Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Minggu, 30 Desember 2012

Hukum Di Indonesia Hukum Dari Kafir Penjajah

Hukum Di Indonesia Hukum Dari Kafir Penjajah



400 Tahun di Bawah `Syariat' Penjajah

Pengantar Redaksi

Sudah berapa tahun bangsa Indonesia merdeka? Ada yang bilang 57 tahun, mengacu pada Proklamasi 1945. Ada yang bilang 53 tahun, mengacu pada penyerahan kedaulatan oleh Belanda sesudah Konferensi Meja Bundar 1949. Ada yang bilang baru 4 tahun, mengacu pada terbebasnya rakyat dari rejim-rejim diktator Soekarno dan Soeharto tahun 1998. Bila masih ada sepotong iman tersisa di dada rakyat Indonesia, dengan segera mereka bisa berkata, bangsa ini masih terjajah. Masih terjajah.

Dilihat-lihat, ternyata bukan main banyaknya petunjuk yang membuktikan proses penjajahan atas bangsa ini masih berlangsung. Dari segi aqidah, bangsa ini masih dijajah perasaan tidak legowo untuk beriman hanya kepada Allah. Dari segi hukum, bangsa ini secara resmi menolak ajakan untuk mengatur kehidupannya dengan syariat Allah saja. Dari segi ekonomi, bangsa ini sengaja menghambakan diri pada sistem yang dirancang manusia, bernama kapitalisme.

Di lain sisi, mereka yang menentang bangsa dan negeri ini diatur dengan syariat Allah, selalu mempertanyakan, "Bagaimana dampak penerapan syariat Islam bagi bangsa ini?" Bagaimana pertanyaan ini bisa dijawab, kalau tak pernah dicoba? Bagaimana tahu dampaknya segelas oralit bagi seseorang yang menderita diare, jika belum pernah diminumkan? Justeru yang sudah bisa kita cermati sama-sama, "Bagaimana dampak penerapan `syariat' penjajah sesudah 400 tahun berlaku atas bangsa dan negeri ini?" (dihitung 400 tahun dari kehadiran VOC alias Vereenigde Oost-Indische Compagnie, konglomerasi dagang Belanda, 1602).

Aqidah bangsa ini: Sinkretisme, campur aduk. Hukum bangsa ini: warisan kolonial Belanda. Ekonomi bangsa ini: kapitalisme yang dicekokkan bangsa-bangsa kafir. Lihatlah bagaimana bangsa ini hidup di bawah penjajahan semua hal itu.

Hal Ihwal "hidup di bawah `syariat' penjajah" inilah yang hendak dikupas serombongan tulisan berikut ini. Kajian Utama memberi ukuran (dari al-Qur'an dan sejarah peradaban Islam) serta bukti-bukti (dari yang telah terjadi 400 tahun ini) bahwa bangsa ini masih dijajah.

Ihwal Spesial memaparkan data dan gambaran kerusakan bangsa ini setelah sekian lama hidup di bawah `syariat' penjajah. Lalu ada FAQs (Frequently Asked Questions), pertanyaan dan keraguan yang paling sering ditanyakan orang tentang syariat Islam. Syariat Islam sejauh ini merupakan alternatif paling shahih dan belum pernah dicoba bangsa ini, untuk keluar dari lingkaran setan kerusakannya.

Galeri dan Komentar merekam kerinduan masyarakat awam akan sebuah tatanan kehidupan baru yang menenteramkan hati sekaligus menyejahterakan kehidupan di dunia dan di akhirat. Masih dilengkapi dengan tulisan-tulisan khas di suplemen Jendela Keluarga.

Selamat menikmati. Kalau tak puas beritahu kami, kalau puas beri tahu kawan dan tetangga.•

Mengapa AS menyudutkan Indonesia sebagai sarang teroris?

Mengapa AS menyudutkan Indonesia sebagai sarang teroris?



Dua Motif AS

Mengapa AS begitu getol menyudutkan Indonesia sebagai sarang teroris? Tidak lain karena Indonesia memendam dua potensi: potensi ancaman dan potensi andalan. Indonesia dianggap berpotensi sebagai ancaman karena penduduknya mayoritas Muslim. Kita tahu, di mana pun adanya, kaum Muslim—yang mengemban ideologi Islam—dipandang sebagai musuh Barat. Namun demikian, Indonesia adalah negeri yang menjadi salah satu andalan AS. Sebab, Indonesia adalah negeri yang sangat luas dengan kekayaan alam yang sangat melimpah. Banyak perusahaan AS telah lama beroperasi di negeri ini.
Dengan dua potensi tersebut, mudah dimengerti bila sejak lama AS membidik Indonesia.
1. Motif Politis-Ideologis

Potensi ancaman dari kalangan Islam di Indonesia akhir-akhir ini tampaknya semakin membuat gerah AS. Tuntutan penerapan syariat Islam terus menggema, bahkan di Gedung MPR/DPR. Sejalan dengan meningkatnya kesadaran politik umat, kebobrokan AS pun semakin banyak terungkap sehingga masyarakat semakin memahaminya. Semangat anti AS dengan ideologi kapitalisnya pun mencuat.
Karena itu, AS pun berupaya melawan Islam dan kaum Muslim dengan berbagai cara—antara lain dengan terus melemparkan isu terorisme—dalam rangka melindungi kepentingan ideologis-politisnya Indonesia. Untuk mendukung tuduhannya bahwa terorisme itu ada juga di Indonesia, AS melakukan beberapa manuver:

Pertama, terus-menerus membombandir Indonesia dengan tuduhan negatif, yakni sebagai sarang teroris. Yang mutakhir adalah pernyataan bahwa Kedutaan Besar di Jakarta dan Konsulat Jenderal di Surabaya—yang sempat ditutup beberapa waktu lalu—berada dalam risiko serangan teroris (9/9/2002). Padahal, ancaman seperti yang dituduhkan tidak terbukti sama sekali. Bahkan Kapolri Da’i Bachtiar mengatakan (14/9/2002), “Ternyata tidak ada (ancaman itu). Informasi adanya ancaman berasal dari Washington.”

Kedua, terus menangkap sejumlah Muslim Indonesia di luar negeri dengan tuduhan terlibat terorisme. Setelah penangkapan Tamsil Linrung, Agus Dwi Karna, dan Jamal Balfas (di Filipina) serta Agus Budiman (di Amerika), 4 orang Muslim Indonesia kembali ditangkap di Filipina (14/9/2002). Mereka adalah Uskar Makawata, Jaka Antari, Julkiri Latemna, dan Rahman Yanis. Mereka ditangkap di wilayah General Santos, bagian selatan Filipina. Dari tiga Muslim yang dituduh, ternyata alasannya hanya karena mereka tidak bisa menunjukkan dokumen-dokumen resmi mengenai keberadaan mereka di Filipina, sedangkan yang satunya lagi dituduh terlibat membantu merencanakan pengeboman pusat perbelanjaan. Ini menunjukkan bahwa penangkapan yang ada lebih ke arah rekayasa belaka.

Ketiga, penangkapan Muslim luar negeri di Indonesia. Omar Al-Faruq, warga Kuwait, ditangkap di Bogor, pada tanggal 5 Juni lalu oleh dinas intelejen AS, CIA. Pria berusia 31 tahun itulah yang kabarnya mengungkap rencana penyerangan sejumlah fasilitas AS di Asia Tenggara pada 11 September 2002. Namun anehnya, penangkapan ini baru diungkap baru-baru ini (18/9/2002). Penangkapan ini juga dibantah oleh Sekretaris Interpol Mabes Polri, Brigjen Pol. Dadang Garnida. Ia menegaskan, pihaknya belum pernah mengetahui sama sekali ada jaringan Al-Qaidah tertangkap (18/9/2002). Bahkan Dubes Kuwait, Jamal Mubaraq, membantah (18/9/2002), “Faruq bukanlah warga negara Kuwait. Hal itu dibesar-besarkan Pers Amerika.”

Menurut mantan Direktur (BAKIN), A.C. Manulang, Omar Al-Faruq adalah agen binaan CIA. Al-Faruq ditugaskan untuk menyusup dan merekrut agen lokal melalui kelompok-kelompok Islam radikal. “Karena tugasnya sudah selesai, dibuat skenario tertangkap,” kata Manulang, (Tempo News Room, 19/9/2002).

Menurut analisis Manulang, hal itu dapat dibaca dari pola yang dipergunakan Al-Faruq, yaitu berkewarganegaraan Kuwait, memiliki paspor Pakistan, masuk ke Indonesia melalui jalur pengungsi, dan kemudian menikahi orang Indonesia. Sasarannya, menciptakan konflik terkendali di Indonesia dengan membangun opini Indonesia sebagai ladang persemaian teroris yang subur. “Setelah memperoleh informasi lengkap, lumrah dalam dunia intelijen untuk menghilangkan orang,” katanya.

Keempat, melakukan aksi secara langsung berupa penutupan Kedubes dan Konjen AS di Indonesia pada hari Senin (9/9/2002). Keputusan ini memang merupakan sebuah kejutan karena alasannya yang terkesan dibuat-buat. Buktinya, sampai detik ini, sama sekali tidak ada ancaman, serangan, dan pengrusakan fasilitas AS di Indonesia.

Dengan semua manuver itu, AS berharap akan ada kesan bahwa Indonesia benar-benar merupakan sarang teroris. Hal ini akan dijadikan alasan pembenar oleh AS untuk mendesak pemerintah Indonesia agar menekan siapa saja yang dipandang sebagai ‘teroris’ yang dapat mengancam kepentingan ideologis-politis AS. Yang dimaksudkan oleh AS ternyata adalah umat Islam yang dicap sebagai “Islam Garis Keras” yang menghendaki penerapan syariat Islam. Paling tidak, demikian pernyataan Kepala BIN, Hendropriyono. Ia menyatakan, “Jaringan Al-Qaidah itu telah menyusup di gerakan perburuhan dan kalangan Islam Garis Keras yang frustasi karena gagalnya penerapan syariat Islam dalam konstitusi selama ini.” (18/9/2002).

Sayangnya, data ini berasal dari dokumen dari Badan Intelejen AS, CIA.
Berkaitan dengan masalah ini, Presiden AS George W Bush menelepon Megawati (18/9/2002). Responnya, diadakanlah rapat mendadak hingga pukul 19.00 WIB (18/9/2002) yang dihadiri oleh Megawati, Panglima TNI, Kapolri, Menkeh HAM, Menkopolkam, dan Kepala BIN. Hasilnya yang terpenting adalah bahwa Indonesia mengadakan kerjasama dengan intelejen internasional untuk memerangi teroris tersebut.

Pada sisi lain, AS telah menyepakati membangun dok kapal perang—di samping yang komersial—di Bitung, Sulawesi Utara. Penandatanganan kerjasama itu disaksikan oleh Kepala Atase Militer AS di Indonesia, Rick Martines (3/9/2002). Dengan demikian, AS dapat mengontrol Indonesia secara militer dengan lebih mudah.
2. Motif Ekonomis

Realitas menunjukkan bahwa beberapa wilayah Indonesia yang kaya akan sumberdaya alamnya saat ini—setelah sebelumnya dibikin rusuh—sering dikaitkaitkan dengan isu teroris. Contohnya adalah Poso. Jauh sebelumnya, Poso dituduh oleh AS sebagai pusat pembenihan sel-sel Al-Qaidah. Kenyataannya, di Poso terdapat kandungan migas yang besar. Penemuan besar migas oleh Unocal Indonesia Co. semuanya telah disertifikasi. PT Expan mengumumkan penemuan cadangan gas yang cukup besar di daerah Luwuk Kabupaten Poso sebesar 3 TCF (Triliun Kaki Kubik). Dewan Maritim Nasional pada 1998 mengumumkan keberadaan sekitar 32 titik kandungan migas di Teluk Tomini yang diperkirakan baru akan habis diproduksi selama 1200 tahun (lihat: www.ristek.gov.id). Poso juga kaya akan perkebunan kelapa sawit, kopra, dan cengkih. Kabarnya, AS juga telah menemukan kayu sahara yang dianggap mampu mencegah AIDS di Poso.

Contoh lain adalah Maluku. New York Times, seperti dikutip Republika (12/9/2002), memberitakan bahwa Al-Faruq sempat singgah di Ambon dan Poso. Al-Faruq ditulis sebagai ahli keuangan Al-Qaidah dan penghubung jaringan teroris regional dengan Al-Qaidah. Kenyataannya, dilihat dari posisinya, Maluku cocok untuk pangkalan militer. Bahkan, pada era Orde Baru, AS disebut-sebut mengincar Ambon untuk dijadikan pangkalan militernya sebagai pengganti Subic, Filipina.

Contoh lain lagi adalah Papua. Penembakan terhadap 2 warga AS pekerja PT Freeport Indonesia (FI) di Papua diangkat pers Barat sebagai berkaitan dengan teroris. Karena peristiwa itulah, Kedubes AS ditutup. Kenyataannya, kekayaan alam Irian Barat demikian melimpah. Sebagai gambaran, pada tahun 1988, secara tak terduga, Freeport Indonesia menemukan deposit emas yang sangat besar di Grasberg yang diperkirakan mencapai 72 juta tons. Kemudian mereka mengajukan pembaruan Kontrak Karya (KK) selama 30 tahun dan bisa diperpanjang dua kali 10 tahun. FI mendapat KK V bersama 6 perusahaan tambang lainnya. Berbeda dengan KK I, produk utama FI adalah emas, bukan hanya tembaga. Melalui KK tersebut, pada tahun 1996 saja, FI meraup keuntungan sekitar US$ 1,5 miliar (Gatra, 10/1998). Sementara itu, menurut Econit, royalti yang diberikan FI ke pemerintah tidak berubah, hanya 1-3,5%, sehingga penerimaan pemerintah dari pajak, royalti, dan deviden FI hanya US$ 479 juta (SWA, 1997).

Aceh juga sama, yakni merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang kaya minyak. Karena itu, melalui Henry Dunant Centre, AS juga tampak bermain di Aceh.
Kesimpulan

Pepatah mengatakan, “Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.” Demikianlah tampaknya yang dikehendaki AS. Dengan terus-menerus melemparkan isu terorisme, AS sesungguhnya hendak membidik dua kepentingan -ideologis-politis dan ekonomi—sebagaimana dipaparkan di atas.

Karena itu, sudah selayaknya kaum Muslim Indonesia—baik sipil maupun militer, partai maupun non partai, mahasiswa, pelajar, buruh, petani, dan nelayan, para ulama dan para santri, para budayawan, wartawan dan cendekiawan, serta para bisnisman dan hartawan—menggalang semua kekuatan yang ada.

Marilah kita menyatukan langkah menuju ridha Allah, menjaga persatuan dan kesatuan kaum Muslim, agar tidak mudah diobok-obok oleh kekuatan kufur AS dan para sekutunya dengan segala tipudaya mereka.

Marilah kita semua berpegang teguh pada firman Allah SWT:
"Berpegang teguhlah kalian pada tali agama Allah dan janganlah bercerai-berai." (QS Ali ‘Imran [3]: 103).

Menyelamatkan Umat Dengan Sistem Islam Keseluruhan

 
Menyelamatkan Umat Dengan Sistem Islam Keseluruhan


بسم الله الرحمن الرحيم Apa Yang Ditunggu oleh Dewan Tinggi Angkatan Bersenjata, Padahal Solusi itu Ada di Hadapannya?! Warga Mesir bertanya-tanya hari ini dengan keheranan: lalu apa? Dan bagaimana kondisi mereka pasca revolusi terhadap kezaliman? Apakah kezaliman benar-benar telah hilang?! Bukankah militer yang berdiri di hadapan mereka pada waktu revolusi akan membebaskan mereka dari apa yang [...]


Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir No          : 1432 A. H. /16 Tanggal : 27 Sya’ban 1432 H/28 Juli 2011 M Pelarangan Niqab di Belgia Hanya untuk Menutupi Cacat Kegagalan Sistem Sekular Kapitalisme Demokrasi Pemerintah Belgia melarang niqab (cadar) di seluruh tempat umum termasuk di bangunan-bangunan publik seperti rumah sakit dan di jalan umum. Undang-undang yang mengkriminalisasi pemakaian niqab di [...]



Dua peristiwa yang terpisah telah memanaskan suasana di Papua. Peristiwa pertama adalah terjadinya  bentrokan berdarah di kabupaten Puncak yang dipicu oleh masalah dalam proses Pilkada.  Bentrokan itu menewaskan hampir 20 orang.  Peristiwa kedua adalah serangan yang diduga dilakukan oleh OPM (Organisasi Papua Merdeka).  Penyerangan pertama terjadi di wilayah Pinai. Sebanyak 16 orang yang diduga OPM [...]


Imam Muslim telah menuturkan riwayat dari Auf bin Malik, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Sebaik-baik pemimpin kalian ialah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian; mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian; kalian melaknat mereka dan mereka pun [...]


Awalnya demokrasi diharapkan sebagai peredam putaran roda penindasan dan kediktatoran penguasa. Demokrasi berusaha menjadi pemain tunggal dengan menggeser semua ide-ide pesaing dan mengklaim diri: jika bukan demokrasi maka pastilah gibasan otoritarianisme yang akan mengoyak kebebasan sosial. Demokrasi pun menjelma menjadi penjara-penjara sosial baru dengan mengurung rakyat dalam kemiskinan, kebodohan, dan segudang tipu-tipu penguasa tiran [...]


Benarkah dengan Khilafah penjajah terusir? Ada dua alasan mengapa dengan Khilafah penjajah bisa terusir. Pertama: dengan Khilafah pemikiran sesat sebagai pintu masuk penjajahan akan dilarang dan diberantas tuntas. Analoginya, tatkala seseorang terbius oleh tipudaya orang lain, ia akan melakukan apapun yang diminta oleh orang yang menipu tersebut tanpa penolakan sedikitpun. Ia tidak sadar bahwa [...]


Ada pemandangan menarik saat Konferensi Rajab 1432 H yang diselenggarakan Hizbut Tahrir Indonesia di Stadion Lebak Bulus, Jakarta, akhir Juni lalu. Seorang tokoh ormas Islam hadir dalam acara itu. Beliau duduk di VVIP. Khusyuk. Sejak orasi pertama tentang “Indonesia di Dalam Cengkeraman Kapitalisme Global’ hingga pembacaan doa tak henti-hentinya ia meneteskan air mata. Bukan [...]


Rumusan sistem untuk memastikan keamanan suatu negara sangat ditentukan oleh ideologi yang menjadi pijakannya. Negara ideologis akan mengemban ideologinya dan menyebarkannya ke negara lain. Negara ini juga berusaha “merekrut” atau “membuat” negara lain sebagai satelit yang mengorbit sesuai kepentingannya. Negara ideologis ini, sistem dan strategi keamanan nasionalnya bukan hanya berorientasi ke dalam tetapi juga [...]


Alhamdulillah. Luar biasa! Allahu Akbar! Itulah kata yang mungkin paling pantas diucapkan melihat kesuksesan Konferensi Rajab 1432 H yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia di sepanjang bulan Juni lalu. Gelegar Konferensi dirasakan oleh paling sedikit 130 ribu umat Islam baik dari kalangan ulama, ustadz dan ustadzah, tokoh masyarakat, intelektual, pengusaha dan kalangan profesional, mahasiswa ataupun [...]


Puluhan Ribu Berkumpul di Masjid al-Aqsa: Serukan Khilafah, Tolak Demokrasi! Puluhan ribu kaum Muslim di kompleks Masjid al-Aqsa, Baitul Maqdis, Palestina menyerukan penegakkan Khilafah. Mereka juga menegaskan penolakkan atas sistem demokrasi pada Jumat (08/07). Acara ini dilakukan dalam dalam rangka menandai 90 tahun penghancuran Khilafah Islamiyyah.Usai shalat Jumat, para pemuda dan kaum Muslim berkumpul di halaman [...]

Related Posts with Thumbnails

Spirit 212, Spirit Persatuan Umat Islam Memperjuangkan Qur'an Dan Sunnah

Unduh BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam