Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Senin, 29 Agustus 2016

Globalisasi: Skenario Mutakhir Kapitalisme



Globalisasi bukan sekedar slogan ekonomi kapitalis dan bukan pula salah satu fenomena dalam ideologi kapitalisme yang beraneka ragam. Globalisasi adalah sebuah pemikiran ideologi Kapitalisme yang komprehensif dan meliputi segenap aspek kehidupan, kendatipun yang menonjol adalah aspek ekonomi. Globalisasi merupakan serangan total peradaban kapitalis yang melanda seluruh pelosok dunia —termasuk dunia Islam— dan merupakan serangan yang sangat ganas dan mematikan dengan senjata modal —yang memang sangat vital bagi roda kehidupan— untuk melumpuhkan seluruh bangsa di dunia, termasuk kaum muslimin.

Hampir tak ada perlawanan apapun terhadap ide globalisasi ini dari para penguasa kaum muslimin dan kawan-kawan dekat mereka yang oportunis, yang telah bersekutu dengan kaum kafir dalam penjajahan gaya baru mereka. Para penguasa dan sekutu mereka malah mempromosikan penjajahan tersebut kepada rakyat mereka dan menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat membanggakan dan cermin kemajuan sebuah bangsa.
Kata globalisasi diambil dari kata global, yang maknanya ialah, universal. Jadi globalisasi maksudnya adalah universalisasi ideologi kapitalisme, atau menjadikan kapitalisme sebagai satu-satunya ideologi dan peradaban dunia.….

Globalisasi adalah suatu ungkapan yang berarti penyatuan (integrasi) dan penundukan perekonomian lokal ke dalam perekonomian dunia, dengan cara memaksakan penerapan format ekonomi swasta ke dalam struktur perekonomian dunia, serta menjadikan ekspor setiap negara ditujukan untuk pasar dunia, selain untuk pasar regional.

Semua ini mengharuskan penghapusan seluruh batasan dan hambatan terhadap arus modal, barang, dan jasa. Jadi pasar dan perekonomian dunia itu tentu bukanlah perekonomian yang tertutup atau terproteksi, melainkan perekonomian terbuka, atau apa yang disebut dengan pasar yang terbuka terhadap segala kekuatan ekonomi.

Istilah globalisasi pertama kali mengemuka pada bulan Nopember 1992 di majalah Criminal Politics Magazine terbitan Amerika di bawah rubrik Globalology. Majalah tersebut mempublikasikan sebuah artikel berjudul The Carrol Quigley-Clinton Connection (Hubungan Presiden Clinton dengan Profesor Carrol Quigley). Profesor ini dulu adalah dosen Clinton di Universitas Georgetown, yang mengasuh beberapa mata kuliah mengenai ekonomi-strategis pada salah satu program pasca sarjana universitas. Tulisan itu menyebutkan, Profesor Quigley pernah mengizinkan Clinton untuk “mengintip” kebijakan-kebijakan yang bersifat rahasia, serta meminta Clinton untuk mempelajarinya dan ikut serta mempersiapkan kajan-kajian yang dapat menguntungkan pemerintah Amerika. Clinton terus melakukan kajian dan persiapannya selama 20 tahun, dan akhirnya berhasil menelorkan ide-ide ekonomi yang berhubungan dengan Tata Dunia Baru. Sejak awal dia telah meletakkan asas-asas kajian dan penelitiannya. Hal ini dibuktikan dengan pernyataannya,”Tidaklah mudah menciptakan tata aturan dunia yang didasarkan pada dominasi perekonomian internasional sebagai satu kesatuan. Oleh karena itu, bank-bank sentral di berbagai negara harus dimanfaatkan sesuai dengan perjanjian-perjanjian rahasia yang ditetapkan dalam berbagai pertemuan, perundingan, dan konferensi.”

Ide-ide tersebut terkristalisasi dengan sempurna dan mulai muncul ke permukaan pada awal dasawarsa 90-an. Ide-ide tersebut semakin matang dengan runtuhnya Uni Soviet, berakhirnya masa komunisme, dan keluarnya sosialisme dari medan internasional. Ini mengharuskan adanya introduksi dan perencanaan strategi ekonomi dalam skala luas untuk melemahkan dan kemudian menghancurkan sisa-sisa sosialisme secara total, untuk kemudian digantikan dengan persepsi-persepsi kapitalis, termasuk ide globalisasi, ekonomi pasar, dan perdagangan bebas, sebagai ide-ide yang diklaim paling aktual dan paling relevan dengan abad ke-21.

Semua ini membutuhkan perwujudan ide globalisasi dan perekrutan tokoh-tokohnya. Maka, muncullah istilah globalisasi, dan Clinton-lah yang menjadi perintisnya mengingat istilah ini muncul berbarengan dengan awal masa pemerintahannya.

Tapi karena kapitalisme merupakan kumpulan dari beraneka macam madzhab dan aliran pemikiran, maka dilakukanlah seleksi untuk mencari aliran pemikiran terunggul yang akan diadopsi Amerika. Pada masa sebelumnya, telah ada kapitalisme Adam Smith dan David Ricardo yang memberikan otoritas besar pada hak milik pribadi dan memperkokoh feodalisme dan monopoli raksasa, sehingga menimbulkan berbagai kecaman dan revolusi terhadap kapitalisme, karena masyarakat sangat marah dan jengkel menghadapi dominasi individu-individu secara sewenang-wenang terhadap rakyat kecil yang hidup serba susah.

Kondisi ini akhirnya membidani lahirnya ide-ide sosialisme dan komunisme serta ide tentang hak milik umum. Kapitalisme mau tak mau meluruskan kekeliruannya tentang ide hak milik pribadi, memasukkan revisi-revisi ke dalam ideologi kapitalisme, dan beradaptasi sesuai dengan kenyataan baru yang ada. Ini sesungguhnya merupakan koreksi terhadap kapitalisme, sebab dia telah mentolerir masuknya ide-ide sosialisme ke dalam kerangka ideologi kapitalisme. Inilah awal munculnya ide sosialisme negara dan ide pemberian peran yang besar kepada sektor publik (hak milik umum), untuk meringankan kezhaliman yang ditimbulkan oleh hak milik pribadi (swasta).

Namun setelah sosialisme redup dan komunisme runtuh, ada semacam keharusan untuk kembali kepada kapitalisme yang asli, serta menutupinya dengan baju baru supaya tidak menjadi bahan cacian untuk kedua kalinya dan supaya tidak ada revolusi-revolusi lagi untuk menentang kapitalisme. Maka kemudian dicanangkanlah dengan seksama ide globalisasi yang mengubah kembali sektor publik menjadi sektor swasta, sehingga negara dapat berlepas diri dari tanggung jawabnya. Padahal kebijakan ini terkadang menimbulkan akibat-akibat yang destruktif.

Di samping itu Amerika memang mempunyai keunggulan internasional di bidang ekonomi dan menguasai komoditas-komoditas produk yang terpenting —terutama peralatan militer— serta memonopoli beberapa komoditas strategis seperti komputer dan informasi. Amerika juga jauh dari berbagai pergolakan dan perang yang direkayasanya di Eropa untuk saling membenturkan kekuatan-kekuatan ekonomi yang ada, yang pada gilirannya akan melemahkan dan menghilangkan kesatuan Eropa.

Faktor-faktor tersebut membuat Amerika menjadi satu- satunya negara yang mampu melestarikan ideologi kapitalisme yang tidak dipengaruhi oleh ide-ide sosialisme, baik yang lama maupun yang baru. Inilah yang membuat sebagian besar negara-negara di dunia merasa bahwa sistem ekonomi Amerika merupakan bentuk ideal yang wajib dijadikan teladan.

Amerika kemudian mendapatkan kesempatan emas pada awal dekade 90-an, setelah adanya perubahan konstelasi politik internasional dan pelontaran ide globalisasi yang termasuk dalam paket ide Tata Dunia Baru, untuk menghancurkan sisa-sisa ide sosialisme, proteksi ekonomi, dan sektor publik, yang masih diterapkan di berbagai negara di dunia, terutama di negara-negara Eropa.

Agar globalisasi dapat terwujud sebagai realitas universal, Amerika segera melancarkan tekanan kepada berbagai negara di dunia khususnya negara-negara kuat Eropa untuk mengubah GATT —yang tugasnya hanya membahas masalah tarif— menjadi lembaga internasional yang berhak memaksakan undang-undang globalisasi atas Dunia. Maka lenyaplah kemudian hambatan-hambatan, pajak-pajak, dan bea-bea masuk, serta hilang pula ketentuan-ketentuan mengenai proteksi dan monopoli perekonomian negara. Semua ini membuka peluang bagi masuknya modal dan produk Amerika yang besar ke pasar-pasar yang sebelumnya terproteksi dan tertutup, seperti pasar negara-negara persemakmuran (commonwealth) Inggris, negara-negara francophone (yang berbahasa Perancis), dan negara-negara bekas Uni Soviet, dengan cara memaksakan penerapan undang-undang internasional tersebut.

Amerika juga melakukan upaya untuk membentuk blok-blok ekonomi yang lemah, kemudian dia ikut serta di dalamnya dan sekaligus memaanfaatkannya untuk berkompetisi dengan blok kesatuan Eropa. Amerika menghimpun negara-negara Atlantik Utara dalam kelompok NAFTA dan negara-negara Asia Pasifik ke dalam APEC. Amerika sebelumnya juga telah menghimpun negara-negara Asia Tenggara ke dalam ASEAN. Selain itu, Amerika juga berupaya untuk memasukkan Rusia ke dalam kelompok APEC dan mengikat China dalam suatu bentuk hubungan khusus dengan Amerika. Dengan demikian, tak ada satu negara atau perkumpulan apapun yang mampu menyaingi Amerika. Bahkan negara-negara Uni Eropa pun tak mampu menyaingi Amerika setelah Amerika berhasil menghimpun sebagian besar negara di dunia di bawah kendalinya.

Untuk mensukseskan ide globalisasi tersebut, Amerika menggunakan elemen-elemen utama sebagai berikut:

1. Swastanisasi. Swastanisasi adalah pengubahan sektor publik menjadi sektor pribadi (swasta). Alasan untuk menjustifikasi swastanisasi ialah kurang efisiennya sektor publik, produktivitasnya yang rendah, dan kinerja pengelolanya yang payah.

2. Korporatisme. Korporatisme adalah pandangan bahwa negara merupakan sekumpulan lembaga (korporasi/institusi/badan) dan pemerintah tiada lain adalah satu lembaga ekonomi kecil, kalaupun bukan yang terkecil. Pemerintah merupakan lembaga yang tugasnya hanya melaksanakan kegiatan diplomasi, dengan angkatan bersenjata yang kecil serta beberapa lembaga keamanan dan dewan penasihat, yang semuanya bergerak untuk melayani kepentingan sektor swasta. Jika pemerintah hendak menjalankan suatu usaha bisnis, maka dia wajib diperlakukan sama dengan lembaga manapun yang lain. Jadi pemerintah diperlakukan sama dengan swasta. Contoh tentang hal ini, adalah lembaga Forum yang dikelola oleh 40 ribu ahli yang menyusun program dan memperhitungkan segala potensi Amerika, yang diperkirakan akan melampaui negara manapun. Dari sinilah, maka segala sesuatunya harus disesuaikan dengan paham korporatisme, yaitu bahwa pemerintah adalah salah satu lembaga negara yang khusus dan tugas utamanya adalah menjalankan kekuasaan. Pemerintah menjalankan kekuasaan tapi tidak menguasai/memiliki. Sementara lembaga-lembaga lain menguasai tapi tidak menjalankan kekuasaan.

3. Perusahaan-Perusahaan. Perusahaan-perusahaan merupakan lembaga ekonomi utama yang menguasai ekonomi secara nyata. Kini terdapat ribuan perusahaan di dunia —di antaranya ada 200 perusahaan raksasa— yang mendominasi sebagian besar perekonomian dunia. Dari jumlah itu ada 172 perusahaan yang dimiliki lima negara, yaitu Amerika, Jepang, Perancis, Jerman, dan Inggris. Pemerintah masing-masing membantu perusahaan-perusahaan ini untuk menembus dan menguasai perekonomian internasional.

4. Bank-Bank. Bank merupakan penyokong perusahaan —terutama perusahaan raksasa— dan merupakan sekutu perusahaan untuk menguasai perekonomian negara-negara lemah. Di samping itu, bank itu sendiri sebenarnya juga suatu perusahaan.

5. Pasar-Pasar Modal. Pasar-pasar modal ini berupa pasar-pasar saham, surat berharga, dan mata uang. Pasar-pasar ini menjadi alat kriminal para investor raksasa untuk meraup keuntungan besar tanpa usaha nyata dan tanpa investasi yang riil. Kegiatan perekonomiannya adalah sektor ekonomi non-riil, yang bertumpu pada kompetisi tidak-seimbang yang mirip dengan perjudian, undian, dan penipuan. Pasar-pasar modal ini sangat penting untuk mengglobalkan perekonomian regional. Bukti-bukti untuk hal ini antara lain pernyataan Clinton pada KTT Vancouver (Kanada) untuk negara-negara anggota APEC, “Sesungguhnya prioritas kita adalah memperkokoh pasar-pasar modal di Asia.” Sementara itu Hashimoto, PM Jepang, menyifati peran Amerika tersebut sebagai pengkerdilan Asia dan sekaligus promosi globalisasi. Mahathir Mohamad, PM Malaysia, menyatakan, “Negeri manapun yang mendapatkan bantuan IMF, dapat dipastikan akan membuka pasar modalnya.” Untuk membantu Korea Selatan mengatasi krisis-krisisnya belakangan ini, IMF telah mensyaratkan pembukaan pasar-pasar surat berharga terhadap persaingan pihak asing.

6. Perdagangan Bebas. Perdagangan bebas merupakan salah satu asas ekonomi pasar dan salah satu landasan globalisasi. Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) telah memaksakan syarat bagi negara-negara di dunia yang hendak menjadi anggota WTO, agar membuka pasar-pasarnya terhadap barang-barang asing. Sejumlah 21 negara telah mengikuti KTT Vancouver (Kanada) mengenai perdagangan bebas terhadap 9 jenis komoditas baru. Topik ini sudah dianggap wajar dalam KTT itu, sehingga tak ada satu negarapun yang dapat menolaknya. Inilah yang membuat Amerika dan negara-negara industri lainnya mampu mendominasi perdagangan internasional dan dapat melemahkan daya saing negara-negara yang kecil.

7. Pemaksaan Ide-Ide Dan Nilai-Nilai Peradaban Kapitalisme Kepada Seluruh Dunia. Pemaksaan ini terjadi tatkala negara-negara Barat mensyaratkan penerimaan demokrasi terhadap negara-negara di dunia baik secara total maupun tidak. Tetapi akhir-akhir ini Amerika telah mulai memaksakan pengambilan sekumpulan ide-ide tertentu sebagai syarat mendasar untuk memasuki era globalisasi. Ide-ide tersebut antara lain adalah sekularisme, rasionalisme, kesepahaman/perdamaian antar bangsa, kebebasan, pembatasan kelahiran, pluralisme, supremasi hukum, pengembangan masyarakat sipil (civil society), perubahan kurikulum pendidikan, penyelesaian pengangguran dan inflasi dengan cara tertentu, dan sebagainya. Semua ide ini tak lain adalah nilai dan gaya hidup peradaban Barat yang dianggap sebagai budaya/kultur luhur yang baru, serta dipandang lebih unggul daripada semua ideologi dan peradaban. Inilah penafsiran terhadap beberapa pernyataan para penguasa di banyak negara-negara lemah —seperti Dunia Islam— yang berfokus pada ide-ide tersebut dan propaganda-propagandanya. Yang terakhir adalah pernyataan Presiden Iran Khatami mengenai kehidupan harmonis antar bangsa dan persahabatan antara Iran dan Amerika, serta mengenai pemantapan supremasi hukum dan penumbuhan masyarakat sipil (civil society).

8. Pemantapan Ide-Ide Separatisme Dan Pemecah-Belahan Negara. Hal ini nampak tatkala Amerika berupaya menyelesaikan masalah-masalah separatisme dan melakukan campur tangan untuk memecah-belah sebuah negara menjadi dua negara atau lebih jika memungkinkan, seperti yang sudah terjadi di Bosnia, Irak, Sudan, Afghanistan, dan lain-lain. Tujuannya adalah untuk membuat kekacauan nasional, pertentangan antar suku, dan kelumpuhan kawasan, yang semuanya merupakan alasan-alasan kuat untuk menerima globalisasi Amerika sebagai suatu kekuatan yang tak dapat ditolak lagi. Globalisasi akhirnya dianggap sebagai kereta api cepat untuk memasuki abad mendatang. Barangsiapa yang tidak menaikinya, maka dia akan terisolir, terpinggirkan, atau akan menjadi hina dina dan mengalami kehancuran. Dengan demikian, nyatalah bahwa globalisasi adalah anak panah beracun yang telah diluncurkan kapitalisme ke arah kita. Globalisasi adalah senjata mematikan yang telah dihunus oleh Amerika di hadapan wajah-wajah kita. Seharusnya kita menghadapi dan menantang semua ini dengan segala kekuatan yang miliki. Tetapi sayang, para penguasa kita —dan kawan-kawan dekatnya yang telah cenderung kepada Amerika— serta banyak orang bodoh malah mempropagandakan globalisasi seolah-olah globalisasi adalah vonis yang sudah mutlak atas mereka dan tak dapat diganggu gugat lagi. Mereka berupaya untuk menyesuaikan segala sesuatunya agar sejalan dengan wabah globalisasi ini, yang menurut mereka harus disambut sebaik-baiknya seakan-akan wabah itu merupakan obat yang manjur untuk mengobati luka-luka rakyat mereka. Banyak ahli ekonomi —termasuk yang di Barat sendiri— telah memahami bahaya globalisasi atas dunia dan telah menyimpulkan satu hal yang mereka sepakati, yaitu penerapan globalisasi akan semakin memperlebar jurang pemisah antara yang miskin dengan yang kaya. Abid Al Jabiri —seorang ahli ekonomi Maroko— pada salah satu konferensi tentang globalisasi menyatakan bahwa globalisasi mempunyai tiga segi negatif:

1. Semakin lebarnya kesenjangan antara orang kaya dengan orang miskin secara berlebihan, sehingga kehidupan modern di setiap negeri akan diwarnai dengan dikotomi miskin-kaya dan ketidaksolidan dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya. 

2. Semakin lebarnya jurang pemisah antara anak-anak orang kaya dengan anak-anak orang miskin, yang akan melahirkan generasi yang terbelah menjadi dua golongan dengan dunianya sendiri-sendiri.

3. Merintangi dan melenyapkan kreativitas manusia dalam kegiatan perdagangan dan usaha, serta mengokohkan prinsip menghalalkan segala cara. Akibat-akibat ini —dan akibat lainnya— merupakan konsekuensi logis dari ide-ide kufur yang telah diskenariokan oleh kapitalisme. Hakikatnya, globalisasi adalah bencana masa depan yang akan terus menerus membayangi dunia. Bila tidak ada kekuatan yang bisa menghadapinya, maka seluruh dunia akan terjerumus ke dalam penderitaan yang mengerikan dan kesengsaraan yang tiada taranya.

Tidak akan ada yang mampu menghentikan globalisasi ini, kecuali dengan berdirinya Khilafah Islamiyah sebagai satu-satunya kekuatan yang akan menyetop globalisasi yang hanya didasarkan pada kekuasaan modal dan harta benda —tak mengenal kekuasaan lainnya— serta tak mengenal pertimbangan akal, diskusi, dan perdebatan. Khilafah Islamiyah-lah satu-satunya kekuatan yang akan mampu menyelamatkan umat manusia dari bahaya-bahaya kelaparan, kebinasaan, dan kehancuran yang dihasilkan oleh skenario-skenario kapitalisme yang kafir.

Minggu, 21 Agustus 2016

Menyampaikan akidah dan syariah Islam


 
 

Bilal bin Rabbah pernah disiksa secara kejam oleh Umayah bin Khalaf al-Jamhi. Bilal dibaringkan di bawah terik matahari dalam kelaparan, kemudian sebuah batu besar diletakkan di dadanya.

Hal yang sama menimpa keluarga Yasir ra., bahkan lebih tragis. Abu Jahal menyeret mereka ke tengah padang pasir yang panas membara dan menyiksa mereka dengan kejam. Yasir ra. meninggal dunia ketika disiksa. Istrinya, Sumayyah (ibu 'Ammar), juga menjadi syahidah. Siksaan terhadap Ammar bin Yasir juga semakin keras. (Ibn Hisyam, Sîrah Ibn Hisyam, 1/319; Muhammad al-Ghazaliy, Fiqh as-Sîrah hlm. 82)

Dakwah Islamnya Nabi Muhammad Saw. dan para sahabat ra. mengalami berbagai ujian, penindasan, stigmatisasi negatif, hingga pemboikotan. Beliau “hanya” menyampaikan saja dengan lisan, tanpa kekerasan (lâ mâaddiyah); menyampaikan akidah dan syariah Islam; menyampaikan apa yang harus diyakini dan apa yang harus diingkari; menyampaikan apa yang harus dikerjakan dan apa yang harus ditinggalkan. Beliau menyerukan La ilaha illaLlah Muhammadur rasuluLlah. Mayoritas tokoh dan masyarakat Makkah tidak mau mendukung dakwahnya Nabi Muhammad Saw. dan para Sahabat ra.

Rasulullah Saw. tidak pernah melakukan peperangan sama sekali sebelum berdirinya negara Islam, yakni Nabi Saw. tidak menjadikan perang sebagai cara untuk mendirikan negara, bahkan Nabi Saw. melarang hal itu dengan sangat keras.

Disebutkan dalam Shahīh Al-Bukhāri dari Khabbab bin Al-Arat yang berkata: “Kami pernah mengadu kepada Rasulullah Saw., ketika itu Beliau sedang berada di bawah naungan Ka’bah dengan berbantalkan kain selimut Beliau. Kami berkata: “Apakah tidak sebaiknya Engkau memohonkan pertolongan buat kami? Apakah tidak sebaiknya engkau berdo’a memohon kepada Allah untuk kami?

Beliau bersabda: “Dahulu ada seorang laki-laki dari ummat sebelum kalian, dibuatkan lubang di tanah untuknya lalu ia dimasukkan di dalamnya, lalu diambilkan gergaji, kemudian gergaji itu diletakkan di kepalanya lalu ia dibelah menjadi dua, namun hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Dan ada lagi yang disisir dengan sisir dari besi mengenai tulang dan urat di bawah dagingnya, namun hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Demi Allah, sungguh urusan (sistem Islam) ini akan sempurna sehingga orang yang mengendarai unta berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut, tidak ada yang ditakutinya melainkan Allah, atau terhadap serigala atas kambing-kambingnya, akan tetapi kalian sangat tergesa-gesa.

Juga disebutkan dalam Tafsīr Ibnu Katsīr dari Ibnu Abbas bahwa Abdul Rahman bin Auf dan para sahabatnya datang kepada Nabi Saw. di Makkah dan berkata: “Wahai Rasulullah, kami dahulu berada dalam kemuliaan padahal kami orang-orang musyrik, kemudian tatkala kami beriman kami menjadi hina.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk memberi maaf, maka janganlah memerangi mereka.

Di zaman itu problem sosial-ekonomi sama seperti sekarang. Kaum Muslim saat itu bahkan pernah diboikot oleh kafir Qurays selama sekitar tiga tahun lamanya. Namun, Nabi Saw. tidak mengubah aktivitas dakwahnya dengan bermanis muka, memberantas kemiskinan terlebih dahulu, memberantas buta huruf terlebih dahulu, tidak menyinggung sistem kufur, berbasa-basi, berpura-pura, berkompromi demi mendapat ridhanya para pembesar kafir Qurays. Sama sekali Rasulullah Saw. tidak pernah terlibat dalam musyawarah para pejabat musyrik Quraisy di Darun-Nadwah. Beliau juga tidak pernah mengkompromikan risalah Islam dengan keinginan mereka. Syara’ memang tidak membolehkan mengambil sarana yang haram untuk memenuhi suatu kewajiban. Beliau tidak menoleh sedikitpun, kecuali kepada risalah Islam, tanpa senjata apapun kecuali keyakinannya yang amat mendalam terhadap risalah Islam yang dibawanya. 

 
Patut dicatat, bahwa Beliau Saw. tetap teguh tidak mau sedikitpun berkompromi dengan sistem kufurnya para petinggi Makkah meskipun dengan begitu akibatnya Beliau dan para Sahabat menghadapi penindasan, syariah Islam sedikitpun tidak bisa diberlakukan dalam pemerintahan, jajaran penguasa musyrik terus menjalankan hukum-hukum kufur, dan mayoritas penduduk Makkah tetap musyrik.

Jika umat Islam tidak bersabar dengan metode yang sahih maka perjuangan dakwah Islam tidak akan berhasil menang dengan pertolongan Allah Swt.

Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Asy-Syu’araa: 216)


“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: "Datangkanlah al-Qur’an yang lain dari ini atau gantilah dia." Katakanlah: "Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat).” (QS. Yunus: 15)


“Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.” (QS. Al-Isra’: 73)


Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.” (QS. Al-An’am: 34)


“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)


“Mereka memikirkan tipudaya. Allah menggagalkan tipudaya itu. Allah adalah sebaik-baik Pembalas tipudaya.” (QS. al-Anfal [8]: 30)
….


Sabtu, 20 Agustus 2016

Menghentikan perjuangan Islam


 


Para elit politik kota Makkah dan sistem hidup mereka terguncang atas perjuangan Muhammad Saw. dan kelompoknya.

“Para utusan Quraisy masuk ke rumahnya (Abu Thalib), di antara mereka terdapat Abu Jahal. Mereka mengatakan: “Wahai Abu Thalib, keponakanmu telah mencela tuhan-tuhan kami, ia mengatakan begini dan begitu, serta berbuat seperti ini dan seperti itu, maka panggil dan laranglah ia!” … “Abu Thalib berkata: “Wahai keponakanku, sesungguhnya kaummu mengadukanmu, mereka menuduh bila dirimu telah mencela tuhan-tuhan mereka sambil mengatakan begini dan begini, serta berbuat seperti ini dan ini.” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Wahai pamanku, aku hanya menginginkan dari mereka satu kalimat saja, yang dengannya orang-orang Arab beragama dan dengannya orang-orang asing (kafir) mengeluarkan jizyah pada mereka.” Mereka berkata; “Kalimat apakah itu?” Beliau bersabda: “Laa ilaaha illallah.” (HR. Ahmad no.3244)

Juga disebutkan: “Abu Thalib berkata: "Wahai keponakanku, kau ada perlu dengan kaummu? Beliau menjawab: “Sesungguhnya aku menginginkan satu kalimat mereka yang dijadikan agama oleh bangsa arab, dan orang non-arab (yang kafir) akan membayar jizyah kepada mereka." Abu Thalib bertanya: “Satu kalimat?” Beliau menjawab: "Satu kalimat." Beliau bersabda: "Wahai paman, ucapkan: Laa ilaaha illallah,” Abu Isa berkata: Hadits ini hasan shahih.” (HR. Tirmidzi no.3156)

Kaum musyrik menganggap Islam aneh, tidak sesuai keumuman.


“Mengapa ia (Muhammad) menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shaad: 5)


“Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): "Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu,” (QS. Shaad: 6)


“Maka mereka akan bertanya: "Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?" Katakanlah: "Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama." Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata: "Kapan itu (akan terjadi)?" Katakanlah: "Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat,” (QS. Al-Isra’: 51)


“Dan mereka berkata: "Mengapa al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang pembesar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?” (QS. Az-Zukhruf: 31)


“Mengapa al-Qur’an itu diturunkan kepadanya di antara kita?" Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap al-Qur’an-Ku, dan sebenarnya mereka belum merasakan azab-Ku.” (QS. Shaad: 8)
Beliau juga dituduh sebagai penyihir yang bisa memecah-belah bangsa Arab. Tujuannya, agar orang-orang Arab tidak mendekati, apalagi mendengarkan kata-kata Muhammad.


“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.” (QS. Shaad: 4)


“dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): "Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati", niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” (QS. Hud: 7)


“Bahkan mereka berkata (pula): "(al-Qur’an itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair, maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagaimana rasul-rasul yang telah lalu diutus.” (QS. Al-Anbiya’: 5)


“Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur’an itu jika mereka orang-orang yang benar.” (QS. Ath-Thuur: 34)

Tuduhan-tuduhan semacam itulah jenis ujian yang ringan yang dialami Baginda Rasulullah Saw. dan para Sahabat.

Tatkala para pembesar Quraisy melihat bahwa Muhammad tidak berpaling sedikitpun dari jalannya, para pengikutnya tetap menjadi penjaga yang terpercaya untuk Islam, tidak takut di jalan Allah terhadap celaan orang-orang yang suka mencela; mereka lalu berpikir keras untuk membenamkan dakwah Muhammad Saw. dengan berbagai cara. Secara ringkas ada empat cara yang mereka lakukan: mengolok-olok, mendustakan dan melecehkan Rasul; membangkitkan keragu-raguan terhadap ajaran Rasul dan melancarkan propaganda dusta; menentang al-Qur’an dan mendorong manusia untuk menyibukkan diri menentang ayat-ayat al-Qur’an; menyodorkan beberapa bentuk penawaran agar Rasul mau berkompromi, yang tujuan akhirnya adalah menyimpangkan bahkan menghentikan perjuangan Beliau. (lihat: Syaikh Shafiy ar-Rahman al-Mubarakfuri, ar-Rahîq al-Makhtûm)

Para elit politik Makkah mendatangi Rasul dan menawarkan kepadanya dunia, harta dan kekuasaan agar Rasul Saw. bersedia meninggalkan seruannya. Dan mereka gagal.


“Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). (QS. al-Qalam: 8-9)


“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang dzalim, yang menyebabkan kamu disentuh api Neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (TQS. Hud [11]: 113)
....
  

Selasa, 16 Agustus 2016

Mendakwahkan Islam terang-terangan


 
  

Berbekal wahyu, Beliau Saw. dan para Sahabat menyinggahi pasar-pasar, Baitullah dan tempat-tempat yang sering dituju oleh masyarakat, untuk mendakwahkan Islam secara terang-terangan; mereka turun ke jalan dalam dua barisan yang dikepalai oleh Umar ra. dan Hamzah ra., berjalan mengelilingi Ka’bah menyuarakan Islam.

Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah bin Ahmad bin Ishaq bin Musa bin Mihran al-Ashbahani (w. 430 H) meriwayatkan di dalam kitabnya “Hilyatu al-Awliyâ’ wa Thabaqâtu al-Ashfiyâ’ dari Ibn Abbas, ia berkata:

“Aku bertanya kepada Umar ra.: “Karena apa engkau dipanggil al-Faruq?” Umar menjawab: “Hamzah masuk Islam tiga hari sebelumku. Kemudian Allah melapangkan dadaku untuk Islam … Aku katakan: “Di mana Rasulullah Saw?” Saudariku berkata: “Beliau di Dar al-Arqam di bukit Shafa” lalu aku mendatangi rumah itu… Lalu aku katakan: “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah semata tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.” Umar berkata: “Maka penghuni rumah itu bertakbir dengan takbir yang bisa didengar oleh orang yang ada di masjid.” Umar berkata: “Lalu aku katakan: “Ya Rasulullah bukankah kita di atas kebenaran jika kita mati dan jika kita hidup?” Beliau menjawab: “Benar dan demi Dzat yang jiwaku ada di genggaman tangan-Nya, sungguh kalian di atas kebenaran, jika kalian mati dan jika kalian hidup.” Umar berkata: “Maka aku katakan: “Lalu mengapa kita bersembunyi? Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, sungguh engkau keluar.” Maka kami keluar dalam dua barisan, Hamzah di salah satunya dan aku di barisan satunya lagi. … Sampai kami masuk ke masjid.” Umar berkata: “Maka Quraisy melihat kepadaku dan kepada Hamzah, dan mereka ditimpa kesedihan yang belum pernah menimpa mereka. Maka Rasul menyebutkan pada hari itu al-Faruq dan memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.”

Di dalam al-Mustadrak ‘alâ ash-Shahîhayn karya al-Hakim dinyatakan:
عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْأَرْقَمِ، عَنْ جَدِّهِ الْأَرْقَمِ، وَكَانَ بَدْرِيًّا، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم آوَى فِي دَارِهِ عِنْدَ الصَّفَا حَتَّى تَكَامَلُوا أَرْبَعِينَ رَجُلًا مُسْلِمَيْنِ، وَكَانَ آخِرَهُمْ إِسْلَامًا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، فَلَمَّا كَانُوا أَرْبَعِينَ خَرَجُوا إِلَى الْمُشْرِكِينَ
“Dari Utsman bin Abdullah bin al-Arqam dari kakeknya al-Arqam, dan ia Badriyan, dan Rasulullah Saw. berlindung di rumahnya di bukit Shafa sampai genap empat puluh orang muslim, dan yang terakhir keislamannya adalah Umar bin al-Khaththab radhiyallâh ‘anhum. Ketika mereka empat puluh orang mereka keluar kepada orang-orang musyrik…”
Al-Hakim berkata: “ini adalah hadits shahih sanadnya, tetapi al-Bukhari dan Muslim tidak men-takhrij-nya” dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

Dalam Thabaqât al-Kubrâ karya Ibn Sa’ad: ia berkata …. dari Yahya bin Imran bin Utsman bin al-Arqam, ia berkata; “aku mendengar kakekku Utsman bin al-Arqam mengatakan:
أَنَا اِبْنُ سَبْعَةِ فِي الْإِسْلاَمِ، أَسْلَمَ أَبِيْ سَابِعُ سَبْعَةِ، وَكَانَتْ دَارُهُ بِمَكَّةَ عَلَى الصَّفَا، وَهِيَ الدَّارُ الَّتِيْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكُوْنُ فِيْهَا أَوَّلَ الْإِسْلاَمِ، وَفِيْهَا دَعَا النَّاسَ إِلَى الْإِسْلاَمِ وَأَسْلَمَ فِيْهَا قَوْمٌ كَثِيْرٌ، وَقَالَ لَيْلَةَ الْاِثْنَيْنِ فِيْهَا: اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ بِأَحَبِّ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ: عُمَرِ بْنِ الْخَطَّابِ أَوْ عَمْرُو بْنِ هِشَامٍ فَجَاءَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ مِنَ الْغَدِّ بُكْرَةً فَأَسْلَمَ فِي دَارِ الْأَرْقَمِ، وَخَرَجُوْا مِنْهَا فَكَبَّرُوْا وَطَافُوْا الْبَيْتَ ظَاهِرِيْنَ وَدُعِيَتْ دَارُ الْأَرْقَمِ دَارَ الْإِسْلاَمِ
“Aku anak orang ketujuh di dalam Islam, bapakku masuk Islam sebagai orang ketujuh, rumahnya di Mekah di bukit shafa, dan itu adalah rumah yang Nabi Saw. ada di situ pada awal Islam, di situ beliau mengajak orang kepada Islam dan di situ banyak orang telah masuk Islam. Beliau pada satu malam Senin berdoa: “Ya Allah muliakan Islam dengan salah satu laki-laki yang lebih Engkau sukai: Umar bin al-Khathab atau Amru bin Hisyam (Abu Jahal).” Lalu Umar bin al-Khathab datang besoknya pagi-pagi lalu dia masuk Islam di rumah al-Arqam dan mereka keluar dari situ, mereka meneriakkan takbir dan berthawaf mengelilingi Baitullah terang-terangan dan rumah al-Arqam disebut Dar al-Islam…”

Ibn Ishaq berkata di as-Sîrah an-Nabawiyyah:


“Umar berkata pada saat demikian: “Demi Allah, sungguh kita dengan Islam lebih berhak untuk menyeru… dan sungguh agama Allah akan nampak di Mekah, jika kaum kita ingin zalim terhadap kita maka kita lawan mereka dan jika kaum kita berlaku fair kepada kita maka kita terima dari mereka.” Lalu Umar dan sahabat-sahabatnya keluar dan mereka duduk di Masjid. Ketika Quraisy melihat Islamnya Umar maka jatuhlah (apa yang ada) di tangan mereka.”

Juga dinyatakan topik dua shaf barisan itu di karya Taqiyuddin al-Maqrizi dalam Imtâ’ al-Asmâ’; Husain bin Muhammad ad-Diyar Bakri dalam Tarîkh al-Khamîs fî Ahwâl Anfusi an-Nafîs; Muhammad Abu Syuhbah dalam as-Sîrah an-Nabawiyyah ‘alâ Dhaw’ al-Qur’ân wa as-Sunnah; Shafiyur-Rahman al-Mubarakfuri dalam ar-Rahîq al-Makhtûm… dan selain mereka.

Mereka terus mengungkap kebusukan akidah dan pranata Jahiliah. Akibatnya, Nabi Saw. dan para Sahabat harus menghadapi berbagai macam penolakan, bantahan, intimidasi dan penindasan dari kaum kafir Quraisy. Namun, Beliau dan Sahabat terus bersabar hari demi hari hingga tiba pertolongan Allah Swt. yang telah dijanjikan.

Beliau berupaya menumbuhkan kesadaran umum (al-wa’yu al-âm) masyarakat tentang kerusakan tatanan Jahiliyah saat itu sekaligus menumbuhkan harapan dan keyakinan masyarakat terhadap ajaran Islam yang Beliau dakwahkan. Untuk menumbuhkan kesadaran tersebut Rasulullah Saw. menempuh beberapa hal secara bersamaan.
….


Sabtu, 13 Agustus 2016

Dakwah politik amar ma’ruf nahi munkar kekuasaan


 
 

Para Sahabat menjadi kelompok dakwah atau partai politik (hizb) ideologis yang secara solid dan berjamaah bergerak, supaya pemikirannya mewujud dalam realitas kehidupan masyarakat. Dakwah politik ini adalah amar ma’ruf nahi munkar kepada kekuasaan. Sebuah Hizb ar-Rasul, yang dibangun dengan serius, cermat dan rapi. Mereka diikat oleh ikatan akidah, dengan fikrah (pemikiran) dan thariqah (metode) yang sama. Semuanya tunduk dan taat pada kepemimpinan Nabi Saw. Mereka dipersiapkan sebagai pilar-pilar yang akan menjadi penopang ketika masyarakat dan Daulah Islam terbentuk. Dengan demikian bukan hanya Rasulullah Saw. seorang diri yang melakukan dakwah pembinaan tersebut, para Sahabat lain pun mencari dan membina orang yang baru masuk Islam. Sebagai contoh, Beliau pernah mengutus Khabbab bin al-Arat untuk mengajarkan al-Qur’an kepada Fathimah binti al-Khaththab dan suaminya, Said bin Zaid, di rumahnya.

Rasul Saw. pernah bersabda:


“Hendaklah kamu melakukan amar makruf nahi munkar. Jika tidak maka Allah akan menguasakan atasmu orang-orang yang paling jahat di antara kalian, kemudian orang-orang yang baik di antara kalian berdo’a dan tidak dikabulkan.”(HR. al-Bazzar)

Kurang lebih tiga tahun jumlah pengikut Beliau sebelum memasuki tahap interaksi dengan masyarakat secara terbuka ada sekitar 40 orang. Jika dirata-rata dalam sebulan hanya ada satu hingga dua orang yang masuk Islam. Orang yang terakhir masuk Islam di fase ini adalah Umar bin Khattab. Kemudian merekapun keluar mengumumkan dakwah terang-terangan kepada orang-orang musyrik. (lihat: Imam al-Hakim, al-Mustadrak ‘alâ ash-Shahîhayn)


Berkembang

Tanpa kesadaran wajibnya berhukum dan menerapkan hukum Allah Swt. di segala bidang, Islam yang komprehensif tidak akan pernah bisa diwujudkan di tengah-tengah masyarakat. Kesadaran inipun tidak akan mewujudkan peradaban Islam jika hanya dimiliki oleh individu atau sekelompok individu belaka. Kesadaran ini harus dijadikan sebagai “kesadaran umum” melalui dakwah yang bersifat terus-menerus. Dari sini maka perjuangan menegakkan syariah dan Daulah Islam harus berwujud amal jama’i, mewujudkan Islam sebagai sistem hidup yang akan digunakan untuk mengatur berbagai urusan dan kemaslahatan umat. Dengan kata lain, harus ada gerakan Islam yang ikhlas yang ditujukan untuk membina dan memimpin umat dalam perjuangan agung ini. Oleh karenanya, dalam aktivitas penyadaran ini, mutlak dibutuhkan kehadiran sebuah partai politik ideologi Islam.

Firman Allah Swt.:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan kebajikan dan melakukan amar makruf nahi mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran [3]: 104)

Maksud ayat ini adalah, hendaknya ada kelompok dari umat Islam yang siap sedia menjalankan tugas tersebut: mendakwahkan Islam dan melakukan amar makruf nahi munkar. (lihat: Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, QS. Ali Imran [3]: 104. Lihat juga: Imam Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, QS. Ali Imran [3]: 104; Imam Suyuthi, Tafsir Jalâlayn, dan kitab-kitab tafsir lainnya) Setidaknya harus ada sekelompok dari umat Islam yang terus memenuhi seruan ayat ini.

Imam Ali ash-Shabuni juga menyatakan, “Maksudnya, hendaknya dirikanlah kelompok dari kalian (umat Islam) untuk berdakwah menuju Allah; untuk mengajak pada setiap kebajikan dan mencegah setiap kemungkaran.” (Imam Ali ash-Shabuni, Shafwat at-Tafâsir, 1/221)

Kewajiban berdakwah secara jamâ’i juga didasarkan pada fakta sejarah perjuangan Rasulullah Saw. dan para Sahabat ra. Nabi Saw. dan para Sahabat merupakan gambaran faktual perjuangan kolektif. Rasulullah Saw. berkedudukan sebagai pemimpin bagi kutlah (kelompok) Sahabat di periode Makkah. Beliau memimpin para Sahabat untuk mengganti kekuasaan sistem kufur saat itu. (lihat: Ibn Hisyam, As-Sîrah an-Nabawiyyah. Bandingkan pula dengan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Ad-Dawlah al-Islâmiyyah, hlm. 13-14)

Berdasarkan kaidah ushul fiqh, mâ lâ yatimmu al-wâjib illâ bihi fahuwa wâjib (Kewajiban yang tidak bisa sempurna tanpa sesuatu maka sesuatu itu hukumnya wajib), mendirikan dan bergabung dengan gerakan Islam hukumnya wajib, yaitu bahwa tanpa gerakan dakwah yang sistematis maka sistem Islam takkan bisa ditegakkan.

Hadits dari Hudzaifah bin al-Yaman:


“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar, atau Allah akan mendatangkan siksa dari sisi-Nya yang akan menimpa kalian. Kemudian setelah itu kalian berdoa, maka (doa itu) tidak dikabulkan.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)



“Wahai segenap manusia, menyerulah kepada yang ma'ruf dan cegahlah dari yang mungkar sebelum kamu berdo'a kepada Allah dan tidak dikabulkan serta sebelum kamu memohon ampunan dan tidak diampuni. Amar ma'ruf tidak mendekatkan ajal. Sesungguhnya para rabi yahudi dan rahib nasrani ketika mereka meninggalkan amar makruf dan nahi mungkar dilaknat oleh Allah melalui ucapan nabi-nabi mereka. Mereka juga ditimpa bencana dan malapetaka. ” (HR. Ath-Thabrani)

Gerakan Islam yang harus dijalankan oleh kaum Muslim adalah gerakan Islam yang berlandaskan akidah Islam; bukan partai sekularisme, sosialisme, freemasonry, maupun berpaham kebangsaan/ ashobiyah. Gerakan/partai Islam itu juga harus bertujuan mengajak manusia menuju Islam serta syariah Islam, melakukan amar makruf nahi mungkar.

Di dalam Tafsir ath-Thabari disebutkan: “Abu Ja’far menyatakan, “…yakni adanya jamaah (kelompok) yang menyeru manusia menuju kebaikan (al-khair), yakni Islam dan syariah Islam yang telah disyariatkan Allah atas hamba-Nya serta melakukan amar makruf nahi munkar, yakni memerintahkan manusia untuk mengikuti Nabi Muhammad Saw. dan agamanya yang berasal dari sisi Allah Swt. dan mencegah kemungkaran; yakni mereka mencegah dari ingkar kepada Allah serta (mencegah) mendustakan Nabi Muhammad Saw. dan ajaran yang dibawanya dari sisi Allah…” (Imam ath-Thabari, Tafsîr ath-Thabari, QS. Ali Imran [3]: 104)
….


Sabtu, 06 Agustus 2016

Pemikiran Islam akidah dan syariah


 
 

Dalam mewujudkan kebangkitan, umat perlu memahami realitas buruk yang hendak diubah, perlu memahami realitas baik yang dituju, perlu menempuh jalan perubahan itu sesuai dengan jalan yang dicontohkan Rasulullah Saw., perlu adanya kekuasaan untuk keberhasilan kebangkitan itu.

Kekuasaan itu tidak ada artinya jika bukan sulthân[an] nashîr[an] (kekuasaan yang menolong). Kekuasaan yang menolong itu hanyalah kekuasaan yang sedari awal memang ditujukan untuk menolong agama Allah Swt., Kitabullah dan untuk menegakkan syariah-Nya. Kekuasan seperti ini hanyalah kekuasaan yang Islami sejak dari asasnya, bentuknya, sistemnya, hukumnya, perangkat-perangkatnya, struktur dan semua penyusunnya. Kekuasaan yang menolong seperti itu sepeninggal Nabi disebut Khilafah Rasyidah ‘ala minhâj an-nubuwwah. Karena itu sebagaimana Nabi Saw. berjuang untuk mewujudkan Negara Islam yang awalnya hanya seluas Madinah, kitapun harus berjuang untuk menerapkan syariah secara total dengan menegakkan kembali Khilafah Rasyidah ‘ala minhâj an-nubuwwah. Agenda ini harus menjadi agenda vital umat untuk segera diwujudkan, menghindarkan umat dari terjerumus pada sistem-sistem non-Islam, mencegah semakin kuatnya pengaruh kebathilan kaum kafir imperialis dan sistemnya di negeri-negeri kaum Muslim.

Sejak diutus, Rasulullah Saw. melakukan perubahan pemikiran dalam diri bangsa Arab saat itu. Pemikiran Lâ ilâha illallâh yang Beliau Saw. tanamkan mengubah mereka yang sebelumnya menyembah patung dan jin beralih pada penyembahan kepada Allah Swt. semata.

Rasulullah telah mengubah pandangan mereka tentang kehidupan, dari cara pandang yang dangkal menuju cara pandang yang mendalam lagi jernih yang merupakan cerminan dari akidah Islam. Pandangan mereka tidak sebatas dunia, melainkan justru menembus negeri akhirat. Rasulullah Saw. mengubah pemikiran masyarakat bahwa Allah Swt. tidaklah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Nya.

Ikatan-ikatan kepentingan atau asas manfaat, kesukuan, dan patriotisme kebangsaan harus berubah menjadi ikatan Islam ideologis yang memandang semua kaum mukmin bersaudara laksana satu tubuh. Juga, melalui penanaman pemikiran akidah dan syariat Rasulullah berhasil mengubah tolok ukur aktivitas kehidupan masyarakat dari manfaat-egoisme ke tolok ukur halal-haram, dari hawa nafsu ke wahyu Allah.

Masyarakat Arab pra Islam yang sebelumnya membangun hubungan kenegaraan di atas kepentingan materi, kebanggaan dan ketamakan menjadi tegak di atas asas penyebaran akidah dan syariat Islam dan mengembannya ke seluruh umat manusia.

Begitu pula, pemikiran Islam yang ditanamkan Rasul tentang kehidupan setelah dunia telah mengubah persepsi tentang kebahagiaan pada diri umat, dari sekedar pemenuhan syahwat dengan segala kenikmatan dunia beralih kepada mencari ridha Allah Swt. 

Nampaklah generasi kaum muslim binaan Nabi tidak takut akan kematian, dan berharap syahid di jalan Allah Swt. Sebab, mereka memahami bahwa dunia ini hanyalah jalan menuju Akhirat. Demikianlah, lewat pemikiran Islam baik berupa akidah maupun syariah, Rasulullah Saw. berhasil membentuk pemahaman, tolok ukur dan keyakinan masyarakat ketika itu menjadi Islam.



Tuntunan

Rasulullah Saw. adalah teladan abadi bagi umat Islam dalam semua aspek kehidupan. Allah Swt. telah memerintahkan umat Islam untuk mengambil apapun tuntunan dari Rasulullah Saw.
Firman Allah Swt:


“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya.” (QS. [59] Al Hasyr: 7)


“Katakanlah, ‘Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada (agama) Allah dengan hujjah (bukti) yang nyata,” (TQS. Yusuf [12]: 108)

Hukum asal semua perbuatan adalah terikat dengan syariah. Sehingga, seorang Muslim harus mempelajari tentang shalat dari dalil-dalilnya, mempelajari tentang zakat ataupun berhaji dari dalil-dalilnya, dan mempelajari tentang penegakan Khilafah dari dalil-dalilnya yaitu dari perbuatan Rasulullah Saw. Tahapan-tahapan dakwah ideologis politis yang ditempuh Rasulullah Saw. dalam mengubah masyarakat menuju tegaknya Daulah Islam harus dijalankan pula oleh umat.

Dengan kata lain, metode menegakkan Khilafah Islamiyyah harus sejalan dengan thariqah yang telah diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Saw. Tidak ada satupun urusan umat manusia, termasuk metode menegakkan Khilafah Islamiyyah, yang tidak dijelaskan oleh al-Quran dan Sunnah, baik penjelasannya itu bersifat global maupun rinci.

Imam Asy Syafi’iy rahimahullah di dalam Kitab al-Umm menyatakan:

قال اللَّهُ عز وجل { أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى } فلم يَخْتَلِفْ أَهْلُ العلم بِالْقُرْآنِ فِيمَا عَلِمْت أَنَّ السُّدَى الذي لَا يُؤْمَرُ وَلَا ينهى وَمَنْ أَفْتَى أو حَكَمَ بِمَا لم يُؤْمَرْ بِهِ فَقَدْ أَجَازَ لِنَفْسِهِ أَنْ يَكُونَ في مَعَانِي السُّدَى
“Allah Swt. berfirman [ayahsab al-insaan an yutrak suday/ apakah manusia menyangka dibiarkan tanpa dimintai pertanggungjawaban] (TQS. al-Qiyamah [75]: 36). Para ahli ilmu tidak pernah berselisih pendapat wajibnya mengamalkan Al-Quran, pada semua apa yang aku ketahui, bahwasanya makna kata “suday” adalah perkara yang tidak diperintah dan dilarang. Barangsiapa berfatwa atau menghukumi sesuatu tidak berdasarkan apa yang diperintahkan (wahyu Allah Swt.), maka ia telah membolehkan pada dirinya “makna-makna suday”. (Imam Asy Syafi’iy, al-Umm, Juz 7/298)

Allah Swt. tidak membiarkan manusia hidup tanpa larangan dan perintah-Nya. Seorang Muslim diperintahkan untuk memastikan bahwa seluruh perbuatannya bersumber dari wahyu Allah Swt., dan tidak bersumber pada hawa nafsu, atau ajaran-ajaran selain Islam.
….


Pembangkitan Umat Manusia


 
 

Pembangkitan

Untuk membangkitkan umat, umat perlu meyakini bahwa paradigma mendasar untuk meraih kebangkitan adalah ideologi (mabda’) yang merupakan satu kesatuan dari ide (fikrah) dan metode (thariqah). Islam merupakan ideologi karena terdiri dari ide dasar (aqidah) dan berbagai sistem kehidupan (syariah) yang bersumber dari ide dasar tersebut. Selain itu ideologi tersebut berisi konsep dan metode untuk mewujudkannya. 

Pemikiran Islam akan mewujudkan ketinggian berpikir (ar-raqi al-fikr) yang memiliki karakter mendalam (‘umuq) dan menyeluruh (syumul). Pemikiran Islam adalah setiap pemikiran yang digali dari Islam. Pemikiran Islam mencakup pemikiran tentang akidah dan pemikiran tentang syariat. Perubahan pemikiran dengan Islam berarti mengubah akidah masyarakat menjadi akidah Islam, dan aturannya pun menjadi aturan Islam.


“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208)

Kaum sekular Barat mampu bangkit dengan ideologi Kapitalisme. Uni Soviet mampu bangkit dengan memeluk ideologi Sosialisme. Namun, kebangkitan dengan kedua ideologi tersebut adalah kebangkitan semu belaka. Fakta empirik menunjukkan ideologi-ideologi batil ini justru menimbulkan efek kesengsaraan dan penderitaan bagi umat manusia. Akibatnya, Sosialisme kemudian hancur setelah berkuasa selama 74 tahun. Ideologi Kapitalisme juga di ambang keruntuhan. Akidah yang mendasari kedua ideologi itu tidak sesuai dengan fitrah manusia dan tidak memuaskan akal.

Akidah dari Sosialisme-komunis adalah materialisme yang menafikan adanya sang Pencipta. Adapun akidah dari ideologi Kapitalisme adalah sekularisme. Meski mengakui adanya Tuhan, ideologi ini mengharuskan umat manusia membuat aturannya sendiri, menolak campur-tangan Tuhan dalam peraturan kehidupan masyarakat dan negara. Ini juga tidak sesuai fitrah manusia yang serba lemah dan terbatas, yang sangat membutuhkan aturan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana.

Kebangkitan hakiki adalah yang pernah dialami bangsa Arab saat mereka mengambil Islam sebagai ideologi individu, masyarakat dan negara. Kebangkitan ini dipimpin oleh Rasulullah Saw. Bangsa yang dulunya Jahiliyah berubah menjadi bangsa berperadaban tinggi dan mulia, bahkan kemudian berhasil menaungi dan menerangi separuh dunia. Kebangkitan ini laksana perubahan dari kegelapan menuju cahaya.

Islam adalah sistem hidup yang sempurna. Firman Allah Swt.:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ
“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu..” (TQS. An-Nahl [16]: 89)

Perkara apapun ada hukum Islamnya, dan problematika apa saja, atau apapun tantangan yang dihadapi kaum Muslim, akan dapat dipecahkan dan dijawab oleh Dinul Islam.

Akidah Islam memiliki karakteristik sebagai akidah ruhiyah sekaligus akidah ri’ayah yang haq. Akidah ini memancarkan sebuah sistem (aturan) kehidupan yang menyeluruh, mengatur urusan pribadi, keluarga maupun negara; termasuk sistem sosial, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, politik dalam dan luar negeri, sanksi hukum dan sebagainya. Sebagai contoh: Islam memerintahkan untuk melakukan shalat dan puasa. Lalu untuk melangsungkan generasi penerus, Islam memerintahkan supaya menikah dengan lawan jenis. Dalam rangka untuk menjamin sebuah pernikahan itu, Islam juga memerintahkan sejumlah sanksi berupa hukum cambuk dan rajam bagi pelaku zina. Islam juga memerintahkan untuk memperoleh harta secara halal. Lalu untuk menjamin kepemilikan harta tersebut, Islam memerintahkan hukuman potong tangan bagi pencuri.

Ideologi Islam telah menorehkan tinta emas sejarah peradaban umat manusia ketika diterapkan selama berabad-abad lamanya. Banyak bukti historis menunjukkan kemajuan peradaban Islam mulai dari bidang politik, ekonomi hingga sains dan teknologi. Meski kaum orientalis berusaha menyembunyikannya, kegemilangan peradaban Islam tak mampu ditutupi.

Islam telah mampu mensejahterakan, memberi rasa nyaman dan memberi kebahagiaan bagi umat manusia. Sejarahwan Barat seperti Will Durrant sekalipun tak sanggup menahan tutur-katanya untuk memberikan pujian kekaguman pada peradaban Islam, seperti dia ungkapkan dalam The Story of Civilization.

Telah disadari sepenuhnya bahwa Rasulullah Saw. dahulu berdakwah kepada orang-orang kafir, dan kita sekarang mengemban dakwah kepada kaum muslimin agar mereka selalu mengikatkan diri kepada hukum-hukum Islam, dan berjuang bersama-sama untuk menerapkan kembali sistem Islam termasuk sistem pemerintahan sesuai dengan hukum-hukum yang telah diturunkan Allah. Negeri-negeri kaum muslimin sekarang –sangat disayangkan– ternyata tidak memenuhi syarat sebagai Darul Islam. Masyarakat yang ada di dalamnya tidak hidup dalam pengaturan sistem Islam.

Saat ini yang menjadi common enemy bagi umat adalah ideologi kapitalisme. Berakidahkan sekularisme, kapitalisme beserta berbagai sistemnya menguasai dan menjajah dunia, menjadi akar masalah dunia saat ini, menyebabkan berbagai macam masalah terus bermunculan. Mereka menjalankan metode hagemoni baik militer, politik, pemikiran maupun ekonomi.

Hubungan antara para penguasa dengan bangsa mereka saat ini berjalan di atas paradigma merendahkan dan mengeksploitasi bangsa-bangsa, meremehkan berbagai kemaslahatan mereka dan menjauhkan umat dari ideologinya. Sementara hubungan antara para penguasa di negeri Islam dengan tuan-tuan negara adidaya mereka tegak di atas landasan bahwa mereka menerapkan apa yang didiktekan kepada mereka dan menjaga berbagai kepentingan tuan-tuan mereka. Mereka menjadi alat negara-negara imperialis untuk merusak Islam, mengokohkan hagemoni pemikiran barat dan membangun peradaban barat dengan segenap pemahamannya baik dalam bidang pemerintahan, ekonomi maupun sosial. ….
 

Spirit 212, Spirit Persatuan Umat Islam Memperjuangkan Qur'an Dan Sunnah

Unduh BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam