Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Selasa, 28 Oktober 2014

Download Buku MITOS KECANTIKAN BARAT


http://neopluck.blogspot.com/2014/10/unduh-buku-buku-islam-iman-taqwa-3.html?m=1

KECANTIKAN; ANTARA MITOS DAN REALITA

Syabât Hizbut Tahrir Inggris

Judul Asli         : The Western Beauty Myth
Penulis            : Syabât Hizbut Tahrir Inggris
Penerbit                  : Khilafah Publications Suite 298, 56 Gloucester Road, London SW7 4UB
Tanggal Terbit : 21 Zhulhijjah 1423 H / 22 Februari 2003 M
Penerjemah    : Abu Faiz
Editor             : Saifullah

DAFTAR ISI

·         KATA PENGANTAR
·         MEMPERCANTIK DIRI: ANTARA PILIHAN ATAU KEWAJIBAN?
·         HARAPAN-HARAPAN YANG TIDAK WAJAR
·         BAHAYA DI BALIK MITOS KECANTIKAN       
·         MEMPERCANTIK DIRI: MENINGKATKAN MARTABAT PEREMPUAN DI MASYARAKAT?
·         MUNCULNYA MITOS KECANTIKAN
·         PENGARUH MITOS KECANTIKAN TERHADAP MUSLIMAH
·         ISLAM DAN KONSEP KECANTIKAN
·         BAGAIMANA MUSLIMAH MENILAI DIRINYA?
·         BAGAIMANA SEHARUSNYA SEORANG MUSLIM MENILAI SEORANG MUSLIMAH?
·         KAUM MUSLIMAH ADALAH PEREMPUAN YANG BERPIKIR

KATA PENGANTAR

Pada bulan Desember 2002 lalu, kota London menjadi tuan rumah acara tahunan kontes kecantikan Miss World yang ke-52. Menurut jadwal, acara tersebut semestinya diselenggarakan di Nigeria, namun akhirnya terpaksa dipindahkan karena munculnya reaksi negatif dari kaum Muslim Nigeria yang berunjuk rasa memenuhi jalan-jalan, menentang acara yang mempertontonkan sekelompok wanita berbusana minim hingga sebagian besar auratnya terbuka di depan publik. Namun, ironisnya, kontes tahun ini dimenangkan oleh satu-satunya peserta Muslimah dalam kontes ini, yaitu ‘Miss Turki’. Setelah dinyatakan sebagai pemenang kontes, Azra Akin –Miss Turki itu– membuat pernyataan sebagai berikut, “Saya berharap akan dapat menjadi gambaran tentang perempuan yang baik. Saya merasa sangat terhormat menjadi Miss World. Saya pikir, mendapatkan kedudukan sebagai Miss World merupakan sesuatu yang amat baik, dan saya berharap akan dapat membuat suatu perbedaan”.
Meskipun Azra berpandangan demikian, namun banyak perempuan di seluruh dunia –baik Muslim maupun non-Muslim– yang tidak menganggap kontes-kontes semacam itu akan mendatangkan kehormatan bagi kaum perempuan. Bahkan sebaliknya, kontes seperti itu justru akan menurunkan status perempuan dan hanya membuat perempuan menjadi objek pemuas syahwat kaum laki-laki.

Namun demikian, apabila kita telaah lebih jauh konsep mengenai citra perempuan yang sempurna atau kepribadian yang ingin diraih oleh setiap perempuan, termasuk di dalamnya gambaran mengenai ukuran kecantikan menurut Azra dan para kontestan lainnya, maka kita akan mendapati betapa masih banyak perempuan di dunia ini –baik Muslim maupun non-Muslim– yang berpandangan seperti Azra.

Kenyataan menunjukkan bahwa pandangan yang dominan di tengah-tengah masyarakat dunia saat ini tentang apa yang dimaksud dengan “Wanita Cantik” adalah pandangan yang bersumber dari masyarakat kapitalis Barat. Yang dimaksud dengan “Wanita Cantik” –menurut mereka- adalah perempuan yang tinggi, ramping, dan berkulit putih. Selain itu, pandangan umum masyarakat dunia tentang kepribadian perempuan yang sempurna lebih banyak diukur dari sisi penampilan dan cara berbusana ala perempuan Barat.

Penting untuk dipahami bahwa citra yang ingin diraih seorang perempuan sebenarnya memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang perempuan tersebut, tidak sekedar menunjukkan bagaimana perempuan ingin menampilkan dirinya kepada dunia secara fisik. Citra yang ingin diraih seorang perempuan itu akan dapat memberikan gambaran mengenai pandangannya tentang kehidupan, serta bagaimana ia ingin menjalani kehidupan ini. Naomi Wolf dalam bukunya “The Beauty Myth” menulis, “Sifat-sifat yang dianggap sebagai ukuran kecantikan pada suatu zaman tertentu sesungguhnya hanya merupakan simbol-simbol perilaku perempuan yang diinginkan pada masa itu. Mitos kecantikan (yang dijadikan patokan oleh masyarakat) sebenarnya menentukan perilaku (yang diinginkan masyarakat dari seorang perempuan), bukan sekedar penampilannya.”

Lantas, seperti apa sebenarnya jati diri yang menjadi landasan citra perempuan sekuler Barat? Jati diri perempuan sekuler Barat itu dibangun atas dasar pemikiran bahwa kaum perempuan harus bebas menentukan segala aspek kehidupan dirinya menurut jalan pikirannya dan keinginannya sendiri. Mulai dari penampilannya, etika berbusananya, bentuk pergaulannya dengan laki-laki, serta peran yang dilakukannya di dalam keluarga dan masyarakat. Singkat kata, jati diri itu dibangun di atas pemikiran bahwa tidak boleh ada satu pihak pun yang menentukan citra atau gaya hidupnya, atau memberikan batasan-batasan kepadanya. Tidak juga Allah Swt., Zat yang menciptakannya.

Inilah jati diri yang ditunjukkan masyarakat sekuler Barat kepada dunia, manakala mereka menyebarluaskan citra perempuan Barat ke seluruh muka bumi. Inilah jati diri yang mereka harapkan bakal dianut oleh setiap perempuan di dunia, termasuk kaum perempuan di Dunia Islam. Media Barat memainkan peranan yang sangat penting dalam upaya meraih tujuan ini. Mulai dari industri musik dan film yang mengekspor produk mereka ke negeri-negeri kaum Muslim untuk mengagung-agungkan citra perempuan Barat, hingga iklan-iklan pakaian, kosmetik, dan asesoris kecantikan di berbagai majalah dan papan-papan iklan yang bertebaran di jalanan Turki, dunia Arab, dan negeri-negeri Islam lainnya. Penayangan kontes kecantikan Miss World merupakan contoh nyata upaya mereka dalam meraih tujuan ini. Pada bulan Desember 2002 itu, lebih dari dua milyar penduduk bumi menonton acara kontes kecantikan tersebut.

Sementara itu, citra perempuan yang dibangun di atas landasan jati diri lainnya, seperti Islam atau kaum Muslimah, yang menentukan bentuk penampilan dan gaya hidup mereka berdasarkan ketentuan Sang Khaliq –bukan jalan pikirannya sendiri– dianggap sebagai sesuatu yang buruk, terbelakang, dan menindas. Pandangan ini terungkap melalui pernyataan beberapa tokoh Barat. Pada tahun 2001, Cherie Blair pernah menyampaikan pandangan ini secara terbuka di sebuah konferensi pers tentang etika pakaian Muslimah. Saat itu ia berkata, “Saya kira tidak ada hal lain yang dapat menggambarkan penindasan terhadap kaum perempuan dengan lebih baik daripada burka (pakaian Muslimah di Afghanistan-pen).” Sementara itu, politisi Prancis Jean-Marie Le-Pen ketika mengutarakan pendapatnya tentang hijab, ia berpendapat sinis, “Bahwa hal itu (hijab) menghindarkan kita dari melihat wanita yang berparas buruk.”

Perempuan-perempuan Barat terpukau dengan konsep-konsep mengenai kecantikan, citra, dan penampilan. Tidak jarang mereka keliru mengaitkan kecantikan dengan kesuksesan, kepercayaan diri, serta penghargaan dan penghormatan dari masyarakat.
Atas dasar pemikiran-pemikiran di atas, kita akan mencoba menguji, apakah citra dan jati diri perempuan-perempuan Barat itu memang benar-benar citra dan jati diri yang semestinya dijadikan patokan oleh kaum perempuan, Muslim maupun non-Muslim? Kita juga harus memahami, apakah seorang perempuan memang benar-benar bebas untuk berpenampilan dan berbusana sesuai dengan pilihannya; atau apakah ia perlu menyesuaikannya dengan harapan-harapan tertentu dari masyarakat? Apakah upaya mempercantik diri itu akan membuat seorang perempuan memiliki kepercayaan diri serta mendapatkan penghargaan dan penghormatan dari masyarakat? Apakah hal ini merupakan mitos ataukah bukan?

Download Buku MITOS KECANTIKAN BARAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Spirit 212, Spirit Persatuan Umat Islam Memperjuangkan Qur'an Dan Sunnah

Unduh BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam