaan di berbagai negara. Ketiadaan khilafah Islam menjadi penyebabnya. Potensi umat Islam yang demikian besar, berserakan, tanpa kekuatan politik yang menyatukan, yaitu Khilafah Islam. []

10 Negara dengan Umat Islam Terbanyak

Berikut ini adalah sepuluh negara dengan umat Islam terbanyak menurut data dari The Pew Forum on Religion & Public Life pada tahun 2010:

1. lndonesia: 205 juta jiwa atau 88,1 persen dari jumlah penduduk.
2. Pakistan: Pada tahun 2010, penganut Islam di negara ini berjumlah sekitar 178 juta jiwa atau 96,4 persen dari jumlah penduduk.
3. india: 14.6 persen atau sekitar 177 juta jiwa penduduknya memeluk agama Islam.
4. Bangladesh: 90,4 persen dari jumlah penduduknya atau sekitar 149 juta jiwa adalah Muslim.
5. Mesir. Jumlah penduduk Muslim di negara ini adalah 80 juta, 94,7 persen.
6. Nigeria: jumlah Muslim terbanyak keenam di dunia, yaitu sekitar 4,7 persen dari jumlah Muslim dunia atau 76 juta jiwa.
7. Iran: sekitar 75 juta jiwa.
8. Turki: Sekitar 98,6 persen atau 75 juta jiwa penduduknya adalah Muslim.
9. Aljazair: sekitar 35 juta jiwa atau 98,2 persen dari penduduk. Jumlah ini adalah 2,1 persen dari total umat Islam di dunia.
10. Maroko: sekitar 32 juta jiwa atau 99,9 persen dari penduduknya. Sumber: The Pew Forum on Religion and Public Life. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 157, September 2015
---

Jumat, 28 April 2017

2070 Islam Agama Terbesar Di Dunia



PEW Research Center yang berkantor pusat di Washington Amerika Serikat kembali merilis surveinya mengenai kajian perkembangan agama-agama di dunia dengan judul "The Future of World Religions: Population Growth Projections, 2010-2050." PEW Research Center merupakan lembaga non partisan yang sering memaparkan fakta atau "fact tank” yang ada dalam fenomena masyarakat, baik yang terjadi di Amerika Serikat maupun di dunia.

Dari kajian tersebut, ada tujuh temuan penting (fact finding) dari PEW Research Center. Namun dari ketujuh temuan itu, yang terkait dengan umat Islam setidaknya ada tiga hal:

Pertama, Muslim adalah kelompok agama yang tingkat pertumbuhannya paling cepat (fastest growing). Hal ini disebabkan umat Islam memiliki tingkat kesuburan (fertility rate) dan populasi muda tertinggi. Tingkat kesuburannya adalah rata-rata 3,1 anak per perempuan. Hal ini lebih tinggi dibandingkan umat Kristen memiliki rata-rata 2,7 anak per perempuan dan Yahudi rata-rata 2,3 anak per perempuan. Di sisi lain Kristen adalah agama yang mengalami penurunan yang signifikan. Di Eropa turun hingga populasi Kristen tinggal separuhnya, dan di Amerika turun sekitar60 persen.

Kedua, negeri yang akan memiliki penduduk Muslim terbanyak tidak lagi Indonesia. Pada tahun 2050, India dan Pakistan akan menggeser Indonesia ke urutan ketiga. Dalam kajian PEW Research Center, di Amerika pemeluk Islam akan melampaui penganut Yahudi sehingga menjadi agama kedua terbesar yang dianut di Amerika. Di Asia, pemeluk Islam di India akan melampaui pemeluk Islam di Indonesia. India akan menjadi negara yang pemeIuk Islamnya terbesar di dunia, mengalahkan Indonesia. Walaupun di India, pemeluk agama Hindu masih tetap yang mayoritas. Dan agama Hindu akan menjadi agama terbesar ketiga di dunia dengan jumlah 14,9 persen. Di benua Eropa, populasi pemeluk Islam akan menjadi 10 persen dari total populasi. Jumlahnya sekitar 700 juta orang. Secara umum pemeIuk agama Islam akan meningkat 50 persen di 51 negara.

Ketiga, umat Islam akan melampaui penganut Kristen dari segi jumlah pada tahun 2070. Dari jumlah penduduk dunia 6,3 milyar pada tahun 2010, yang memeluk agama Islam adalah sekitar 1,6 milyar orang, sedangkan yang memeluk agama Kristen sejumlah 2,17 milyar orang. Pada tahun 2050, diperkirakan yang memeluk agama lslam akan menjadi 2,76 milyar orang sedangkan yang memeluk agama Kristen akan sejumlah 2,92 milyar orang. Kalau dipersentasikan, pemeluk lslam adalah 29,7 persen sedangkan Kristen adalah 31,4 persen dari populasi dunia yang diperkirakan berjumlah 9,3 milyar orang. Walaupun dari sisi jumlah, penganut agama Kristen pada tahun 2050 masih Iebih banyak dibandingkan yang memeluk agama lslam, namun dari segi pertumbuhan, agama Islam merupakan agama yang tingkat pertumbuhannya paling pesat. Sehingga pada tahun 2070, pemeluk agama Islam akan melampaui pemeluk agama Kristen. Dalam penelitian ini tidak didetilkan apakah Islam Sunni dan Syiah serta Kristen Katolik, Protestan atau Ortodoks.

Kajian ini dilakukan PEW Research Centre dan Institut International untuk Analisis Sistem Terapan (IIASA) yang berkedudukan di Laxenburg Austria selama enam tahun dengan mengumpulkan data dari 198 negara dengan lebih dari 2500 sensus, survei dan register penduduk. Kajian yang dilakukan oleh PEW Research Centre adalah dengan melihat proyeksi populasi atau jumlah penduduk, melihat tingkat kesuburan, juga melihat angka kematian, migrasi atau perpindahan penduduk dan tentunya kecenderunqan seseorang untuk mengganti agamanya. Dan kajian PEW Research Centre ini tentunya mengabaikan hal-hal yang terkait dengan perang, bencana alam, wabah penyakit dan penurunan perekonomian yang hal-hal tersebut dapat menurunkan jumlah populasi.

Populasi Besar, Dominasi Islam?

Dari kajian PEW Research Centre ini, sebagai fact tank, bisa digunakan untuk menjadi rujukan siapa saja. Bagi Barat, temuan dari PEW Research Centre ini bisa menjadi warning, bahwa dominasi Muslim adalah “ancaman” yang tidak terelakkan.

Keengganan masyarakat Barat untuk meningkatkan jumlah populasi akibat iklim kerja yang masif, kekhawatiran akan masa depan anak yang berlebihan, pandangan yang keliru terhadap lembaga perkawinan, dll adalah buah dari ideologi sekulerisme-kapitalisme yang mengerem tingkat pertumbuhan di Barat. Di sisi lain juga, Barat mendapati bahwa agama yang mereka anut selama ini tidak lagi bisa menjawab persoalan hakikat hidup mereka. Sehingga mereka meninggalkan agama yang selama ini mereka anut. Tingkat atheisme dan agnostikme di Barat sangat tinggi, terutama di Prancis, Belanda, dan Amerika Serikat yang mencapai 26 persen.

Bagi kaum Muslim, hasil kajian ini bisa menjadi berita gembira, betapa Islam sebagai rahmatan lil 'alamin semakin diterima oleh umat manusia. Mereka berbondong-bondong memeluk agama Islam dengan meninggalkan agama lamanya. Di sisi lain, Islam yang memberikan dasar-dasar keimanan mengenai rezeki, keberadaan anak sebagai amanah, dan berbagai prinsip lainnya yang salah satunya tertuang dalam hukum perkawinan, telah mendorong umat Islam untuk menjadi umat yang banyak.

Namun demikian, jumlah yang besar ini tidak ada korelasinya secara langsung dengan dominasi Islam di dunia ini. Betul jumlah penduduk adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kapabilitas negara, namun tanpa adanya institusi yang mempersatukan umat Islam yang semakin banyak ini, maka umat Islam masih laksana buih di tengah lautan, banyak, namun tidak ada pengaruhnya bagi peradaban dunia. Bila dengan jumlah yang banyak saja Barat sudah khawatir, maka hadirnya khilafah Islam sebagai institusi yang mempersatukan umat Islam seluruh dunia akan memupus kezaliman Barat, karena khilafah akan hadir untuk menerapkan sistem syariah Islam sebagai rahmatan lil 'alamin. InsyaAllah. []

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 149, April 2015
---

Sabtu, 01 April 2017

Bunuh Diri Remaja Meningkat, Mengapa?


Kematian remaja telah meningkat banyak selama sepuluh tahun terakhir, di Kanada bagian sebesar 38% lebih dari kematian remaja adalah remaja perempuan. Menurut laporan WHO 2014, di Amerika Serikat, angka bunuh diri melampaui angka kematian-karena-melahirkan sebagai penyebab utama kematian remaja perempuan usia 15-19 di negara berkembang.

Jumlah pemuda yang menderita masalah psikis dan didiagnosis mempunyai penyakit mental atau kelainan kepribadian sedang tumbuh di antara masyarakat Barat. Banyak anak muda itu yang juga menderita pikiran-pikiran ingin bunuh diri. Ketika melihat data statistik, tampak bahwa para remaja itu banyak juga yang akhirnya melakukan bunuh diri.

Tiap ideologi punya arti tersendiri bagi kebahagiaan dan bagaimana mencapainya. Masyarakat akan mempengaruhi individu-individu dalam hal ini dan akan memfasilitasi mereka untuk mengejar kebahagiaan.

Masyarakat Barat didasarkan pada ideologi kapitalisme yang merupakan ideologi kepuasan duniawi yang menetapkan pengejaran kenikmatan duniawi sebagai tujuan utama hidup. Dia memandang bahwa mendapatkan kekayaan dan kemewahan adalah sumber utama kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup. Juga apa yang disebut sebagai kebebasan liberal mengajari remaja sejak usia kecil bahwa tujuan utama hidup ini adalah untuk mendapatkan kenikmatan sebesar-besarnya dan kebahagiaan mereka sendiri akan menentukan perilakunya.

Lalu mengapa ada banyak pemuda yang mengalami perasaan merana, kecemasan, dan secara umum merasa putus asa yang sangat parah hingga mereka akhirnya bunuh diri? Dan apakah masyarakat mampu memberi para remaja itu jawaban ketika para remaja tidak merasakan kebahagiaan di mana semestinya merasa bahagia dengan harta benda?

Usaha pertama yang kita lihat di masyarakat Barat untuk menolong para pemuda adalah memberikan pertolongan psikologis. Dalam terapi-terapinya para pemuda dipandu untuk fokus pada aspek positif dari hidup mereka dengan berupaya mengubah cara pandang mereka terhadap lingkungannya. Mereka bertujuan menciptakan sasaran-sasaran baru di mana para pemuda bisa fokusi, sasaran yang bisa membantu para remaja itu untuk melangkah positif. Tapi bagaimana jika upaya mencari tujuan itu menjadi hampir mustahil karena akidah kepuasan duniawi terus berulang dan tidak dapat mereka mencapainya dalam kenyataan kehidupan? Apa yang terjadi pada mereka yang tidak bisa mendapatkan kepuasan duniawi? Dan apa yang akan dikatakan masyarakat kepada mereka yang telah memiliki banyak harta dan sarana kesenangan tapi tetap tidak bahagia? Apa yang terjadi pada para remaja yang tidak bahagia sementara mereka meyakini bahwa hidup mereka akan berakhir dan tak akan ada surga dan neraka? Apa yang akan masyarakat kapitalisme suapkan pada mereka?

Ketika merujuk pada pandangan Islam tentang kebahagiaan, kita melihat bahwa tujuan hidup menurut Islam adalah mencari keridhoan Allah. Dengan mencari keridhoan Allah maka muslim akan mendapatkan kebahagiaan.

Masyarakat Islam juga bertujuan untuk menghasilkan mentalitas di antara individu yang akan mencari keridhoan Allah secara bersama-sama. Kesulitan bisa ada di hadapan siapapun tapi mereka sadar bahwa mereka harus menanganinya dengan cara yang diridhoi Allah. Ketika menangani kesulitan, mereka sadar bahwa itu mendapatkan pahala dari Allah dan merasa bahagia dengannya, sekaligus semakin meningkatkan derajat mereka di hadapan Allah.

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (TQS. al-Baqarah:155)

Dan mereka akan bisa mendudukkan segala perkara dengan benar.

"Sungguh  tidak satu duripun mengenai seorang Mukmin atau yang lebih besar dari itu, kecuali dengan itu dihapuskan satu dosa/kesalahan dari dirinya dan ia diangkat satu derajat" (HR. Ahmad, Ibn Hibban, al-Baihaqi dan adz-Dzahabi).

Islam memberi para pemudanya mekanisme komprehensif untuk bisa menangani tiap kesulitan yang mereka hadapi. Memahami kesulitan itu dan memberikan solusi Islaminya. Islam adalah satu-satunya solusi bagi masalah-masalah manusia dan dijalankannya kewajiban dakwah termasuk upaya untuk mewujudkan solusi yang lengkap.

bacaan: khilafah.com/teen-suicides-on-the-rise-whats-going-wrong/
---

sebarkan Buku-Buku Supremasi Ideologi Islam

Jumat, 03 Maret 2017

Kemenangan Gubernur Khilafah Utsmani Abdul Malik Atas Pasukan Nasrani Portugis



ABDUL MALIK AL MU’TASHIM BILLAH

SEPENINGGAL Abdullah Al-Ghalib Billah, pemerintahan Sa'diyyin dipimpin anaknya yang bernama Al-Mutawakkil 'Alallah yang memendam niatan jahat kepada kedua pamannya, Abdul Malik bin Marwan dan Ahmad Al-Manshur. Melihat gelagat membahayakan, kedua paman itu segera keluar dari Maghrib menuju Sultan Utsmani meminta bantuan. (AI-Hurub AI-Shalibiyyah fil Masyriq AI-'Arabi, Muhammad Al-‘Amrusi, hlm. 265.)

Tidak diragukan, bahwa kemenangan pasukan Utsmani di Tunisia melawan Spanyol dan stabilnya keadaan di sana, telah mendorong pemerintahan Utsmani memberikan bantuan kepada Abdul Malik untuk menduduki singgasana Maghrib dengan tujuan untuk meluaskan pengaruhnya di wilayah itu. Dengan menguasai Maghrib, akan memberikan jaminan keamanan di wilayah perbatasan sebelah Barat pemerintahan Utsmani dan sekaligus mengokohkan pondasi kekuasaan mereka di Afrika Utara. Dan yang lebih penting, bahwa dengan dikuasainya Maghrib akan menimbulkan ketakutan di dalam hati pasukan Spanyol dan Portugis, sekaligus akan menimbulkan rasa simpati rakyat di tempat itu kepada Sultan Utsmani di Istanbul. (Juhud AI-Utsmaniyyin, hlm. 368)

Al-Mutawakkil mengikuti langkah kebijakan ayahnya, dengan tetap menjalin kolaborasi dengan negara-negara Nasrani dan lebih memilih berdamai, dengan harapan koalisi yang terbentuk mampu membendung laju pemerintahan Utsmani. Dalam benaknya, pemerintahan Utsmani akan lebih membantu menyelamatkan kedua pamannya dengan menggunakan kekuatan militer. Maka dia pun menandatangani kesepakatan dengan Inggris yang memang menginginkan menjalin hubungan dagang dengan Maghrib. Banyak keuntungan yang bisa diambil Inggris dari bisnis ini. Selain itu, pemerintah Inggris tahu tentang posisi strategis Maghrib. Apalagi saat itu Inggris sedang terlibat perang dengan Spanyol. (Bidayah AI-Hukm AI-Maghribi fi Sudan, hlm.94.)

Penandatanganan kesepakatan antara Al-Mutawakkil dengan Inggris, dianggap satu-satunya pekerjaan yang mampu dilakukan Al-Mutawakkii dalam masa pemerintahannya yang sangat pendek. Al-Mutawakkil melakukannya, didorong atas asumsi bahwa Inggris adalah pedagang asing yang memperdagangkan alat-alat perang dan senjata untuk negeri Maghrib sejak lama. Memang kebutuhan Al-Mutawakkil terhadap senjata sangat mendesak, terutama bila ditinjau dari tujuan dia untuk membendung ancaman pemerintahan Utsmani dan untuk melawan pamannya yang merongrong kursi kepemimpinan.

Pemerintah Utsmani melihat adanya peluang akibat terkurasnya perhatian dan energi Raja Spanyol Philip II, disebabkan berbagai peristiwa pemberontakan di dataran-dataran rendah. Kerepotan itu dia anggap sebagai waktu yang sangat tepat untuk memasuki wilayah Maghrib. (Al-Maghrib fi 'Ahdi AI-Daulah Al-Sa’diyyah, Abdul Karim Karim, hlm. 97 dan 99.) Maka pemerintah Utsmani memberi bantuan pasukan kepada Maula Abdul Malik sebanyak 5.000 tentara, yang dilengkapi persenjataan paling baik. Maula Abdul Malik memasuki Fas setelah ia mencapai kemenangan gemilang atas keponakannya Al-Mutawakkil. Kemudian bala tentara bantuan kembali lagi ke Aljazair. (Bidayat AI-Hukm AI-Maghribi fi Sudan, hlm.94.)

Sukses mengalahkan AI-Mutawakkil dengan bantuan pemerintahan Utsmani, membuat Abdul Malik segera melakukan perbaikan-perbaikan internal di negerinya, antara lain:

1. Memerintahkan untuk merenovasi kapal-kapal dan membuat perahu-perahu baru. Dengan perintah itu kehidupan industri menjadi bergairah kembali.

2. Dia sangat menaruh perhatian terhadap perdagangan melalui jalur laut. Harta rampasan yang dia peroleh dari perang-perang di pesisir Maghrib merupakan penyebab utama majunya perekonimian negerinya.

3. Dia membentuk pasukan terlatih dan maju yang dia adopsi dari pengalaman pasukan Utsmani. Dia meniru senjata dan bentuk struktur tentara Utsmani.

4. Dia mampu membangun hubungan yang sangat kuat dengan pemerintahan Utsmani yang dia anggap sebagai sekutu, teman dan sekaligus saudara yang ikhlas di Maghrib.

5. Dia menjadi orang terpandang dan terhormat di zamannya, hingga di kalangan orang-orang Eropa. Mereka demikian menghormati dan mengagungkannya. Seorang penyair asal Perancis Acbariba Dubin yang hidup di masa itu mengatakan: “Abdul Malik adalah sosok yang memiliki wajah begitu rupawan, bahkan dia adalah yang paling rupawan di tengah kaumnya. Pemikirannya demikian jernih dan brilian. Dia sangat mengerti bahasa Spanyol, Italia, Armenia dan Rusia. Dia adalah seorang penyair yang fasih berbahasa Arab. Singkatnya, sesungguhnya pengetahuannya, andaikata dia adalah salah seorang pangeran di antara pangeran-pangeran kami, maka apa yang dia miliki lebih dari batas normal untuk seorang yang terpandang; dan dia hanya cocok untuk seorang raja.” (Waadi Al-Makhazin, hlm.37.)

6. Dia berupaya untuk menguatkan semua aparatur negara dan sarana-sarananya. Dia berhasil membentuk satu tim penasehat negara yang merupakan tim yang memberitahukan tentang masalah dalam negerinya, serta kondisi penduduk secara umum. Dengan tim itu dia mengetahui politik dunia, khususnya negeri-negeri yang memiliki hubungan politik dengan Maghrib. Saudaranya yang bernama Abu Al-Abbas Ahmad Al-Manshur Billah yang digelari Adz-Dzahabi di dalam buku-buku sejarah merupakan tangan kanannya yang mengatur masalah negara. (Waadi Al-Makhazin, hlm. 39-40.)

Aliansi Muhammad AI-Mutawakkil dengan Raja Portugis

Setelah kekalahan atas pamannya Abdul Malik, Muhammad Al-Mutawakkil melakukan kontak dengan Raja Portugis, Sebastian. Keduanya bersepakat melengserkan pamannya dari kursi pemerintahan di Maghrib. Sebagai imbalan, Portugis boleh menguasai seluruh pesisir Maghrib. Dengan senang hati, Sebastian menerima tawaran Muhammad Al-Mutawakkil itu. (Tarikh Al-Maghrib, Muhammad bin Abud, 2/19.) Al-Mutawakkil kemudian pindah di Sabtah dan berdiam di sana selama empat bulan. Dari sana dia berangkat ke Thanjah, sambil menunggu Sebastian yang akan datang membawa pasukan.

Di tengah-tengah persiapan negara Nasrani dan Portugis untuk menaklukkan Maghrib, pemerintahan Utsmani juga mengirimkan pasukan pelatih dan bermacam-macam senjata dengan disertai pasukan militer. (Bidayat AI-Hukm AI-Maghribi fi Sudan, hlm. 94.) Di sanalah terlihat jelas, spirit Islam yang bergelora dalam dada pasukan Utsmani untuk membela agama. Sebab peperangan yang terjadi sebenarnya, adalah peperangan umat Islam secara keseluruhan, khususnya pemerintahan Utsmani, untuk melindungi kaum muslimin dan Tanah Air mereka. Suatu pembelaan yang tidak didasarkan atas kepentingan-kepentingan materi. (Juhud AI-Utsmaniyyin, hlm. 471.)

Perang Wadil Makhazin

Sesungguhnya prestasi besar yang dicapai pemerintahan Sa'di di masa pemerintahan Abdul Malik adalah, kemenangan gemilang atas kaum Nasrani Portugis dalam perang Tiga Raja. Dalam sejarah sering disebut dengan "Perang Istana Besar” atau perang Wadil Makhazin yang terjadi pada tanggal 30 Jumadil Akhirah 986 H/4 Agustus 1578 M.

Sebab-sebab terjadinya perang tersebut adalah sebagai berikut:

1. Portugis ingin menghapus rasa malu atas kekalahan yang diderita saat mendapatkan serangan dari pasukan Maghrib yang membuat mereka terpaksa harus menarik diri dari Asifa, Azmur dan Ashila pada masa pemerintahan Johannes III (1521-1557 M).

2. Raja Portugis yang baru, Sebastian putra Johannes III ingin melakukan perang suci melawan kaum muslimin hingga namanya menjadi terangkat di antara raja-raja Eropa. Ambisinya yang salah sasaran ini semakin menjadi-jadi, tatkala Portugis berhasil menemukan peta-peta dunia baru. Dengan penemuan ini, dia semakin agresif untuk menggempur dunia Islam. Ambisi menggebu demikian, hanya didorong kebencian kepada Islam dan kaum muslimin secara umum, dan orang-orang Maghrib secara khusus. Dalam otak sang raja saat itu berkumpul dua hal: Kebencian Salibis dan paradigma kolonialis yang melihat bahwa tangannya bebas untuk menjarah kekayaan negeri muslim manapun yang tidak mampu melindungi dirinya dari serangan luar. Dan pada sisi lain, dia berencana untuk melakukan pendudukan di wilayah Maghrib. (Waadi AI-Makhazin, hlm. 45-46.)



Referensi: Bangkit Dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi
-----





Related Posts with Thumbnails

Spirit 212, Spirit Persatuan Umat Islam Memperjuangkan Qur'an Dan Sunnah

Unduh BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam