Kedua: Mengqadha Puasa Orang yang Telah
Meninggal
Thawus, al-Hasan
al-Bashri, az-Zuhri, Qatadah, Abu Tsaur, Ibnu Hazm, dan an-Nawawi berpendapat
bahwa keluarga si mayit sangat dianjurkan untuk mengqadha puasa si mayit (berhukum mustahab).
Al-Laits bin Saad,
Ishaq, dan Abu Ubaid membatasinya hanya pada puasa nadzar saja, tidak pada
selainnya.
Abu Hanifah, Malik dan
jumhur ulama berpendapat bahwa puasa si mayit tidak perlu diqadha, baik puasa nadzar atau puasa selainnya.
Hal ini diceritakan pula oleh Ibnu al-Mundzir dari Ibnu Umar, Ibnu Abbas dan
Aisyah ra., dan satu riwayat dari al-Hasan dan az-Zuhri.
An-Nawawi berkata:
“Para ulama telah berbeda pendapat tentang orang yang meninggal dan memiliki
kewajiban (membayar hutang) puasa Ramadhan, baik qadha, nadzar atau selainnya,
apakah puasanya harus diqadha oleh
seseorang? Dalam masalah ini as-Syafi’i memiliki dua pendapat yang masyhur yang
paling terkenal adalah bahwa puasanya itu tidak perlu diganti, dan menurut
asalnya puasa dari mayit itu tidak sah, dan pendapat yang kedua adalah bahwa
wali si mayit dianjurkan untuk mengganti puasanya itu, dan puasa tersebut
dipandang sah, sehingga dia telah membebaskan si mayit (dari kewajibannya) dan
tidak perlu memberikan makanan mengganti puasanya itu. Pendapat ini adalah yang
kami yakini sebagai pendapat yang shahih dan terpilih, dan pendapat ini telah
dibenarkan oleh para pentahqiq dari kalangan sahabat kami yang berkompeten di
bidang hadits dan fikih.”
Tirmidzi berkata:
“Para ahli ilmu berbeda pendapat dalam masalah ini, sebagian mereka berkata
puasa si mayit harus diganti, pendapat ini dilontarkan oleh Ahmad dan Ishaq.
Keduanya berkata: jika si mayit memiliki nadzar puasa, maka puasanya itu harus
digantikan oleh walinya, dan jika dia memiliki kewajiban mengqadha Ramadhan maka walinya harus memberikan
makanan sebagai penggantinya. Malik, Sufyan dan as-Syafi'i berkata: seorangpun
tidak bisa mengganti puasa seseorang yang lain.”
Agar kita bisa
mendapatkan pendapat yang shahih, maka kami akan menyebutkan beberapa hadits
terkait masalah ini, kemudian kami akan melakukan proses istinbath:
1. Dari
Aisyah ra., bahwa Rasulullah Saw. bersabda:
“Barangsiapa yang mati
sedangkan dia punya hutang puasa, maka walinya berpuasa menggantikannya.” (HR.
Bukhari [1952], Muslim, Abu Dawud, an-Nasai, Ahmad dan Ibnu Hibban)
Al-Bazzar [1023]
meriwayatkan hadits yang sama dengan tambahan kalimat in syaa-a: jika menghendaki.
2. Dari
Ibnu Abbas ra., ia berkata:
“Seseorang telah
datang menemui Rasulullah Saw. dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya
ibuku telah meninggal sedangkan dia masih memiliki hutang puasa sebulan, apakah
aku harus menunaikan puasa menggantikannya?” Beliau Saw. berkata: “Ya, karena
hutang kepada Allah itu lebih berhak untuk ditunaikan.” (HR. Bukhari [1953],
Muslim, Abu Dawud, Ahmad dan al-Baihaqi)
Bukhari meriwayatkan
hadits ini dengan riwayat yang beragam, salah satunya disebutkan dalam redaksi:
“Seorang perempuan
berkata kepada Nabi Saw.: “Sesungguhnya ibuku telah meninggal, dan dia masih
memiliki hutang puasa nadzar.”
3. Dari
Burairah ra., ia berkata:
“Ketika aku sedang
duduk di samping Rasulullah Saw., tiba-tiba datang seorang perempuan dan
berkata: “Sesungguhnya aku memberi sedekah jariyah kepada ibuku, padahal ibuku
telah meninggal.” Dia berkata: maka Rasulullah Saw. bersabda: “Pahalanya telah
tetap untukmu, dan sedekah itu akan dikembalikan kepadamu sebagai warisan.” Dia
berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku masih berhutang puasa satu
bulan, apakah aku harus berpuasa menggantikannya?” Beliau Saw. berkata:
“Berpuasalah engkau mengganti puasanya.” Dia berkata: “Sesungguhnya ibuku belum
pernah berhaji sama sekali, apakah aku harus berhaji menggantikannya?” Beliau
Saw. berkata: “Berhajilah engkau menggantikannya.” (HR. Muslim [2697], Abu
Dawud, Tirmidzi dan Ahmad)
4. Dari
Ibnu Abbas ra.:
“Bahwa seorang
perempuan menyeberangi lautan, lalu dia bernadzar seandainya Allah Swt.
menyelamatkannya maka dia akan berpuasa sebulan. Lalu Allah Swt.
menyelamatkannya dan dia belum sempat berpuasa hingga meninggal. Kemudian
datang anak perempuan atau saudara perempuannya menemui Rasulullah Saw. Beliau
Saw. memerintahkannya untuk berpuasa menggantikanya.” (HR. Abu Dawud [3308],
an-Nasai, Ahmad, Abu Dawud at-Thayalisi dan Ibnu Khuzaimah dengan redaksi yang
berbeda)
5. Dari Jabir bin
Abdillah ra.:
“Bahwa seorang
perempuan telah datang menemui Rasulullah Saw. dan berkata: “Sesungguhnya ibuku
telah meninggal, dan dia masih memiliki hutang nadzar puasa, lalu dia meninggal
sebelum sempat menunaikannya.” Maka Rasulullah Saw. berkata: “Hendaklah walinya
berpuasa menggantikannya.” (HR. Ibnu Majah [2133])
Dalam sanad haditsnya
terdapat Abdullah bin Lahi’ah, padahal dia seorang dhaif. Hal ini dikatakan
oleh pengarang az-Zawaid, tetapi para
muhaditsin yang lain ada yang memasukkan hadits Abdullah bin Lahi'ah ini dalam
wilayah hadits hasan.
6. Dari
Ibnu Abbas ra., ia berkata:
“Seorang perempuan
telah datang menemui Nabi Saw. dan berkata: “Sesungguhnya saudariku telah
meninggal dan ia masih berhutang puasa dua bulan berturut-turut.” Maka Nabi
Saw. berkata: “Tahukah engkau seandainya saudarimu itu memiliki hutang, apakah
engkau akan menunaikannya?” Dia berkata: “Ya.” Maka Nabi Saw. bersabda: “Hak
Allah lebih berhak untuk ditunaikan.” (HR. Tirmidzi [712])
Tirmidzi berkata:
hadits Ibnu Abbas ini adalah hadits hasan shahih. Hadits ini juga diriwayatkan
oleh an-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban, Daruquthni dan Ibnu Khuzaimah.
Hadits pada poin lima
adalah hadits dhaif menurut sebagian orang, dan hadits hasan menurut sebagian
yang lain. Bagaimana pun juga hadits-hadits lainnya telah mencukupinya.
Hadits yang pertama
dari Aisyah merupakan hadits shahih, berposisi tertinggi. Begitu pula hadits
kedua dari Ibnu Abbas, karena kedua hadits tersebut telah disepakati oleh
Bukhari dan Muslim, dan apa yang disepakati oleh dua syaikh ini tanpa ragu lagi
adalah hadits shahih.
Hadits yang pertama
menyebutkan:
“Barangsiapa yang mati
sedangkan dia masih punya hutang puasa, maka walinya berpuasa menggantikannya.”
Sedangkan hadits yang
kedua menyebutkan:
“Ya, karena hutang
kepada Allah itu lebih berhak untuk ditunaikan.”
Hadits yang pertama
bersifat umum untuk setiap puasa, dan hadits yang kedua bersifat umum dalam
satu riwayat, dan disebutkan untuk puasa nadzar dalam riwayat kedua, dan
katakanlah bahwa hadits ini datang terkait dengan puasa nadzar.
Sedangkan hadits
ketiga adalah hadits shahih yang berisi perintah untuk berpuasa menggantikan si
mayit:
“Beliau Saw. berkata:
“Berpuasalah engkau mengganti puasanya.”
Ucapan ini berbentuk
umum untuk segala jenis puasa, dan tidak benar mengkhususkannya hanya untuk
puasa nadzar saja. Saya benar-benar telah menelusuri beberapa riwayat dari
hadits ini dalam beberapa kitab hadits yang mu'tabar seluruhnya, dan saya tidak
menemukan satupun riwayat yang memiliki isyarat apapun yang menunjukkannya
sebagai puasa nadzar, sehingga hadits ini berbentuk umum untuk semua puasa
sebagaimana hadits yang pertama.
Hadits yang keempat
seperti hadits yang kedua, menyebutkan puasa nadzar dengan lafadz yang jelas.
Adapun hadits keenam
secara khusus terkait dengan puasa kaffarat
dengan dalil ucapan:
“Dan ia masih
berhutang puasa dua bulan berturut-turut.”
Sehingga kalimat
“berturut-turut” ini menjadi indikasi (qarinah)
bahwa puasa dalam hadits tersebut adalah puasa kaffarat,
tetapi masih ada kemungkinan yang sangat lemah jika puasa ini adalah puasa
nadzar.
Hadits yang pertama
dan ketiga datang dalam bentuk umum untuk semua puasa, hadits kedua dan keempat
khusus terkait dengan puasa nadzar, sedangkan hadits yang keenam khusus terkait
dengan puasa kaffarat, juga memiliki
peluang terkait dengan puasa nadzar.
Lafadz hadits yang
pertama dan ketiga berbentuk umum tentang mengqadha
semua puasa, tetapi yang paling tampak dan paling masyhur adalah qadha puasa
Ramadhan. Tidak pernah ditemukan ada sesuatu yang menasakh atau mentakhsis keduanya, sehingga kedua hadits ini tetap
dalam keumumannya.
Lafadz hadits kedua
dan keempat berbentuk khusus, terkait puasa nadzar, yakni mengqadha puasa
nadzar, dan tidak ada nash yang menasakh
atau memalingkan pada selain makna nadzar ini, sehingga lafadz kedua hadits ini
tetap berbentuk khusus, dan boleh pula menyertakan hadits keenam dalam kategori
ini (terkait dengan qadha puasa nadzar-pent.).
Sehingga bisa kami
katakan bahwa jika
seseorang meninggal, kemudian dia masih memiliki hutang puasa fardhu seperti
puasa Ramadhan, puasa nadzar, ataukah puasa kaffarat, maka walinyalah yang
berpuasa menggantikannya.
Perintah melakukannya
disebutkan dalam mahkota hadits-hadits shahih (yakni hadits muttafaq 'alaih),
dan tidak ada hadits shahih ataupun hasan yang menyelisihinya, sehingga
perintah ini harus diamalkan dan dipegang. Orang yang telah mengetahuinya tidak
boleh mengucapkan sesuatu yang menyalahinya karena alasan apapun.
Tidak ada
hadits-hadits dhaif, perkataan sahabat, ataupun ijtihad ahli fikih yang mampu
menasakh hukum syara yang telah terbukti
tetap ini dengan kondisi dan alasan apapun.
Berdasarkan hal itu,
maka sikap berpegang teguh pada nash dan atsar berikut, yang berisi ucapan yang
menyalahi hukum ini, yang dilakukan oleh sebagian ahli fikih merupakan sikap
yang batil. Dan ijtihad dalam perkara yang dijelaskan oleh syara adalah ijtihad
yang tidak dibolehkan. Saya sodorkan kepada pembaca sekalian beberapa nash yang
menjadi sandaran mereka:
a. Dari Ibnu Abbas ra.
ia berkata:
Jika seseorang sakit
di bulan Ramadhan kemudian dia meninggal dan belum berpuasa maka (walinya)
harus memberikan makan atas namanya, dan tidak ada kewajiban qadha atasnya. Dan
jika dia masih memiliki hutang nadzar maka walinya harus mengqadhanya. (Riwayat
Abu Dawud [2401], ad-Daruquthni, al-Baihaqi dan Abdurrazaq)
Bukhari meriwayatkan
hadits ini secara mu'allaq. Abdul Haq dan Ibnu Hajar berkata: dalam masalah
memberi makan (dari seorang yang telah meninggal) tidak ada sesuatu yang sah,
yakni tidak ada satupun hadits marfu'.
b. Dari Ibnu Abbas
ra.:
Seseorang tidak boleh
berpuasa mengganti puasa yang lain, dan memberikan makan atas nama orang lain.
(Riwayat al-Baihaqi [4/257])
An-Nasai meriwayatkan
ini dalam kitab as-Sunan al-Kubra [2930]
dengan lafadz:
Seseorang tidak boleh
shalat mengganti shalat orang lain, dan tidak boleh puasa mengganti puasa orang
lain, tetapi boleh memberi makan atas nama orang lain pada setiap hari 1 mud
tepung gandum.
Az-Zaila’i berkata:
hadits ini gharib tetapi marfu'.
c. Dari Ubadah bin
Nusay, ia berkata: Nabi Saw. bersabda:
Barangsiapa yang sakit
dalam bulan Ramadhan, dan ia terus-menerus sakit hingga meninggal, maka tidak
ada makanan yang diberikan atas namanya. Dan jika dia sembuh tetapi belum
sempat membayarnya hingga meninggal, maka harus ada makanan yang diberikan atas
namanya. (HR. Abdurrazaq [7635])
Di dalam sanadnya ada
al-Hajjaj bin Arthah, dia seorang yang dhaif, juga ada al-Aslami di mana dia
itu seorang pendusta (al-kadzdzab). Hal ini dikatakan oleh Ibnu Hazm.
Hadits ini sangat dhaif.
d. Dari Malik, dia
menerima kabar:
Bahwa Abdullah bin
Umar pemah ditanya: Apakah seseorang boleh berpuasa mengganti puasa orang lain,
ataukah seseorang boleh shalat mengganti shalat orang lain? Maka dia berkata:
Seseorang tidak boleh berpuasa mengganti puasa orang lain, dan tidak boleh shalat
mengganti shalat orang lain. (Riwayat Imam Malik [1/256])
e. Dari Ibnu Abbas
ra.:
Jika seseorang yang
masih berhutang puasa meninggal dunia dan dia belum sempat sembuh sebelum
matinya, maka tidak ada kewajiban apapun atasnya, dan jika pernah sembuh maka
makanan harus diberikan atas namanya setiap hari sebanyak setengah sha tepung gandum. (Riwayat Ibnu Hazm [7/7]
dan ia menshahihkannya)
Diriwayatkan pula oleh
Abdurrazaq dan ad-Daruquthni.
f. Dari Umar bin
al-Khattab ra., ia berkata:
Jika seorang lelaki
meninggal dunia sedangkan ia masih punya hutang puasa Ramadhan yang terakhir,
maka makanan harus diberikan atas namanya dari setiap harinya sebanyak setengah
sha' tepung gandum. (Riwayat Abdurrazaq
[7644] dan Ibnu Hazm)
g. Dari Maimun bin
Mihran, dari Ibnu Abbas ra.:
Dia ditanya tentang
seseorang yang meninggal dunia padahal dia masih punya hutang puasa Ramadhan
dan puasa satu bulan? Maka Ibnu Abbas berkata: Makanan diberikan atas namanya
untuk puasa Ramadhan, dan puasa dilakukan walinya untuk puasa nadzarnya. (Riwayat
Ibnu Hazm [7/ 7] dan ia menshahihkannya)
h. Dari Ibnu Umar ra.,
ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda:
Barangsiapa yang
meninggal sedangkan ia masih berhutang puasa satu bulan, maka hendaklah makanan
diberikan atas namanya untuk setiap harinya pada seorang miskin. (HR. Ibnu
Majah [1757] dan Tirmidzi)
Tirmidzi berkata: kami
tidak mengetahui hadits yang marfu' kecuali dari jalur ini, dan sebenarnya
hadits dari Ibnu Umar ini bersifat mauquf.
Adapun hadits (c)
adalah hadits yang sangat dhaif, sehingga harus ditinggalkan. Hadits (h)
kemarfu'annya tidak benar, yang benar, hadits ini berasal dari ucapan Ibnu Umar
sendiri, sehingga tidak ada satupun hadits Nabi dalam rangkaian dalil di atas,
semuanya hanya atsar atau berupa ucapan sahabat.
Seperti sudah
diketahui bahwa ucapan sahabat itu tidak menjadi dalil syara, terlebih lagi
bila harus menasakh atau menyalahi
hadits-hadits Nabi.
Maka saya katakan:
sesungguhnya atsar-atsar ini tidak layak kalau harus dihadapkan dengan
hadits-hadits Nabi yang telah kami sebutkan, sehingga secara otomatis seluruh
atsar ini harus ditinggalkan.
Selain itu,
atsar-atsar ini tidak diriwayatkan oleh as-Syaikhani (Bukhari dan Muslim), baik
secara bersamaan ataupun sendiri-sendiri, sehingga derajat sanadnya sangat jauh
dibawah hadits-hadits kami di atas.
Al-Baihaqi berkata:
“Hadits-hadits marfu' yang paling shahih sanadnya dan paling terkenal perawinya
telah dituturkan oleh pengarang dua kitab Shahih,
seandainya as-Syafi’i mengetahui semua jalurnya dan keunggulannya, niscaya dia
tidak akan menyalahinya, insya Allah.”
Al-Baihaqi menambahkan, dialah yang meriwayatkan atsar Ibnu Abbas: “Aku
mengetahui sebagian teman kami mendhaifkan
hadits Ibnu Abbas ini...”, sehingga atsar-atsar seperti ini tidak memiliki
kekuatan apapun di hadapan hadits-hadits shahih kami yang memerintahkan
berpuasa menggantikan puasa si mayit.
Ibnu Abbas sendiri
meriwayatkan hadits-hadits shahih yang menyebutkan adanya qadha puasa si mayit
(hadits nomor 2, 4 dan 6), maka bagaimana bisa ada ucapan yang menyalahi
hadits-hadits tersebut dalam bentuk atsar (nomor 1, 2, 5 dan 7)? Apakah
seseorang yang adil bisa membenarkan bahwa Ibnu Abbas mengeluarkan fatwa yang
menyalahi ucapan Rasulullah Saw. yang diriwayatkannya sendiri?
Adapun atsar Malik
pada nomor (d) sanadnya itu munqathi’
atau mu’dlal, di mana dia berkata:
“Telah sampai kabar kepadanya bahwa Abdullah bin Umar ditanya”, dan Malik tidak
menyebutkan orang yang menyampaikan kabar itu, atau beberapa orang yang
meriwayatkan perkataan Ibnu Umar sampai kepadanya, sehingga hadits ini berstatus
dhaif, yang tidak boleh dijadikan sebagai hujjah.
Yang tersisa sekarang
dari atsar-atsar tersebut adalah ucapan tentang memberikan makanan (al-ith’am),
di mana pernyataan tentang al-ith'am ini telah dinukil dari Umar bin Khattab,
Abdullah bin Umar, dan Ibnu Abbas ra., sehingga sebagian ahli fikih (al-fuqaha) menyangka bahwa ucapan ini
mengabaikan dan menafikan pernyataan tentang qadha. Padahal sangkaan seperti
itu sama sekali tidak benar, di mana pernyataan tentang memberi makan ini
disebutkan seperti halnya pernyataan tentang qadha, sehingga keduanya bersifat
pilihan.
Jika seseorang meninggal dunia
dan masih memiliki hutang puasa, maka boleh bagi walinya untuk berpuasa
mengganti puasanya, dan boleh juga memberi makan atas namanya sebagai pengganti
puasanya. Jadi, puasa (as-shiyam) dan memberi makan (al-ith'am), keduanya boleh
dilakukan, dan tidak saling bertentangan. Inilah pendapat yang kami
nyatakan.
Kami katakan pula
bahwa sang wali boleh berpuasa mengganti puasa si mayit, bahkan sangat
dianjurkan melakukan hal itu. Boleh pula memberi makan atas nama si mayit
sebagai pengganti qadha. Perkara
ini bersifat pilihan, antara mengqadha dengan memberi makan, sehingga ucapan
tentang al-ith'am (memberi makan) dalam riwayat yang berasal dari Umar, Ibnu
Umar dan Ibnu Abbas tidak menyalahi hadits-hadits Nabi yang terbukti
memerintahkan qadha.
Berdasarkan paparan
tadi kami katakan: jika seseorang meninggal dunia dan masih memiliki hutang
puasa Ramadhan, puasa nadzar atau kaffarat, maka walinya boleh berpuasa
mengganti puasanya, dan boleh juga memberi makan atas namanya. Dengan demikian,
pendapat Abu Hanifah, Malik dan jumhur ulama “bahwa si mayit itu tidak boleh
diganti puasanya, baik puasa nadzar atau selainnya” adalah pendapat yang tidak
benar dan dibatalkan oleh hadits-hadits Nabi yang shahih yang menyatakan
kebolehannya.
Saya tidak perlu
menyebutkan terlalu panjang lebar membahas pendapat orang-orang yang meneliti
hadits-hadits yang memerintahkan qadha, di mana mereka menakwilkan
hadits-hadits tersebut dengan ucapannya: “sesungguhnya maksud dari qadha itu
adalah bahwa si walinya harus memberi makan atas namanya.” Ini adalah takwil
yang sangat lemah sekali, bahkan terkategorikan takwil yang batil yang tidak
layak untuk diucapkan.
Mengenai klaim ulama
Malikiyah bahwa dalam hadits-hadits puasa mengganti puasa si mayit ini terdapat
kekacauan (idhthirab), maka ini pun
pendapat yang tidak benar karena tidak ada kekacauan sama sekali dalam
hadits-hadits ini, di mana berbagai ikhtilaf (perbedaan) di dalam hadits-hadits
tersebut masih mungkin untuk dikompromikan, sehingga idhthirab (kekacauan) itu
sesuatu, sedangkan ikhtilaf (perbedaan) itu sesuatu yang lain.
Tinggallah kini ucapan
al-Laits, Ahmad, lshaq, Abu Ubaid yang membatasi qadha itu hanya untuk puasa
nadzar. Maka saya katakan sebagai berikut: kebolehan mengqadha puasa nadzar (dibandingkan dengan
memberi makan) itu disebutkan dalam beberapa hadits shahih. Ini adalah pendapat
yang benar. Tetapi membatasi qadha pada puasa nadzar saja merupakan pendapat
yang keliru. Kekeliruan mereka ini disebabkan karena upaya mereka berusaha
membawa hadits-hadits yang menyebutkan qadha secara umum pada hadits-hadits
yang menyebutkan puasa nadzar, sehingga akhirnya mereka mengeluarkan pendapat
seperti itu.
Pendapat yang benar
adalah bahwa hadits-hadits yang menyebutkan qadha dalam bentuk umum ini tidak
dapat ditakhsis ataupun ditaqyid oleh hadits-hadits yang menyebutkan
qadha dalam puasa nadzar, karena hadits-hadits yang memerintahkan mengqadha puasa nadzar itu tidak datang sebagai
pentakhsis hadits-hadits yang
menyebutkan qadha secara umum. Hal itu semata-mata hanya datang dan menyebutkan
salah satu dari beberapa kondisi qadha, yakni hanya menyebutkan salah satu
bentuk dari sesuatu yang masih umum, dan tidak datang sebagai pentakhsis. Dengan demikian, puasa mengganti
puasa si mayit adalah dibolehkan. Ini merupakan pernyataan yang bersifat umum (qaulun ’am), dan dari puasa yang masih dalam
bentuk umum ini terdapat puasa mengganti puasa nadzar. Dari sesuatu yang masih
umum ini terdapat puasa mengganti puasa kaffarat,
sehingga terdapat perbedaan antara menyebutkan satu-persatu bagian dari yang
umum (tafshil) dengan pengkhususan sesuatu yang umum ini (takhsis).
Ibnu Hajar berkata:
al-Laits, Ahmad, lshaq dan Abu Ubaid berkata: tidak diganti puasanya kecuali
puasa nadzar, sebagai bentuk memahami keumuman puasa dalam hadits Aisyah
menurut puasa yang telah ditaqyid yang
disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas. Di antara keduanya tidak ada pertentangan
sehingga bisa dikompromikan, di mana hadits Ibnu Abbas merupakan gambaran
terpisah yang ditanyakan orang yang mengalaminya, sedangkan hadits Aisyah
merupakan penetapan kaidah yang bersifat umum, di mana ditemukan isyarat
keumuman seperti itu dalam hadits Ibnu Abbas, sebagaimana dikatakan di akhir
haditsnya:
“Karena hutang kepada
Allah itu lebih berhak untuk ditunaikan.”
Dengan demikian, jelas
bahwa pendapat yang membatasi qadha puasa si mayit hanya untuk puasa nadzar
saja adalah pendapat yang salah. Yang benar adalah menetapkan keumuman dan
kemutlakan tersebut untuk semua jenis puasa.
(artikel ini tanpa
tulisan Arabnya)
Sumber: Tuntunan Puasa
Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul
Izzah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar