Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Juli 2017

Pesantren Nuu Waar AFKN Pencetak Dai-Daiah Pembawa Perubahan



Pondok Pesantren Nuu Waar AFKN, Setu, Bekasi, Jawa Barat

Suasana gembira menyelimuti Pondok Pesantren Nuu Waar AFKN, ratusan santri berkumpul di lapang utama untuk menyaksikan 90 kakak kelas mereka diwisuda, Ahad (13/3) di Pondok Pesantren Nuu Waar, Setu, Bekasi Jawa Barat. Wisuda dimulai pada pukul 07.30 dengan ditandai kehadiran dewan senat santri yang diketuai Ustadz MZ Fadzlan Garamatan ke atas panggung. Serta, dengan resmi membuka acara wisuda santri ke-28 itu. Seusai sambutan, ada ceramah umum oleh Sekjen Aliansi Cinta Keluarga Indonesia (ALIA) Rita Subagyo. Dan juga, sambutan dari ketua senat yang juga sebagai Ketua Yayasan Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN).

Usai itu setiap santri bergiliran ke panggung untuk menerima sertifikat kelulusan dan cinderamata yang diserahkan dewan senat santri Ponpes Nuu Waar AFKN. Raut kegembiraan sangat tampak pada wajah para santri yang telah lulus dari Ponpes Nuu Waar. Setelah sekian lama mereka menempuh pendidikan yang jauh dari kampung halaman mereka di Nuu Waar (Irian Jaya).

Namun kegembiraan itu, sontak terhenti berganti tangis saat dua perwakilan santri menyampaikan sambutan. Dua Perakilan ini menyampaikan rasa terima kasih dan perasaan bangganya dapat menikmati pendidikan di AFKN. Berpisah dari keluarga bertahun-tahun untuk meraih impian mereka dalam bidang pendidikan.

Dan mereka pun kembali tegar saat bersama-sama membacakan ikrar. "Kami berjanji kepada Allah SWT untuk menjadi dai-dai muda yang akan membawa perubahan dalam masyarakat di pedalaman Nuu Waar!" ujar para wisudawan berikrar serentak.

Usai acara, Humas AFKN Ahmad Damanik menyampaikan pernyataannya. ”Ini merupakan wisuda bagi sekitar 90 santri AFKN yang telah menyelesaikan sarjana bidang keguruan, kebidanan dan keperawatan, ilmu teknik sipil, dan komunikasi," ujarnya kepada Media Umat.

Sebelum kegiatan wisuda ini dilakukan, lanjut Damanik, para santri yang telah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi masing-masing harus mengikuti pembekalan berupa ilmu Al-Qur’an, hadits, akidah, dan berbagai keterampilan yang diikuti selama enam bulan. Setelah lulus dari ujian materi-materi yang telah diberikan mereka pun diwisuda. Semuanya adalah santri AFKN yang berasal dari Nuu Waar.

Setelah selesai proses wisuda, mereka akan dikembalikan ke kampung halaman masing-masing. Mereka harus mengaplikasikasikan ilmu yang telah mereka dapat selama masa pendidikan untuk masyarakat di pedalaman Nuu Waar. ”Sementara dengan bekal selama di Ponpes Nuu Waar mereka juga diharuskan berdakwah atau menjadi penggerak dakwah Islam di kampung masing-masing," ujarnya.

Sejarah

Sudah puluhan tahun, AFKN menampilkan kiprahnya dalam bidang dakwah, sosial, dan pendidikan untuk masyarakat pedalaman Nuu Waar. "Dalam bidang pendidikan, AFKN membawa anak-anak Nuu Waar yang dhuafa untuk kami fasilitasi pendidikan secara gratis di pulau Jawa," beber Damanik.

AFKN pun bekerja sama dengan beberapa pesantren yang ada di Pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi untuk menampung mereka dan memberikan pendidikan secara baik. Sebagian lainnya, kami membina mereka dengan menumpang/sewa rumah-rumah warga yang ada di daerah Pondok Hijau Permai, Kota Bekasi. Namun dengan bertambahnya santri, masyarakat merasa terganggu. Keadaan ini mendorong AFKN untuk segera mencari lahan yang cukup kondusif untuk membangun pondok pesantren. Maka didapatkan seperti sekarang ini di RT 02 RW 06 Kampung Bunut, Desa Tamansari, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi.

”Mengapa pesantern Nuu Waar ini dibangun di Bekasi? Lokasi Bekasi yang notabene tak jauh dari Jakarta sangat memudahkan pengurus untuk membawa orang-orang berilmu hadir memberikan semangat di hadapan santri. Sehingga para santri bisa mendapatkan tambahan wawasan yang memadai," aku Damanik.

Di lahan seluas 5 hektar ini, AFKN mencoba menyelenggarakan proses kaderisasi kepada para santri melalui kegiatan pendidikan hafalan Al-Qur’an, hadits, bahasa Arab, bahasa Inggris, dan juga pelajaran umum lainnya. Saat ini, proses pembinaan difokuskan dari mulai anak-anak.

Pondok pesantren ini resmi mulai dibangun pada tahun 2010 secara bertahap dengan bantuan dari umat Islam di Indonesia. Saat ini telah berdiri di lahan ini dua asrama putri, 1 asrama putra, aula, ruang belajar sementara, dapur umum dan tempat makan, rumah pengajar. "Insya Allah, ke depan ini kami tengah membangun Masjid Nuu Waar di area Komplek Ponpes Nuu Waar,” ujarnya.

Pesantren ini didirikan oleh AFKN di bawah pimpinan Ustadz M Zaaf Fadzlan Rabbani Garamatan. Untuk pengelolaan pendidikan diserahkan kepada Mudir Ponpes Nuu Waar, Ustadz Ahmad Husein Dahlan.

Ponpes yang saat ini jumlah santrinya sekitar 500 orang, ditekankan mempersiapkan generasi Muslim Nuu Waar yang dapat menguasai ilmu agama dan ilmu umum. Mereka bisa kuat secara akidah dan mempunyai wawasan integrasi yang kuat. Sehingga mereka dengan Islamnya, menjadi pengokoh perekat Nuu Waar (Irian Jaya) dengan Indonesia. []joko prasetyo

Ustadz MZ Fadzlan Garamatan, Ketua Yayasan Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN)

Melawan Kebodohan Dengan Dakwah

Ustadz Fadzlan Garamatan tidak setuju, keterbelakangan dan kebodohan masyarakat Nuu Waar (Irian Jaya) dipelihara bahkan dijadikan obyek wisata. Maka lelaki asli Nuu Waar yang lahir dari keluarga Muslim, 17 Mei 1969 di Patipi, Fak-Fak tersebut melakukan perlawanan dengan cara berdakwah.

Ketika dakwah di pedalaman Nuu Waar semakin membuahkan hasil, ia mendirikan Yayasan Al Fatih Kaaffah Nusantara (1999). Melalui lembaga sosial dan pembinaan sumber daya manusia ini, Fadzlan lebih terorganisir dalam mengenalkan Islam kepada masyarakat Nuu Waar sampai ke pelosok. Dia pun mengembangkan potensi dan sumber daya yang ada, mencarikan kesempatan anak-anak setempat mengenyam pendidikan di luar Nuu Waar.

Ia tidak setuju kalau orang-orang Nuu Waar dibiarkan tidak berpendidikan, telanjang, mandi hanya tiga bulan sekali dengan lemak babi, dan tidur bersama babi. Semua penghinaan itu hanya karena alasan budaya dan pariwisata.

Berkat dakwahnya sekitar 30 tahun, Fadzlan Garamatan bersama AFKN telah mengislamkan lebih dari 220 suku di Papua. Mereka semua kini sudah wangi, mandi dua kali sehari dan tidak pernah pakai minyak babi lagi. Bahkan para Muslimah Nuu Waar pun dengan anggun mengenakan kerudung dan jilbab. Ketika ditanya Fadzlan, apakah mau memakai yokal dan sali lagi (pakaian adat Papua terbuat dari rumput yang hanya menutupi di bawah pusar sampai lutut), mama-mama dan nona-nona yang sudah memeluk Islam pun tersipu malu sembari menggelengkan kepala.

“Kasihan deh wanita-wanita “modern” di kota kota besar, baru mulai belajar telanjang dengan pakaian yang minim. Kami sudah berpengalaman bertahun-tahun dan baru mulai belajar memakai pakaian yang lebih bermartabat," ujar Fadzlan menyindir para Muslimah di perkotaan yang tidak mau menutup aurat dengan sempurna.

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 171
---

SMS/WA Berlangganan Tabloid Media Umat: 0857 1713 5759

Jumat, 16 Juni 2017

Pesantren Nahdlotul Muslimat Jadi Rumah Kaum Muslimin



KH Ahmad Fadholi Mudir ‘Am Ponpes NDM

Gagasan Hizbut Tahrir Sejalan dengan Perjuangan Pesantren

Syariah adalah aturan Allah SWT untuk hamba-hamba-Nya yang mestinya tidak hanya dipelajari di pesantren-pesantren dan ma'had-ma'had saja tetapi juga harus diperjuangkan untuk diterapkan dalam kehidupan termasuk dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Dan itu membutuhkan institusi negara. Di indonesia, formalisasi syariah pernah menjadi hot issue dalam perpolitikan tetapi kemudian padam bahkan ada yang menganggap finished dan hal yang sama juga terjadi di negeri-negeri Islam yang lain.

Tetapi melihat persoalan aktual yang ada yang diakibatkan dipinggirkannya syariah serta kuatnya pengaruh kekuatan asing yang bersifat global maka seruan penerapan Islam plus, plus perjuangan menghadirkan institusi global yang menaunginya menjadi sangat relevan bahkan merupakan keniscayaan, di sinilah gagasan politik Hizbut Tahrir, menurut saya, sejalan dengan perjuangan pesantren, tidak bertentangan.“ []joy
 

Pesantren Nahdlotul Muslimat (NDM), Surakarta, Jawa Tengah

Anda masih ingat pondok Pesantren NDM? Pesantren khusus Perempuan yang berada di Surakarta itu profilnya pernah dimuat Media Umat edisi 17. Pesantren yang terkenal dengan mencetak alumni yang mempunyai spesifikasi tafaqquh fiddin dengan menguasai ilmu alat bahasa Arab dan hafalan Al-Qur’an tersebut ternyata semakin dipercaya masyarakat.

Tidak sedikit di antara para orang tua yang membujuk pondok yang berada di Kauman Solo tersebut untuk membuka kelas ikhwan, karena anak-anak mereka tidak semuanya perempuan. Walhasil, meskipun nama ponpesnya Nahdlotul Muslimat (kebangkitan perempuan Islam), sejak 2013 sudah ada unit ikhwannya. ”Karena dorongan masyarakat yang ingin memondokkan anak laki-laki mereka dengan model keluaran seperti anak-anak putri mereka yang telah mondok di NDM," ujar KH Ahmad Fadloli, Mudir ‘Am Ponpes NDM kepada Media Umat beberapa waktu lalu.

Kepercayaan masyarakat tidak hanya menyerahkan anak-anaknya untuk dibina di NDM, lebih dari itu, bahkan pada Ramadhan tahun 2015 lalu ibu-ibu yang ikut pengajian Langgar Winongan yang diasuh Kyai Fadholi mewakafkan bangunan sekitar 900 meter di Pucang Sawit yang digunakan khusus untuk santri laki-laki. "Jadi, pondok akhwat dan ikhwan terpisah,” ujarnya.

Heterogen

Pondok NDM didirikan sebagai respon atas buruknya keadaan akibat penjajahan gaya baru (imperialisme), berwujud sekolah tapi belum terintegrasi dengan pesantren. Maka pada 1931, ibu-ibu yang suaminya aktif di Al-Islam, Syarikat Islam, Muhammadiyah dan ormas Islam lainnya mendirikan pondok ini. Namun untuk kepengurusannya diserahkan kepada para kyai yang latar belakangnya berbeda-beda ormas Islam pula.

Pengasuh pesantren NDM ini mempunyai latar belakang yang beraneka ragam. Ada yang merupakan alumni beberapa pesantren di Rembang, Ma'had Al-Azhar Bogor, Ma'had Al-Islam Mangkubumen, Ma'hadul Ulum (LIPIA) Jakarta dengan corak pemikiran yang berbeda-beda. Namun kesamaan visi pengasuh dalam hal menjadikan Islam sebagai nilai-nilai dasar dari semua aspek kehidupan telah menyatukan mereka untuk membina santri.

Perbedaan pandangan pengasuh dalam permasalahan cabang (masail furu'iyah) bahkan menjadi hal yang unik bagl para santri dan justru mendidik mereka memiliki adab perbedaan pendapat (ikhtilaf) dalam tataran riil. Meskipun bagi santri yang baru masuk bisa jadi membingungkan, namun secara alamiah mereka menjadi memahami mana perbedaan yang diperbolehkan dan perpecahan yang terlarang.

Adanya perbedaaan ini bukannya tidak diketahui oleh para wali santri bahkan mereka sudah tahu sebelumnya sehingga santri NDM ini berangkat dari latar belakang keluarga yang beraneka ragam pula.

Saat itu, ada santri yang latar belakangnya dari NU seperti ibunya Cak Imin, ada yang dari Muhammadiyah yaitu istrinya Pak Amin Rais, istrinya Ustadz Abu Bakar Ba'asyir juga dulunya mondok di sini dan sekarang ada santri ikhwan dan akhwat dari keluarga besar MMI dan HTI. "Artinya, pesantren ini diharapkan jadi rumah seluruh kaum Muslimin untuk mendidik putra-putrinya,” ungkap kyai alumnus Ponpes Lasem Rembang dari Fakultas Pertanian UNS tersebut.

Para pengasuh pesantren NDM ini juga aktif pada organisasi dan kelompok yang berbeda-beda dan hal itu bukanlah menjadi masalah yang serius bagi manajemen pesantren sebab pesantren adalah lembaga "ilmiah” yang mempunyai tujuan dan target spesifik yang sangat dapat disinergikan kepada aktivitas dakwah Islam yang diusung oleh siapapun.

Saat ini, santri ikhwan dan akhwatnya sekitar 400 orang dari unit MTs dan KMI (setingkat Madrasah Aliyah). Di tingkat MTs santri diharapkan hafal 3 juz, Arbain Nawawi, hadits hukum Umdatul Ahkam, fiqh Syafii, Nahwu Alwadhih dan itu dilanjutkan di tingkat KMI. Di tingkat MTs santri mendapat pelajaran formal dan mengikuti Ujian Nasional. Adapun di tingkat KMI santri mengikuti paket C agar bisa meneruskan ke perguruan tinggi.

”Jadi keunggulannya memberikan dasar pendidikan agama yang baik dan terbukti alumninya tidak kesulitan jika meneruskan ke Mesir, LIPIA, UIN, pondok di jenjang yang lebih tinggi dan bagi yang ingin "nyeberang" ke perguruan tinggi umum jika bisa, atau jika mengabdi mengajar di sekolah-sekolah Islam juga banyak,” ungkapnya berpromosi.

Selain konsentrasi di NDM, para kyai dan ustadznya pun berkiprah di tengah masyarakat dengan memberikan pengajian-pengajian umum. []joko prasetyo

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 166
---

Kamis, 08 Juni 2017

Menyeimbangkan Pendidikan Intelektual, Mental, Dan Spiritual



KH Ahmad Pamuji, Pimpinan Ponpes Modern Nurul Hidayah:
Perlu Payung Syariah Dalam Naungan Khilafah

Kita harus bersatu untuk Kkebangkitan umat, sehingga Islam rahmatan lil alamin bisa terwujud. Tanpa bersatu mustahil kita bisa kuat, mustahil bisa menghadapi berbagai persoalan umat ini, kita di pesantren mendukung semua perjuangan untuk tegaknya Islam, kita mencetak kader-kader pemimpin yang siap mengabdikan diri untuk Islam dan kaum Muslimin. Kami mendukung perjuangan Hizbut Tahrir karena untuk bersatu kita perlu payung syariah dalam naungan khilafah. []

Pondok Modern Nurul Hidayah, Pasiran, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, Riau

Pendidikan intelektual, mental dan spiritual sangat dibutuhkan oleh setiap generasi bangsa. Pondok Modern Nurul Hidayah hadir untuk menyeimbangkan tiga macam pendidikan tersebut. Diharapkan proses itu dapat membangun karakter dan dedikasi santri yang cerdas, sehat, dan bertakwa.

Pesantren yang berlokasi di Desa Pasiran, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, didirikan pada 1 Januari 1989 oleh masyarakat Bantan Tua, atas inisiatif tokoh masyarakat menempati areal tanah wakaf umat Islam seluas 4,5 hektar. Ponpes ini dikembangkan di bawah naungan Yayasan Attarbiyah Al-Islamiyah Nurul Hidayah.

Sistem pendidikan dan pengajaran pondok yang berlokasi sekitar 12 km dari kota Bengkalis merupakan perpaduan kurikulum yang mengacu kepada Kurikulum KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo dan Departemen Agama.

Sedangkan program pendidikannya ada dua macam. Pertama, program reguler bagi siswa tamatan SD/MI dengan masa belajar selama 6 tahun. Kedua, program intensif bagi santri tamatan SMP/MTs dengan masa belajar selama 4 tahun.

Nurul Hidayah juga menerapkan pendidikan klasikal berasrama yang memadukan tri pusat pendidikan dalam sistem pendidikan 24 jam atau yang dikenal dengan istilah full day school. Sedangkan seluruh kegiatan santri yang saat ini berjumlah 810 orang di bawah pengawasan dan bimbingan dua lembaga yakni kegiatan kurikuler dan intrakurikuler diselenggarakan dan diasuh oleh seorang Direktur dan dibantu Staff KMI, dan kegiatan ekstrakurikuler di bawah pengawasan dan bimbingan langsung oleh pengasuh Ponpes.

KMI merupakan lembaga pendidikan guru Islam yang mengutamakan pembentukan kepribadian dan sikap mental serta penanaman ilmu pengetahuan Islam. Kurikulum KMI membekali para santri dengan pelajaran agama dan umum secara seimbang disampaikan dalam dua bahasa internasional yaitu Bahasa Arab dan Bahasa Inggris selain bahasa Indonesia, sehingga mampu mengikuti dinamika kehidupan masyarakat nasional dan internasional.

Bagi Nurul Hidayah, nilai-nilai pendidikan tidak hanya didapat dalam proses belajar mengajar di kelas saja, melainkan juga dalam totalitas kegiatan dan kehidupan santri selama 24 jam penuh. Sistem seperti inilah yang diterapkan pondok modern sebagai sarana menumbuhkan jiwa mandiri santri, kegiatan berorganisasi diatur langsung oleh santri dengan bimbingan dewan guru.

Sedangkan, latar belakang pendidikan tenaga pengajarnya adalah alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor, Pondok Modern Arisalah, Pondok Modern Nurul Hidayah, Pondok Pesantren Al-Islam, UN, UNRI, STAI, UNMUH, AKOP RIAU, ISID Gontor, STIE Syari'ah, Univeristas Al-Azhar Kairo Mesir, IAIA Jakarta dan STKIP Medan.

Adapun fasilitas pesantren berupa kantor satu unit, asrama putri satu unit, asrama putra satu unit, ruang belajar 22 ruang, laboratorium komputer satu ruang, laboratorium biologi 1 ruang, laboratorium bahasa satu unit, koperasi satu unit, kantin satu unit, gedung seni satu unit, dapur umum, perpustakaan satu unit, tempat praktek usaha santri satu unit.

Di samping itu ada juga sarana olahraga berupa lapangan sepak bola, volley ball, takraw, bulu tangkis, tenis meja, dan basket. Ada sarana pertanian berupa tanah yang subur untuk latihan bertani. Ditambah pula sarana kesenian. Dilengkapi pula dengan sarana belajar pertukangan santri (TPUS), sarana belajar peternakan sapi dan sarana belajar manasik haji.

Semua fasilitas tersebut diadakan bukan saja untuk mendukung kegiatan belajar mengajar tetapi juga semua kegiatan termasuk kegiatan ekstrakurikuler.

”Semua kegiatan adalah kurikulum, oleh karena itu Pondok tidak hanya memperhatikan pendidikan intelektual saja tetapi juga mental dan spiritual yang akan membangun karakter dan dedikasi santri, sehingga semua apa yang dilihat, didengar dan dirasakan adalah pendidikan bagi mereka," ungkap KH Ahmad Pamuji, Pimpinan Ponpes Modern Nurul Hidayah.

Kegiatan ekstrakurikuler seperti keterampilan dan kesenian, kepramukaan, beladiri, olahraga, merupakan sarana membentuk pribadi Mukmin Muhsin yang sesuai dengan nilai-nilai yang dikandung dalam moto pendidikan Pondok Modern.

Tidak hanya itu, kemandirian ekonomi menjadi salah satu aspek yang ditanamkan sejak dini kepada para santri. Badan-badan usaha milik Pondok yang dikelola langsung oleh santri dan guru didirikan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan santri dan masyarakat, melainkan juga sebagai wahana menumbuhkan jiwa berdikari dan wirausaha serta mewujudkan kemandirian ekonomi pondok.

Adapun kegiatan ekstrakurikuler yang bertujuan untuk membentuk sikap mental (mental attitude) dan wawasan pengalaman para santri, antara lain: kepramukaan, keorganisasian santri OPPM, kesenian dan ketrampilan.

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 146, Maret 2015
---

Selasa, 30 Mei 2017

Masjid Tuha Saksi Bisu Kekuasaan Khilafah Islam Di Aceh



HM Ali Yunus, Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Aceh Besar

Khalifah Perintahkan Kerajaan-Kerajaan Di Aceh Bersatu

Indrapuri pada masa zaman Sultan Al-Qahhar, Iskandar Muda hingga raja-raja selanjutnya masih menjadi pusat peradaban Islam, dari pusat pendidikan, peradilan, hingga pusat ekonomi. Karena saat itu, daerah Aceh ini terkenal dengan hasil bumi, lada. Gampong Indrapuri saat itu dikenal sebagai ibukota 22 mukim. Namun pada masa Sultan Iskandar Tsani dan Ratu Safiatuddin ibukota Aceh Darussalam dipindahkan ke Lamteh karena saat itu ada keluarga kerajaan di sana.

Aceh kala itu telah menjadi bagian dari Kekhilafahan Utsmaniyah. Bahkan penggabungan beberapa kerajaan kecil di Aceh menjadi sebuah kesatuan kerajaan, yaitu Kerajaan Aceh Darussalam berada di bawah perintah Khalifah di Turki Utsmani. “Ibaratnya seperti hari ini, sebuah wilayah tak akan menjadi sebuah negara bila tanpa persetujuan PBB,” ujar Ketua MAA Aceh Besar Tengku Cut Ali Yunus.

Saat proses pembongkaran relief Candi Indrapuri hingga menjadi sebuah masjid juga melibatkan para tentara dari Khilafah Utsmaniyah yang saat itu masih berada di Aceh. []

Masjid Tuha Indrapuri, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar

Nuansa zaman dahulu saat Kerajaan Hindu masih berkuasa di Aceh begitu kental tatkala memperhatikan masjid ini dari luar, apalagi ketika masuk ke dalam beranda. Pasalnya, tembok berbentuk seperti punden berundak tiga tingkat dengan ketinggian 1,46 meter masih berdiri dengan kokoh. Dari depan, separuh masjid bagian bawah tidak tampak karena tertutupi dengan pagar tembok. Saat masuk melewati pagar pembatas masjid, maka akan ditemukan sebuah kolam di tengahnya. Air di kolam ini dipakai sebagai air untuk berwudhu.

Masjid bersejarah tersebut terletak di Pasar Indrapuri, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, berjarak sekitar 24 km ke arah utara Kota Banda Aceh. Bangunan masjid berdiri di atas tanah seluas 33.875 m2, di pinggir sungai yang memisahkan Pasar Indrapuri dengan jalan raya Medan-Banda Aceh. Ukuran masjid 18.8 x 18.8 meter, dan tinggi 11.65 meter. Masjid ini memiliki ”dua saudara” lainnya, yakni Masjid Indrapatra dan Indrapurwa -Masjid Indrapurwa sudah ditelan aliran air sungai.

Awalnya Memang Candi

Masjid yang dibangun sekitar abad ke-10, awalnya memang sebuah candi milik penganut agama Hindu dari Kerajaan Poli atau Lamuri. Namun, sejak penyebaran Islam sampai ke Aceh, banyak pemeluk Hindu yang akhirnya menganut agama Islam. Sehingga Candi Indrapuri ini tidak lagi terpakai dan ditinggalkan oleh para penganutnya.

Dibangun dengan konstruksi kayu dan didirikan di atas lantai ke empat candi. Para tentara Khilafah Turki Utsmani juga ikut merombak Candi Indrapuri menjadi masjid. Dan mulai dipugar kembali pada sekitar tahun 1992-1995 oleh pemerintah daerah Aceh melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan tidak mengubah bentuk awalnya. Hal ini seperti yang dituturkan oleh dua orang pengurus Masjid Tuha Indrapuri saat menemani Media Umat melihat-lihat masjid bersejarah tersebut.

Proses penyebaran Islam melalui jalan damai telah menarik perhatian banyak pihak membuat Islam diterima oleh masyarakat Aceh saat itu. Menurut buku Sejarah Pendidikan Daerah Istimewa Aceh, pengaruh kebudayaan Islam semakin tampak setelah Islam muncul sebagai kekuatan politik di daerah ini. Pada mulanya didirikan beberapa kerajaan kecil, seperti Peurelak, Samudera Pasai, Aceh, Daya dan lain-lain, kemudian pada awal abad ke-16 kerajaan-kerajaan tersebut dipersatukan ke dalam Kerajaan Aceh Darussalam dan kerajaan-kerajaan inilah yang telah turut berperan dalam mewujudkan sendi-sendi masyarakat Islam di daerah Aceh.

Menurut penuturan Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Aceh Besar Tengku Cut Ali Yunus kepada Media Umat, bersatunya kerajaan-kerajaan ini menjadi Kerajaan Aceh Bandar Darussalam atau Aceh Darussalam diketahui dan atas perintah dari Khalifah Utsmaniyah saat itu.
Puncak kejayaan Aceh Darussalam dimulai pada abad ke-17. Di Aceh kala itu banyak berdiri pusat-pusat dan lembaga pendidikan dari tingkat gampong (desa) hingga tingkat ibukota.

Maka, tak mengherankan ketika itu banyak ahli dari Khilafah Utsmaniyah datang membantu proses pengembangan teknologi dan penguatan angkatan perang darat dan laut Kerajaan Aceh Darussalam. Sejarah mencatat, jumlah para ahli dari daulah Khilafah yang datang ke Aceh berjumlah ratusan orang. Para ulama dari berbagai wilayah kekhilafahan juga datang dan menjadi ulama di sini hingga akhir hayatnya. Begitupula dengan para pujangganya. Di antaranya ada Syiah Kuala, Nurrudin Ar-Raniry, Hamzah Fansuri dan lain-lain.

Jadi Masjid Ibukota

Setelah dirombak dan difungsikan secara totalitas menjadi masjid oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1207 H (1618 M), fungsinya juga diganti menjadi masjid ibukota saat itu. Sultan lskandar Muda memanfaatkan masjid ini sebagai pengadilan dan sebagai tempat pemutusan berbagai perkara lainnya sebelum akhirnya dijadikan sebagai kebijakan politik Kerajaan Aceh Darussalam.

Masjid ini juga dijadikan sebagai tempat pelantikan Sultan Aceh. Adalah Muhammad Daud Syah dinobatkan sebagai Sultan Aceh pada tahun 1878 M. Upacara penobatan ini diselenggarakan di Masjid Indrapuri. Sedangkan pengukuhannya dilaksanakan di Masjid Raya Baiturrahman.

Bila ingin memutuskan sebuah jawaban atas sebuah perkara, Sultan Iskandar Muda dikabarkan menaiki gajah menuju masjid itu. Saat ini batu bekas pijakan gajah sang sultan masih dapat disaksikan di daerah tersebut.

Selain berfungsi sebagai tempat pemutusan hukum Islam, di sekitaran masjid juga didirikan dayah (pesantren). Hal ini terjadi saat Sultan Muhammad Daud Syah diculik oleh Belanda pada tahun 1903. Para ulama pun akhirnya turun gunung untuk menghidupkan kembali pendidikan bagi anak-anak Aceh. Di masa itu, Panglima Polem berinisiatif mendirikan dayah di halaman Masjid lndrapuri. Lalu beliau memanggil Teungku Hasballah Indrapuri untuk mengajar di Dayah ini. Salah seorang ulama Aceh yang juga sempat belajar dan mengajar di Dayah ini ialah Syeikh Muhammad Waly al-Khalidy dari Labuhan Haji.

Jadi Markas Mujahidin

Sedangkan pada masa perang kolonial, Masjid Tuha Indrapuri dijadikan sebagai markas para mujahidin Aceh melawan penjajah kaphe (kafir) Belanda. Di antaranya adalah Teungku Chik Di Tiro ikut menjadikan masjid ini sebagai benteng pertahanan, sampai ia wafat. Setelah Istana Kerajaan berhasil direbut Belanda di tahun 1874, Sultan Mahmud Syah (1870-1874 M) memindahkan pusat pemerintahan ke Indrapuri. Baru kemudian berpindah ke Keumala setelah Montasik jatuh pada tahun 1878.

Saat ini Masjid Tuha Indrapuri menjadi obyek wisata, fungsinya sebagai masjid tidak begitu lagi kentara. Hanya shalat lima waktu saja yang masih berjalan di masjid ini. Sedangkan shalat Jum’at sudah dipindahkan ke Masjid Indrapuri yang baru. Mengingat masjid ini tidak memiliki ruangan yang luas, karena pemerintah daerah melarang perluasan masjid disebabkan masjid ini telah menjadi obyek wisata. Sementara pengajian hanya kadang-kadang saja diadakan.

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 165, Januari 2016
---

Kamis, 18 Mei 2017

Ulama Bersahaja Berwawasan Harakah Global



KH Mishbah Sadat (1955-2016) Pendiri dan Pengasuh Ponpes Ribath Darut Tauhid Surabaya

H Mishbah Sadat, ulama yang bersahaja, yang memiliki perhatian dan ihtimam yang tinggi terhadap segala problematika keumatan, telah berpulang ke Rahmatullah (13/5/2016) saat shalat Jum’at dalam posisi sujud. Sesaat sebelumnya masih menyampaikan khutbah Jum’at di Masjid Nuruzzaman Kampus 8 Universitas Airlangga (Unair) jalan Airlangga Surabaya.

Materi khutbah yang disampaikan tentang kematian, "Kematian bukan karena sakit, kecelakaan atau yang lain tapi karena takdir Allah SWT," ungkap Kyai Misbah di akhir khutbah pertamanya. Kyai Mishbah pingsan berdiri dengan bertahankan kepada dua tangannya, di atas podium. Jama’ah Jum’at terdekat kemudian membopong dan membaringkan di mihrab belakang pengimaman. Kebetulan ada jama’ah yang dokter, memeriksa nadinya yang sangat lemah. Khutbah kedua diganti dan dilanjutkan orang lain.

Kyai Mishbah tersadar dari pingsannya, dan memaksakan diri ikut shalat Jum’at sebagai makmum. Dan kemudian diketahui oleh jama’ah seusai shalat, Kyai Mishbah tidak bangun dari sujudnya. Setelah diperiksa lagi oleh jamaah yang seorang dokter, Kyai Mishbah dinyatakan sudah wafat, dalam usia 61 tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Kejadian ini tentu saja mengejutkan Nyai Musa'adatul Khoirot serta kedua putri dan keempat putra Kyai Mishbah. Check up kesehatan terakhir, kondisi Buya (panggilan putra dan para santri) tidak mengalami hal yang mengkhawatirkan, kecuali penyakit jantung yang sudah lama tidak kambuh. Pondok Pesantren Ribath Darut Tauhid yang berlokasi di jalan Sutorejo 204 ujung timur laut Surabaya, yang diasuh Buya, berduka.

Shalat jenazah dilakukan ribuan orang di masjid samping pesantren. Buya dimakamkan di makam keluarga Kaliwaron, sedikit sebelah barat Ponpes Ribath Darut Tauhid. Pribadi Buya telah terpatri di hati umat Islam berbagai kalangan, terlebih yang pernah mengenal secara langsung.

Berwawasan Harokah Global

Banyak hal yang diceritakan oleh beberapa putra Buya antara lain Gus Alawy putra ke-2, Gus Sholahuddin, dan Gus Miqdad terkait perhatian yang sangat besar terhadap problematika aktual kaum Muslimin dan berperan aktif memperjuangkan solusinya, yang disampaikan kepada Media Umat dalam dua kali kunjungannya. Ditambah dengan kesaksian santri senior Buya yaitu Ustadz Agus dan aktivis Hizbut Tahrir yang sering bertandang, mengaji dan mengundang Buya yaitu Ustadz Umar Syahid.

Buya sangat perhatian, mulai problem sosial yang akhir-akhir merebak seperti minuman beralkohol dan kejahatan seksual, problem kebangkitan kembali PKI, sampai problem politik domestik maupun politik internasional. Semuanya tidak luput dari perhatian Buya. Tidak jarang Buya juga mencari referensi ke toko-toko buku dan mendiskusikannya dengan banyak ulama di seantero Jawa Timur. Ketika heboh kebangkitan PKI lalu, Buya langsung membaca buku-buku Karl Marx, Aidit dan buku ateis 'Matine Gusti Allah'.

Latar belakang keilmuan Buya, sebagai masyrab (mereguk ilmu diniyah) Buya diawali di Ponpes Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo (1969-1972). Dilanjutkan mengaji ke Ponpes Al Ishlah, Lasem, Jawa Tengah (1973-1977). Dilanjutkan lagi menuntut ilmu selama 5 tahun (1977-1982) kepada Abuya Sayyid Muhammad bin Alawy Al Maliky Al Hasany di Makkah Mukarramah, tidak lagi ke Ummul Quro sesuai rencana awal Buya. Sempat tiga bulan bertandang ke Iran, menyaksikan secara langsung saat-saat sebelum Revolusi Iran 1979.

Sebagai bentuk pengamalan ilmunya, Buya merintis pendirian Pondok Pesantren Ribath Darut Tauhid pada 1 Ramadhan 1402 (1982) dalam bimbingan Abuya Sayyid Muhammad. Awal kali dengan tiga bilik panggung dari bambu sebagai tempat bermalam santri putranya. Saat ini sudah tidak ada lagi bilik tersebut, tapi lingkungan pesantren tetap dalam kesahajaannya.

Selama beberapa bulan berikutnya (pertengahan 1983), ketertarikan Buya kepada harakah Islam sangatlah besar, dimulai dari Ikhwanul Muslimin di Mesir, Hizbut Tahrir di Yordania dan Jamaah Tabligh di lndia. Untuk yang terakhir bahkan sudah pernah khuruj empat bulan dan pernah bertemu dengan Amir Shaf Jamaah Tabligh Maulana In'amul Hasan. Ketika melewati Iran pasca revolusi, Buya pernah bertemu Ayatullah Khomeini. Hanya saja, Buya tetap teguh dengan paham ahlus Sunnah wal jamaahnya. Semua itu dilakukan dengan hanya berbekal baju-sarung melekat di badan dan buntalan kecil.

Buya memilih pulang ke tanah air dengan menempuh perjalanan darat dengan banyak melintasi negeri-negeri muslim sejak Mesir, Timur Tengah pada umumnya, Iran, Asia Selatan sampai Indonesia. Ibarat pelancong backpacker yang menjadi fenomena saat ini. Sepulang dari studi banding secara langsung ke sentra-sentra harakah Islam, Buya menikah pada 14 Mei 1985 secara langsung oleh Abuya Sayyid Muhammad di Nambangan, daerah pantai Kenjeran. Menurut Gus Alawy, sisi lain kepribadian Buya adalah bahwa Buya tidak mau menerima bisyaroh ketika berceramah atau tablighnya, apalagi meminta atau pasang tarif. Termasuk ketika ditawari atau diberi sesuatu, Buya tetap menolak dengan lembutnya. Buya adalah memiliki jiwa tawakal dan tsiqah billah yang sangat tinggi.

Selain mengasuh santri dan santriwati, Buya juga sangat sering melakukan kunjungan ke ulama, tokoh Ormas dan tokoh harakah untuk berbicara dari hati ke hati, menganalisis dan memberikan solusi.

Dalam dua tahun terakhir, Buya terlibat langsung dalam membongkar pemurtadan berkedok sekolah-gratis-langsung-kerja di Kediri. Buya terlibat langsung dalam bekerja sama dengan ulama daerah, bekerja sama dengan aktivis Hizbut Tahrir dan melaporkan kepada aparat keamanan. Buya juga terlibat langsung dalam pengentasan siswa-siswanya, satu demi satu siswa. Bahkan Buya mengawal dengan melakukan pengawasan langsung untuk memastikan remaja yang dientaskan dari pemurtadan tersebut sampai kembali di rumah dengan pembinaan lanjutannya.

Terkait interaksi Buya dengan Hizbut Tahrir, yang sudah pernah Buya kenal kajiannya ketika di Yordania, ia sangat antusias untuk perjuangan Iqamatus syariah. Beberapa forum ataupun majelis, Buya pernah menjadi inisiatornya. Ketika ada aktivis Hizbut Tahrir yang sowan, Buya selalu antusias menyambut. Meskipun ketika dalam kondisi kurang sehat, Buya memaksakan untuk menemui dan menyampaikan pandangan-pandangannya dengan penuh semangat dan dengan gaya meledak-ledak.

Buya tidak pernah menolak undangan agenda dakwah yang diadakan Hizbut Tahrir di Surabaya seperti kajian di Masjid Kalijudan, tabligh akbar di Taman Bungkul atau Muktamar Khilafah di stadion Tambaksari. Menurut Ustadz Umar Syahid, Buya pernah memberikan apresiasinya kepada dua gerakan internasional yang dinilai Buya besar dan militan yaitu Jamaah Tabligh dan Hizbut Tahrir.

Ketika memohon doa restu sebelum penyelenggaraan Rapat dan Pawai Akbar (2015) di Kenjeran Park, Buya berkomentar mirip-mirip kondisi konsolidasi umat tahun 1965-an menghadapi PKI.

Kesan putri pertama Buya yaitu Ustadzah Ulaita, Buya tegas dalam mendidik. Kesan staf pondok Ustadzah Indah, sosok Buya layak diteladani. Kesan beberapa santriwati antara lain Buya guru yang bijaksana, perilakunya lemah lembut.

Beberapa pesan Buya yang masih terpatri dalam benak Gus Alawy, ”Islam tidak perlu dibela karena Al Islamu ya'luu walaa yu'la ‘alaih. Tapi kita sendiri yang perlu membela Islam, supaya kita semua diberi pertolongan oleh Allah SWT. Intanshurulloh, yanshurkum. Wa yutsabbit aqdaamakum.” Tentu menjadi pesan untuk kita semua. Insya Allah. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 176, Juni-Juli 2016
---

Rabu, 17 Mei 2017

Mengintip Keseharian Santri Boarding Insantama



Sekolah Islam Terpadu (SIT) Insantama, Bogor, Jawa Barat

Santri Islamic Boarding School (IBS) Insantama segera bangun begitu mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang memecah kesunyian sepertiga akhir malam. Bagi mereka suara merdu yang diputar keras-keras melalui speaker tersebut merupakan pertanda aktivitas segera dimulai.

Untuk memastikan semuanya bangun, tim OSIS bertugas keliling memeriksa ghurfah (kamar) santri. “Ayo bangun, sudah jam setengah empat!" ujar petugas kepada salah seorang santri yang berat untuk membuka mata. "Sebentar lagi masih ngantuk nih...," jawab santri yang membandel sambil nguliat (bergeliat tetapi untuk cari posisi lebih enak untuk tidur).

"Saya mintakan muaddib untuk bukakan matanya ya...,” jawab petugas. Mendengar kata mau dibangunkan oleh ustadz pembina dan pengontrol santri, rasa lengket di mata langsung hilang, santripun bergegas bersuci untuk shalat tahajud.

Meski ada yang qiyamul lail di ghurfah, tapi lebih banyak yang melakukannya di aula sambil menunggu waktu shubuh tiba. Pada Senin dan Kamis, usai tahajud mereka makan sahur dulu sebelum shubuh berjamaah. Sambil menunggu adzan subuh, sebagian santri ada yang membaca Al-Qur’an, namun ada juga yang duduk telungkup karena tertidur.

Usai dzkir dan do'a bakda subuh, biasanya tim OSIS membacakan beberapa kosakata berbahasa Arab dan Inggris di hadapan seluruh santri untuk mereka hafalkan di hari itu. Kemudian para santri ini bergegas menuju kelasnya masing-masing untuk mengikuti taklim. Sebagian santri ada yang bertugas merapikan aula. Sementara tim OSIS berkeliling asrama memastikan seluruh santri mengikuti taklim.

Sekitar 45 menit kemudian ta'lim pun selesai. Para santri kembali ke kamarnya masing-masing untuk menjalankan piket yang sudah terjadwal. Sebagian ada yang piket mengantar baju kotor ke penatu (laundry), ada yang merapikan baju-baju mereka yang menggantung, merapikan handuk, membuang sampah, mengepel, mengganti air minum galon dan sebagainya. Sementara yang lain, ada juga di antaranya yang sarapan, mandi, atau sekadar duduk-duduk sambil menunggu antrian di kamar mandi.

Setelah selesai melaksanakan tugasnya, mereka bergegas untuk sarapan dan bersiap-siap sekolah. Maksimal pukul 07.15, para santri ini harus meninggalkan asrama, sebab jika telat maka mereka akan terkunci di dalam asrama.

Selepas ashar para santri ini harus sudah kembali ke asrama. Ada waktu luang sekitar satu jam bagi mereka untuk istirahat sebelum melanjutkan program asrama. Namun, waktu istirahat inipun seringkali digunakan para santri untuk mengikuti kajian intensif (mentoring), latihan bela diri, mengerjakan tugas atau bermain sepak bola.

Tepat pukul 5 sore para santri diumumkan untuk mandi dan makan malam. Kemudian 15 menit sebelum masuk maghrib, para santri harus sudah ada di aula untuk bersama-sama membiasakan membaca dzikir-dzikir petang, al-ma'tsurat. Selepas shalat maghrib muaddib mengumumkan hasil pemeriksaan kamar pada hari itu. Jika ternyata kamarnya belum rapi atau kotor, maka seluruh anggota kamar mendapat hukuman dengan dibanding. Kecuaii Senin dan Kamis, setelah pengumuman kamar, para santri bergegas menuju kelasnya masing masing, untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an serta menambah hafalannya.

Para santri dibagi menjadi tiga kelompok besar; tahsin, qira'ah dan tahfidz. Shalat isya sengaja agak dimundurkan supaya kegiatan tahsin, qira'ah dan tahfidz ini bisa lebih leluasa dituntaskan. Setelah shalat isya, secara bergilir setiap santri, ikhwan akhwat, tampil menyampaikan ceramah di hadapan seluruh santri. Baru setelah itu mereka boleh kembali ke asrama untuk belajar atau istirahat. Pukul 10 malam para santri diharuskan untuk segera tidur. Bagi mereka yang menggunakan laptop, harus menyimpan laptopnya di kantor boarding. Ada sanksi bagi yang sengaja menyimpan laptop tanpa izin khusus.

Malam Muhasabah

Beberapa santri langsung berdiri setelah muaddib bertanya, "Siapa di antara Antum yang hari ini kembali ke asrama lebih dari pukul 05.00 sore, silakan berdiri!” Setelah ditanya satu persatu alasannya, merekapun dipersilakan duduk kembali.

Tidak hanya satu pertanyaan, muaddib kemudian mengajukan beberapa pertanyaan lainnya terkait dengan beberapa pelanggaran yang dilakukan santri selama sepekan terakhir. Di antaranya terkait dengan perkataan kasar, ghasab (memanfaatkan hak milik orang lain tanpa izin), tidur larut malam dan keluar tanpa izin. Tidak lupa, semua santri yang berdiri itu dicatat bersama jenis pelanggarannya dalam buku khusus untuk direkap oleh wakil mudir bidang kesiswaan.

Begitulah suasana malam Yaumul Muhasabah, acara pekanan boarding yang wajib diikuti oleh seluruh santri baik ikhwan maupun akhwat di lokasi terpisah. Ikhwan di auditorium utama, akhwat di aula SD.

Kegiatan ini tergolong penting karena mendidik santri agar berani mengakui kesalahan dirinya. Berani mengakui kesalahan merupakan bentuk dari sikap berani bertanggung jawab terhadap apa yang sudah dilakukan untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Di samping itu, acara ini juga sebagai wahana untuk menanamkan sikap kejujuran dalam diri, mengingat laporan pelanggaran yang dilakukan santri bukan atas dasar persaksian orang lain, akan tetapi berdasarkan pengakuan dari diri sendiri.

Selain itu, sebulan sekali, santri mengikuti berbagai training di antaranya adalah merawat jenazah, retorika dakwah, manasik haji dan umrah, tibbun nabawi, marawis dan entrepreneurship.

Boarding ini berdiri sejak tahun 2010, bersamaan dengan berdirinya SMAIT Insantama. Di atas tanah sekitar 8.000 meter persegi tersebut terdapat fasilitas berupa asrama ikhwan dan akhwat yang terpisah, auditorium Insantama, laboratorium bahasa dan komputer, lapangan basket dan bulutangkis, GOR khusus akhwat, lapangan bermain dan internet hotspot.

Pada 2015, santri boarding berjumlah 363 orang (189 ikhwan dan 174 akhwat), Mereka berasal dan seluruh siswa-siswi SMA (wajib) dan siswa-siswi SMP optional. []

Ustadz Muhibbuddin Abdul Aziz, Mudir IBS Insantama

Mantapkan Kepribadian liengan Boarding

Menurut Mudir Islamic Boarding School (IBS) Insantama Ustadz Muhibbuddin Abdul Aziz, IBS merupakan bagian yang saling terkait dan tidak terpisahkan dalam mewujudkan dan mengimplementasikan konsep pendidikan khas Sekolah Islam Terpadu (SIT) Insantama yang berbasis pada keterpaduan tiga komponen utama.

“Ketiga komponen tersebut yakni pemantapan kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah); tsaqafah Islam dan ilmu kehidupan (iptek dan keterampilan),” ujar alumnus Pondok pesantren At-Tanwir, Sumberrejo, Bojonegoro, Jawa Timur tersebut kepada Media Umat beberapa waktu Ialu.

Ia juga menyatakan sekolah berfungsi untuk mengintroduksikan kurikulum pendidikan secara formal sesuai dengan jenjang yang ada. Sedangkan boarding merupakan sarana di luar sekolah yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pendidikan formal. “Sikap disiplin, kemandirian, kepemimpinan dan tanggung jawab dapat diciptakan dalam kehidupan boarding,” ungkap sarjana Al-Ahwalul Syakhsiyah STAI Al-Hidayah Bogor.

Menurut lelaki kelahiran Bejonegoro 1 Oktober 1975, adanya boarding merupakan salah satu upaya yang dilakukan Insantama agar siswa-siswi lebih terkondlsi dengan lingkungan sekolah melalui pembinaan kepribadiannya yang mencakup pola pikir dan pola sikap yang Islami dari para tenaga pendidik sepanjang waktu.“ []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 164, Desember 2015
---

Selasa, 16 Mei 2017

Rumah Sakit Dalam Peradaban Islam


Salah satu kontribusi peradaban terbesar umat Islam bagi bidang kesehatan adalah bahwa umat Islam-lah yang pertama membangun rumah sakit di dunia. Umat Islam mendahului orang lain dalam hal ini lebih dari sembilan abad!

Rumah sakit pertama dalam peradaban Islam didirikan oleh Khalifah Umayyah Al-Walid bin Abd al-Malik yang memerintah selama periode 86-96 H (705-715 M). Rumah sakit itu mengkhususkan diri dalam pengobatan kusta. Setelah itu, beberapa rumah sakit didirikan di dunia Islam, yang sebagiannya menjadi sangat tenar.

Rumah sakit-rumah sakit ini dianggap sebagai benteng ilmu pengetahuan dan ilmu kedokteran. Rumah sakit itu adalah salah satu perguruan tinggi pertama dan universitas di seluruh dunia, sementara rumah sakit pertama di Eropa didirikan di Paris lebih dari sembilan abad kemudian.

Rumah sakit dikenal sebagai Bimaristans (berasal dari kata Farsi yang berarti rumah-rumah pasien). Ada rumah sakit yang permanen dan yang bergerak. Rumah sakit permanen didirikan di kota-kota. Jarang bisa ditemukan kota di dunia Islam -meskipun itu kota kecil- tanpa rumah sakit. Rumah sakit bergerak (mobile), di sisi lain, berkeliling ke desa-desa terpencil, di padang pasir dan di pegunungan.

Rumah sakit itu dibawa -pada sejumlah besar unta, kadang-kadang 40 unta- selama era Sultan Seljuk Mahmud, yang memerintah selama periode 511-525 H (1117-1131M). Konvoi rumah sakit tersebut dilengkapi dengan perangkat terapi dan obat-obatan, dan disertai oleh sejumlah dokter. Konvoi ini bisa mencapai setiap sudut negara Islam.

Rumah sakit permanen berada di kota-kota besar yang mencapai perkembangan yang tinggi. Rumah sakit yang paling terkenal adalah Rumah Sakit Al-A'dudi di Baghdad, yang didirikan pada tahun 371 H/ 981 M; Rumah Sakit Al-Nuri di Damaskus yang didirikan pada 549 H/ 1154 M; dan Rumah Sakit Besar Al-Mansuri di Kairo, yang didirikan pada tahun 683 H/ 1284 M. Ada lebih dari 50 rumah sakit di Cordoba saja.

Rumah sakit-rumah sakit raksasa itu dibagi dalam beberapa bagian sesuai dengan spesialisasinya. Bagian-bagian itu termasuk bagian penyakit perut, operasi, dermatologi, oftalmologi, penyakit psikologis, tulang dan patah tulang, dan lain-lain. Rumah sakit tersebut tidak hanya merupakan tempat untuk perawatan medis, tetapi juga menjadi tempat pendidikan kedokteran yang utama. Seorang dokter khusus -profesor- biasa memeriksa kasus pada pagi hari dengan ditemani oleh dokter yang berada pada tahap awal studi medis. Dia mengajarkan mereka, mencatat dan meresepkan obat, sementara calon dokter muda itu mengamati dan belajar.

Kemudian, profesor biasa pergi ke aula besar dengan para mahasiswa yang duduk di sekelilingnya, sambil membaca buku-buku kedokteran, menjelaskan kepada mereka dan menjawab pertanyaan mereka. Selain itu, dia biasa mengadakan tes pada setiap akhir pendidikan, dan kemudian profesor itu memberikan persetujuan kepada para mahasiswanya untuk bekerja di cabang keahlian mereka yang mengkhususkan diri di dalamnya.

Rumah sakit Islam memiliki perpustakaan besar yang berisi sejumlah besar buku-buku khusus mengenai kedokteran, farmakologi, anatomi, fisiologi, yurisprudensi yang terkait obat-obatan, dan ilmu-ilmu lain yang menarik minat para dokter. Perpustakaan Rumah Sakit Ibnu Tulun di Kairo memiliki lebih dari seratus ribu buku. Di dekat rumah sakit ada lahan luas untuk menanam tanaman obat dan herbal guna memasok rumah sakit dengan obat-obatan.

Mencegah Infeksi

Langkah-langkah khusus diambil di rumah sakit untuk mencegah infeksi. Para pasien menyerahkan pakaian mereka saat memasuki rumah sakit dan mengambil pakaian baru secara gratis untuk mencegah infeksi lewat pakaian yang mereka kenakan ketika mereka terkena penyakit. Setelah itu, setiap pasien memasuki bangsal khusus sesuai dengan penyakitnya, dan dia tidak diperbolehkan memasuki bangsal lain untuk mencegah infeksi. Setiap pasien biasa untuk tidur di tempat tidur khusus dengan lembaran baru dan barang-barang khusus.

Jika kita membuat perbandingan antara rumah sakit ini dengan rumah sakit yang didirikan di Paris beberapa abad setelah berdirinya rumah sakit Islam, akan ditemukan bahwa pasien di rumah sakit Paris dipaksa untuk tinggal di salah satu bangsal, apapun sifat penyakit mereka. Kadang-kadang tiga atau empat atau bahkan lima pasien terpaksa tidur di satu tempat tidur.

Jadi, Anda dapat menemukan seorang pasien cacar tidur di sebelah dengan pasien kasus patah tulang atau di samping seorang wanita yang melahirkan! Selain itu, dokter dan perawat tidak bisa masuk ke bangsal tanpa mengenakan masker wajah untuk menghindari bau jamur dari bangsal mereka! Orang mati dipindahkan keluar bangsal 24 jam setelah mereka mati! Kita bisa bayangkan bagaimana berbahayanya hal ini untuk para pasien lainnya. [] riza; sumber: hospitals in Islamic civilization dr. ragheb elsergany

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 163, Desember 2015
---

Jumat, 05 Mei 2017

Sebuah Hadits Untuk Pengusaha Dan Penguasa Muslim



Muslimpreneur,

Belum lama, saya mendapat pesan sebuah hadits. Agak panjang, namun isinya pas banget dengan situasi saat ini. Saya share ulang untuk Anda.

Rasulullah SAW bersabda, "Bagaimana jika kalian dilanda lima perkara? Kalau aku (kata Rasulullah SAW) aku berlindung kepada Allah SWT agar hal itu tidak menimpa kalian atau kalian mengalaminya: (1). Jika perbuatan mesum dalam suatu kaum sudah dilakukan secara terang-terangan, maka akan timbul wabah dan berbagai penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang terdahulu, (2) Jika suatu kaum menolak mengeluarkan zakat, maka Allah akan menghentikan turunnya hujan. Kalau bukan karena binatang-binatang ternak tentu hujan tidak akan diturunkan sama sekali, (3) Jika suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan, maka Allah akan menimpakan paceklik beberapa waktu, kesulitan pangan dan kezaliman penguasa, (4) Jika penguasa-penguasa mereka melaksanakan hukum yang bukan dari Allah, maka Allah akan menguasakan musuh-musuh mereka untuk memerintah dan merampas harta kekayaan mereka, dan (5) Jika mereka menyianyiakan Kitabullah dan Sunnah Nabi, maka Allah akan menjadikan permusuhan di antara mereka.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Hadits ini disampaikan dalam grup media sosial yang berisi beragam profesi dari pengusaha hingga pekerja, dari pendidik hingga eksekutif. Semua dari alumni sekolah yang sama beberapa tahun lalu…

Hadits di atas sungguh sangat kena dengan situasi dan kondisi saat ini. Semua isinya sudah terjadi sejak runtuhnya Kekhilafahan Utsmani 1924 lalu hingga sekarang ini. Mengingatkan kita semua, termasuk pengusaha dan tentu khususnya penguasa!

Muslimpreneur,

Sejak kita (penguasa-penguasa negeri Muslim) meninggalkan Islam kaffah, mengikuti sekulerisme, terutama dengan sistem demokrasi pada aspek pengaturan politiknya dan sistem kapitalisme dalam aspek pengaturan ekonominya, kehidupan umat pun meluncur deras ke dalam jurang kenistaan.

Ada empat pilar kebebasan yang dijual dalam demokrasi: kebebasan kepemilikan, kebebasan berperilaku, kebebasan berpendapat, dan kebebasan beragama. Karena kebebasan berperilakulah, perbuatan mesum tak terhindarkan, bahkan menjadi bisnis yang tumbuh meraksasa... Karena kebebasan beragama (yang tidak sesuai dengan Islam), penolakan terhadap syariat termasuk membayar zakat tak terhindarkan... Karena kebebasan kepemilikanlah bisnis membolehkan segala cara, berbuat curang dalam bisnis, termasuk mengurangi takaran dan timbangan sudah menjadi rahasia umum...

Karena sekuler dengan empat kebebasan di dalamnya, penguasa-penguasa Muslim lebih mengedepankan hukum buatan "wakil rakyat" yang belum tentu sejalan atau bahkan bertabrakan dengan hukum syara dan menyia-nyiakan Kitabullah dan Sunah Nabi Muhammad SAW.

Muslimpreneur,

Allahu Akbar!!! ini semua sesungguhnya tanda-tanda dari Allah SWT. Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Tanda-tanda untuk beriman dan bertakwa. Tanda-tanda untuk bersegara menuju ampunan dan rahmat Allah SWT. Tanda-tanda untuk bersegera mencampakkan sistem hidup buatan manusia. Tanda-tanda untuk bersegera kembali pada kehidupan Islam seutuhnya.

Astaghfirullah hal adziim... Allahumma shalli 'ala Muhammad...

Ya Allah, Yang Maha Rahmaan dan Rahiim, kembalikanlah kemuliaan Islam dan umatnya melalui tegaknya kembali khilafah atas manhaj kenabian sebagaimana yang telah Engkau janjikan dan jadikan kami pengusaha Muslim orang-orang yang beramal ikhlas untuk menegakkannya... Kami rindu agar hidup kami kembali dipenuhi keberkahan yang Engkau turunkan dari langit dan bumi…

Aamiin Allahumma aamiin. []

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 161, Nopember 2015
---

Minggu, 30 April 2017

Sistem Rusak, Bunuh Diri Marak



Menanggapi kasus bunuh diri yang banyak diberitakan di media massa, Ketua Lajnah Tsaqafiyah DPD 1 HTI Jatim Azizi Fathoni mengungkapkan keprihatinannya.

”Kasihan karena mereka mengira bunuh diri adalah solusi tuntas bagi permasalahan dunia yang mereka hadapi. Sepintas memang iya, bahwa setelah nyawa meregang dan jasad dimakamkan mereka tidak lagi berurusan dengan persoalan duniawi yang selama ini menghimpitnya. Namun jika dilihat dari sudut pandang akidah Islam, kematian itu sendiri pada hakikatnya justru merupakan awal dari kehidupan yang sebenarnya. Sementara kematian dengan cara bunuh diri karena keputusasaan terkategori sebagai su'ul khatimah. Karena itu termasuk perbuatan yang dicela oleh syara' alias terkategori sebagai dosa. Nasta'idzu billah min dzalik!” kata Azizi kepada Media Umat(14/4).

Ia menjelaskan, fenomena bunuh diri ini bisa terjadi lantaran beberapa faktor.

Pertama, karena ketidakmapanan akidah para pelaku bunuh diri itu sendiri, sehingga mudah putus asa dari rahmat Allah SWT. Mereka mudah terbawa bisikan setan untuk mengakhiri hidupnya.

Kedua, karena kezaliman sistemik oleh pemerintahan yang mengekor kepada neoliberalisme dan neoimperialisme Barat yang semakin hari semakin menyengsarakan kaum miskin dan merugikan rakyat pada umumnya.

"Kondisi semacam ini berpotensi mendorong rakyat miskin yang lemah iman untuk melakukan hal-hal yang dilarang syara', seperti bunuh diri ini," jelas Azizi.

Pandangan Islam

Islam memandang bunuh diri sebagai perbuatan dosa yang diharamkan. sebagaimana tercantum dalam firman Allah SWT surat An Nisa' ayat 29.

Di samping itu, besarnya ancaman bunuh diri tergambar dalam hadits Rasulullah SAW, ”Barangsiapa yang terjun dari atas gunung untuk bunuh diri maka dia akan terjun di neraka Jahannam, dia kekal di dalamnya untuk selamanya; barangsiapa yang meminum racun untuk bunuh diri maka racun tersebut akan berada di tangannya untuk dia minum di neraka Jahannam, dia kekal di dalamnya untuk selamanya; dan barangsiapa yang bunuh diri dengan menggunakan sebilah pisau tajam, maka pisau tajam tersebut akan berada di tangannya untuk dia tusukkan ke perutnya di neraka Jahannam, dia kekal di dalamnya untuk selamanya.” (HR. Bukhari)

Azizi juga menyitir hadits lainnya. ”Janganlah salah seorang dari kalian sekali-kali mengharapkan kematian dikarenakan suatu kesulitan yang menimpanya, jika memang terpaksa maka hendaknya berdoa: Ya Allah, biarkanlah aku hidup jika memang hidup itu lebih baik bagiku, dan matikanlah aku jika memang kematian itu Iebih baik bagiku.” (HR. Bukhari-Muslim).

Solusi

Azizi menerangkan ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi persoalan ini.

Solusi bagi individu, adalah dengan memperkuat penanaman akidah Islam. Azizi mengungkapkan, ”dengan memperkuat penanaman akidah Islam, seseorang bisa menjadi pribadi yang benar-benar memahami apa tujuannya, ridha terhadap qadha' Allah SWT, dan takut terhadap siksanya."

Masyarakat hendaknya juga menjaga budaya saling peduli antar sesama, bahkan Nabi SAW pernah bersabda, ”Seorang Mukmin itu bukanlah yang sedang dalam kondisi kenyang sementara tetangga di sampingnya dalam kondisi kelaparan." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab)

"Selain meningkatkan kepedulian, hendaknya masyarakat juga bergerak untuk menuntut digantinya sistem pemerintahan kapitalisme-sekulerisme yang merupakan pangkal dari berbagai macam penderitaan yang dirasakan oleh rakyat dengan sistem pemerintahan Islam, Khilafah Islamiyah,” paparnya.

Adapun negara, selain membentuk kepribadian rakyat dengan kepribadian yang kokoh berdasarkan landasan yang kokoh pula, yakni akidah Islamiyah, juga hendaknya berlepas diri dari hegemoni neoliberalisme dan neoimperialisme yang terbukti menyengsarakan rakyat, lalu menerapkan sistem Islam sebagai penggantinya.

”Kekayaan alam yang telah Allah SWT anugerahkan kepada negeri ini hendaknya diatur dan didistribusikan berdasarkan hukum-hukum syara', hingga benar-benar dapat memakmurkan dan menyejahterakan rakyat," pungkas Azizi.[]

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 149, April 2015
---

Sabtu, 26 Maret 2016

Negara yang dominan berpengaruh dan aktif



“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.” (QS. Al Anfaal: 65)

Dengan mengamati dan mengindera peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia saat ini, secara kasat mata dapat dilihat bahwa negara-negara yang ada dunia kini terbagi ke dalam dua kelompok besar. Sekalipun jumlah negara yang terpampang di peta dunia sangat banyak, namun ternyata hanya beberapa di antaranya yang memiliki kekuatan signifikan dan mempunyai pengaruh internasional terhadap urusan negara dan bangsa lain. Sedang di sisi lain, negara-negara di luar kelompok tersebut dapat digolongkan sebagai negara-negara yang tidak aktif, negara yang lemah, dan negara yang tidak mampu memberikan pengaruh kepada negara dan bangsa lain; malahan senantiasa dipengaruhi dan tunduk pada kebijakan negara-negara yang lebih kuat dan lebih besar.

“Dan Allah lebih mengetahui (dari pada kamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi Penolong (bagimu).” (QS. An Nisaa': 45)

Dengan demikian, warga negara-negara tersebut dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan internasional negara-negara lain. Negara yang dominan, berpengaruh, dan aktif dalam kancah internasional adalah Amerika Serikat; sedangkan Islandia, Swaziland, dan Tibet adalah contoh negara-negara yang tidak aktif, lemah, dan tidak mempunyai pengaruh di dunia. Orang bisa melihat dengan jelas bagaimana Amerika, Inggris, dan negara- negara Eropa menjadi negara-negara yang terlibat aktif dalam kampanye menentang Irak; sementara itu Botswana, Namibia, dan Chad tidak jelas benar bagaimana sikapnya. Orang dengan mudah juga bisa membaca bagaimana Amerika, Inggris, dan Prancis mengirimkan utusannya untuk membawa permasalahan Palestina ke meja perundingan; sedangkan peran Pakistan, India, atau Bangladesh dalam penyelesaian masalah itu tidak terlalu berarti. Orang juga melihat bahwa Inggris dan Prancis adalah negara-negara yang menjadi arsitek penentu garis batas antara negara yang ada pada saat ini, bukannya Mauritius, Swiss, atau Norwegia. Orang juga tahu benar bahwa Amerika, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya adalah negara-negara yang menguasai berbagai lembaga internasional, seperti PBB, IMF, dan Bank Dunia, bukannya Brazil, Argentina, ataupun Chile. Dengan demikian, dari sekian banyak negara yang ada di dunia saat ini, ternyata hanya ada beberapa yang dapat disebut sebagai negara-negara yang memimpin.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)

Dengan mengamati hampir semua aspek kenegaraan negara-negara pemimpin ini, akan terungkap dengan gamblang realitas aktivitas mereka dan efektivitasnya di dunia. Mengapa pasukan khusus Inggris -misalnya- merasa perlu melakukan latihan di padang pasir atau hutan belantara, sedangkan tidak ada satu pun padang pasir atau hutan belantara di pulau yang kecil itu? Mengapa pula Amerika mempunyai anggaran khusus yang diperuntukkan bagi kawasan Timur Tengah, sementara tidak satu pun wilayah di Timur Tengah yang menjadi negara bagian Amerika? Demikianlah realitas pengelompokan negara negara yang ada di dunia saat ini. Bangsa yang lebih besar dan lebih kuat, yang direpresentasikan oleh eksistensi negara negara mereka, dalam tata dunia yang ada pada saat ini adalah negara negara kafir kapitalis Barat, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan sejumlah negara yang tergabung dalam Uni Eropa. Negara negara ini mewakili bangsa mereka dan dipandang sebagai negara negara terkemuka di masa sekarang, dengan AS sebagai pemimpinnya.

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al An'aam: 112)

Mengapa mereka ini memperoleh kedudukan sebagai negara negara terkemuka saat ini? Berikut ini akan kami jelaskan mengapa muncul beberapa negara terkemuka, sedangkan negara yang lain hanya menjadi pengekor atau negara terpimpin. Tidak seorang pun meragukan kedudukan Amerika Serikat dan Inggris sebagai negara terkemuka di dunia saat ini. Kedudukan mereka seringkali disinonimkan dengan istilah “penentu kebijakan' atau 'negara adidaya', dan mereka adalah negara negara yang paling aktif -dan juga efektif- yang ada pada saat ini. Mereka mempunyai pengaruh besar dalam menentukan bagaimana dunia diatur sekarang ini. Bila ada orang yang mengamati urusan dunia dan isu isu internasional yang bergulir saat ini, maka ia akan melihat bahwa kedua negara ini tidak hanya terlibat aktif dalam urusan tersebut, tetapi mereka bahkan seringkali memimpin penyelesaian urusan tersebut.

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.” (QS. An Nisaa': 77)

Dalam realitasnya, bila ada orang yang ingin menggali lebih dalam permasalahan ini, ia akan mendapati bahwa bukan saja subjek permasalahannya terletak ribuan mil dari negara terkemuka tersebut, tetapi tidak jarang permasalahan itu bahkan tidak ada hubungannya secara langsung dengan kepentingan mereka. Keterlibatan mereka dalam berbagai kebijakan di wilayah tersebut serta campur tangan mereka dalam urusan bangsa-bangsa yang sama sekali terpisah dengan bangsanya sendiri memperlihatkan bahwa ada visi serta kebijakan yang mereka emban. Kebijakan ini menjadi landasan bagi setiap kesepakatan dan hubungan antara mereka dengan wilayah tersebut, dan dengan negara dan bangsa lain di setiap penjuru dunia. Demikianlah, bagaimana cara mereka menentukan kepentingan- kepentingannya atas negara-negara lain, serta bagaimana mereka menetapkan pedoman dan pelaksanaan hubungan dengan negara-negara lain.

“Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At Taubah: 114)

Mereka itulah negara-negara yang memiliki visi atas seluruh permasalahan internasional, dan memandang dunia dari perspektif ini, sementara negara-negara lain di dunia tidak memiliki karakteristik seperti itu. Maka kita akan mendapati bahwa Amerika memiliki berbagai kebijakan terhadap stabilitas Timur Tengah, kepentingan di Teluk Persia, paket-paket bantuan untuk Afrika, reformasi politik di Pakistan, rencana perdamaian untuk kawasan Timur Tengah, dan sebagainya. Sebaliknya, apakah negara-negara seperti Islandia mempunyai usulan perdamaian bagi konflik yang terjadi di Afrika Tengah? Apakah kita mendapatkan usulan tentang reformasi di Eropa Timur dari negara-negara seperti Pakistan? Apakah kita mendapatkan usulan penyelesaian masalah Kurdi dari negara Lithuania? Kita tidak akan mendapatkan hal-hal seperti itu.
dari "Jihad Dan Kebijakan Luar Negeri Daulah Khilafah", terjemah al-Qur'an

Related Posts with Thumbnails

Spirit 212, Spirit Persatuan Umat Islam Memperjuangkan Qur'an Dan Sunnah

Unduh BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam