Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Kamis, 29 Agustus 2013

Kekuatan Ekstra Parlemen

 

Karena tren partisipasi masyarakat dalam pemilu dan pilkada terus menurun, anggota Lajnah Siyasiyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia Iwan Januar, memprediksi aspirasi ekstra parlemen akan semakin tinggi. “Hal inilah yang ditakutkan kalangan pendukung demokrasi!” ungkapnya kepada mediaumat.com, Selasa (27/8) malam.


Makanya, lanjut Iwan, parpol-parpol besar bekerja keras dengan memanfaatkan media untuk mengangkat citra tokoh dan parpol mereka, agar publik percaya. “Masalahnya, publik sudah berkali-kali ditipu dengan modus yang sama, mereka akan lebih hati-hati, bahkan mungkin sudah mati rasa (apatis).”
Di sisi lain, Iwan pun menyatakan, secara bertahap sebagian orang sudah melihat demokrasi bukan lagi sistem yang bisa diharapkan bisa mensejahterakan rakyat dan melahirkan pemimpin yang independen yang berpihak pada publik tanpa bisa diintervensi kaum kapitalis.

Menurutnya, kelompok masyarakat ini mulai melihat realita bahwa demokrasi melahirkan pemimpin yang terkooptasi oleh para pengusaha kapitalis yang rakus sebagai investor politik, dan juga demokrasi melahirkan banyak pemimpin yang juga korup karena sistem ini padat modal dan high-cost.

“Ini kesempatan bagi kita untuk menyuarakan penegakkan syariat Islam dan Khilafah kepada umat, meyakinkan mereka secara akidah dan realitas politik bahwa hanya Islam yang sanggup menyelesaikan berbagai persoalan bangsa ini,” pungkasnya.

Seperti dilansir republika (27/8), Kemendagri antisipasi golput 2014, mengingat angka golput terus meningkat. Tingkat partisipasi masyarakat 1999 tercatat 92,74 persen, 2004 menjadi 84,7 persen, 2009 71 persen. Sementara menurut Ketua KPU, tren 2014 diduga terus menurun hingga 54 persen. (mediaumat.com, 28/8)

Selasa, 27 Agustus 2013

Pesan Idul Fitri Pemimpin Barat Omong Kosong

erdogan sekularisme dan obama penjajah

Perdana  Menteri Australia Kevin Rudd dan Menteri Luar Negeri Bob Carr keduanya telah mengeluarkan video berisi pesan Idul Fitri yang dirilis untuk menyampaikan “harapan hangat” dan omong kosong yang muluk-muluk tentang bagaimana “memajukan perdamaian dan keharmonisan” dan “menghormati semua agama”. Bob Carr juga masing-masing berbicara setelah Shalat Idul Fitri di masjid Lakemba dan masjid Rooty Hill pada hari Kamis dan Jumat.

Bagi para politisi ini, mereka tentu saja memberi tahu kepada kita hal yang sudah kita ketahui jelas-jelas merupakan kebohongan. Mereka adalah bagian dari tatanan politik yang menggunakan slogan-slogan damai dan harmonis untuk melayani para elit ekonomi dengan mengorbankan massa, dan merupakan suatu bagian dari sistem internasional yang dibangun untuk menipu dan mengeksploitasi, dengan cara menaklukkan negara-negara yang lebih lemah untuk kepentingan orang-orang kaya.

Jika mereka benar-benar menghormati Islam, mereka tidak akan berjuang mati-matian menentang Islam di dunia Muslim, dengan menghabiskan jutaan dollar untuk mencegah tegaknya Islam. Jika mereka menghormati Islam, di sini mereka tidak akan menyamakan Islam sebagai kejahatan, pekan demi pekan, dan menjelek-jelekkan Islam dengan cara mempromosikan Islam versi lokal yang buruk, sekuler, dan apolitis (“Islam moderat”). Tentu saja, kita semua tahu akan realitas ini.

Namun, yang menyedihkan adalah bahwa organisasi-organisasi Islam memberikan para politisi itu platform di masjid-masjid untuk menodai perayaan hari suci kami dengan politik kotor mereka. Jelas bahwa tidak lain mereka hanya mencari jlan untuk mengkuliahi kaum Muslim untuk memajukan agenda-agenda mereka, dan menggunakan komunitas Muslim seperti permainan sepak bola politik dalam pemilihan umum tingkat federal yang sudah dekat. Jadi, mengapa organisasi-organisai Islam memberikan mereka kesempatan untuk melakukan hal ini semua? Seberapa rendahkah kita sehingga kita harus bersedia jatuh hanya untuk mendapatkan sedikit keuntungan materi?

Mengapa masjid-masjid kita telah menjadi tempat-tempat dimana kami tidak bisa membahas isu-isu politik, masalah-masalah dan solusi-solusi bagi umat dari perspektif Islam (karena seringkali politik dijauhkan dari masjid), namun para pemimpin kafir itu malah dapat membawa politik kufur mereka dan menyebarkannya di dalam masjid?

Kapankah terakhir kali Anda mendengar tentang revolusi Suriah atau situasi di Mesir atau Burma dibahas di masjid-masjid kita (selain memberikan infak dan menyampaikan do’a) dari perspektif Islam untuk membahas masalah-masalah itu beserta solusi-solusinya? Atau bahkan mengenai isu politik lokal? Keikutsertaan pasukan Australia di Afghanistan? Undang-undang anti-teror pemerintah atau kebijakan kontra-radikalisasi? Mengapa hal-hal yang sah dan penting itu tidak boleh dibicarakan di dalam masjid-masjid, sementara para politisi dari Partai Buruh dan Partai Liberal dibolehkan merayu suara kaum Muslim?

Kapankah terakhir kali Anda mendengar para politisi itu diminta pertanggung jawaban dari mimbar-mimbar masjid – yang seharusnya menjadi mimbar untuk memberikan bimbingan dan kepemimpinan? Meminta pertanggung jawaban Bob Carr karena mengkriminalisasikan dukungan finansial dan material untuk kaum mujahidin di Suriah misalnya, atau meminta pertanggung jawaban bagi perlakuan mengerikan mereka bagi para pencari suaka?

Masyarakat Islam harus meminta pertanggung jawaban DKM masjid-masjid itu beserta para pemimpin masyarakat Islam yang mengambil jalan seperti ini, dan menyebutnya sebagai kemungkaran sebagaimana adanya. Semoga Allah menuntun dan memberi barakah kepada masyarakat dengan politik yang segar dan lebih bermartabat yang berdasarkan Islam. (rz)

utsman-badar: pesan-idul-fitri-pemimpin-barat-sekedar-basa-basi
 
http://hizbut-tahrir.or.id/2013/08/11/utsman-badar-pesan-idul-fitri-pemimpin-barat-sekedar-basa-basi/

Senin, 12 Agustus 2013

Preman Sistem Thoghut Demokrasi Melarang Takbir Keliling


Imbauan berisi larangan dari Polda Metro Jaya kepada umat Islam untuk melakukan tidak takbir keliling mendapat tentangan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Wakil Sekjen MUI Tengku Zulkarnaen mengatakan, alasan Polda Metro Jaya melarang takbir keliling mengada-ada.

Menurut dia, takbir keliling termasuk salah satu sunah dalam ajaran Islam. Karena perayaan malam Lebaran tidak hanya sekadar dilakukan di mushala dan masjid, bisa juga dilakukan di jalan demi syiar. Karena itu, ia sangat keberatan kalau sampai dilarang.

"Alasan pelarangan takbir keliling ini sama saja pembangkangan terhadap ajaran Islam. Kalau dilarang, ini pengkerdilan agama Islam," kata Tengku, Selasa (6/8).

Ia mengatakan, jika takbir hanya diizinkan dilakukan di mushola, sama saja polisi mengurung umat Islam. Itu lantaran Islam sebagai mayoritas agama masyarakat Indonesia tapi tidak lagi bebas disyiarkan. Tentu hal itu menggelitiknya lantaran tidak adil jika gerak-gerik kaum Muslim malah dibatasi ketika menyambut perayaan Hari Raya Idul Fitri.

Tengku mengingatkan, kepolisian hendaknya mencabut larangan takbir keliling. Kalau tidak bisa muncul opini negatif kalau Polri melakukan pandang bulu dalam mengeluarkan kebijakan. Karena pada malam tahun baru, seluruh masyarakat tumpah ruah ke jalan malah tidak dilarang.

Bahkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) sampai ikut larut dalam perayaan tahun baru. Karena itu, ia menilai aneh ketika umat merayakan tahun baru Islam cenderung dibatasi.

"Polri seperti mengkerangkeng umat Islam, tapi membiarkan umat lain bebas merayakan malam tahun baru," kritik Tengku.

Ia mengaku bisa memahami, kadang ada masyarakat yang berbuat kurang baik ketika melakukan takbir keliling di jalan raya. Namun hal itu lebih baik dikoordinasikan dengan ulama, pengurus masjid maupun ketua RT/RW setempat. Sehingga masyarakat yang ingin mengekspresikan perayaan penyambutan Lebaran bisa menjalankannya dengan baik.

Dengan koordinasi yang baik dan langkah antisipatif, kata dia, segala hal negatif yang muncul bisa ditangani dengan baik. Hal itu sudah dicontohkan semasa kepala Polda Metor Jaya Untung S Rajab yang mau bekerja sama dengan seluruh komponen umat Islam. Sehingga, pada masa itu tidak ada larangan bagi kaum Muslim yang ingin menggelar takbir keliling.

"Ibaratnya kami ingin supaya tertib agar hal negatif bisa diminimalisasi, bukan diberangus seperti sekarang," ujar Tengku. [republika/www.al-khilafah.org]

MUI: Larang Takbir Keliling, Polisi Kerdilkan Islam

Related Posts with Thumbnails

Spirit 212, Spirit Persatuan Umat Islam Memperjuangkan Qur'an Dan Sunnah

Unduh BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam