Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Kamis, 31 Mei 2018

Demokrasi Berada Dalam Krisis - Sistem Krisis Demokrasi










Demokrasi dalam Krisis

Bagaimana Sistem Politik Islam Memastikan Good Governance


Demokrasi baik di Amerika dan Inggris sedang dalam interogasi akhir-akhir ini. Jauh dari bentuk antik para MP dan para anggota kongres, dikatakan bergeser ke arah oligarki, dengan peningkatan penekanan menjadi otokrasi. Uang dan kekuatannya atas teknologi semakin membuat pamilihan umum jadi tidak fair. Kompleks militer-industri adalah paling kuat saat ini, telah mengadopsi "ancaman terorisme global" sebagai casus belli-nya (alasan untuk menjustifikasi dimulainya perang). Lobi-lobi dan korupsi mempolusi proses pemerintahan. Singkatnya, demokrasi tidak berada dalam bentuk fit.

Betapa aneh untuk memilih momen ini untuk mengekspornya, apalagi ke negara-negara yang tidak pernah mengalaminya sepanjang sejarah mereka. Barat tidak hanya mengekspor barang itu, ia melakukannya dengan cara kekerasan masif, anak berandalan, antitesis dari bagaimana pemerintahan-diri seharusnya menjadi dewasa dalam memimpin masyarakat di manapun. Pembenaran penyiksaan di Irak dan Afganistan adalah bahwa pemilu-pemilu dengan suatu cara akan bisa menyucikan "perang melawan terorisme" yang dikobarkan di tanah orang lain. Kematian dan kehancuran yang dihasilkan telah mencekam. Tidak pernah bisa suatu tujuan, bagaimanapun mulia, telah sangat gagal untuk menjustifikasi cara-cara pencapaiannya.
Simon Jenkins, Mantan editor the Times menulis dalam koran the Guardian 8 April 2010

Kata Pengantar

Apa yang mulanya adalah eksperimen di Athena lebih dari 2000 tahun yang lalu tiba-tiba melanda tiap benua dan tiap tanah. Demokrasi, Demokrasi, Demokrasi adalah panggilan yang diulang-ulang yang menggema dari 4 sudut globe. Ini adalah peraturan yang telah berlaku dalam dunia kacau dan tidak stabil, di mana setiap kritik terhadap demokrasi dipandang dengan kecurigaan anti-kemapanan. Untuk setiap problem politik, kita diberitahu, terdapat solusi demokratik. Untuk setiap peradaban, untuk setiap negeri atau setiap suku, untuk setiap waktu - berlaku mantra - demokrasi adalah jawaban yang diklaim untuk semua sakit kita. Dalam kata-kata puitis para aktivis RAWA (Revolutionary Association of the Women in Afghanistan - Asosiasi Revolusioner Wanita di Afganistan), demokrasi akan menyembuhkan semua luka dan membawa fajar kebebasan.

Hai, matahari kebebasan, Menyeruak dalam kegelapan, Demokrasi akan menyembuhkan luka-luka, Yang muncul dari tanah bernoda-darah. Hai, negeri bersedih, Lawanlah pelawanmu. Balaslah dendam untuk para martir, Pada musuh demokrasi dan wanita. Kita harus membawanya melalui pengetahuan, Melalui darah dan asap Kita harus membawa fajar kebebasan, pagi Demokrasi. Bendera Meena di pundak-pundak wanita Yang akan menyanyi dia adalah Rakyat kebanggaan kita, bangkit Melawan musuh-musuh demokrasi Dalam balas dendam untuk darah para martir kita tercinta Dan sebagai satu pesan untuk para pejuang kalian.

Namun demikian peristiwa-peristiwa baru-baru ini sesuai dengan pernyataan oleh John Adams, Presiden kedua Amerika Serikat. "Ingat demokrasi tidak akan pernah bertahan lama. Ia akan segera menyiakan, melelahkan, dan membunuh dirinya sendiri. Tidak pernah ada suatu demokrasi yang tidak melakukan bunuh diri." Pernyataan Adams adalah benar dahulu dan dengan cepat semakin menjadi benar sekarang, terutama di dunia Barat, jantung tanah air persemaian demokrasi. Korupsi, ketidak-kompetenan, utang bertumbuh dan perasaan bahwa politik tidak bisa berfungsi untuk orang biasa sekarang melanda di seluruh jika tidak semua negara-negara besar demokratis.

Terlebih lagi, sejak 9-11, demokrasi telah menyembelih begitu banyak sacred cows - para naif, tercebur ke dalam kerendahan moral yang makin dalam dan semakin menjadi apa yang tadinya, secara teoritis, seharusnya dilawan olehnya: kekuasaan korup, paranoid dan tiranikal.

Tapi sebelum kita masuk ke diskusi detail seputar kepantasan dan ketidakpantasan demokrasi, adalah penting untuk mendefinisikan secara akurat apa yang kita maksud dengan kata demokrasi - karena ia berarti banyak hal untuk banyak orang.

Beberapa pihak menggunakan istilah itu dalam pengertian linguistik : untuk mengkarakterisasi perilaku konsultatif. Seorang bos perusahaan dinilai demokratis jika ia berkonsultasi dengan tim mereka secara reguler, sebagai kebalikan dari mereka yang dianggap diktator ketika mereka membentakkan perintah-perintah dan berharap untuk dituruti. Yang lain-lainnya menunjuk pada bentuk apapun pemilihan umum - dari dewan sekolah hingga jabatan politik tinggi - sebagai demokratis.

Juga, berbagai masyarakat sekular liberal tidak memiliki monopoli atas klaim bahwa demokrasi milik mereka sendiri. Banyak negara-negara komunis selama era Perang Dingin mendeskripsikan diri mereka sendiri sebagai republik demokratik; dan bahkan Irak-nya Saddam Hussein punya pemilihan Presidensial. Tapi bagi mereka yang memiliki karakteristik kunci demokrasi pemilihan umum bebas dan adil tidak akan memberi legitimasi demokratis pada mereka yang dalam negara-negara komunis atau dalam kediktatoran, di mana hanya satu partai yang eksis.

Pihak-pihak lainnya melihat demokrasi sebagai lebih dari sekedar pemilu - bahwa demokrasi harus dikarakterisasi oleh nilai-nilai dan institusi-institusi lain. Bahwa di samping pemilu reguler harus ada nilai-nilai liberal, dewan legislatif yang berfungsi, oposisi yang kuat, media yang merdeka, masyarakat sipil - civil society dan suatu kehakiman independen.

Bagi beberapa pihak, terutama dari sudut pandang libertarian, demokrasi tidak boleh disamakan dengan liberalisme; yaitu liberalisme yang dianggap sebagai tujuan akhir, sedangkan demokrasi harus dibatasi dalam rangka mencegah suatu negara menjadi tidak liberal karena ditetapkannya legislasi otoritarian. Itulah mengapa banyak yang mendeskripsikan Amerika Serikat sebagai suatu republik bukannya suatu demokrasi.

Untuk tujuan-tujuan pamflet ini, kami telah mendefinisikan demokrasi sebagai sistem politik yang menginstitusionalkan kedaulatan legislatif - baik pada rakyatnya secara langsung - maupun pada para representatif terpilih mereka.

Pamflet ini berusaha menyatakan sistem demokrasi sebagaimana diartikulasikan dan diimplementasikan dalam sebagian besar demokrasi-demokrasi yang telah matang dan yang baru muncul di dunia saat ini. Asumsi kunci yang lain yang kita buat adalah bahwa kita percaya bahwa demokrasi tidak bisa dipisahkan dari sekularisme. Meskipun banyak yang berargumen bahwa agama dan demokrasi adalah kompatibel, ini mungkin benar dalam arena privat tapi tidak berlaku dalam ruang publik - di mana tidak agama tidak juga demokrasi bisa menikmati kepentingan utama, tidak dalam waktu bersamaan. Agama-agama dari asalnya percaya bahwa hukum-hukum dan nilai-nilai adalah produk dari wahyu ketuhanan tanpa campur tangan manusia sedangkan demokrasi adalah tentang menjadikan segala sesuatu sebagai di bawah olah pikir manusia dan menghasilkan hukum-hukum berdasar jumlah mayoritas.

Pamflet pendek ini dibagi menjadi tiga bab. Bab pertama berusaha menampilkan berbagai kelemahan teoretikal demokrasi sekular dan mengartikulasikan suatu kritik yang lebih dalam terhadap pilar-pilar utama yang menancapkan model demokrasi sekular. Yang kedua menggunakan studi-studi kasus singkat demokrasi sekular dalam praktek untuk mengilustrasikan berbagai kelemahan teoretikal yang ditekankan sebelumnya - Amerika Serikat, Inggris dan India - juga demokrasi sekular yang sedang muncul di Afghanistan. Kita akan mengilustrasikan berkembangnya jarak antara retorika dan realita dalam negara-negara demokratis itu. Dalam bagian terakhir kita menggunakan format tanya jawab untuk memberikan ringkasan sistem Khilafah Islam. Meskipun tidak ada yang menyarankan bahwa ia adalah alternatif dekat bagi negeri-negeri non-Muslim, demikian tidak bisa dikatakan pada dunia Muslim, di mana Khilafah memiliki solusi-solusi berpengalaman dan berkepercayaan dan benar-benar alternatif praktikal. Tentu, implementasi manusia di dalam Khilafah tidak akan sempurna bagaimanapun juga, tapi bagi mereka yang yakin bahwa sumber-sumber legislasinya lahir dari entitas ketuhanan (yang eksistensinya harus dibuktikan secara rasional oleh kaum Muslimin sebagai syarat) yang benar-benar mengetahui kompleksitas hidup dan fitrah manusia; sesuatu yang oleh manusia sendiri tidak akan bisa dipahami. Prinsip-prinsip Islam dari sifat dasarnya bukanlah subjek hawa nafsu personal, perubahan konstan, perubahan politik atau kengawuran publik di mana di saat yang bersamaan tetap cukup fleksibel melalui proses Ijtihad untuk mengatasi realitas-realitas baru.

Buku : Demokrasi dalam Krisis
Bagaimana Sistem Politik Islam Memastikan Good Governance

Satu Pamflet oleh Hizb ut-Tahrir Britain
Hizb ut-Tahrir
Britain
22 Jumada al Awwal 1431 / 6 Mei 2010

Mengembangkan Mengelola Keahlian Keunggulan Kemampuan Untuk Islam Dan Umat









FENOMENA KETIDAKBERDAYAAN

C. Keahlian yang tidak Dikembangkan

Allah telah membagikan kemampuan dan keahlian di antara manusia. Allah mengkhususkan sebagian manusia dengan kemampuan dan keahlian yang lebih besar. Apabila mereka berhasil mengembangkan keahlian itu, maka berarti kemenangan besar. Jika tidak, maka sungguh mereka merugi dan tak berdayaguna.

Berikut ini disampaikan 2 contoh kegagalan dalam mengelola keahlian:


  1. Saya mengenal seorang shaleh yang cerdas. Sungguh ia diberi keunggulan akal. Ia seorang pekerja yang ulet. Saya mendesaknya agar segera memanfaatkan kecerdasannya yang jarang ada itu. Saya menjelaskan beberapa jalan yang sesuai untuknya. Saya senantiasa memotivasinya, namun sayang ia tidak mempedulikannya, sehingga hidupnya berkisar antara rumah dan pekerjaannya, tidak keluar dari itu kecuali sesekali. Penulis yakin bahwa dirinya hanya dikalahkan oleh ketidakberdayaan mutlak yang tidak terkait dengan suatu keadaan atau sebab apapun. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.



  1. Seorang temanku pernah belajar ilmu-ilmu syari'at secara memadai. Sebenarnya dia adalah seorang da'i shaleh – menurut penilaianku, dan Allah punya penilaian sendiri. Aku pernah memaksanya untuk berkhutbah atau memberi nasihat kepada masyarakat, atau membacakan mereka suatu kitab, ia bersedia tampil, tapi pura-pura takut meskipun ada kekuatan dan keberanian dalam dirinya. Waktu terus berjalan, namun ia tidak memanfaatkan ilmu yang telah dipelajarinya secara maksimal, bahkan seringkali ia telah lupa sebagiannya.

Dan masih banyak contoh orang-orang yang memiliki keahlian, tetapi enggan mengembangkan keahlian yang diberikan Allah kepadanya. Ketidakberdayaan menghalangi pengembangannya.

Tidakkah Anda mengerti ketika Nabi Yusuf mengetahui di dalam dirinya terdapat keahlian mengelola rezeki, maka ia berkata kepada raja : “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” 91 Dia tidak malu dan berdiam diri. 

(Cek juga artikel berjudul "Nabi Yusuf Terlibat Dalam Pemerintahan Kufur?")

91) Qur'an Surat (12) Yusuf : 55

Tidakkah kalian pernah mendengar bagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membagi pekerjaan kepada para shahabatnya berdasarkan kemampuan dan keahlian, lalu mereka menyanggupi dan tidak menolak atau malu-malu? Lihatlah Khalid, Sang Panglima abadi, ketika belum diangkat menjadi panglima perang di Mu'tah. Dia segera menerima tongkat kepemimpinan ketika mengetahui dirinya mempunyai kesanggupan. 92 Ia memperoleh keberhasilan, karena itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menggambarkannya sebagai Pedang Allah yang terhunus. 93 Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu mempelajari bahasa-bahasa asing. 94 Ubay bin Ka'b mahir dalam bidang al-Qur'an hingga Nabi bersabda, “Orang yang paling baik bacaannya adalah Ubay.” 95 Mu'adz bin Jabal ahli di bidang fiqih hingga digambarkan sebagai shahabat yang paling mengerti hukum halal dan haram. 96 Demikian seterusnya.
92) Al-Bidayah wan-Nihayah : 7/113. Beliau wafat di Himsh, dan dikatakan di Madinah, tahun 21.
93) Ibid.
94) Ibid., 8/29. Beliau wafat pada tahun 45 di Madinah.
95) Ibid., 7/97. Beliau wafat tahun 19H, di Madinah. Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab al-Manaqib, bab Manaqib Mu'adz bin Jabal wa Zaid bin Tsabit wa Ubay wa Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah radhiyallahu 'anhum.
96) Ibid., 7/95. Beliau wafat tahun 18H, di Tha'un 'Amwas, Syam.

Tidakkah Anda tahu bahwa Mush'ab adalah seorang duta, Abu Bakar dan Umar adalah seorang wazir? Dan ada banyak para pencatat wahyu ahli menulis.

Sepanjang sejarah telah tampil orang-orang yang punya keahlian dan tidak menolak tugas. Riwayat hidup mereka tertulis dengan huruf dari cahaya, sedangkan orang-orang yang menolak tugas meninggal tanpa diketahui seorang pun, serta tidak memperoleh berbagai pahala menggapai perkara-perkara mulia – sebagaimana yang didapat orang-orang yang berbakti demi kepentingan manusia (Islam).
Wallahu A'lam.

D. Kerancuan Prioritas

Ini termasuk fenomena terbesar dari ketidakberdayaan yang dialami para tsiqah; karena segenap hidupnya berputar pada lingkaran pekerjaan kurang utama, tanpa menyentuh pekerjaan-pekerjaan utama, kecuali sesekali saja.

Kerancuan ini – sebagai sebuah ketidakberdayaan – termasuk cara iblis memasukkan distorsi pada manusia, karena iblis memperindah jalan kejahatan di mata mereka. Apabila tidak mampu melakukannya, maka iblis menampakkan indah jalan kebajikan yang memiliki sedikit kebaikan dan tidak utama, sehingga manusia tidak menempuh jalan yang membawa kebaikan yang besar.

Apabila anda hendak melihat secara jelas kerancuan dalam menyusun prioritas, maka lihatlah sebagian orang membangun rumah. Ia akan mengerahkan seluruh kekuatan dan kepentingan hidupnya untuk membangun rumahnya. Anda bisa melihatnya menunda perkara-perkara yang tidak boleh tertunda. Bahkan ia meninggalkan banyak kewajiban dengan dalih sibuk membangun rumah. Lalu ia menekuni pekerjaannya itu selama bertahun-tahun, kadang lebih lama, sehingga selama bertahun-tahun ia membiasakan diri mencintai dunia dan melupakan nilai-nilai yang mulia. Dan terkadang hal itu mengakibatkan ketidakberdayaan abadi dan menyeluruh. Kami memohon 'afiyah kepada Allah.

Janganlah kita seperti orang yang menghabiskan umurnya, sibuk dengan apa yang dikiranya sebagai hak istri dan anak-anak, dengan meninggalkan dakwah kepada Allah, dan melemparkan kepentingan umat ke keranjang sampah. Seandainya ia memberi hak kepada istri dan anak-anaknya secara proporsional, lalu mengerjakan prioritas lain yang penting, pastilah Allah akan memelihara keluarganya dan memberinya pahala yang besar.

Rabu, 30 Mei 2018

Kikir terhadap Harta Benda – Kikir Shadaqah










FENOMENA KETIDAKBERDAYAAN
B. Kikir terhadap Harta Benda atau Ketidaktepatan Infaq
Dakwah kepada Allah membutuhkan materi, khususnya saat ini, karena harta diperlukan dalam berbagai bidang kehidupan.
Perhatikan biaya satelit yang diperlukan untuk menyebarkan kebaikan dan memerangi kejahatan dan kekafiran. Atau kebutuhan sebuah organisasi yang miskin dana di Afrika atau Asia, yang memiliki keinginan kuat untuk memerangi kristenisasi dan penghancuran aqidah dan moral. Atau kebutuhan suatu kelompok dhuafa di belahan timur maupun barat terhadap materi untuk mempersatukan kembali dan membenahi kondisi mereka. Atau regulasi-regulasi bunga yang dipaksa penjajah baik melalui “bank negara” atau bantuan masyarakat.
Orang-orang yang memperhatikan lingkungan terdekatnya, dapat melihat pekerjaan-pekerjaan yang sangat membutuhkan materi, seperti menerbitkan buku-buku penting dan bermanfaat bagi umum, memelihara berbagai halaqah tahfizh al-Qur'an, mendukung daerah-daerah yang sedang membenahi kehidupan agama dan menjaga keberlangsungan hidup (Islam) mereka, berpartisipasi pada pusat-pusat pendidikan yang memelihara agama generasi muda dan memberikan manfaat dunia kepada mereka.
Kebutuhan terhadap materi tidak terbatas. Gambaran kebutuhan-kebutuhan meskipun diartikulasikan dalam beberapa kalimat, namun hanya berupa contoh.
Pertanyaan mendesak yang perlu dijawab adalah di manakah pengusaha Muslim yang berniaga dengan Allah tanpa perhitungan, tanpa persyaratan, tanpa pengembalian, dan tanpa henti? Mereka ada tapi sedikit sekali, bahkan bisa dikatakan jarang. Kebanyakan dari mereka memuaskan hawa nafsunya, menikmati apa yang dikiranya surga. Bila memberi, mereka memberi dalam jumlah sedikit, hingga tidak bisa mengobati orang sakit atau memuaskan dahaga sekalipun.
Ada juga sekelompok pengusaha shaleh yang apabila diajak bicara mengenai infaq seperti digambarkan di atas, mereka menolak dan lebih menyukai gambaran infaq lain yang tidak mendesak. Misalnya mendirikan masjid-masjid besar di negara yang sudah memiliki banyak masjid. Padahal itu hampir tidak dibutuhkan, khususnya di kota-kota besar. Atau ia lebih suka membagi-bagikan hartanya kepada orang yang dianggapnya sangat membutuhkan bantuan, dan menolak memberikan kepada orang lain yang tertimpa bencana besar. Prioritas mereka kacau balau, tidak tertib dan tidak jelas.
Di kalangan kaum salaf dulu terdapat pengusaha-pengusaha besar, namun mereka tahu bagaimana bermu'amalah dan berniaga dengan Allah, menolong Allah dan agama-Nya dengan harta mereka. Inilah contoh dari sekian pengusaha shaleh, yaitu Utsman. Beliau menginfakkan harta dalam jumlah besar di jalan Allah, yang membuat Nabi kagum dan memuji Utsman. Infaq Utsman ini sudah diketahui, tetapi penulis hendak menyampaikan sebagian gambaran yang menjelaskan keadaannya.
Ketika Utsman diembargo oleh orang-orang yang memusuhinya, ia berkata kepada mereka, “Demi Allah, celakalah kalian. Tidakkah kalian tahu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah saat tidak ada air tawar selain sumur Raumah. Lalu Rasulullah berkata, “Barangsiapa membeli sumur ini maka timbanya seperti timba kaum Muslimin, dan baginya di surga sesuatu yang lebih baik dari sumur itu.” lalu aku membelinya, dan hari ini kalian melarangku minum dari sumur itu, hingga aku minum air asin?” Mereka berkata, “Benar.”
lalu Utsman berkata, “Demi Allah dan Islam, celakalah kalian. Apakah kalian tahu masjid sudah tidak mampu menampung jama'ahnya, lalu Rasulullah berkata, “Siapa yang membeli sebidang tanah dengan sesuatu yang lebih baik dari sebidang tanah itu di surga.” lalu aku membelinya dan menambahkannya ke masjid, dan hari ini kalian melarangku shalat di dalamnya?” Mereka menjawab, “Benar.”82
kisah Utsman membeli sumur Raumah menunjukkan kedermawanannya, karena ketika kaum Muhajirin tiba di Madinah, mereka memperebutkan air, sednagkan seorang Bani Ghifar memiliki mata air bernama Raumah. Ia menjual air satu qirbah dengan harga satu mudd (gandum). Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, “Engkau menjualnya dengan mata air di surga.” Lalu ia menjawab : “Aku tidak memiliki kecuali mata air ini, wahai Rasulullah. Aku tidak bisa menjualnya.”
Utsman mendengar kabar itu, lalu membelinya 35.000 dirham. Kemudian dia menemui Nabi dan berkata : “Apakah engkau akan memberiku seperti apa yang kuberikan kepadanya : mata air di surga apabila aku membelinya?” Nabi menjawab, “Ya.” Utsman berkata : “Aku telah membelinya dan telah kuberikan kepada kaum Muslimin.”83
82) Nuzhatul-Fudhala' : 1/186, dan al-Bidayah wan-Nihayah : 8/178
83) Nuzhatul-Fudhala' : 1/172
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, “Utsman membeli dari Rasulullah surga dua kali; pada hari Raumah dan pada hari Jaisyul 'Usrah (saat pasukan mengalami kesulitan biaya perang).”84
Utsman radhiyallahu 'anhu berkata, “Aku tidak menjumpai hari Jum'at sejak aku memeluk Islam, kecuali aku bebaskan pada hari itu satu orang budak. Kecuali jika aku tidak punya budak, maka aku bebaskan ia setelah hari Jum'at.”85
Jaisyul 'Usrah (pasukan perang yang mengalami kesulitan dana) bersiap menghadapi tentara Perang Tabuk. Dinamakan demikian karena kaum Muslimin kesulitan nafkah dan waktu, karena cuaca panas menyengat. Lalu ia memberikan harta dalam jumlah besar, sehingga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Apa yang dilakukan Utsman tidak akan membahayakannya setelah hari ini.”86
84) Ibid.
85) Ibid., 1/171
86) Ibid.
lalu orang-orang berduyun-duyun menginfakkan hartanya untuk agama Allah karena mengikuti jejak Utsman, tidak mengutamakan diri sendiri meskipun ada kebutuhan-kebutuhan mendesak.
Inilah seharusnya yang dilakukan oleh orang kaya : segera membela Allah, Rasul-Nya dan agama-Nya dengan segenap apa yang dimilikinya, bukan memberikan kelebihannya dengan berharap ingin seperti para pengusaha dari generasi salaf yang berniaga dengan Allah dalam jumlah besar. Tidak mungkin!
Penjelasan ini tidak ditujukan hanya kepada orang-orang kaya saja. Akan tetapi setiap individu masyarakat Islam seluruhnya harus ikut menginfakkan hartanya. Barangkali satu dirham bisa mengungguli 1000 dirham. Pernah seorang shahabat menyerahkan sedikit kurma sehingga orang-orang munafik menertawakannya. Tetapi Allah mengabadikan namanya di dalam al-Qur'an dan mencela orang-orang munafik bahkan mengancam mereka karena olokan itu dengan siksa yang besar.
Diriwayatkan dari Abu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata, “Ketika kami diperintah bershadaqah – yakni saat Perang Tabuk, maka sebagian dari kami memikul barang orang lain dengan upah. Lalu Abu 'Aqil datang membawa setengah sha', lalu datang seseorang membawa lebih dari itu.87 Kemudian orang-orang munafiq berkata, “Sesungguhnya Allah tidak butuh kepada shadaqah orang ini. Apa yang dibawa orang terakhir ini hanya riya'. Maka turunlah ayat,88 (Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi shadaqah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk dishadaqahkan) selain sekadar kesanggupannya.”89
Utsman pernah menyiapkan satu kafilah dagang ke negeri Syam, berupa 200 unta berikut pelana dan tapalnya, 200 ons emas untuk dishadaqahkan. Kemudian beliau bershadaqah 100 unta berikut pelana dan tapalnya. Kemudian ia datang membawa 1000 dinar lalu dibagikannya di ruangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia bershadaqah dan bershadaqah hingga mencapai 900 unta dan 100 kuda, di samping uang.
87) Ibnu Hajar menjelaskan, yang dimaksud adalah 'Abdurrahman bin 'Auf radhiyallahu 'anhu (Fathul-Bari : 8/331)
88) Qur'an Surat at-Taubah (9) : 79
89) Shahih Bukhari, kitab Tafsir, bab Alladzina Yalmizunash-Shadaqati
Abdurrahman bin 'Auf pernah bershadaqah 200 ons emas. Abu Bakar pernah bershadaqah seluruh hartanya, tidak menyisakan untuk keluarganya, kecuali Allah dan rasul-Nya. Umar pernah bershadaqah setengah hartanya. Abbad bershadaqah dengan hartanya dalam jumlah besar. Thalhah, Sa'd bin Ubadah dan Muhammad bin Musallamah seluruhnya mendermakan hartanya. Ashim bin Adi bershadaqah 90 gantang kurma. Lalu orang-orang ikut bershadaqah baik yang sedikit atau yang banyak, bahkan di antara mereka ada yang berinfaq satu atau dua mud. Kaum wanita pun menyumbangkan misk, gelang tangan, gelang kaki, kalung, dan cincin. Tidak seorang pun yang bakhil pada hartanya kecuali orang-orang munafiq.”90
90) Ar-Rahiqul-Makhtum, hlm. 512-513
Di negari-negeri Islam yang miskin beberapa individu mengumpulkan dana dalam jumlah kecil untuk disumbangkan, namun berdampak besar bagi manusia dan diberkahi Allah, dan ternyata memiliki arti yang besar sekali.

Selasa, 29 Mei 2018

Teladan Kehidupan Nabi – Muslim Tsiqah Berdayaguna










FENOMENA KETIDAKBERDAYAAN
A. Meninggalkan Dakwah dan Amar Ma'ruf Nahi Mungkar
lanjutan :
Berikut ini akan disampaikan semacam indeks kehidupan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam agar anda mengetahui bagaimana beliau berdakwah kepada Allah, sabar atas penganiayaan, memerintahkan perkara ma'ruf dan mencegah perkara mungkar, dan berjihad. Seluruh hidupnya menjadi teladan yang wajib dipegang teguh oleh Muslim tsiqah yang beramal :
  1. Ta'abbud Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di Goa Hira' selama berbulan-bulan sebelum kerasulan.
  2. Turunnya al-Qur'an dan apa yang ditanggungnya ketika al-Qur'an turun kepadanya.
  3. Masa fatrah (jeda) turunnya wahyu dan siksaan batin Nabi karena hal itu.
  4. Dakwah Nabi terhadap Khadijah, Ali, Abu Bakar, dan para shahabat sesudah mereka, untuk memeluk Islam.
  5. Dakwah Nabi secara sembunyi-sembunyi selama hampir 3 tahun.
  6. Dakwah secara terang-terangan, berikut penentangan yang dihadapi Beliau dari kaumnya dan kepedihan hati Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam karena hal itu.
  7. Siksaan yang diterima para shahabat, serta kepedihan hati Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam karena hal itu.
  8. Hinaan, pendustaan dan tuduhan yang diterima Nabi, bahkan sampai penganiayaan fisik.
  9. Bujukan kepada Nabi dengan harta dan perempuan (dan kekuasaan).
  10. Kepungan orang-orang musyrik atas Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabat di rumah Abu Thalib tanpa makanan dan tidak bisa keluar.
  11. Tekanan orang-orang musyrik atas banyaknya pertanyaan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan maksud menyudutkan.
  12. Wafatnya Abu Thalib dan Khadijah, serta pengaruhnya atas diri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
  13. Kesulitan yang menimpa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di Thaif.
  14. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menawarkan diri kepada kabilah-kabilah Arab, namun mereka menolak dan mendustakannya.
  15. Hijrah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya ke Madinah, dan usaha terus-menerus kaum Quraisy untuk membunuh Nabi.
  16. Permusuhan dan tipu daya orang-orang munafiq terhadap Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam serta usaha membunuhnya.
  17. Permusuhan, tipu daya dan pendustaan kaum Yahudi terhadap Nabi.
  18. Pengingkaran dan pendustaan kaum Yahudi akan kenabiannya.
  19. Penganiayaan kepada Nabi oleh kaum Yahudi dan banyaknya pertanyaan mereka dengan maksud menyudutkan dan menyakiti Nabi.
  20. Peperangan-peperangan yang dipimpin nabi, serta apa yang dialaminya khususnya pada perang Uhud, Khandaq dan Hunain.
  21. Penghinaan terhadap kehormatan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dari orang-orang Arab yang keras perangainya.
  22. Penghinaan terhadap kehormatan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
  23. Kesabaran Nabi atas kesyahidan karib-karibnya dan para shahabatnya.
  24. Kesabaran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang luar biasa terhadap rasa lapar.
  25. Kejadian yang dialami Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika sakit dan menjelang wafat.80
80) Riwayat hidup ini dinukil dari as-Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam dengan sedikit perubahan.
Orang yang merenungi apa yang dipaparkan di atas, mengetahui bahwa tidak ada sisi kehidupan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak penuh dengan penderitaan, baik yang menimpa dirinya, keluarga, para shahabat, kerabat, dan dakwah. Semua itu menumbuhkan kesabaran yang baik, amal yang banyak, penyerahan diri yang tinggi, dan keridhaan yang besar. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah terlihat gelisah, malas atau lalai. Sebaliknya, beliau menjalankan tugas dakwah sebaik-baiknya.
Apa yang dialami para tsiqah hari ini adalah sebagian kecil dari apa yang dialami Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh sebab itu mereka tidak boleh lemah, lalu bosan dan meninggalkan dakwah dan agama mereka yang diserang oleh orang-orang kafir dan para pendosa.
Demikianlah yang berlaku pada para shahabat Nabi, setelah wafatnya, dan para ulama salaf yang shaleh serta orang-orang yang meneladani mereka hingga hari ini : mereka meninggalkan kemapanan dan mengemban amanat, mengorbankan sesuatu yang berharga demi menjaga dakwah Allah dan menjalankan kepentingan umat.
Herannya, orang yang meninggalkan dakwah dan amar ma'ruf nahi mungkar pada banyak kesempatan tidak mengakui ketidakberdayaannya karena malu dan menutup-nutupi. Bahkan anda menjumpai mereka mencari-cari alasan, menuduh orang lain sebagai biang keladi ketidakberdayaan dan kelemahannya. Terkadang ia berapologi karena mempunyai satu atau dua masalah. Ini sangat mengherankan karena tidak seorang pun dari Bani Adam yang terbebas dari masalah. Bahkan Nabi yang keadaannya telah digambarkan sebelumnya, tidak meninggalkan dakwah, tidak pesimis dan tidak lemah sama sekali. Sedangkan di saat ini ada sebagian da'i tsiqah yang apabila menerima cobaan ringan dari istri atau kedua orang tuanya atau anak-anaknya, atau karena miskin, atau Allah mengujinya dengan rasa takut, lapar dan sakit, maka ia meninggalkan tujuan-tujuan luhur serta tidak mengusahakannya. Ia berapologi sibuk dengan masalah-masalah yang tidak berat! Ya Allah! Tidakkah Allah telah berfirman “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan : 'Kami telah beriman,' sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”81 Sesungguhnya jiwa manusia pasti terpengaruh oleh masalah yang dihadapinya. Namun pengaruh ini harus tersimpan dalam diri manusia, tidak ditampakkan kepada orang-orang kecuali sesekali dan pada saat diperlukan. Kemudian ia terus melanjutkan dakwahnya kepada masyarakat, tidak berat hati dan tidak merasa lelah akibat berbagai masalah yang dikiranya sebagai penghalang, padahal sebenarnya bukan, dan memang seharusnya tidak menjadi penghalang. Hendaknya ia bertanya kepada diri sendiri, apakah ia meninggalkan perbuatan duniawi ketika menghadapi kesulitan dan musibah ini? Jika tidak, maka sesungguhnya dakwah itu lebih utama dari kesibukan duniawi. Allah-lah yang memberi taufiq.
81) Qur'an Surat al-'Ankabut (29) : 2-3

Orang yang Tak Berdayaguna – Cenderung Pada Dunia Tak Berdayaguna











URGENSI AMAL DAN MENGAKHIRI KETIDAKBERDAYAAN
lanjutan :
Dengan demikian, hendaknya para tsiqah di masa sekarang berusaha dengan sepenuh kekuatan dan karunia yang telah diberikan untuk menggapai derajat tinggi. Meninggalkan usaha untuknya merupakan salah satu pertanda ketidakberdayaan. Di masa sekarang orang tidak rela diungguli temannya dalam masalah martabat dan harta. Ia sedih jika melihat orang sebaya dan seprofesi mengunggulinya dalam masalah dunia apapun. Apakah ia rela jika teman-temannya mendahuluinya ke surga dan mendapat derajat yang tinggi, sedangkan ia tertinggal tak berdaya untuk berjalan dalam bahtera dan menyertai mereka?!
Tetapi dunia ditampakkan keindahannya, sedangkan keindahan akhirat tidak tampak. Orang-orang yang diberi taufiq berusaha mengejar kebesaran sesuatu yang tak tampak, sedangkan orang yang terhalang memilih keindahan di depan mata.
C. Tidak Berbuat Apapun dan Menikmati Ketidakberdayaan yang Terkadang Mengakibatkan Inkonsistensi
Orang yang tak berdayaguna menikmati ketidakberdayaannya dan menganggap baik keadaannya dengan hidup santai, serta tidak memperjuangkan cita-citanya. Terkadang ia melupakan tujuan-tujuan yang luhur, dan akhirnya terhapus dari ingatannya, setelah ia tidak mampu melakukannya dengan raganya. Terkadang ia menyukai keadaan orang-orang bodoh lagi sesat, bersikap lunak kepada mereka, berteman dan meniru tabiat mereka tanpa pikir panjang, sehingga ia kehilangan konsistensi dan tanggung jawab. Ia berpegang tetapi pada tiang yang tidak kuat. Ia berkonsentrasi namun kepada perkara batil. Maka betapa banyak kebaikan yang luput dicapainya, betapa banyak keburukan yang didapat, betapa jauh ia meninggalkan orang-orang yang bertakwa, dan betapa dekat ia dengan setan yang sesat.
Penjelasan ini bukan metafora, melainkan kenyataan yang ada dalam dunia manusia. Aku mengenal seorang lelaki yang bertakwa lagi tsiqah, namun tidak berdayaguna dan tidak mampu menemukan jalan penyelesaiannya. Ia selalu berkumpul dengan teman-temannya sehingga keadaannya menjadi seperti orang yang suka berbuat dosa. Bahkan ia meninggalkan shalat sama sekali. Kami memohon perlindungan kepada Allah.
Aku juga mengenal seorang yang tsiqah lagi beramal, namun ia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsuinya, harta, perniagaannya, hingga akhirnya menjadi tak berdayaguna dan mengalami kemunduran, hingga menjadi budak dunia yang lebur dalam hawa nafsunya, yang memuaskan selera, hingga anda tidak bisa membedakannya lagi dengan budak-budak duniawi yang lain. Ia bahkan menjadi orang-orang yang tak berdaya sama sekali.
Kehilangan konsistensi yang melahirkan ketidakberdayaan ini adalah akibat pasti dari mengekor orang yang tak berdaya. Karena ia menjadi kosong, tidak punya keinginan, tidak ada pekerjaan untuk ditekuni, tidak ada pikiran yang mengisi hidupnya. Sedangkan kekosongan adalah bencana besar, yang apabila didukung dengan kekayaan dan usia muda, maka itu lebih merusak hati seseorang dan menghilangkan konsistensi.
Sesungguhnya usia muda, kekosongan dan kekayaan menghancurkan seseorang sekeras-kerasnya.” []79
79) Baca Min Akhbaril-Muntakisin karya Shaleh al-'Ushaimi, dan ats-Tsabat karya penulis.
FENOMENA KETIDAKBERDAYAAN
Sesungguhnya fenomena ketidakberdayaan berbeda dari segi watak dan batasannya, dan dari satu orang dengan yang lainnya. Berikut ini akan saya paparkan sejumlah fenomena ketidakberdayaan agar lebih jelas, insya Allah.
A. Meninggalkan Dakwah dan Amar Ma'ruf Nahi Mungkar
Dalam masyarakat banyak terdapat orang-orang shaleh yang mengharapkan Allah dan negeri akhirat. Barangkali mereka banyak mengerjakan shalat dan puasa sunnah, namun mereka tidak mengerjakan keshalehan ini untuk memperkuat agama Allah di muka bumi. Karena itu anda mendapati mereka merasa cukup dengan dirinya, ber-uzlah di rumah-rumah mereka tanpa menyeru seorang pun, tidak memerintahkan perkara ma'ruf dan mencegah perkara mungkar kecuali sesekali. Anda melihat mereka melakukan pekerjaan dengan giat dan sungguh-sungguh, tetapi tidak mampu menggerakkan sesuatu yang diam, meskipun ada teman yang berbuat sesat. Padahal orang-orang sangat mengharapkan nasihat dan dakwah mereka, namun mereka tidak melakukannya.
Seandainya mereka bersikap demikian dalam setiap hal, niscaya bisa diterima alasannya. Akan tetapi mereka merasa berat hati ketika berdakwah kepada agama Allah, namun giat di bidang yang menghasilkan uang. Mereka menghabiskan seluruh waktu siangnya dan sebagian besar malamnya untuk menghasilkan uang dan menuruti hawa nafsunya. Mereka telah meninggalkan tujuan-tujuan luhur.
Atau anda akan mendapati kelompok lain yang tidak bersemangat mengumpulkan harta, namun membeda-bedakan pekerjaan, bersungguh-sungguh dalam bidang kekhususannya dan membatasi diri hanya pada bidang tersebut. Terkadang perbuatannya ini bermanfaat bagi Islam, namun terbatas, tidak sebesar manfaat yang bisa diwujudkannya seandainya mereka mengerahkan untuk menapaki jalan lurus yang mendatangkan hasil sebesar-besarnya bagi Islam dan Muslimin.
Seorang yang mempelajari riwayat hidup Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, akan mendapati kebalikannya. Kehidupan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah dakwah kepada Allah. Bahkan Nabi mengorbankan seluruh miliknya untuk Allah dan untuk membela Islam. Nabi menasihati dan memberi tahu para shahabatnya bahwa seorang Muslim harus bekerja sama dalam satu kekuatan untuk menjalankan roda kehidupan.

Download Buku Kebijakan Luar Negeri Barat

Mendukung Para Diktator dan Tirani

Metode Umum Kebijakan Luar Negeri Barat

Mendukung Kediktatoran dan Penguasa Tiran
Alat-alat tradisional dalam Kebijakan Politik Luar Negeri Barat

Pendahuluan
Josef Stalin dan Adolf Hitler
Amerika Tengah dan Selatan - “halaman belakang” Amerika Serikat
Hubungan-Hubungan dengan Suharto, diktator Indonesia
Peran Barat dengan Irak selama era Saddam
Barat dan para diktator dunia Muslim lainnya
Afghanistan
Demokrasi vs. Kedikatatoran – Kesimpulan 


Mendukung Kediktatoran dan Penguasa Tiran
Alat-alat tradisional dalam Kebijakan Politik Luar Negeri Barat

Supporting Dictatorship and Tyranny
Traditional tools in Western Foreign Policy


Supporting Dictatorship and Tyranny



Demokrasi vs. Kedikatatoran – Demokrasi dan Tirani...


  • Antek-Antek Amerika di Afghanistan


  • Kebijakan Barat Terhadap Dunia Islam - Buku


  • Kebijakan Politik Luar Negri Barat - Buku


  • Kebijakan Politik Luar Negeri Barat - Buku


  • Buku Mendukung Kediktatoran Penguasa Tiran


  • Buku : Mendukung Para Diktator Tirani


  • Buku Kebijakan Luar Negeri Barat


Mendukung Kediktatoran dan Penguasa Tiran

Alat-alat tradisional dalam Kebijakan Politik 


Luar Negeri Barat



Senin, 28 Mei 2018

Demokrasi VS Kedikatatoran – Demokrasi dan Tirani












Buku Bagus Untuk Dibaca:

Buku : Mendukung Para Diktator dan Tirani
Metode umum Kebijakan Luar Negeri Barat
Buku : Mendukung Kediktatoran dan Penguasa Tiran
Alat-alat tradisional dalam Kebijakan Politik Luar Negeri Barat
Demokrasi vs. Kedikatatoran – Demokrasi vs. Tirani
Setelah citra para pemerintah Barat ternoda tidak bisa hilang melalui perang Irak dan 'pergantian rezim' yang mengikutinya, sudah ada usaha untuk sekali lagi menampakkan motif-motif kebijakan luar negeri Barat secara keseluruhan sebagai mulia. Dalam suatu kunjungan ke Kairo pada Juni 2005, Sekretaris Negara AS, Condoleeza Rice, mengatakan, bahwa “Amerika tidak akan menimpakan gaya pemerintahan kita pada yang tidak mau. Tujuan kita sebaliknya adalah membantu yang lain menemukan suara mereka sendiri, untuk mendapatkan kebebasan mereka sendiri, membuat jalan mereka sendiri.” Dia berargumen bahwa pengusahaan kestabilan di Timur Tengah oleh AS dengan mengorbankan demokrasi telah “tidak mencapai apapun”, dan mengklaim “Sekarang, kita menggunakan jalur berbeda. Kita mendukung aspirasi-aspirasi demokratis semua orang.”
Presiden AS yang baru terpilih, Barack Obama, membuat komentar-komentar yang mirip dengan Sekretaris Rice, berusaha menggunakan 'soft power' dan pesona pribadi untuk menyelamatkan citra USA. Begitupun di 2002, sebagai senator negara bagian Illinois, Obama menyeru Arab saudi dan Mesir untuk berhenti menzalimi rakyatnya dan menekan protes, dia tidak membuat komentar-komentar semacam itu ketika dia memberi pidato yang tersiar luas di Kairo pada Juni 2009.
Tapi dalam kunjungannya ke Arab Saudi, Obama menolak mengkritik kediktatoran, malah memilih untuk memuji sang raja atas 'kebijaksanaan dan kedermawanannya'. Dalam suatu wawancara dengan BBC sesaat sebelum perginya ke Timur Tengah, BBC Justin Webb menanyai Obama secara langsung, “Apakah kamu menganggap Presiden Mubarak sebagai penguasa otoriter?” Obama menjawab “Tidak ... Aku berniat untuk tidak menggunakan label-label bagi orang-orang berpaham (folds)”. Dia di waktu kemudian menolak mengakui ke-otoriter-an atas dasar bahwa “Aku belum bertemu dengan dia”. Dia juga mendeskripsikan Mubarak sebagai “kekuatan kestabilan di daerah itu”.
Inilah yang sering menjadi kasus, bahwa penduduk dunia Muslim disodori pilihan antara demokrasi atau kediktatoran. Satu contoh yang bagus tentang ini adalah kekacauan politik sekarang di Pakistan. Setelah merealisasi jaringan dukungan untuk diktator Jenderal Musharraf karena pelayanan butanya terhadap 'perang terhadap teror', Barat mulai menciptakan satu gerakan untuk kembalinya kekuasaan demokrasi di Pakistan. Ini terjadi meski fakta bahwa para penguasa demokratis Pakistan sama-sama memiliki track record yang buruk dibandingkan dengan para tiran yang telah berkuasa selama 60 tahun terakhir. Para pemerintah Barat, mengetahui bahwa kepentingan-kepentingan mereka akan bisa dilindungi oleh para diktator atau para politisi yang terpilih secara demokratis, adalah bahagia untuk menekan Musharraf untuk memuluskan jalan untuk kembalinya kekuasaan PPP. Ini memastikan bahwa massa dibujuk rayu, sementara rezim pakistan tetap menjadi pelayan loyal bagi kepentingan-kepentingan Barat. Barat tahu bahwa mengubah dari para pemimpin militer menjadi para pemimpin poplitik tanpa mengubah sistem politik yang mendasarinya tidak membawa perubahan yang nyata yang mungkin mengancam kepentingan-kepentingannya.
Dibalik bicara soal kemerdekaan, demokrasi dan 'kebijakan luar negeri etis', dukungan kepada para tirani dan kebijakan luar negeri jahat terhadap dunia Muslim terus berlanjut.
Kesimpulan
Setelah penghancuran Khilafah Ottoman pada Maret 1924 di tangan Mustafa Kemal yang memproklamasikan dirinya sendiri, rezim-rezim barat, khususnya Inggris dan Perancis, mengeksploitasi kejatuhan ini yang mereka ikut rancang.
Dunia Muslim telah diukir di bawah persetujuan Sykes-Picot menjadi sekumpulan negara-negara lemah dan tidak efektif dengan para diktator korup yang menguasainya. Fitur utama dunia Muslim sejak saat itu adalah kepemimpinan yang tidak memperjuangkan kepentingan-kepentingan rakyatnya tapi malah memperjuangkan kepentingan-kepentingan para pemerintah luar negeri.
Dalam booklet pendek ini, kita hanya menyodorkan sampel bukti kecurangan, korupsi dan kriminalitas yang ditampilkan oleh Barat dengan hubungan mereka dengan para tangan besi, para tirani dan para diktator dahulu dan sekarang. Semua orang yang bisa berpikir harus mempertanyakan peran Barat dalam memimpin dan membentuk urusan-urusan di dunia.
Hari ini, para Muslim mencari kepemimpinan baru, pilihan lain bagi para diktator dan tiran itu – suatu kepemimpinan yang akan jujur, independen, transparan dan akuntabel dan para politisi yang akan menjadi pelayan bagi massa dan bukan budak-budak bagi Washington dan London. Ini hanya bisa terjadi ketika Khilafah (Caliphate) dikembalikan sebagai sistem pemerintahan di dunia Muslim.
Khilafah akan mengakhiri korupsi, membangun potensi negeri-negerinya dan membangun hubungan-hubungan dengan dunia pada tingkat lahan bermain. Ia tidak akan membawa dunia Muslim ke model mitos teokrasi abad pertengahan, tapi akan memajukan dunia di bawah keteraturan sosial, ekonomi dan politik yang tercerahkan, berhadapan dengan ketimpangan, ketidakadilan dan teror korporasi yang dirasakan oleh mayoritas di bawah Kapitalisme.

Selected Bibliography
Aris, B & Campbell D. How Bush’s grandfather helped Hitler’s rise to power. The Guardian, 25th September 2004.
Black, E. IBM and the Holocaust: The Strategic Alliance between Nazi Germany and America's Most Powerful Corporation, London: Crown Publishers.
Chomsky, N. Dictators R Us. Toronto Star, 21st December 2003.
Curtis, M. The Web of Deceit: Britain’s Real Role in the World, London: Vintage.
Finkel, A & Leibovitz, C. Hitler-Chamberlain Collusion, The Merlin Press Ltd.
Louis, WR. The British Empire in the Middle East 1945-1951: Arab Nationalism, the United States, and Postwar Imperialism: Arab Nationalism, the United States and Postwar Imperialism, Oxford: OUP.
Muggeridge, M. The Infernal Grove Chronicles of Wasted Time: No. 2, William Morrow and Co.
Radzinsky, E. Stalin, Hodder & Stoughton Ltd.
Nationalist and radical movements in the Arabian Peninsula, 10 February 1958, Public Record Office, CAB 158/31.

Buku : Mendukung Kediktatoran dan Penguasa Tiran
Alat-alat tradisional dalam Kebijakan Politik Luar Negeri Barat

Supporting Dictatorship and Tyranny
Traditional tools in Western Foreign Policy

oleh Hizb ut-Tahrir Inggris

 
Hizb ut-Tahrir Britain

Suite 301
28 Old Brompton Road
London SW7 3SS

info@hizb.org.uk

Supporting Dictatorship and Tyranny [PDF]

Spirit 212, Spirit Persatuan Umat Islam Memperjuangkan Qur'an Dan Sunnah

Unduh BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam