Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Tampilkan postingan dengan label gerakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gerakan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Juni 2017

HTI Gelar Liqa Syawal Di 88 Kota



Suasana lebaran masih terasa kental ketika keluarga besar aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di 88 kota dan kabupaten se-Indonesia mengadakan acara Liqa Syawal 1435 H bersama ulama dan tokoh umat (LSH) pasca Hari Raya Idul Fitri 1435 H.

Di Surabaya misalnya, suasana meriah halal bi halal tersebut tampak di Gelora Pancasila Surabaya, Ahad (31/8/2014). Pertemuan hangat terjadi antara aktivis HTI dan masyarakat yang hadir. Tampak pihak kepolisian yang ikut menyimak jalannya acara. Di depan sekitar 2.000 peserta, Ketua HTI Kota Surabaya Muhammad Ismail menyampaikan seruan kepada seluruh umat memperjuangkan syariah.

Sebelumnya, Jumat (29/8/2014) malam HTI Surabaya juga mengadakan silaturahim dengan sekitar 200 ulama dan tokoh umat di Gedung Graha Astranawa. Dalam kesempatan itu, Dosen Kimia ITS Lukman Atmaja -pendiri NU cabang Inggris ketika ia kuliah doktoral di sana- menyatakan ayahnya bersama para santri NU dulu berperang membela dinul Islam dalam perjuangan kemerdekaan.

”Sebagai putra pejuang kemerdekaan, saya sering merasa bahwa semangat membela dinul Islam yang seperti dulu itu, kini ada di Hizbut Tahrir. Semangat juang yang tidak pernah reda, disertai penguasaan tsaqafah Islamiyah yang luas dan mendalam, dengan program yang rapi dan teratur, tanpa kekerasan dan tanpa penggunaan senjata, membuat saya meneguhkan niat untuk terus bersama saudara-saudara di Hizb,” ungkapnya.

KH RM Kamil Sutastito dari Ponpes Alkamil mengungkapkan perasaannya. Ia telah merasakan perjuangan syariah yang diusung Hizbut Tahrir, sehingga menjadi pilihan baginya.

Di DKI Jakarta, LSH dilakukan di lima tempat, salah satunya di Jakarta Barat. Acara yang berlangsung di Ma'had Darul Muwahhid, Srengseng, Kembangan, tersebut Ketua Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI Hafidz Abdurrahman menyatakan Hizbut Tahrir adalah hizbul ulama. ”Karena diinisiasi dan didirikan oleh seorang ulama besar alumnus Universitas Al Azhar Kairo, al-Alim al-Allamah Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani. Beliau adalah seorang ulama yang mufakkirun siyasiyyun sekaligus siyasiyyun mufakkirun,” ungkapnya Ahad (24/8/2014).

Menurut Hafidz, bersama Syeikh Taqiyuddin berderet pula ulama Al Azhar lainnya antara lain Syeikh Abdul Qodim Zallum dan Syeikh Ahmad Ad Da'ur.

Hafidz juga menjelaskan Hizbut Tahrir terlahir dari keprihatinan dan kepeduliaan para ulama atas kondisi kaum Muslimin yang tidak lagi merdeka, masih terjajah baik secara fisik maupun pemikiran.

Karenanya, ia mengajak para ulama yang hadir untuk memaksimalkan diri memberikan apa yang dimiliki untuklslam dan kemuliaan Islam, sebagaimana telah dilakukan oleh Sa'ad bin Mu'adz, tokoh besar, kuat dan berpengaruh di Madinah.

"Sa'ad bin Mu'adz pada akhirnya, bukan saja merindukan Allah. Tapi gayung bersambut Allah pun merindukannya dengan bergetarnya Arsyur Rohman saat kematian Sa'ad. Itu semua karena Sa'ad telah memberikan nushrah (dan segalanya) untuk Islam," tegasnya.

Di Maluku Utara, Humas HTI Maluku Utara Sabaruddin menyatakan perjuangan kaum Muslim di Indonesia saat ini mestinya adalah perjuangan menegakkan khilafah. "Perjuangan mengisi kemerdekaan adalah dengan menerapkan syariah Islam dalam naungan Daulah Khilafah yang sesuai metode kenabian,” ungkapnya dalam LSH Ternate, Sabtu (16/8/2014) di Aula Hotel Grand Majang, Kota Ternate.

Ulama dan tokoh Kota Banjar, Jawa Barat, KH Undang Munawar bukan saja setuju tetapi ia ingin menyaksikan khilafah tegak. ”Saya yakin semuanya sepakat akan kewajiban penegakan syariah dan khilafah, dan sesungguhnya sebelum nanti meninggal, saya mengharapkan bisa menyaksikan tegaknya khilafah!” ungkapnya di hadapan sekitar 400 ulama dan tokoh dalam LSH, Ahad (24/8/2014) di Graha Banjar Idaman (GBI) Kota Banjar.

Dalam acara ini banyak hadir para ulama dan tokoh masyarakat, di antaranaya, Ketua MUI Kota Banjar, Kepala Kemenag Kota Banjar, Ketua Persis Kota Banjar, Ketua PUI Kota Banjar, Ketua Syarikat Islam, Pengasuh pesantren Darul Ulum, Kasat Intel Polresta Banjar dan banyak lagi. Juga hadir mantan Walikota Banjar yang sekarang menjabat ketua IPHI.

Jubir HTI Muhammad Ismail Yusanto menyatakan, selain merupakan kewajiban, secara faktual persatuan umat Islam pun tidak akan efektif tanpa khiIafah. "Tanpa khilafah, persatuan umat Islam menjadi tidak efektif!" tegasnya dalam LSH, Ahad (24/8/2014) di Yayasan Uswatun Hasanah, jalan Abdul Wahab Syahranie, Samarinda.

Terbukti, kaum Muslim di belahan dunia lain hanya bisa mengelus dada atas apa yang terjadi di Jalur Gaza, Palestina. Padahal jumlah kaum Muslim di seluruh dunia mencapai 1,7 milyar lebih. Jumlah tersebut seolah tidak berdaya untuk menghentikan kebiadaban zionis Israel yang hanya berpenduduk sekitar 7,7 juta jiwa.

Demokrasi Kufur

Sedangkan pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Quran Abdurrahman bin Auf, KH Ahmad Faiz menyatakan alasannya sehingga demokrasi dikatakan sistem kufur. ”Karena akidah demokrasi adalah sekulerisme (fashluddin 'anil hayyah), memisahkan agama dari kehidupan, dan meletakkan kedaulatan tertinggi di tangan rakyat,” ungkapnya di hadapan sekitar 200 peserta LSH, Ahad (24/8/2014) di Gedung KPPN, Purworejo, Jawa Tengah.

Menurutnya, hal itu secara asasi bertentangan dengan akidah Islam, karena dalam pandangan Islam al-hakim adalah di tangan musyari' (Allah SWT). Selain itu, demokrasi juga tidak bisa lepas dari liberalisme yakni paham kebebasan, baik kebebasan berakidah, kebebasan berpendapat, kebebasan kepemilikan, maupun kebebasan berperilaku. Padahal dalam pandangan Islam, perbuatan manusia terikat dengan hukum syara'.

Setelah memaparkan batilnya ide demokrasi, Kyai Faiz menjelaskan sistem khilafah, dari sisi sebaqai sebuah kewaiiban syar'i, juga dari sisi sebagai alternatif pengganti demokrasi.

Di sesi tanya-jawab LSH Sulselbar, pengurus Muhammadiyah Masamba Andi Kaharuddin menanyakan dapatkah umat berharap terjadi perubahan ke arah penerapan Islam seusai pileg dan pilpres lalu. Dengan berseloroh, Lajnah Faaliyah HTI Sulselbar Hasanuddin Rasyid pun menjawab dengan balik bertanya.

"Apakah pada waktu kampanye dulu, mereka para caleg dan capres/cawapres yang akhirnya terpilih itu menjanjikan untuk memperjuangkan penerapan syariat Islam? Jika ada, maka mungkin saja umat berharap," ujarnya dalam LSH, Ahad (24/8/2014) di gedung Aula Kecamatan Nuha, Sorowako, Kabupaten LuwukTumur.

Tapi jika faktanya tidak ada caleg ataupun capres/cawapres yang selama kampanye berjanji untuk menerapkan atau memperjuangkan syariat Islam jika terpilih, maka apakah layak umat berharap akan terjadi perubahan ke arah Islam?

Oleh sebab itu, lanjutnya, yang diperlukan adalah melakukan perjuangan perubahan masyarakat sesuai apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, yakni terus-menerus membina masyarakat dan berupaya meraih thalabun nusrah (mengajak beriman dan menerapkan syariah Islam secara kafah tanpa syarat) kepada pemilik pengaruh dan kekuatan riil (ahlul quwwah) di tengah masyarakat hingga turun pertolongan Allah SWT dengan tegaknya khilafah. [] joy dari kontributor daerah

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 134, September 2014
---

Selasa, 30 Mei 2017

Empat Rekomendasi Hizbut Tahrir Untuk Perbaikan Negeri



Menilik berbagai persoalan yang timbul di sepanjang tahun 2015 yang menunjukkan Indonesia semakin liberal dan semakin terjajah, Hizbut Tahrir Indonesia pun menyimpulkan dan merekomendasikan empat hal untuk perbaikan negeri ini.

Pertama, setiap penerapan sistem sekuler, yakni sistem yang tidak bersumber dari Allah SWT, Sang Pencipta manusia, kehidupan dan alam semesta, pasti akan menimbulkan kerusakan dan kerugian bagi umat manusia. Instabilitas moneter, dikuasainya sumber daya kekayaan alam negeri ini oleh kekuatan asing, maraknya korupsi di seluruh sendi di seantero negeri, kerusakan lingkungan, kriminalitas atau kekerasan di kalangan atau yang menimpa anak dan remaja serta perempuan yang terjadi di mana-mana dan ketidakadilan yang menimpa umat adalah bukti nyata dari kerusakan dan kerugian itu. Ditambah dengan kedzaliman yang diderita umat di berbagai negara.

”Semestinya menyadarkan kita semua untuk bersegera kembali kepada jalan yang benar, yakni jalan yang diridhai oleh Allah SWT, dan meninggalkan semua bentuk sistem dan ideologi busuk, terutama kapitalisme yang nyata-nyata telah sangat merusak dan merugikan umat manusia,” ungkap Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto dalam refleksi akhir tahun 2015, Rabu (16/12/2015) di Gedung Juang 45, Jakarta Pusat.

Kedua, demokrasi dalam teorinya adalah sistem yang memberikan ruang kepada kehendak rakyat. Tapi dalam kenyataannya itu hanya menjadi jalan bagi berkuasanya segelintir elite pemilik modal.

Pemerintahan yang terbentuk di pusat maupun daerah, oleh karena balas budi atas dukungan finansial yang diterima, cenderung menggunakan kewenangannya untuk kepentingan para pemilik modal tersebut. Akhirnya rakyat menjadi korban, baik karena terabaikan kepentingannya dalam layanan publik maupun akibat korupsi dan minpulasi anggaran negara.

Itulah yang terjadi saat ini di negeri ini, sebagaimana tampak dari proses legislasi di parlemen dan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah di pusat maupun daerah, khususnya di bidang ekonomi dan politik yang sangat pro terhadap kepentingan pemilik modal domestik maupun asing. Kenyataan ini semestinya memberikan peringatan umat Islam untuk tidak mudah terkooptasi oleh kepentingan para pemilik modal. Juga peringatan kepada penguasa di manapun untuk menjalankan kekuasaannya dengan benar, penuh amanah demi tegaknya kebenaran, bukan demi memperturutkan nafsu serakah kekuasaan dan kesetiaan pada kaum kapitalis.

Ketiga, bila sungguh-sungguh ingin lepas dari berbagai persoalan yang tengah membelit negeri ini, maka bangsa ini harus memilih sistem yang baik dan pemimpin yang amanah. Sistem yang baik hanya mungkin datang dari Dzat yang Maha Baik, itulah syariah Islam dan pemimpin yang amanah adalah yang mau tunduk pada sistem yang baik itu. Di sinilah esensi seruan Selamatkan Indonesia dengan Syariah yang gencar diserukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia.

Keempat, oleh karena itu harus ada usaha sungguh-sungguh dengan penuh keikhlasan dan kesabaran serta kerjasama dari seluruh komponen umat Islam di negeri ini untuk menghentikan sekularisme, liberalisme dan neo-imperialisme, dan menegakkan syariah dan khilafah. Hanya dengan sistem berdasar syariah yang dipimpin oleh seorang khaliafah, Indonesia dan juga dunia, benar-benar bisa menjadi baik. Syariah adalah jalan satu-satunya untuk memberikan kebaikan dan kerahmatan Islam bagi seluruh alam semesta, sedemikian sehingga berbagai kerusakan, kedzaliman dan penjajahan bisa dihapuskan di muka bumi. []


Rokhmat S. Labib, Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia:

Bangkitkan Umat Untuk Sadar Dan Melawan

Berdasarkan dinamika selama 2015, prediksi Anda nasib umat Islam Indonesia pada 2016 hagaimana?

Umat Islam semakin disudutkan oleh kafir Barat dan antek-anteknya. Salah satunya dengan isu terorisme. Bahkan dalam isu terorisme ini bisa jadi semakin meningkat tingkat fitnahnya.

Kaum Muslimin yang istiqamah mengajak saudaranya untuk taat pada syariah akan tetap dihadang dengan isu Islam Nusantara (konotasi yang membolehkan pelanggaran terhadap syariah, lantaran pelanggaran tersebut berasal dari kearifan lokal, red). Isu Islam Nusantara sengaja digunakan untuk menyesatkan pemahaman umat akan hakikat ajaran Islam yang sesungguhnya.

Kalau secara ekonomi bagaimana?

Perampokan sumber daya alam oleh asing dan anteknya terus dilakukan, kebijakan yang selama ini menyengsarakan rakyat terus dijalankan. Bahkan cengkraman kapitalisme akan semakin kuat setelah diberlakukannya perjanjian Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang akan semakin membuat rakyat negeri ini terpuruk di bidang pengadaan barang dan jasa. Barang dan jasa ASEAN yang kualitasnya lebih bagus karena didukung negaranya masing-masing akan lebih leluasa lagi masuk ke negeri ini.

Di bidang politik?

Para politisi pemenang Pilkada serentak lalu, mulai kasak-kusuk mencari celah untuk memberikan proyek kepada para cukong yang telah membiayinya saat kampanye agar tidak sampai ditangkap KPK. Itulah yang mereka fikirkan, nasib umat, kesejahteraan umat akan dilupakan.

Bilamana umat bangkit melawan?

Bila umat sudah sadar bahwa selama ini mereka dieskploitasi, dijajah, tentu akan bangkit untuk melawan. Kita harus menyadarkan mereka, tunjukkan kepada umat, lihatlah siapa yang selama ini disebut teroris oleh Barat dan antek-anteknya selalu orang Islam atau kelompok Islam. Padahal jelas-jelas orang Kristen ngebom tidak pernah disebut teroris. Jelas-jelas OPM membunuh polisi dan kerap membuat teror di Papua, tidak pernah disebut teroris.

Ingatkan umat pula, lihatlah, isu-isu anti Pancasila, anti NKRI selalu ditujukan kepada orang Islam atau kelompok Islam yang ingin menjalankan perintah Allah SWT yakni menegakkan syariah Islam secara kaffah. Tetapi isu-isu anti Pancasila, anti NKRI tidak pernah diarahkan kepada para penguasa yang memasrahkan kedaulatan negeri ini kepada Amerika dan sekutunya. Dengan membiarkan Amerika terus mendikte aturan di negeri ini dan terus merampok emas di Freeport, misalnya. Orang yang menuding umat Islam anti NKRI karena ingin aturan Islam tegak itu juga anehnya tidak berkata apa-apa saat OPM jelas-jelas meneror dan berupaya melepas Papua.

Jelaskan kepada umat, semua isu yang mereka angkat semata-mata untuk mencegah tegaknya syariat Islam. Karena dengan digantinya kapitalisme dengan sistem perintahan Islam yakni khilafah, tentu saja asing dan antek-anteknya tidak dapat lagi memperbudak rakyat, tidak dapat lagi merampok sumber daya alam, tidak dapat lagi memecah-belah bangsa Ini.

Dan jelaskan pula, penegakkan syariat Islam itu merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Sehingga, setiap Muslim wajib memperjuangkan penegakkan syariat Islam secara kaffah agar menjadi rahmat untuk seluruh alam dan tentu saja menjadi pundi-pundi pahala untuk bekal masuk surga-Nya di akhirat kelak. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 165, Januari 2016
---

Jumat, 26 Mei 2017

Syariah Dan Khilafah Adalah Solusi



Di tengah upaya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menyadarkan masyarakat agar menjadikan syariah dan khilafah sebagai solusi atas krisis multidimensi, muncul segelintir orang yang menyatakan bahwa syariah dan khilafah adalah ancaman. Lantas siapa sebenarnya yang mengancam bahkan merusak negeri ini? Dan mengapa syariah dan khilafah sebagai solusi? Temukan jawabannya dalam wawancara wartawan tabloid Media Umat Joko Prasetyo dengan Ketua Lajnah Fa'aliyah DPP HTI Muhammad Rahmat Kurnia. Berikut petikannya.

Benarkah syariah dan khilafah merupakan ancaman bagi negeri ini?

Syariah dan khilafah bukan ancaman, melainkan solusi. Kita semua sudah tahu bahwa Indonesia dan negeri-negeri kaum Muslim sedang mengalami krisis multidimensi. Kita ini sudah merdeka dari segi militer, namun dalam segi ekonomi, politik, budaya tetap dicengkeram oleh kekuatan asing. Barang tambang, air, dan minyak bumi kita dikuasai oleh perusahaan asing dan di-back up oleh negara asing.

Nah, untuk menyelesaikan berbagai problem ini butuh solusi. Sosialisme/komunisme telah terbukti gagal. Kapitalisme kini tengah sempoyongan dan makin menjauhkan manusia dari derajat kemanusiaannya. Satu-satunya alternatif adalah Islam. Dan bila berbicara Islam sebagai solusi yaitu dia, peraturannya syariah dan pelaksananya adalah khilafah. Saya lihat, kalaupun ada yang layak merasa terancam oleh syariah dan khilafah adalah negara asing penjajah yang selama ini mencengkeram negeri-negeri Muslim, atau mereka yang membela kepentingan asing tersebut.

Tapi mengapa sering dikaitkan dengan kasus tindak terorisme?

Ada beberapa hal yang penting kita pahami. Pertama, sejak runtuhnya menara kembar WTC, muncullah apa yang kita kenal dengan war on terrorism (perang melawan terorisme). Hakikatnya war on terrorism ini merupakan cara Amerika untuk membungkam kebangkitan Islam.

Dulu pernah ramai-ramai disebut bahwa pesantren adalah biang terorisme. Kitab kuning mengajarkan terorisme. Sementara, Israel yang membunuhi kaum Muslim di Palestina tidak disebut pelaku terorisme. Amerika yang terus membunuhi umat Islam di Pakistan dengan pesawat tanpa awak tidak disebut sebagai teroris. Jadi, tudingan tentang terorisme ini sudah sarat kepentingan politik.

Kedua, diproklamirkannya 'khilafah' oleh ISIS membuat tudingan itu makin masif. Padahal, sejak awal Hizbut Tahrir menyatakan bahwa proklamasi tersebut tidak sah secara syar'i. Tindakan-tindakan kekerasan yang diekspose itupun tidak sesuai dengan syariah. Namun, tetap saja pihak Barat menggunakan hal ini untuk menghalangi laju perjuangan lslam.

Jadi, bila boleh saya berpendapat, yang sedang dihalang-halangi oleh pihak Barat dan para pendukungnya itu bukan syariah dan khilafah melainkan Islam. Sebab dengan penerapan syariah dalam naungan khilafah, Islam akan benar-benar mewujud menjadi sebuah kekuatan adidaya yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Semua penjajahan dalam setiap aspeknya yang dilakukan oleh negara besar penjajah akan dilibas.

Ada juga yang mengatakan khilafah mengancam Indonesia, tanggapan Anda?

Mungkinkah khilafah yang menerapkan hukum Allah SWT itu merupakan ancaman? Mungkinkan khilafah yang menjaga akidah dan akhlak merupakan ancaman? Mungkinkan khilafah yang akan menyatukan umat itu merupakan ancaman? Mungkinkah khilafah yang menjamin kebutuhan pokok masyarakat itu merupakan ancaman? Mungkinkah khilafah yang melindungi nyawa, darah, harta, akal, dan kehormatan umat manusia merupakan ancaman? Mungkinkah khilafah yang memberikan perlakuan yang sama kepada Muslim maupun non-Muslim merupakan ancaman? Mungkinkah khilafah yang akan mengembalikan barang tambang, minyak, dan harta kekayaan milik rakyat kepada rakyat sebagai pemiliknya merupakan ancaman? Mungkinkah khilafah yang akan melenyapkan semua bentuk penjajahan itu merupakan ancaman? Andaikan semua itu dianggap ancaman oleh sebagian kalangan, tapi menurut Allah Sang Pencipta Manusia, justru Islam yang diterapkan oleh khilafah merupakan rahmatan lil 'alamin.

Bagaimana dengan tuduhan pengusung ide khilafah itu mengancam Pancasila?

Dulu pada zaman Orde Baru, setiap aktivitas untuk menyelamatkan umat dengan penerapan Islam selalu dituduh mengancam Pancasila. Tuduhan ini tampaknya sekarang diputar ulang.

Mari kita jujur melihat. Apakah dalam pembuatan UU didasarkan pada: apakah pasal ini sesuai dengan sila sekian, sementara pasal itu sesuai dengan sila sekian? Sejauh pengetahuan saya tidak demikian. Yang terjadi justru, banyak UU yang didasarkan pada kapitalisme dan liberalisme yang penuh dengan kepentingan asing.

Kita masih ingat, anggota DPR Eva Kusuma Sundara mengakui, ada 76 UU yang draftnya dilakukan oleh pihak asing. Begitu juga, Rizal Ramli pernah mengatakan, “Tak ada gunanya MPR bicara empat pilar bolak-balik kalau tidak ada kemauan dari DPR untuk mengubah 20 UU yang dibiayai dan memihak asing.” Saya percaya beliau tidak sembarang bicara. Nah, yang ditentang oleh Hizbut Tahrir adalah kapitalisme dan liberalisme yang muaranya pada imperialisme gaya baru. Inilah yang kini sedang membawa negeri kita ini ke jurang kehancuran.

Lantas, mengapa pihak yang membiarkan negeri Muslim terbesar ini dikuasai liberalisme imperialisme tidak disebut membahayakan Pancasila? Mengapa mereka yang mengundang asing menguasai harta kekayaan rakyat tidak disebut membahayakan negara? Mengapa justru pihak yang hendak menyelamatkan Indonesia dan umat umumnya dengan syariah dituding seperti itu? Mengapa pihak yang getol melawan penjajahan asing dalam sosial, politik, dan ekonomi justru yang dituding sebagai ancaman? Dari sini, umat Islam perlu mewaspadai adanya skenario adu-domba antar komponen umat Islam. Siapa yang untung? Asing dan para pembelanya.

Kalau tudingan khilafah mengancam Bhineka Tunggal Ika bagaimana?

Itu tudingan yang tidak sesuai fakta, juga ahistoris. Secara syar'i, syariat Islam memandang bahwa berbagal agama boleh ada di dalam khilafah. Tidak ada paksaan dalam menganut agama. Pada masa Nabi di Madinah, hidup orang Kristen dari Najran, Yahudi, kepercayaan lama Aus dan Khajraj, dsb. Bahkan, berbagai etnis disatukan oleh khilafah. Salah satu pengakuan jujur ditulis oleh Bloom dan Balair, “in the Islamic lands, not only Muslims but also Christians and Jews enjoyed a good life” (Bloom and Blair, 2002, Islam a thousand years of faith and power, London).

Bagaimana pula tanggapan Anda dengan pendapat yang menyebutkan syariah yes, khilafah no?

Sebagai konsekuensi dari akidah Islam, setiap Muslim wajib terikat dengan syariah Islam. Dalam semua aspek kehidupan alias kaffah. Nah, khilafah itu merupakan salah satu bagian dari syariah. Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari mengatakan bahwa para ulama sepakat bahwa kaum Muslim wajib mengangkat seorang khalifah. Aneh, bila menerima syariah tetapi menolak khilafah.

Lantas, sebenarnya yang menjadi ancaman negeri ini apa?

Itu yang saya katakan tadi: kapitalisme, liberalisme dan imperialisme gaya baru. Bahkan, bukan sekedar mengancam melainkan sedang melakukan pengrusakan.

Bila khilafah diterapkan, bagaimana mengatasi itu semua?

Insyaa Allah, syariah telah memiliki perangkat untuk itu. Mulai dari pemahaman hingga metode penerapannya akan mengungguli krisis multidimensi yang sekarang ada. Sejarah akan terulang.

Lantas, mengapa khilafah tidak diterapkan saja untuk mengganti kapitalisme/ liberalisme yang nyata-nyata telah merusak negeri ini?

Ya, itulah yang diwajibkan oleh Rasulullah dan Allah SWT kepada kita. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 173, Mei 2016
---

Para Tokoh Mendukung HTI


HTI untuk kemuliaan Islam

Muktamar Tokoh Umat 1437 H

Suara Tokoh Umat

Ustadz Abu Jibril, Wakil Amir Majlis Mujahidin:
Kita sama-sama tahu, bahwa tegaknya syariah dan khilafah adalah satu-satunya solusi. Maka Muktamar Tokoh Umat ini adalah cara terindah dan terbaik, dalam menyadarkan dan mengajak umat, agar sama-sama memperjuangkannya. []

KH Abdullah, Pimpinan Ponpes Nurul Ulum, Jember:
Pertama harus kita sadari, bahwa penegakkan Syariah dan Khilafah adalah sebuah kewajiban seluruh umat Islam, dan penegakkan itu dilakukan haruslah berjama'ah, dan tanpa berdirinya Khilafah tak mungkin rahmat itu akan terwujud. []

KH Suyono, Pimpinan Ponpes Roudhotul Jannah, Lampung Tengah:
Jangan takut nanti santrinya bubar kalau kita berjuang. Perjuangan penegakkan syariah dan Khilafah harus kita dukung, Hizbut Tahrir harus kita dukung. []

KH. M. Sulthan, Pimpinan Ponpes Jabal Nur, Bandar Lampung:
Adalah bohong ketika ingin maju tapi tidak menggunakan idoelogi samawi (Islam), sehingga perjuangan penegakkan syariah dan Khilafah harus kita dukung. []

Azzam Khan, advokat:
MTU Jakarta ini acara yang luar biasa untuk mengumpulkan tokoh dan membangun kesamaan visi bagi umat. Saya pikir itu sudah cukup sebagai pesan kepada umat bahwa HTI sudah mengumandangkan seruan moral dan akhlak untuk senantiasa mengingat Ilahi Rabbi dan Indonesia harus sudah berubah ke arah sunnah Ar Rasul. Selain itu, seruan akhlak kepada semua pejabat penguasa dan pengusaha bahwa kalau main-main dengan ancaman Allah SWT akan serius dan fatal, seruan lain kembali ke khilafah supaya menu rahmatan Iilalamin tercapai. []

Halim Husein, Hakim Tinggi Agama Jawa Barat:
Kemerdekaan berdasarkan rahmat Allah, lalu setelah merdeka mengapa yang diberlakukan bukan hukum Allah yang membawa rahmat? Itu durhaka namanya. Kita durhaka! Saya mengenal Hizbut Tahrir sejak tahun 2000-an, sebelumnya saya sudah terlibat dalam berbagai organisasi, dan kini saya berjuang bersama Hizbut Tahrir untuk menegakkan syariah dan khilafah. []

Muhammad Najib, Ketua ICMI Orwil Jawa Barat:
Saat ini ada upaya yang sistematis untuk melemahkan kaum Muslimin oleh ideologi di luar Islam. Hindari desain saling menyalahkan. Kedepankan persatuan. Upaya pecah-belah sengaja dilakukan oleh ideologi lain agar umat Islam mudah dikalahkan. Fakta saat ini menunjukan meskipun umat Islam masih mayoritas, namun posisinya terjajah. Baik oleh para kapitalis asing maupun kapitalis aseng. Bagaimana jadinya kalau kita minoritas? Untuk itu saya mendukung perjuangan Hizbut Tahrir yang intens menyuarakan penolakannya terhadap ideologi kapitalisme dan memperjuangkan ideologi Islam di tengah pertarungan ideologi. []

Kyai Mahmuddin, Ketua MUI Kabupaten Bekasi:
Penerapan syariah yang digaungkan adalah sebuah keharusan yang ditegakkan. Lalu dengan khilafah-lah, syariah Islam bisa diterapkan secara kaffah, tanpa itu konsekuensinya tidak akan kaffah, dan Hizbut Tahrir adalah partai yang terdepan memperjuangkan syariah Islam. []

Hambali Ardiansyah, Ketua Laskar Anti Korupsi (LAKI) Pejuang 45:
Alhamdulillah. Secara garis besar acara MTU Jakarta sukses dan rapi sesuai jadwal. Selamat dan sukses. Jangan sungkan, kami siap membantu apa yang bisa kami lakukan untuk gerakan tauhid HTI. []

Epi Taufik, Kepala Divisi Teknologi Hasil Ternak IPB:
Penegakkan syariah adalah kewajiban dari Allah yang tak bisa ditawar bahkan didiskusikan, tugas kita hanya melaksanakan, dan khilafah adalah suatu hal yang compatible dengan Syariah, tak akan ada penerapan syariah tanpa khilafah. []

KH Tubagus Mulyadi Mawabad, Pimpinan Majelis Dzikir Muabbad Bogor:
Di acara MTU ini, luar biasa saya lihat semua peserta paham dengan apa yang Hizbut Tahrir sampaikan, pada hari ini juga saya melihat umat Islam bersatu, dan harapan saya semua yang hadir di sini harus mendukung Hizbut tahrir, untuk bersatu. []

Suparta, Komisi Bidang Pendidikan MUI Babel:
Konsep yang ditawarkan Hizbut Tahrir adalah konsep yang bagus, konsep yang akan mensejahterakan umat Islam dan seluruh alam. Lalu oleh Hizbut Tahrir konsep tersebut disampaikan dengan santun dan ramah, dan saya lihat Hizbut tahrir selalu konsisten pada apa yang diperjuangkannya. []

MA Luqman Toha, Ketua PDM Muhammadiyah Tangsel:
Secara umum saya setuju dengan apa yang Hizbut Tahrir perjuangkan, karena hanyalah orang munafik yang tidak menerima penerapan syariah Islam secara menyeluruh. Mengenai penerapan khilafah membutuhkan perjuangan yang konsisten terutama pada situasi kondisi sekarang. []

KH Thoha Abdurahman, Ketua MUI DIY:
Islam rahmatan lil ‘alamin bukan hanya jaman dulu, tetapi sampai akhir jaman bisa terwujud. Dan nantinya rahmat Islam bukan hanya untuk Muslim saja akan tetapi non-Muslim, jika dia tidak menantang syariah, oleh karena itu para tokoh umat Islam wajib bersatu dan berani bersuara menyampaikan wajibnya syariah. []

Ricky Fatamazaya, Ketua Umum Gerakan Mahasiswa (Gema) Pembebasan:
Acara ini luar biasa, tokoh dari berbagai kalangan hadir menyatu dalam acara ini. Melalui acara ini kita sadar bahwa sudah saatnya Indonesia, bahkan dunia diatur oleh hukum Allah yakni Syariat Islam, dan saya setuju penerapan hukum Islam hanya bisa melalui sebuah institusi negara Khilafah. []

Indra Jaya Bunayu, Pemilik Sekolah Al-Azhar Palembang:
Saya justru heran, di negeri ini Muslim adalah mayoritas tapi susah sekali menjalankan Islam. Kami pun yang ingin mendirikan sekolah Islam waktu itu, dipersulit bahkan diancam, dan dituduh teroris. Dan faktanya, yang menentang syariat Islam di negeri ini justru orang Islam sendiri. Inilah salah satu bukti bahwa orang kafir memenangkan perang pemikiran. Akan tetapi kami yakin, dengan berdirinya khilafah, tidak sesulit ini Islam untuk diterapkan.

Habib Muhammad Nakhel bin Thakib Abdullah Al Attas, Tokoh DIY:
Jika kita benar mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka kita harus berjuang untuk tegaknya khilafah, dan HTI-lah yang secara aktif dan konsisten dalam perjuangan itu, maka oleh karena itu saya mengajak para tokoh untuk bersama memperjuangkan tegaknya syariah dan khilafah. []

Arif Fahmi, Dekan Fakultas Psikologi UII:
Tanpa peran kita semua, Islam Rahmatan Lil 'Alamin hanya akan menjadi ‘ retorika. []

Dedi Sahputra, Pakar Komunikasi:
Islam rahmatan lil alamin adalah sebuah terminologi yang hadir dari Al-Qur’an sementara terorisme dan radikalisme adalah terminologi dari penguasa. Saat ini semua terminologi ini telah dialihkan maknanya demi tujuan-tujuan tertentu. Saya berharap kita semua bisa membatu Hizbut Tahrir untuk meluruskan makna yang sesungguhnya. []

Ustadz Abdul Somad, Ulama Ahli Hadits Riau:
Apabila Khilafah disia-siakan, maka rahmat Allah yang seharusnya untuk seluruh alam, tidak akan dirasakan dari hewan hingga manusia, karena itu tugas kaum Muslimlah untuk memperjuangkan tegaknya khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah sebagaimana apa yang diwajibkan Allah kepada kita. []

Abah Hideung, Pimpinan Ponpes An-Nizhomiyah Sukabumi:
Tetap semangat dalam berjuang untuk para pengemban dakwah, tetap istiqomah, karena janji Allah SWT dan Rasul-nya pasti benar terjadi, dan kita jangan berkecil hati karena syariah dan khilafah pasti kembali. []

Ustadz Umar Ash Siddiq, Pimpinan Ponpes Daruttsaqofah Jemplang Baru Cilendek:
Berbicara konsep Islam rahmatan lil 'alamin, konsep ini akan terwujud apabila Islam diterapkan di seluruh aspek kehidupan, dengan bingkai khilafah, dan jelas sekali harus diterapkan dari masalah individu dan negara, dan di sinilah seharusnya para ulama memperjuangkan konsep yang sudah pernah sukses dan akan kembali lagi sesuai janji Allah yakni khilafah. []

Hasanuddin, guru Al-Qur’an SMK dan MTsN di Kab. Tanah Laut Kalsel:
Dengan adanya penerapan syariah dan khilafah akan mewujudkan masyarakat yang berkeadilan. Namun itu tidak akan terwujud selama kita masih dijajah sistem neoliberalisme dan kapitalisme global. Oleh karena itu perlu energi perjuangan yang besar agar umat Islam seluruh dunia bisa bersatu untuk melawan hegemoni Barat dengan menegakkan Khilafah Islam sebagaimana sistem Islam yang telah diwariskan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat, yaitu Daulah Islam pertama di Madinah. HT adalah harapan bagi umat ini karena keseriusan dan keikhlasan para aktivisnya dalam perjuangan yang mulia ini. []

Siti Aisyah, istri Wakil Walikota Metro:
Saya senang hadir di acara MTU Bandar Lampung ini, acara HTI ini bagus. Karena banyak yang muda, saya berharap bisa mengajak yang muda lainnya untuk paham agama. Sepanjang kita mengikuti aturan Islam secara menyeluruh, maka akan selamat dunia akhirat. []

H Ahmad Mahfudz, Pengurus Masjid Sultan Suriansyah Banjarmasin:
Tidak mungkin syariat Islam dilaksanakan secara kaffah kalau tidak penguasa yang mam-back up pelaksanaannya. Untuk itu diperlukan pemerintahan yang Islami. Saat ini kita beragama, tidak ada yang memotivasi, HT mampu menggerakkan, memotivasi masyarakat untuk bangkit, untuk beragama secara kaffah. []

Wasis, mantan dukun dan mantan Kades:
Umur saya sudah 84 tahun, dulu menjabat kepala desa selama 25 tahun. Selama 83 tahun belum pernah shalat sekali pun, shalat pertama kali ketika shalat subuh di masjid Dupak Surabaya ketika mengikuti agenda yang diadakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia yaitu Rapat dan Pawai Akbar Surabaya. Alhamdulillah, sekarang saya rajin shalat berjamaah, dan semangat mengikuti kajian. Saya hadir kajian di manapun, walaupun yang hadir muda-muda saya enggak malu, biar mereka yang muda-muda saja yang malu sama yang tua seperti saya, karena yang tua saja semangat, yang muda ben (agar, red.) tambah semangat.

Hj. Arifah, Ketua Muslimat NU Palopo:
Usaha dan doa dari semua kaum Muslimin akan semakin mendekatkan kaum Muslimin pada kesuksesan tujuan perjuangannya. Saya berharap Hizbut Tahrir terus dan terus berjuang meskipun berbagai ujian dan rintangan terus ada. []

H Imran Muksin, PNS Dinas Pendidikan Pemuda Dan Olahraga Kota Palembang:
Sejak 2015 saya mulai ikut mengkaji kitab Nizhamul Islam (Peraturan Hidup dalam Islam/kitab pertama pembinaan di Hizbut Tahrir). Kesan saya terhadap HTI setelah mengikuti kajian Nizham, untuk menjadi Islam yang kaffah itu masih banyak yang harus saya pelajari. Di pengajian HTI inilah saya menemukan bahwa untuk setiap ibadah yang kita laksanakan agar senantiasa dicari nash dan dalilnya sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Ternyata untuk dapat melaksanakan Islam secara kaffah itu tidak mudah karena kita terhalang oleh sistem yang ada dan tidak ada institusi yang menaungi dan mengaturnya.
Untuk itulah, saya sangat setuju dengan perjuangan HTI untuk menegakkan syariah dan khilafah agar umat Islam dapat melaksanakan perintah Allah SWT secara kaffah. Kepada saudaraku umat Islam marilah kita bersatu untuk berjuang bersama dalam menyadarkan pemikiran umat untuk menegakkan syariah dan khilafah. Semoga kita diberikan kekuatan lahir dan batin untuk memperjuangkan hal ini, Amin ya robbal alamin. []

Hj Siti Fauziah, Tokoh Wanita Islam Yogyakarta:
Acara HTI sangat penting bagi umat Islam karena bertujuan untuk menegakkan Islam agar bisa menjadi rahmatan lil alamin. Saya menyeru generasi muda untuk turut berjuang menegakkan Islam dan rajin menuntut ilmu agar semakin memahami bahwa Islam cocok diterapkan untuk seluruh dunia. []

Roxana Devi Tumanggor, Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara:
Sebagai intelektual kita harus memahami perspektif yang benar tentang akidah sesuai dengan Islam yang sebenarnya. Faktanya saat ini pemerintah kita belum mampu mewujudkannya, maka harus ada upaya mewujudkannya dengan penerapan Islam kaffah. []

Ustadzah Fauziah Nur, Muballighah Sumut:
Dengan terselenggaranya MTU Medan ini, semoga Islam rahmatan lil alamin segera terwujud. []

KH Ustman Fathan, Rois Am Syuriah PWNU Babel:
Sesungguhnya hanya penerapan syariah secara kaffah dalam institusi khilafah, kerahmatan Islam akan terwujud bagi seluruh alam. Allah SWT menegaskan, “Kami tidak mengutus kamu Muhammad kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” Al-Qur’an Surat Al Anbiya Ayat 107. []

Musjbi, Tokoh DDII/Ketua Umum International Muslim Brotherhood:
Saat ini hanya Hizbut Tahrir yang berani berbicara penerapan hukum jinayat oleh negara. Masalah-masalah di Indonesia ini tidak kunjung usai karena kita masih menolak hukum-hukum Islam. Dengan mengambil contoh kasus pencurian. Seandainya para pencuri itu dihukum dengan potong tangan, pasti masalah pencurian sudah selesai. Begitu juga dengan para koruptor itu. []

KH Zainal Arifian Adnan, Ketua MUI Solo:
Bagi siapa saja yang hadir di sini (MTU Solo, red.) dan bukan dari Hizbut Tahrir, janganlah takut namun bantulah karena ini tugas risalah. Kita semua wajib memikulnya, ini fardhu ain. []

Marlinawati Khairizal, Ketua PKK, Kabupaten Inderagiri Hulu, Riau:
Kami menyambut dan mendukung acara ini. Kami sangat setuju dan mendukung penegakan syariah dan khilafah yang diserukan HTI. Saya menegaskan bahwa syariah yang ditegakkan dibawah naungan khilafah bukan merupakan sebuah ancaman tapi justru rahmat bagi seluruh alam. Kami sebagai tokoh akan menyampaikan kebenaran khususnya kepada ruang lingkup kami bahwa syariah dan khilafah harus diterapkan. []

Hj Deswaty Diningsih, Ketua IWAPI Bogor:
Saya sangat mendukung apa yang dilakukan HTI. Konsisten dalam menegakkan Islam kaffah untuk terwujudnya Islam rahmatan lil ‘alamin. []

Hj Sri Mulyati, Penasehat Majelis Ta'lim Bhayangkari Sumatera Selatan:
Umat Islam saat ini sangat memprihatinkan, agama tidak menjadi perhatian terutama generasi muda yang saat ini berlomba-lomba mengejar dunia. Aktivitas yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir terutama Muslimah dalam mewujudkan Islam rahmatan lil 'aIamin sangat positif, sangat baik. Saya sudah merasakan dan mengikuti berbagai majelis ta'lim namun baru kali ini saya meilihat dan merasakan fokus pembinaan kepada perempuan, tidak hanya sebagai seorang ibu tetapi juga bermasyarakat. []

Uyun Rachmawati, Analis Kepegawaian BPS Prov. Sulawesi Utara:
Semoga MTU tetap terus diadakan di Kota Manado, para undangan tokoh lebih banyak lagi, saya yakin semakin sering pertemuan seperti ini khususnya di Kota Manado akan semakin menumbuhkan ghirah (semangat dakwah). Saya sangat setuju syariah dan khilafah diterapkan di Indonesia, karena pemerintahan yang ada tidak memberikan dampak yang lebih baik, melainkan hanya mengganti pejabat pemerintah yang berbeda.
Saya melihat Hizbut Tahrir selalu konsisten tetap istiqamah selalu dalam jalan dakwah, khususnya di Manado semoga semakin banyak yang ikut untuk berjuang bersama. Tegakkan syariah dan khilafah mewujudkan Islam rahmatan lil a'lamin. Allahu Akbar. []

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 173, Mei 2016
---

Aktivis Marhaenisme Pindah Ke Ideologi Islam


Saat Marhaenisme Rontok Seketika

Betapa terkejut dan terharunya Edhy Sutanto Kusumosudjono begitu mengetahui bahwa Islam tidak hanya mengatur ibadah mahdhah dan akhlak saja tetapi juga mengatur politik, ekonomi, sistem pemerintahan, hubungan luar negeri dan lainnya. ”Sampai umur 62 tahun saya tidak mengerti dan tidak tahu," ujar lelaki kelahiran Tulungagung, 30 Maret 1952, mengenang kejadian dua tahun lalu tatkala mengetahui bahwa ajaran Islam sekomplet itu.

Saat itu, Edhy berkunjung ke rumah adik iparnya Dr. Sutiastuti W. yang hendak mengikuti ujian terbuka doktor di Institut Pertanian Bogor. Di rumah sang adik di Bogor, Edhy membaca buletin Al-Islam dan tabloid Media Umat yang menceritakan Islam peduli pada pengelolaan sumber daya alam Indonesia yang dikupas habis-habisan.

”Saya kaget campur terharu dan bangga. Dalam batin saya: Islam seperti ini yang saya cari sebab selama ini dalam benak saya hanya kaum Marhaenis yang memikirkan pengelolaan alam tidak boleh diserahkan ke asing. Kok di Islam ada juga pemikiran seperti ini," ujar peraih gelar doktor di Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, Semarang kepada Media Umat Ahad (1/5/2016).

Marhaenis Sejak Kecil

Maklumlah meski lahir dari keluarga Muslim dan beragama Islam, sejak kecil alam pikir Edhy cenderung ke Marhaenisme (derivat ideologi sosialisme yang dikembangkan Soekarno untuk menentang penindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa). Edhy kecil yang suka membaca melahap berbagai buku dan bacaan utamanya adalah Di Bawah Bendera Revolusi (DBR) Jilid 1 dan 2 serta semua pidato-pidato Bung Karno setiap tanggal 17 Agustus. Ia mendapatkan buku-buku tersebut dari orangtuanya yang kala itu bekerja di Kantor Penerangan.

Walhasil peraih Satya Lencana Pembangunan dari Presiden Abdurrahman Wahid pada tahun 2000 pun kagum dengan Bung Karno, pemikirannya dan perjuangannya. “Saya kagum dengan perjuangan beliau sejak muda yang ingin memerdekakan Indonesia, sampai beliau rela dipenjara dan diasingkan. Apalagi pidato pembelaan beliau di pengadilan kolonial Belanda yang kita kenal semua yaitu Indonesia Menggugat. Intinya di situ beliau tidak anti Belanda tapi anti pemikiran Belanda yang menjajah dan memecah belah rakyat Indonesia," ujarnya.

Makanya pada 1965 sewaktu Edhy duduk di bangku SMP dan SLTA, ia langsung masuk dan aktif sebagai anggota di organisasi yang mengusung marhaenisme yakni di Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) dan ketika kuliah sejak 1972 dilanjutkan sebagai anggota Gerakan Mahasiswa Nasional lndonesia (GMNI) di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Saat itu, Edhy berpendapat problematika umat dari golongan manapun juga adalah sama yaitu ingin mengusir penjajah dan membangun persatuan bangsa (Bhineka tunggal ika) untuk mewujudkan masyarakat adil makmur. Makanya, menurut Edhy kala itu, untuk mewujudkannya tentu saja dengan mengikuti dan mengamalkan ajaran Bung Karno agar terwujud cita-cita bangsa yaitu masyarakat adil dan makmur.

Agar Marhaenisme bisa eksis, ia pun berupaya agar masyarakat memahami ajaran Marhaenisme dan berpandangan sama dengan Bung Karno, ”melalui sosialisasi kepada siapa saja yang saya jumpai pada kesempatan apapun dan ketika menjadi dosen saya sampaikan juga kepada mahasiswa."

Hampir dalam seluruh hidupnya Edhy memandang kalau untuk ibadah ritual dan akhlak, ya pakai Islam tetapi untuk mengatur pemerintahan dan melawan penjajahan tentu saja pakai Marhaenisme. Maka ketika tahu ternyata Islam mengatur juga masalah pemerintahan dan perlawanan terhadap penjajahan iapun bertanya: ”Ngaji di mana kok ada pemikiran Islam yang hebat?”

Dosen Fakultas Kehutanan IPB Dr. Ir. Bachroni Said, adiknya Edhi, dengan sigap menjawab, ”Ngaji di HTI."

Adiknya dan adik iparnya pun serentak menjawab ”ada" ketika Edhy bertanya apakah di Semarang juga ada. Adiknya pun menulis nama Ustadz Muhammad Choirul Anam dan nomor kontaknya.

Rontok Seketika

Sesampainya di Semarang, kemudian Edhy menelepon Choirul Anam, yang waktu itu sedang berada di laboratorium MIPA Universitas Diponegoro. Lalu Edhy mendatanginya dan langsung meminta mengaji. Choirul Anam merasa heran kok ada orang tiba-tiba telpon dan datang mau mengaji.

Singkat cerita Choirul Anam pun bersedia memberikan tausiyah kepada Edhy. Dengan tenang dan lancar Choirul pun menjelaskan pengertian akidah Islam dan berbagai aturan yang terpancar dari akidah tersebut yang meliputi seluruh bidang termasuk pemerintahan.

”Hanya waktu 5-10 menit, habis pemikiran dan ideologi yang saya emban selama ini dan saya bersyukur kepada Allah SWT saya dipilih oleh-Nya untuk memperoleh pencerahan dan kebenaran Islam," ujar Edhy bersyukur.

Sejak itu, aktivitas Edhy adalah membantu dakwah Islam. "Semangat serta tingkah laku dan perjuangan saya pantang surut seperti semula, hanya pondasi pemikiran dan dakwah berbeda, bukan Marhenisme lagi tapi Islam. Syukur alhamdulillah,” ujarnya dengan riang.

Pandangan hidupnya pun berubah drastis. "Saya sekarang berpandangan paham sosialis keliru besar sebab hanya andalkan kebenaran dari logika manusia tidak merujuk pada kebenaran wahyu dari Allah SWT, astaghfirullah hal adzim," akunya.

Dan sekarang, ia berpandangan konsepsi Indonesia untuk mewujudkan masyarakat adil makmur tidak akan terwujud tanpa melaksanakan syariah Islam secara kaffah di bawah Daulah Khilafah yang mengikuti langkah-langkah Nabi Muhammad SAW. "Itu satu-satunya cara, tidak ada yang lain,” tegasnya.

Sebagai dosen dan ketua harian yayasan pendidikan, maka ia pun memanfaatkan posisinya untuk berdakwah menyampaikan kepada warga kampus. "Mahasiswa yang saya kasih kuliah dan teman-teman kolega dosen untuk memberikan pemahaman yang benar tentang akidah Islam dan sebagian dari mereka ada yang sudah masuk pembinaan intensif, mereka saya fasilitasi satu ruang di rumah saya lengkap dengan proyektornya. Sekarang sudah ada tiga angkatan. Dan bila ada even-even pertemuan untuk Kajian Islam Peradaban dan Pertemuan Tokoh Umat teman-teman dan mahasiswa-mahasiswa saya, insya Allah, selalu saya libatkan,” terangnya.

Dalam waktu yang bersamaan, teman-teman sosialis dan Marhaenis banyak yang kecewa begitu mengetahui Edhy berganti ideologi. ”Ya pasti saya dianggap 'murtad' oleh mereka-mereka. Dan saya tidak takut secuilpun tapi justru mereka-mereka dalam benak saya adalah ladang ibadah saya, sehingga mereka mulai saya dekati satu per satu agar meninggalkan ideologi yang keliru,” bebernya.

Meski sering dikucilkan, ia tetap berupaya agar dapat mengisi forum-forum mereka. "Dan beberapa tokoh mereka saya kirimi bukunya ustadz saya, Ustadz Choirul Anam, yang berjudul Cinta Indonesia dan Rindu Khilafah. Mohon doanya agar forum yang saya inginkan bisa terwujud apapun risikonya akan saya hadapi. Mumpung Allah SWT memberikan saya kondisi sehat," pungkasnya.

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 173, Mei 2016
---

Selasa, 16 Mei 2017

Pesantren Wasilah Dakwah Menegakkan Khilafah



Kyai Abdul Aziz, Perintis dan Pendiri Pondok Pesantren Al-Ihsan Baron

Wasilah Dakwah Memperjuangkan Tegaknya Khilafah

B erawal dari pengelolaan hewan kurban sejak 1419 H (1999 M), pasca Idul Qurban 1427 H (31 Desember 2006), kami membuat 400-an kotak wakaf yang kami biayai dari hasil pengelolaan hewan kurban. Pada 28 Februari 2007 mendirikan badan wakaf Peduli Dhuafa serta layanan Aqiqah Berkah dengan melibatkan pihak ke-3 sebagai investor dengan sistem syirkah mudharabah untuk menopang operasional dan penggajian karyawan yang melakukan distribusi dan akumulasi isi kotak wakaf di wilayah Kediri dan Nganjuk.

Alhamdulillah, di penghujung 2007 kami mulai bisa membebaskan lahan seluas 3.626 m2 dari hasil kotak wakaf dan pengelolaan Kurban 1428 H. Pada 2010 pembangunan dimulai dengan maksud mendirikan Pondok Pesantren Daarul 'Aitam Wadh Dhuafa, namun karena persoalan pembiayaan, pembangunan dihentikan, secara otomatis rencana mendirikan pesantren juga dihentikan.

Pada 6 September 2011 kami mulai membangun kembali dengan mendirikan sekolah formal yakni SMP Bina Insan Mandiri dan Pondok Pesantren Al-Ihsan Baron dan atas izin Allah SWT kedua lembaga ini mulai beroperasi pada 8 Juli 2012 yang berdiri di atas lahan sekitar sehektar.

Pada tahun ajaran 2016/2017 kami mulai mengembangkan pesantren berjaringan, dengan variasi program SMP dan SMA Bina Insan Mandiri reguler, Villa Quran dan Ma'had Dirasah Al-Islamiyah, yang disebut Pondok Pesantren Baron 1, Pondok Pesantren Baron 2, Pondok Pesantren Baron 3 dan seterusnya.

Sebagai pondok pesantren yang didirikan oleh aktivis Hizbut Tahrir -meski pesantren ini tidak ada hubungannya dengan Hizbut Tahrir- tentu kami berniat dan berharap pesantren ini bisa dijadikan sebagai washilah dakwah untuk mendidik kader-kader intelektual Muslim yang tunduk dan patuh kepada Al-Qur’an dan Sunnah, pejuang syariah dan khilafah serta mampu menjaga sekaligus pelaksana roda Daulah Khilafah ketika Daulah Khilafah telah berdiri, insyaAllah. []

Pondok Pesantren Al-Ihsan Baron (Pondok Pesantren Baron)

Unggulkan Program Villa Qur’an

Masih ingat Pondok Pesantren Al Ihsan, Nganjuk, Jawa Timur? Profilnya pernah dimuat Media Umat Edisi 114. Saat itu, Al-Ihsan baru memiliki lembaga pendidikan formal tingkat SMP. Seiring dengan semakin meningkatnya kepercayaan masyarakat, baru tiga tahun berdiri, kini santrinya meningkat sepuluh kali lipat dan membuka pula pendidikan formal tingkat SMA.

Memang, berdirinya Pondok Pesantren Baron Nganjuk tahun 2012 diawali dengan pendirian SMP Bina Insan Mandiri dengan jumlah 35 santri. Kepercayaan dari wali santri terhadap Pondok Pesantren Baron yang baru berdiri menjadi penyemangat tersendiri pihak pondok untuk membesarkannya menjadi lembaga pendidikan yang mencetak generasi yang berkarakter Islami dan berkeahlian spesial.

"Seiring dengan kepercayaan dari masyarakat terhadap lembaga ini, alhamdulillah sekarang Ponpes Baron telah dipercaya untuk membina 350 santri dari berbagai wilayah di lndonesia,” ungkap Kiai Abdul Aziz, perintis dan pendiri kepada Media Umat, Jumat (27/11/2015).

Menurut Abi, sapaan akrabnya, sambutan positif dari masyarakat terhadap Ponpes ini mendorong lahirnya SMA Bina Insan Mandiri. Sistemnya tak jauh beda dengan SMP, yakni boarding school, dengan 3 program unggulan. Pertama, The Winner atau Sang Juara, diperuntukkan untuk siswa yang ingin mengasah kemampuan materi-materi akademik, terutama MIPA, penelitian, karya ilmiah, dll. Kedua, Moslem Scholar, diperuntukkan bagi siswa yang ingin menempa diri dengan materi Islam secara lebih mendalam sehingga nantinya bisa menjadi ulama' atau trainer ternama. Ketiga, Enterpreneur, diperuntukkan bagi siswa yang berkeinginan menjadi pengusaha sukses berkah.

Mondok sambil sekolah ternyata tak mengurangi gairah santri untuk menorehkan berbagai prestasi, baik di jenjang SMP maupun SMA. Berbagai event, baik akademik maupun non-akedemik diikuti santri sebagai bentuk penyaluran bakat dan kemampuan mereka.

Alhamdulillah mereka menjadi juaranya dari tingkat kabupaten hingga internasional, seperti lomba tahfidz, lomba poster, lomba da'i, lomba puisi, cerdas-cermat Islam, karya ilmiah, olimpiade sains, kompetisi matematika dalam negeri maupun luar negeri, dan sebagainya,” akunya.

Sesuai dengan tujuannya, yakni membentuk generasi yang berkepribadian Islami, Ponpes Baron melengkapinya dengan mendirikan program tahfidz Villa Qur’an untuk jenjang SMP dengan target hafal 30 juz dalam setahun. Program Villa Qur’an ini diampu oleh guru tahfidz yang memiliki sanad yang nyambung hingga Rasulullah SAW. Meski fokus pada hafalan Al-Qur’an, pelajaran sekolah yang lain juga tidak diabaikan.

Alhamdulillah, saat ini sudah ada santri yang telah menyelesaikan hafalannya 30 juz sehingga ke depan diharapkan dapat berkontribusi menjaga Al-Quran dan membantu santri lain dalam menghafal,” ujar Abi.

Berjalannya program Villa Quran mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Karena jenjangnya baru dibuka setara SMP, sedangkan animo santri dari jenjang usia SMA tak sedikit maka tahun ini lahir program Ma'had Dirasah al-Islamiyah (MDI) yang setara dengan jenjang SMA. Program ini ditempuh selama 4 tahun, yakni 3 tahun SMA jurusan IPS ditambah 1 tahun pengabdian. Keunggulan MDI sebagai program baru di Ponpes Baron di antaranya fokus berbahasa Arab dan Inggris, memperdalam tsaqafah Islam, dan hafalan Al-Qur’an.

"Dari program ini diharapkan menjadi bekal bagi santri untuk meneruskan pendidikan S1 ke Timur Tengah," unkap Abi bercita-cita.

Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran khas dan unik diterapkan di ponpes ini, yakni penerapan perpaduan metode pembelajaran salaf dan modern yang memadukan pembentukan pola pikir dan pola Jiwa untuk membangun sikap mental kepemimpinan. Dengan begitu santri akan memiliki kepribadian Islami serta mampu berpikir cemerlang dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Para santri diwajibkan mengikuti kegiatan halqah seminggu sekali dan dibekali dengan pilihan program ekstrakurikuler dan soft skill, di antaranya: kepanduan, seni baca Al-Qur’an, beladiri, karya ilmiah remaja, futsal, jurnalistik, broadcast, tata boga, tata busana, arabic club, english club, mentoring, dan kegiatan minat bakat lainnya.

Dengan dukungan dari berbagai pihak, Ponpes Baron mengalami perkembangan yang luar biasa. Ponpes Baron Nganjuk sebagai Ponpes Pusat (Ponpes Baron 1) kini telah membuka Ponpes Buron 2 di Pangkalanbun, Kalimantan Tengah, berupa SMP Bina Insan Mandiri. Disusul oleh Ponpes Baron 3 di Klaten, Jateng, berupa program Villa Qur'an untuk Jenjang SMP dan Pasca SMA. "Semua itu didedikasikan untuk mempersiapkan generasi penerus pejuang syariah dan khilafah,” pungkasnya. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 163, Desember 2015
---

Senin, 15 Mei 2017

Mewujudkan Perubahan Bersama Umat Tegakkan Khilafah


Bersama Umat Tegakkan Khilafah

Stadion Gelora Bung Karno, Sabtu (30/5/2015), Jakarta kembali menjadi saksi berkumpulnya ratusan ribu orang kaum Muslim. Jika dua tahun lalu, jumlah yang hampir sama datang dari seluruh pelosok Nusantara ke acara Muktamar Khilafah, kali ini dalam Rapat dan Pawai Akbar 1436 H, mereka sebagian besar adalah warga Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan sekitarnya.

Gelora semangat perjuangan membara di hati para peserta yang memenuhi stadion tersebut. Bagaimana tidak, teriakan takbir terus membahana sepanjang acara. Pekikan takbir bergantian dengan teriakan “Khilafah! Khilafah! Khilafah!

Ini adalah puncak acara Rapat dan Pawai Akbar 1436 H yang telah terselenggara sebelumnya di 35 kota di Indonesia. Acara bertajuk: "Bersama Umat Tegakkan Khilafah” dengan sub tema: 'Selamatkan Indonesia dari Neoliberalisme dan Neoimperialisme' bertujuan untuk mengokohkan visi dan misi perjuangan menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam naungan khilafah.

Acara kesekian kalinya yang digelar oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) ini menawarkan solusi alternatif bagi Indonesia yang kini sedang mengalami keterpurukan di segala bidang akibat neoliberalisme dan neoimperialisme. Solusi itu adalah sistem Islam yakni khilafah. Inilah solusi satu-satunya yang akan menghapuskan neoliberalisme dan neoimperalisme yang bercokol di negeri Muslim terbesar di dunia ini.

Berbagai sistem telah diterapkan, mulai dari sosialisme, komunisme, kapitalisme-demokrasi, tapi tak membawa perubahan yang diinginkan rakyat. Kesejahteraan tetap menjadi angan-angan bagi sebagian besar penduduk negeri meski telah merdeka puluhan tahun lamanya. Pemimpin pun silih berganti, tapi semuanya hanya membawa mimpi dan janji-janji.

Fakta menunjukkan, justru asing kian leluasa menancapkan kuku-kukunya di Indonesia. Kekayaan alam indonesia yang melimpah dikeruk dan dibawa kabur ke negaranya. Rakyat Indonesia hanya bisa menjadi penonton saja. Di saat yang sama, penguasa melindungi para kapitalis asing itu dengan berbagai perundang-undangan.

Liberalisme dan imperialisme gaya baru telah menjadikan negeri ini kehilangan kemampuan untuk mandiri. Jerat utang yang terus bertumpuk menjadikan negara tak bisa lari dari arahan para kreditor yang tak lain adalah para penjajah. Ibarat pepatah: Seperti kerbau dicokok hidungnya. Ke manapun mengikuti kemauan penjajah.

Privatisasi diminta, dilaksanakan. Subsidi harus dicabut, diikuti. Pasar harus dibuka, dibuka. Semua permintaan Barat penjajah, tak ada yang ditolak. Meski dalam kondisi itu, rakyat menderita.

Dalam kondisi seperti ini, coba dengan apa negeri ini bisa merdeka, bisa melepaskan diri dari penjajahan asing? Terbukti demokrasi tak mampu menjadi solusi. Justru demokrasi adalah biang tercengkeramnya negeri ini kian dalam.

Hanya Islam, dengan syariahnya yang bisa menjadi solusi tuntas. Islam adalah agama sempurna dari Sang Pencipta manusia. Pasti, aturannya ditujukan untuk menyejahterakan manusia di dunia dan menyelamatkan mereka di akhirat kelak. Suatu yang mustahil, aturan Islam tidak adil karena ia datang dari Yang Maha Adil. Tidak mungkin aturan Islam buruk karena ia datang dari Yang Maha Baik. Sistem inilah yang akan menjamin terwujudnya baldatun thayyibatun wa rabbun ghaffur.

Maka, perjuangan penerapan syariah Islam secara kaffah dalam naungan khilafah merupakan kebutuhan bagi manusia di era sekarang, selain sebagai sebuah kewajiban bagi kaum Muslim. Ini adalah panggilan iman sekaligus panggilan kondisi/kenyataan. Umat butuh perubahan. Bukan sembarang perubahan tapi perubahan hakiki yakni terwujudnya penerapan hukum ilahi di muka bumi.

Terlebih lagi, khilafah sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sistem ini pernah memimpin dunia selama 13 abad lamanya. Dalam kurun waktu tersebut, sistem Islam mampu mewujudkan peradaban mulia yang belum pernah ada sebelumnya.

Bahkan negeri ini pernah menjadi bagian dari khilafah. Dan itu bisa dibuktikan sekarang, baik dari peninggalan sampai pada gelar para keturunan sultan yang masih hidup. Tidak mungkin itu semua bertahan jika sistem Islam hanya numpang lewat. Pasti sistem ini telah mendarah daging dan menjadi peradaban yang menyatu dengan kehidupan negeri ini.

Wujudkan Perubahan

Tak dipungkiri, Hizbut Tahrir adalah salah satu (gerakan Islam), HT konsisten memperjuangkan tegaknya khilafah di muka bumi di tengah arus demokratisasi dan sekulerisasi. Gerakan ini terus berdakwah di tengah-tengah umat tanpa mempedulikan gunjingan dan cemoohan mereka yang tak suka.

Kata 'khilafah' yang dulu tak dikenal sama sekali di negeri ini, kini sudah menjadi kata yang tak asing lagi. Bahkan mereka yang mencitrakan buruk khilafah, beberapa di antaranya telah mengakui bahwa negeri ini dan dunia butuh khilafah. Mereka tak alergi lagi menyebut kata itu lagi.

Ulama yang mencoba menutup mata umat terhadap khilafah, akhirnya tak bisa mengelak karena 'khilafah' disebut dalam hadits-hadits shahih dan merupakan janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah. Mereka yang mempelajari kitab-kitab kuning dengan benar pasti tak bisa menolak perjuangan menegakkan khilafah.

Tinggal sekarang para pemilik kekuatan. Mereka perlu tahu tentang sistem Islam ini. Mereka yang selama ini mungkin hanya mengenal sistem lain di luar islam, apakah itu republik, kerajaan, kekaisaran, federasi dan sebagainya, perlu belajar membuka mata.

Apakah sistem yang ada menjamin kebaikan, jika sistem ini sendiri datang dari makhluk yang lemah? Apakah sistem yang ada sekarang akan adil jika aturannya dibuat oleh makhluk yang memiliki karakter egois/mementingkan dirinya? Bagaimana sistem yang dibuat manusia ini akan menentramkan jiwa jika pembuatnya sendiri tak tahu hakikat dirinya sendiri?

Walhasil, saatnya para pemilik kekuatan kembali kepada lslam dan mendukung perjuangan Hizbut Tahrir menegakkan khilafah. Penerapan Islam secara kaffah akan membawa kebaikan dan menyelamatkan manusia di akhirat kelak.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (TQS. Al-A'raf: 96)

Maka, jadilah garda terdepan dalam memperjuangkan tegaknya syariah dan khilafah. Jadilah penolong agama Allah. Jadilah seperti kaum Anshar yang menolong Rasulullah SAW dengan menyerahkan kekuasaannya kepada Beliau untuk menerapkan Islam secara kaffah.

Bersama umat tegakkan khilafah. Surga menanti Anda! []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 152, Juni 2015
---

Semangat Dakwah Islam Kalahkan Segala Halangan


ilustrasi semangat dakwah Islam
Kala Semangat Kalahkan Segalanya

Malam masih pekat. Tapi kehidupan di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta telah dimulai. Sekitar 20 ribu peserta Rapat dan Pawai Akbar 1436 H memecah keheningan malam, sebelum waktu shalat subuh tiba.

Massa dari Banten, Karawang, Purwakarta, Cikampek, Subang, dan Sukabumi datang lebih awal untuk menghindari keterlambatan. Massa yang begitu besar tak bisa ditampung oleh Masjid Al Bina di luar stadion. Jadilah, stadion terbesar di Indonesia itu menjadi tempat shalat subuh berjamaah.

Mungkin ini baru pertama kali dalam sejarah stadion itu sebagai tempat shalat. Shalat yang diimami oleh KH Yasin Muthahar, Pimpinan Ponpes Al Abqary, Serang, Banten, begitu khusu' di bawah sorot lampu stadion yang biasa menyorot pertandingan sepak bola.

”Semoga shalat shubuh pertama di GBK ini sebagai awal turunnya nashrullah, karena itulah yang dibutuhkan untuk tegaknya khilafah,” ujar Yasin yang juga sebagai anggota DPP Hizbut Tahrir Indonesia memberi tausiyah usai shalat subuh, Sabtu (30/5/2015).

Pantang Menyerah

Rapat dan Pawai Akbar bukannya tanpa hambatan dan rintangan. Ada pihak-pihak yang sengaja ingin menjegal acara ini dengan berbagai alasan. Ada yang mendatangi kepolisian dan meminta aparat kepolisian agar tidak memberikan izin terselenggaranya acara ini. Ada yang mengancam-ancam akan membubarkan.

Di Ternate, pelaksanaan RPA pada Sabtu (16/5/2015) nyaris batal. Pasalnya, proses perizinan yang diurus tiga bulan sebelumnya tidak juga turun. Ketika ditanyakan, polisi menjanjikan akan mengeluarkannya sepekan sebelum hari H. Namun ketika panitia mengonfirmasi perihal perizinan, panitia diminta untuk memindahkan tempat kegiatan dari rencana awal di Taman Nukila.

Maka acarapun dipindahkan ke halaman Masjid Al Munawar, namun pihak masjid tidak mengizinkan tanpa ada izin kegiatan dari pihak kepolisian. Di sisi lain polisi tak mengeluarkan izin tanpa ada izin tempat dari pihak masjid. Sampai hari H minus satu, izin tersebut belum didapat. Tapi mereka memang pantang menyerah. "RPA tidak boleh batal,” begitu tekad panitia.

Kendala lain juga adalah permintaan dari pihak masjid dan polisi untuk mengubah rundown tak boleh ada teatrikal, tak ada orasi, sehingga kata 'orasi' diubah menjadi ceramah agama, juga persyaratan 'aneh' lainnya tak boleh berbicara politik, menyinggung agama lain. Kelistrikan juga harus menggunakan genset karena tak mendapat pasokan listrik dari pihak masjid.

Beberapa pihak termasuk polisi menyangka, kegiatan RPA di Ternate dibatalkan karena sejak Jum’at sore hingga malam terjadi hujan lebat dan tak ada aktivitas persiapan di lokasi kegiatan.

Keesokan harinya banyak yang tersentak, karena pagi harinya, sekitar 2.000 massa pawai dari Tapak 3, Jalan Reklamasi melewati pasar dan terminal menuju lapangan parkir Masjid Al-Munawar. Peserta berjalan kaki membawa poster dan spanduk sambil berorasi dan membagikan flyer dan siaran pers tentang bahaya neoliberalisme dan neoimperialisme. “Alhamdulillah atas izin dan pertolongan Allah, RPA Ternate berjalan dengan lancar,” ungkap panitia.

Semangat

Rapat dan Pawai Akbar 1436 H ini bak magnet bagi kaum Muslim yang telah sadar akan kewajiban menerapkan syariah Islam secara kaffah. Mereka rela berkorban untuk menghadiri acara yang langka ini.

Kecintaan terhadap Islam dan kerinduan akan segera tegaknya khilafah membuat warga dari Pulau Sapeken dan pulau-pulau kecil lainnya di Kepulauan Kangean -kepulauan paling timur Madura lurus utara ke Bali- dengan sukarela menempuh perjalanan jauh hingga 12 hari untuk mengikuti RPA di Surabaya pada Ahad, 10 Mei 2015 lalu. Jika yang lain umumnya pulang pada hari itu juga, sedangkan sebagian dari sekitar 50 peserta dari Kepulauan Kangean baru sampai rumah pada 22 Mei.

Memang perjalanan lautnya hanya 15 jam dari Pulau Kangean menuju Pulau Madura. Perjalanan menjadi lama karena menggunakan kapal laut yang jadwalnya sepekan sekali. Jadwal berlayar dari Madura ke Kangean 12 Mei. Namun kapal perintis yang mereka tumpangi urung berangkat karena cuaca buruk. Barulah pada 17 Mei kapal pun berlayar hingga sampai Kangean keesokan harinya.

”Itupun sebagian masih harus melanjutkan perjalanan ke pulau masing-masing di KepuIauan Kangean menggunakan perahu penduduk,” ujar Rosyid, peserta dari Sapeken. Karena para peserta lainnya kehabisan bekal, mereka menginap dahulu di rumah peserta dari pulau itu.

"Luar biasa RPA Surabaya, meskipun panas yang sangat menyengat dengan pawai sekitar 4 km ditambah lagi rombongan kami harus menunggu jadwal kapal yang terus tertunda, tidak menyurutkan semangat kami untuk terus mendukung perjuangan HTI," ujar Moh Salim, peserta dari Sapeken. Pernyataan tersebut diamini pula oleh peserta Sapeken lainya yakni H Ali dan Sandrek yang mengajak anak, istri, serta menantunya.

Sedangkan peserta RPA dari Depok, Septia Marnie (istri almarhum Abu Hassan, marketing tabloid Media Umat), awalnya agak pesimis untuk mengikuti RPA Jakarta karena kondisi Fisik yang tidak memungkinkan. Serangan antibodi hebat karena penyakit lupus membuatnya sulit untuk beraktivitas. Namun Septia berdoa kepada Allah agar diberikan kekuatan fisik untuk melangkah.

Alhamdulillah, walaupun orangtua agak keberatan, melihat semangat saya, akhirnya mereka mengizinkan dan saya berhasil menaiki tribun 23 paling atas. Persendian saya yang dulunya pernah bermasalah karena serangan antibodi, ternyata tidak apa-apa. Sempat hampir pingsan, namun setelah segera minum suplemen, saya bisa mengikuti acara hingga selesai,” ujarnya.

Di awal acara, air mata tak tertahan. ”Selain karena teringat almarhum suami, saya sangat terharu dan rindu dengan kejayaan umat,” ujarnya. Selesai acara, perjuangan belum selesai, Septia harus berjalan kira-kira sejauh 1 km lebih. "Perjalanan yang menurut dokter sangat mustahil bagi pengidap lupus seperti saya," jelasnya. Ia pun tak ada masalah ketika sampai di rumah.

Gadaikan THR

Kegigihan para aktivis HTI Leuwiliang, Kabupaten Bogor untuk mengajak warga mengikuti RPA Jakarta membuahkan hasil sehingga diperlukan sebelas bus untuk mengangkutnya. Namun yang jadi kendala adalah dana, jangankan untuk membeli tiket dan urunan membayar bus sekadar untuk membeli air minum pun mereka juga tidak punya uang.

“Panitia yang mendampingi mereka menceritakan banyak jama’ah yang untuk beli air minum pun tidak punya uang, panitia lalu merogoh kantongiya untuk membelikan air minum,” ujar penanggung jawab RPA Jakarta dari Leuwiliang, Ahmad Soim.

Maka, selain waktu, tenaga dan pikiran, pengorbanan harta para aktivispun teruji ketika diminta lagi pengorbanan hartanya. Pada 25 Mei, Ahmad Soim pun meng-SMS para aktivis untuk menambah infaknya lagi.

"Harta yang kita infakkan untuk itulah harta yang kekal buat kita, selainnya, hanya milik atau titipan Allah hingga kematian kita tiba. Yang itu bisa terjadi hanya sampai esok hari. Setelah ajal tiba, harta itu bukanlah milik kita lagi.”

Tak lama SMS balasan pun berdatangan. ”Aamiin, saya lagi menggadaikan sebagian hak THR saya, Tadz. Untuk nambah infak sebesar Rp 1 juta. Minta doanya juga semoga Ustadz X yang kini kerja di Brunei, mau bayar utangnya, saya akan tambahkan semua ke RPA,” jawab seorang aktivis.

Sekitar dua jam kemudian, yang lain menjawab. ”Ustadz insya Allah, malam ini saya lunasi sisa dari infak dan untuk tambahan bantu saya jualin motor sport Pulsar merah 135 cc saya, yang biasa saya pakai sehari-hari sama notebook Acer, kalau ada yang minat silakan hubungi saya. Ada yang bantu jualin saya kasih 5 persen dari harga jual. Sisanya saya infakkan semua. Mohon do’a dan bantuannya.” Subhanallah.

Barakallahu fii 'amalikum yaa akhi wa ukhti...[]

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 152, Juni 2015
---

Related Posts with Thumbnails

Spirit 212, Spirit Persatuan Umat Islam Memperjuangkan Qur'an Dan Sunnah

Unduh BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam